[Sequel of Goodbye Summer] – This Feeling…

SEQGDBYEPST

 

Title : This feeling… || Author : Tiffany Tania

Genre : Sad, Romance, Friendship, Angst || Length : Oneshoot

Cast by “Girls Generation’s Im Yoona – EXO’s Dio Kyungsoo”

Note : This is the sequel of “Goodbye Summer”, the story is mine but the cast is allowed to SM.Entertainment!
Dont do a plagiarism!^^ Siders? Go away!

So, please enjoy~

Author POV

Jari – jari lentik itu dia ketukkan beberapa kali keatas meja chitoose berwarna coklat, “Huh..” beberapa kali dia meniup poninya untuk menghilangkan kejenuhan.

Dari kejauhan tampak seorang pria bertubuh cukup mungil datang sembari membawa ice cream mint  kesukaan teman barunya di sekolah menengah pertama itu, Im Yoona.

“Yoong!” teriaknya yang sukses membuat seluruh siswa sekelas menatapnya sarkatis. Yoona hanya terkekeh pelan dan melambaikan tangannya mengisyaratkan dia untuk segera mendatanginya.

“Ini pesananmu, maaf membuatmu menunggu lama..”

Yoona langsung saja membawa ice cream itu dan melahapnya, “Ya! Setidaknya ucapkan terimakasih untukku” rutuk lelaki itu kesal sambil mempoutkan bibirnya. Lucu.

Yoona yang terkikik geli hanya mampu mencubit pipi lelaki itu gemas. “Kau lucu sekali Byun Baekhyun.. ah iya, untuk ice creamnya terimakasih”

Yoona POV

Hai.. apa kalian masih mengingatku? Aku Im Yoona seorang siswa SMA kelas 1 yang baru saja diterima di Seoul of Performing Arts. Di hari kedua ku ini aku sudah mendapat teman baru, walaupun dia lelaki.

Namanya Byun Baekhyun. Lucu bukan?

Dia berkulit putih.. tidak terlalu tinggi.. dan.. dia memiliki suara yang cukup bagus.

Ah.. tunggu sebentar!

Mengapa semua kriteria itu mengingatkanku pada Dio? Hanya saja bibirnya tipis, bibir Dio cukup tebal. Bibir itu yang membuatku merasakan rasanya ciuman pertama.

Ah, hei mengapa aku jadi memikirkan dia lagi?

Mengapa perasaan sakit itu ada lagi? Padahal kejadiannya sudah cukup lama.

Ah entahlah, aku sedang tak ingin memikirkannya.

“Yoong..”

“Im Yoon Ah!” langsung saja aku membenarkan posisi dudukku. Aku melihat wajah Baekhyun semakin merah, dia kesal. Aku hanya tersenyum seolah tak bersalah dan menarik lengannya. “Kajja! Kita pulang”

Di sepanjang perjalanan aku dan Baekhyun saling bertukar cerita, karena aku dan dia belum terlalu dekat. Baru kenal dua hari, namun kurasa dia orang yang menyenangkan.

“Apa kau memiliki sahabat sebelumnya?”

Pertanyaan itu.. yang menusuk hatiku..

Aku mengangguk sambil tersenyum, “Tentu saja, bagaimana dengan kau?” tanya ku pada Baekhyun. “Aku belum selesai.. lalu..” ucapnya mendekat kearahku. “Kemana dia sekarang?”

DUAR! Sebuah bom langsung meluluh lantahkan hatiku saat itu. Mengapa harus mengingatkanku padanya Byun Baekhyun?

Sakit.

“Dia pindah entah kemana yang jelas.. aku sudah lost contact  dengannya” ucapku yang tiba tiba berubah menjadi parau. Baekhyun yang melihat ekspresi wajahku yang berubah langsung menggaruk tengkuknya canggung. “Ah maaf.. aku tak bermaksud”

Aku tersenyum dan menarik lengannya, “Tidak apa – apa..” dan berlari menuju bus yang sudah menungguku dihalte. “Kajja! Busnya sudah datang”

Kutatap lenganku yang menarik lengannya, masih tergambar jelas dibenakku ketika aku berlari berdua bersama dia. Dio.
Ketika kita dihukum oleh Kim sonsaengnim, aish Yoona mengapa kau jadi memikirkan dia? Sadarlah Yoona.. dia sudah melupakanmu.

Setibanya dirumah ku lempar asal sepatu sekolahku, Ibu yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya. “Selalu.. kebiasaan!” tegur Ibu lalu aku hanya tersenyum dan menaiki tangga menuju kamar.

Ku simpan tas sekolah diatas meja belajarku. Lalu aku duduk diatas sofa yang menghadap langsung kearah jendela. Kuambil handphone dan ku keluarkan earphone berwarna tosca.

Mandy More – Only Hope.

Tanpa terasa buliran air mata kembali mengalir, kutundukkan kepalaku diatas sofa itu. Merasakan sensasi sakit luar biasa didalam hatiku ini. Ketika aku mengingat sosoknya entah.. aku hanya mampu menangis, menangis dan menangis. Aku lelah harus memakai topeng ini. Berpura – pura semuanya baik – baik saja dihadapan orang banyak, padahal banyak sekali beban yang kutanggung. Beban hati dan.. batin.

Seseorang membukakan headphone yang aku gunakan lantas aku mengerjap kaget. Air mata masih berlinang manis di pipiku. Bahkan mataku sudah sangat bengkak.

“Hobimu menangis ya? Hm?”

Aku terdiam tak mampu menjawab, sedetik kemudian kupeluk erat dia. Aku menangis sejadi – jadinya dibahu lelaki yang selama ini kurindukan ini. “Kau.. hiks.. kau.. jahat.. hiks” gumamku sambil memukul lengannya cukup keras.

Lalu kelepas pelukannya dan mengusap air mataku pelan.

“Maaf.. aku tak bermaksud menghindar hanya saja aku tak ingin kau sedih” ucapnya sambil tersenyum. Kulihat wajahnya tampak semakin putih dan.. tampan.

“Justru dengan seperti ini kau menyiksaku!”

“Aku ingin ke taman Yoong.. ayo kumohon” dia menarik paksa lenganku dan berlari. Beberapa kali aku menolak nampaknya kekuatan dia sudah mulai bertambah sejak kepindahannya. “Hey! Aku belum mengganti seragam sekolahku!”

“Dio Kyungsoo! Kumohon hentikan!”

Dia melepaskan lenganku tepat pada saat kami sudah berada didepan taman. Tempat favorit kami ketika menghabiskan waktu musim panas bersama. Dio menghirup dalam dalam oksigen disana, dan menghempaskannya sambil tersenyum lega.

Kini dia berputar putar, nampaknya dia terlihat begitu senang. Dia menatap kearahku dan mengayunkan tangan seolah mengisyaratkan “Kemari”. Aku pun menyusulnya.

“Kau terlihat sangat senang sekali”

“Aku sangat senang..”

“Ya.. aku tahu”

Dia menarikku kembali untuk duduk dan kini dia sengaja tertidur dikakiku. Dia menarik lenganku dan menggenggamnya dengan erat. Aku hanya menurut dan jujur saja aku merasa sangat aneh dengan perlakuannya.

“Dia kenapa? Tidak biasanya dia manja seperti ini.. aneh” gumamku dalam hati.

Dia terbangun dan menyandar dibahuku, “Yoong.. selama tidak ada aku disampingmu apa harimu terasa menyenangkan?” tanya Dio yang suksek membuatku tersedak ludah sendiri.

“Tidak.. sama sekali tidak.. meskipun aku mempunyai teman baru kau masih nomer satu dihatiku Dio” ujarku kepadanya. “Disini” ujarku meletakkan lengan Dio dibagian dadaku. Dio terkekeh pelan, “Aku tahu.. karena aku mengawasimu setiap hari!” ucapnya bercanda.

Aku mendengus pelan, “Kau ini! Bagaimana mungkin kau mengawasiku padahal kau berada entah yang aku pun tak tahu tempatnya” Dio mengetuk pelan kepalaku, “YA! Aku memiliki banyak mata – mata disini”

“Appo-ya! Yasudah terserah kau saja”

Dio berjalan menjauhiku, aku tersadar dan mengejarnya. Aku menggelayut manja dilengannya, “Antarkan aku pulang” rengekku pada Dio. Dio hanya tersenyum, “Baiklah, tapi hanya sampai depan rumah, ne?”

“Kau tidak ingin bertemu dengan Ibu dulu?”

“………….”

“Baiklah”

Sesampainya didepan rumahku, aku masih setia menggenggam lengan lelaki itu. Aku masih merindukannya, tapi mau bagaimana lagi. Dio menyuruhku untuk segera masuk dengan mengibas-ngibaskan tangannya.

Aku mengangguk dan tersenyum.

“Yoong?” suaranya menghentikan langkahku. Aku berbalik dan dia mencium keningku perlahan dan berlari. “Sampai bertemu lagi!”

Aku memasuki rumah dengan senyum tak jelas, kusentuh kening yang baru saja Dio cium tadi. Beberapa kali aku berteriak tak jelas membuat Ibu menegurku.

“Im Yoona! Berisik! Kau sudah darimana?”

Aku terkekeh, “Bermain bersama Dio bu..” Ibu hanya terdiam dan aku pun memasuki kamar. Pada saat memasuki kamar aku mulai teringat sesuatu. “Mengapa aku tak tahu kalau dia tinggal dimana sekarang? Bodoh sekali kau Im Yoona! Pabboya!”

Aku bersenandung ria ketika berjalan ke halte bus, aku masih merasakan hangatnya ciuman Dio. Beberapa kali aku meremas ujung seragamku, nervous. Sesampainya dihalte bus dibelakangku ada seseorang yang membunyikan bel sepeda.

Aku berbalik, “Ah! Dio!” ujarku tergugup ketika Dio sudah sampai disampingku. Dia tersenyum, “Ayo naik.. kuantarkan kau ke sekolah barumu itu”

“Serius? Apa tak merepotkan?”

“Ayolah..” dia menarik lenganku untuk menaiki sepedanya itu.

Sensasi segar udara pagi mudah kurasakan, ketika aku berada disampingnya entah mengapa jantungku berdetak dua kali bahkan lima kali daripada biasanya. Semburat merah muda selalu muncul begitu saja dipipiku ini. Nyaman. Itulah yang kurasakan ketika berada dekat dengannya.

Entah ada magnet apa aku memegang lengan Dio dan kutatap matanya. Dia terfokus pada jalanan sehingga tak menyadari bahwa aku sedang menatapnya. “Omona.. dia tampan sekali.. Mengapa aku baru menyadarinya?”

Dio tertawa, “Yoong.. aku tahu aku tampan sudahlah jangan menatapku seperti itu”.

“Sampai…” ujarnya memberhentikan sepeda didepan gedung sekolahku. Aku turun dan merapikan seragam sekolah, Dio mengelus pelan puncak kepalaku. “Belajar yang benar, ne? Jangan terlalu memikirkanku aku baik baik saja” ujarnya sambil terkekeh pelan.

“Baik tuan!”

“Baiklah sana masuk”

Aku berjalan menjauhi Dio dan berlari ketika Baekhyun yang baru saja tiba. “Baekhyun!” ujarku girang. Baekhyun terperanjat kaget, “Kau kenapa? Tampak senang sekali”

Aku tersenyum menampilkan deretan gigi kearah lelaki dihadapanku, “Aku bertemu dengannya! Dia mengantarkanku” ujarku melambai kearah Dio. Dio pun pergi menjauhi gedung sekolahku. Baekhyun sedikit aneh dengan tingkahku sehingga aku menyiku lengannya, “Kau kenapa?”

Wajah Baekhyun berubah aneh, “Aniya.. ayo masuk bel sudah berbunyi!” ucapnya menarikku masuk ke sekolah.

Hari berganti hari, Dio tak mendatangiku seperti biasanya. Perasaanku semakin gelisah saja, beberapa kali aku mundar mandir didepan meja belajar. “Kemana dia?” ucapku menggigit bibir bawah.

Ibu datang dan mengetuk pelan kamarku, aku mempersilahkan Ibu untuk masuk. Ibu membawakan ku sebuah obat yang entah apa namanya. Ibu mengajakku untuk duduk, aku hanya menurut. Ibu mengelus pelan rambutku dan memelukku erat. “Hentikan sayang.. Ibu mohon” ucap Ibu disela tangisannya.

“Ibu? Mengapa Ibu menangis?”

“Hentikan Yoong.. Ibu sudah tak kuat..”

Aku terdiam, “Yoong.. Dio sudah tidak ada.. Ibu mohon hentikan.. Jangan berhalusinasi lagi, ne?” Aku melepas pelukan Ibu dan menjauhinya, aku menggeleng kuat – kuat. “Tidak.. itu tidak mungkin Ibu.. Jangan bercanda!” suaraku meninggi diakhir.

Tiba – tiba Baekhyun memasuki kamarku dan memegangi lenganku kuat – kuat, aku menepisnya namun tak kuat. “Kau apa – apaan ini? Lepaskan!”

Baekhyun POV

Perlahan dia terlelap dipangkuanku, ku rebahkan dia dikasurnya. Kuselimuti seluruh badannya, “Terimakasih Baekhyun kau sudah membantu ahjumma lagi”

Aku tersenyum, “Cheonma ahjumma.. Itu sudah menjadi kewajibanku untuk menjaga Yoona” ucapku lalu Ibu Yoona pergi dan menitipkan Yoona kepadaku. Kutatap Yoona dalam, ketika kutatap matanya mengelurkan buliran bening itu lagi. Kuusap pelan dengan ibu jariku, “Ulijima Yoong..”

Aku pun meninggalkan Yoona dikamar lalu berpamitan kepada Ibu Yoona. Kutancap gas mobilku dan menuju suatu tempat. Sebelum kesana aku membeli dahulu bunga lily putih kesukaannya-kata Yoona-.

Kusimpan bunga itu diatas makam Dio, cinta pertama Yoona pada masa SMP.

“Dia berbuat hal itu lagi..”

Yoona POV

Kupegang kepalaku yang masih terasa berat, perlahan kusibakkan selimut yang menutupi sebagian tubuhku. Ah, rupanya ini sudah tengah malam. Pada saat aku melangkah tiba – tiba lenganku ditarik seseorang.

“Tidurlah..” ucapnya yang menarikku kedalam pelukannya. Aku mengangguk dan tertidur dipangkuannya itu. Dio bersenandung sebuah lagu untuk menemaniku didalam tidurnya.

Keesokan harinya aku mengerjapkan mataku dan mulai mencari sosoknya, lagi. “Dio kemana? Bukankah malam dia berada disini dan tertidur bersamaku?”

Pintu kamarku terbuka lagi, kulihat Baekhyun memasuki kamarku. Aku berlarian kearahnya, “Baekhyun, kau melihat Dio? Semalam dia tidur bersamaku..” ujarku menarik ujung baju Baekhyun. “Apa kau melihatnya?” lanjutku yang membuat Baekhyun meniup poni kesal.

Dia memegang pundakku kencang sehingga tak kuragukan sedikit agak nyeri, “Yoong.. kau harus sadar! Ikuti aku!” ujar Baekhyun menarik ku paksa. Beberapa kali aku berteriak dan meronta, “Ibu.. dia akan membawaku ketempat itu lagi.. Ibu.. aku takut..” ujarku menangis kepada Ibu. Ibu tak membantuku justru Ibu mendukung semua yang dilakukan Baekhyun.

Padang rumput hijau yang terbentang luas ini, tempat yang kubenci. Tempat dimana ayah berada disana juga sama seperti Dio. Kata Ibu dan Baekhyun, Dio sudah tidak ada. Aku tak percaya, lalu siapa yang selama ini menemaniku? Siapa?

Baekhyun menggenggam lenganku dan menuntunku kesuatu tempat.

Dan diapun.. berhenti.

“Kau lihat” ucap Baekhyun, aku hanya bersembunyi dibalik punggungnya. Baekhyun menarikku, “Lihat Yoong lihat… kau harus sadar!”

Aku terdiam ketika melihat sebuah makam dengan nisan itu.

Rhyme in Peace

Dio Kyungsoo

12 January 1997

1 August 2012

Setahun yang lalu? Dia meninggal setahun yang lalu? Mengapa? Mengapa aku baru mengetahuinya? Ya Tuhan.. hatiku.. sakit.. perasaan ini lebih sakit daripada ditusuk tajamnya pedang Damascus.

Air mataku mengalir, tubuhku merosot kebawah. Kaki yang sebagai tumpuan ini tak mampu menahan beratnya beban hidupku. Aku menunduk menangisi semua ini. Aku menyesal mengapa aku baru menyadarinya. Baekhyun ikut terduduk dan mulai mengusap punggungku. Aku menangis sejadi – jadinya dikaki Baekhyun. Tak peduli celana nya yang sudah membasah akibat air mataku itu.

“Baekhyun.. Dio..Dio..” ucapku menunjuk makam sahabat sekaligus cinta pertamaku itu. Baekhyun mengangguk mengerti dan memelukku “Ya.. dia sudah tak ada Yoong. Dia sudah tenang dialam sana”

Baekhyun menuntunku untuk berdiri karena tubuhku yang terlampau sangat lemah ini, aku masih memeluknya erat. “Aku ingin pulang..” ucapku pada Baekhyun.

“Baiklah”

Baekhyun POV

“Baekhyun, temani aku. Kumohon” ucapnya menangis sambil menarik lenganku. Aku tersenyum dan duduk disamping ranjangnya dan mulai mengelus puncak kepalanya agar dia tertidur. Benar saja, semenit kemudian dia sudah lelap dalam mimpinya.

Kutatap matanya yang semakin membengkak, kukecup pelan matanya itu.

Aku ikut merasakan kepedihan ketika air matanya mengalir. Aku tak ingin melihat dia menangis lagi, jujur saja meskipun kami baru saja berteman tapi aku merasakan kenyamanan yang teramat ketika bersamanya. Jantungku bergedup tak menentu ketika iris autumn nya menatapku intens. Ketika bibir tipisnya melengkung membentuk senyuman indah ketika kami bertemu di gerbang sekolah.

Kurasa, aku mulai mencintainya.

Perlahan dia terbangun dan mengerjap, mencoba berinteraksi dengan sekitarnya. Dan akhirnya dia tersenyum, ah.. senyuman itu kembali. Senyuman yang ku rindukan. Senyuman yang membuat dia terlihat semakin anggun.

“Tidurmu lelap, Yoong?”

“Hmm..” dia mengangguk, badannya masih lemas. Tiba – tiba dia mengelus pipiku, “Maaf aku selalu merepotkanmu..”. Aku tertegun mendengar penuturan wanita dihadapanku ini, “Gwenchana.. aku mengerti bagaimana perasaanmu”

“Bantu aku melupakannya”

Aku terdiam dan mencoba mencerna perkataan Yoona, sebentar apa aku bermimpi? Apa ini mimpi?

Dia terduduk dan menepuk pipiku pelan, “Hei.. kau mau kan?”

“Caranya?” ucapku bingung sambil menggaruk tengkukku. Jantungku berdebar lagi, debarannya masih sama.

“Buat aku mencintaimu”

“Eh?”

“Kenapa? Kau tak suka?”

Dengan cepat aku menggeleng, “Aniya bukan seperti itu, hanya saja.. bukankah kau sangat mencintai Dio? Bagaimana mungkin aku membuatmu jatuh cinta?”

“Ya, jujur saja aku masih sangat mencintai Dio tapi apa aku akan terus menerus hidup dalam bayangan masa lalunya?”

Aku mengangguk, “Ba..baiklah”

Dengan refleks aku menarik tengkuk Yoona dan mendekatkan bibirnya ke bibirku. Dia nampak kaget, matanya membulat. Aku melumat bibir tipisnya, perlahan Yoona menerima perlakuanku bahkan dia sekarang melingkarkan lengannya dileherku.

Satu menit..

Dua menit..

Tiga menit..

Aku menyudahi ciuman itu, aku tergugup “A..ah maaf Yoong aku tak bermaksud”. Yoona juga ikut tergugup dia menunduk dan dapat sekilas kulihat dia tersenyum. Aku mencoba memberanikan diri untuk menggenggam erat lengan Yoona dan menatap dalam iris autumn nya itu.

“Bagaimana? Apa kau sudah mencintaiku?”

Yoona POV

Dia menyudahi ciumannya, bisa kulihat wajahnya yang merah padam. Dia gugup. Aku terkekeh pelan melihat reaksinya. Lucu.

Dia meminta maaf aku hanya tersenyum, lalu dia menggenggam lenganku. “Bagaimana? Apa kau sudah mencintaiku?”

Pertanyaan itu membuatku tertawa, jujur saja memang kuakui hatiku masih dimiliki Dio tapi mengapa justru aku senang dan nyaman apabila dia disampingku? Bukankah dia yang selalu menjagaku ketika aku menangis?

Dia bertanya sekali lagi, “Bagaimana? Apa kau sudah mencintaiku?” ulangnya. Aku terdiam dan mendongak mencoba menyesuaikan diri dan membalas tatapannya itu. Aku memeluk Baekhyun, “Terimakasih atas pengorbananmu selama ini.. terimakasih sudah menjagaku.. terimakasih..Akhirnya aku tersadar, ternyata masih banyak yang menyayangiku. Terutama kau dan Ibu”

Dia tersenyum mendengar penuturanku, “Sama – sama.. Alasan selama ini aku menjagamu karena aku menyayangimu Yoong mungkin kau tak menyadarinya”

“Sekarang aku menyadarinya”

“Benarkah?”

“Iya..”

“Buktinya?”

“Kau perlu bukti apa tuan Byun?”

“Apapun..”

“Baiklah…”

Aku menarik tengkuknya dan mencium bibirnya yang terpaut tipis itu dan melepaskannya, “Bagaimana?” tanyaku memastikan Baekhyun.

Baekhyun terdiam lalu tersenyum, “Ya, aku percaya”

Baekhyun memelukku dan berbisik pelan ditelingaku, “Aku mencintaimu sungguh.. meskipun hatimu belum sepenuhnya untukku akan kupastikan bahwa kau akan mencintaiku sepenuhnya”. Aku terkekeh lagi, “Oke.. bahkan kau sudah merebut setengahnya tuan Byun”

Dio hadir dan menampakkan wujudnya. Dia tersenyum kearahku ketika aku memeluk Baekhyun. “Goodbye.. and I love you” ucap Dio pergi bersama cahaya yang bersinar disekeliling tubuhnya. Aku hanya tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya pada Baekhyun. “Aku tak mau kehilangan orang yang disayang untuk kedua kalinya”

“Aku tak akan pernah meninggalkanmu Yoong..”

Epilog

Memang semenjak kepergian Dio, Yoona selalu saja berhalusinasi jika dia memang sedang bersama Dio. Bahkan pada saat dia diantar pulang oleh Dio, Ibunya sedikit agak aneh karena dia menjawab bahwa dia diantar oleh Dio yang jelas – jelas Dio sudah tiada.

Baekhyun pun merasakan keanehan itu, ketika Yoona berlarian dan menghampirinya dia bilang dia diantar oleh Dio dan melambai kearah Dio. Baekhyun tak melihat siapapun disana. Maka dari itu Baekhyun langsung menarik lengan Yoona.

Lalu, mengapa tiba – tiba Dio meninggal?
Bukan tiba – tiba, ingat kepindahan Dio yang tiba – tiba pada saat kelulusan?
Itulah alasan Ibunya yang memaksa Dio untuk cepat – cepat berkemas, Dio mengidap penyakit kanker stadium 1 yang baru diketahui oleh Ibunya. Dio tak menyadarinya karena penyakit ini belum tersebar luas ditubuhnya.

Lalu apa yang membuat Dio meninggal? Pesawat yang Dio dan Ibunya gunakan meledak. Ibu Yoona menonton beritanya dan memberitahu Yoona. Tapi Yoona tak mempercayainya karena semalam setelah Dio meninggal dia menelepon dan mengabari Yoona bahwa mereka sudah sampai dan selamat. Lalu setelah itu Dio menghilang tanpa kabar.

Dio datang kembali di kehidupan Yoona? Apa alasannya?
Dio datang dan mengajak Yoona ketaman lalu mengantarnya kesekolah, dia merindukan Yoona. Sejujurnya dia ingin Yoona datang ke makamnya. Namun selama ini dia tak menyadari bahwa Dio sudah tiada. Sampai – sampai Baekhyun yang membawanya kesana. Lalu apa alasan dia datang? Musim panas. Karena pada saat itu bertepatan dengan musim panas, musim yang mereka sukai.

Dio terkekeh pelan, Aku tahu.. karena aku mengawasimu setiap hari! ucapnya bercanda.
Memang Dio setiap harinya mengawasi Yoona dari awal dia memasuki sekolah barunya itu. Dia tahu bahwa dia mulai mempunyai pengganti dirinya, Baekhyun. Bahkan Dio tahu kekesalan Yoona pada saat menunggu ice cream mint kesukaannya yang dia pesan pada Baekhyun.

YA! Aku memiliki banyak mata – mata disini
Baekhyun. Baekhyun lah mata – matanya selama ini, karena dia hampir setiap hari mengunjungi makam Dio dan menceritakan apapun mengenai Yoona termasuk pada saat Yoona menangis dan mengamuk lagi. “Dia berbuat hal itu lagi..”. Dio mendengarnya walaupun Baekhyun tak menyadarinya, bahkan Baekhyun tahu bunga kesukaan Dio, lily putih.

Mengapa Baekhyun selalu mengunjungi makam Dio?
Amanat. Itu amanat dari Ibu Yoona karena Ibu Yoona sudah menganggap Dio seperti anaknya sendiri.

Mengapa Yoona tiba – tiba membuka hati untuk Baekhyun?
Pada saat Yoona meminta Baekhyun untuk menemaninya, dia tertidur. Didalam mimpi Dio mendatangi Yoona dan berkata jika lelaki yang selama ini menjadi sahabatnya itu adalah penggantinya. Dio meminta Yoona untuk melupakannya dan harus menjalani kehidupannya lagi. Life must go on, so that is a reason why Yoona gave Baekhyun a chance.

I do not want to lose for the second time- Im Yoona

FIN~

Akhirnya setelah bela belain ga tidur sampe sahur sequel ini jadi juga! Ternyata banyak yang minta sequel aku kira gaakan hehe xD
Yaudah untuk menebus kegalauan hati readers aku bikin happy ending tp dengan couple BaekYoon. Dio nya aku yang bawa deh ya? /maaf Dinda/
Buat yang nunggu kelanjutan Hurt maaf aku tunda dulu untuk sementara waktu, ini lagi on going kok^^ Still waiting okeee?😉

Semoga kalian puas^^
DONT FORGET TO LEAVE YOUR COMMENT HERE!

=TiffanyTania=

44 thoughts on “[Sequel of Goodbye Summer] – This Feeling…

  1. Setelah sekian lama/? akhirnya nemu juga ff yang cast-nya Baekhyun-Yoona*bias;’) /curhat/?
    Sumpah thor ff terbagus yg pernah aku baca. DAEBAKK!! Keep writing. Hwaiting!^^

  2. Baruuu baca ff nyaa sekarang nyesel dehhh ga nemu ff ini dari duluuu..
    Kereeeen bangettttttt baekhyun !!!! Author kau membuatku semakin mencintai baekhyun😀

  3. Bru baca sekarang xD woohoo!! Akhirnya happy ending~ dan BAEKYOON ! Yeeeaaayy!!! Author terhebaatttt!! Sayang nya D.O meninggal.. Tapi ada Baekhyun yang menggantingkan ~ uye uye ~ oya unn, boleh sequel lagi gak? Tapi cerita keselanjutan dari BaekYoon ~ pleaseee ^^~

  4. Kak…. Nama aku…. Kok di-mention di atas sih? *tunjuk-tunjuk*😄
    wkwkwkw! santai aja kak… Dio udah dapat restu dari aku kok buat jadi main cast di FF ini ^^ tapi bukan restu buat jadi secret boyfriend-nya kakak ya ;A;
    Ya Allah Kak………………………………….
    Kok FF-nya bisa bagus banget sih Kak???????????????????
    Ini nangisss ini! >,< u,u T_T
    Epilognya so cool! Kereeen (Y) *kasih 2 jempol + jempol Dio <3*
    Jadi FF fave aku nih😉
    Benar2 gag ketebak ih😉
    Aku nyesel baru baca hari ini u,u

    • Hihi makasih udh mau minjemin dio buat jd cast aku dindaaaa<3<3<3
      Okeee sekalian sama jempol Baekhyun bisa? /nawar/

      Apadeeeeh ini biasa aja dinda… fav? aaah makasih<3
      Akunya ga difavoritin gitu?._.V

      Gaapa-apa yg penting kamu mau baca!😉

  5. Kaka.. Aku belum baca ini._.v tapi pasti keren deh, Ohya ka, mohon maaf lahir dan batin ya kaka syg{};* maafin aku yg selalu ngerepotin;’)

  6. Nangis masa u,u

    Daebak!!! Keep writing thor…

    Gatau kenapa aku ngerasa karakter Dio disini kan lembut banget, pas gitu sama RLnya… Jadi feelnya dapet~Kerenn~!!

  7. Ah akhirnya ada sequel juga thor.
    Speechless aku thor, Semuanya disini dijelasin dari kenapa Dio meninggal dll..
    Keren keren.. (y)
    Keep writing author😀 hwaiting!
    Untuk ff Hurt ditunggu yaa ^^

  8. Untung ada baekhyun yang menggantikan posisi D.o kalo enggak pasti Yoona terpuruk banget, ntar Yoona kasihan. Tapi salut buat Yoona yang punya niat move on ke baekhyun :’) BaekYoon !!!

  9. author keren banget sequelnya, alurnya ga ketebak dn epilognya itu loh nilai plus” banget, quotesnya juga keren woaaaaaw dah nih sequelnya🙂 complete..
    hurt masih d tgu author cepet”publish ne semangat

  10. wwwwaaahhhh DAEBAK Eon Sequelnya !!!😀
    Bner” Speechless Thor aq !!! O.o Gak nyangka kLau D.O Oppa mninggal !!! >,<
    Yyeyeye Yoona AEonnie sma Baekhyun Oppa🙂
    Di tnggu yha FFnya yg Lain and FF Hurt jga Eon !!😉

  11. wuihh…puas deh thor
    akhir yg bahagia walaupun d.o harus meninggal
    thanks bgt thor dah bikinin baekyoon ending, couple favoritku stelah luyoon
    next ff ditunggu ya thor…keep writing ^^

  12. senengnya happy end .
    awalnya aku agak bingung n merasa aneh jg , ternyata do udah meninggal . sedih jg sich . tp gpp soalnya ada penggantinya , baekhyun .

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s