(Freelance) Butterflies : Together (FINAL)

butterflies6

 

Butterflies: Together [ FINAL ]

Author: Rashnzl  II Main Cast: Kris Wu I Im Yoona I Oh Sehun II Support Cast: Krystal Jung I others II Genre: Sad I Angst I Hurt II Rating: PG 15 II Length: Series

Disclaimer: All cast belong to God. Plot of story is mine. Don’t bash please.

a/n: Haloooooo. ini dia part final dari Butterflies>< dan Butterflies ini selesaaaaai:’’D Buat para readers yang baca, comment, nungguin ff ini, makasiiiiiii/terharu/ mian kalo part final ini lama dipostnya, I’ve trouble with my PC;o; keyboardnya gabisa dipake cobaa;o; inipun numpang laptop ortu dengan beraneka ragam alibi>,< Semoga suka!<3 Enjoy!

 

The Story Begins II Trouble II Peterpan II Should I? II Reality

 

 

Poster by ICE at HSG

.

.

.

Entah sudah hari keberapa Yoona risau dengan ponselnya. Menunggu balasan telfon atau pesan singkat dari seorang Park Chanyeol  yang entah mengapa menghilang bagaikan ditelan bumi. Tak ada telfon maupun pesan singkat dari namja jangkung yang menyandang status ‘kekasihnya’ tersebut.

Yoona menghembuskan nafasnya berat. Tak tahu apa yang harus ia lakukan. Menelfon atau mengirim pesan sudah ia lakukan, namun tetap saja. Chanyeol tak membalasnya. Apa aku berbuat salah padanya? Tapi…memangnya apa yang kulakukan?

 

Yoona menjatuhkan kepalanya, mengerang frustasi. “Neo eodiga, Chanyeol-ah?” gumamnya.

 

“Yoong!” Yoona menegakkan kepalanya, mencari sosok pemilik suara yang memanggil namanya. Dilihatnya Krystal tengah tersenyum melambai, lalu berjalan mendekat kearahnya.

“Oh, Hai, Krys” sapa Yoona begitu Krystal mengambil tempat disamping tempat duduknya.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Krystal, basa-basi.

“Tidak ada” jawab Yoona ringan, mencoba berbohong. Mata Krystal menyipit, mengintimidasi sosok gadis bermarga Im dihadapannya kini.

“Oh, ayolah, kau lupa kalau aku ini anak psikologi? Kau tak bisa berbohong padaku, Yoong” Yoona tersenyum getir. Ya, ia lupa jika ia memang tak pandai berbohong.

“Aku hanya….ya, sedikit khawatir dengan seseorang yang menghilang begitu saja”

“Seseorang? Nugu?” gumam Krystal berpikir.

“Ah! Tentu saja kekasihmu! Apa yang terjadi? Mengapa bisa dia menghilang?” tanya Krystal penasaran

 

Yoona lagi-lagi menghembuskan nafasnya berat. “Entahlah”

 

Krystal menatap iba sosok Yoona yang ia sebut sebagai ‘temannya’ kini. Tak ada senyum maupun aura semangat yang biasa Yoona tunjukkan. Apa Sehun juga terlibat?

 

“Sungguh, kau terlihat sangat menyedihkan saat ini, Yoong” Yoona tak bergeming, menatap kosong ponsel yang tergeletak dihadapannya.

“Hei, bagaimana jika kita melakukan hal-hal yang menyenangkan? Seperti…….berbelanja mungkin?” tawar Krystal, mencoba menghibur Yoona.

“Mianhae, tapi aku¾”

“Kau tahu bukan? Aku tidak menerima kata ‘penolakkan’ dalam bentuk apapun. Aku tak suka melihatmu seperti ini. Kajja, kita bersenang-senang!” ucap Krystal menggeret Yoona memasuki mobilnya, menuju salah satu pusat perbelanjaan besar di Seoul.

.

.

.

Krystal benar. Berbelanja memang dapat mengembalikan sosok Im Yoona sebenarnya. Keadaan hatinya yang burukpun berangsur membaik begitu kaki jenjangnya memasuki tiap-tiap toko maupun butik yang menarik perhatiannya.

“Bagaimana menurutmu?” tanya Krystal begitu keluar dari ruang ganti dengan setelan gaun putih ketat diatas lutut yang menampakkan keindahan jenjang kakinya.

Yoona tersenyum, mengacungkan kedua jempol tangannya sebagai jawaban. Ya,  Krystal selalu nampak sempurna dengan balutan busana apapun.

“Benarkah? Cocok denganku? Apa aku terlihat gemuk dengan gaun ini?” tanya Krystal ragu.

Yoona berjalan mendekat kearah Krystal, tetap dengan senyum yang terpampang diwajahnya. “Kau tidak percaya denganku, eoh?” tanya Yoona berpura-pura kesal. Krystal menatap diam Yoona, begitupun sebaliknya. Sedetik kemudian, terdengar gelak tawa dari keduanya. Mereka terkekeh bersama.

“Yoong, cobalah gaun ini!” ucap Krystal menyodorkan sebuah gaun berwarna soft-pink dengan bahu terbuka yang menjuntai pada Yoona. Yoona mengernyit. “Untuk apa?”

“Tentu saja untuk kau kenakan pada pesta eonnieku” jawab Krystal santai.

“Pesta? Pesta apa?” tanya Yoona

“Hanya pesta untuk merayakan ditentukannya tanggal pernikahan eonnieku dengan tunangannya” Yoona ber-oh ria. Ya, Yoona ingat Krystal pernah menceritakan tentang eonnienya yang sudah bertunangan padanya.

“Aku mengundangmu. Dan ingat, kau harus datang. Kau boleh mengajak kekasihm¾ah, maksudku Kris. Ya, Kris” ralat Krystal.

Krystal mencondongkan wajahnya. “Kau tahu, aku sangat ingin berkenalan dengannya”  Yoona mendengus tak percaya. Ia baru tahu jika Krystal bisa kekanak-kanakkan seperti ini.

 

“Ne, ne. Arra” sosok Yoonapun menghilang dibalik pintu ruang ganti.

 

Tak lama kemudian, mata Krystal membulat kaget. “Woah..daebak” gumam Krystal terkagum dengan sosok Yoona yang berbalut gaun panjang pilihannya. Yoona tersenyum canggung dengan tatapan Krystal. “Apa…terlihat aneh?” tanya Yoona, takpercaya diri.

Krystal menggeleng kuat. “Anio. Neomu yeoppoda, Yoong!” pekik Krystal lalu setengah berlari mendekat kearah Yoona.

“Kau benar-benar cantik, Yoong! Kurasa Jessica eonnie akan mengusirmu dari pesta nanti karena perhatian para tamu teralihkan padamu” Yoona terkekeh geli, menurutnya Krystal terlalu berlebihan.

“Kalau begitu, akan lebih baik jika aku tidak datang bukan?” Krystal menyipitkan matanya begitu mendengar ucapan Yoona.

“Dirumahku-pukul 7 malam-bersama Kris-harus datang.” Tegas Krystal. Yoona terkekeh. “Akan aku pertimbangkan” ucap Yoona, menggoda Krystal.

Krystal menatap sengit Yoona. “Ya! Kau bukan temanku jika tidak datang!”

.

.

.

Yoona segera merebahkan tubuhnya yang terasa remuk diatas sofa begitu sampai dirumahnya. Kantong-kantong belanjaannya ia letakkan sembarang, terlalu lelah untuk berberes.

“Ah, lelahnya~” gumam Yoona dengan mata tertutup. Mencoba mengistirahatkan seluruh anggota tubuhnya yang baru saja ia paksa kerja rodi.

“Kau baru pulang? Darimana saja?” tanya Kris yang duduk bersebrangan dari posisi Yoona. Ya, Kris memang sengaja menunggu gadis kecilnya itu pulang. Dan tak ia sangka, Yoona akan pulang selarut ini.

“Hanya bersenang-senang, oppa” Kris tertegun. Bersenang-senang…..?

Mata Kris tak sengaja mengarah pada kantong-kantong belanjaan Yoona dilantai. Ia menghembuskan nafasnya lega. Berbelanja rupanya.

 

“Oppa” panggil Yoona. Kris hanya berdeham, berpura-pura sibuk dengan bacaannya. “Kemarilah, oppa. Aku membutuhkanmu” ucap Yoona tetap terpejam.

“Ada apa?” Krispun bangkit, mendekat kearah Yoona. Menempatkan dirinya duduk disamping gadis itu yang terlihat kelelahan.

Yoona tak menjawab. Ia justru menjatuhkan kepalanya diatas pangkuan Kris, mencari posisi nyaman. Kris tersentak kaget. Apa yang dilakukan Yoona?

“Pinjamkan aku pahamu sebentar untuk bersandar, oppa. Aku terlalu lelah untuk berjalan kekamar” Kris tak bergeming. Sibuk menetralkan degup jantungnya yang berdegup berkali-kali lipat dari biasanya. Takut jika sang biang penyebab dipangkuannya itu mendengarnya.

Tak butuh waktu lama bagi Yoona untuk benar-benar terlelap. Dan kini, hanya ada dirinya dan Kris yang masih merasa kikuk dengan situasi seperti ini.

 

Menit demi menit berlalu.

 

Namun Kris tetap dalam posisi diamnya menatap wajah damai gadis yang tertidur dalam pangkuannya. Ia tersenyum lega mengingat dimana dirinya dan Yoona berada.

 

Diapartement Kris.

 

Memang, ingatan Yoona telah kembali. Dan gadis itu sepertinya sudah bisa menerima apapun kejadian yang kembali diingatnya¾termasuk kecelakaan itu. Ia tak lagi menyebut dirinya pembunuh, ataupun menangis histeris seperti saat itu. Dan Yoona lebih memilih tetap tinggal di apartementnya dari pada kembali kerumahnya. Bukan karena ia masih merasa kecewa terhadap kedua orangtuanya, namun lebih karena kesibukkan Tuan dan Nyonya Im yang benar-benar menyita segala bentuk perhatian baginya.

 

Yoona kesepian. Kris tahu itu.

Tuan dan Nyonya Im pun sudah sepenuhnya menyerahkan Yoona padanya. Mengingat apapun yang terjadi, Kris akan tetap menjadi suami dari putri satu-satunya keluarga Im¾sekaligus satu-satunya putra yang akan dianggap oleh keluarga Im.

 

Tanpa Kris sadari, tangannya terangkat menyentuh setiap helai surai panjang milik Yoona, membelainya lembut. Sudut bibirnya refleks terangkat begitu ia menyadari, betapa ia mengagumi setiap rinci pahatan wajah gadis itu dalam tidurnya.

Perlahan, wajah Kris mendekat kearah Yoona. Membubuhkan sebuah kecupan selamat tidur pada gadis¾yang ia tahu sudah jauh terlelap di alam mimpinya.

 

“Tidurlah, deerAku mencintaimu.

.

.

.

Yoona melenguh, merasakan silau sinar matahari yang menerobos masuk jendela kamarnya. Ia mengerjapkan matanya beberapakali sebelum kemudian menyadari ia telah terlelap didalam kamarnya.

Seingatnya, kemarin malam ia terlalu lelah untuk berjalan ke kamarnya sekalipun. Dan iapun berakhir terlelap diatas pangkauan Kris. Ah, Kris! Tentu dia yang memindahkanku kesini.

 

Yoona menyibakkan selimutnya, lalu bangkit dari ranjangnya berniat mencari sosok Kris untuk berterimakasih.

“Selamat pagi, oppa!” seru Yoona begitu melihat sosok Kris yang sedang berkutat didapur, menyiapkan sarapan, mungkin?

“Oh, kau sudah bangun, deer? Duduklah, aku sedang menyiapkan sarapan untukmu” Yoona tersenyum menggangguk. Menduduki sebuah kursi dengan kedua tangan menopang dagu, memerhatikan sosok Kris yang membelakanginya. Deer¾Panggilan itu, Yoona tersenyum mengingatnya. Saat itu, ia yang masih berpikiran polos khas anak kecil, merengek pada Kris agar lelaki itu memanggilnya ‘deer’ karena ia ingin terlihat lucu seperti anak rusa milik Paman Sam¾mantan tetangganya. Awalnya, Kris enggan menurutinya karena ia lebih menyukai memanggil Yoona dengan sebutan yang lebih normal, seperti ‘Yoong’ atau ‘Yoona-ya’. Namun pada akhirnya, Kris tetap memanggilnya deer hingga saat ini, bukan?

“Lain kali, jangan pulang larut seperti kemarin. Kau membuatku khawatir, deer” ujar Kris¾yang entah sejak kapan sudah duduk dihadapannya.

Yoona mengganguk, mengerti. “Ne, oppa. Mianhae, kemarin aku benar-benar butuh bersenang-senang. Aku tak bermaksud membuatmu khawatir”

“Apa ada masalah?”

Yoona mengibas-ngibaskan tangannya. “Anio, oppa. Hanya saja Chanyeol menghilang beberapa hari dan tak mengabariku sama sekali. Bukan masalah besar” tanggap Yoona tersenyum¾berpura-pura tentunya.

Kris terdiam. Lagi-lagi nama itu membuatnya sadar jika Yoona bukan miliknya saat ini. Sesaat, keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Namun Yoona yang lebih dulu sadar dari lamunannya pun berusaha mencoba mencairkan suasana.

“Oh, aku melupakan sesuatu. Apa oppa sibuk nanti malam?” Kris terlihat berpikir sejenak, lalu menggeleng tanda ia tidak sibuk.

“Temanku mengundangku datang ke pesta perayaan untuk eonnie dan tunangannya nanti malam. Dan dia memaksaku untuk mengajak oppa ikut bersamaku. Apa oppa mau menemaniku?” tanya Yoona berharap.

“Kurasa itu bukan ide yang buruk. Mungkin aku akan mendapat ‘kenalan’ baru yang cantik, termasuk temanmu itu” ucap Kris, bermaksud bergurau.

Yoona memutar bola matanya malas. “Oppa, penyakitmu kambuh lagi”

.

.

.

“Yoong!” panggil seseorang yang tak lain adalah Krystal. Yoona tersenyum, sedikit mengangkat tangan melambai kearah Krystal. “Aigoo, lihatlah dirimu, Yoong! Kau benar-benar membuatku iri” decak Krystal terkagum dengan penampilan Yoona. Membuat pipi Yoona merona karena tersipu malu.

“Kau datang bersama Kris, bukan?” tanya Krystal memastikan. Pasalnya, ia tak melihat sosok namja yang datang bersama Yoona.

“Tentu saja. Tak mungkin aku datang tanpa membawa pesananmu. Dia sedang memakirkan mobilnya terlebih dulu” ujar Yoona dengan nada kesal.

Krystal menggangguk paham. “Kajja, aku akan mengenalkanmu pada teman-temanku” ajak Krystal menarik lengan Yoona agar mengikutinya.

Tak sengaja, iris mata Yoona menangkap sosok pria pemilik iris pure hazel yang sangat familiar baginya. Sosok itu menatapnya dengan seulas senyum yang Yoona yakin, ber-arti buruk. Se..hun? Untuk apa dia disini?

 

Tak ingin mengambil pusing, Yoona pun mengalihkan pandangannya. Berpura-pura tak melihat sosok itu di pesta ini. Ia memilih menyibukkan diri bercengkrama dengan kenalan-kenalan barunya yang merupakan teman Krystal daripada meladeni tatapan Sehun¾yang ia yakin, terus mengarah kearahnya.

 

Yoona diam-diam mencuri pandang pada jam yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya. Sudah setengah jam berlalu, namun Yoona tak kunjung melihat sosok jangkung Kris dalam pesta ini. Yang ia lihat hanya segerombolan orang yang tak dikenalnya dengan setelan gaun maupun tuxedo elite disetiap sudut. Yoona merasa asing. Ia harap Kris segera muncul.

“Eonnie!” Yoona lantas menoleh, mengikuti arah pandang Krystal pada seorang gadis dengan gaun ketat berwarna merah selutut yang menampakkan keindahan lekuk tubuhnya.

 

Yoona membeku ditempat. Ia kenal dengan gadis itu.

 

Jessica berjalan mendekat kearah gerombolan Krystal¾tentu dengan Yoona didalamnya. Tersenyum hangat lalu memeluk Krystal dihadapan gerombolannya.

“Perkenalkan, ini Jessica eonnie, ratu dipesta ini sekaligus eonnieku” beber Krystal semangat. Yoona mematung. Benar-benar tak bergerak sedikitpun.

 

Jessica sedikit membungkuk, memberi salam pada tamu-tamu teman adiknya. “Jessica Jung” ucapnya, memperkenalkan diri.

“Eonnie, perkenalkan. Ini temanku, Im Yoona. Dia jurusan management”ucap Krystal memperkenalkan Jessica dengan Yoona. Jessica tersenyum, lalu sedikit membungkuk memberi salam pada Yoona. “Senang berkenalan denganmu, Im Yoona-ssi”

Yoona buru-buru membalas salam Jessica, berusaha menutupi keterkejutannya. “Selamat atas kebahagiaanmu, eonnie. Sungguh, pria itu sangat beruntung memiliki calon istri secantik eonnie” Lalu, bagaimana dengan oppa?

 

Jessica lagi-lagi tersenyum. “Ne, terimakasih, Yoona-ssi. Kau bahkan jauh lebih cantik dariku” balas Jessica.

“Eonnie, dimana Chany¾Ah! Disini, oppa!” panggil Krystal setengah berteriak. Yoona lantas menolehkan pandangannya. Kembali mengikuti arah pandangan Krystal.

 

Yoona lagi-lagi membeku ditempat.

 

Sosok itu………sosok yang ia rindukan. Sosok yang menghilang begitu saja tanpa mengabarinya sekalipun.

 

Sosok itu…kekasihnya.

 

“Oppa, kemarilah. Aku ingin memperkenalkanmu pada teman-temanku” ucap Krystal pada Chanyeol. Chanyeol tersenyum, berjalan mendekat kearah Krystal lalu memeluk pinggang Jessica dengan mesra. Sepertinya tak menyadari keberadaan Yoona yang tersentak kaget sekaligus tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Perkenalkan, ini Chanyeol oppa. Raja dipesta ini sekaligus calon kakak iparku” ujar Krystal bangga. Kalimat-kalimat pujian terlontar dari teman-teman Krystal begitu melihat sosok Chanyeol dan Jessica bersama.

 

Dan tepat saat itu, beribu-ribu pisau bagaikan menancap diseluruh tubuh Yoona. Mengoyak hingga hancur jiwa dan raganya.

 

Rasa sakit yang amat sangat menderanya, terasa nyata. Tidak, rasa sakit itu benar-benar nyata.

 

Seperti Jessica, Chanyeol tersenyum. Sedikit membungkuk memberi salam perkenalan. “Selamat malam. Aku Park Chanyeol. Senang berkenalan dengan kalian”

Chanyeol mengedarkan pandangannya, melihat setiap wajah-wajah baru yang akan mengenalnya sebagai suami dari seorang Jessica Jung kelak. Dan tepat disaat pandangannya bertemu dengan iris madu yang sangat dikenalnya, Chanyeol tahu. Ia telah menyakiti Tink-nya.

 

Yoona berusaha memperkuat dirinya. Ia hanya perlu tersenyum dan memberikan ucapan selamat, lalu bergegas pergi dari pesta bodoh ini.

 

Namun, semua terasa sulit baginya. Seluruh rongga paru-parunya terasa terendam air hingga ia bisa mati kapan saja. Butiran-butiran kristal bening terus saja mendesak keluar, hingga mau tak mau, Yoona harus segera pergi. Ya, akan sangat memalukan jika ia menangis disini. Ia tak ingin Chanyeol melihatnya hancur.

Chanyeol hendak meraih lengan Yoona, namun gadis itu menepisnya. Yoona segera membungkuk, berpamitan tanpa mengucapkan sepatah katapun. Membuat beberapa orang disekitarnya termasuk Krystal berdenyit bingung. Dan yang lebih membingungkan lagi adalah, Chanyeol mengejar sosok Yoona yang pergi menjauh. Chanyeol, sang raja pesta sekaligus calon suami Jessica Jung itu terlihat seperti berusaha memberi penjelasan pada Yoona.

 

Dan seluruh mata kini tertuju pada sosok Chanyeol dan Yoona begitu tamparan keras dari Yoona melayang dipipi kanan Chanyeol. Sedetik kemudian, semua tamu yang hadir melongo tak percaya begitu melihat gadis dengan gaun soft-pink itu menyiram sosok pria yang diketahui sebagai calon suami dari putri sulung keluarga Jung dengan minuman yang tersedia sebelum benar-benar pergi.

 

Taklama, seluruh mata yang tertuju pada Chanyeol beralih pada sosok gadis cantik dengan gaun putih¾yang dikenal sebagai putri bungsu keluarga Jung yang mendaratkan telapak tangannya keras pada pipi seorang pria tampan dihadapannya. Terlihat dengan jelas api kemarahan yang membara dari gadis itu.

 

“Aku.membencimu.Oh Sehun¾sangat” desis Krystal tajam. Lalu berlalu meninggalkan Sehun serta para tamu pesta yang mematung karena dua kejadian mengejutkan tadi.

.

.

.

Setelah hampir setengah jam diam meyakinkan dirinya sendiri, Kris pun memberanikan diri melangkahkan kakinya masuk kedalam pesta Jessica dengan tunangannya. Ya, Kris tau ini adalah pesta Jessica. Jessica Jung atau Jung Soo Yeon yang dikenalnya. Jessica Jung kekasihnya selama di Canada. Jessica Jung yang mengisi ruang hatinya selama 5 tahun lamanya.

Namun langkah Kris terhenti begitu melihat sosok Yoona yang setengah berlari keluar dari pesta, melewatinya begitu saja. Tanpa banyak pikir, Kris segera mengejar Yoona untuk meminta penjelasan darinya.

Berulang kali Kris memanggil Yoona untuk memintanya berhenti, namun gadis itu seperti tak mendengarnya. Yoona mempercepat langkahnya, melambaikan tangannya memberhentikan taksi. Tangannya yang hendak meraih knop pintu taksi tertahan oleh seseorang yang menariknya kedalam dada bidangnya, memeluknya erat.

“Wae? Apa yang terjadi?” tanya Kris khawatir.

Yoona membalas pelukkan Kris. Bahkan jauh lebih erat dari yang Kris lakukan. “Oppa..” lirih Yoona. Ia sudah tak tahan lagi. Dalam pelukkan yang semakin lama semakin erat, Yoona menumpahkan seluruh airmata serta isak tangisnya. Yoona menangis sejadi-jadinya. Membuat jas yang Kris kenakan benar-benar basah karena airmatanya. Kris balas membelai lembut kepala Yoona, berusaha meredakan isak-tangisnya yang terdengar memilukan baginya.

“Uljimma, deer. I’m here”  ucap Kris untuk kesekian kalinya. Sungguh, apapun akan ia lakukan agar Yoona berhenti menangis. Apapun.

“Oppa..aku ingin pulang” lirih Yoona. Ia melepas pelukannya dari Kris, lalu menghapus kasar pipinya yang basah dengan punggung tangannya.

Yoona melangkah dengan tertatih-tatih. Kakinya lecet karena ia berlari mengenakan heels tadi. Kris yang melihat itupun segera menyelipkan tangannya dibahu serta bagian belakang sendi lutut Yoona, menggendongnya ala bridal style dengan seluruh kekuatan atletisnya.

Yoona yang tersentak kaget pun refleks memeluk leher Kris, takut jika dirinya terjatuh. “Aku tahu kau kesulitan berjalan” ucap Kris lembut. Yoona memberanikan diri menatap Kris dengan mata sembabnya. Dari jarak sedekat ini, Yoona masih bisa mencium wangi parfum maskulin yang Kris gunakan walaupun bau apek jas basah yang Kris kenakan karena airmatanya tepat didepannya.

Kris meletakkan Yoona dibangku penumpang tepat disampingnya dengan hati-hati. Memakaikan sabuk pengaman pada tubuh gadis itu setelah menyampirkan jas miliknya dibahu Yoona yang terbuka. Membuat Yoona tertegun melihat sikap Kris¾yang menurutnya melebihi kata ‘manis’ didunia.

.

.

.

Kris bersikeras menggendong Yoona hingga masuk kedalam apartementnya meskipun Yoona berulang kali meminta Kris menurunkannya. Yoona tak ingin menyusahkan Kris. Lagipula, lecet pada kakinya takkan berlangsung lama.

“Aku akan mengambil air hangat untuk kakimu” Kris segera berlalu, tak membiarkan Yoona mengeluarkan alasan-alasan tak enak padanya atau apapun itu.

Taklama, Kris kembali dengan handuk kecil serta baskom berisi air hangat. Yoona memasukkan kakinya kedalam baskom perlahan, menuruti apa yang Kris perintahkan. “Lihatlah, kakimu lecet parah seperti ini. Lain kali, jangan berlari dengan sepatu berhak tinggi seperti tadi. Kau bisa terkilir jika melakukannya lagi” ucap Kris menasihati. Yoona diam menggangguk, menatap Kris yang tengah serius mengobati kakinya yang terasa perih.

 

Dan Yoona baru menyadari, Krisnya tak pernah berubah sekalipun. Krisnya masih tetap seperti dulu. Kris yang menyayanginya, melindunginya.

 

“Aku takkan memaksamu bercerita sekarang, tapi yang perlu kau tau, aku disini dan aku adalah Krismu. Kau bisa bercerita apapun padaku dan aku akan senang hati mendengarnya”

 

“Selesai. Kakimu akan membaik besok. Ganti bajumu lalu pergi tidur. Aku tahu kau lelah” Kris bangkit, mengacak pelan puncak kepala Yoona sayang. Namun sebelum Kris berjalan menjauh, Yoona dengan sigap menahan tangannya.

Kris menoleh, melihat kearah Yoona yang tertunduk serta tangan mungilnya yang berada dalam genggaman gadis itu. “Temani aku tidur, oppa. Jebal” pinta Yoona memohon.

Kris tersenyum. Tanpa berbicara, ia segera memposisikan tubuhnya tepat disamping Yoona. Mendekap gadis itu dalam lengan kekarnya. “Tidurlah, aku akan menemanimu” ucapan Kris membuat Yoona merasa jauh lebih tenang dibanding sebelumnya. Ah, atau mungkin karena dekapannya?

“Oppa, kau takkan meninggalkanku juga kan?” tanya Yoona berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

Kris mencium kening Yoona dalam. “Tentu saja tidak, deer. Aku janji” jawabnya.

Yoona meraih tangan Kris yang bebas, menautkannya dengan tangan miliknya. “Kau tahu oppa? Hanya kau yang bisa menghiburku disaat seperti ini. Appa, eomma, bahkan Chanyeol pun meninggalkanku”

Yoona mengambil nafas sejenak. Kembali merasa sesak mengingat apa yang baru saja dialaminya.

“Aku melihatnya, oppa. Aku melihat Chanyeol di pesta itu. Pesta yang tak lain untuk dirinya dan Jessica eonnie. Dia……dia akan menikah dengan wanita lain bahkan disaat dia masih menjadi namjachinguku. Dia….meninggalkanku, oppa. Kekasihku meninggalkanku” Airmata Yoona kembali menggenang. Ia tahu ia takkan bisa tak menangis untuk saat ini.

Kris mengeratkan dekapan serta genggaman tangannya pada Yoona. Tak ingin jika gadis itu kembali menangis. Yoona menggigit bibir bawahnya. Berusaha menahan isakkannya yang yang mulai terdengar. Nafasnya terasa sesak seakan pasokkan oksigen disekitarnya menghilang entah kemana. Namja brengsek.

Ia benar-benar benci menjadi rapuh seperti ini.

“Tatap mataku, deer” perintah Kris. Yoona menggeleng lemah. Ia tak mau Kris melihat dirinya yang sedang kacau karena airmata sialan itu.

Kris meraih dagu Yoona, memaksa gadis itu menatapnya. Perlahan, ia mencondongkan wajahnya dengan Yoona. Mendaratkan bibirnya pada bibir tipis milik Yoona  lembut. Yoona tersentak kaget. Airmatanya berhenti mengalir begitu saja berganti dengan ekspresi yang sulit diartikan.

Hanya beberapa menit, Kris pun melepaskan tautan bibirnya dengan Yoona. Berganti menatap lembut iris madu Yoona yang masih tak percaya dengan apa yang dilakukannya. “Maka dari itu, menikahlah denganku, Im Yoona. Aku takkan pernah meninggalkanmu karena aku mencintaimu. Izinkan aku untuk tetap berada di sisimu dan berhentilah menangis. Aku membenci setiap airmata kesedihan yang kau keluarkan” Yoona tak bergeming. Tak percaya dengan pendengarannya. Kris…melamarnya?

“Kris…”

“Aku mencintaimu, Im Yoona. Sungguh”

“Bukankah kau mencintai Jessica eonnie?” tanya Yoona yang dibalas gelengan kepala oleh Kris.

“Ya, tapi itu dulu Sekarang, aku hanya mencintaimu, deer” jawab Kris mantap. Mulut Yoona terkatup, tak mampu berbicara sepatah katapun. Ia mengalihkan pandanganna, berusaha menghindari tatapan Kris

“Aku ingin kau hanya menjadi gadisku, milikku. Tidak Chanyeol, maupun lelak¾”

“Aku lelah oppa. Aku ingin tidur” sela Yoona. Ia benar-benar takut dengan perasaannya saat ini.

Kris mengembuskan nafasnya berat. “Tidurlah. Jaljjayo, deer”

 

Mianhae, oppa. Saat ini, aku masih mencintai Chanyeol. Sangat.

.

.

.

“Oh, bukankah oppa adalah oppa yang saat itu?” tegur seorang gadis kecil pada Chanyeol.

Chanyeol tersenyum. Ia ingat siapa gadis kecil ini. Salah satu anak kecil yang dimintanya untuk memberikan balon pada saat ia menyatakan cintanya pada Yoona dulu. “Hai, kita bertemu lagi”

Gadis kecil itu segera memposisikan dirinya duduk disamping bangku yang Chanyeol duduki. Bangku yang sama yang Yoona duduki dulu. “Apa yang oppa lakukan disini? Mana eonnie cantik itu?” tanya gadis itu, polos.

Chanyeol memaksakan senyumnya. Mengacak gemas gadis kecil yang sekarang tengah menatap penuh minat pada eskrim stroberi yang Chanyeol beli. “Kau ingin ini? Ambillah” ucap Chanyeol menyodorkan salah satu eskrim dalam genggamannya. Gadis itu memekik kegirangan. “Jinjjayo? Aku boleh memakannya?”

Chanyeol menggangguk, “Tentu saja”

Gadis itu segera melahap eskrimnya. Membuat Chanyeol terkekeh geli karena tingkahnya. “Oppa tidak memakan eskrim? Ini sungguh lezat! Aku sangat menyukai eskrim rasa stroberi” celoteh gadis itu. Chanyeol kembali teringat pada Yoona. Ia sengaja membeli dua cone eskrim stroberi berharap ia akan bertemu Yoona dan semua kembali seperti awal. Seperti saat ia masih menjadi peter bagi Yoona.

“Oppa punya cerita. Apa kau ingin mendengarnya?” tawar Chanyeol. Gadis kecil itu pun menggangguk antusias.

“Saat masih kecil, oppa sering bermain ke taman ini, sama sepertimu.  Entah mengapa, oppa sangat menyukai taman ini. Oppa bahkan bisa bermain disini sepanjang hari”

“Suatu hari, oppa tak sengaja bertemu dengan seorang gadis bergaun putih tengah menangis dibalik semak-semak. Oppa rasa, dia ketakutan karena terpisah dari orangtuanya. Oppa menghampirinya, menyodorkan eskrim stroberi yang baru saja oppa beli. Berharap gadis itu berhenti menangis dan bisa diajak bermain. Dia mendongakkan kepalanya menatap oppa. Matanya sembab, tapi oppa tahu iris matanya sedang menatap lurus mata oppa. Tepat saat itu, oppa baru menyadari, gadis itu sangat cantik. Persis seperti peri.”

“Disaat gadis itu mulai berbaur dengan oppa, kedua orangtuanya datang. Ia memeluk kedua orangtuanya erat. Karena tak ingin mengganggu,oppa pun memilih berjalan menjauh sebelum gadis itu menyadarinya. Dan kesalahan terbodoh yang oppa lakukan, oppa tak sempat berkenalan dengannya. Pada akhirnya, oppa memanggilnya dengan sebutan ‘Tink’¾Tinkerbell”

Chanyeol menatap penuh sesal eksrim stroberi miliknya.“ Dan setelah berhasil menemukannya, Oppa justru menyakitinya. Oppa menyakiti Tink. Gadis yang sangat ingin oppa lindungi”

Gadis kecil itu terdiam seakan mengerti apa yang Chanyeol rasakan. “Heerin! Jangan bermain terlalu jauh, nak!” seru seorang ahjumma yang terdengar oleh Chanyeol.

“Aku pergi dulu, Oppa. Eomma sudah memanggilku” ucap gadis kecil itu¾Heerin, berpamitan dengan Chanyeol. Sedetik kemudian, Heerin mencium kilat pipi kiri Chanyeol. “Tink pasti mengerti, oppa. Aku yakin” Chanyeol tersenyum, kembali mengacak gemas puncak kepala gadis itu sebelum gadis itu benar-benar berlari menjauh darinya.

“Chanyeol-ah..” Chanyeol menoleh, sedikit terlonjak kaget begitu mendapati sosok Yoona tepat dibelakangnya. “A-apa benar yang aku dengar tadi? Kau…peter-ku?”

Chanyeol menggangguk pelan, “Senang bisa kembali bertemu denganmu, Tink”

.

.

.

“Krys, keluarlah. Sampai kapan kau berdiam diri didalam kamar seperti ini? Kau bisa sakit jika terus menerus seperti ini” bujuk Jessica untuk kesekian kalinya. Ya, sejak pesta kemarin malam, Krystal terus saja mengurung diri  didalam kamarnya. Membuat Jessica khawatir dengannya.

“Biarkan aku mencoba membujuknya, nuna” Jessica menggangguk, menggeser tubuhnya agar Sehun dapat berdiri diposisinya. “Aku percaya padamu, Sehun-ah” ucap Jessica lalu pergi menjauh, memberi space untuk Sehun dan Krystal menyelesaikan masalah diantara keduanya. Jessica memilih tak mencari tahu lebih jauh tentang masalah mereka. Yang ia tahu adalah adiknya yang mulai putus asa dengan sikap Sehun¾sahabat sekaligus pria yang disukai adiknya. Hanya sebatas itu.

Sehun mengeluarkan kunci cadangan kamar Krystal yang dulu sempat diberikan oleh gadis itu. Tak menyangka jika ia akan sangat memerlukan kunci itu saat ini. “Krys..” Sehun berjalan mendekat  kearah Krystal yang duduk mendekap lututnya disamping ranjangnya.

Krystal tersentak kaget, “Bagaimana bisa kau masuk?”

Sehun menarik sedikit sudut bibirnya. “Itu tidak penting”

“Keluar”

Sehun terdiam, ia tak pernah mendengar Krystal berbicara sedingin ini padanya. “Krys..”

“KELUAR KAU, OH SEHUN!” bentak Krystal. Kekecewaannya pada Sehun benar-benar sudah pada puncaknya. Ia tak habis pikir, Sehun akan dengan teganya melibatkan Chanyeol¾calon suami kakaknya dalam permainan bodoh ciptaannya. Sehun tau hal itu, dan dengan diam-diam ia merencanakan permainan yang tak hanya akan menyakiti Yoona, namun juga Jessica¾kakaknya. Krystal tahu betul bagaimana perjuangan Jessica untuk perjodohan ini. Jessica bahkan mengorbankan hubungannya dengan kekasihnya di Canada untuk belajar mencintai tunangannya¾Park Chanyeol. Dan disaat kakaknya sudah mulai mencintai Chanyeol, Sehun justru dengan egoisnya melibatkan Chanyeol dalam permainan bejatnya.

“Kukatakan padamu, ke…luar” liquid bening itu berhasil lolos dari pelupuk matanya. Krystal menangis untuk pertama kalinya dihadapan Sehun.

Krystal terisak. dipukulnya dada Sehun berkali-kali, mendorongnya agar keluar dengan sisa tenaga yang dimilikinya.

Sehun memaksa tubuh ringkih Krystal masuk kedalam pelukkannya. Memeluk gadis itu erat meskipun gadis itu terus meronta didalamnya. “Mianhae, Krys. Mianhae. Aku telah menyakitimu” bisik Sehun tepat diteling a Krystal. Membuat isak tangis Krystal semakin menjadi-jadi.

“Kumohon…berhentilah, Sehun-ah..” pinta Krystal lirih. Ia bisa merasakan anggukkan Sehun diatas kepalanya.

“Aku akan kembali ke Canada, Krys” Krystal tertegun. Apa ia tak salah dengar?

Krystal melepas pelukannya, menatap tepat iris pure hazel Sehun dengan mata sembabnya. “A-apa maksudmu, Sehun-ah?” tanya Krystal

Sehun menangkupkan kedua tangannya pada pipi Krystal. Sedikit menunduk mensejajarkan matanya dengan mata Krystal. “Jaga dirimu baik-baik, Krys. Terimakasih, untuk segalanya. Termasuk perasaan lebih yang kau berikan padaku”

Sehun melepas tangkupannya. sedikit tersenyum mengacak pelan puncak kepala Krystal. “Aku pergi” ucapnya. Sehun pun membalikkan badannya, mulai melangkah keluar dari kamar Krystal. Krystal berlari. Memeluk Sehun dari belakang untuk menahannya pergi. Ia tak ingin Sehun pergi. Ia tak ingin kehilangan Sehunnya.

“Jangan pergi, kumohon”

Sehun tak bergeming. Ia membiarkan Krystal menangis dipunggungnya.

“Tetaplah disini, disekitarku. Karena aku..aku mencintaimu, Sehun-ah. Sangat mencintaimu”ucap Krystal memohon.

Sehun melepas pelukkan Krystal. Membalikkkan badannya menghadap Krystal. Mendaratkan sebuah ciuman perpisahan pada bibir Krystal.

“Belajarlah hidup tanpa diriku, Krys” ucap Sehun kemudian berlalu, meninggalkan Krystal yang kembali terisak memohon padanya.

Maafkan aku, Krys. Aku tak bisa membalas perasaanmu padaku

.

.

.

Kris meremas kuat tangannya yang dingin dibalik punggungnya. Berusaha menutupi rasa gugupnya yang melebihi ambang batas. Entah sudah berapa lama ia berdiri menanti pintu itu terbuka, namun kenyataan justru terbalik.

Kapan pintu itu terbuka, eoh? Umpat Kris dalam hati. Ia benar-benar tak ingin mati konyol karena gugup. Sungguh.

Bunyi deret pintu mulai terdengar. Membuat Kris¾dengan setelan tuxedo putih yang berdiri diujung ruangan menoleh gembira.

Gadis itu disana. Berdiri diujung ruangan, berhadapan dengannya.

Dan Kris berani bersumpah, tak ada pakaian yang lebih sempurna dari apa yang gadis itu kenakan saat ini.

Perlahan, gadis itu melangkah mendekat kearahnya. Tangan kanannya tergenggam oleh sosok pria paruh baya yang sangat dikenalnya¾Tuan Im. Gaun yang ia kenakan dibiarkan menjuntai panjang, tergeret diatas karpet merah yang menjadi jembatan diantara keduanya.

 

“Aku percaya padamu, Kris” ucap Tuan Im lalu menyerahkan genggaman tangan putrinya pada Kris. Kris tersenyum. Genggaman tangan ini, ia takkan pernah melepaskannya.

Kini, keduanya telah berdiri tegap didepan altar. Saling mengucapkan janji sehidup-semati untuk saling mencintai satu sama lain.

Tetap bersama dalam keadaan apapun. Saling berbagi kebahagiaan maupun penderitaan. Karena sejak saat ini, Im Yoona, telah ditakdirkan menjadi tulang rusuk seorang Kris Wu.

.

.

.

“Kau memiliki alasan, bukan?”

Chanyeol tersenyum, menggangguk. “Ya, satu-satunya alasanku adalah aku mencintainya. Aku mencintai Jessica”

“Lalu, apa maksudmu tentang memintaku menjadi kekasihmu?”

“Maafkan aku, Yoong. Tapi aku harus melakukannya. Demi Yoora Noona”

“Maksudmu?”

Chanyeol mengacak lembut puncak kepala Yoona. “Kau tak perlu tahu”

Chanyeol bangkit, hendak berlalu. “Kris memintaku menjadi istrinya. Dia melamarku” ujar Yoona pada Chanyeol. Penasaran dengan tanggapan pria itu.

“Kalau begitu, terimalah. Kris jauh mencintaimu dibanding aku” jawab Chanyeol. Ia berharap, Yoona benar-benar menemukan kebahagiannya. Dan Chanyeol yakin, Kris lah orangnya.

.

.

.

Finnaly, It’s done!~;’D /terharu/ AAAAAAAAA legaaaaa~~~~~

Abis ini ga lagi deh bikin ff nyambung gini(?) gakuaaaat>.<

Ottokhae? Ending ceritanya sesuai harapan kah? Kris-Yoon? Jujur aja, aku ngeblank pas ending. Gapernah bikin ending acara nikahan gituuu>,< jadi mian kalo ga dijelasin apa aja yang mereka lakuin pas upacara itu(?) yakin pada udah tau kooook~muehehe

Sehun-Krystalnya ngegantung gitu ya/baru nyadar/ tapi yaaudahlah ya. Emang garela Aa Sehun pairing-an sama Krystal;b

Ohiya, author’s note ku dulu sempet ngungkit-ngungkit kata ‘hiatus’. Hmm, sedikit garelaa berhenti sementara dari dunia per-ff an:’ udah terlanjur mendarah daging soalnyaa/apandah/ Tapi ngeri juga btw, udah kelas 9 tapi masih gentayangan di dunia fanfic. UN ga tentang bias sih>,< jadiiii, aku pamit yaaap. sampai ketemu di ff selanjutnya yg gatau kapan updatenya

Sekali lagi, makasii buat para readers setia ff butterflies! *bow bareng Sehun*

 

54 thoughts on “(Freelance) Butterflies : Together (FINAL)

  1. aaaa daebakkk thor😀 suka banget ceritanya hhe
    pengen deh sequel yoonkris abis nikah hehe, mianhe banyak maunya😀

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s