(Freelance) Everlasting Love

everlasting love

Everlasting Love

by rizuki07

main cast Xi Luhan – Im Yoona

genre Angst – Married Life – Romance – Sad

rating PG-15

disclaimer This fanfiction is purely my own. Cast belong’s God. I just borrowed the names of characters and places. Don’t plagiat this FF!

Please keep RCL – Hope you like it

Happy reading

2013©rizuki07

 

Luhan menatap nanar ke dalam ruang ICU. Hatinya merasa sedih melihat Yoona, wanita yang baru saja resmi menjadi istrinya sejak beberapa hari yang lalu, kini terbaring lemah tidak sadarkan diri di atas ranjang. Kondisi ini sudah Luhan perkirakan sebelumnya, hanya saja ia tidak menduga jika datangnya hari-hari ini akan jauh lebih cepat dari perkiraannya.

Kanker leukimia stadium akhir. Penyakit yang membuat Yoona terbaring lemah tak berdaya. Luhan kembali teringat saat di mana ia melamar Yoona.

+

“Aku tidak bisa.”

Luhan menatap tak percaya ke arah Yoona. Bingung dengan jawaban Yoona yang menolak untuk menikah dengannya.

“Wae? Kenapa kau tidak bisa?”

“Kau tak lihat kondisiku?! Aku ini sakit dan sebentar lagi akan mati!” teriak Yoona.

“Tidak!” Bibir Luhan bergetar hebat. Dipandanginya kedua mata Yoona yang kini mulai berlinang air mata. “Kau tidak akan mati. Kau akan tetap hidup.”

Yoona menangis. Wanita itu langsung memeluk Luhan seerat mungkin. Hatinya tengah kalut dan begitu ketakutan untuk menghadapi waktu hidupnya yang dirasanya kian berkurang.

“Aku tidak peduli dengan kondisimu. Yang kuinginkan hanyalah hidup bersamamu, Yoong. Aku ingin menikahimu. Menjaga dan menemanimu, serta membahagiakan hidupmu untuk selamanya . . .” tutur Luhan turut terisak. Tangannya semakin mempererat pelukannya pada Yoona.

Tangis Yoona kembali pecah. Kata-kata Luhan begitu menyentuh hatinya.

“Jadi, maukah kau menikah denganku?” tanya Luhan sekali lagi.

Yoona mengangguk. Tidak ada keraguan lagi dalam dirinya untuk hidup bersanding dengan pria yang begitu tulus mencintainya.

+

Perlahan buliran air mata Luhan turun. Setiap kali mengingat kenangan ketika dia melamar Yoona, Luhan selalu menangis. Kini ia kembali fokus pada kondisi Yoona. Entah kapan, Yoona akan membuka kedua matanya, meskipun itu akan menjadi pertemuan yang terakhir bagi keduanya.

“Maafkan aku, Tuan Xi. Tapi penyakit Nyonya Xi sudah cukup parah. Kami tidak bisa berbuat apa-apa lagi.”

Kata-kata yang terucap dari Dokter yang menangani Yoona terus terngiang dalam pikiran Luhan.

Benarkah pernikahan ini akan berakhir begitu saja tanpa keduanya sempat merasakan betapa indahnya kehidupan pernikahan layaknya semua pasangan pengantin baru?

Mata Luhan terus mengawasi Dokter yang masih memeriksa kondisi Yoona. Kini hati Luhan begitu dipenuhi rasa ketakutan yang luar biasa.

“Tuan Xi?” tiba-tiba salah satu suster keluar menghampiri Luhan.

“Ada apa, suster? Bagaimana keadaan istriku?” tanya Luhan cemas.

“Nyonya Xi sudah sadar, dia terus memanggil nama Anda,” ucap suster tersebut.

Mendengar hal tersebut, Luhan langsung bergegas masuk ke dalam ruang ICU. Dilihatnya mata Yoona sudah terbuka. Sesekali ia masih memejamkan matanya karena kondisi tubuhnya kian melemah.

“Luhan . . .”

Luhan berlari mendekati ranjang Yoona. Kedua tangan Luhan memegangi tangan kanan Yoona. “Aku disini.”

Yoona kembali membuka matanya. Kemudian berusaha menoleh ke arah suara yang sangat ia rindukan. “Sudah berapa lama aku tidur?”

Luhan menunduk. Ia tidak bisa menahan air matanya yang kembali mengalir.

“Satu minggu. Kau sudah tidur selama satu minggu,” jawab Luhan terisak.

“Benarkah?” Yoona masih terlihat lemah dalam berbicara. “Kalau begitu, aku ingin pulang.”

“Pulang?” Luhan terkejut mendengar permintaan dari Yoona.

“Aku ingin pulang. Aku tidak mau di sini,” lanjut Yoona.

“Tapi, kau harus mendapatkan perawatan intensif,” ujar Luhan.

Yoona memandang lekat ke arah Luhan. “Aku tidak ingin menghabiskan hari-hari terakhirku di tempat yang begitu dingin. Aku ingin menikmati indahnya kehidupan pernikahan kita di istana baru kita, Luhan.”

Air mata Luhan mengalir semakin deras. Pria itu terlihat kesulitan untuk berucap. Setelah berhasil menenangkan dirinya, pria itu mengangguk.

“Baiklah, kita akan pulang. Menikmati indahnya kehidupan pernikahan kita di istana baru kita.”

+ + +

Atas permintaan istrinya, Luhan akhirnya membawa Yoona pulang menuju tempat tinggal mereka yang baru, yang seharusnya mereka tempati setelah resmi menikah. Namun siapa yang menduga, jika sesaat setelah keduanya resmi dinyatakan sah sebagai suami istri, Yoona justru jatuh pingsan dan tidak sadarkan diri selama satu minggu di rumah sakit.

Luhan menggendong tubuh Yoona dan membawa istrinya menuju kamar keduanya. Yoona dibaringkan di atas ranjang. Kini wajah cantiknya terlihat semakin pucat. Luhan berusaha mati-matian untuk menyembunyikan rasa sedihnya di hadapan Yoona.

Tangan Yoona menggenggam erat tangan Luhan. Ia tersenyum, membuat hati Luhan semakin miris melihat kondisi Yoona begitu lemah.

“Naiklah. Kita tidur bersama,” ucap Yoona.

Luhan mengangguk. Pria itu berpindah posisi dan menempati bagian yang kosong di sebelah Yoona. Perlahan Yoona menggeser tubuhnya mendekati tubuh Luhan. Tangan Luhan pun langsung memeluk erat tubuh Yoona ke dalam dekapannya.

“Besok apa kegiatan kita?” tanya Yoona kemudian.

“Apa yang ingin kau lakukan? Akan kupenuhi,” jawab Luhan.

Yoona tersenyum, “Aku hanya ingin menghabiskan waktu seharian bersamamu.”

Luhan tertegun. “Baiklah. Kalau begitu, besok kita akan menikmati sarapan bersama di tepi pantai. Lalu sambil menikmati suasana pantai yang indah, kita duduk bersama menikmati suasana senja, menunggu sampai matahari terbenam. Eotohge?

“Menarik. Aku sudah tidak sabar untuk hari esok,” lanjut Yoona. Perlahan matanya mulai terpejam. Kondisi tubuhnya yang semakin melemah membuat Yoona memang tidak bisa berlama-lama untuk terjaga. Kini wanita itu terlihat sudah tidur dalam pelukan Luhan.

Luhan menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya. Tangan kanan Luhan menggenggam erat tangan Yoona. Kemudian ia mencium lembut kening Yoona. Ia sudah tidak peduli dengan kemungkinan terburuk yang akan terjadi di hari esok. Pria itu sudah siap. Setidaknya, ia ingin memberikan kenangan terindah untuk Yoona menjelang ajalnya.

ooOoo

Keesokan harinya, Luhan bangun lebih awal menyiapkan sarapan untuk keduanya. Walau hatinya diselimuti perasaan cemas yang semakin dalam, pria itu tetap bersikap tenang. Dengan cekatan ia menyiapkan semuanya demi kebersamaannya dengan Yoona.

Luhan melirik jam tangannya, kemudian ia bergegas menuju kamar. Ia khawatir jika terjadi sesuatu pada Yoona. Saat pria itu masuk, ia terkejut tidak mendapati Yoona tidak ada di ranjang. Namun sedetik kemudian ia bernafas lega karena melihat istrinya tengah duduk di depan meja rias untuk menyisiri rambutnya.

Menyadari kehadiran Luhan, Yoona langsung menoleh ke arah suaminya yang sudah berjalan mendekatinya. Yoona tersenyum. Wajah pucat Yoona kini tertutupi oleh make up natural yang semakin memperlihatkan kecantikan alami yang dimiliki Yoona. Luhan memandangi Yoona dari cermin. Pria itu pun tersenyum.

“Kau terlihat cantik,” ujarnya seraya mencium pipi kanan Yoona.

“Apa semuanya sudah siap?” tanya Yoona kemudian.

Luhan mengangguk. Kemudian ia memapah Yoona keluar dari kamar untuk menikmati sarapan bersama mereka di tepi pantai. Luhan memang sengaja membeli rumah di dekat pantai karena Yoona sangat menyukai suasana pantai.

Kini keduanya duduk bersama di sebuah meja yang sudah ditata oleh Luhan. Suasana sarapan bersama yang sangat romantis. Luhan begitu perhatian kepada Yoona. Pria itu terlihat cekatan menyiapkan sarapan untuk Yoona. Melihat suaminya yang menyiapkan sarapan, membuat hati Yoona merasa sedih.

“Maaf, aku tidak melakukan apapun untukmu,” ujar Yoona. “Seharusnya sebagai istri, aku yang menyiapkan sarapan, bukan kau.”

Luhan tertegun. Dilihatnya raut wajah Yoona kembali murung. Dan wajah pucat itu kembali terlihat di wajah Yoona.

“Tidak apa-apa. Aku justru senang melakukannya. Bagiku, asalkan hidup bahagia bersamamu, itu sudah cukup,” ucap Luhan seraya menggenggam erat tangan Yoona.

Hati Yoona tersentuh mendengarnya. Air matanya yang nyaris turun buru-buru ia hapus. Kini ia berusaha untuk terlihat senang di hadapan Luhan. Hari ini, tidak boleh ada air mata. Semuanya harus dilalui dengan kegembiraan.

Luhan dan Yoona terlihat begitu menikmati sarapan keduanya. Sesekali mereka saling menyuapi satu sama lain. Setelah keduanya sarapan, Luhan mengajak Yoona untuk berjalan menyisiri pantai. Tentu saja, Luhan memilih untuk menggendong Yoona di punggungnya karena tak mau kondisi istrinya semakin melemah.

Keduanya tertawa bersama saat berusaha melarikan diri dari ombak yang tiba-tiba datang. Sesekali mereka bermain air. Terkadang Luhan juga memainkan pasir dengan kakinya. Tanpa di sengaja keduanya justru terkena cipratan air pantai. Gelak tawa itu kembali muncul. Keduanya terlihat sangat bahagia.

Terlalu larut dalam kebersamaan, tanpa disadari waktu sore mulai tiba. Kini keduanya tengah duduk dan saling bersenderan di tepi pantai untuk menikmati suasana senja yang begitu indah. Menunggu matahari terbenam hingga hari berganti malam.

“Luhan . . .” panggil Yoona lirih.

“Apa?”

“Terima kasih,” jawab Yoona kemudian. “Aku sangat bahagia.”

Entah kenapa, raut wajah Luhan justru terlihat bersedih. Ia semakin mempererat genggaman tangannya pada Yoona. Sementara salah satu tangan Yoona memeluk erat lengan Luhan.

“Aku sangat mencintaimu, Luhan,” ucap Yoona kemudian.

Hati Luhan semakin cemas. Ia berusaha bersikap tenang dan membalas ucapan Yoona. “Aku juga mencintaimu.” Lalu mengusap air matanya yang hampir keluar. Kemudian keduanya saling menatap satu sama lain. Perlahan wajah keduanya mendekat. Sebuah ciuman mesra pun mereka lakukan. Yoona tersenyum. Begitu juga dengan Luhan.

“Jika kau mau, besok kita bisa bersenang-senang lagi di sini. Bahkan setiap hari, kita bisa melakukannya,” lanjut Luhan. Walau ia tahu itu adalah hal yang tidak mungkin untuk dilakukan. Luhan sudah menyadari jika kondisi Yoona saat ini sepertinya sudah mencapai batas akhir.

Yoona terdiam. Wajahnya semakin terlihat pucat. “Tentu. Kita bisa melakukannya setiap hari.”

Luhan mati-matian menahan air matanya. “Kalau begitu, besok aku akan siapkan lagi sarapan yang berbeda untukmu. Kau mau apa?”

“Terserah kau saja,” jawab Yoona semakin lirih. Tanpa disadari Luhan, mata Yoona perlahan mulai terpejam.

Hati Luhan terasa sesak mendengarnya. Ia berusaha untuk tidak peduli dengan kondisi Yoona yang semakin lemah.

“Baiklah, akan kusiapkan sandwich kesukaanmu. Setelah itu, kita akan mendirikan istana pasir yang besar, bermain air di pantai, mencari kerang-kerang di pasir pantai lalu—”

SET!

Tiba-tiba tangan Yoona yang memeluk lengan Luhan terlepas. Luhan terdiam. Matanya terbelalak. Ia tidak merasakan lagi pelukan tangan Yoona di lengannya.

“Lalu—” Bibir Luhan bergetar hebat. Ia tidak sanggup lagi menahan air matanya. Ia merasakan tangan Yoona yang digenggamnya begitu dingin.

“Yoong?”

Luhan masih berharap ada jawaban dari Yoona. Hening. Tidak ada suara yang terdengar dari Yoona. Luhan langsung menarik Yoona ke dalam dekapannya. Ia tidak bisa merasakan debaran jantung Yoona.Tangis Luhan pun pecah.

Malam itu, menjadi malam pertama dan terakhir bagi Luhan untuk menikmati kebersamaannya dengan Yoona sebagai pasangan suami istri. Wanita yang sangat dicintainya itu, kini telah pergi untuk selamanya.

ooOoo

Pemakaman Yoona sudah selesai. Kini para pelayat sudah pergi meninggalkan lokasi pemakaman. Termasuk kedua orang tua Yoona dan kedua orang tua Luhan. Yang tertinggal di depan pusaran makam Yoona, hanya Luhan seorang. Ya, di antara perasaan sedih yang menyelimuti orang-orang terdekat Yoona, jelas Luhan yang paling terpuruk.

“Yoong, apa kau merasa jauh lebih baik sekarang?” tanya Luhan. Ia terlihat bersimpuh di depan pusaran makam Yoona. Air mata yang sempat ia tahan kini kembali turun membasahi wajahnya. Luhan menangis. Terlalu pedih untuk menerima kenyataan bahwa Yoona sudah pergi dari sisinya.

“Semoga kau tenang di sana,” ujar Luhan lirih sebelum akhirnya beranjak dari posisinya, meninggalkan pusaran makam Yoona.

Dengan langkah berat, Luhan berjalan keluar dari area pemakaman. Tangannya terlihat menggenggam sebuah cincin. Cincin itu tidak lain adalah cincin milik Yoona. Kemudian ia memperhatikan cincin yang masih tersemat pada jari tangannya. Pria itu tersenyum. Ia mendekatkan cincin Yoona pada cincin miliknya.

“Aku akan menyimpan cincin milikmu, Yoong. Sebagai tanda bahwa cinta kita akan abadi untuk selamanya,” ucap Luhan.

TRING! Tanpa disengaja, cincin milik Yoona terlepas dari tangan Luhan, jatuh menggelinding cukup jauh dari posisi Luhan berdiri. Pria itu pun bergegas mengejar cincin Yoona agar tidak kehilangan benda berharga peninggalan istrinya. Cincin itu pun berhenti bergerak setelah cukup lama menggelinding dari posisi Luhan sebelumnya. Luhan membungkuk, meraih cincin tersebut dengan senyum lega di wajahnya.

Namun tanpa disadari, Luhan sudah berada di tengah jalan raya. Dari arah kanan, terlihat sebuah mobil melaju sangat kencang sambil membunyikan klakson ke arahnya. Luhan terdiam. Ia tidak bergerak sedikitpun dan terus berdiri di tengah jalan raya itu. Perlahan mata Luhan terpejam.

BRAK! Tabrakan keras tak dapat dihindarkan. Tubuh Luhan terhempas hingga beberapa meter setelah tertabrak oleh mobil berwarna hitam tersebut. Beberapa orang yang melintas di sekitar lokasi kecelakaan, langsung berhamburan untuk menyelamatkan Luhan yang tampak mengenaskan dengan kepala bersimbah darah.

Sebelum orang-orang itu mendekati Luhan, pria itu terlihat masih membuka matanya seraya menoleh ke arah tangan kanannya yang menggenggam erat cincin Yoona. Pria itu tersenyum. Luhan kembali menggenggam erat cincin tersebut, hingga matanyaperlahan terpejam untuk selamanya.

ooOoo

Di sebuah tempat indah yang tidak ditemui di muka bumi, seorang wanita tengah berdiri di dekat sungai dengan air yang tenang dan dikelilingi oleh taman bunga yang begitu indah. Tak berapa lama kemudian, muncul sebuah cahaya putih. Cahaya putih itu perlahan memudar, dan terlihat seorang pria yang berpakaian sama dengan wanita tersebut, pakaian serba putih. Ia berjalan mendekati wanita itu. Wanita itu seolah sudah menunggu kehadirannya. Ia langsung membalikkan tubuhnya ke arah belakang. Keduanya kini saling berhadapan dengan senyum bahagia yang menghiasi wajah masing-masing. Keduanya berjalan saling mendekat.

“Yoona . . .”

Wanita itu tersenyum. “Aku sudah menunggumu, Luhan.”

Senyum merekah kembali terpancar di wajah keduanya. Tangan mereka bertaut. Sangat erat. Seolah tidak akan pernah terlepas. Keduanya punbergandengan bersama, menikmati tempat baru mereka dimana akhirnya cinta mereka kembali bersatu dan akan abadi untuk selamanya.

 

-THE END-

Annyeong, aku kembali dengan membawa FF LuYoon.
FF ini terinspirasi dari drama korea Endless Love/Autumn in My Heart, tahu kan yang diperankan sama Song Seung-heon dan Song Hye-kyo?
Feel sad dari drama itu dapet banget, aku suka. Nggak tahu kalo FF ini feelnya dapet apa nggak *lho*hehe ^^v*
Semoga kalian suka ya, terima kasih sudah membacanya ^^

33 thoughts on “(Freelance) Everlasting Love

  1. Walaupun akhirnya mereka berdua meninggal tapi cinta mereka tetap menyatukan mereka di kehidupan yang abadi…hwaaaaaa sweet bnget mereka tetap bersatu. .

  2. Abis liat WYF update IG dia aku langsung sedih gatau kenapa…..
    Dan anehnya aku malah korek2 FF LuYoon yg ada di YoongEXO. Cari yang sad dan menguras air mata.
    FF ini bagus banget walaupun memanh terinspirasi dr drama Endless Love tp tetep aja sedih banget :’)
    Keep writing kak🙂

  3. LuYoon!!! Pas baca nyesek thor, apalagi pas tau Yoona sakit. Etapi gak nyangka kalo Happy end~ gapapa deh yang penting LuYoon dipersatukan disurga^^

  4. Gue gak tau ini sad ato happy ending, 22nya mati tp bersama lg di dunia lain,, tp gue suka… Udah sering baca crita kyk gini, tp entah knapa gak pernah bosen… Ddaebakk…

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s