(Freelance) Oneshot : Devil’s Heart

dh

 

Devil’s Heart

By Lee Yoon Ji

Main Cast

Im YoonAh | Kim Joon Myeon

Support Cast

Random

Genre

Action | Romance | Mystery

Length

Oneshot

Rating

Teen

Disclaimer

Cast milik Tuhan, SM dan orang tua masing-masing. Cerita murni milik saya.

Poster by Lluvia Art on HSG

**

“Apa yang paling kau inginkan di dunia ini?”.

“Tentu saja kehidupan”.

“Apa maksudmu Im YoonAh? Bukankah kau sedang hidup sekarang?”.

“Benarkah? Kalau begitu kenapa jantungku tidak berdetak, Kim Joon Myeon?”.

-Author-

Ruangan bervolume besar itu tetap sunyi. Seakan paham apa yang akan terjadi selanjutnya, seorang namja yang sedari tadi hanya memandang kosong lawan bicara di hadapannya mulai menarik sebuah pistol dari balik punggungnya. Gerakannya berhenti ketika bunyi nafas lain menggema dalam ruangan minim cahaya tersebut.

“Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku Ok Taecyeon?”. Tanya suara yeoja yang sedikit sumbang. Taecyeon memandang Yoona dengan lemah dan menarik sebuah senyum yang tidak sampai ke mata.

“Bergabung denganku Yoong, atau kau akan melihat dia mati tepat di depan matamu”. Taecyeon memajukan pistol hitam yang sudah ia tarik tuasnya ke hadapan seorang namja yang sedari tadi hanya diam, Lee Jonghyun.

“Lakukanlah”. Pupil mata Jonghyun melebar mendengar ucapan Yoona. Rasa tidak percaya langsung menyelubungi dada namja itu terlebih ketika dirinya melihat Yoona sudah memutar badan dari hadapannya dan pergi menjauh menuju pintu.

Dor!

-Yoona-

Aku hanya bisa menutup mata ketika ingatan 3 tahun lalu itu kembali berputar di kepalaku. Menyakitkan. Pupil mata Jonghyun yang menatapku dengan rasa tidak percaya, membuat sebuah lubang menganga dalam otak dan jantungku. Aku membiarkan seseorang yang kucintai harus mati dengan cara yang tidak seharusnya.

“Hey”. Panggil seseorang dari arah belakangku. Aku berbalik dan mendapati Suho sedang tersenyum sambil membawa dua botol Butterbear di tangannya. Kuraih satu dari dua minuman bersoda tersebut dan langsung membukanya saat itu juga.

“Ckckck…sepertinya aku melakukan hal yang benar kali ini”. Decak Suho sambil ikut membuka botol Butterbearnya.

“Akhir-akhir ini kau sering melamun noona”. Ucap Suho ketika tidak ada perbincangan yang terjadi antara kami selama beberapa menit. Aku menghempaskan punggung ke belakang dan menatap kosong ke arah tak berujung di belakang Suho.

“Molla…aku merasa ‘hilang’ akhir-akhir ini”. Bisa kurasakan pupil mata Suho langsung melebar dan dia langsung menegakkan tubuhnya mendengar ucapanku barusan.

“Apa maksud noona?”.

“Suho~yaa kau pernah bertanya padaku kenapa aku mau menerima pekerjaan ini kan?”. Suho langsung mengangguk ketika aku mengajukan balik pertanyaan yang 1 minggu lalu ia tanyakan.

-Suho-

Sebuah hawa dingin tiba-tiba menyelimutiku ketika Yoona noona mengajukan pertanyaan yang sempat kuajukan padanya 1 minggu yang lalu dan aku tidak tahu alasannya.

“Dan saat itu noona tidak mau menjawabnya”. Jawabku sambil terkekeh sumbang. Sebenarnya aku juga bingung kenapa yeoja seperti Yoona mau bergabung dalam pekerjaan yang notabene justru mengerikan di mata manusia.

“Kau mau mendengar jawabanku yang sebenarnya?”. Tanyanya lagi setengah menggoda. Aku langsung mengangguk dan menyingkirkan botol Butterbear yang isinya sudah kuteguk habis dan mulai memusatkan perhatian pada Yoona. Yeoja itu tampak berfikir sebentar lalu mulai menghela nafas yang terasa sangat berat.

“3 tahun yang lalu aku membuat sebuah kesalahan besar. Aku membiarkan seseorang yang kucintai mati di tangan orang yang…hampir punya profesi yang sama seperti kita”. Suara Yoona melembut ketika ia menyebutkan hal terakhir tadi dan aku sadar pasti dia sudah menyimpan hal ini sejak lama.

“Saat itu aku terjebak dalam dua pilihan. Memberi kesempatan orang yang kucintai untuk hidup namun aku tahu dia akan hidup dengan penuh kebencian terhadap diriku…atau membiarkan diriku sendiri terlibat dalam bisnis paling kotor di dunia”.

“Dan akhirnya yang noona pilih adalah…”.

“Tidak ada, pilihan itu tidak ada dalam pilihan yang diberikan. Aku sendiri yang menciptakan pilihan itu. Melanggar masa depan Tuhan yang kurasa sudah tahu aku memang di takdirkan untuk bergabung dengan kalian saat ini”. Yoona menghempaskan tubuhnya ke belakang sandaran sofa yang sedang di dudukinya. Mata coklatnya menerawang jauh menembus atap gedung yang selama 4 tahun terakhir ini menjadi tempat ku dan orang-orang lain yang telah putus asa bernaung. Membiarkan jiwa putih kami di selimuti sebuah kain tipis berwarna hitam. Memberi sebuah garis abu-abu tebal di antara jantung dan hati kami. Melarang kedua organ itu untuk berdetak.

“Lalu noona akhirnya menyetujui perjanjian dengan Charles yang nyatanya justru lebih memberikan noona sebuah persyaratan untuk sesuatu yang lebih kotor?”. Tanyaku dengan nada berusaha lembut sambil menatap tanda hitam bergerak di lengan mulus Yoona. Tanda itu meliuk-liuk seperti di tiup angin, memberikan kesan bahwa orang yang sudah memiliki tanda itu, tak akan pernah bisa kembali menarik kata-kata dan janjinya. Orang itu hanya akan bisa pergi dan kembali ke tempat yang sama.

“Ya. Pada awalnya, pekerjaan menjadi seorang ‘malaikat pencabut’ ini sempat kuragukan. Aku akan berdosa. Persis seperti orang yang dulu menembak mati kekasihku, tapi…ketika aku melakukannya untuk pertama kali, kupikir ini tidak terlalu buruk, toh aku sudah tidak punya perasaan saat ini”.

-Author-

Matahari sudah bersinar dengan terang ketika kamar berwarna hitam itu terbangun bersama penghuni di dalamnya. Yoona duduk di atas tempat tidurnya dalam keadaan setengah mengantuk dan masih tidak mengerti bagaimana bisa ia sudah ada di atas tempat tidurnya tersebut.

Klik.

Handle pintu di hadapan Yoona berputar dan menyebabkan sebuah gema kikuk dalam ruangan berukuran 7 x 8 meter tersebut. Di hadapannya berdiri seorang namja dengan sebuah tanda hitam di dahi. Mengangkat sebuah nampan berisi 1 gelas susu dan 1 piring sarapan.

“Aku bisa keluar Key”. Ucap Yoona ketika namja itu sudah meletakkan nampan tadi di atas meja dekat tempat tidurnya. Key tersenyum lalu ikut duduk di samping Yoona.

“Gweancanayo noona”. Balas Key lembut lalu bangkit berdiri dan menghilang secepat mata Yoona berkedip. Yoona meraih gelas susunya dan langsung meneguk habis air tersebut dalam beberapa detik.

“O! Apa ini?”. Tanya Yoona kepada dirinya sendiri sambil menarik sebuah kertas putih terlipat dua yang terselip di bawah piring sarapannya.

Dear Yoona

Aku menyimpan uang di bank…

P.S : Hati-hati. Mereka punya mata ketiga.

Charles.

-Yoona-

Aku melangkah dalam diam ketika sudah berada dalam bank kota yang di maksud Charles. Sepi. Terlalu sepi bahkan.

Srkk..srkk

Bunyi kertas bergesekan dengan kayu itu langsung membuat indera penciumanku menjadi tajam. Suaranya berasal dari lantai 2. Dengan amat berhati-hati ku naiki satu demi satu anak tangga yang terbuat dari kayu tersebut. Derit-derit kecil muncul seiring langkah kakiku yang juga semakin tinggi naik. Di ujung tangga teratas sebuah cahaya temaram muncul dan menyinari sosok seseorang dengan topi hitam tinggi. Dia menghadap ke dinding, oh bukan, itu bukan dinding. Itu ruang penyimpanan uang.

1…2…3

Sosok itu langsung melompat tinggi ke belakang dan berhasil menghindari serbuan pistolku. Sial.

Buk!

Tubuhku terhempas ke depan setelah kaki besar namja tersebut menghantam punggungku. Sayang dia tidak memperhitungkan waktuku selama menjalani pekerjaan sebagai ‘Setan Kematian’ ini. Ya. Aku seorang Setan sekarang. Bukan manusia. Seluruh jiwaku telah di bungkus oleh sebuah kain hitam bernama dosa. Diikat dengan seutas tali tipis bernama kesalahan. Aku terperangkap dalam sebuah penjara bernama neraka. Dan yang lebih buruk, aku diperintah seperti budak oleh seseorang yang bernama Charles Lincoln. Setan terakhir yang otaknya masih normal di banding setan-setan lain pada umumnya. Charles cenderung akan memberi kami perintah untuk menghukum orang yang salah, bukan justru menghasut orang tersebut untuk terus berbuat kesalahan.

Nafasku turun naik sambil terus berusaha mencari celah untuk menarik pelatuk pistol pada waktu yang tepat. Dari ekor mataku bisa kulihat namja itu juga ikut diam ketika sadar aku tidak akan menyerangnya. Diam tapi waspada ku balik badanku perlahan dan namja itu langsung mundur beberapa senti dari tempatnya berdiri, tapi ketika putaran tubuhku sudah sempurna, dia langsung berlari menerjang ke arah ku dan saat itu juga aku tahu aku hanya punya sepersekian detik untuk menyerangnya.

Dor!

Cipratan darah langsung mengenai wajah dan baju hitam yang kukenakan. Mata namja itu membelalak lebar melihat ujung pistolku sudah berada tepat di depan jantungnya dan adegan berikutnya yang kulihat adalah tubuh namja itu terjatuh di tanah.

Klik!

Aku langsung mengarahkan pistol hitamku ke arah pintu yang terbuka. Dengan hanya disinari cahaya bulan dari jendela, sebuah sosok tinggi muncul dengan sebuah tongkat hitam di tangannya. Astaga, dia…

“Malam yang panjang untukmu noona”.

-Suho-

“Apa yang kau lakukan di sini?”. Tanya Yoona ketika kami berdua sudah duduk di salah satu kursi panjang untuk nasabah bank. Aku meneguk sekali Butterbear yang tadi kubawa dan memandangi kegelapan yang sedang menyelimuti ruangan tempat kami berada.

“Charles yang memintaku untuk mengikuti noona karena dia takut noona tidak akan bisa menghadapi Jack Barts”. Kurasakan mata Yoona menatapku tajam dan benar saja, beberapa detik kemudian dia mendengus dan membanting kaleng Butterbearnya ke lantai.

“Dasar pria tua gila! Apa dia pikir kemampuan membunuhku akan hilang hanya karena selama 2 bulan lebih aku meminta cuti?”. Ucap Yoona sambil menekan kata ‘pria tua’ di awal yang membuatku tersenyum. Setelah kemarin aku melihat bagaimana diri seorang Yoona rapuh, hari ini aku kembali melihat dirinya yang ‘normal’. Dingin, tajam dan tegas.

“Tentu saja tidak noona. Charles pasti berfikir bahwa Barts tidak seperti target kita yang lain”. Kulihat Yoona menganggukkan kepalanya dalam diam dan langsung berdiri sebelum aku mengajaknya.

“Kajja, ucapanmu benar tadi. Ini malam yang panjang untukku dan yang kuinginkan saat ini hanyalah tempat tidur yang empuk dan segelas coklat panas buatan Jin Ki”. Yoona menyerahkan tangan putihnya ke hadapanku dan aku langsung meraihnya dengan hati berdegup kencang. Tunggu, bukankah seharusnya kami tidak punya perasaan?.

-Author-

Matahari Seoul sudah menyinari kamar Suho yang kebetulan bersebelahan dengan kamar Yoona. Tangan kanannya yang putih pucat di letakkannya di dadanya. Aneh. Masih berdegup.

“Apa yang sebenarnya terjadi?”.Tanya Suho pada dirinya sendiri. Tepat saat itu pintu di belakangnya terbuka dan menampakkan sesosok tubuh tinggi nan ramping milik seorang yeoja yang tadi malam juga muncul di dalam mimpi Suho.

“Kau tidur dengan nyenyak?”. Tanya Yoona sambil meletakkan sarapan Suho di meja yang menghadap jendela. Menampilkan pemandangan taman hijau yang di penuhi burung-burung kecil yang berebut roti dari Jonghyun.Suho menurunkan tangannya yang masih mencengkram dadanya dan menatap Yoona dengan berusaha normal.

“Tentu saja. Apa noona juga?”. Yoona mengangguk sambil tersenyum tipis lalu ikut duduk di pinggir tempat tidur Suho yang di dominasi warna hitam dan putih.

“Bagaimana kalau kita jalan-jalan hari ini?”. Yoona membuka suara sementara Suho bangkit berdiri untuk meraih gelas susunya dan meneguk minuman penuh kalsium itu dalam waktu 15 detik. Suho berbalik untuk menatap Yoona dan menemukan bahwa dia mengambil langkah yang salah. Pancaran kuat mata Yoona langsung menyihirnya dan membuatnya merasa ‘hilang’ selama beberapa detik.

“N…ne”. Jawab Suho sambil kembali berusaha mengatur degup jantungnya yang berdetak tidak normal.

“Ini benar-benar tidak normal”.

-Yoona-

Aku dan Suho berhenti ketika kami sadar sudah tidak ada lagi yang kami bisa lihat di taman kota yang tidak cukup jauh dari ‘apartement’ kami. Suho sedang menyeruput banana milknya sementara aku sedang asik menikmati gula-gula kapas yang tadi di belikan Suho.

Noona, apa yang paling noona inginkan di dunia ini?”. Tanya Suho ketika kami duduk di salah satu kursi kayu yang tertutup sedikit rerumputan. Aku menoleh untuk menatap namja itu dan mendapati dia sedang menatapku dengan serius.

“Tentu saja kehidupan”. Jawabku langsung. Ya. Itulah yang paling ku inginkan di dunia yang fana ini. Kehidupan.

“Mwo? Apa maksud noona? Bukankah noona sedang menjalani kehidupan sekarang? Noona hidup”. Balas Suho dengan nada bingung sekaligus ngotot. Aku langsung terkekeh sambil menatap anak-anak kecil yang sibuk berlarian menghindari kejaran badut taman.

“Jinjja? Kalau begitu kenapa jantungku tidak berdetak?”. Tanyaku balik sambil memegangi organ terpenting dalam hidup seluruh manusia. Kecuali aku tentu saja. Seperti yang kubilang, aku sudah bukan manusia lagi sekarang. Jantungku tidak perlu berdetak. Hatiku tidak perlu memiliki perasaan, walau harus ku akui beberapa hari belakangan ini ada sedikit keganjilan yang terjadi pada hatiku. Untuk beberapa momen,organ sensitive itu akan berdesir tanpa ku sadari sebelumnya. Dan itu semua karena seseorang. Seseorang yang sekarang duduk tidak lebih dari 30 cm di sampingku.

-Author-

Ruang kerja bertema minimalis itu langsung menghasilkan bunyi gema sumbang ketika pintu besi yang menutupinya terbuka dengan pelan. Seorang namja berkepala botak dengan kacamata bundar bertengger di hidungnya langsung berbalik untuk menghadap lawan bicaranya yang baru saja masuk tersebut.

“Mr. Lincoln”. Sapa Suho sambil membungkuk sedikit. Charles menganggukkan kepalanya lalu menunjuk kursi di hadapannya dengan tangan kanannya yang menghitam dan Suho bertanya-tanya apa yang terjadi padanya.

“Ada apa Kim Joon Myeon?”. Tanya Charles sambil menatap mata Suho dengan tajam. Suho meneguk saliva­-nya dengan kikuk. Tatapan mata Charles seperti sebuah tanda kematian untuk orang-orang yang pertama kali di tatapnya walau Suho bukan termasuk golongan tersebut.

“Ada sesuatu yang menganggu pikiranku akhir-akhir ini Charles dan kupikir mungkin kau tahu jawabannya”. Charles menarik tatapannya pada Suho dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Langit di belakang mereka sudah menggelap sebelum waktunya yang berarti rintik-rintik hujan mungkin akan mengguyur Seoul malam ini.

“Katakan”.

-Yoona-

Aku menyusuri koridor suram apartement tempat kami para ‘setan pembunuh’ tinggal bersama. Charles sengaja membeli sebuah gedung apartement di daerah pinggiran kota dan menyulapnya menjadi sebuah tempat tinggal untuk mereka yang sudah tidak ingin hidup sebagai manusia lagi namun juga tidak ingin mati terlebih dahulu.

“Yoona~yaa”. Panggil sebuah suara dari arah lift yang berada di ujung koridor lantai 4. Aku berhenti dan mendapati Sooyoung eonni sedang berlari kecil ke arahku.

Eonni”. Sapaku sambil membungkuk kecil. Sooyoung eonni tersenyum kecil lalu mengeluarkan secarik kertas dari kantong belakang celana hitamnya.

“Ini titipan dari Charles”. Aku menerima kertas terlipat dua lalu mengucapkan terima kasih pada Sooyoung eonni.

Dear Yoona

Sudah kusiapkan satu tiket pertunjukan musik

Untukmu…

Charles

Aku menatap isi kertas itu dengan sedikit bingung. Pertunjukan musik?. Bukankah biasanya Charles tidak ingin aku melakukannya di hadapan banyak orang?. Dan tunggu, dimana ‘P.S’ yang biasa Charles sertakan?.

-Suho-

“Jadi kau ingin mengatakan bahwa kau menyukai Yoona?”. Tanya Charles setelah aku menceritakan apa yang belakangan ini terus menganggu pikiranku. Aku mengangguk dalam diam dan tahu saat itu juga pasti Charles akan membunuhku tapi ternyata tidak. Setan itu justru mengeluarkan secarik kertas dan pulpen dari laci mejanya dan menulis sesuatu dengan cepat. Dia menekan angka 7 pada pesawat teleponnya dan beberapa detik kemudian Sooyoung noona muncul dan menerima kertas tersebut.

“Berikan itu pada Yoona”.

“Charles, apa itu?”. Tanyaku setelah Sooyoung menghilang dari balik pintu. Charles menarik senyum kecil yang tidak sampai ke mata.

“Oh, hanya ‘ini’ dan ‘itu’ walau jika kau tahu maksudnya aku yakin kau sudah menyusul yeoja itu sekarang. Kau akan tahu kenapa selama ini Yoona bersikeras untuk tidak mengungkapkan horror di masa lalunya”.

“Horor? Apa maksudmu mengenai mantan kekasihnya yang di bunuh itu?”. Tanyaku dan Chales tertawa kecil.

“Kau sudah tahu? Wah wah…sepertinya dari dulu tidak seharusnya aku merekrut kalian berdua. Kalian terlalu pandai untuk menjadi setan”. Aku mengangkat alis mendengar ucapan Charles.

“Dari semua manusia yang menawarkan diri menandatangani kontrak ‘kotor’ ini denganku, hanya kalian berdua yang tidak pernah menyentuh ‘pena’ yang sebenarnya. Itulah sebabnya kalian masih memiliki perasaan layaknya manusia. Jiwa kalian terlalu putih dan aku tidak tega merusaknya. Itu sebabnya kau masih bisa merasakan jantungmu berdegup kencang walaupun harus kukatakan kalian sudah berhasil mengerjakan pekerjaan ‘kami’ dengan baik”.

Jadi ini alasannya. Alasan kenapa selama ini aku masih bisa merasakan perasaan senang, gundah, kecewa ataupun sedih. Karena aku tidak menjadi setan seutuhnya dan begitu juga dengan Yoona. Tapi apa yeoja itu tahu? Apa dia juga pernah merasakan jantungnya berdegup kencang ketika berada dekat denganku?.

“Sekarang Kim Joon Myeon, jika kau ingin membuktikan ucapanku, pergi dan kejarlah Yoona. Kau tidak mau menyesal dan membanting benda-benda berharga dalam kantorku kan?”.

-Author-

Yeoja dengan rambut panjang hitam sebahu itu mendorong pintu kayu tinggi di hadapannya dengan susah payah dan setengah hati. Baginya, pintu itu seperti sebuah duri. Menusuk seluruh telapak tangannya dengan tajam dan pemandangan selanjutnya yang ia lihat seperti menghentikan aliran darahnya. Di hadapannya berdiri sosok yang sama yang 3 tahun lalu pernah memberinya sebuah pilihan tersulit yang pernah ia punya.

“Taecyeon?”. Ucap Yoona parau. Taecyeon menoleh dan sama terkejutnya dengan Yoona, namja itu mengangkat alis dan menuruni tangga panggung dengan suara ‘tap’ pelan.

“Apa yang kau lakukan di sini?”. Tanya Yoona sambil menggenggam erat pistol di balik punggungnya. Taecyeon mengangkat alis dan berhenti tepat ketika pintu di belakang Yoona terbuka lagi dan memunculkan sosok yang belakangan ini berhasil membuat jantung Yoona berdegup kencang.

“Suho~yaa”. Ucap Yoona masih dengan suara parau. Taecyeon ikut memandang Suho yang sudah maju menghalangi jalannya mendekati Yoona.

“Minggir”. Suho tetap berdiri tegak di tempatnya walaupun saat itu Taecyeon sudah mengeluarkan pistol dari balik punggungnya.

“Bunuh aku jika kau mau menyentuhnya. Dan jangan berani-berani memberinya pilihan lagi. Kau akan menyesal”. Yoona melepaskan cengkraman tangannya yang sedari tadi ada di bahu Suho dan menatap namja itu dengan bingung.

Dor!

Epilog

Noona, boleh aku bertanya sesuatu?”. Tanya Suho ketika dirinya dan Yoona sedang duduk bersantai di salah satu kursi taman dekat apartement Charles yang sudah 6 bulan ini tidak pernah mereka datangi lagi sejak kejadian terakhir yang mereka alami.

“Mmmm”.

“Apa…noona pernah merasakan sesuatu ketika bersamaku?”. Yoona menatap Suho dengan bingung namun sedetik kemudian dia mengerti dan tersenyum jahil.

“Pernahkah?? Kurasa tidak”. Jawab Yoona yang sukses membuat Suho memajukan bibir bawahnya. Tawa Yoona meledak ketika Suho terus memandangnya dengan tatapan penuh kecewa dan kesal walau akhirnya dia harus mengontrol diri karena tidak ingin namja di hadapannya itu semakin kesal.

“Aku bercanda. Kalau memang aku tidak merasakan sesuatu, aku tidak akan bersamamu sekarang”. Yoona merangkul Suho yang raut wajahnya sudah berubah 360 derajat mendengar perkataan Yoona. Sebuah ciuman singkat mendarat di bibir Yoona ketika Suho tanpa izin langsung memberinya ciuman. Keduanya tertawa dan tanpa sadar menatap sebuah jendela besar yang berada di lantai 4 gedung apartement di samping mereka. Sepasang mata menatap mereka dengan halus bersamaan dengan terbentuknya pemandangan sore yang menyilaukan mata.

Jadi inilah akhir dari semuanya. Tak pernah ada pilihan yang tidak mengandung resiko. Sekelebat jiwa putih yang murni tidak akan pernah bisa di selimuti kegelapan. Semua tergantung pada apa yang sebenarnya ingin kau lakukan. Dan pekerjaan sebagai setan pembunuh bukanlah pilihan. Itu hanya sebagai pelarian.

END.

*Ini gaje sumpah!!! Author aja gk tw maksudnya apaan cuman ini jari gak mau berenti ngetik. Akhir kata, mian kalo jelek *emang!* kekeke annyeong.

 

 

 

24 thoughts on “(Freelance) Oneshot : Devil’s Heart

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s