(Freelance) Twoshoot : Diference (Chapter 1)

 Luhan- Yoona

Author : Hwang Sooeun

 

Title : Difference | Cast : Xi Luhan & Im Yoona | Genre : sad, romance | RATING : PG 15+

 

Poster by :

Yessy Mandzukic@EXO Kingdom

 

Seorang gadis kini tengah mengetuk -tidak lebih tepatnya menggedor- pintu kamar seorang lelaki yang baru saja akan memejamkan matanya untuk tidur. Dengan malas lelaki itu berjalan kearah pintu, ia sudah tau siapa yang datang dengan cara menggedor pintu seperti itu. Dengan sangat terpaksa lelaki itu membuka pintu apartemennya.

 

“Yak! Kenapa lama sekali!” gerutu orang itu.

 

“Ada apa kemari Yoong? Baru saja aku akan tidur kau malah menggangguku. Dan berhentilah menggedor pintu apartemenku, bukannya sudah aku katakan walaupun ini apartement sederhana tetapi apartemen ini memiliki bel” cerca lelaki itu kesal.

 

“Luhan-ah jangan marah” ucap gadis itu -Yoona- lembut. Sang lelaki -Luhan- hanya membuang nafas ketika melihat perubahan dari ucapan gadis tersebut. Ia sudah tau kelanjutannya.

 

“Luhan-ah aku mau curhat, dan kau harus mendengarkannya, arra?” perintah Yoona. Benar saja dugaan Luhan. Ia sudah hafal gerak-gerik Yoona ketika dirinya akan dijadikan ‘korban’ curhatannya. Setiap ia menanyakan kenapa harus dirinya yang menjadi korban curhatan Yoona, gadis itu selalu menjawab karena Luhan adalah pendengar yang baik. Hei bahkan Luhan malas mendengarkan curhatan Yoona, ah tidak lebih tepatnya topik curhatannya.

 

Yoona dengan cepat menarik Luhan memasuki kamar. Hei jangan berpikiran buruk dulu. Itu memang kebiasaan Yoona, karena menurutnya semua yang dimiliki Luhan adalah milikinya juga -walaupun Luhan tidak terima akan itu-. Tapi Yoona tidak peduli, ia  hanya mendeskripsikan bahwa apapun yang dimiliki Luhan, itu juga merupakan miliknya.

 

Luhan tidak bisa berbuat apa-apa, tentu saja karena Yoona adalah anak seorang pengusaha kaya, berbeda dengan dirinya yang hanya seorang anak yatim piatu yang beruntung memilik sahabat seperti Yoona. Sahabat? Sepertinya Luhan memiliki perasaan lebih.

 

“Duduklah” ucap Yoona.

Luhan menuruti, lalu duduk diranjang -yang memang tidak terlalu besar- dan menghadap Yoona.

 

“Luhan-ah

 

Wae Yoong?”

 

“Kau… mengapa selama ini selalu menuruti perkataanku?” tanya Yoona membuat Luhan terdiam sebentar.

 

“Tentu saja karena kau sahabatku. Mengapa tiba-tiba kau bertanya begitu?” tanya Luhan. Raut wajah Yoona tiba-tiba berubah. Luhan menjadi bingung sendiri. ‘Apa ada yang salah dari ucapanku?’ batin Luhan

 

Wae Yoong?” tanya Luhan lagi. Yoona tersenyum, dan perubahan yang tiba-tiba itu membuat Luhan bertambah bingung.

 

“Tidak. Jadi kau mau kan mendengarkan curhatanku?” tanya Yoona. Luhan yang tadinya masih bingung kini berubah menjadi malas. ‘Apa- apaan gadis ini’ gerutu Luhan dalam hati

 

“Tentu saja” angguk Luhan lemah. Dan tentu saja mendapat respon baik dari Yoona.

 

Dan malam yang sunyi ini, berubah menjadi bising karena seorang Yoona yang sedang berbicara panjang lebar tentang seseorang ‘yang katanya’ sangat spesial.

 

‘SEHUN’

 

.

 

.

 

Luhan membuka kedua matanya yang masih berat ketika alarm handphonenya berbunyi. Ia lalu mematikan handphone -yang memang tidak terlalu bagus- itu dan beranjak menuju kamar mandi untuk bersiap-siap masuk kuliah.

 

Semalam ia harus rela menahan kantuknya demi mendengarkan curhatan Yoona mengenai orang spesialnya itu. Itulah sebabnya Luhan tidak suka ketika Yoona meminta dirinya untuk mendengarkan ocehan panjang lebar yang dilontarkan gadis itu. Coba saja Yoona berbicara tentang hal lain, pasti dirinya akan menjadi pendengar yang baik, dan tak perlu mengusir Yoona -seperti semalam- agar gadis itu berhenti membicarakan orang spesialnya.

 

Setelah dirasa siap, Luhan keluar dari apartement sederhananya, dan berjalan menuju halte bus. Ia memasangkan earphone kecil dikedua telinganya, sesekali bersenandung kecil mengikuti irama lagu yang sedang ia dengar.

 

Ia sampai dihalte bus lalu ia duduk sambil menunggu bus datang, disana ada beberapa orang yang sedang menunggu juga. Tak berapa lama sepertinya ada seseorang yang duduk disampingnya karena Luhan sedikit merasa sedikit getaran. Tapi Luhan tak peduli, ia masih saja memejamkan mata mencoba menghayati lagu yang sedang didengarnya.

 

Luhan terkesiap saat earphone sebelah kirinya terlepas. Ia membuka matanya dan menengok kearah kiri. Mata Luhan membulat sempurna ketika melihat siapa yang berada disampingnya itu.

 

“Sampai kapan kau terus memejamkan matamu. Busnya sudah datang, lebih baik kita naik. Kajja” gadis itu menarik tangan Luhan sebelum Luhan sempat membalas ucapan gadis itu.

 

.

 

.

 

.

 

Luhan menatap khawatir gadis disebelahnya. Ia benar-benar takut sekarang

 

“Yoongie-ya

 

Wae Luhan?”

 

“Mengapa kau naik bus?” tanya Luhan cemas. Selama bersahabat mereka memang selalu bersama, tapi ini pertama kalinya Yoona naik bus.

 

“Tentu saja aku ingin pergi kekampus. Memangnya ada masalah? Ini bus untuk umum bukan?” ucap Yoona santai

 

“Ini memang untuk umum. Tapi kau berbeda. Jika orangtuamu tau kau naik bus bisa gawat” ucap Luhan. Membuat airmuka Yoona berubah seketika

 

“Memangnya ada apa dengan orang sepertiku? Aku juga ingin seperti yang lainnya Luhan. Apa itu salah?”

 

Luhan menatap Yoona sendu. Ia tidak bermaksud berkata seperti itu, ia hanya ingin melindungi Yoona. Karena ia tahu bagaimana orangtua Yoona yang mendidik Yoona keras. Mendidik agar menjadi orang yang sukses, tidak seperti dirinya yang kuliah saja hanya karena beasiswa, bahkan dirinya harus bekerja seusai pulang kuliah, tetapi ia harus bangga hasil kerjanya selama beberapa tahun itu membuat dirinya dapat membeli apartement -walaupun tidak mewah. Namun kadang Luhan juga merasa iri pada Yoona yang masih memiliki kedua orangtua dan hidupnya terjamin. Tapi ia sadar, ini adalah garis takdir yang diberikan Tuhan. Tugasnya hanya menjalankan kehidupannya sebaik mungkin. Dan kadang ia berpikir, ia tidak akan mungkin mendapatkan keinginan yang selama ini ia pendam.

 

‘Yoona’

 

.

 

.

 

.

 

Mian Yoong” ucap Luhan ketika mereka sudah sampai kampus. Ia merasa masih bersalah akan kata-katanya tadi. Yoona tersenyum, lalu menggenggam tangan Luhan lembut.

 

Gwenchana” Luhan melihat sosok Yoona kali ini berbeda dari yang biasanya. Cerewet, manja, childish. Tapi ia melihat sosok yang lembut dan dewasa. Entah hanya mungkin perasaan Luhan saja, dia pun tidak tahu. Yang jelas Luhan sangat menyukai sosok yang sekarang ini.

 

“Yoona” satu panggilan itu membuat keduanya menengok, dan dengan cepat Yoona melepaskan genggamannya pada Luhan. Lalu berlari-lari kecil kearah sumber suara. Luhan hanya diam mematung melihat punggung Yoona yang semakin jauh. Luhan tersenyum pahit ketika melihat Yoona yang sangat akrab dengan orang yang memanggilnya tersebut. Sebelum Yoona benar-benar meninggalkan Luhan, gadis itu sempat berteriak akan menemuinya nanti. Dan Luhan hanya mengangguk kecil sebagai jawaban. Lihat saja kenyataan yang pahit bukan? Mencintai seseorang yang hanya menganggap dirinya sebagai seorang ‘sahabat’.

 

.

 

.

 

.

 

Luhan berlari cepat kearah cafe. Ia sempat melirik jam tangannya ‘gawat’ umpatnya dalam hati. Jika saja tadi tidak ada kelas tambahan, mungkin Luhan tidak akan sepanik ini.

 

Saat sudah sampai ia terengah- engah lalu memeriksa keadaan cafe dari luar. Disana sudah banyak pengunjung cafe tapi bukan itu yang sekarang jadi pusat perhatian Luhan, tetapi seorang lelaki tua dengan seorang gadis cantik. Luhan jadi panik sendiri ketika melihat lelaki tua tersebut, tetapi ia harus tetap menemui lelaki tersebut. Dengan pelan, Luhan berjalan menuju cafe, lalu segera menghampiri lelaki tua tersebut.

 

Lelaki tua itu hanya menatapnya tajam lalu berjalan meninggalkan Luhan, tapi Luhan tau lelaki tua itu akan kemana, iapun berjalan mengikuti lelaki tua itu.

 

Setelah sampai tempat tujuan, Luhan pun duduk dihadapan lelaki tua itu.

 

Mianhamida sajangnim” ucap Luhan menunduk. Lelaki tua yang dipanggil ‘sajangnim’ itu hanya menatapnya tajam

 

“Kau… Astaga mengapa selalu terlambat hah?” gertak lelaki tua itu

 

“Tadi ada kelas tambahan” jawab Luhan pelan

 

“Selalu alasannya sama. Kau bertahan hidup karena kau bekerja disini. Jika kau selalu terlambat mungkin aku akan segera memecatmu” tegas lelaki tua itu membuat Luhan kaget. Ia tidak tau lagi jika tidak bekerja ditempat ini hidupnya akan bagaimana

 

“Saya minta maaf sajangnim. Tolong jangan pecat saya. Saya tidak akan mengulanginya lagi” mohon Luhan. Tetapi suaranya masih tetap tenang.

 

“Aku tidak percaya jika kau tidak akan mengulanginya lagi” ucap lelaki tua itu. Luhan hanya menunduk

 

“Tapi aku akan memberikan tawaran khusus padamu. Kau akan tetap bekerja disini tetapi bukan sebagai pelayan cafe, tetapi menjadi manager, apa kau mau?” ucap lelaki tua itu. Luhan yang mendengarnya menatap curiga bosnya. Mengapa tiba- tiba lelaki itu menawarkan ku menjadi manager? Batin Luhan

 

“Tetapi ada satu syarat” ucap lelaki tua itu. Membuat Luhan menggerutu dalam hati

 

“Apa persyaratannya sajangnim?”

 

“Kau… harus mau menikahi anakku”

 

Luhan menatap tidak percaya sosok lelaki tua dihadapannya. Apa? Menikah? Oh astaga apa pria tua ini sudah gila. Bukankah dirinya hanyalah orang miskin, berbeda dengan pria tua itu. Lalu apa alasannya Luhan harus menikahi anaknya.

 

“Menikah? Mengapa aku harus menikahi anakmu?” tanya Luhan

 

“Dia… hamil. Kekasihnya tidak mau bertanggung jawab atas perbuatan bejatnya itu. Aku mohon padamu Luhan, nikahilah anakku, setidaknya sampai anakku melahirkan” nada memohon dari lelaki tua itu membuat Luhan sedikit terenyuh. Tetapi ia tidak ingin menikah dengan wanita lain, kecuali bersama wanita yang selama ini menjadi sahabatnya –walaupun itu tidak mungkin bagi Luhan-.

 

“Apakah aku boleh berbicara dengan anakmu langsung sajangnim?” tanya Luhan.

 

“Tentu saja. Kau boleh berbicara langsung dengan anakku” Lelaki itu tersenyum.

 

“Baiklah aku permisi dulu” ucap Luhan lalu bangkit dari duduknya.

 

“Luhan” panggil lelaki tua itu, Luhan yang tadinya hendak membuka knop pintu kini berbalik mengahadap bosnya

 

“Ada apa sajangnim?”

 

“Pikirkan lagi penawaranku. Aku harap kau mau menerimanya”

 

“Akan kupikirkan” Setelah itu sosok Luhan menghilang dari ruangan bosnya.

 

“Aku tidak mungkin memilih sembarang orang untuk menikahi anakku. Aku tau siapa ayahmu Luhan. Xi Yingjie

 

.

 

.

 

.

 

“Apa kau sudah tau mengapa ayahku menyuruhmu menikahiku?” tanya seorang wanita pada Luhan.

 

“Aku sudah tau sajangnim” ucap Luhan sopan

 

“Jangan seformal itu padaku. Lagipula aku bukan bos mu. Panggil saja aku Kim Yura”

 

“Mian Yu..yura-ssi

 

“Mengapa masih terlalu formal?” tanya wanita itu. Yura.

 

“Baiklah Yura-ya” Luhan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu. Lagipula Yura adalah anak dari bosnya. Ia merasa tidak enak.

 

Yura tertawa melihat ekspresi wajah Luhan. Lucu sekali menurutnya. Luhan hanya menunduk malu karena ditertawakan oleh anak bosnya.

 

Yura menetralkan tawanya dengan berdehem sebentar. Lalu menatap Luhan yang masih menunduk. “Jangan menunduk. Kau tidak sopan sekali terhadap anak bosmu” canda Yura. Akhirnya Luhan mendongak menatap wajah Yura yang sangat cantik itu.

 

“Baiklah. Kita langsung ke point nya saja. Apa kau menerima tawaran ayahku itu?” tanya Yura. Luhan berpikir sejenak. Lalu menjawab

 

Mian Yura-ya aku tidak bisa”

 

“Tidak apa Luhan-ah. Aku mengerti. Kau pasti tidak mau menikahi gadis yang hamil diluar nikah” gumam Yura tersenyum miris

 

Mian Yura-ya, bukan itu maksudku” ucap Luhan meminta maaf. Yura tersenyum lalu memegang tangan Luhan lembut.

 

Gwenchana” Luhan menatap tidak percaya sosok didepannya. Ia merasan wanita didepannya ini mirip Yoona. Sangat mirip.

 

“Luhan-ah” panggilan Yura membuyarkan lamunannya.

 

“Ah iyaa” Luhan tersenyum kikuk

 

“Mengapa melamun?”

 

“Tidak. Aku hanya berpikir kau itu mirip sekali dengan temanku. Tapi mungkin itu hanya perasaanku saja”

 

Yura hanya mengangguk-angguk saja. Kemudian suasana menjadi hening.

 

“Yura-ya” panggil Luhan memecah keheningan

 

Wae?”

 

“Apa aku boleh bertanya. Siapa lelaki yang menghamilimu?” tanya Luhan hati-hati.

 

Yura menunduk “Dia… lelaki itu adalah kekasihku dulu. Lelaki itu bernama Oh Sehun” lirih Yura

 

Luhan terkejut. Sangat terkejut. Oh Sehun. Sehun? Bukankah lelaki itu yang sering Yoona bicarakan. Lelaki yang menurut Yoona spesial itu. Jadi lelaki itu… oh astaga gawat. Perasaannya tiba-tiba merasa tidak enak. Yoona. Dia merasa ada sesuatu yang terjadi pada Yoona.

 

Luhan dengan cepat berdiri dari duduknya, membuat Yura bingung.

 

Wae Luhan-ah?”

 

“Ah mian Yura. Aku harus pergi. Dan sepertinya aku tidak bisa mengantarmu pulang” ucap Luhan

 

Gwenchana, aku bisa pulang sendiri. Pergilah”

 

Dan sosok Luhan akhirnya pergi meninngalkan Yura sendiri. Yura tersenyum miris. Lelaki itu telah pergi. Lelaki yang selama ini yang diam-diam ia perhatikan ketika bekerja dicafe ayahnya. Lelaki yang selalu tersenyum ketika melayani para pelanggan. Lelaki yang tidak akan tau bahwa dirinya mencintai Luhan.

 

.

 

.

 

Yoona kini berada dalam mobil. Bukan mobilnya, mobil seorang laki-laki yang ia katakan pada Luhan sangat spesial. Sehun. Spesial? Apa kalian peracaya? Jika kalian percaya kalian sudah tertipu. Yoona sebenarnya menganggap Sehun hanya sebagai temannya saja, tidak lebih. Dan ada alasan tertentu yang membuat Yoona berbohong pada Luhan bahwa Sehun adalah orang yang sangat spesial. Dan kalian akan megetahuinya nanti.

 

“Kita kemana Sehun-ah?” tanya Yoona

 

“Tentu saja kerumahku. Bukannya kita akan mengerjakan tugas” ucap Sehun sambil menatap Yoona dengan tatapan yang sulit diartikan.

 

Yoona memandang Sehun heran. ‘Mengapa Sehun memandangku seperti itu? Apa ada yang salah’ batinnya. Ia memilih diam membiarkan keheningan menyelimuti suasana malam itu.

.

 

.

 

.

 

Luhan berlari-lari seperti dikejar hantu. Ia memutari seluruh gedung kampus untuk menemui seseorang. Jam 19.00. Hah sial, rutuknya. Ia mengacak rambutnya frustasi. ‘Kemana gadis itu‘ batinnya. Tak sengaja ia melihat gadis berambut panjang yang sedang melewati koridor, ia kenal gadis itu. Tanpa basa-basi ia berlari menuju gadis itu.

 

“Jessica noona” panggil Luhan. Membuat gadis berwajah barbie itu membalikan badannya.

 

Eoh, wae Luhan?” tanya Jessica

 

“Apa noona melihat Yoona?” tanya Luhan. Setau Luhan Jessica ini dekat dengan Yoona, walaupun Jessica adalah senior Luhan dan Yoona. Tetapi Jessica itu memang dekat dengan Yoona

 

“Yoona? Ah iyaa, tadi aku melihatnya kalau tidak salah ia tadi pergi bersama Sehun. Wae Luhan-ah?” tanya Jessica

 

“Apa noona tau mereka pergi kemana?”

 

“Aku tidak tau mereka kemana. Tetapi tadi aku mendengar bahwa mereka berdua akan mengerjakan tugas bersama”

 

Ah rumah’

 

“Baiklah. Gomawo noona” dan sosok Luhan meninggalakan Jessica yang masih bingung

 

Ada apa dengan anak itu’

 

.

 

.

 

Luhan masih berlari dikoridor kampusnya, sesekali ia menubruk orang-orang disana. Walaupun sudah malam masih banyak mahasiswa yang masuk kelas malam. Dan Luhan yakin ada satu orang mahasiswi yang sedang dicarinya ini masuk kelas malam juga.

 

Bingo! Luhan tersenyum ketika dugaannya benar. Luhan menghampiri gadis yang sedang sibuk membaca bukunya.

 

“Seohyun-ah” panggil Luhan. Sepertinya gadis bernama Seohyun itu tersentak karena ia mengenali suara orang yang memanggilnya itu. Ia menoleh kearah samping dan mendapati Luhan yang seluruh tubuhnya sudah dibanjiri keringat dengan nafas yang terengah-engah.

 

“Lu..luhan oppa” gumamnya. Ia masih tidak percaya dihadapannya berdiri sosok lelaki itu.

 

Luhan hanya tersenyum mendapati ekspresi tidak percaya pada gadis yang telah mengisi hatinya dulu.

 

“Seohyun-ah aku ingin menanyakan sesuatu padamu” ucap Luhan serius. Entah mengapa hati Seohyun menjadi berdebar-debar. Ia menunggu Luhan melanjutkan kata-katanya.

 

“Aku ingin bertanya, kau pasti tau kan alamat rumah Sehun” runtuh sudah harapan Seohyun. Itu bukan kalimat yang ingin Seohyun dengar. Dan apa? Sehun? Cih, namja brengsek, batinnya.

 

“Memangnya ada apa oppa bertanya seperti itu?” tanya Seohyun penasaran

 

“Aku ada urusan penting dengannya. Jebal Seohyun-ah beritahu aku dimana rumah Sehun” ucapan memohon Luhan membuat Seohyun tidak tega. Dengan sangat terpaksa Seohyun pun menuliskan alamat rumah Sehun dikertas kecil dan memberikannya pada Luhan.

 

Gomawo Seohyun-ah” Luhan mengacak rambut Seohyun sebentar, lalu pergi meninggalkan gadis itu

 

Dengan perlakuan Luhan yang seperti itu, membuat rasa penyesalan yang sudah lama ia kubur kini teringat kembali. Saat dimana dengan bodohnya dirinya menolak Luhan demi memilih Sehun yang hanya memanfaatkan dirinya -yang notebenenya anak yang cukup berprestasi– untuk mengerjakan tugas skripsinya. Dan penyesalan memang selalu datang diakhir, saat dirinya baru menyadari bahwa dirinya mencintai seorang Xi Luhan.

 

.

 

.

 

Yoona dan Sehun berhenti disebuah rumah yang cukup besar. Mereka berdua turun dari mobil tersebut.

 

“Apa ini rumahmu?” tanya Yoona

 

“Tentu saja. Apa kau tidak percaya? Baiklah mari ikut aku”

Dengan cepat Sehun menarik tangan Yoona menuju kerumahnya.

 

~

 

Yoona menatap kagum rumah Sehun, memang rumah Sehun tidak sebesar rumah dirinya, tapi dekorasi klasik rumahnya yang membuat kelihatan berbeda.

 

“Duduklah” ucapan Sehun membuyarkan lamunan Yoona. Iapun berjalan menuju sofa yang ada disitu.

 

“Kau mulailah mengerjakan tugas, dan aku akan mengambilkan minuman untukmu”

 

Yoona hanya mengangguk lalu mulai mengambil buku dan mengerjakan tugasnya. Sesekali ia menengok kearah dapur karena Sehun sedikit lama.

 

Tak lama Sehun membawa 2 gelas teh sepertinya. Lalu memberikan 1 gelas pada Yoona.

 

“Teh?” tanya Yoona heran

 

Wae? Kau tidak lihat diluar sedang hujan?”

 

Hujan? Yoona mengedarakan pandangannya kearah jendela, memang benar sedang hujan. Kenapa aku tidak menyadarinya, batin Yoona

 

“Rumah ini memang kedap suara. Jadi suara hujan memang tidak terlalu terdengar, apalagi kau sangat berkonsentrasi tadi” jelas Sehun. Yoona hanya menganggukan kepalanya lalu mulai mengerjakan tugas lagi disusul Sehun.

 

Beberapa menit kemudian Yoona merasakan ada yang sedikit aneh pada tubuhnya, ia merasakan hawa diruangan tersebut sangat panas. Padahal Sehun tidak menyalakan penghangat ruangan dan diluar juga sedang hujan bukan.

 

“Sehun-ah” panggil Yoona

 

Wae Yoong?”

 

“Kenapa disini panas sekali” tanya Yoona mengibas- ngibaskan sedikit bajunya agar ada angin yang masuk

 

Sehun mengeluarkan smirknya ‘obatnya benar-benar bekerja’ batinnya

 

Eoh benarkah? Padahal aku merasa disini sangat dingin” dusta Sehun

 

“Tapi disini benar-benar panas Sehun. Apa tidak ada pendingin ruangan?” tanya Yoona

 

Sehun bersorak dalam hati ‘berhasil’.

 

“Ada. Tetapi ada dikamarku. Yang lain sedang rusak Yoong” dusta Sehun lagi

 

“Baiklah bawa aku kesana. Aku sudah benar-benar kepanasan”

 

Ucapan Yoona sama saja memberikan lampu hijau untuk diri Sehun melakukan aksinya. Dan Sehun hanya tertawa dalam hati.

 

.

 

.

 

“Apakah masih panas Yoong?” tanya Sehun yang sudah menyalakan pendingin ruangan dikamarnya.

 

“Astaga mengapa semakin panas? Apa pendingin ini masih berfungsi?” gerutu Yoona

 

“Buka saja balzzer mu itu, mungkin bisa sedikit mengurangi kepanasanmu”

 

Yoona akhirnya menuruti perkataan Sehun. Walaupun sedikit ragu, karena ia sedang bersama seorang lelaki. Dan kini ia hanya mengenakan celana jeans dan tanktop yang memamerkan bentuk tubuhnya. Sehun hanya bisa meneguk salivanya ketika melihat pemandangan dihadapannya. Sexy.

 

“Yoong” panggil Sehun

 

Wae?”

 

“Kau sangat menggoda” ucapan Sehun tentu saja mengejutkan Yoona. Sehun perlahan maju mendekati Yoona dan Yoona pun akan mundur.

 

“A..apa yang akan kau lakukan S..sehun” Yoona tentu saja merasa takut sekarang. Siapa saja tolong aku, batin Yoona

 

DUK

 

Punggung Yoona kini sudah membentur tembok. Yoona tentu saja semakin panik, apalagi Sehun kini sudah mengunci tubuhnya dengan kedua tangannya yang ia letakan dikiri-kanan kepala Yoona.

 

“Aku ingin memilikimu Yoong” dan sedetik kemudian bibir Sehun sudah mendarat dibibir Yoona. Yoona membulatkan matanya tak percaya, ia mencoba berontak, memukul mukul dada Sehun. Tapi tetap saja bibir Sehun masih melumat bibirnya kasar.

 

.

 

.

 

Luhan sudah sampai ditempat tujuannya. Rumah Sehun. Ia sempat tak percaya bahwa rumah Sehun sangat besar. Tapi bukan itu yang jadi tujuannya sekarang. Yoona. Ia harus menemukan Yoona.

 

Perlahan-lahan ia memasuki rumah Sehun yang memang tidak dikunci. Lalu ia mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru rumah. Banyak sekali ruangan disini, pikirnya. Dan ia menemukan tas serta buku Yoona disofa ruang tamu. Dengan cepat ia mengecek beberapa ruangan yang tidak dikunci. Nihil tidak ada Yoona disitu. Dan kecurigaannya kini ada pada satu tempat yang memang dikunci. Ia mendekatkan telinganya kepintu tersebut, dan Luhan mendengar seperti ada yang menangis. Dan ia yakin itu suara Yoona.

 

“Yak! Buka pintunya” teriak Luhan sambil menggedor-gedor pintu tersebut

 

.

 

.

 

“Yak! Buka pintunya” Sehun yang masih menciumi bibir Yoona kini berhenti ketika mendengar suara tersebut. Ia tidak mengenali suara tersebut. Yoona yang yang masih terisak kini berhenti. Ia mengenali suara itu.

 

“Luhan-ah tolong aku” teriak Yoona membuat Sehun terkesiap. Tanpa memperdulikan orang yang menggedor-gedor pintu tersebut ia kembali melumat bibir Yoona yang sudah merah karena perbuatannya. Yoona terkejut lalu kembali memberontak, tapi tentu saja tenaga Sehun lebih besar dan Yoona pasti kalah. Kini Sehun sudah membaringkan Yoona diatas ranjang lalu ia masih tetap melumat bibir Yoona. Dan Yoona hanya bisa diam. Tenaga sudah habis sekarang. Dia hanya bisa menunggu Luhan untuk datang menolongnya.

 

.

 

.

 

Luhan sudah beberapa kali mendobrak pintu itu. Tapi tenaganya tidak cukup untuk melawan kayu besar tersebut. Ia memikirkan cara lain untuk membuka kamar tersebut. Entah ide darimana ia berlari menuju lemari yang cukup besar. Dan ia menemukan banyak kunci disana. Ia memilih manakah kunci kamar tersebut. Dan feelingnya sepertinya benar karena ada kunci yang bertuliskan ‘privat room’ tanpa basa basi ia kembali menuju pintu kamar dan mencoba membuka dengan kunci tersebut.

 

Berhasil! Lalu ia mengedarkan pandangan dan menemukan Sehun yang sedang menciumi bibir Yoona dan terlihat Yoona yang sudah lemah.

 

“Brengsek”

 

Dengan satu tarikan Luhan mampu membuat Sehun menghentikan aksinya. Dan Luhan langsung menghadiahkan Sehun dengan pukulan bertubi-tubi.

 

“Brengsek kau. Mengapa kau melakukan ini pada Yoona hah?” teriak Luhan yang kemarahannya sudah memuncak.

 

“Apa kau tidak puas sudah menghamili Yura!” saat Luhan hendak memukuli wajah Sehun yang sudah lebam itu, tiba-tiba tangan Sehun menahannya

 

“Yu…yura” suara Sehun tiba-tiba melemah membuat Luhan heran

 

“Ka..kau mengenalnya?” tanya Sehun

 

“Tentu saja. Ia wanita yang sudah kau hamili kan?” sinis Luhan.

 

BUGH. Satu pukulan diberikan kewajah Sehun, lalu dengan cepat Luhan menarik tangan Yoona yang untungnya masih berpakaian lengkap –minus balzzer– dan mereka segera pergi dari rumah Sehun.

 

“Yura” gumam Sehun lemah

 

.

 

.

 

.

 

TBC~

 

Anyeong chingu. Gimana ff nya? Hehe mian ya kalo jelek. Masih belajar juga. Tadinya mau jadiin oneshoot eh tp kayaknya kepanjangn jadinya aku jadiin twoshoot. Chapter ini emang masih belum ada konfliknya. Nanti mungkin chapter selanjutnya bakal kebuka rahasia-rahasianya(?). Sorry for typo’s. Jangan lupa tinggalkan jejak dengan komentar yaa…

60 thoughts on “(Freelance) Twoshoot : Diference (Chapter 1)

  1. Next~Next~Next~
    Sehun? Hua~nagis bombay #lebay.Kenapa deganmu tuan oh?? Duh penasaran pake baget semoga aja mereka bisa bersatu /lirik luyoon// hehe next.Kayanya yoona punya rasa deh sama luhan.mungkin? Figthing =))

  2. Hello… Aku reader baru :v🙂 .. Hehe

    Sehun nya ko jadi gitu ya -_- badboyy :v .. Jdi yoong itu ngetest/? luhan gitu?? Bagus thor Lanjutkan ya😀

  3. Woooaa.. Luhan gentle bgt😀
    Uljima..Uljima Yoongieya..🙂
    Bokapnya Luhan sapa sih? Jgn2 orang kaya ya?
    Next thor..

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s