(Freelance) Oneshot : Don’t Go

don t go

 

Don’t Go

 

Author                  :  Kybi_byun

Main cast             : Park Chanyeol

Im Yoona

Other cast           : Kwon Yuri

Genre                   : sad

Rating                   : G

Lenght                  : Oneshoot

 

.

.

.

.

.

.

 

“aku bosan”

Berbeda dari apa yang chanyeol pertimbangkan, chanyeol pikir mata indah itu akan menyiratkan kemarahan tapi tidak. Mata indah itu menatapnya polos, hatinya berkata bahwa ia harus menghentikan ucapannya tapi pikirannya berkata lain.

“aku ingin kita mengakhiri hubungan kita”

Tidak ada jawaban yang ingin chanyeol dengar. Tatapan itu berubah menjadi sendu ingin sekali chanyeol pergi dari tempat itu ia tidak tahan. Chanyeol pikir gadis dihadapannya ini akan menamparnya memukulnya lalu menangis meraung raung tapi semua itu tidak terjadi hanya tatapan itulah yang diperlihatkan gadis itu.

Oh tidak mengapa chanyeol merasa bodoh, mengapa ia yang merasa sesak di dadanya padahal ia sendiri yang ingin mengakhiri hubungan ini.

Chanyeol berbalik meninggalkan gadis itu yang tetap setia berdiri di tempat itu. tidak ada tangan yang menahan chanyeol.

Hanya sebuah kata yang mampu menohok hati pria itu.

“kajima yeolli-ya”

Chanyeol masih mampu mendengar itu walau pelan. Mengapa chanyeol sesak mendengarnya. Perpisahan ini bukan tindakan yang terbaik untuk keduanya, tapi hanya bagi chanyeol tidak untuk gadisnya. Oh kata itu harus diralat menjadi mantan gadisnya.

 

5 tahun kemudian

 

Seorang pria menginjakkan kakinya untuk pertama kali di kota kelahirannya sekaligus kota kenangan dengan gadis itu setelah kepergiannya ke negri sakura. Penampilanya terlihat berbeda dari 5 tahun lalu dan ada satu lagi yang berbeda yaitu ada sebuah cincin indah yang tersemat di jari manisnya.

“aku kembali”

Langkah itu mengantarkan pria itu kesebuah rumah sederhana yang sangat dia kenali. Rumah itu terlihat kosong apakah mungkin penghuninya sedang pergi?

Pria itu melanjutkan langkahnya menuju sebuah kedai kopi dipinggiran kota seoul. Berniat menemui seseorang disana.

Lonceng itu berbunyi tanda bahwa ada seseorang yang masuk ke dalam kedai kopi yang nyaman itu. aroma kopi langsung memenuhi indra penciuman pria itu. mata bulatnya mencari sosok yang ia cukup kenali.

Tidak lama sosok yang pria itu cari sudah berada dihadapannya.

“chanyeol kau sudah kembali?”

“uhm, bisakah kita bicara sebentar”

“baiklah ikut aku”

Chanyeol mengekori gadis yang baru saja ia temui, gadis itu berjalan menuju tempat duduk di dekat jendela besar yang menyajikan pemandangan kota seoul yang sudah gelap karena cahaya matahari sudah digantikan oleh cahaya bulan yang temaram.

“sejak kapan kau kembali?”

“sejak.. mungkin 3 jam yang lalu”

“kau sudah bertemu yoona?”

“itu yang ingin aku tanyakan padamu, tadi aku berkunjung kerumahnya. Tapi rumah itu tampak sepi, apakah kau tahu yoona berada dimana?”

Yuri. Gadis yang sedang berada dihadapan chanyeol mengalihkan pandangannya pada jendela tepat disampingnya.

“dia tidak memberi tahumu?”

“sejak aku dijepang kami tidak pernah berkomunikasi”

Dalam hitungan detik yuri langsung menatap pria dihadapannya dengan dahi yang berkerut halus. Chanyeol cukup heran dengan perubahan raut gadis itu.

“bagaimana mungkin? Yoona bilang kalian selalu berkomunikasi”

Giliran chanyeol yang mengkerutkan dahinya pertanda bahwa ia bingung dengan ucapan yang baru saja masuk ke gendang telinganya.

“beri tahu aku dimana dia?”

“dia berada dirumah sakit seoul”

“mwo?”

Walau tidak berteriak yuri tahu bahwa chanyeol cukup kaget dengan ucapannya. Bukankah yoona bilang mereka saling berkomunikasi? Bagaimana mungkin chanyeol tidak mengetahui yoona di sedang dirumah sakit? -Pikir yuri.

 

 

Chanyeol masih mengingat dengan jelas saat matanya menelusuri taman yang ia lewati dari kaca mobil yang ditumpanginya. Chanyeol tak menyadari bahwa ia tersenyum manis karena mengingat potongan kenangan nya bersama seseorang yang pernah mengisi ruang hatinya.

Atau mungkin masih mengisi ruang hati chanyeol?

Ah chanyeol merasa bahwa ia bodoh meninggalkan gadisnya untuk gadis lain. Munafik jika ia tak membenarkan bahwa ia cukup ragu untuk semua ini. Tapi chanyeol pikir ini yang terbaik untuknya.

Tetapi tidak untuk gadis nya.

 

303

Ruangan yang chanyeol tahu sebagai kamar inap gadis yang pernah mewarnai hidupnya.

Terdapat sebuah susunan huruf hangul di pintu itu yang bertuliskan

Im yoona

Chanyeol merasakan hatinya bergetar saat membaca hruf hangul itu. mengapa tiba-tiba ia merasa seperti ini? Entahlah ia pun tak tahu.

Chanyeol dapat melihat dengan jelas dari jendela kecil di samping pintu kayu itu. Jendela yang memperlihatkan isi ruangan itu.

Gelap. Apa penghuninya sedang pergi?

Chanyeol membuka perlahan pintu kayu itu agar tidak berdecit, chanyeol tidak ingin mengganggu penghuninya walau dia ragu apakah penghuninya berada diruangan itu atau tidak.

Tubuh chanyeol serasa membeku dadanya serasa sesak. Ruangan itu cukup gelap hanya bermodalkan cahaya dari luar jendela yang terbuka.

Walau seperti itu chanyeol dapat melihat dengan jelas seorang gadis yang sedang duduk di pinggir ranjang rumah sakit itu dengan menghadap jendela. Gadis itu membelakanginya tapi chanyeol yakin gadis itu adalah orang yang ia cari.

Perlahan kaki itu melangkah pelan menuju gadis itu. Ia memilih duduk disamping gadis itu. Sekarang ia dapat melihat dengan jelas wajah itu oh betapa chanyeol sangat merindukan pahatan indah itu.

Wajahnya agak pucat, kelopak matanya menutup menyembunyikan mata yang indah. Dia terlihat sangat cantik walau hanya cahaya temaram rembulan yang menerangi wajahnya. Chanyeol merasa nyaman melihat wajah tenang gadis itu.

Ia mulai ragu untuk melanjutkan hidupnya tanpa gadis itu.

“mengapa kau baru datang yeolli?”

Chanyeol terkesiap saat suara yang hampir seperti bisikan itu menyeruak kedalam telinganya.

“bagaimana bisa kau tahu ini aku, padahal kau menutup matamu. Yoongie?”

Mata indah itu terbuka tidak ada tatapan ceria ataupun polos yang diperlihatkan gadis itu. Hanya tatapan sendu yang dapat chanyeol lihat.

Akhirnya tatapan itu saling bertemu kembali setelah 5 tahun.

“walau aku tidak dapat melihat sekalipun aku tetap akan tahu keberadaanmu yeolli.”

Gadis itu kembali memalingkan wajahnya kembali menghadap jendela besar dihadapannya.

Berbeda dengan chanyeol ia enggan memalingkan tatapannya dari gadis itu.

Keheningan itu menyelimuti keduanya. Chanyeol bingung harus mengatakan apa, dadanya sesak melihat seorang yoona seperti ini. Wajahnya pucat tubuhnya terlihat kurus dari terakhir kali ia melihat gadis ini.

“apa kau baik-baik saja selama kau di jepang?” yoona memecah keheningan diantara keduanya.

“ne” chanyeol merasa tidak sanggup untuk berbicara lebih banyak dari itu. Tapi itu bukan tujuan awalnya. Ia harus segera mengatakan tujuan awalnya pada gadis disampingnya ini. Tapi chanyeol rasa ia harus menanyakan kabar gadis itu terlebih dahulu. Hanya untuk sekedar baerbasa basi.

Atau memang chanyeol ingin mengetahui kabar gadis itu?

“bagaimana denganmu? Apa yang terjadi padamu, mengapa kau berada di sini?”

Senyuman itu. Masih manis seperti dulu. Mengapa yoona masih tersenyum pada chanyeol? Jelas-jelas pria itu telah mengkhianatinya.

“hanya pusing dan demam.”

“benarkah?”

“uhm.”

“aku kemari untuk memberimu ini.”

Sejujurnya chanyeol berat untuk memberikan benda itu pada yoona. Dia tidak ingin menyakiti yoona lebih lagi. Tapi entah kenapa chanyeol tetap memberikannya pada yoona. Chanyeol mengambil benda itu dari saku jaket yang ia kenakan dan menyodorkan benda itu pada yoona.

Yoona menoleh dan memusatkan pandangannya pada benda yang chanyeol sodorkan padanya.

Sebuah surat undangan pernikahan

 

Chanyeol & Tiffany

 

Yoona mengambil surat undangan itu dari chanyeol. Tubuhnya serasa membeku dadanya begitu sesak dan bulir air itu berdesakan ingin keluar dari mata indahnya.

Tapi ia menahannya dan tetap tersenyum walau menyakitkan. Dia tidak ingin membebani chanyeol.

Sebenarnya yoona mengetahui jelas siapa gadis yang bernama tiffany itu.

Dia adalah teman satu kampusnya dan juga chanyeol. Tiffany adalah seorang gadis cantik yang memiliki eye smile yang cantik jika ia tersenyum. Seorang gadis yang cukup populer di kampusnya. Seorang fashionista yang berasal dari keluarga kalangan atas. Sangat berbeda jauh dengannya. Walau ia tak kalah cantik dengan kesederhanaannya.

Dan bagaimana mungkin chanyeol dapat menolak pesona gadis bernama lengkap tiffany hwang itu? tetapi itu tetap saja salah bukan?

Karena chanyeol telah berjanji pada yoona akan selalu mencintainya dan tidak akan pergi meninggalkan gadis bermarga im itu.

“chukkae yeolli.”

Dugaan chanyeol salah besar. Sama seperti dulu ia pikir yoona tidak akan menerimanya. Ia pikir Yoona akan menangis meraung raung dan memukulinya. Tapi ternyata salah.

Gadis itu tersenyum dan mengucapkan selamat padanya. Tapi mengapa itu terasa lebih menyakitkan bagi chanyeol. Sepertinya lebih baik memukuli dan menangis meraung raung dari pada harus seperti itu.

Chanyeol sudah tidak tahan dia ingin beranjak sekarang juga dari tempat itu.

“terimakasih. Bukankah kau bilang kau hanya demam? Kuharap esok kau bisa datang. Maaf jika surat undangan itu terlambat aku berikan.”

Sebenarnya chanyeol tidak sungguh-sungguh untuk mengucapkan itu. chanyeol tidak ingin melihat yoona menangis karena bagaimana pun chanyeol tahu bahwa yoona tersakiti.

Bukankah ia bodoh? Ia tidak ingin melihat gadis itu tersakiti tapi ia sendiri melakukannya. Menyakiti gadis itu. entahlah mungkin chanyeol sudah gila.

“akan kuusahakan.”

“ini sudah malam aku harus pergi. Kau harus cepat sembuh dan menyusulku untuk menikah.” Chanyeol tersenyum. Senyum yang terlihat menyedihkan. Ia bangkit dari duduknya dan akan melangkah pergi dari tempat itu menuju tempat yang akan ia tuju selanjutnya.

Tapi tangan mungil itu menahannya untuk pergi.

Chanyeol berbalik menghadap yoona dan betapa terkejutnya ia saat yoona memeluknya.

“kumohon hanya sebentar yeolli-ya.”

Chanyeol tertegun. Jantungnya berdetak cepat persis seperti ia melihat gadis ini saat pertama kalinya beberapa tahun silam. Dan akan tetap seperti itu.

Chanyeol membalas pelukan itu. ia tahu yoona menangis dipelukannya. Ia menenangkan gadis itu dengan membelai lembut surai hitam pekat milik gadis itu. kejadian sama seperti dulu menenangkan yoona dengan membelai rambutnya yang harum juga lembut itu kegiatan yang sangat chanyeol sukai.

Biarkanlah seperti itu. mungkin ini terakhir kalinya chanyeol memeluk gadis itu sebelum ia menikah.

Yoona melepaskan pelukannya. Ia sangat bersyukur bahwa ruangan itu gelap dan ia membelakangi jendela itu dan cahaya itu tidak menerpa wajahnya karena yoona tidak ingin chanyeol melihatnya menangis.

“maafkan aku-“

“aku baik-baik saja yeolli. Pergilah”

“aku pergi yoongie”

Sekali lagi chanyeol menatap gadis itu dan berbalik melangkahkan kaki panjangnya meninggalkan ruangan itu.

Meninggalkan yoona.

“tetaplah memanggilku seperti itu. panggilan yoongie itu aku menyukainya.”

Chanyeol menghentikan langkahnya sebentar berniat untuk mendengarkan ucapan yoona ‘nya’.

“ne” ia menjawab tanpa membalikan badannya untuk sekedar melihat yoona. Hanya sedikit menoleh.

Yoona menatap punggung itu hingga tak terlihat lagi karena pintu itu menghilangkan sosoknya dari ruangan gelap ini.

Maafkan aku yoongie.

Chanyeol melanjutkan langkahnya menuju tempat untuk masa depannya tanpa gadis itu. tanpa yoona ‘nya’.

 

 

Yuri langsung berlari dari tempatnya bekerja. Ia kalang kabut setelah seorang suster rumah sakit yang merawat sahabatnya yoona memberi tahunya bahwa yoona gadis itu sedang kritis.

Yuri terengah karena berlari sepanjang koridor rumah sakit untuk sampai pada ruangan itu.

Suasana tegang menyelimuti ruangan itu. alat pendeteksi jantung itu tak menunjukan keadaan baik dari pasien yang berbaring itu. dokter dan suster di ruangan itu berusaha yang  terbaik untuk pasien mereka.

 

Pintu gereja itu terbuka memperlihatkan seorang gadis cantik berbalut gaun yang sangat indah berjalan menuju altar dengan tangan yang digenggam oleh seorang pria yang terbilang sudah tua. Semua perhatian tertuju pada mempelai pengantin wanita itu tak terkecuali pria tampan yang mengenakan tuxedo hitamnya yang sudah berdiri di depan altar siap menyambut mempelai pengantin wanita itu.

 

‘Kau tau apa impianku?’

‘Apa? Beritau aku.’

‘Impianku itu berjalan menuju altar dengan memakai gaun yang sederhana tetapi cantik dan seseorang akan menggenggam tanganku juga mengucapkan janji pada tuhan’

‘Siapa yang kau inginkan menjadi seseorang itu?’

Tentu saja seorang pria yang tampan dan bertanggung jawab dan juga menyayangiku

ah itu pasti diriku bukan?

Kau itu terlalu percaya diri hahaha

Ya! Awas kau im yoona

 

Mengapa chanyeol serasa melihat bahwa yang berjalan menuju dirinya adalah gadis itu. gadis yang bernama im yoona itu. oh sepertinya chanyeol mulai gila. Chanyeol terdasar dari lamunannya saat pria dengan rambut yang sudah memutih itu menyerahkan tangan yang sedari tadi ia genggam pada chanyeol.

“jaga putri ku baik-baik.”

“n-ne abeoji.”

Upacara pernikahan itu dimulai dan mempelai pengantin mulai mengikrarkan janji mereka.

“bersediakah kau park chanyeol mencintai dan menyayangi istrimu tiffany hwang dalam keadaan suka maupun duka sakit maupun sehat dalam keadaan apapun.”

 

Aku mencintaimu park chanyeol

 

“chanyeol” tiffany berbisik pada chanyeol untuk menyadarkannya bahwa ia harus segera mengucapkan janjinya.

“a-aku.. bersedia.”

 

 

Tuuuuuuuttttt

Garis panjang pada alat pendeteksi jantung tersebut menandakan bahwa jantung yang terdeteksi tidak lagi berdetak.

Bahwa jantung pasien itu. jantung gadis itu tak lagi berdetak sebagaimana mestinya.

Kelopak matanya tertutup indah tak akan pernah lagi terbuka untuk memperlihatkan mata indah gadis itu lagi.

Aliran darah itu tidak akan pernah berdesir lagi seperti dulu. Semuanya telah berakhir.

Kehidupannya sudah berakhir. Tugasnya sudah berakhir untuk selalu menunggu pria itu. Tapi satu hal yang tidak akan pernah berakhir.

 

Cintanya untuk pria itu tidak akan pernah berakhir sampai tidak akan ada lagi kehidupan didunia ini.

 

 

 

 

Butuh waktu 1 jam untuk menunggu dokter keluar dari ruangan itu. ia takut bahwa dokter itu akan berbicara tidak sesuai harapannya. Yang ia takuti terjadi dokter itu menggelengkan kepalanya tanda bahw ia gagal.

Yuri tidak dapat menahan tangisnya lagi. Tangisnya pecah saat melihat sahabat yang ia anggap seperti saudara itu sudah terbujur kaku dan tertutupi kain putih.

Dia tidak akan mendengar tawanya, tidak akan melihat senyuman dan tatapan polos itu lagi.

Sahabatnya telah pergi karena penyakit jantung yang dideritanya. Pergi untuk tidak kembali.

 

Drrtdrrrrt

Ponsel itu bergetar tanda ada panggilan masuk. Yuri segera mengangkatnya walau ia tak ingin. Ia bahkan tak dapat berkata-kata karena terlalu shock atas kepergian yoona dan karena dadanya begitu sesak ditambah saat ia melihat sebuah surat undangan pernikahan chanyeol.

Oh begitu malangnya kah yoona sahabatnya

 

“yeoboseyo”

“yuri apakah kau bersama yoona?katakan padanya untuk tidak perlu datang”

“………………”

“yuri”

“………….”

“yeoboseyo”

“dia tidak akan pernah datang. Dia sudah pergi ketempat yang jauh untuk waktu yang sangat lama. chanyeol.”

“mwo? Apa maksudmu?”

.

.

.

.

.

.

.

.

.

 

Aku juga mencintaimu im yoona

 

 

 

Bukankah hukum alam tetap berjalan. Sekarang pria itu yang mengatakan ‘jangan pergi’ untuk gadisnya. Berbalik dengan apa yang terjadi dulu.

 

 

Awalnya aku tidak ingin percaya. Tapi itu semua memang terjadi dan aku harus mempercayainya.

Bahwa kau bukan takdirku…

END

 

Annyeong.. makasih udah baca ff ini. Mohon maaf kalau ff nya jelek, feelnya ga dapet maklum ff pertama hehe, tadinya ff ini tuh lumayan panjang tapi aku potong lagi jadi pendek soalnya takut bosen bacanya #maaf jadi curhat haha. Diminta kritik dan sarannya soalnya masih baru dalam dunia per ffan.. Makasih #bow

 

 

44 thoughts on “(Freelance) Oneshot : Don’t Go

  1. Waaaaah.. sedih eon… pgen sequel.. pgen tau kehidupan chanyeol selanjutnya gmna? Plus reaksi chanyeol ps tau yoona mninggal gmn yah…. hehe tpi thoor ff nya kreeen bkin nangis bombay.. hahaha keep fighting thoor.. ^^ lnjutkan kryamu slnjutnya..

  2. huaaa nyesek😥 kenapa chanyeolnya ga sempet bahagiain yoona😦
    itu di akhir chanyeol juga ngerasa kan kalo dia masih sayang sama yoona? :’)

  3. aduhh ini ff sedih banget thor,keren keren di tunggu ff barunya ya thor 🙂
    figthing buat author🙂🙂🙂

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s