Heart Attack Chapter 19 (END)

heart-attack_ohmija_melurmutia

Title : Heart Attack

Author : ohmija

Main Cast :

–          Im Yoona

–          Xi Luhan

–          Kwon Yuri

–          Oh Sehun

Genre : Romance,hurt,sad

Length : Chaptered

Disclaimer : This story belong is mine

Except the poster by www.cafepostart.wordpress.com

A/N : FF ini terinspirasi dari buku, film dan beberapa ff lainnya. Jika ada kesamaan jalan cerita saya minta maaf

Don’t Like Don’t read

Warning : Typo,AU,alur aneh,gaje

NO BASH

Luhan POV

“Luhan” panggil seseorang

Aku menoleh dan melihat Yuri duduk di kursi tunggu. Dia tersenyum dan matanya tampak rapuh menatapku

“Ada apa?” kataku mendengus dan bersender pada pintu

“Aku ingin bicara. Bisa ikut aku?” katanya seraya bangkit

“Tid—“

“Tolonglah” pintanya. Aku memandang matanya sejenak dan akhirnya mengangguk kalah

“Baiklah”

-u-

Yuri POV

“Apa yang ingin kau katakan” tanya Luhan memakan spaghetti nya

Aku menarik nafas berkali kali, berusaha menetralkan rasa sakitku. Ketika akhirnya aku meyakinkan diriku bahwa aku sanggup, aku tersenyum semanis yang kubisa

“Aku akan melepas Sehun”

Luhan tersedak spaggeti dimulutnya saat aku mengatakannya. Mengabaikan luka dihatiku, aku menepuk nepuk tangannya

“Bisa kau katakan sekali lagi? Mungkin telingaku bermasalah” pintanya setelah selesai batuk batuk

“Aku akan melepas  Sehun. Aku akan membiarkannya mengikuti kata hatinya”

“Yuri apa kau terbentur sesuatu?”

“Tidak. Aku serius” ucapku

Luhan terlihat tidak bisa berkata kata. Matanya melebar tidak percaya, detik berikutnya mata itu berubah dengan kemarahan

“Kenapa? Bukankah kau sangat tidak ingin melepas Sehun hingga tega mendorong Yoona ke jalan?” desisnya

Aku memajamkan mata. Menikmati setiap sensasi menyakitkan yang kuterima. Membiarkan hatiku terbiasa dengan rasa sakit itu

“Aku….tidak bisa berbohong lagi, Lu. Aku tidak bisa membohongi apa yang telah kulihat dan kurasakan…” aku mengambil jeda sejenak sebelum melanjutkan, “ bahwa Sehun mencintai Yoona. Sangat”

Wajah Luhan memerah karena amarah. Aku bisa melihat tangan Namja cantik itu terkepal menahan emosi. Aku berusaha mengabaikan tatapan mata Luhan yang sangat mengerikan

“Percuma saja Luhan. Jika aku memaksa Sehun tetap bersamaku, sedangkan aku tahu hatinya bukan lagi untukku. Apa yang akan kudapatkan? Bukankah pada akhirnya aku justru menyakiti diriku sendiri?” lanjutku tersenyum miris

“Sehun akan berubah. Dia akan mencintaimu lagi” bantah Luhan

“Tidak! Aku mengenal Sehun dengan baik. Bukankah kau pernah bilang kau mengenal Sehun sama seperti Baekhyun mengenal Yoona? Kalau seperti itu, tatap mata Sehun! Lihat seberapa besar luka yang dideritanya” jawabku

“Kwon Yuri” geram Luhan

Aku mengambil nafas panjang dan menggenggam tangan Luhan di atas meja, “Jika kau terus memaksa Lu, kalian akan menyakiti satu sama lain. Yoona tidak akan bisa melepas bayangan Sehun dan kau akan tersiksa melihatnya menatap orang lain”

“Yoona men—“

“Kalimat terakhir Yoona adalah pertanyaan kenapa dia dan Sehun tidak bisa bersama? Mereka berdua saling mencintai namun apakah itu sebuah kesalahan? Lu, kalimat itu membuatku kalap hingga tak sengaja mendorongnya ke jalan”

“Kemudian aku melihatnya Lu, bagaimana paniknya Sehun, bagaimana gigihnya dia menyelamatkan Yoona dan seberapa besar ketakutannya. Hingga akhirnya aku melihatnya….Oh Sehun yang tidak pernah menangis, yang berwibawa, yang kuat, menjadi hancur karena gadis yang dicintainya terbaring koma”

“Apakah itu adalah tipuan Luhan? Apakah kesakitan yang kurasakan dari matanya hanyalah sebuah rekayasa? Tidak. Sehun benar benar mencintai Yoona, dengan segenap hatinya” ucapku mengakhiri dengan sakit

Luhan diam. Tatapannya menatap cincin yang melingkar di jari manisnya. Ekspresi wajahnya keras tidak terbaca

“Cinta itu bisa berubah Lu. Sama yang seperti Sehun lakukan. Aku menyadari…bahwa aku memegang peran penting dalam cerita ini. Karena…karena aku lah yang menyebabkan Sehun berubah. Akulah yang membuatnya berpaling. Bukan Yoona”

“Yoona…dia tidak melakukan kesalahan apapun. Ia hanya seorang gadis biasa yang juga menginginkan cinta dihidupnya. Keadaan lah yang membuatnya seperti ini”

“Aku mencintainya Yuri. Aku mencintainya” bisik Luhan sedih

“ Sadarkah kau? Kita jauh lebih egois dibanding mereka. Kita mengikat mereka bahkan saat kita tahu mereka sudah tidak memiliki perasaan untuk kita lagi. Tapi mereka? Mereka berani melepaskan perasaan masing masing untuk cinta kita, Lu”

“Aku selalu menganggap bahwa akulah korban di cerita ini. Tapi akhirnya aku menyadari…korban yang sesungguhnya adalah Sehun dan Yoona.  Yang berani mengambil resiko mereka akan sakit demi keegoisan kita semata”

Aku tersenyum dan mengusap air mataku. Berharap setidaknya kata kataku dapat menggetarkan kerasnya hati Luhan

“Tidak akan. Aku tidak akan melepas Yoona” katanya tegas

Aku hanya bisa mendesah kalah, kemudian merogoh sesuatu dari dalam tasku. Menyerahkannya pada Luhan

“Ini adalah photobook milik Yoona. Lewat photo photo ini dia mengekspresikan perasaannya. Bacalah, maka kuharap kau akan mengerti” pintaku bangkit dan menepuk nepuk pundak Luhan

“Aku telah berbuat kesalahan Luhan. Maka aku sendiri yang merasakan akibatnya. Ini lah yang sedang kulakukan. Menebus kesalahanku pada Sehun, dengan cara membiarkan dia memilih pilihan hidupnya”

Aku melangkah gontai menjauhi Luhan. Sebelah tanganku terangkat menyentuh dadaku yang sesak. Air mata kembali bergulir di pipiku

“Kuharap kau mengerti…apa yang telah kita perbuat pada dua orang itu Xi Luhan. Dengan melepasnya seperti ini, aku bisa merasakan betapa egoisnya aku dulu” gumamku

Aku menoleh kebelakang, ketempat Luhan masih memandang buku ditangannya.

Semoga, pilihan ini adalah yang terbaik bagi kami, Tuhan.

-u-

Aku membuka pintu tempat rawat inap Yoona dengan perlahan, menghela nafas begitu mendapati Sehun masih berada disana, menatap langit sore melalui dinding

Langkahku terhenti di ranjang Yoona. Perlahan, membelai lembut surainya.

“14 tahun yang lalu, kenapa kau memilihku dibandingkan banyak anak yang mendekatimu?  Seharusnya kau tak perlu menolongku ketika kotak bekalku terjatuh”

“Seandainya kau tak menolongku, saat ini semua akan baik baik saja. Kau dan aku tidak akan pernah saling mengenal dan tak akan pernah bersahabat”

“Kita tidak akan pernah terikat takdir rumit seperti ini. Aku tak akan pernah mendesah iri setiap kali teman teman sekelas mengelukanmu”

“Aku tak akan pernah menjadi yang menenangkanmu saat Siwon pergi. Yang menghiburmu. Yang menelponmu saat kau di Amerika”

“Jika kita tidak pernah bersahabat Yoona….kau tidak akan pernah mengorbankan perasaanmu untukmu….saat ini mungkin kau sudah bahagia….bersamanya”

“Bangun anak bodoh. Bukankah kau ingin tahu jawaban atas pertanyaanmu? Aku akan menjawabnya, aku akan memberitahumu jawaban apa yang sebenarnya telah disiapkan hatiku” setetes air mataku jatuh, tepat pada lengan Yoona yang memar

“Ini salahku Im Yoona. Aku yang membuat Sehun bosan. Aku yang membuatnya mencari kenyamanan lain, yang ditemukannya darimu. Ini salahku, yang tidak peka dengan senyum palsumu. Yang tidak menyadari perasaanmu sesungguhnya”

“Salahku jika kalian saling mencintai. Bukan salah kalian. Salahku Yoona….sekarang kumohon bangunlah sayang. Aku merindukanmu deer” aku terisak  di lengannya, mengeluarkan semua sakit yang menggerayangi hati ini

“Kwon Yuri…”

Sudah berapa lama kau tidak menyebut namaku Sehunie?

Aku mendongak, memaksa bibir ini tersenyum menatap pria tinggi yang memandangku sendu.

“Kau mencintainya Sehun-ah? Jangan mencoba melindungi perasaanku. Katakan saja”

Sehun menarik nafas panjang, mata hazelnya beralih pada Yoona yang berjarak beberapa meter darinya, tatapannya nanar dan penuh duka

“Sangat Yul-ah. Aku tidak mengerti, dia benar benar seperti candu bagiku”

Meskipun aku telah merasakannya dalam hatiku, tetap saja mendengar langsung dari mulut Sehun bahwa dia mencintaiku sahabatku…membuatku hancur

Aku memejamkan mata, membuat bulir itu semakin deras menuruni  mataku.

“Kalau begitu pergilah. Kejarlah cintamu. Lakukan apa yang kau mau”

Meskipun sakit, aku merasa bahwa seluruh bebanku terangkat begitu aku selesai mengucapkan kata itu

Ketika aku membuka mata, aku mendapati Sehun tengah menatapku haru. Dia melangkah pelan, hingga berada tepat disampingku

“Kenapa?” tanyanya

“Karena aku tidak ingin kita lebih sakit pada akhirnya. Sebelum kita terlibat lebih jauh lagi, sebaiknya kita sudahi saja Sehun-ah. Untuk kebaikan kita berdua”

Aku sempat melihat senyum Sehun sebelum akhirnya tubuhnya mendekapku. Menenggelamkanku dalam aroma tubuhnya yang kusuka

Pelukannya tidak lagi sama, tapi aku merasa senang. Entah kenapa

“Terima kasih Yuri. Kau…adalah wanita hebat. Carilah pria yang lebih baik dibandingkan aku” bisiknya

Di dadanya, tempat dia tak dapat melihat, air mataku mengenang tumpah

-u-

Luhan POV

Aku mendudukan diri di sofa kamar inap Yoona. Disampingku Baekhyun baru saja tertidur setelah memaksakan diri menemani Yoona bahkan ketika dia memiliki banyak urusan

Kadangkala kasih sayang Baekhyun sangat menyentuh. Jika aku tak mengenalnya mungkin aku pastilah sudah berpikir bahwa mereka adalah sepasang kekasih

Aku menghela nafas dan mengambil buku yang diberikan Yuri dari tas. Memandangi cover biru putih itu yang simple tapi menarik

“Kau mungkin bukan aku ataupun yang lainnya yang bisa mengerti perasaannya, tapi kau banyak waktu dengannya”

Kata kata Jessica terngiang kembali. Membuatku gusar untuk membuka skretchbook ini.

“Benarkah selama ini aku tidak pernah mengerti  perasaanmu?” gumamku membuka langsung ke tengah halaman

Ada fotoku saat di Pasar Ddongdaemun. Sedang memakan jagung bakar dengan semangat. Kutelusuri hingga aku menemukan tulisan Yoona

“Maafkan aku, Oppa. Aku tidak tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya”

Foto kedua diambil diam diam ketika aku sedang menunduk memainkan ponsel

“Aku mencintainya tapi…kenapa rasanya sakit sekali?”

Foto ketiga yang membuatku nyaris melempar buku itu karena berisi foto Sehun, yang diambilnya saat pria itu asik bermain PSP nya

“Aku tidak mengerti. Kenapa setiap kali dia menatapku perasaanku menghangat?”

Foto keempat : Sehun yang sedang tertidur di sofa apartemennya—dugaanku

“Apakah kau mencintaiku hanya karena rusaknya hubunganmu dengan Yuri? Kalau iya, bolehkah aku berharap bahwa semua itu salah?”

Foto kelima yang membuatku tertawa, dia memotret sebuah nasi goreng lengkap dengan susu putihnya

“Pagi ini dia mengatakan, betapa kagumnya dia padaku. Itu membuatku senang. Terima kasih Sehunie!”

Foto keenam adalah ponselnya yang menyala, dengan buku buku menjadi latarnya

“Aku merindukannya. Tapi aku tak dapat menghubunginya. Ini…salah dan Luhan tidak menyukainya”

Foto ketujuh foto ku yang sedang tertawa menonton tv

“Siwon Oppa, eotthe? Aku menyadari aku tak bisa lepas dari Sehun tapi…berada disamping Luhan membuatku nyaman”

Aku tak sanggup untuk membaca lebih jauh lagi, maka aku langsung membuka hingga ke lembar paling belakang

Foto sebuah pecahan gelas dengan foto Polaroid

“Bencilah aku Sehunie. Yang memohon padamu untuk mempertahankan hubungan terlarang ini. Jika saja kau tak pernah berkata ya, mungkin semuanya akan baik baik saja. Kau dan Yuri, aku dan Luhan

Dibawahnya ada foto  ruangan yang kukenali sebagai kamar rawat inap Yoona dulu

“Baekhyun bilang kau datang untuk memberikan kameraku dan memberitahu bahwa kau siap melepasku. Aku ingin mengiyakan, tapi kenapa rasanya aku akan mati karena sakitnya Sehunie?”

Kemudian ada sebuah foto salju yang menumpuk di gazebo Pemakaman Elit Seoul.

“Hanya bisa merelakan cinta yang pergi. Sehunna, jika kita bertemu beberapa tahun lagi, jangan pernah menyapaku arrachi?Menjauhlah dariku, agar takdir ini takan terulang kembali. Terima kasih atas cinta yang selalu kau berikan padaku,….pelukan ini…akan selalu kuingat”

Dan di lembar terakhir, foto sebuah cincin yang berada dalam kotaknya

“Besok adalah hari pernikahanku dengannya. Ini menyakitkan, mengetahui aku akan bersanding dengan pria yang bahkan akupun tudak mengetahui perasaanku sebenarnya padanya. Aku bodoh berharap kaulah yang berdiri disana, menungguku dengan senyuman tersungging”

Serta sebuah foto gereja, yang kukenali sebagai gereja yang harusnya menjadi tempat pengikatakanku dengannya

“Oh Sehoon. Bahkan ketika dunia akan berakhir, cinta ini…akan selalu ada dihatiku. Tersimpan rapi didalam hatiku, terdiam dalam waktu yang melelahkan. Nado Saranghae, Oh Sehoon”

Dengan itu aku membanting keras buku ini ke sofa, merasakan amarah dan kesedihan mencampur dalam hatiku

Kenapa Yoona? Kenapa harus dia? Kenapa kalian harus terikat takdir menjijikan ini? Kenapa kau harus memiliki cinta kotor ini?

Aku tidak tahu bagaimana, yang jelas, saat ini aku sudah berada disamping Yoona, melihat Sehun yang tertidur di lengannya.

“Apa kau mencintaiku Na-yya? “ bisikku padanya

Kemudian aku menangis, terisak di punggung tangannya

-u-

Normal POV

Pukul 5 KST suasana di kamar Yoona sangat hening, hanya ada suara kardiograf dan tetesan infuse yang terdengar. Gadis itu sendiri masih terbaring diam di ranjangnya, dengan Sehun dan Luhan berada di sisi masing masing

Tidak jauh berada di sofa pojok ruangan, Baekhyung tertidur menyender di lengan sofa dengan laptop dan beberapa kertas bertebaran di meja. Secangkir kopi yang tinggal setengah menemani meja yang cukup berantakan itu

Kemudian suara kardiograf yang tadinya hanya berupa pip pip kecil menguat. Garis yang tadinya naik turun teratur menjadi tidak teratur seiring naiknya angka aktifitas otak

Yoona, gadis itu perlahan mulai mendapatkan kembali 5 inderanya seiring dengan nafas yang telah kembali ke tubuhnya

Gadis itu menggerakan jari jari tangannya, pikirannya merasa bingung dengan berat yang dia rasakan disana. Sedetik kemudian berat yang menindihnya menghilng, tangannya terbebas dan dia semakin bingung. Tapi dia tidak peduli, pikirannya mengatakan dia harus melemaskan kembali tubuhnya yang terasa kaku

“Yoona?”  sebuah suara bernada bingung, kaget dan senang memenuhi telinganya, dia masih mencoba membuka matanya yang berat

“Baekhyun hyung irreona!” suara berat tadi berseru. Yoona mengenali suara itu sebagai suara lelaki

“Wae Sehun-ah? Aku masih men—“

“Hyung lihat!”

“Yoona!” sebuah suara lagi berseru dan suara itu terdengar familiar di pikirannya. Ketika perlahan dia mulai merasakan cahaya memasuki matanya, semuanya semakin jelas

Ada dua orang disisi kanannya, yang menggenggam tangannya dan satu orang lagi di sisi kirinya, memegang bahunya

Yoona reflek mengerjapkan matanya ketika mata nya sudah sepenuhnya terbuka.

Hal pertama yang dilihatnya adalah langit langit sebuah ruangan yang asing

Dia mengendus melalui udara. Dia tidak menyukai baunya yang membuat pikirannya merinding

Lalu dia sadar bahwa dia memakai sesuatu di kepalanya. Perlahan tangannya terangkat, mencoba menggapai wajahnya

Sebelum dia mencapainya, sebuah tangan lain mendahuluinya, mengangkat sedikit kepalanya dan melepaskan benda itu dari sekitar mulutnya

Bau rumah sakit

Ya, Yoona yakin aroma yang sedang dihirupnya ini adalah aroma rumah sakit. Dia tidak menyukainya, rasanya penuh dengan duka dan kesedihan

Mata coklat itu akhirnya menangkap bayangan tiga pria yang sedang memandangnya dengan berbeda beda. Pikirannya otomatis memerintahkan untuk mengingat wajah tiga orang itu

Matanya menatap mereka dengan seksama. Dia tidak mengenali seorang pria yang diduganya sangat tinggi dengan rambut blonde nya. Pria itu menatapnya sedih, dan terharu

Satu mata lagi, yang menatapnya dengan sangat lembut. Seorang pria berambut pirang gelap, dengan wajah yang menurutnya sangat cantik. Dia juga tidak mengenali pria itu

Sebuah mata coklat milik namja cantik itu menarik perhatiannya. Dia berpikir dimana dia pernah melihat namja itu.

Baekhyun!

Ah ya, dia ingat sekarang. Itu sepupunya, Byun Baekhyun. Otomatis dia mengangkat sudut bibirnya, mengingat sosok yang dia rindukan itu

Tapi dia tidak mengenal dua lainnya

Dia berdehem, mencoba membersihkan tenggorokannya. Memaksa suara keluar dari pita suaranya

“Baekhyun-ah. Neol nuguya?”

-u-

Sehun POV

Aku merasa waktu berhenti sesaat Yoona mengeluarkan suara pertamanya. Pikiranku mencerna lambat apa yang baru saja dikatakan oleh gadis ini

Dia…bertanya? Dia bertanya siapa kami?

Setelah semuanya telah masuk di pikiranku, reflek aku langsung memencet tombol di dinding. Menatap mata polos Yoona yang terlihat bingung

Aku melirik Luhan dan Baekhyun yang sama kagetnya dengan ku. Terlebih lagi Luhan, dia terus menatap Yoona tanpa berkedip

“Baekhyun-ah” panggil Yoona dengan suara seraknya

Pria itu menelan ludah dan memejamkan mata sedetik sebelum menjawab, “Ne?”

“Dimana aku?” tanya Yoona dengan mata memutari rongganya, mencoba menggapai semua sudut yang ditangkapnya

“Baekhyun ada apa?” sebuah suara mendobrak masuk dan aku mendapati Suho berlari kecil. Matanya membelak begitu mendapati Yoona yang tengah menatapnya bingung

“Dia sadar?” pekik Suho

“Suho. Ada hal gawat, periksa dia” perintahku cepat. Dokter itu mengangguk dan dengan langkah lebar menghampiri ranjang Yoona

Yoona menurut ketika Suho menyuruhnya membuka mulutnya, dan melihat matanya. Dia tidak berbuat apa apa saat Suho melepaskan alat alat aneh yang tertempel di dadanya

“Baekhyun. Apa yang terjadi padaku?” tanya Yoona berhasil menghentikan kegiatan Suho yang sedang mengukur tensi darahnya

“Sabar dulu, Yoong. Akan kujelaskan nanti” meskipun suaranya lembut tapi aku bisa merasakan kekhawatiran dan ketakutan didalamnya

“Yoona-ssi, siapa namamu?” tanya Suho menatap langsung mata Yoona

“Im Yoona” jawabnya langsung

“Berapa umurmu?”

“14 tahu….” Perkataan Yoona terputus, dia tampak mengerjap ngerjapkan matanya bingung. Bola matanya menatap Baekhyun menuntut penjelasan

“Lupakan saja. Yoona-ssi apa yang terakhir kau ingat?” tanya Suho berhati hati

Yoona memandang Suho bingung. Dia mengerutkan keningnya dan matanya mengerjap ngerjap

“Ahh. Taman, aku berada di taman sedang duduk menunggu Siwon Oppa membelikan balon untuk anak anak yatim piatu di sana” jawabnya dengan mata berbinar

Jderr

Aku bisa merasakan hatiku tersambar petir dengan jawabannya. Disampingku, Luhan hyung terhuyung nyaris jatuh jika aku tidak menahan lengannya

Pandangan Suho menatap kami. Tatapannya sedih dan menyerah kalah

Ketakutan kami terjawab sudah

-u-

Yoona POV

Aku memandang sekelompok orang yang tampak muram dan tidak percaya. Lagi lagi aku mengerutkan kening melihat mereka

Jemariku menggenggam erat tangan Baekhyun, merasa takut dengan tatapan orang orang itu

“Yoona..kau benar benar tidak mengenali kami?” tanya Baekhyun lelah

“Tidak. Siapa mereka  Baekhyun-ah? Hanya Yuri yang kukenali” ucapku menatap gadis yang terlihat lemas disampingku

Baekhyun mengambil nafasnya panjang dan menatap mataku. Tangannya tergerak menyelipkan helaian rambutku

“Umurmu 23 tahun sekarang Yoong. Kau sudah tidak lagi tinggal di Busan. Saat ini kau sudah menjadi direktur Imsan bersamaku”

Perkataan Baekhyun membuatku bingung. Otakku mencerna secara lambat suara itu. Mencoba menerjemah apa maksudnya

“Meskipun sulit dipercaya, aku akui sepertinya umurku memang sudah 23 tahun” gumamku memandang tubuhku yang setengahnya tertutup selimut

Direktur Imsan? Well aku memang berada di Busan untuk dididik menjadi direktur Imsan. Menjadi penerus perusahaan Appa-ku

Perusahaan?

“Baekhyun-ah, Siwon Oppa Eodiggayo?” tanyaku cepat

Helaan nafas Baekhyun dan Yuri terdengar menyakitkan di telingaku. Mereka bertatapan sejenak dan kemudian tersenyum—aku tahu itu senyum kepura pura-an

“Dia ada di Eropa Yoona. Membangun bisnisnya disana. Nanti dia kembali, saat ini dia sangat sibuk untuk dihubungi” ucap Yuri lembut

Seketika sebuah kekecewaan besar timbul di hatiku. Aku merasa kosong dan hampa. Hingga akhirnya mataku menangkap luka di mata hazel itu

Mata itu….aku seperti mengenalnya. Tatapan itu menggetarkan hatiku, entah kenapa

“Kau tidak mengingat apapun?” tanya nya sedih

Saraf pusatku memerintahkan pikiranku untuk mengingat suara itu. Hatiku tergerak ketika mendengar luka dalam suaranya, aku seperti ingin merengkuh tubuh tingginya dalam dekapan

“Tidak” jawabku

Pria itu memejamkan mata beberapa detik dan kembali terbuka, menampilkan sayatan yang lebih jelas didasar matanya. Perlahan sudut bibirnya terangkat, menciptakan sebuah senyuman

Lagi lagi aku seperti tersengat listrik. Senyuman itu mengingatkan ku pada sesuatu. Aku tidak tahu apa. Kembali suara dokter yang tadi memeriksaku terngiang

“Kau kecelakaan Yoona-ssi. Kau mmengalami koma selama kurang lebih dua minggu. Dan sepertinya saat ini kau kehilangan memori mu dan mengingat hal hal yang terjadi saat umurmu msih 17 tahun”

Ah pria itu pasti salah satu temanku. Sama seperti orang orang ini

“Kalau begitu kita mulai semuanya dari  awal” suara itu kembali berbicara dengan nada ceria yang dibuat buat

Aku menatapnya, mencoba memahami luka yang tercetak sangat jelas di kedua mata hazelnya

“Annyeong haseyo. Jeonun Oh Sehun imnida. Dulu kau adal…” dia melirik pria disampingnya sebelum melanjutkan “adalah temanku”

Ketika dia mengatakannya, aku merasakan sudut hatiku berdenyut ngilu. Aku menggelengkan kepala, merasa sangat tidak mengerti dengan hatiku

“Anyyeong Sehun-ssi. Aku Im Yoona. Salam kenal dan bantu aku mengingat semuanya ya” ucapku ceria

Sehun tersenyum dan menundukan kepalanya dan ketika dia menatapku kembali, matanya terlihat rindu dan sedih bersamaan

“Luhan Hyung. Tolong” pinta Baekhyun memelas kepada pria disamping Sehun

“Aku Xi Luhan, Yoona. Dulu kau….juga temanku” kata pria itu ceria meskipun begitu aku bisa melihat kilat kesedihan di matanya saat mengatakan ‘teman’

Satu persatu mereka mengenalkan diri. Dan semuanya sama, mereka mengaku mereka adalah temanku. Kedua sudut bibirku terangkat, mengetahui bahwa aku memiliki teman teman yang sangat baik

Ada Jessica yang bernyanyi dengan Taeyeon (Baekhyun bilang dia adalah kekasihnya) dengan diiringi dengan gitar yang dimainkan Chanyeol (Diantara semua, dialah yang paling menyenangkan menurutku)

Kris (kekasih Jessica) ternyata seorangan rapper yang sangat baik. Dia menarik Yuri, Sooyoung (tunangan Chanyeol) dan Sehun (aku akui, hatiku terasa ngilu melihatnya) untuk menari mengiringi Jessica dan Taeyeon.

Aku tertawa lepas dan merasa bahagia dikelilingi mereka. Chanyeol, Sooyoung dan Baekhyun yang suka membuat lelucon. Tawa melengking Taeyeon. Kadar kenarsisan Kris yang tinggi, suara lumba lumba Jessica, tawa alligator Luhan, dan Sehun yang agak cadel

Semuanya terdengar familiar di telingaku. Membuatku melupakan sejenak kepalaku yang berdenyut atau nyeri di tulang rusuk dan pinggulku.

Mereka baru pulang saat malam tiba dan berjanji akan kembali lagi besok. Aku membalas lambaian mereka dan tersenyum selebar mungkin

“Kau tidak pulang, Sehun-ah?” tanyaku  ketika mendapati Sehun masih berdiri diam dektak tempat tidurku

Dia menatapku dan berjalan beberapa langkah. Tangannya yang pucat terangkat membelai rambutku lembut

“Cepat sembuh ya” katanya dalam

Kemudian dia berlari kecil kepintu, terseyum sekilas sebelum meninggalkanku bersama Baekhyun dan Yuri

Ketika melihat daun pintu yang sudah sepenuhnya tertutup. Sebuah perasaan aneh menghampiriku

Hatiku menjerit memintanya disisiku

-u-

Luhan POV

Sudah lewat dua minggu sejak Yoona membuka matanya. Gadis cantik itu sembuh sangat cepat—menurut Suho. Dia bahkan sudah bisa berjalan jalan mengelilingi rumah sakit meskipun kadangkala pinggangnya ngilu.

Keadaannya tetap sama. Gadis itu tetap tidak mengingat apapun

Sakit

Rasanya sakit sekali, setiap kali harus melihat nya berbicara padaku seolah tidak ada hubungan apapun antara kami

Satu hal yang kusyukuri adalah bahwa Yoona juga tidak mengenali Sehun

Dia hanya mengingat Yuri dan Baekhyun, yang menurut Suho adalah orang terdekat Yoona di masa lalu. Menurut dokter itu pula, Yoona hanya mengingat kenangan yang membuatnya bahagia. Yaitu saat dia masih bersama Siwon.

Selama Yoona dirumah sakit pula, dia terus terusan bertanya tentang Siwon. Hingga seringkali Yuri dan Baekhyun harus memijat kening memikirkan alasan

Aku memandangnya yang tengah memandang anggrek putih di taman rumah sakit dengan miris. Selama dia dirumah sakit, aku menemukan Yoona yang tak pernah kulihat.

Ceria, hangat, cerewet dan periang

Dia hampir sebelas dua belas dengan Chanyeol yang berisik. Hingga di sering bertanya padaku kemana Chanyeol saat pria itu tidak datang

“Inilah Yoona yang sebenarnya Hyung. Im YoonAh yang membuat semua orang mencintainya. Yoona yang mati bersama dengan meninggalnya Siwon. Yoona yang dikuburnya dalam dalam”

Perkataan Baekhyun kembali terngiang. Tanpa sadar aku mengulas senyum pedih

Sebegitu hancurnya kah kau saat Siwon pergi hingga mampu membuat dirimu hilang nyaris tak bersisa?

Kenapa aku tidak pernah melihatnya Yoona? Kenapa aku tidak pernah melihat dirimu yang seperti ini? Tidakkah kau mencintaiku sama seperti kau mencintai Siwon?

Aku terpaksa menelan kepahitanku sendiri memikirkan jawabannya

“Pada awalnya aku berpikir hanya fotografi yang mampu membuatnya kembali kedirinya yang sebenarnya Hyung. Tapi ternyata aku salah…ketika melihat cahaya itu dimatanya, aku tahu bahwa Oh Sehun perlahan membuka kembali diri yang dikuburnya, jauh didalam hatinya”

Aku mendengus dan mengalihkan pandangan pada rumput hijau yang kupijak.

Tidak, Baekhyun pasti hanya berbohong. Aku tidak pernah melihat Yoona yang ceria bahkan saat bersama Sehun.

“Luhan, ayo kita pulang. Mobil Yoona sudah didepan”

-u-

Yoona POV

Aku membuang pandangan pada jalanan Seoul yang tampak lenggang. Menatap kota yang seingatku sudah banyak berubah sejak aku kemari

Ah ya aku hilang ingatan

Meskipun aku kehilangan memoriku, aku belajar dengan cepat. Terhitung  lewat semingu sejak Suho memperbolehkan ku pulang, aku sudah mampu kembali menangani Imsan.

Ah ya, Baekhyun menertawakan hal ini. Dia berkata meskipun aku kehilangan memoriku, pikiranku tidak melupakan bagaimana cara memimpin perusahaan dan bersikap seperti bangsawan. Lucu sekali

“Pemakaman?” aku mengerutkan kening begitu mobil audy hitam ini berhenti digazebo yang sangat besar

Pria disampingku, yang daritadi hanya diam—sama sepertiku, mengangguk. Dia menatapku dalam dan menyelipkan helaian rambutku dibelakang telinga

“Bukankah kau bilang kau merindukan Siwon?” tanyanya

“Ya, tapi kenapa harus ke pemakaman Sehun-ah? Memangnya kita akan melihat siapa?”

Sehun tersenyum singkat dan keluar dari mobilnya, membukakan pintu untukku.

“Kajja” katanya menarik lenganku

Meskipun saat ini aku sedang dipenuhi dengan rasa heran dan takut, aku tidak memungkiri bahwa jantungku berdetak kencang saat dia menyentuhku

Seraya berjalan mengikuti Sehun pikiranku melayang kesebuah blok pemakaman yang baru saja kulewati

Appa sudah meninggal

Sakit rasanya mengetahui bahwa pria yang dulu menggendongku dipundaknya kini terbaring kaku didalam tanah

Eomma sudah menceritakan segalanya dua hari setelah aku membuka mataku. Membuatku tiba tiba kehilangan semangat hidup

“Bukan hanya Appa mu yang disini Yoona, dia juga terbaring disini” suara Sehun berhasil menarikku dari lamunan, sontak aku menoleh kedepan

Deg

Aku merasakan bumi berhenti berotasi dan angin angin tiba tiba tak lagi berhembus

Aku mengerjapkan mata menahan sesak di dada, membaca tulisan itu lamat lamat

Rest In Peace

Choi Si Won

7 April 1986 – 22 Januari 2007

“Jiwa yang kekal dalam ingatan lebih kuat dibanding tubuh yang hancur oleh tanah”

Air mataku jatuh ketika mengulang tulisan itu dikepalaku berkali kali.

Tidak mungkin

“Kenapa? Kenapa kalian tidak memberitahuku?” jeritku dan detik kemudian tubuhku sudah berada dalam pelukan hangatnya

“Maaf. Kami tidak mau itu mengganggu proses kesembuhanmu” bisiknya perlahan

Air mataku tumpah di dada bidangnya. Membasahi kemeja putihnya dengan air mata

-u-

Oh Family House, 25 January 2013

Aku memandang sinis botol yang disodorkan Luhan. Sedangkan pria itu tampak gentar merasakan tatapanku

“Ayolah” pintanya

Dengan malas aku meraih botol itu dan meneguknya hingga setengah. Dapat kurasakan Baekhyun dan Yuri mengkeret dibalik punggung Kris dan Sehun, sebisa mungkin menghindari tatapanku

Ini aneh

Aku tidak mengerti apa yang terjadi pada diriku

Aku sedih ketika mengetahui bahwa Siwon telah meninggal dunia, amat sangat pedih hingga aku sempat  akan melemparkan diri ke jalan, jika saja Sehun tidak menahanku dan kembali memelukku. Tapi entah kenapa ketika dia memelukku rasa sakit itu pergi, seolah olah dia adalah morfin

Sehun ya?

Dari sejak aku membuka mata, saat pertama kali aku menatap jauh kedalam bola matanya aku merasakan berbagai perasaan aneh

Seperti kadangkala dia menatapku sedih dan terluka aku memiliki perasaan seperti ingin memeluknya. Atau saat dia kadangkala sedang tertawa lepas, tanpa sadar aku mengangkat bibir mengikutinya

Atau saat dia termenung, aku merasakan darahku berdesir melihat wajah tampannya

Aku tidak mengerti dengan ini semua. Bahkan disaat seharusnya aku bersedih dan mengurung diri dikamar karena kekasih hatiku telah pergi untuk selamanya, aku tidak merasa seperti yang kubayangkan

Jauh didasar hatiku, aku merasakan bahwa hati yang seharusnya kosong karena pemiliknya telah pergi itu, tidak selalu kosong

-u-

Normal POV

Luhan hanya bisa memandang miris pemandangan dihadapannya. Setelah Yoona puas mengamuk dan menangis pada Baekhyun dan Yuri, gadis itu akhirnya merasa lelah dan tertidur

Tangan pria itu tergerak mengusap wajah Yoona yang tertidur. Merasa sakit mengetahui bahwa hanya pada saat inilah dia bisa kembali memiliki hatinya, cintanya.

Xi Luhan hanya bisa meraih statusnya sebagai calon suami Im Yoona ketika gadis itu tertidur. Terlalu lelah untuk menyadari air mata Luhan

Luhan membuang pandangan pada pintu coklat yang tertutup. Menghalangi suara tawa samar samar di ruang tengah rumah Sehun

Ah ya pria itu membawa Yoona ke rumah keluarganya tepat pada saat teman yang lainnya sedang sibuk mempersiapkan acara barbeque party untuk merayakan kembalinya Yoona ke dunia perbisnisan(?)

Sehun membawa Yoona dengan keadaan tangan pria itu melingkar di bahu Yoona, menuntun Yoona yang tampak sesenggukan. Ketika Yuri berteriak panic pada Sehun barulah pria itu menjawab bahwa dia memberitahu tentang Siwon karena dia tak sanggup lagi membohongi gadis itu

Bodoh memang tapi Luhan melihat Baekhyun menepuk nepuk pundak Sehun, tidak marah besar seperti yang Luhan tunjukan, sepupu Yoona itu justru tersenyum lembut pada Sehun, setuju dengan alasan pria itu

Cepat atau lambat Yoona harus mengetahuinya. Sehun benar dengan memberitahu secepatnya, kita tak bisa membiarkan dia terus menunggu seseorang yang sudah meninggal”

Perkataan Baekhyun terbayang kembali dan membuat Luhan harus mengambil nafasnya sakit

Dia sudah cukup tersakiti melihat Yoona

Dia pikir dengan keadaan Yoona yang hilang ingatan akan membuatnya mudah untuk membuat gadis itu jatuh cinta tanpa ada gangguan apapun padanya

Ternyata dia salah

Yoona justru seperti membuat jaga jarak dengannya. Membatasi Luhan untuk mendekat dan mencoba semuanya dari awal

Awalnya Luhan tidak terlalu mempermasalahkan hal itu, tapi ketika dia melihat kadangkala mata Yoona mengikuti Sehun dan ikut tersenyum saat pria itu tertawa membuat Luhan khawatir

Seberapa kuat kau berusaha Xi Luhan, aku yakin kau takan bisa memisahkan Yoona dan Sehun. Cinta diantara keduanya terlalu dalam untuk dihancurkan sebuah kecelakaan. Meskipun Yoona kehilangan memorinya tapi aku yakin, hatinya tidak lupa siapa pria yang dicintainya”

Kata kata tajam Jessica kembali terngiang, mengirimkan rasa sakit di hati pria China itu

Air matanya jatuh, mewakili semua rasa sakitnya.

Perlahan didekatkan dirinya pada Yoona dan mengecup bibir gadis itu untuk waktu yang lama

Berharap ketika gadis itu terbangun, dia mengingat Luhan sebagai pria yang dicintainya

Bukan Oh Sehun

-u-

Hari menjelang sore ketika Yoona terbangun dari tidurnya, dengan perasaan linglung dia bangkit dan berjalan terseok seok kearah pintu

Dimana aku?” gumamnya menyadari ini tidak seperti dirumahnya

“Ah kau sudah bangun” sebuah suara menarik perhatiannya, dia menoleh dan melihat Luhan tersenyum seraya membawa sebuah plastic

Yoona mengulas senyum manis. Dia mengagguk dan menghampiri Luhan dengan cepat

“Ini dimana? Dirumahmu kah?” tanyanya

Luhan tertawa kecil dan mengacak rambut Yoona gemas, membuat pemiliknya cemberut “Kau dirumah Sehun. Kau lupa?”

Yoona menepuk keningnya sendiri begitu mengingat ingat bagaimana dia sampai dirumah itu. Dia nyengir tiga jari pada Luhan dan kembali masuk ke kamar yang tadi ditidurinya

Yoona menatap kamar bernuansa maskulin itu dengan seksama. Kamar itu besar dengan warna hitam dan merah mendominasi. Dinding timur kamar itu sepenuhnya ditutupi kaca yang menampilakan sinar senja di langit Seoul

Yoona berjalan santai kearah dindi nng itu, menikmati pantulan sinar matahari di wajah cantiknya saat dia melihat sebuah meja yang menarik perhatiannya

Meja itu seperti meja di kamarnya, penuh dengan kertas kertas dan buku buku yang berserakan. Ada sebuah laptop dan Yoona tersenyum meraih satu dari banyak pigura disana

Senyumnya mengembang melihat sosok kecil yang sedang tersenyum lebar bersama satu wanita cantik yang diduganya hanya berbeda setahun dengan sosok itu

Yoona geleng geleng dan mengatahui siapa pemilik kamar ini. Pria yang membuat hatinya bingung dan jantungnya berdetak tak menentu. Oh Sehun

Pandangan Yoona jatuh pada selembar foto yang terselip diantara buku buku Oh Sehun, dia menarik foto itu.

Deg

Itu foto dirinya, yang tampil cantik dengan gaun berwarna putih gading. Dia tersenyum lebar seraya menggamit tangan Luhan. Disampingnya ada Yuri dan Sehun yang berpakaian sama resminya dengan dia

Yoona mengerutkan kening, dia merasa familiar dengan foto ini. Dan dia merasakan sesuatu yang aneh dengan foto itu

Pantulan sinar matahari menyinari cincin yang melingkar manis di tangan kirinya. Membuat cincin bertahtakan Sapphire Blue itu bersinar

Deg

Yoona menyenggol gelas disana ketika tubuhnya ambruk ke lantai, menimbulkan suara bising pecahan gelas

Kepalanya sakit

Luhan, Sehun dan Taeyeon yang kebetulan berada dekat dengan ruangan itu segera berlari dan menemukan Yoona meringkuk di lantai dengan tangan memegangi kepalanya

“Yoona!”seru Luhan panic menepuk nepuk pipi Yoona yang kesakitan di pangkuan Sehun

Yoona, gadis itu sendiri sedang menahan kepalanya yang seperti ingin pecah. Berdenyut hebat dan menyiksanya. Meskipun begitu dia samar samar mendapatkan gambar gambar dan suara suara sumbang

“Aku mencintaimu”

“Ini akan memberikan ketenangan pada tunanganmu”

“Apa? Kita hanya rekan kerja Sehun Lupakan apa yang terjadi di Jeju dan apartemenmu. Kita sama sama mabuk saat itu. Itu kesalahan!”

“Ini yang kurindukan. Yoona yang sejak pindah ke Amerika menghilang”

 “Nde. Annyeong Yul, Sehun. Selamat menikmati kencan kalian”

“Setelah kau membuatku seperti orang gila sekarang kau bilang ingin memulai semuanya dari awal? Kau….tidak memikirkan perasaanku Im Yoona”

“MEREBUT SATU SATUNYA ORANG YANG DICINTAI SAHABATMU, APAKAH ITU KESALAHAN YOONA!!!!”

Jeritan Yoona menggema diseluruh rumah besar yang kosong itu. Membuat beberapa orang yang berada di taman lantai dua itu berlari kesumber suara

Luhan hanya bisa meneteskan air matanya, melihat Yoona yang tersengal sengal dengan mata terpejam dan air mata membasahi wajahnya

“Taeng! Apa yang terjadi?” serbu Baekhyun begitu dia menyentuh kening sepupunya

“Molla. Kami menemukannya seperti ini. Tapi dugaanku…” Taeyeon menggantungkan ucapannya dan menarik sebuah foto yang tergeletak disamping Yoona

Yang lainnya hanya bisa mengambil nafas dan memandang prihatin Yoona yang tampak mulai sedikit tenang. Ketika gadis itu membuka matanya dia bangkit dan melepaskan diri dari rengkuhan Sehun, menyandar pada nakas panjang itu

Matanya menatap cincin yang berkilau di tangannya. Dia memandanginya penuh minat, merasa bingung, aneh dan familiar dengan cincin itu

“Sebenarnya, dari mana aku mendapatkan cincin ini? Seingatku aku tidak memiliki cincin ini”

Luhan dan Baekhyun berpandang pandangan sedangkan Sehun sudah terlebih dahulu menunduk. Siap dengan apa yang akan terjadi nanti jika Baekhyun memutuskan menceritakan segalanya pada Yoona

Tapi ternyata dugaannya tidak sepenuhnya meleset

“Kau sudah memiliki cincin itu Yoong. Kau tidak mau mengatakan padaku siapa yang memberikannya padamu. Tanyakan padamu, siapa yang memberikan cincin itu?” desah Baekhyun bersitatap dengan Jessica

Yoona terdiam, tampak menimbang nimbang jawaban Baekhyun. Dia akhirnya mendesah kalah dan memeang kepalanya yang tadi berdeyut hebat

“Tadi aku kenapa Baek? Rasanya kepalaku akan pecah dan kemudian aku mendengar suara suara di pikiranku. Aku juga melihat gambar gambar” tanyanya

Taeyeon yang paling cepat bereaksi. Dia meraih tangan Yoona yang menatapnya bingung

“Apa yang kau dengar? Dan apa yang kau lihat?”

Yoona menatap Taeyeon dengan mata polosnya. Merasa benar benar bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan wanita yang disebut sebagai kekasih sepupunya itu

“Entahlah eonnie, semuanya samar samar, hanya potongan potongan yang tidak menentu. Dan gambar gambarnya,….aku tidak bisa menangkap semuanya dengan jelas. Mereka bergerak cepat sekali, hilang timbul di pikiranku” ujar Yoona

Taeyeon terdiam sebentar, membiarkan yang lain menatap perawat serta calon dokter itu penasaran. Meskipun begitu Baekhyun, Sehun dan Jessica Nampak tidak tertarik memandang Taeyeon, mereka lebih memfokuskan pada Yoona yang terlihat polos

“Besok kita kerumah sakit ya? Mungkin saja kepalamu masih belum sepenuhnya sembuh dari benturan itu” sanyum Taeyeon. Yoona mengangguk dan kepalanya terputar mencari foto yang tadi dipegangnya

“Kau cari apa?” tanya Sooyoung

Yoona tamak gelagapan dan menggeleng cepat. “Aniyo”

“Sudahlah ayo, pestanya hampir dimulai” ucap Jessica menarik lengan Yoona

-u-

Luhan Apartemen, 1 February 2014

Yoona POV

Aku berjalan cepat begitu menyadari suara suara itu menguat. Menyederkan tubuhku pada daun pintu, mendengarkan pertengakaran itu

“Sampai kapan kita akan membohonginya Baekhyun! Dia perlu tau kejadian yang sebenarnya!” seru Luhan

“Tidak! Demituhan, Yoona belum siap untuk kenyataannya Xi Luhan!” teriak Baekhyun

“Baekhyun-ah, pelankan suaramu, Yoona bisa terbangun”

“Apa hakmu Byun Baekhyun? Aku hanya ingin dia kembali mengingatku! Bukannya justru tenggelam dan ketidaktahuannya padaku!”

“Im Ahjumma memberikan tanggung jawab Yoona padaku Luhan. Ingat itu. Dan jika kau ingin Yoona mengingatmu, maka itu perlu tahap. Kita tidak boleh gegabah!” bentak Baekhyun

“Bertahap? Bertahap dan melihat dia menjauh dariku? Dan melihatnya memperhatikan Oh Sehun? Menyadari dia tertarik dengan sepupuku!? Tidak Byun Baekhyun! Aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama! Aku tidak akan membuatnya kembali teringat dengan hubungan kotor dia dengan Sehun!”

Suara tawa melengking Jessica terdengar. Namun aku tahu, itu adalah tawa mengejek yang dingin.

“Kalau begitu kau sudah menyadarinya Xi Luhan? Bahkan ketika dia kehilangan ingatannya. Dia tetap mengingat Sehun didalam hatinya!”

Dengan berakhirnya perkataan Jessica, aku luruh ke lantai. Tangisku pecah mendengar semuanya. Dengan gemetar aku membuka pintu kamar Luhan dan berjalan pelan, mendapati Baekhyun, Luhan dan Jessica bersitatap dengan marah

“Apa jawabanmu Xi Luhan? Kau menyadarinya bukan? Aku sudah berkata padamu dan kau tidak mendengarkanku” aku mengenali itu sebagai suara dingin Baekhyun

“Untuk itulah aku akan mengatakannya Jung Sooyeon! Dalam keadaan Yoona yang hilang ingatan seperti ini, akan memudahkanku untuk memulai segalanya dari awal. Tapi untuk itu aku perlu memberitahu yang sebenarnya! Aku akan menghilangkan bagian yang menceritakan bahwa dia pernah jatuh cinta dengan Sehun!” raung Luhan

Krak

Hatiku tersayat mendengar perkataan itu. Aku menyentuh dadaku yang bergemuruh hebat dan merasakan kepalaku mulai berdenyut lagi. Suara suara itu mulai kembali terdengar di pikiranku

“Aku…tidak sanggup lagi Sehun-ah. Sekuat apa pun aku mencobanya, kau tetap masuk dalam pikiranku”

“Sekuat apa pun aku menyangkalnya. Aku tak bisa memungkiri bahwa aku sangat mencintaimu Yoona”

“Kau tega membohongi perasaannya? Yoona tidak akan lupa untuk selamanya! Dia akan mengingatya dan pada saat dia mengingatnya dia akan merasa tersakiti karena menikahi orang yang salah!” geram Kris bangkit dan menatap tajam Luhan

“Tapi Sehun-ah, aku juga mencintaimu. Yang memelukku saat aku sedih, yang menghapus air mataku, yang menenangkanku dengan caramu sendiri. Kau tidak membuatku tertawa, tapi kau membuatkiu tersenyum tulus Sehun”

“Maka percaya padaku, Oppa. Aku hanya akan mencintaimu dan memberikan seluruh cintaku untukmu. Aku akan menjadikanmu satu satunya raja di hatiku, Luhan Oppa”

“Oh aku tahu! Kalian membela Sehun karena dia teman kalian bukan? Ahya, aku memang tidak pernah menjadi sahabat kalian. Kalian hanya mengenalku karena Yoona adalah tunanganku!”

“Hanya bertahan kumohon. Tidak perlu saling memiliki. Hanya bertahan, sampai aku benar benar siap melepas salah satu dari kalian”

“Bukan begitu” seru Kris

“Jika aku berkata kau jangan menemui Sehun lagi bagaimana?”

“Ap—“

“Aku mencintaimu Yoona. Tolong…jangan pernah pergi dariku….karena aku akan mati, jika kau melakukannya”

“Buka matamu! Bukankah Jessica dan Baekhyun sudah berkali kali memberitahumu bahwa Yoona mencintaimu sebagai cinta Semu!? Dan tidak cukupkah bukti yang selama ini kau lihat? Selama ini aku berpura pura tidak tahu saja tapi sebenarnya aku tahu Yoona tidak pernah mencintaimu!”bentak Kris dan nyaris menghajar Luhan jika saja Sehun tidak mencekal lengan pria itu

“Berbahagialah. Karena aku bahagia saat kau bahagia”

“Dia mencintaiku Wu Yi Fan. Dia jauh lebih mencintaiku dibandingkan Sehun. Itu alasan kenapa dia bahkan bisa melepaskan hubungannya dengan Sehun sedangkan denganku tidak!”

“Itu adalah pengorbanannya!” dan akhirnya Yuri berada dalam puncak amarahnya, dia bangkit dan memandang Luhan dengan mata yang tak pernah kulihat sebelumnya—seingatku

Hanya bisa seperti ini Yoong. Hanya sebatas sahabat yang saling membutuhkan”

“Aku sudah mengatakan padamu Xi Luhan. Yoona memang mencintaimu, tapi dia jauh mencintai Sehun! Tatap matanya dan lihat! Jujurlah dengan hatimu Oppa, aku tahu kau melihat itu dimatanya”

“Jangan bicara Kwon Yuri. Kau yang menyebabkan semua ini. Kau menyebabku Yoona-ku hilang ingatan!”

“Kita sama sama melukai satu sama lain jika terus bersama Sehun. Dan….kita sama sama tidak bisa melihat orang yang kita sayangi terluka, maka dari itu….kita sudahi saja”

“Aku tah—“

“Xi Luhan ini sudah ambang batas kesabaranku. Kau benar benar bodoh jika mengangap Yoona jauh lebih mencintaimu! Tidakkah kau melihat betapa sakitnya dia saat kau memintanya menikah secepatnya? Tidakkah kau melihat betapa tersiksanya dia karena kau yang memaksakan kehendakmu? Yoona memang tidak menyadarinya, tapi cintanya padamu hanyalah sugesti! Dia mencintaimu karena dia terpaksa. Bukan karena dari hatinya!”

“Cinta adalah kenyamanan dan kebahagian Yoona. Tanyakan pada hatimu, siapa yang lebih memberikan kenyaman. Sehun,..atau Luhan?”

“Apa buktinya Byun Baekhyun? Untuk apa menyiksa dirinya melepaskan Sehun jika bukan karena dia mencintaiku!”

“Hanya bisa seperti ini Yoona. Sebatas ini kita bertahan. Hanya untuk memberikan nafas lega ditengah sesaknya hati. Hanya dua orang mencintai namun tak bisa bersama”

Suara tawa sinis Baekhyun terdengar, mendengung di kepalaku yang berdenyut semakin hebat. Membuat suara suara itu semakin jelas, juga bayangan bayangan yang semakin cepat berputar

“Terakhir….terima kasih Oh Sehun, atas cinta yang kau berikan padaku”

“Tidakkah kau memahami betapa baiknya Yoona? Atau kau hanya terlalu dibutakan oleh kecantikan sahabatku hingga tidak melihat hatinya? Yoona tidak memperjuangkan hubungannya dengan Sehun bukan karena dia mencintaimu. Tapi dia tahu itu akan menyakitiku Luhan! Kuberitahu kau satu hal, Yoona jauh lebih sakit melihatku membencinya, dibandingkan kau yang membencinya!” jerit Yuri

“Maaf karena tak bisa mencintaiku? Maaf karena kau telah tertawa setelah memainkan perasaanku? Maaf karena kau bahagia telah menghancurkan hatiku?”

“Apa apaan ka—“

“Hentikan! Katakan padaku Yoona! Kuberi kau satu kesempatan lagi…..katakan! katakan bahwa kau mecintaiku dan tak akan meninggaalkanku! Katakan kau menyesal telah memiliki perasaan bodoh itu padanya!!”

“Tanya Baekhyun dan yang lain. Bagaimana kondisi Yoona setelah kita memergoki mereka berdua! Siapa yang jauh lebih dikhawatirkan Yoona! Kau bukanlah apa apa. Kau berada di satu nomer dibawahku dalam catatan orang yang paling dicintainya. Karena dia tahu Xi Luhan, bahkan tanpa dirimu, dia bisa mendapatkan pria yang jauh jauh jauh lebih baik lagi!”

“Yuri….kumohon anggaplah semua ini tidak terjadi. Kita kembali seperti dulu, aku…aku berjanji akan melakukan segala hal yang kau mau tapi…kumohon biarkan kita kembali seperti dulu”

“Saranghae Im Yoona, saranghae. Rasa ini tidak akan berubah”

“Aku merasakannya Im Yoona….hati Oh Sehun, bukan milikku lagi. Dan itu karena kau, pengzina!!”

“Xi Luhan. Yoona melepas Sehun, karena dia tahu aku sangat mencintai Sehun. Dia tahu aku mengorbankan banyak hal untuk bersama dengan Sehun. Dia tahu betapa hancurnya aku jika dia berani merebut Sehun dariku! Luhan, bagi Yoona aku jauhlah lebih penting dibandingkan kau. Aku adalah sahabatnya, yang telah tumbuh bersamanya! Sedangkan kau! Kau hanya pria yang dijodohkan olehnnya, orang yang dengan santainya masuk kedalam hidupnya”

“Aku dengar….kau dan Luhan hyung….akan segera mengakhiri masa pertunangan kalian?”

“Kau. Bukan sahabatku Im Yoona. Mulai saat ini. Mulai detik ini. Jangan pernah muncul dihadapanku. Kau bukan sahabat dan tak akan pernah menjadi sahabatku lagi”

“Dan asal kau tahu saja Luhan. Dia menerima perjodohan ini karena keluarganya menawarkan dia untuk bisa menempuh impiannya di dunia fotografi! Kau sudah membacanya bukan? Buku yang kuberikan? Sadarilah Luhan, Yoona bahkan menerimamu sebagai kekasihnya hanya karena rasa kasihan kepadamu yang mencintainya dengan tulus!”

“Katakan padaku! Katakan padaku kau akan meninggalkannya dan hanya menghabiskan masa tuamu denganku! Katakan padaku kau akan menjauhi dan tak pernah bertemu lagi dengannya! Katakan bahwa kau hanya mencintaiku dan menginginkanku seorang Yoona!!Katakan padaku!!”

“Saranghae. Oh Sehun, Saranghae”

Dan ketika tekanan itu sudah sampai puncaknya. Aku tidak mampu lagi menahannya. Hingga akhirnya jeritanku mengakhiri semua suara suara itu

-u-

Normal POV

Jeritan Yoona berhasil membuat semuanya membeku. Mereka membeku sejenak dan menoleh cepat hanya untuk mendapati tubuh Yoona ambruk ke lantai

Sehun yang paling cepat menghampiri tubuh itu. Betapa terkejutnya dia ketika menyadari darah sudah mengalir dari hidung Yoona. Dan juga bibirnya berdarah, menandakan betapa kuatnya dia menahan rasa sakit yang menghantam kepalanya

Sehun dengan cepat mengangkat tubuh Yoona dan segera berlari menuju basement melalui tangga darurat.

Sama seperti ketika gadis itu baru saja kecelakaan, Sehun bertindak seperti orang gila. Rasa takut dan cintanya telah mengendalikan tubuh pria itu.

Baekhyun dan Luhan yang entah bagaimana sudah masuk kedalam mobil Sehun hanya bisa menggenggam tangan dingin gadis itu. Dan mencoba membersihkan darah di hidungnya

Beruntung saat itu jalanan Seoul lenggang sehingga mampu membuat Sehun mencapai Seoul International Hospital hanya dalam jangka waktu 5 menit

Dan ketika Yoona sudah masuk kedalam ruangan UGD dengan Suho—yang mengomel karena terpaksa membatalkan niatnya untuk pulang—barulah Sehun dan yang lainnya bernapas lega

-u-

Seoul International Hospital, 2 January, Sunrise

Luhan POV

“Luhan”

Aku menoleh dan mendapati seorang wanita cantik yang berumur nyaris setengah abad itu tersenyum padaku. Aku membungkuk hormat kepadanya

“Im Ahjumma”

“Bolehkah kita bicara?”

Aku mengerutkan kening namun dengan segera ku mengangguk mengikuti Im Ahjumma menuju taman rumah sakit

Kami duduk dalam diam di kursi taman, memandang langit yang bertabur bintang. Cahaya oren mulai mewarnai langit kala itu. Membuat bintang sedikit menyembunyikan cahayanya

Aku berkali kali melirik gelisah ibunda Yoona tersebut. Merasa gugup dan bingung menatap wajah itu

Jangan tanya kenapa aku ingin sekali cepat cepat angkat kaki dari sisi wanita ini. Karena hanya dengan melihat wajahnya saja, aku mampu bergetar

Keanggunan dan Wibawanya jelas tercetak di wajah itu

Bahkan selama aku berhubungan dengan Yoona, aku tidak terlalu banyak bicara dengan Nyonya besar Im ini. Bukan bermaksud tidak sopan, hanya saja aura kebangsawanan wanita ini terlihat sangat jelas. Membuatku takut berkata kata kepadanya. Segan

Ah sebenarnya bukan hanya kepada wanita ini, bahkan kepada pamanku sendiripun aku segan berbicara dengannya. Aku sampai heran sendiri, kenapa tatapan para bangsawan ini sangat tegas dan tak terbantahkan? Membuat setiap  orang tunduk akan kebesarannya

“Sampai umur Yoona 8 tahun, Luhan, dia adalah anak manis yang periang, lincah dan menggemaskan. Dia selalu bertanya hal hal yang tidak dia mengerti padaku atau suamiku. Karena sifatnya yang menggemaskan, semua orang mencintainya”

Aku menegakan tubuh mendengar itu. Tahu bahwa aku hanya bisa mendengarkan dan tidak berani membantah

“Dan ketika kami merasa sudah saatnya dia belajar lebih serius, perlahan pribadi itu hilang darinya. Kami mengajarkan padanya bagaimana dia seharusnya bersikap dihadapan banyak orang dengan statusnya sebagai bangsawan. Mengajarkan padanya kedisiplinan dan ketegasan dalam hidup. Mengajari nya untuk menjadi berhati hati kepada orang yang baru dikenalnya”

“Kami meyadari karna semua itu, Yoona kecil kami berubah. Perlahan dia mulai terbentuk sebagai pribadi yang tegas, disiplin dan menjadi dingin. Dan itu membuat kami khawatir kami terlalu dalam mengajarinya. Saat umurnya tepat 10 tahun, kami mengirimnya kerumah orangtuaku, agar dia lebih bisa belajar dengan cara yang lembut, merubahnya perlahan lahan”

“Metode itu berhasil. Yoona kami sudah berubah. Dia memiliki banyak teman dan bersahabat baik dengan Yuri. Kadangkala dia memang bersikap dingin dan cuek, namun kami bisa lihat dia jauh lebih hangat dibandingkan saat bersama kami. Kami senang dan membiarkan itu berlanjut”

“Suatu waktu aku mendapati wajahnya kembali berseri seri. Dia tertawa dan kembali menjadi Yoona yang lincah dan periang. Sikap dingin dan cueknya di gunakannya dengan sangat baik. Aku dan suamiku senang dengan kemajuan ini. Kami menganggap Yoona sudah siap untuk menjadi  bangsawan yang sesungguhnya”

“Hingga akhirnya kutahu bahwa putriku sedang menjalin hubungan dengan kakak kelasnya. Kami terkejut ketika itu adalah putra teman kami. Seorang bangsawan dan pengusaha yang terpandang. Choi Siwon”

“Tentu saja aku dan suamiku sangat tertarik. Kami tidak melarang Yoona memiliki hubungan dengan siapapun dan dalam kasta manapun. Kami membiarkan Yoona remaja menjadi air beriak yang berbahaya”

“Lalu pada tahun ketujuh kami meninggalkannya di Busan, Siwon pergi untuk selamanya. Aku melihatnya, bahwa putriku telah kehilangan sangat besar. Dia memang bersikap biasanya dan berusaha tetap ceria, tapi kami tahu itu menyiksanya. Untuk itu kami membawanya kembali ke Seoul. Agar dia bisa lepas dari bayang bayang Siwon”

“Namun ternyata aku salah, Yoona memang tetap seperti biasanya, tapi aku mendapati bahwa Yoona yang periang telah hilang, dia kembali menjadi pribadi yang kami bentuk pertama kali. Dingin dan anti social. Dia juga menjauh dari kami dan jauh lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Baekhyun”

“Dari Baekhyun aku mengorek informasi tentang apa yang terjadi pada putriku. Tapi itu sangat sulit, Baekhyun pun tidak jauh beda dengan Yoona. Bahkan dia lebih parah karena di didik di Seoul yang padat. Namun samar samar aku mendengar bahwa Yoona masih tak bisa melupakan Siwon dan tertekan dengan semua pelajaran yang kami berikan”

“Jessica, Yoona, Chanyeol sama sama tamat sekolah pada usia 18 tahun dan langsung kuliah di Dartmouth. Sedangkan Baekhyun, Sehun dan Kris menamatkan sekolah mereka di usia 17 tahun. Dan pergi ke Harvard untuk kuliah. Diantara mereka semua tidak ada yang saling mengenal kecuali Kris dan Chanyeol, namun pada akhirnya mereka bersahabat sampai sekarang”

“Mereka sangat pintar kau tahu? Rata rata mereka menyelesaikan gelar sarjana mereka diusia 20-21 tahun. Dan karena umur itu masih terlalu muda untuk menjadi seorang direktur, mereka lanjut kuliah S2 di Seoul. Semuanya kecuali Yoona yang memilih untuk menyelesaikan S2 nya di Dartmouth”

“Aku tidak melarangnya, kami tahu dari Baekhyun dan dari pengamatan kami sendiri selama mengunjungi Yoona bahwa anak kami sedikit demi sedikit sudah tidak sedingin selama di Seoul. Dia lebih sedikit hangat meskipun tetap menjaga jarak dengan sekitarnya”

“Suatu hari adik Jessica yang pulang ke Korea memberitahu kami bahwa Yoona mengikuti sebuah pameran diam diam. Dia memberikan kami foto foto hasil jepretan Yoona dan kami tertegun”

“Sejak dia berhubungan dengan Siwon, Yoona memang menyukai fotografi, tapi kami tak menyangka jika bakatnya sebesar itu. Ketika melihat lembaran lembaran foto itu, Luhan, aku merasa benar benar sangat jahat kepada putriku”

“Tapi ayah Baekhyun mengingatkan bahwa Yoona adalah penerus darah emas kami. Para tetua tidak akan bisa memperbolehkan Baekhyun bertukar posisi dengan Yoona hanya karena alasan ‘konyol’ seperti itu”

“Dalam tradisi bangsawan seringkali terjadi perjodohan. Dan itu yang kami lakukan, kami menjodohkan Yoona denganmu. Pernahkah kau bertanya kenapa harus kau? Kau tahu ayah dari ibu-mu dulu pernah menolong ayahku saat dia nyaris tenggelam karena memancing. Mereka berteman baik sejak itu”

“Sebelum ayahku meninggal, dia bilang dia pernah mimpi bahwa salah satu darahnya menikah dengan keturunan kakekmu itu. Dan diputuskanlah Yoona akan menikah denganmu. Kenapa bukan Sehun? Padahal dia mungkin bisa mengatur perusahaan jauh lebih baik darimu? Tapi sayangnya ibu Sehun berkata bahwa putranya telah memiliki kekasih”

“Yoona menolak dengan tegas itu. Kami tahu itu terlalu muda untuknya, meskipun aku yakin bahwa dia jauh lebih dewasa darimu. Tapi ketika kami mengatakan dengan ini mampu membuat dia sedikit mendapat kelonggaran dalam impiannya, dia langsung setuju”

“Dari jauh kami memperhatikan kalian berdua. Sebenarnya aku merasa sangat bersalah padamu karena Yoona membohongimu. Namun ketika aku mendengar langsung dari Yoona bahwa dia telah mulai mencintaimu, aku merasa lega”

“Tapi aku adalah ibunya Luhan-ah. Aku tahu bahwa ada sesuatu yang mengganggu putriku. Aku tidak tahu apa itu. Baekhyun bahkan selalu menghindari jika aku hendak bertanya padanya tentang Yoona”

“Aku memutuskan membiarkannya saja. Karena aku melihat dia sedikit bisa tersenyum dan kembali tertawa lepas karenamu. Meskipun kami tidak mendapatkan Yoona yang dulu, aku merasa sudah cukup puas dengan Yoona saat bersamamu”

“Kami rasa perjodohan ini tidak terlalu buruk. Mungkin kau dan Yoona akan menjalani takdir kalian dengan bahagia. Melihat Yoona yang merasa nyaman denganmu”

“Ketika suamiku meninggal, aku terlalu dibutakan oleh kesedihan hingga tidak menyadari perubahan pada diri Yoona. Seharusnya aku sadar, bahwa pada saat Yoona kehilangan ayahnya lah aku seharusnya berada di sisinya. Mendukungnya dan memahami perasaannya”

“Aku mendengar dari Baekhyun bahwa Yoona mendapatkan peran itu dari orang lain. Tadinya aku berpikir bahwa kaulah orangnya Luhan. Namun aku salah, amat sangat salah”

Aku tertegun ketika akhirnya Im Ahjumma menyelesaikan ceritanya. Kupandangi raut wajah wanita itu yang tampak sedih dan terlihat begitu tertekan

Aku tidak pernah mendengar ini dari siapapun. Bahkan dari Yoona ataupun Baekhyun. Cerita tentang Yoona di masa lalu. Perlahan pendapat Baekhyun dan Yuri yang mengatakan bahwa dulu Yoona adalah pribadi yang ceria itu mulai meruntuhkan egoku. Tadinya aku berpikir itu hanya akal akalan mereka saja, yang tidak mendukung hubunganku dengan Yoona

Im Ahjumma mengambil nafasnya dalam dan mengalihkan pandangannya dari langit kearahku. Dia menatapku dalam dan penuh makna

“Aku mulai merasakan ada sesuatu yang salah saat mendapati Yoona sering mengelak jika membicarakan kau. Dia selalu mengalihkan ke topic lain. Aku pikir itu mungkin karena dia terlalu malu untuk menceritakannya”

“Kemudian ketika Yoona jatuh sakit karena pertengkaran kalian berempat, aku mulai menebak nebak apa yang terjadi. Lalu aku melihat Sehun, saat dia berada depan kamar Yoona saat kutahu kau ada di dalam. Dia berbicara kepada Baekhyun dan Chanyeol seraya menyerahkan kamera Yoona”

“Ketika dia melewatiku, aku tertegun melihat wajah itu. Sehun tampak tertekan dan tersakiti. Dia seperti seseorang yang nyawanya hendak dicabut. Berantakan dan kehilangan cahaya matanya”

“Aku pikir karena Sehun mencintai Yoona. Dan cintanya tidak terbalaskan, namun aku melihat wajah Yoona. Saat kau sudah pulang dan Baekhyun memberitahunya bahwa Sehun mengembalikan kameranya. Aku tahu bahwa dugaanku salah”

“Yoona juga mencintai Sehun. Itu tak bisa disembunyikan dimatanya saat dia menerima kamera itu. Dan disitulah aku merasa aku adalah ibu yang jahat Luhan. Ketika aku melihat untuk pertama kalinya semenjak Siwon pergi, air matanya jatuh hanya karena Oh Sehun”

“Aku memaksa Baekhyun menceritakan segalanya. Karena aku tahu, Baekhyun pasti mengetahu segala hal tentang Yoona. Aku tahu itu. Dan Baekhyun akhirnya menceritakan padaku, semua yang disembunyikan Yoona dariku”

“Aku memang tidak mengetahui yang sesungguhnya, tapi dari jauh hari, aku telah menyadari topeng Yoona semakin tebal. Dia semakin melarang banyak orang masuk kedalam hidupnya”

“Disinilah aku sadar betapa tersiksanya Yoona. Dia merelakan cintanya pergi hanya karena dia takut Yuri membencinya dan hancur karenanya. Dia…dia melepaskan impiannya karena permintaan tidak langsung suamiku. Dia menahan lelahnya sebagai direktur demi aku dan nama keluarganya”

“Aku menangis mengingat ini. Putriku benar benar tumbuh menjadi wanita dewasa. Dia bukan lagi putri kecilku yang merengek jika aku tidak menuruti kemauannya. Dia sudah berani bertindak dan bersikap mulia”

“Dan ketika kecelakaan itu terjadi, aku melihat betapa hancurnya Sehun saat itu. Aku adalah wanita yang sudah kehilangan cintanya, Luhan. Aku tahu betapa sakitnya melihat orang yang kita cintai pergi. Aku merasa bercermin ketika melihat mata Sehun saat itu. Dan saat itulah aku sadar  betapa dalamnya cinta Sehun kepada putriku”

“Kemudian aku mendengarkan pertengkaran kau dengan Jessica hari itu. Aku merasa sedih saat itu, aku merasa bahwa kau terlalu egois. Dan menyakiti perasaan putriku”

“Aku ingin sekali membatalkan perjodohan ini semenjak hari itu. Apalagi aku mendengar bahwa Yuri sudah melepas Sehun demi Yoona. Bagiku, penghalang kebahagian anakku hanyalah kau”

“Saat Yoona kehilangan ingatannya, aku mencoba melihat siapa yang dicintai putriku sesungguhnya. Dan aku melihatnya Luhan, aku tahu meskipun mata itu tampak diam menatap Sehun, aku tahu bahwa hatinya mengingat Sehun sebagai pemilik tempat Siwon dulu berada”

Im Ahjumma terdiam. Menatapku meminta pengertian. Melihat itu aku hanya membuang muka, tidak mau menatap sorot mata memohon itu

“Aku menceritakan ini untuk memberitahumu betapa tersiksanya Yoona. Baekhyun tak pernah berbohong. Yoona…dia memang sudah sakit sejak dulu. Dia selalu tersiksa, Luhan” aku terkejut ketika mendengar isakan Im Ahjumma. Aku menoleh dan melihat wanita itu menunduk, menatap jari jari tangannya

“Luhan, kau sudah dengar kisah Yoona seluruhnya. Apa kau tega melihat wanita yang kau cintai tersiksa dengan pengorbanannya? Luhan, aku mohon padamu, tolong lepaskan putriku. Aku mohon” tangan Im Ahjumma menggenggam tanganku dan menangis disana

Aku sebisa mungkin menahan air mataku, mencoba tidak terpengaruh dengan perkataan wanita ini.

“Aku adalah ibu yang tidak berguna Luhan. Aku membiarkan putriku tersakiti dan menanggung semuanya sendirian. Aku merasa benar benar jahat menyadari bahwa selama 23 tahun hidupnya dia nyaris hanya memiliki sedikit kebahagian”

“Aku tahu kau mencintainya, aku tahu kau tak sanggup kehilangannya. Aku tahu kau sakit melihatnya mencintai pria lain. Tapi apakah karena itu kau harus memaksakan diri? Luhan, jika kau menikahinya nanti, kau tidak akan mendapatkan apapun. Kau dan dia akan saling menyakiti”

“Bagaimana bisa kami saling menyakiti jika dia mencintaiku Ahjumma?” desisku. Wanita itu tersentak dan menatapku iba

“Pikirkan perasaan seorang gadis yang terlalu baik hati sehingga tidak tega melihat pria yang mencintainya harus menelan kebohongannya belaka? Dia tidak tega melihatmu nak, dia tahu kau mencintainya dengan sangat besar, dia tak tega untuk melihat kau hancur sia sia. Sama seperti dia tak sanggup melihat Yuri hancur kehilangan Sehun”

“Aku juga telah membaca buku itu Luhan. Aku menyadari bahwa sebelum Yoona memaksa dirinya mencintai mu, hatinya telah tertohok pada Sehun. Dia sudah tertarik dengan Sehun bahkan sebelum dia menerimamu sebagai kekasihnya”

“Dia mencintaimu Luhan. Sebagai orang yang memberikan padanya sebuah tawa. Dia mencintaimu yang membuatnya melupakan masalahnya. Dia mencintaimu yang menghiburnya. Dia mencintaimu, sebagai dongsaeng kepada Oppa-nya”

“Dan dia mencintai Sehun. Yang membuat jantungnya berdegup kencang. Dia mencintai Sehun yang memberikannya ketenangan. Dia mencintai Sehun yang membuatnya rindu”

“Kau pikirkan apa yang membuat Yoona memiliki hubungan dibelakang kalian? Karena dia sudah tak sanggup lagi menahannya, dia akhirnya menyerah dan membiarkan cintanya mengalir. Karena dia sudah tak sanggup lagi mencintai Oh Sehun dalam diam saat dia tahu bahwa pria itupun memiliki perasaan yang sama”

“Buktinya adalah Luhan, bahwa bahkan ketika Yoona kehilangan ingatannya, dia sudah menyadari bahwa dia merindukan Oh Sehun. Hatinya tidak akan lupa, siapa yang pernah memilikinya. Sama seperti Yoona tak bisa melupakan Siwon. Dia tak mampu melupakan Sehun, yang telah mengunci hatinya”

Im Ahjumma mengusap air matanya dan menatapku dengan sendu. Dia meletakan tangannya di dadaku, ditempat jantungku berdetak

“Jika kau benar benar mencintainya Luhan, maka kau akan dituntun oleh cintamu kepada kebijaksanaan. Jangan pernah membohongi hati dan pikiranmu. Bukalah hatimu dan biarkan semuanya masuk kedalam dirimu. Maka kau akan melihat kebijaksanaan cinta, Xi Luhan”

Wanita itu pergi, meninggalkan ku sendiri. Larut dalam kepedihan tak berujung

-u-

Normal POV

Luhan hanya bisa menghela nafasnya saat memasuki kamar rawat Yoona. Dia menunduk menatap sepatunya dan tidak menyadari apa yang terjadi disekitarnya

“Luhan…Oppa?”

Luhan tertegun dan dengan cepat mendongak. Menatap Yoona yang dikelilingi oleh yang lainnya. Dan Oh! Luhan ingin memeluk siapapun ketika dia menyadari  mata itu telah kembali

“Oppa, kenapa kau diam saja? Apak—“ perkataan Yoona terputus ketika Luhan memeluk tubuh gadis itu. Menghirup aroma yang sudah sangat dia rindukan

Luhan memeluk Yoona cukup lama, membiarkan kerinduan dan kesedihannya mengalir keluar. Baru ketika dia merasa tenang, dia menatap wajah Yoona

“Kau sembuh” bisiknya diikuti senyum kaku Yoona

“Ya, dan maafkan aku. Pernikahannya jadi diundur karena ini”

Deg

Kini Luhan melihatnya, saat Yoona mengatakannya, dia melihat betapa mata itu berusaha tegar. Luhan perlahan mundur, tetap memandangi wajah Yoona dan memahami Kristal itu

Luhan memejamkan matanya, dia bertemu dengan mata Sehun yang menatapnya. Dan dia kembali tertegun. Dia bisa merasakan betapa sakitnya mata itu menatapnya

Terakhir Luhan melihat Yuri yang tampak murung. Mata gadis itu terlihat kelam dan pasrah. Tapi Luhan tahu, bahwa Yuri juga sama sakitnya dengan Sehun

“Tak apa, Yoong. Kita bisa mencari hari lain. Aku ingin ke kantin dulu, aku lapar dan ingin makan sesuatu. Nanti aku kembali”

Sebelum Luhan mencapai pintu, dia bisa merasakan helaan nafas kecewa dari Baekhyun dan Yuri

-u-

Luhan POV

“Bukalah hatimu dan biarkan semuanya masuk kedalam dirimu. Maka kau akan melihat kebijaksanaan cinta, Xi Luhan”

Aku membiarkan perkataan Im Ahjumma merasuki ku. Membuatku kembali tertohok dengan kalimat itu

Mungkinkah ini maksud Im Ahjumma? Tentang aku harus membuka hatiku dan tidak berbohong?

Saat ini aku berada dalam kondisi tidak baik. Perkataan ibu Yoona itu membuatku terus berpikir. Aku juga merasa sangat lemah karena kenyataan yang perlahan mendobrak benteng pertahananku

Saat ini aku sudah kehilangan egoku, mataku sudah kehilangan kekerasannya. Aku kini melihat sesuatu lebih menggunakan hati, berhubung pikiranku sudah terlalu lelah untuk menghadapi ini

Ketika mata Yoona tadi, entah kenapa aku merasa sangatlah jahat karena telah membuat gadis itu merasa sesak

Dan ketika melihat matanya jugalah tahu bahwa semua perkataan itu benar

Bahwa Yoona mencintai Sehun

Mata itu tak berbohong. Aku seperti melihat kedalam dasar hatinya dan menelan kekecewaan karena namaku berada disatu garis dibelakang Sehun

Mungkinkah karena Yoona berada dalam titik terlemahnya, sehingga dia sudah tidak mampu menunjukan topengnya padaku? Itu adalah mata yang tak pernah kulihat sebelumnya. Melihat mata itu membuatku mengerti bahwa Jessica benar. Yoona sangatlah rapuh

Yoona merelakan hatinya tersakiti untuk ku dan Yuri. Orang yang juga dicintainya, keluarganya

Sehun juga merelakan hatinya sakit agar Yoona dapat bersamaku, orang yang juga sangat disayanginya

Mereka saling mencintai dan itu benar

“Jika kau benar benar mencintainya Luhan, maka kau akan dituntun oleh cintamu kepada kebijaksanaan”

Yoona mencintai Sehun dan dia rela dia sakit untukku. Sehun mencintai Yoona dan dia melepas gadis itu untukku

Kenapa aku tidak?

Mereka keluargaku bukan?

Melindungi keluarga, adalah kewajiban setiap umat manusia bukan?

Lagipula aku yakin aku tak akan sanggup melihat dia mencintai pria lain. Seperti kata Jessica, aku memiliki tubuhnya, hartanya, namanya, namun aku tidak memiliki hatinya

Lalu apa gunanya pernikahan jika tidak ada cinta di dalamnya? Bukankah aku percaya dalam suatu hubungan bukan hanya satu orang yang saja bekerja? Jika aku menikah dengan Yoona, kami takan bisa mempertahankan rumah tangga jika hanya aku yang mencintai Yoona. Sedangkan dia, hanya akan merasakan sakit dan terus menerus melirik pada Sehun

Jika aku melepas Yoona. Bukan hanya Yoona akan kuselamatkan. Namun aku juga akan menyelamatkan adik kesayanganku dari kehancuran

Bukankah aku menyukai Yoona yang ceria? Bukankah aku menyukai saat Yoona tertawa? Bukankah aku menyukai saat dia bahagia? Bukankah aku menyukai saat dia terbuka dan menjadi Yoona yang tak pernah ditunjukkannya padaku?

Aku merogoh sakuku dan mengetikan sesuatu disana. Mengirimkan pada seseorang yang sangat kusayangi

Matahari senja tampak bersinar indah dan dengan anggun turun keperaduannya. Meninggalkan seberkas cahaya hangat di mata

Serta hatiku

-u-

Sehun POV

Aku melangkah ragu ragu ke taman rumah sakit. Masih terbayang dikepalaku bagaimana Luhan Hyung yang sudah tidak pernah menghubungiku lagi sejak hari itu, mengirim pesan.

Kutarik nafas dalam dalam dan melangkah mantap, duduk disamping Luhan yang terpejam menghalangi matahari senja

Aku membiarkan seperti ini. Menikmati angin membelai lembut kulitku. Memberikan ketenangan tersendiri

Yoona telah mendapatkan ingatannya.

Aku senang karena dia kembali mengenaliku. Tapi…aku juga sakit saat mengetahui bahwa aku takan bisa meraih Yoona

“Sehun-ah”

Sudah berapa lama kau tidak memanggilku Hyung?

“Ya?”

“Saat kau harus melepas Yoona untukku, apa yang kau rasakan? Bagaimana bisa kau hidup tanpanya?”

Deg

Aku terpaku mendengar pertanyaan Luhan. Dengan segera aku menoleh dan mendapati wajah Luhan yang tampak murung

Aku menelan saliva ku sendiri sebelum menjawab pertanyaannya, “I have no word for describe it”

“Berikan aku gambarannya Sehun-ah” bisiknya

Aku tetap memandang Luhan saat menjawab, memahami setiap ekspresi wajahnya, “Seperti kau merasakan bahwa dunia terlalu besar untuk kau gapai. Seperti saat kau sangat kehausan di tengah gurun sahara. Seperti saat kau tenggelam dalam air asam. Kurang lebih seperti itu”

Mata terpejam Luhan terbuka, dia menoleh dan menatapku sendu, “Maukah kau memaafkan Hyung, Sehun? Maaf karenaku membuat dirimu merasa seperti itu”

“Ten—“

“Jaga dia Sehun-ah. Jika sampai aku melihat kau menyakitinya, aku tak segan segan untuk merebutnya darimu”

Jantungku nyaris berhenti berdetak mendengar perkataan Luhan. Aku hanya diam, terpaku dengan wajah tak percaya menatapnya

“Aku tak ingin menyakiti wanita yang kucintai Sehun-ah. Lagipula aku juga tak ingin menyakitimu, aku menyayangimu. Aku tak ingin kau terluka karenaku”

“Kau saja berani mengambil keputusan melepas Yoona karena rasa sayangmu padaku. Mengapa aku tidak bisa melakukannya? Aku bahkan 2 tahun lebih tua darimu”

Aku bisa merasakan darahku bergejolak mendengarnya, dengan cepat aku menarik tubuh Luhan kedalam pelukan

Dan ketika aku merasakan usapan di punggungku, aku tahu aku telah mendapatkan Hyung-ku kembali

-u-

Yoona POV

“Luhan Oppa” panggilku

Dia menoleh dan menghentikan kegiatannya yang sedang menatap anggrek putih di taman rumah sakit. Dia menatapku dan tersenyum sangat manis

“Bagaimana persiapan pernikahan kita yang tertunda? Kau sudah menentukan harinya?”

Sakit

Hatiku berdenyut ngilu mengatakan hal itu. Meskipun begitu, aku tetap tersenyum dan menutupi rasa sakit itu dengan sempurna di mataku

Luhan tersenyum semakin lebar dan kemudian bersimpuh dihadapanku. Menggenggam tanganku yang berada di lengan kursi roda

“Kau yang akan menentukan harinya” ucapnya

Aku mengangguk dan berusaha tetap tersenyum, “Aku senang kita akan menikah”

Bohong

Semua yang kukatakan adalah kebohongan

Senyum Luhan meredup, dia mencium tanganku dalam, kemudian merengkuh wajahku dalam genggamannya

“Kau yang akan menikah” bisiknya

Aku mengerutkan kening dan baru hendak ingin bertanya ketika Luhan terlebih dahulu mengecup bibirku

“Sana. Pergilah anak bodoh. Menikahlah dengan dia. Berbahagialah dan berikan aku seorang keponakan yang lucu dan ceria. Jangan seperti kalian yang dingin dan tak banyak bicara”

Butuh banyak waktu bagiku untuk mencerna ucapan Luhan. Aku mengerjapkan mata berkali kal menatapnya, mencoba memahami kalimat yang baru saja dilontarkannya

“Kau tak senang? Yasudah aku tarik lagi uca—“

Aku memeluk Luhan erat, membiarkan bahunya basah oleh air mataku. Aku bisa merasakan tangannya mengusap lembut punggungku

Ketika aku sudah tenang, aku melepaskan pelukanku. Melihat mata Luhan merah dan sembab, pertanda dia juga menangis

“Jeongmal ghamsamida, Oppa. Gomawo” ucapku serak

Luhan mengangkat tangannya, mengusap air mataku yang kembali mengalir. Dia tertawa seraya menggenggam tanganku, meskipun aku tahu dia menangis disana

“Terakhir kalinya, Yoona. Bolehkah aku menciummu? Aku janji ini adalah ciuman terakhir kita” pintanya mengusap matanya yang merah

Aku mengangguk dan dengan cepat Luhan sudah mengulum bibirku. Aku merasakan kesedihan dan rasa sakitnya mencapur disana. Namun dibalik itu, aku merasa ketenangan dalam ciumannya

Satu bibirku terangkat menyadari hatinya perlahan mulai menerima kami.

“Ekhem”

Sontak aku dan Luhan melepaskan ciuman kami. Wajah Yuri yang menahan tawa dan Sehun yang cemberut adalah yang pertama kali kulihat

“Kalau mau berciuman tolong jangan disini. Aku jadi iri” ucap Yuri kesal dan bersedekap di dada

Aku merasakan hatiku tersambar petir. Aku kemudian menyadari satu hal

Yuri belum melepaskan Sehun

Aku tersenyum pahit dan memandang Luhan yang tengah menahan tawanya, “Cium saja pangeran kulit pucatmu itu”

Aku bisa merasakan tangan Yuri melingakar di bahuku, dia menyenderkan wajahnya di bahuku, membuatku merasa nyaman mengingat kami kembali berbaikan seperti dulu

“Aku tidak mau menciumnya, dia sangat jelek dan menyebalkan. Desaigner cantik sepertiku mana mau berciuman dengan mayat. Ih, kau saja sana”

Aku mengerutkan kening bingung mendengar perktaan Yuri, lalu Yuri mencium pipiku singkat dan menarik Luhan berdiri

“Awas saja jika nanti kalian menikah aku tidak diundang. Akan kubuat kau menyesal menikahi Oh Sehun”

Dengan itu mereka berdua tertawa, berlari kecil menjauhi kami dengan melambai lambai semangat

Air mataku kembali jatuh, begitu aku merasakan genggaman Oh Sehun di tanganku. Kudongakan kepala dan menatap wajah tampannya yang diterangi sinar matahari pagi

“Jika ini mimpi maka jangan bangunkan aku sekarang, Sehunna” bisikku

“Ini bukan mimpi sayang, ini adalah keajaiban Tuhan atas hamba yang tegar melewati cobaannya”

Kemudian Oh Sehun memelukku. Erat dan Hangat. Kubiarkan air mataku menetes di pundaknya dan nyanyian burung sebagai music kami berdua

-u-

September 22, Pavilium Sakura

Normal POV

“Dengan ini aku menyatakan. Im YoonAh. Lahir 30 Mei 1990. Putri dari Im TaeHyan dan Kim YeonJin. Princess of Wise. Telah diberkati untuk masuk kedalam bagian Bangsawan Oh. Akan menjadi Istri dari Oh Sehoon, pewaris bangsawan Oh. Dengan ini aku memberkati Im YoonAh sebagai Diamond from the Midnight Sun”

Im Yoona bersimpuh terpejam dengan baju perak dan lambang bangsawan Im melekat di tubuhnya. Dia membuka matanya begitu tetua yang menggunakan baju merah darah itu menyisipkan mahkota berbentuk daun yang tersulur di kepalanya

“Dengan segala rahmat Korea, aku memberkati Im YoonAh sebagai bagian dari Bangsawan Im dan Bangsawan Oh. Dan sebagai tanda bahwa Oh dan Im akan bersatu sebagai keluarga besar”

Sehun dan Yoona yang bersimpuh dihadapan para tetua bangkit dan menerima tongkat keluarga mereka masing. Mereka berjalan mendekat dengan tegap dan jubah kebesaran yang melingkupi mereka. Keduanya membungkuk dalam dan menyodorkan tongkat masing masing untuk bertukar. Setelah itu mereka berdua meletakan tongkat itu di dada, berbalik dan membungkuk hormat keseluruh hadirin di Aula Utama Pavilium Sakura

“Segala hal mengenai perpindahan marga dan lainnya akan dilakukan setelah acara pemberkatan pernikahan. Semoga keturunan kalian diberkati hingga langit runtuh dari pasaknya”

Untuk kedua kalinya dialami oleh Yoona, tepukan tangan menggema di seluruh aula. Mengirim sinyal sinyal kebahagiaan ke wajah Yoona cantiknya

Dua anak manusia itu berpandangan. Wajah mereka berpendar dalam kebahagiaan

-u-

Wedding Day

Yoona berkali kali meremas gaun putihnya, dia juga terus menggigit bibir seraya membiarkan Yuri memoles make up diwajahnya

“Tarik nafas dan buang dalam dalam” seru Baekhyun yang tiba tiba masuk

Pria itu terpana melihat sepupunya dan kemudian tawanya pecah, “Demi Tuhan Yoona, Sehun akan semakin gugup melihatmu”

“Baekhyun!” seru Yuri tertawa dan membaantu Yoona berdiri diatas high heels putihnya

“Bagaimana penampilanku Baekhyun-ah?” tanya Yoona tak berani menatap Baekhyun

“Sempurna” sebuah senyum terlukis di bibir pria itu.

Sempurna memang kalimat yang tepat untuk menggambarkan keadaan Yoona saat ini. Tubuh tingga nan ramping(?) gadis itu kini dibalut dengan gaun putih panjang bermodel vintage yang sederhana namun elegan. Rambut panjang gadis itu di biarkan tergerai sebahu dan sebuah diadem warisan bangsawan Im terselip diatara  kerudung putih panjang yang menggantung dari puncak kepala Yoona melewati kakinya

“Tarik nafas Yoong. Jangan tersandung gaunmu sendiri” ucap Baekhyun mengulurkan tangan ala pangeran kepada sepupunya itu

Yoona meraih tangan Baekhyun dan dia memejamkan matanya, diterimanya buket bunga putih yang diberikan Taeyeon. Sebelum dia berhasil melewati pintu putih itu, dia berbalik dan memeluk ibunya erat

“Eomma, Gomawo. Jeongmal Gomawo untuk 24 tahun ini. Saranghae” bisiknya

“Putri kecilku akan menikah dan menjadi seorang istri. Eomma bangga padamu sayang” jawab Im Ahjumma menahan tangisnya

Baekhyun tersenyum melihat pemandangan itu. Dia bersitatap dengan Taeyeon yang tersenyum lembut.

“Aku siap Baekhyun-ah” ucap Yoona mantap

-u-

Sehun menatap Yoona yang berjalan anggun didampingi ayah Baekhyun. Bunga bunga melati disebarkan seiring dengan jalan Yoona. Senyum tak pernah lepas dari gadis itu, membuat hati Sehun tidak karuan

Seperti adat biasanya, ayah Baekhyun yang berperan sebagai wali Yoona menyerahkan tangan Yoona—yang dibalut stocking tipis – kepada Sehun. Seketika Yoona merasakan semua kegugupannya hilang saat tangan Sehun menggenggam tangannya erat. Mata pria itu bersinar bahagia ketika mereka berhadapan dan mengucapkan janji suci dihadapan pendeta

“Aku Oh Sehun berjanji atas nama Tuhan bahwa aku akan menjaga Im Yoona dengan seluruh hidupku. Mencintainya hingga maut memisahkan. Apa kau bersedia?”

“Aku bersedia”

“Dan aku Im Yoona berjanji kepada Tuhan akan terus bersama Oh Sehun, mendukung setiap keputusan keputusannya dan menjadi Oase saat kehausan. Mencintainya hingga maut memisahkan. Apa kau bersedia”

Yoona menatap dibelakang pundak Sehun. Ayahnya yang tampak muda dengan tuksedo hitam. Tampan dan bahagia. Disampingnya, Siwon berdiri tegap dengan senyum tersungging. Dia menuduk sedikit begitu pandangannya bertemu Yoona

Semua kenangan itu masuk kedalam pikiran Yoona, bayangan semua kejadian kejadian dihidupnya kembali berputar, membuatnya mengulas senyum manis

“Aku bersedia”

Hati Yoona merasa terbang keangkasa begitu pendeta mengesahkan mereka sebagai pasangan suami istri. Terlebih ketika Sehun mendekat dan mencium gadis itu dengan lembut

Tepukan riuh mengakhiri ciuman itu. Sehun dan Yoona berbalik dan bunga bunga menyirami mereka. Senyum keduanya merekah dan membuat siapapun merasakan kebahagian pasangan ini

Ini melebihi segala hal yang diinginkan Yoona didunia ini

-u-

“Sejujurnya, akal sehat dan Cinta tak berjalan dengan wajar”- Jessica Jung

“Orang yang bahagia bukanlah seseorang yang berada dalam serangkaian kondisi tertentu, melainkan seseorang dengan serangkaian sikap tertentu- Byun Baekhyun

“Ini bukan pembodohan cinta, tapi tentang bagaimana kau mencintai seseorang yang tak akan pernah bisa kau miliki”-Kwon Yuri

 “Kita harus merengkuh kependihan dan membakarnya seolah olah itu adalah bahan bakar kita mengarungi perjalanan”-Xi Luhan

“ Cinta itu datang secara tiba tiba. Ia ada di setiap hati manusia seperti bunga kuncup. Hanya orang orang yang tepat dapat menyentuhnya dan membuatnya merekah seperti bunga di musim semi” –Im Yoona

“Cinta memang hadir dihati siapa saja, tapi benarkah harus dihati yang salah? Karena cinta adalah anugrah yang akan memilih, berpisah atau bersatu dalam ikatan pernikahan”-Oh Sehun

Epilog

Normal POV

Baekhyun dan Jessica terduduk diam di salah satu ayunan yang berada di taman rumah Yoona. Secangkir teh hangat menemani mereka memandangi daun warna warni di musim gugur

Tidak jauh dari mereka, Yoona dan Sehun tengah bermain dengan kedua anak mereka. Suara tawa keluarga Oh menjadi nyayian pelengkap kebahagian mereka

Lalu ada dua orang yang datang menghampiri Sehun dan Yoona—ah 4 orang.

Senyum Jessica semakin terkembang melihat hal itu. Dia mengusap perutnya yang tengah hamil besar seraya meneguk tehnya

“Sudah 6 tahun berlalu Sica-ya. Dan mereka tetap seperti dulu” ucap Baekhyun

Pandangan pria itu jatuh pada Yuri yang menggendong seorang anak berusia sekitar 3 tahun. Dan disampingnya, ada pria tampan yang tak pernah Baekhyun dan Yoona duga akan menjadi suami dari wanita cantik itu

Choi Minho

Sepupu Choi Siwon yang diperkenalkan Jiwon kepada Yuri saat gadis itu mengambil penerbangan ke Paris dan tinggal di Negara itu hingga sekarang. Yuri tampak bahagia dengan butiknya yang sudah terkenal dimana mana. Terlebih dia mendapat pria tampan yang membuatnya tidak menyesal melepas Sehun

Sedangkan Luhan, pria yang berkarir sebagai arsitek terkenal itu pindah ke Negri asalnya setelah Yoona dan Sehun mengucapkan janji suci di altar. Disana dia menikahi Choi Huan-Hui yang merupakan assistennya, seorang wanita Korea yang sampai saat ini telah memberinya satu anak berusia 2 tahun dan yang masih berada dalam kandungan

Sedangkan Yoona? Baekhyun rasa kini sudah tidak ada yang mampu merusak kebahagian sepupunya itu

Wanita itu melepaskan Imsan untuk diurus Sehun—meskipun tidak sepenuhnya—dan memilih menjadi seorang fotografer untuk beberapa kontes galeri. Bagi Yoona sendiri, menjadi seorang fotografer adalah satu dari sekian banyak kebahagiaan yang diterimanya. Wanita berusia 30 tahun itu kini sedang focus untuk keluarga kecil yang dibangunnya dengan Oh Sehun

“Sekarang semuanya telah mencapai puncak Baekhyun-ah. Kebahagian mereka telah lengkap sudah” ucap Jessica

“Seperti yang pernah kubilang Sica-ya, Yoona akhirnya memetik apa yang telah dilakukannya dulu. Langit selalu adil dengan semua yang berlindung dibawahnya. Siapa yang menanam kebaikan sebenarnya dia sedang menanam untuk dirinya sendiri”

Jessica dan Baekhyun bangkit, mengapit lengan Kris dan Taeyeon yang datang bersama Sooyoung dan Chanyeol. Para Bangsawan itu memandang teduh pada empat sahabat itu bermain dengan putra putri mereka

“Jika saja mereka tidak mengalami ujian seberat itu, mungkin saja saat ini mereka tidak akan sebahagia ini” ucap Kris mengusap lengan Jessica sayang

“Ya, jika saja Luhan dan Yuri tidak berlapang dada melepas mereka berdua. Saat ini Yoona dan Sehun serta Luhan dan Yuri tidak akan seperti sekarang ini” lanjut Taeyeon mencium pipi putranya dengan Baekhyun

“Selalu ada hikmah dibalik setiap cobaan. Tuhan menyanyangi semua hambanya yang berusaha sebaik baiknya dan tegar disetiap kondisi. Mereka berempat sudah membuktikan kodratnya sebagai manusia” ucap Chanyeol

“Kebaikan hati Yoona telah menjadi kebahagiaan berlipat ganda. Tidak ada lagi yang mampu menyaingi keagungan hatinya. Im YoonAh telah sempurna menjalani takdirnya dan inilah buah yang dipetiknya” lanjut Sooyoung

“Mulai sekarang semua akan baik baik saja bukan Baekhyun-ah?”

“Ya Jessica, semua akan baik baik saja”

END

SELESAI YEAH YEAH I LOVE IT

BISA TIDUR NYENYAK MUACH

Rasanya itu ketika aku nulis kata END kaya beban aku diangkat duh enak banget. Bisa tenang(?)

AKhirnya setelah sekian lama ini FF selesai juga. Maaf ya kalau endingnya ga seperti yang kalian harepin dan happiness(?) nya ga kerasa -_- gara gara aku ngetik ini sambil loncat loncat nonton tipi Indonesia vs korsel sih -_-

Makasih yah untuk yang udah setia sama ff dari awal sampai akhir. Aku gabisa sebutin satu persatu 😉 (sejujurnya aku terlalu males buat masukin(?) nama mereka) mau siders kek mau apa yang jelas aku sangat berterimakasih. BIG LOVE :* :*

Dan untuk siders, cukup makasih ya. Udah ngebaca dan nunggu ini ff

Buat semuanya aku trima kasih banget. Aku tahu ini ff amburadul dan alurnya maksa –___–

Dan buat yang udah ngevote aku di Yoongexoaward aku juga berterima kasih banget. Tanpa kalian aku gabisa(?) sampe disini *cielah bahasa gua

Aku sudah tak mampu berkata kata(?) karena terlalu ngantuk (mungkin) buat semuanya aku terima kasihd an maaf jika selama ini ada perlakuku yang buat kalian trsinggung. Maaf jika cerita ini ga seperti yang kalian bayangin dan maap kalo ini absurd banget –__–

Don’t Forget RCL okay? AKu pengen liat komentar kalian tentang keseluruhan ff heart attack ini dari awal sampe akhir 😉

Oke ya see you in the next FF ya :*

BIG LOVE, Ohmija

Advertisements

135 thoughts on “Heart Attack Chapter 19 (END)

  1. Satu kata.. wooow aqu suka banget dari bahasa. Kata katanya benr benr ngena bnget low pun sempet sebel sma luhan yg kekeh mo sama yoona..
    tapi banyak pelajaran yg di dapat setelh membca ff ini…

  2. Nyesek banget sih smp mataku berkaca”. Sakit hati smp bikin Luhan egois banget dan akhirnya mau ga mau Luhan hrs ngerelain cintanya. Waktu Luhan ngelepas Yoona aku hampir nangis. Aduhh kasihan banget Luhann. Ohya menurutku romance momentnya di FF ini kurang? Kurang manis gitu. Ini cuma pendapatku aja sih. Dr chapter awal” udh keliatan sakit hatinya. Jadi yg byk aku rasain waktu baca FF ini sih kyk rasa kasihannya. Tp FF ini bagus kok. Konfliknya dpt banget. Pasti bikin yg baca nyesek TvT

  3. Kangen ma ff nie dan sukses dibuat mewek sampek kejer . .
    Bener2 suka ma karakter y0ongNie n semua cast dsini . .
    Next ff mu yang lain ditunggu unN
    YOONHUN JJANG

  4. Bisa ngelike ff ini sampe 100 kali gak?
    Aku jadi mewek bacanya:(
    Mungkin kalau aku jadi Yuri. Aku bakal is det, soalnya 5 tahun gak gampang dan tiba-tiba berpisah sama Sehun karena sahabat sendiri. Hahaha:D
    Neomu Daebak:)

  5. Yaaaaah aktor ini kaya november beneran, tahapan-konflik-penyelesaiannga
    tahapan-konflik-penyelesaiannya sempurna parah!!
    AUTHOR JJANG!!!

  6. udah End?
    tau g thor! berkat baca FFmu aku jadi semangat juga melanjutkan FFku,hi.hi
    .
    keren, tapi2 pw a cold love mana?hi.hi

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s