Carnation

request-twodeers

Judul: Carnation

Author: Twodeers

Cast: EXO-K’s Sehun, SNSD’s YoonA

Sinopsis: Sehun menemukan arti Carnation merah muda saat malam natal.

[credit poster goes to http://beatboxest.wordpress.com/%5D
///

Yoona suka Carnation. Carnation merah muda.

Sehun tidak terlalu menyukai bunga. Bunga adalah bunga. Bunga dijadikan sebagai hadiah, alat dekor, atau obat. Itulah definisi bunga menurut Oh Sehun (yang selalu mendapat pukulan di kepala oleh Yoona yang mengomel ‘bunga itu lebih dari yang kau bayangkan, bodoh.’)

Sehun tidak mengerti kenapa semua wanita di keluarganya menyukai bunga. Ibunya suka memelihara Aster dan Begonia yang memenuhi pekarangan rumah mereka seperti permadani. Kakak perempuannya lebih memilih Bluebell untuk ditanam di pot gantung.

Ayah Sehun sendiri punya wawasan luas mengenai bunga. Sehun sampai bisa hafal nama latin bunga-bunga di rumahnya, bahkan hingga tempat asal dan tanah yang cocok karena ayahnya. Tapi hal itu tidak sekonyong-konyong membuat Sehun menyukai bunga.

Dan saat Yoona datang, Sehun berubah.

Yoona, si gadis ceria jurusan arsitektur yang digelari primadona kampus. Satu kerlingan darinya membuat pria manapun mabuk kepayang. Dan Sehun mau tidak mau setuju, saat Yoona tiba-tiba datang menghampirinya dengan senyum manis di wajahnya.

‘kita tidak mengenal satu sama lain, tapi—aku mau memberitahumu kalau—“

Sehun menahan nafasnya saat itu, dan Yoona makin memelankan suaranya.

‘resleting celanamu terbuka.’

Yoona pergi setelah meringis dan membungkuk, lalu Sehun hanya memandangi punggung gadis itu, sebelum ia pergi ke kamar mandi dan membetulkan resletingnya. Pertemuan memalukan itu jadi awal kedekatan mereka.

Dan setelah mengenal Yoona dalam waktu 6 bulan (hingga Sehun hafal jenis parfum gadis itu), Sehun akhirnya tahu kalau Yoona menyukai bunga. Yoona punya banyak koleksi buku mengenai bunga di apartemennya. Laptopnya dipenuhi gambar bunga dari setiap perjalanannya (‘yang ini saat aku di Hokkaido. Bunganya cantik, bukan?’).

Yoona dan bunga. Keduanya indah, tapi sulit dipahami. Sehun bukannya membenci bunga. Sehun hanya merasa bunga tidak begitu penting. Sehun bukannya membenci Yoona. Sehun hanya merasa Yoona adalah yang terpenting dari apapun.

Yoona itu indah. Kulitnya putih segar, tak pucat seperti milik Sehun. Bibirnya merah dan lembut (dan Sehun selalu membayangkan rasanya saat kedua bibir mereka bertemu). Bola matanya coklat muda, bening yang akan berkilau saat diterpa sinar matahari.

Yoona lebih cantik dari bunga. Bunga manapun. Agak aneh membandingkan Yoona dengan bunga. Tapi entah kenapa, Sehun melihat kesamaan Yoona dengan bunga.

Bunga itu rapuh. Mereka cantik, indah dipandang mata. Tapi bunga tak dapat bertahan selamanya. Bunga bisa layu. Bunga bisa hancur terinjak. Bunga bisa patah diterpa hujan deras.

Yoona itu rapuh. Yoona cantik, indah dipandang mata. Tapi Yoona tak dapat bertahan selamanya.

Oh Sehun tak peduli. Kalau Yoona itu lemah, maka Sehun akan ada disana untuk melindungi Yoona. Kalau Yoona rapuh, maka Sehun akan menjadi penopangnya. Oh Sehun akan ada untuk Yoona,

Selamanya.

///

Kanvas langit berwarna biru tua, ditemani taburan kerlap-kerlip emas dan sinar rembulan yang sendu. Angin berhembus cukup kencang, memperingati semua makhluk bahwa musim dingin telah tiba.

Setiap tahun, Hanguk University selalu mengadakan pesta natal secara rutin di aula. Semua mahasiswa wajib ikut disana, sekaligus melepas angkatan yang telah diwisuda. Beberapa mahasiswi mengambil kesempatan itu untuk menyatakan perasaan mereka di christmas eve ini.

Kai –dengan tuxedo dan rambut yang ditata rapi- tersenyum menggoda pada beberapa wanita yang melintas, sebelum menoleh ke arah sahabatnya. Setelah melirik benda yang dipegang erat di tangan pria itu, Kai lantas mengernyit.

“Oh Sehun.” Sehun menoleh. “untuk siapa bunga-bunga itu?” tanya Kai.

Sehun menyesap cocktail di tangan kanannya. “bukan siapa-siapa.” Jawabnya acuh, seraya melempar pandangan ke tengah-tengah aula.

Kai menatap sahabatnya selama 3 detik, lalu ikut bersandar di dinding, tepat disebelah Sehun. “banyak gadis cantik disini, Oh Sehun. Lihat gadis itu.” Kai mengangkat dagunya, menunjuk pada Son Naeun, mahasiswi jurusan desain.

Sehun sedikit mengangkat alisnya. “dia pacar temanmu, bodoh.” Ucap Sehun, teringat Taemin, anak jurusan seni yang merupakan sahabat Kai.

Kai memutar kedua bola matanya. “yang disebelahnya.” Dan Sehun mendaratkan pandangannya pada Oh Hayoung, sahabat Naeun dari jurusan kedokteran.

Sehun mengangkat kedua bahunya acuh. “bukan tipeku.”

“sialan, dude.” Kai menggeleng-gelengkan kepalanya. “aku rela ke gedung kedokteran dan terlihat seperti orang bodoh hanya untuk mendapat nomornya. Aku melakukan itu untukmu, kau tahu?” gerutu Kai kesal.

“kenapa kau tidak mengajaknya berkencan?”

Kai membulatkan kedua matanya. “kau gila? Soojung saja sudah lebih dari cukup untukku.”

Sehun mengangkat sudut bibirnya, saat Kai menyebut nama kekasihnya. “kau begitu mencintai Soojung, huh?” tanya Sehun, walau ia sudah tahu pasti jawabannya. Walau dengan penampilan tengik, tapi Kai adalah pria berhati lembut.

Kai menyengir. “aku akan melamarnya bulan depan.” Ucap Kai dengan suara pelan.

“wow.” Sehun melebarkan bola matanya. “selamat, Kim Jongin.” Gumam Sehun tulus, seraya mengembangkan senyumnya.

well, aku bahkan belum melamarnya—tapi…. kau mau menjadi best man-ku, Oh Sehun?” Kai menggaruk tengkuknya, merasa agak canggung saat menawarkan hal itu pada sahabatnya.

Sehun terkekeh. “kau terdengar seperti sedang melamarku, bodoh.” Canda Sehun. “tentu saja. Aku akan dengan senang hati melakukannya.”

Senyum di wajah Kai mengembang. “thanks.”

Sehun mengangguk.

“test, test.”

Sontak, semua yang hadir disana menoleh ke arah podium. Cho Kyuhyun, ketua panitia mereka berdiri disana dengan senyum lebarnya. “selamat malam, semuanya.” Sapa Kyuhyun, yang dibalas dengan ucapan ‘selamat malam’ yang ramai dari seluruh anak disana.

“10 menit menjelang 25 Desember,” Kyuhyun menoleh pada jam besar dikanannya, “kami, para panitia telah menyiapkan acara khusus diluar ruangan.” Semua orang disana menatap Kyuhyun kaget, tak menyangka akan bagian kejutan ini.

Kai membulatkan kedua bola matanya. “wow. Aku belum mendengar soal itu. Kau sudah?” tanya Kai pada Sehun disebelahnya.

Sehun menghabiskan cocktail di gelasnya, kemudian meletakkannya kembali diatas meja. “aku pergi dulu.” pamit Sehun.

Kai menatap punggung sahabatnya yang menjauh, keluar dari gedung masih dengan buket bunga di tangan kanannya. Helaan nafas keluar dari bibirnya. Harusnya Sehun bisa menikmati natal dengan lebih gembira.

“yo.” Kai menoleh, dan pria pendek berkulit putih itu tersenyum padanya. “kemana Oh Sehun?” tanya pria itu –Byun Baekhyun dari jurusan hukum-, seraya mengikuti arah pandang Kai.

Kai diam sebentar sebelum membuka mulutnya. “gedung jurusan arsitektur.”

Raut wajah Baekhyun seketika murung. Pria itu mengerti maksud Kai. “man. Aku tidak menyangka dia masih menyukainya.” Gumam Baekhyun, kasihan sekaligus kagum.

“mencintainya, hyung.” Ralat Kai. “Oh Sehun mencintainya.”

Baekhyun hanya tersenyum getir, lalu menepuk pundak Kai. Keduanya membalikkan punggungnya, lalu berjalan mengikuti yang lainnya keluar aula.

///

Sehun mengayuh kedua pedal sepedanya perlahan, menikmati angin yang menerpa wajahnya. Rambutnya agak berantakan tertiup angin, tapi Oh Sehun membiarkannya. Mantel Sehun agak tipis, hingga udara dingin malam itu mampu membuatnya menggigil.

Sehun membelokkan sepedanya. Sekarang pria itu berada di wilayah jurusan kedokteran yang sangat luas. Beberapa panitia terlihat sibuk berlarian di lorong, sementara Sehun berjalan melewati halamannya yang luas dengan sepedanya.

Jarak dari aula utama menuju gedung jurusan arsitektur tidak terlalu jauh. Hanya 10 menit jika berjalan kaki, dan 3 menit jika naik sepeda. Dan Oh Sehun memilih untuk naik sepeda.

Sehun melirik buket bunga merah muda di tangan kanannya, yang sedaritadi ia pegang dengan erat. Dan rangkaian memori itu kembali hadir dihadapannya.

“Kau tahu carnation?”

Sehun berhenti menuang airnya ke gelas. Kepalanya menoleh, menatap Yoona yang duduk diatas ranjang rumah sakit dengan selimut yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Sehun berjalan mendekatinya, kemudian menyodorkan gelas itu pada Yoona.

“nama bunga?” tanya Sehun.

Yoona meneguk air dari gelasnya perlahan, kemudian mengembalikannya pada Sehun. “Carnation merah muda. Bunga kesukaanku.” Jawab Yoona pendek.

Sehun tersenyum, kemudian memegang kiri Yoona yang dipasang infus dengan hati-hati. “jangan terus menerus memikirkan bunga. Pikirkan kesehatanmu, bodoh.” Omel Sehun dengan nada lembut.

Yoona terkekeh. “aku akan tenang kalau memikirkan bunga.” Gumam Yoona lembut.

Sehun menatap Yoona lembut, kemudian mengelus pipi gadis itu dengan tangan kanannya. “kau jauh lebih cantik daripada bunga, Yoona-ya.” bisik Sehun perlahan.

Semburat merah terlihat jelas di pipi pucat Yoona. Tapi sinar matanya menunjukkan kesedihan. “bahkan saat aku sakit seperti ini?” tanyanya miris.

Sehun mengernyitkan alisnya, saat melihat ekspresi gadis itu. “kau akan sembuh. Pasti.” Ucapnya menenangkan. “kanker otak itu—“ Sehun menelan ludahnya, “dapat disembuhkan, kau tahu.”

Yoona tersenyum pahit saat mengenali nada keraguan pada suara Sehun. Bahkan Oh Sehun, yang awalnya sangat sangat yakin kalau Yoona akan sembuh, berakhir menjadi sangat rapuh saat dokter memvonis Yoona di stadium 4.

“kanker otak bisa membuatku lupa padamu, Oh Sehun.” Ucap Yoona, mengingatkan.

Sehun mengangguk. Kalimat itu sudah ia ingat sejak 5 bulan yang lalu. Sejak Yoona menunjukan hasil rontgen otaknya pada Oh Sehun. “aku akan membuatmu tetap ingat padaku, Yoon.” Bisik Sehun lembut.

Yoona menatap jemari Sehun yang mendarat di permukaan tangannya. “Oh Sehun, kau tahu arti carnation?” Yoona menatap iris coklat Sehun dalam.

Sehun menggeleng, kemudian tersenyum. Pria itu bangkit berdiri dan mengecup dahi Yoona perlahan. “aku sudah bilang, jangan pikirkan bunga, kesehatanmu jauh lebih penting.” Ujar Sehun.

Yoona awalnya ingin membantah perkataan Sehun, tapi gadis itu mengurungkan niatnya. “kau akan kembali besok, bukan?” tanya Yoona saat menyadari kalau jam besuk sudah hampir habis.

Sehun mengelus surai coklat lembut milik Yoona. “besok, dan besoknya lagi. Aku pasti datang.”

Yoona mengalungkan lengan kurusnya pada pinggang Sehun. “aku mencintaimu, Oh Sehun.” Bisik Yoona lembut.

“aku juga,” Sehun mengecup puncak kepala Yoona, “mencintaimu, Im Yoona.”

Sehun turun dari sepedanya, lalu menyenderkan sepeda itu pada dinding tanpa menguncinya. Takkan ada yang mau mengambil sepeda itu, apalagi hanya ada Sehun sendiri disana. Semua mahasiswa pasti berkumpul di aula utama, menikmati acara penutupan yang meriah.

Sehun menghela nafasnya, membuat gumpalan uap putih terlihat jelas didepannya. Udara semakin dingin. Salju pasti akan jatuh sebentar lagi. Pikiran itu membuat Sehun mempercepat langkahnya.

Sehun memasukkan tangan kirinya pada saku mantel, sementara tangan kanannya memegang buket bunga merah muda. Sehun mengangkat sudut bibirnya saat pohon besar itu terlihat. Pohon besar tempatnya dan Yoona sering bertemu di sela-sela kegiatan yang kosong.

Dan begitu langkahnya semakin dekat dengan pohon itu, sesuatu seolah menusuk dada Sehun. Rasa sesak itu kembali muncul, rasa pahit dan kecewa yang masih membekas, walau 2 tahun telah berlalu.

Tapi Sehun tetap melangkah, hingga tubuhnya tepat berada di bawah pohon besar itu. Sehun berjongkok perlahan, dengan lutut kanan mengenai tanah. Pria itu melepas syalnya, lalu meletakkannya diatas tanah, dibawah pohon besar tadi.

DUAR! DUAR!

Oh Sehun refleks menatap ke arah langit. Puluhan kembang api ada disana, dengan warna dan bentuk yang beragam. Langit biru tua yang awalnya membosankan jadi lebih berwarna, membuat senyum Sehun sedikit mengembang.

Pasti Kai dan yang lainnya sedang menikmati acara penutupan, pikir Oh Sehun. Mungkin hanya dialah yang ada disini, terlihat seolah berbicara dengan pohon seperti orang gila. Tapi Sehun tak peduli.

“halo, Yoong.” Sehun menatap syalnya, kemudian tersenyum. “maaf. Akhir-akhir ini aku sibuk karena persiapan wisuda.”

Sehun menanti jawaban, namun pria itu tahu, takkan ada jawaban lagi dari Im Yoona. Sehun tersenyum pahit, kemudian menundukkan kepalanya.

“bulan depan aku akan mulai bekerja di perusahaan ayahku, seperti yang kau inginkan. Kai akan ikut bekerja disana. Nanti dia akan melamar Soojung. Kau masih ingat Soojung?”

Sehun menghela napas. “aku….. tidak tahu harus berkata apa lagi. Banyak hal yang terjadi selagi kau tak ada disini, Yoongie-ya.”

Diam. Hanya hembusan angin yang menjawab perkataan Sehun. Pria itu menggertakkan giginya, mencoba menahan suhu dingin yang menerpa tubuhnya.

Sehun melirik buket Carnation merah muda di tangannya. Perlahan, Sehun meletakkan buket bunga itu diatas syalnya. Dan didetik saat Sehun meletakkan buket bunga itu, sebuah suara tertangkap oleh pendengarannya.

“merry christmas eve, Oh Sehun.”

Sehun langsung bangkit, dan melihat ke sekelilingnya dengan kedua bola mata yang melebar. Tapi nihil. Tak ada seorangpun disana. Tak ada Yoona disana.

Sehun tersenyum pahit, kemudian menatap buket bunga dibawahnya. Dan bersaman dengan itu, sebuah kembang api besar meledak di langit, menambah warna baru disana. Sehun mencuri pandang pada jam tangannya. 00:02

Sehun mengambil setangkai Carnation dari bawahnya, kemudian menciumnya. “Merry Christmas, Im Yoona.”

Jemari Sehun menggenggam erat setangkai Carnation kemudian meletakkannya ke dalam saku mantelnya. Kedua tangannya yang memutih karena kedindingan, ia masukkan ke dalam saku mantelnya. Langkahnya membimbingnya kembali ke tempat dimana sepedanya terparkir.

Sehun kembali mengayuh pedalnya, meninggalkan gedung jurusan arsitektur dengan senyum pahit pada wajahnya.

“Oh Sehun, kau tahu arti Carnation merah muda?”

“tidak. Apa artinya?”

“carnation merah muda artinya…..”

Sehun mendongak, saar merasakan butiran salju jatuh diatas kepalanya. Salju pertama.

“aku takkan melupakanmu, Im Yoona.” Bisiknya lirih.

“aku takkan pernah melupakanmu, Oh Sehun….”

///

A/n: Halooo! Kali ini saya bawa fic angst YoonHun yang bertemakan christmas eve. Angstnya agak gagal sih._. Cuma saya suka aja entah kenapa hahaha. FF ini juga sekaligus mengawali hiatus pendek saya. Gatau namanya hiatus atau apa, cuma gabisa ngeupload fic buat sementara waktu.

Im moving to another school, dan sibuk ngurusin ini itu. Tapi tetap ngeluangin waktu buat ngelanjutin fic (saya lagi ngerjain 3 oneshot, dan baru aja nyelesaiin proyek buat novel yoongexo). Dan galupa juga Saudade, yang jadi prioritas saya.

Saudade bakal tetep dilanjutin, chapter selanjutnya bakal diupload Januari. Entah bakal ada tokoh baru, atau satu chapter bakal lebih panjang, liat aja kedepannya ya. Tapi intinya Saudade bakal tetep dilanjutin. Kalau kalian punya kritik atau saran, langsung kasitau aja entah lewat sini atau lewat twitter saya😀

Merry Christmas buat yang merayakan!!!

38 thoughts on “Carnation

  1. oke, gara gara baca fanfict ini aku jadi googling nama nama bunga diatas dan wow, bagus ya!
    aku juga baru tahu kalau carnation itu nama lainnya anyelir?/
    intinya ff ini manisss kaya gula, sedih lebih mendominasi sih hehe
    good job thor, keep writing!^^

  2. Sad tp keren… Kerasa feelnya,. Mereka nyerayain chistmast eve ya, Tp suasananya kyk thn baru pake kembang api., tp kerenlah,..

  3. Nyesek sumvehh, feelnya dapet bgt ;(

    di tunggu karya2 yg lainnya ya terutama yoonHun, hiatusnya jgn lama2 ya…eh iya revenge juga di lanjut dong thor aku udah lama bgt nunggu itu ff tp blm keluar2..:(

  4. huweeeee,
    bagus thor, nyentuhh,
    cintanya sehun bertahan,
    suka sama kalimat-kalimat yang author bikin,
    ditunggu karya yoongexo lainnya,
    ^keep.writing^

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s