(Freelance) Because I Love You

because i love you

Because I Love You

by rizuki07

main cast D.O Kyungsoo – Im Yoona

other cast Oh Sehun – Park Chanyeol

genre Angst – Romance

rating PG-15

disclaimer This fanfiction is purely my own. Cast belong’s God. I just borrowed the names of characters and places. Don’t plagiat this FF!

Please keep RCL – Hope you like it

Happy reading

2013©rizuki07

Mata laki-laki itu terbelalak kaget setelah mendengar cerita dari gadis yang kini terlihat senang di hadapannya tersebut. Kyungsoo langsung terdiam dan murung ketika mendapat kabar bahwa sahabatnya, Yoona, sudah resmi berpacaran dengan laki-laki bernama Oh Sehun.

“Kyungsoo, apa kau tidak mendengarku?” tanya Yoona seraya melambaikan tangan di depan wajah Kyungsoo.

Kyungsoo tersadar dari lamunannya, kemudian tersenyum tipis ke arah Yoona. “Jadi, kau sekarang sudah resmi berpacaran dengan Sehun?”

Yoona mengangguk semangat. “Ne. Tiga hari yang lalu, dia meneleponku dan mengungkapkan semua perasaannya padaku dan mengajakku untuk menjalin hubungan yang lebih dari sekedar teman. Kau tahu kan, aku sudah lama menyukainya? Tanpa ragu aku menjawab iya dan kami resmi berpacaran.”

Gadis itu terus tersenyum, menunjukkan rasa bahagianya di hadapan Kyungsoo. Namun dia tidak menyadari, bahwa sahabatnya itu terlihat tidak suka dengan berita yang disampaikannya tersebut.

Chukkae . . .” ucap Kyungsoo datar.

Yoona menoleh ke arah Kyungsoo yang tidak melihat ke arahnya. Barulah ia menyadari jika ada perubahan sikap dari sahabatnya. “Kenapa? Kau tidak suka?”

Kyungsoo menggeleng. “Jika itu yang membuatmu bahagia, kenapa aku harus tidak suka?”

Mendengar jawaban dari Kyungsoo, Yoona merasa senang. Gadis itu langsung meluapkan rasa senangnya dengan memeluk Kyungsoo seerat mungkin.

“Kau memang sahabat terbaikku!” serunya senang. “Tadinya aku ingin memberitahumu kemarin via telepon saat kau di China. Tapi, aku lebih senang jika menceritakannya secara langsung padamu.

Sekali lagi, Kyungsoo hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Yoona.

+ + +

Kyungsoo berjalan menuju pelataran parkir yang ada di kampusnya. Langkahnya terasa begitu berat. Raut wajahnya masih memperlihatkan betapa hatinya saat ini dalam kondisi yang tidak baik. Kyungsoo menyenderkan tubuhnya sejenak pada pintu mobilnya. Matanya terpejam. Laki-laki itu berusaha menenangkan dirinya seraya menarik nafas panjang.

Seharusnya ia merasa senang mendengar kabar bahagia dari Yoona. Seharusnya ia senang jika keinginan Yoona untuk menjalin hubungan dengan Sehun selama ini akhirnya terwujud. Tapi kenapa Kyungsoo justru merasa tidak senang? Berusaha sekeras apapun untuk menyembunyikan rasa sakit di hatinya, tetap saja tidak bisa. Kabar yang disampaikan Yoona, baginya bukan kabar baik.

Sebenarnya kondisi ini wajar dialami oleh Kyungsoo. Diam-diam, Kyungsoo memendam perasaan kepada Yoona. Ia menganggap Yoona lebih dari sekedar sahabat.

“Sudahlah. Yang bisa kulakukan saat ini hanya mendoakan Yoona bahagia bersama Sehun,” batin Kyungsoo.

Lalu bagaimana dengan perasaannya?

Kyungsoo menghela nafas. Akan lebih baik baginya untuk memendam perasaan itu. Ia terlalu takut, jika perasaan cintanya pada Yoona ia ungkapkan, nantinya akan menghancurkan persahabatannya dengan Yoona.

“Rencanamu berhasil, Oh Sehun!”

DEG! Kyungsoo yang semula ingin masuk ke dalam mobilnya, mendadak mengurungkan niatnya saat mendengar suara seseorang.

“Kau benar. Kali ini aku pasti akan memenangkan taruhan yang kalian tawarkan padaku,” jawab Sehun dengan gelak tawanya.

“Cih, tidak asyik. Kau begitu mudah mendapatkan Yoona. Jelas kau akan dengan mudah pula memenangkan taruhan ini,” balas salah satu temannya.

Hati Kyungsoo memanas setelah mendengar pembicaraan yang begitu mengejutkan baginya. Kyungsoo berjalan mengendap-endap, agar bisa lebih dekat dengan Sehun yang tengah asyik bercengkerama dengan dua temannya. Tidak lupa, Kyungsoo mengeluarkan ponselnya, kemudian menyalakan fitur video untuk merekam pembicaraan Sehun.

“Sudah kukatakan pada kalian, aku akan dengan mudah mendapatkan Im Yoona. Dia begitu tergila-gila padaku. Buktinya, tidak butuh waktu 1 bulan bagiku untuk mendekatinya, dia sudah jatuh ke dalam pelukanku,” ujar Sehun seraya tertawa senang.

Chakkaman, sebelum uang taruhan itu kami berikan padamu, kau masih harus melakukan satu hal lagi . . .”

Sehun mengangguk-angguk. “Ne, arraseo. Aku tidak mungkin lupa. Aku sudah memesan satu kamar hotel dan akan kubawa gadis itu ke sana, malam ini juga . . .”

Usai mengucapkan kalimat itu, Sehun dan kedua temannya kembali tertawa. Namun tanpa mereka sadari, Kyungsoo sudah berhasil merekam rencana jahat yang akan mereka lakukan. Kini laki-laki itu tampak menggeram dengan ponselnya yang masih ia pegang.

“Oh Sehun, tak akan kubiarkan kau menyakiti Yoona . . .”

+ + +

“Yoona!”

Yoona menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Ia melihat sosok laki-laki sudah berlari mendekatinya. “Chanyeol?”

“Kau belum pulang? Apa masih ada jadwal kuliah?” tanya Chanyeol beruntun.

Yoona menggeleng. “Tidak. Aku baru saja mau pulang. Aku hanya sedang menunggu seseorang.”

“Seseorang? Kyungsoo?”

Yoona mengernyitkan dahinya saat Chanyeol menyebutkan nama Kyungsoo. Gadis itu pun tertawa kecil menanggapinya. “Bukan dia, tapi Sehun. Kekasihku.”

Kali ini Chanyeol yang terlihat bingung. “Sehun? Kekasihmu?”

Yoona memegang kedua pipinya yang kembali terasa panas. “Kami sudah resmi berpacaran.”

MWO?!” Chanyeol berteriak kaget. “Sejak kapan?”

“Tiga hari yang lalu,” jawab Yoona.

“Apa Kyungsoo sudah tahu?” tanya Chanyeol kemudian.

Yoona mengangguk. “Tiga hari dia sibuk dengan lomba melukisnya di China, aku baru sempat memberitahunya tadi. Walaupun sebenarnya aku bisa memberitahunya via telepon secepatnya, tapi aku lebih senang jika mengatakannya secara langsung pada Kyungsoo.”

Chanyeol menaikkan sudut bibirnya dengan sangat terpaksa. “Lalu, bagaimana reaksinya?”

“Tentu saja dia senang dengan kabar bahagia yang kusampaikan ini,” jawab Yoona dengan gelak tawanya. “Sudahlah. Aku harus pergi. Sehun sudah menunggu di pelataran parkir.”

Yoona berjalan meninggalkan Chanyeol yang terlihat melambaikan tangan ke arahnya. Chanyeol menghela nafas pelan.

“Malang sekali nasibmu, Kyungsoo . . .” gumamnya pelan.

“Chanyeol!”

Chanyeol melonjak kaget saat mendengar suara yang memanggilnya. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Kyungsoo sudah berlari menghampirinya. Nafas Kyungsoo terengah-engah, hingga membuatnya kesulitan berbicara.

“Ada apa? Kenapa kau berlarian seperti ini?” tanya Chanyeol penasaran.

“Kau melihat Yoona?”

“Yoona? Baru saja aku berbicara dengannya di sini. Sekarang dia pergi menuju pelataran parkir, katanya mau menemui Sehun,” jawab Chanyeol. “Apa benar mereka sekarang sudah resmi berpacaran?”

Kyungsoo mengangguk seraya menata nafasnya. “Aku harus menghalangi Yoona untuk bertemu dengan Sehun.”

Chanyeol menahan lengan Kyungsoo. “Apa yang ingin kau lakukan? Kuharap kau jangan bertindak gegabah karena sakit hati terhadap mereka. Seberapa besar kau mencintainya, kau juga harus merelakannya bahagia bersama orang yang dia pilih.”

Kyungsoo menepis tangan Chanyeol. Kemudian, ia menyodorkan ponselnya kepada laki-laki tersebut. “Justru karena aku ingin dia bahagia, aku harus mencegahnya bertemu dengan Sehun.”

Kyungsoo berlari meninggalkan Chanyeol yang terlihat bingung dengan ponsel yang diberikannya. Sebuah video rekaman yang sudah terputar, membuat mata Chanyeol terbelalak kaget.

“Ini . . .” Chanyeol terlihat shock dan hanya berdiri mematung. Barulah beberapa saat kemudian ia berlari menyusul Kyungsoo.

+ + +

Yoona berlari menghampiri Sehun yang sudah menunggunya di samping mobil sedan berwarna silver. Tanpa malu, Yoona langsung memeluk laki-laki yang sudah resmi menjadi kekasihnya tersebut.

“Kau sudah menunggu lama?” tanya Yoona.

Sehun menggeleng. “Aniyo. Hanya beberapa menit.”

Yoona tersenyum. “Apakah kita akan pergi ke suatu tempat?”

Ne, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Tidak apa kan jika kita pergi sampai larut malam?” tanya Sehun kemudian.

Yoona mengernyitkan alisnya. “Larut malam? Memangnya mau ke mana?”

Sehun langsung menarik Yoona dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam mobil. “Sudah ikut saja. Nanti kau juga akan tahu.”

Yoona tidak bertanya lagi dan memilih untuk menuruti ajakan Sehun. Keduanya pun segera masuk ke dalam mobil. Sehun membantu Yoona mengenakan seat belt. Keduanya saling menatap sambil tersenyum. Sehun pun melajukan mobilnya meninggalkan kampus.

Namun, tanpa diduga Kyungsoo berlari dan berhenti tepat di depan mobil Sehun. Tindakannya itu sukses membuat Sehun memberhentikan mobilnya secara mendadak. Sehun dan Yoona sangat terkejut dengan kemunculan Kyungsoo secara tiba-tiba.

“Aish, ada apa lagi dengan orang itu?!” umpat Sehun sambil membunyikan klakson mobilnya.

Yoona masih memegangi dadanya karena terlalu kaget. Kemudian ia menoleh ke arah Sehun yang dilihatnya masih berusaha menyuruh Kyungsoo untuk menyingkir dengan membunyikan klakson mobilnya sampai beberapa kali.

Melihat Kyungsoo tak bergeming dan tetap berdiri menghalangi mobil Sehun, Yoona bergegas keluar dan menarik sahabatnya tersebut untuk menjauh.

“Apa yang sedang kau lakukan?” bisik Yoona berusaha menahan emosinya.

Kyungsoo meremas lengan Yoona. “Kau tidak boleh pergi. Jangan pergi bersama Sehun.”

“Apa maksudmu berkata seperti itu?” Yoona mulai terpancing emosinya begitu mendengar penuturan Kyungsoo. “Sebelumnya aku sempat curiga dengan ekspresimu yang datar tentang hubunganku dan Sehun. Jangan-jangan kau memang tidak suka jika aku berpacaran dengannya?”

“Sehun sedang merencanakan hal buruk terhadapmu,” lanjut Kyungsoo.

Yoona menepis tangan Kyungsoo yang memegang bahunya. “Jaga mulutmu! Sehun tidak mungkin berbuat buruk padaku. Aku percaya padanya.”

“Buka matamu, Im Yoona. Kau belum mengenal dia sepenuhnya. Sehun bersedia berpacaran denganmu karena kau dijadikan taruhan olehnya dan juga teman-temannya,” teriak Kyungsoo.

PLAK! Emosi Yoona memuncak. Ia begitu sakit hati dengan ucapan Kyungsoo yang dianggapnya hanya bualan semata. Kyungsoo memegangi pipi kirinya yang kini terlihat memerah akibat tamparan yang dilayangkan oleh Yoona.

“Cukup! Aku tidak mau mendengar lagi apa yang kau katakan,” tegas Yoona sebelum akhirnya berbalik meninggalkan Kyungsoo. Gadis itu mati-matian menahan air matanya yang nyaris turun membasahi wajahnya. Kecewa. Ia begitu kecewa dengan ucapan sahabatnya.

Kyungsoo menatap Yoona yang sudah masuk kembali ke dalam mobil Sehun. Perlahan mobil itu bergerak dan melaju meninggalkan kampus. Matanya terus menatap nanar ke arah mobil yang dinaiki Yoona bersama Sehun hingga tak terlihat lagi.

Mianhae. Kulakukan ini semua, karena aku mencintaimu.”

Chanyeol yang baru datang menyusul, terdiam saat melihat Kyungsoo. Tangan Chanyeol pun merangkul bahu Kyungsoo, berusaha menenangkan sahabatnya yang terlihat sangat terpukul setelah menerima tamparan dari Yoona.

+ + +

Mobil Sehun berhenti di depan sebuah bangunan hotel mewah. Tanpa menunggu respon dari Yoona, Sehun keluar dan mengajak gadis itu untuk turun dari mobil.

Kajja,” ajak Sehun seraya tersenyum.

Yoona sedikit ragu dengan ajakan Sehun. Suasana hatinya masih buruk. Ia kembali teringat akan pertengkarannya dengan Kyungsoo. “Untuk apa kita ke hotel?”

“Aku sudah memesan sebuah kamar yang akan kita gunakan untuk makan malam bersama,” jawab Sehun.

Yoona terdiam. Menyesal sudah berpikiran yang bukan-bukan tentang Sehun karena termakan omongan Kyungsoo. Ia pun mengangguki ajakan Sehun dan ikut turun dari mobil. Sehun menggandeng Yoona masuk ke dalam hotel. Laki-laki itu terus mengumbar senyum kepada Yoona. Senyuman itulah yang membuat hati Yoona merasa jauh lebih tenang. Walau begitu, ia masih memikirkan kondisi Kyungsoo yang harus menerima tamparan darinya. Yoona merasa bersalah atas perbuatannya yang tidak bisa mengendalikan emosi hingga melayangkan tamparan pada sahabatnya sendiri.

Sehun dan Yoona masuk ke dalam lift yang membawa mereka menuju lantai 5. Kemudian mereka berjalan menyisiri lorong hotel hingga berhenti di depan sebuah kamar. Yoona kembali teringat dengan ucapan Kyungsoo. Namun begitu melihat sebuah meja makan malam yang sudah di-set sedemikian cantiknya di dekat jendela, Yoona kembali membuang jauh-jauh anggapannya terhadap Sehun.

“Sehun . . .” Yoona menatap haru ke arah Sehun yang tengah tersenyum.

“Kau menyukainya?” tanya Sehun.

Yoona mengangguk. Kemudian memeluk Sehun dengan mesra. Ia pun berjalan mendekati meja makan tersebut dengan mata yang berbinar. Tanpa diketahui Yoona, Sehun diam-diam mengunci pintu kamar hotel tersebut sebelum akhirnya berjalan mendekati Yoona.

Keduanya pun menikmati santapan makan malam yang sudah dipesan oleh Sehun. Makan malam yang romantis bersama orang yang sangat dicintainya. Sudah lama Yoona memimpikan hal tersebut. Senyum gadis itu tak pernah pudar sedikitpun. Yoona sangat menikmati kebersamaannya dengan Sehun.

Terlaru larut, Yoona sampai tidak sadar jika waktu sudah menunjukkan tepat jam 11 malam. Makan malam keduanya sudah selesai. Kini baik Yoona ataupun Sehun saling berpelukan di dekat jendela sambil menatap jauh ke arah lampu-lampu kota yang begitu cantik di malam hari.

“Sehun, malam ini adalah malam yang sungguh berkesan bagiku,” ujar Yoona.

Sehun tidak menjawab. Ia memilih untuk mendengarkan Yoona yang begitu senang mengungkapkan perasaannya malam itu.

“Terima kasih kau sudah mengajakku untuk menikmati makan malam yang begitu romantis,” lanjut Yoona. Kemudian ia membalikkan tubuhnya untuk memandangi Sehun. Matanya menatap dalam Sehun yang tengah serius menatapnya.

“Apapun akan kulakukan untukmu,” ucap Sehun kemudian mencium kening Yoona. Membuat semburat merah itu muncul di wajah Yoona.

“Baiklah, ini sudah malam. Sebaiknya kita segera pulang,” ujar Yoona seraya mengambil tasnya sambil berjalan menuju pintu kamar hotel.

Namun baru beberapa melangkah, tiba-tiba Sehun menarik tangan Yoona dan menghimpit gadis itu pada dinding hotel yang berdekatan dengan ranjang. Kontan sikapnya itu membuat Yoona terkejut.

“Sehun, apa yang kau—”

Telunjuk kanan Sehun menempel di bibir Yoona. “Kita tidak akan pulang, Im Yoona. Malam ini, kita habiskan waktu kita dengan tidur bersama di kamar ini.”

Mata Yoona terbelalak. Apalagi saat melihat raut wajah Sehun yang berubah dari sebelumnya. Sehun tidak terlihat hangat, melainkan berubah menjadi sosok laki-laki yang menakutkan dan begitu agresif. Sehun mendekatkan wajahnya ke arah Yoona. Bibirnya perlahan mendekati leher jenjang milik Yoona. Ia tidak peduli dengan tubuh kekasihnya yang begitu gemetaran.

BRUK! Yoona mendorong tubuh Sehun hingga membuat laki-laki itu jatuh tersungkur di lantai. Walaupun keduanya sudah resmi berpacaran, tapi bagi Yoona tidak akan semudah itu untuk bermalam bersama dengan orang yang belum resmi menjadi suaminya.

“Ya! Gadis bodoh! Kau jangan mempersulitku untuk mendapatkan uang!” maki Sehun tiba-tiba.

DEG! Yoona terdiam seketika ketika Sehun menyebutkan kata ‘uang’. Ucapan Kyungsoo itu kembali memenuhi kepalanya.

“Uang? Apa maksudmu uang taruhan?”

Sehun tersenyum sinis. “Rupanya kau sudah tahu?”

Yoona menatap tak percaya ke arah Sehun. “Sehun, apa yang kau bicarakan?”

Sehun mengacak rambutnya lalu mengambil kursi dan menariknya tepat di hadapan Yoona. “Aku memang sedang bertaruh dengan temanku, Im Yoona. Jika malam ini aku berhasil menaklukanmu, uang taruhan itu akan jatuh ke tanganku.”

“Kau jangan bercanda!” teriak Yoona mulai terpancing emosi. “Taruhan? Bagaimana bisa kau menjadikanku sebagai taruhan dengan teman-temanmu. Lalu, apa artinya sikap baikmu selama ini dan juga ungkapan perasaanmu padaku sebelumnya?”

Sehun mendesah. “Ah, sudahlah! Kau tidak mengerti juga? Kau jelas tahu apa arti taruhan bukan? Aku mendekatimu, bersikap baik padamu hingga aku mengungkapkan perasaanku padamu, itu semua palsu. Aku hanya sedang memainkan sandiwara saja untuk taruhan itu.”

Buliran air mata itu pun membasahi wajah cantik Yoona. Gadis itu benar-benar terluka dengan pengakuan Sehun.

PLAK! Yoona tanpa ragu langsung menampar Sehun. “Kau benar-benar keterlaluan!”

Sehun tak terima dengan perlakuan Yoona. “Kau—“

Yoona menjerit begitu Sehun langsung menarik dan menjatuhkannya ke atas ranjang. Tangan Yoona meraih alat yang ada untuk melindungi dirinya dari Sehun. Bantal, guling hingga selimut ia lemparkan ke arah wajah Sehun. Namun laki-laki itu tidak peduli dan terus mendekati Yoona yang sudah terpojok di tepi ranjang. Tubuh Yoona semakin bergetar hebat, keringat mengucur dari kepalanya. Sehun sudah bersiap mendekatkan wajahnya kembali pada Yoona yang kini tengah memejamkan kedua matanya seraya meremas kain yang masih terpasang di ranjang.

“Layanan kamar!”

Yoona langsung menoleh ke arah pintu hotel dan bersiap ingin turun, namun dihalangi oleh Sehun. Laki-laki itu menahan Yoona untuk tidak bergerak. Kemudian menoleh ke arah pintu kamar hotel. Kedua alisnya bertaut. Ia merasa tidak memesan layanan kamar di hotel tersebut.

“Diamlah! Jika kau sampai bergerak ataupun berteriak, kau akan rasakan akibatnya,” ancam Sehun.

Yoona terdiam mendengar ancaman dari Sehun. Ia masih mengawasi gerak-gerik Sehun yang kini tengah membuka pintu kamar hotel. Ia berharap ada celah untuk melarikan diri.

Mianhae, kami tidak—”

BUG! Belum selesai Sehun berucap, tiba-tiba seseorang menyeruak masuk dengan melayangkan pukulan ke arah wajah Sehun. Laki-laki yang mengenakan topi dan kacamata hitam itu langsung berjalan menghampiri Yoona yang masih berada di atas ranjang. Tanpa ragu, ia menarik gadis itu dan bersiap membawanya keluar dari kamar hotel. Sehun berniat menghalanginya tapi rencananya gagal setelah mendapatkan pukulan di bagian perut. Ia jatuh tersungkur di lantai dan merintih kesakitan.

Sebelum pergi meninggalkan Sehun, Yoona sempat menoleh ke arah laki-laki itu. Dalam hatinya, ia sangat sedih namun sekaligus merasa senang. Setidaknya, ia sudah mengetahui sifat asli Sehun dan juga terhindar dari rencana jahat Sehun yang menjadikannya sebagai taruhan.

Yoona memandangi laki-laki yang menariknya berlari meninggalkan gedung hotel. Sosok yang tidak asing baginya, tapi siapa?

“Kau siapa?” tanya Yoona penasaran saat keduanya sudah berjalan melewati taman yang berada di dekat gedung hotel. Keduanya berhenti di depan sebuah mobil berwarna hitam.

Laki-laki itu berbalik memandangi Yoona. Kemudian ia melepas topi dan kacamata yang dikenakannya. Mata Yoona membulat sempurna saat mengenali sosok di hadapannya tersebut.

“Chanyeol?”

Ya, sosok itu tidak lain adalah Chanyeol. Yang membuat Yoona terkejut, bagaimana Chanyeol bisa tahu jika ia berada di hotel tersebut bersama Sehun?

“Tapi, bagaimana kau—”

Untuk menjawab pertanyaan Yoona, Chanyeol langsung menyodorkan ponsel kepadanya. Yoona terlihat serius memperhatikan sebuah video yang sudah terputar pada ponsel tersebut.

“Ini—”

“Ya, ini rekaman video yang menunjukkan Sehun dan kedua temannya sedang membicarakan taruhan yang mereka lakukan. Taruhan yang mereka rencanakan adalah membuatmu jatuh cinta pada Sehun, lalu berpura-pura berpacaran denganmu dan mengajakmu untuk bermalam di hotel,” ucap Chanyeol.

Tangan Yoona gemetar saat memegang ponsel yang berisikan video rekaman Sehun yang begitu jahatnya merencanakan semua ini bersama teman-temannya. “Dari mana kau dapatkan rekaman ini?”

“Kyungsoo yang merekamnya,” jawab Chanyeol.

MWO?!

Chanyeol tersenyum. “Dia juga yang menyuruhku untuk menolongmu.”

Kaki Yoona melemas. Gadis itu terduduk di tanah sekitar taman. Buliran air mata Yoona kembali mengalir. Ia begitu menyesal karena tidak mempercayai ucapan Kyungsoo.

“Kau tahu, Yoona? Kyungsoo sangat mencintaimu. Ia begitu peduli terhadap kebahagiaanmu,” lanjut Chanyeol.

“Apa maksudmu?” tanya Yoona bingung.

Chanyeol terdiam. Sedetik kemudian ia membantu Yoona untuk berdiri, lalu menyuruh Yoona untuk masuk ke dalam mobilnya. Keduanya pun bergegas pergi menuju suatu tempat.

Tidak butuh waktu lama, mobil yang dikendarai Chanyeol kini sudah berhenti di depan sebuah rumah. Yoona terlihat bingung. Rumah itu tidak lain adalah tempat tinggal Chanyeol dan Kyungsoo.

“Rumah kalian?”

Chanyeol kembali tersenyum. “Sepertinya Kyungsoo belum pulang. Ini kesempatan. Akan lebih baik jika kau melihatnya sendiri.”

Yoona masih belum paham dengan maksud perkataan Chanyeol. Laki-laki itu mengajaknya masuk kemudian berjalan menuju sebuah ruang yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

“Ini ruang apa?” tanya Yoona penasaran.

“Ruang melukis Kyungsoo,” jawab Chanyeol.

Perlahan pintu itu terbuka. Nuansa seni begitu terasa dalam ruangan tersebut. Yoona menatap takjub ke arah beberapa lukisan Kyungsoo yang dipajang di dinding.

“Aku belum pernah melihatnya. Kyungsoo tak pernah mengajakku ke sini,” tutur Yoona.

“Dia sengaja menyembunyikannya darimu,” balas Chanyeol.

“Kenapa?”

Chanyeol tersenyum. Ia berjalan mendekati salah satu sudut dinding yang tertutup kain putih. Tangannya menarik kain tersebut.

Yoona membelalakkan matanya saat melihat berbagai lukisan dirinya yang sudah terpajang pada dinding yang dibuka oleh Chanyeol.

“Karena dia tidak ingin kau tahu bahwa dia sangat mencintaimu,” lanjut Chanyeol.

Hati Yoona tersentuh mendengarnya. Ia pandangi lukisan dirinya itu, satu persatu. Ia itidak tahu jika selama ini Kyungsoo melukisnya. Selain itu, untaian kata yang tertulis pada lukisan dirinya yang berukuran besar, membuat Yoona tidak sanggup menahan air mata harunya.

Aku mencintaimu, bidadari hatiku

Tangan Yoona mengusap dengan lembut deretan tulisan tersebut. Air matanya mengalir semakin deras. Tanpa pikir panjang, Yoona langsung bergegas keluar meninggalkan Chanyeol. Gadis itu berniat pergi untuk mencari Kyungsoo. Chanyeol yang melihat reaksi Yoona tampak tersenyum senang. Dipandanginya kembali lukisan Yoona yang dibuat oleh Kyungsoo.

“Semoga kali ini berhasil, Kyungsoo . . .”

+ + +

Kyungsoo terlihat sedang menghabiskan malamnya di area taman bermain anak-anak yang berada tak jauh dari rumahnya. Matanya menatap ke arah langit. Ia sengaja duduk di salah satu ayunan.

“Apa Chanyeol berhasil menolongnya?” gumamnya lirih.

Kyungsoo kembali menghela nafas. Kemudian memainkan ayunan yang dinaikinya secara perlahan. Ia melirik ke arah jam tangan yang dikenakannya. Sudah lewat jam 12 malam. Sebaiknya ia bergegas pulang ke rumah. Mungkin saja Chanyeol sudah pulang.

Kyungsoo sengaja meminta bantuan Chanyeol. Bukan berarti dia tak ingin menolong Yoona. Namun, tamparan keras yang ia terima dari gadis itu membuat hatinya terluka dan terpuruk.

Kyungsoo memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket. Udara semakin terasa dingin. Sesekali ia memperhatikan sekeliling yang terlihat sepi, hingga akhirnya perhatiannya berhenti pada sosok gadis yang tengah berlari menghampirinya.

“Yoona?”

Kyungsoo menghentikan langkahnya ketika Yoona sudah semakin dekat. Gadis itu datang dengan nafas terengah-engah. Kedua matanya tampak berlinang air mata.

“Kau baik-baik saja?” tanya Kyungsoo. Ia berusaha bersikap tenang di hadapan Yoona dan berbicara seperlunya.

Yoona mengangguk pelan. Air matanya pelahan turun membasahi wajahnya.

“Chanyeol berhasil menolongmu?” tanya Kyungsoo lagi.

Dan Yoona hanya mengangguk, namun kali ini gadis itu terisak di hadapan Kyungsoo.

“Syukurlah, kau baik-baik sa—”

Kalimat Kyungsoo terhenti karena Yoona tiba-tiba memeluknya. Gadis itu menumpahkan semua perasaannya di hadapan Kyungsoo. Air matanya kini mengalir deras.

“Yoona?”

Yoona tidak menjawab. Ia justru mempererat pelukannya pada Kyungsoo.

“Aku terlalu dibutakan oleh perasaanku pada Sehun. Seharusnya aku mendengar ucapanmu dan percaya padamu,” ujar Yoona menyesal.

Yoona merenggangkan pelukannya, kemudian gadis itu menundukkan kepalanya. Ia malu untuk melihat ke arah Kyungsoo.

Mianhae. Tadi siang, aku sudah bersikap kasar padamu,” lanjut Yoona.

Kyungsoo tersenyum. “Gwaenchana. Tidak sepenuhnya salahmu. Aku terlalu terburu-buru menyampaikannya sampai tidak mempedulikan reaksimu.”

Yoona tertegun. Ia mengangkat kepalanya dan memberanikan diri untuk memandangi Kyungsoo. Ketulusan yang terlihat pada Kyungsoo, kini ia bisa merasakannya.

Mianhae . . .”

“Sudahlah, kau tidak perlu meminta maaf lagi. Semua masalah sudah selesai kan? Setidaknya kau sudah tahu bagaimana Sehun. Dia bukan orang yang pantas untukmu,” ujar Kyungsoo.

Yoona terdiam. Kemudian ia mengusap kedua matanya untuk menghapus air matanya. Sudut bibirnya terangkat membuat sebuah senyuman.

“Benar, dia tidak pantas untukku,” ucap Yoona. “Orang yang pantas untukku—”

Kyungsoo menaikkan salah satu alisnya. Belum mengerti dengan apa yang akan dikatakan Yoona.

“Kau, Kyungsoo,” lanjut Yoona.

Kyungsoo terkejut. Ditatapnya wajah Yoona yang kini semakin dekat di hadapannya.

“Aku benar-benar bodoh. Terbuai dengan semua omongan Sehun yang baru kukenal selama satu bulan. Sikap baiknya padaku selama ini hanyalah sandiwara demi taruhan. Sekarang aku sadar, untuk apa aku mencari kebahagiaanku pada Sehun dan laki-laki di luar sana, padahal kebahagiaanku ada di hadapanku sendiri,” tutur Yoona.

Mata Kyungsoo terbelalak. “Yoona, kau—”

Telunjuk Yoona menempel di bibir Kyungsoo. Gadis itu tersenyum. “Aku sudah mendengar semuanya dari Chanyeol. Dan sudah melihat semua lukisanmu, serta untaian kata yang begitu menyentuh hatiku.”

Kyungsoo berubah gugup. Laki-laki itu memilih untuk menunduk karena perlahan wajahnya memerah. Yoona langsung memegang dagu Kyungsoo hingga membuat laki-laki itu menatap ke arahnya.

CUP! Tanpa diduga, Yoona langsung mendaratkan sebuah kecupan tepat di bibir Kyungsoo. Wajah Kyungsoo semakin memerah. Ia terlalu kaget dengan sikap Yoona yang tiba-tiba menciumnya.

“Maukah kau memberiku kesempatan untuk merasakan cinta darimu?” tanya Yoona tersipu. Semburat merah kini menghiasi wajah Yoona.

Setelah berhasil mengendalikan perasaannya, Kyungsoo tersenyum. “Tentu, Im Yoona. Akan kupastikan, cinta dariku akan selalu membuatmu bahagia. Selamanya.”

Mata Yoona berbinar mendengar jawaban dari Kyungsoo. Keduanya langsung berpelukan satu sama lain. Rona bahagia terpancar dari wajah masing-masing. Masalah yang baru saja menimpa Yoona, justru membuka jalan mereka menuju kebahagiaan sejati.

Selamanya aku akan berada di sisimu, karena aku sangat mencintaimu

-Yoona&Kyungsoo-

 

-THE END-

Haloo *teriak pake toak*
Kali ini aku membawa FF KyungYoon😀

Aduh, semoga saja feel nya dapet ya, tapi kalopun nggak aku minta maaf karena nekat menulis FF absurd ini (*what* ^^v) dan juga maaf untuk karakter Sehun. Semua karakter yang kutulis dalam FF hanya untuk memenuhi kebutuhan cerita saja, tidak bermaksud menjelekkan.

Terima kasih sudah membaca FF ini *bow*

30 thoughts on “(Freelance) Because I Love You

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s