Saudade [Chapter 4]

saudade

Judul: Saudade

Author: Two deers

Cast: SNSD’s Yoona and EXO-M’s Lu Han

[Credit poster goes to icydork]

Saudade; the feeling of longing for something or someone who you love and which is lost.

///

Yoona-ya, selamat pagi!

Roti bakar dengan selai kacang seperti biasa?

Kita akan berkemah hari ini, kan?

Yoona-ya… Yoona…. Yoona…

Yoona terlonjak dari tempat tidurnya. Keringat mengalir dari dahi gadis itu, kepalanya berdenyut-denyut dan wajahnya terasa sangat panas. Yoona memegangi dahinya sendiri, mencoba meredakan sakit yang dirasanya.

Yoona teringat, terakhir kali ia duduk diatas lantai dengan bingkai foto yang dipeluknya. Tapi sekarang gadis itu sudah duduk diatas tempat tidur dengan selimut hangat yang menutupi tubuhnya.

“Yoona-ssi? Anda sudah bangun?”

Refleks, Yoona menoleh ke pintu dan mendapati Victoria berdiri disana dengan raut wajah lega. Victoria tersenyum hangat, lalu mendekati Yoona dengan cepat.

“kemarin sore anda pingsan, untung saja aku datang tepat waktu. Kata dokter, anda hanya terlalu banyak pikiran. Apa anda sudah merasa lebih baik sekarang?” tanya Victoria dengan nada khawatir yang terlihat jelas pada suaranya.

Yoona mengangguk pelan, mencoba mengingat-ingat kenapa ia pingsan. Tapi semakin memikirkannya, kepala gadis itu jadi semakin pening.

Victoria menyadari tatapan mata sayu gadis itu. “anda mau keluar? Matahari pagi sangat baik untuk kesehatan.” Tawar Victoria, berharap gadis itu akan menyanggupi permintaannya kali ini.

Yoona menatap Victoria cukup lama. Kecemasan terlihat jelas di wajahnya, tanda kepedulian yang jarang Yoona lihat dari orang-orang selain sahabatnya. Mungkin mempercayainya sesekali tidak akan bermasalah, batin Yoona.

Yoona menggerakan lehernya, mengangguk pelan pada Victoria. Senyum lebar langsung terkembang di wajah perawat itu, senang melihat reaksi positif Yoona.

“mari saya bantu.” Victoria membuka selimut Yoona perlahan, membantu gadis itu turun dari ranjangnya dan memegangi infusnya. Tak lupa juga gadis itu mengambil jaket Yoona untuk mencegah gadis itu terkena flu.

Victoria berjalan disebelah Yoona, mematai gadis itu dengan hati-hati agar dapat berjalan dengan benar. Yoona hanya tidak bisa bicara, Qian, bukannya tidak bisa melihat, batin Victoria dalam hatinya. Tapi naluri keibuannya tetap berjalan, membuatnya sangat was-was.

Yoona melangkahkan kedua kakinya perlahan. Sudah lama gadis itu tak turun dari ranjangnya, yang membuatnya agak sulit berjalan sekarang. Tapi dengan mengerahkan kekuatannya, Yoona dapat berjalan tanpa linglung sama sekali.
Victoria dengan sigap membuka pintu kamar Yoona, keluar duluan sambil tetap memegang tiang infus gadis itu, membantu Yoona berjalan hanya dengan sendal rumah sakit yang membalut permukaan kaki gadis itu.

“sekarang baru jam setengah 6, semuanya masih terlelap.” Jelas Victoria saat melihat ekspresi Yoona yang berubah, setelah mengamati koridor yang agak sepi. “anda mau kemana terlebih dahulu?”

Yoona tidak menggeleng, tapi menatap Victoria seolah meminta gadis itu yang menuntunnya. Victoria tersenyum dalam hatinya. Hal ini berarti Yoona mulai mempercayainya, dan bergantung padanya.

“ah, bagaimana kalau kita ke taman?” usul Victoria setelah berpikir keras. Taman merupakan pilihan paling aman untuk Yoona. Selain tenang, sinar matahari dan udara yang sejuk membantu memulihkan kondisi psikologis gadis itu.

Yoona tak mengangguk, tak juga menggeleng. Gadis itu mengikuti langkah ringan Victoria, menyusul perawat dengan senyum hangat itu perlahan dan pasti. Keduanya berjalan bersama menyusuri lorong lantai 5 yang sangat sepi.

Victoria menuntun Yoona menuju lift, lalu menekan tombol turun. Tak berapa lama kemudian, pintu lift terbuka. Victoria mempersilahkan Yoona masuk duluan, disusul oleh dirinya dan tiang infus di tangannya.

Yoona hanya memandang hampa ujung kakinya hingga akhirnya mereka sampai di lantai dasar. Victoria menyentuh pundaknya lalu tersenyum lebar. Keduanya keluar dari lift perlahan, lalu melewati bagian resepsionis.

“selamat pagi, Victoria-ssi.” Sapa suster Kim yang sedang berjaga sambil tersenyum hangat.

Victoria membungkuk kemudian tersenyum sopan. “selamat pagi, suster Kim.”

Suster Kim memandangi Yoona yang berjalan disebelah Victoria, kemudian membelalakkan kedua matanya. Suster itu menatap Victoria kaget. ‘ini pasien yang itu?’ tanyanya tanpa mengeluarkan suara.

Victoria mengangguk, kemudian tersenyum seolah meminta suster Kim untuk mengerti. Nama Yoona memang dikenal akhir-akhir ini hampir oleh seisi staf rumah sakit. Bahkan hingga perawat di bagian saraf, semua menggosipkan tentang dirinya.

Yoona tak menyadari beberapa suster yang menatap dirinya seraya berbisik, gadis itu tetap menatap hampa lantai rumah sakit dibawahnya. Tapi saat Victoria menggenggam lengannya, gadis itu mengangkat kepalanya dan mendapati Victoria tersenyum lemah padanya.

Victoria tak menjelaskan apa-apa, hanya menuntun Yoona melewati beberapa ruang pemeriksaan, sebelum akhirnya sampai ke taman. Senyum tulus terkembang di wajah perawat itu saat sinar matahari pagi menerpa wajahnya.

“sinar mataharinya hangat sekali. Bukan begitu, nona?” Victoria menoleh, menunjukkan eyesmile-nya pada Yoona yang hanya menatapnya datar. “ayo kita duduk.” Tawar Victoria.

Keduanya menyusuri jalan setapak yang ditata rapi disana. Victoria menuntun Yoona sehati-hati mungkin, takut gadis itu terpeleset atau bahkan terantuk batu. Yoona dengan patuh mengikuti langkah Victoria, dengan tetap memandang ke bawah.

Begitu sudah sampai disalah satu kursi taman, Victoria mengajak Yoona untuk duduk, kemudian duduk disebelah gadis itu. Victoria menghela napas lega kemudian meletakkan punggungnya pada sandaran kursi.

“kulitmu pucat sekali, Yoona-ssi. Matahari pagi sangat bagus untuk kesehatan kulit. Biarpun sibuk, aku juga sering menyempatkan diri untuk ke taman setiap pagi.” Ucap Victoria, mengawali pembicaraan mereka dengan lembut.

“menurut ajaran di keluargaku, seorang wanita harus mempunyai kulit yang indah dan berseri, sebagai lambang kesejahteraan keluarganya nanti.” Jelas Victoria, sambil memandang langit diatasnya, mengingat kampung halamannya yang jauh.

Victoria kini menoleh pada Yoona yang tampak tak mendengar perkataannya sama sekali. Gadis itu menatap hampa air mancur dihadapannya, tak menggerakkan badan sama sekali kecuali saat ia berkedip. Victoria merasa agak canggung saat melihat reaksi pasif gadis itu.

Tiba-tiba Victoria menjentikkan jarinya. Sebuah ide tiba-tiba muncul di kepalanya. Sedetik kemudian, gadis itu tersenyum lebar dan menampakkan deretan giginya yang rapi. “aku akan ke dalam sebentar, Yoona-ssi.” Pamit Victoria, dengan langkah terburu-buru kembali masuk ke dalam gedung.

Yoona menyadari kepergian Victoria. Sejujurnya, sejak tadi gadis itu mendengarkan dengan seksama perkataan Victoria. Tapi Yoona tak menanggapinya, memilih untuk memandangi air mancur dihadapannya.

“Yoong!”

Yoona membelalakkan kedua matanya. Suara pria itu terasa begitu nyata, seakan ada dihadapannya sekarang. Gadis itu mengepalkan kedua tangannya erat, mengontrol perasaan di dadanya.

“Yoongie-ya, kau baik-baik saja?”

Tidak. Tidak. Kedua bahu gadis itu bergetar, ketakutan terlihat jelas di kedua manik coklatnya. Wajahnya memucat, seakan gadis itu baru melihat setan.

“sebentar lagi kita akan sampai. Sebentar lagi.”

Yoona mengangkat jari-jarinya yang bergetar, menutupi mulutnya agar tidak mengeluarkan teriakan. Yang terdengar hanyalah gumaman-gumaman tidak jelas, yang bercampur dengan isakan.

“Yoongie….. Yoong…. Yoona-ya…. maafkan aku.”

Yoona menutup kedua telinganya dengan tangannya yang bergetar. Suara itu jadi semakin nyata, semakin pilu dan semakin menyesakkan. Yoona takkan pernah lupa dengan tatapan yang pria itu berikan padanya di hari itu.

“YOONA-SSI!!!”

Yoona tak tahu kapan Victoria datang padanya, tapi yang ia tahu adalah perawat itu langsung memeluknya sangat erat, dengan raut wajah cemas di wajahnya. Yoona menggumamkan kata yang tak jelas, yang terdengar seperti rintihan di telinga Victoria.

“Yoona… Yoona-ya…” bisik Victoria di telinga Yoona, berusaha menenangkan gadis itu. Pelukannya semakin mengencang, membuat Victoria dapat merasakan tubuh gadis itu yang bergetar. “Yoona-ya…. jie jie sudah disini. Tenanglah, Yoona-ya….”

Yoona meneteskan air matanya, yang kemudian tak berhenti, dan gadis itu menangis dengan keras. Victoria merasa kedua bola matanya memanas, tapi hal itu tak membuat pelukannya pada Yoona mengendur.

“Yoona-ya….. tenanglah….” gumam Victoria lirih. Gadis itu panik melihat keadaan Yoona yang tiba-tiba memburuk. Jadi tanpa pikir panjang, Victoria langsung berlari dan memeluk tubuh Yoona yang bergetar.

Victoria merasa agak lega saat kedua tangan Yoona menyentuh punggungnya, membalas pelukan Victoria. Victoria mengelus punggung Yoona yang masih bergetar, kemudian menggumamkan lagu anak-anak kesukaannya, sambil tetap tersenyum hangat.

Kini Yoona mulai berhenti menangis, hanya mengeluarkan isakan samar. Tubuhnya perlahan mulai berhenti bergetar, tapi pelukannya pada Victoria tak mengendur sama sekali. Justru pelukannya pada Victoria semakin erat, seolah hanya bergantung pada wanita itu.

Victoria mengelus puncak kepala gadis dalam pelukannya. Setelah semua ini, yang Yoona butuhkan hanyalah seorang sahabat. Sahabat yang ada disisinya, sahabat yang mengerti dirinya. Sahabat yang menolongnya.

Jadi Victoria tersenyum, dan mengelus punggung Yoona dengan sangat lembut. “Yoona-ya…. jie jie disini. Jie jie sudah disini, Yoona-ya….”

Keduanya tak menyadari, sepasang iris coklat mengawasi mereka dari kejauhan sedari tadi, dengan tatapan yang tak dapat terbaca.

///

Victoria menutup pintu kamar dibelakangnya. Senyum lega terkembang di wajahnya yang berseri. Tapi raut wajahnya berubah saat gadis itu menoleh, dan menyadari sebuah sosok sedari tadi bersandar pada dinding, dan mengamatinya.

“Luhan?” Victoria mengangkat alisnya terkejut.

Luhan menoleh. Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku, iris coklatnya menatap Victoria dalam. Tapi pria itu tak berkata-kata, hanya menatap Victoria untuk beberapa detik selanjunya. Bibirnya terkatup rapat, tapi banyak kata-kata yang tersimpan disana.

Victoria mengalihkan pandangannya, merasa tak nyaman dengan tatapan Luhan. “seharian ini aku pergi ke taman dengan Yoona.” Gumamnya kemudian.

Luhan mengangkat sedikit alis kanannya. “bagaimana?”

“apanya?” balas Victoria.

“keadannya.”

Victoria menghela napas. “dia menangis. Aku tidak tahu kenapa—tapi mungkin ia teringat seseorang. Tadi ia terus menggumamkan nama yang tidak jelas. Aku….” Victoria tak menyelesaikan ucapannya, balik menatap Luhan.

“Qian, kau…..” Luhan mengernyitkan keningnya sedikit, “menganggap Yoona sebagai Yixing?”

Dan Victoria terdiam. Wajahnya mengernyit saat Luhan menyebutkan nama yang tidak asing di telinganya. Luhan menyadari perubahan ekspresi sahabatnya, kemudian kembali menatap gadis itu tepat di bola matanya.

“Qian. Jangan.” Nada Luhan terkesan memperingatkan, namun ada sedikit kekhawatiran dan kewaspadaan disana. “dia pasien. Hanya pasien. Bukan saudaramu, Qian. Yoona dan Yixing berbeda, jangan samakan mer—“

“aku tahu!” bantah Qian. “tapi keduanya…. aku… aku hanya senang saat Yoona mulai membuka dirinya padaku. Yoona mulai percaya padaku, dan….”

Victoria menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. “aku merindukan Yixing, Han. Yoona membuatku teringat pada Yixing. Aku hanya ingin melihat Yoona bahagia, karena ia…. sama seperti Yixing.”

Luhan tak butuh waktu lama untuk memeluk Victoria, mendekap gadis itu di dadanya. Tangan Luhan mengelus puncak kepala Victoria, sementara tangan kirinya mengelus punggung Victoria yang hangat.

“Qian.” Gumam Luhan lembut. “Qian-ah.” Luhan mencium puncak kepala Victoria, dan merasakan wangi mawar lembut darisana, wangi khas wanita itu.

Victoria menghela napas. Mungkin bukan hanya Yoona yang juga membutuhkan sahabat, tapi juga dirinya.

///

Nomor yang anda tuju tidak dap—

Tiffany menjauhkan telepon genggam itu dari telinganya, kemudian meletakkannya diatas meja. Bibir bawahnya ia gigit, berusaha menahan tetesan air mata yang kini terbendung di kedua bola matanya.

Tiffany mendaratkan pandangannya ke wallpaper handphonenya. Tiffany sedang tersenyum lebar disana, dengan wajah yang berseri. Sementara Luhan disebelahnya hanya tersenyum kaku dan menatap kamera.

Unnie.”

Tiffany mengangkat kepalanya. Gadis itu membelalakkan matanya terkejut. Tapi saat ia mengenali sosok yang berdiri dihadapannya, senyum gadis itu mengembang.

“Lami-ya!” Tiffany tersenyum lebar, menunjukkan eyesmile andalannya. “kapan kau datang? Ayo duduk!”

Lami menatap Tiffany dengan kening berkerut, kemudian menghela napas dan mengikuti perkataan kakaknya. Gadis itu menoleh pada pengawalnya, menyuruh mereka membiarkan kedua gadis itu sendiri.

Lami mengangkat kepalanya, mengamati setiap inci dari restauran sushi itu, tampak tidak puas. “unnie menyewa restoran ini semalaman?” tanya Lami.

Tiffany mengangguk. “uhm. Aku sedang ingin makan sushi, dan….”

“bohong.” Sela Lami cepat. Kedua lengannya ia silangkan didepan dada, dan ia menatap kakaknya tajam. “unnie menyewa restauran ini untuk makan bersama Luhan oppa, bukan?

Tiffany tersenyum tipis, kemudian memainkan nail art di kukunya. “Dengar, Lami-ya….”

“tadi Jinri unnie meneleponku.” Lami mengangkat tangannya, sinyal bagi pengawalnya untuk datang. “dia khawatir karena unnie membatalkan janji untuk ke salon. Ternyata unnie ada disini, menunggu Luhan oppa yang sudah pasti takkan datang.”

Lami menyebutkan minuman kesukaannya pada pengawalnya, yang kemudian terburu-buru menemui pelayan. Wajah Tiffany seketika keruh. Perkataan Lami sangat blak-blakkan, yang seketika mengunci mulutnya.

Lami mengamati perubahan ekspresi pada wajah kakaknya. “sampai kapan unnie akan menunggu Luhan oppa?” tanya Lami tak sabar.

Tiffany tak menatap adiknya, terus menerus memperhatikan handphone didepannya. “dia sudah berjanji, Lami-ya.” jawabnya lemah.

“unnie!” seru Lami tak puas. “Luhan oppa tidak akan bisa menyukaimu, kau tahu kan?”

Tiffany semakin mengigit bibir bawahnya kencang. Lami benar. Sangat benar. Walau terdengar menyakitkan, tapi itulah kenyataan bagi Tiffany Hwang. Kenyataan bahwa Luhan takkan pernah mencintainya.

Tapi bukan Tiffany, kalau sedetik kemudian gadis itu dapat mengembangkan senyum di wajahnya. “kita tunggu Luhan sebentar lagi, oke? Lami mau menemani unnie, kan?” tawar Tiffany seraya tersenyum pada adiknya.

Lami menghela napas, kemudian bersender pada sandaran kursinya. Tiffany will always be Tiffany. Lami tak pernah mengerti bagaimana Tiffany dapat menyukai Luhan begitu dalam. Atau mungkin cinta?

Lami anak yang cerdas. Saat Tiffany dan Luhan dijodohkan, Lami tahu siapa yang memegang peran penting dalam perjodohan itu. Luhan. Kenapa Luhan? Gampang saja, karena Luhan tak menyukai Tiffany. Hukum mutlak dalam sebuah hubungan adalah; yang tidak terlalu menyukai pasangannya adalah yang memegang kontrol atas hubungan mereka.

Dan Tiffany Hwang terlalu polos (atau terkadang bodoh, menurut Lami) untuk menyadari kalau Luhan tidak akan pernah mencintainya. Lami bukannya tidak menyukai Luhan. Hanya saja selalu ada sisi dirinya (yang sayang pada Tiffany) yang membuatnya membenci Luhan.

Luhan bukan tipe yang romantis. Heck, dia sangat jauh dari itu. Luhan seorang workaholic yang cuek, tipe yang berlainan dengan Tiffany yang lembut dan periang. Lami tidak tahu kenapa Tiffany bisa begitu tertarik dengan dokter muda itu.

Tapi setelah bertahun-tahun mengenal Luhan (secara langsung dan tak langsung), Lami tahu, Luhan tidak mencintai Tiffany. Tapi pria itu berutang sangat besar padanya, yang membuatnya terikat secara tak langsung.

“Lami?”

Lami mengangkat kepalanya, lamunan dalamnya tentang Luhan dan Tiffany seketika buyar saat Tiffany menyebut namanya. Tiffany terlihat cemas kemudian memandangi wajah Lami dengan cermat.

“ada apa? Kau sakit?” tanya Tiffany cemas, dengan kening dan alisnya yang berkerut.

Lami menggeleng seadanya, kemudian mengambil jus alpukat yang pelayannya berikan barusan. “aku bosan.”

“maaf. Aku akan menelepon Luhan supa—“

“jangan!” sela Lami tiba-tiba, membuat Tiffany tersentak. Lami menghela napas, kemudian bersandar kembali pada kursinya. “lebih baik kita pulang saja, unnie.”

Tiffany awalnya ingin menggeleng. Tapi begitu melihat raut wajah memelas Lami, akhirnya gadis itu menurut dan mengangguk. “unnie akan memesan makanan untuk Jinri. Tunggulah diluar, oke?” ucap Tiffany seraya bangkit dan tersenyum.

Lami terlihat ragu, tapi gadis itu ikut bangkit. “cepatlah, unnie. Jinri unnie sudah menunggu.” Ucapnya.

Seorang pengawal masuk, kemudian mengantar Lami keluar. Tiffany hanya tersenyum tipis hingga punggung adiknya menghilang dibalik pintu. Dengan cepat, Tiffany mengambil telepon genggamnya, kemudian memencet speed dial-nya.

“Luhan-ah. Kau masih sibuk? Aku akan membawakan sushi untukmu besok, oke? Jaga kesehatanmu, jangan lupa minum vitamin dan air teratur. Jangan minum alkohol, dan sempatkan dirimu untuk istirahat. Telepon aku saat kau sudah pulang. I love you.”

Tiffany mengakhiri pesan suaranya pada Luhan dengan senyum pahit pada wajahnya. Mungkin Luhan akan mendengar pesan suara itu. Tapi seperti biasanya, Luhan akan menghiraukannya dan meminta maaf saat Tiffany meminta penjelasan. Selalu begitu.

Tiffany menyimpan telepon genggam dalam tasnya, kemudian melangkah keluar dari restoran sushi itu. Pengawalnya tersenyum, kemudian mengajak Tiffany masuk ke dalam mobil yang diparkir didepan mobil Lami.

Lami tak henti-hentinya memandangi Tiffany dari balik kaca mobilnya. Sedikit kasihan melihat sosok kakaknya. Dan ketika mobil Tiffany sudah melaju, Lami menghela napas lega dan membuat pengingat untuk dirinya sendiri supaya memarahi Luhan saat mereka bertemu.

Ugh. Gerutu Lami dalam hati. Orang dewasa memang rumit.

A/n: halo semuaaa~~~

Maaf ini telat banget huhu ;_; tanggal 12 kemarin saya ngerayain ultah soalnya hehe. Terus hari-hari selanjutnya diisi buat ngurus kepindahan sama dekorasi natal disekolah. Ada sedikit waktu luang, tapi bener-bener mampet banget idenya. Dan sekarang saya bawa Saudade chapter 4 dan sedikit review disini hehe.

Nah, adegan pertama di chapter ini dimulai dengan Yoona. Banyak yang komplain kalau Yoona disini munculnya jarang banget, padahal dia tokoh utama. Makanya kali ini saya coba fokus sama Yoona. Adegan pertama saya fokusin ke Yoona-Victoria.

Sebenernya Yoona-Victoria ini hubungannya lebih ke sistership gitu walau mereka gaada hubungan darah. Singkatnya, Victoria itu jadi keinget sama adiknya (Yixing) pas dia ngeliat Yoona. Terus Victoria sama Yixing itu kenapa? Bakal dibahas lain kali ya hehehe.

Review soal adegan Yoona-Victoria sebenernya gaperlu panjang-panjang sih. Soalnya ada beberapa bagian yang ‘tersirat’ misalnya perubahan dari cara manggil Victoria yang awalnya formal banget jadi lebih santai, malah udah jadi kayak sahabat deketnya Yoona. So far, ini adegan Yoona-Victoria kesukaan saya.

Dan adegan Luhan-Victoria. Ini singkat banget sih. Tapi itu udah nunjukkin kedeketan Luhan-Victoria. Luhan tahu masa lalu Victoria, dan dia ada disana buat nenangin Victoria pas dia lagi bimbang. Karakter Victoria sendiri sebenernya agak labil. Dia keliatan dewasa, tenang. Tapi sebenernya dia lemah (atau lembut?) dan perhatian banget sama orang lain.

Adegan Luhan-Victoria rada nyerempet ke romance sih lol tapi saya ganiat ngepairing mereka as couple kok. Pure friendship bond aja. Cuma nantinya, Victoria bakal berperan besar jadi penghubung Luhan-Yoona hehe.

Dannnnn adegan terakhir. Kenapa saya nyelipin Tiffany? Soalnya di adegan sebelumnya pas Tiffany dateng ke rumah sakit dan ngajak Luhan jalan-jalan, imej manja Tiffany kuat banget disitu. Di bagian ini saya mau nunjukkin kalau kepribadian Tiffany tuh lebih lembut dari kelihatannya.

Tokoh baru yeay. Kali ini saya masukkin Lami sebagai adik Tiffany. Hwang siblings itu ada Tiffany, Jinri, sama Lami. Gatau jadi kepikiran aja buat bikin mereka bertiga bersaudara hehe.

Disini, Lami digambarin jadi tokoh yang keras, blak-blakkan dan agak angkuh. Tapi sebenernya Lami punya soft spot buat Tiffany, yang bikin dia keliatan bawel pas Tiffany udah ngomongin Luhan. Jinri juga bakal muncul di chapter lain, entah gimana karakternya, tapi semua tokoh disini punya peran mereka masing-masing, yang berhubungan sama LuYoon.

Sekian aja deh reviewnya, hehe. Thank you for reading, everyone~~~

36 thoughts on “Saudade [Chapter 4]

  1. Aku tebak sehun cowo yang manggil yoona
    Soalnya, ibu yang pertama teriak” ke yoona itu punya anak si hayoung
    Marga hayoung sama sehun kan sama
    Kalo masalah si Victoria sih kurasa
    Itu karena adiknya pernah nolong dia sampe mati
    Terus orangtua dia nya lahir dia kaya ibunya hayoung..
    Well, next chapternya ditunggu terus ya thor..

  2. Butuh lebih banyak Yoona’s part, LuYoon moment. Very very need!😦 Penasaran sama cowo yang ngamatin YoonVic. Banyak banget misteri di ff ini. Cepet update ya part selanjutnya😉

  3. Lanjut thor>.< Penasaran
    Thor siapa namja yang manggil yoona?
    Di tunggu ya thor secepatnya🙂
    Semoga besok keluarnyaa
    Amin…. #plakmaksa

  4. Keren thor ! >< Masih penasaran ama masa lalu yoong unnie, vict unnie. .-. Trus ga sabar ama moment luyoon -nya🙂 pokoknya ff nya daebak ditunggu ya thor chap slnjt nya😀

  5. kapan ada moment luyoon nya, ah udah gasabar keren thor ff nya aku bingung mau coment apa lagi.-. Ditunggu next nya FIGHTING

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s