(Freelance) Oneshot : Still Loved, Still Missed

rashnzl2-copy

Author: Rashnzl

Main Cast: Im Yoona I Byun Baekhyun II Support Cast: Find by yourself

Genre: Sad I Hurt I Romance II Rating: T II Length: Oneshoot

Author’s Note: Fanfict ini berkonsep Real-life. Mohon untuk tidak membash karakter para cast karena fanfict ini semata-semata dibuat untuk menghibur.

Fanfict ini juga dipost di blog pribadiku here.

Poster by Ladyoong at YoongEXO.wordpress.com

.

.

.

B untuk Baekhyun.

Dan Y untuk Yoona. ‘seharusnya.’

.

.

.

Ini kisah tentang kau dan aku.

Aku dan segala tentang perasaanku.

Dan kau, dengan segala perasaanmu.

Perasaan yang seharusnya tidak teruntuk dirimu.

Perasaan yang lebih baik tak pernah tumbuh diantara kita.

Diantara kau dan aku, yang tak seharusnyamemiliki cerita tentang ‘kita’

.

.

.

Aku, Im Yoona, dengan seluruh perasaan yang kuberikan padamu.

 

Dan kau, Byun Baekhyun, dengan segala tindak-tandukmu.

 

Ini kisah kita. Seharusnya.

 

‘Kita’ dalam artian hanya kau dan aku.

 

Im Yoona dan Byun Baekhyun.

 

Bukan Im Yoona dengan Byun Baekhyun, dan Byun Baekhyun dengan Lee Yoo Bi.

 

Tsk. Gadis itu.

Kuakui, ia memang gadis yang cukup manis untuk bersanding denganmu didepan kamera. Bertingkah layaknya sepasang anak kecil yang terlihat seribu kali lipat lebih manis karena selalu berpakaian bagaikan pasangan.

Aku tak tau ketika kedatanganmu saat itu—saat kau meminta izin padaku untuk mengambil tawaran pekerjaan mengisi sebuah acara musik bersama Suho—dan aku mengizinkannya, itu adalah awal dari akhir kisah kita. Karena secara tidak langsung, aku mengizinkanmu bertemu dengannya.

Lalu kemudian menyerahkan hatimu—yang tadinya untukku padanya.

Pada gadis itu. Lee Yoo Bi.

.

.

.

“Nunaa~” Aku lantas melirik cermin dihadapanku. Berusaha mati-matian menahan senyumku ketika mendapati sosok Baekhyun yang menyundulkan kepalanya dibalik pintu.

“Wae?” Sahutku tak acuh. Kembali fokus pada latihanku. Sejujurnya, aku hanya ingin menggodanya dengan berpura-pura tak mengharapkan kedatangannya.

 

Tak ada sahutan.

 

Aku mengernyit. Tak biasanya Baekhyun bersikap ‘kalem’ seperti ini.

 

Aku hendak menghentikan ‘aksi tak peduli’ ku, namun tangan miliknya lebih dulu menarikku jatuh terduduk disampingnya. Bergelanyut manja di lenganku.

 

“Aku lelah sekali, Nuna. Koreografi EXO yang baru benar-benar menyedot energiku. Terlebih lagi aku harus datang membawa acara di gedung SBS. Badanku terasa remuk semua,” ungkapnya dengan nada parau.

Aku tersenyum. Kuraih sebotol air mineral milikku untuk nya. Dia menegakkan kepalanya, ikut tersenyum menatapku dengan tatapan terimakasih.

“Bukankah saat ini EXO disatukan? Formasi berdua belas, kan?” tanyaku heran.

Baekhyun segera menggelengkan kepalanya. “Pada awalnya, Ya. Kami berduabelas. Tapi entahlah. Sajangnim kembali memfokuskan kami pada unit masing-masing, EXO Korean dan EXO Mandarin.”

Aku menggangguk, mengerti. Mungkin inilah alasan mengapa Suho dan Kris berada dikantor Soo Man ahjussi saat itu. Saat aku dan groupku menghadap Soo Man ahjussi untuk berdiskusi tentang konsep comeback kami.

“Lalu, bagaimana denganmu, Nuna? Apa semua berjalan lancar?” Aku pun tersenyum mendengar pertanyaan Baekhyun. Merasa bangga dengan kenyataan yang akan kuucapkan.

“Ya, tentu saja. Kau tahu kan, The Power of Seo Nye Shi Dae?” Baekhyun pun terkekeh. Kurasa aku berhasil mengisi kembali energinya.

.

.

.

Aku kembali menyempatkan diri menonton Baekhyun dilayar televisi disela-sela waktu luangku. Meskipun hanya dilayar kaca, pesonanya masih nampak jelas dimataku. Dengan rambut cokelat-pirang yang ditata sedemikian rupa—serta setelan tuxedo putih yang membalut tubuhnya, dia nampak selaras dengan Suho.

Dan, ah. Jangan lupakan satu-satunya gadis diantara para pembawa acara lainnya. Lee Yoo Bi.

Kali ini dia membubuhkan image anggun pada image aslinya, manis. Dengan setelan dress putih diatas lutut yang memperlihatkan kaki jenjang nya, ia nampak bak seorang putri—dan seekor peri mungil sekaligus—dengan pangeran-pangeran tampan disekelilingnya.

Kuraih ponsel putih milikku lalu mengetikkan beberapa kata yang Baekhyun sebut sebagai ‘mantra ajaib’ untuknya.

 

kau tampan, Baekhyun’

.

.

.

Aku tahu, apa yang kulakukan cukup berbahaya. Memaksakan diri berada diantara khalayak umum dengan penyamaran sesederhana mungkin.

Aku hanya bosan dan butuh hiburan. Baekhyun sedang berlatih dan sangat egois jika aku memaksanya untuk pergi menemaniku.

Well, tak perlu heboh hanya karena tak bisa berkencan, bukan? Aku harus bersikap dewasa karena status hubungan kami yang sepasang kekasih namun secara diam-diam—atau dengan kata lain, kami menjalani hubungan backstreet.

Baik dari groupku maupun groupnya, tak ada yang tahu mengenai hubungan kami. Setahuku.

Dan jika kalian menanyakan bagaimana perasaanku mengenai status hubungan kami, tentu saja tidak mudah bagiku. Aku harus rela membiarkan ribuan gadis lain diluar sana menangkap senyumannya, ditatap atau bahkan menyentuhnya.

Jika saja aku bukan tipe orang yang berjiwa besar, mungkin saat ini aku akan mengakui hubungan kami pada para netizen dan berakhir di ruangan Soo Man Ahjussi karena melanggar peraturan dasar leluhur SM Entertainment. Sesama artis naungan SM Entertainment tidak diizinkan menjalin suatu hubungan lebih dari rekan kerja.

Aku menghela nafasku berat. Mungkin segelas bubble-tea rasa cokelat bisa mengembalikan moodku yang sedang kacau.

Aku hendak melangkahkan kakiku kedepan meja kasir, namun sebuah percakapan dua orang gadis remaja yang tertangkap indera pendengaranku mencengangkanku.

“Apa kau sudah dengar gossipnya? Baekhyun Oppa berkencan dengan Lee Yoo Bi!”

Jeongmal? Lee Yoo Bi..aktris yang sama-sama membawa acara SBS Inkigayo bersama Baekhyun dan Suho Oppa itu?”

Ne. Coba lihat video ini! Seorang netizen menangkap mereka sedang bersama!”

OMONA! Jadi, foto-foto yang tersebar saat itu benar Baekhyun Oppa dan Lee Yoo Bi?!”

Seluruh sistem tubuhku membeku. Apa mungkin aku masih bisa menyebut ini sebuah kesalahan pada pendengaranku jika apa yang kudengar ini terdengar amat jelas ditelingaku?

Jadi…apa yang kudengar saat tengah membeli tteobokki dipinggir jalan itu benar adanya?

 

Baekhyun…berkencan dengan Yoo Bi?

 

Disaat masih berstatus sebagai kekasihku?      

 

“Maaf, Nona. Bisa sebutkan apa yang anda pesan?”

Masa bodoh dengan bubble-tea penambah moodku. Aku hanya ingin pergi. Ingin dan harus pergi—saat ini juga.

Dengan mengabaikan tatapan aneh plus dongkol sang penjaga kasir, aku pun berlalu meninggalkan kedai bubble-tea itu. Segera, sebelum aku membongkar identitas diriku sendiri karena air mata ini mulai berjatuhan.

“Oh, maafkan aku. Aku tid—Sunbae?” tegur seseorang yang tak sengaja bertabrakkan denganku. Aku lantas menghentikan gerakkan membenarkan penyamaranku, mendongakkan kepala melihat sosok yang kurasa mengenaliku.

 

Dan benar saja.

 

Aku kenal sosok pria dihadapanku ini.

 

Lu..han?”

 

“Apa yang Sunbae lakukan disini? Sendirian…dan, hei, Sunbae menangis?”

.

.

.

BUGH!

 

Luhan!”

 

Hyung!

 

Ya! Apa yang kau lakukan!?” pekik para member bersamaan.

Bagaimana tidak? Luhan tiba-tiba saja datang lalu menjatuhkan bogem mentahnya pada Baekhyun yang sedang bersantai dengan para member lain.

Chanyeol—yang notabennya teman terdekat Baekhyun, segera membantu Baekhyun yang jatuh tersungkur untuk bangkit. Sedangkan para member lain berusaha untuk mejauhkan Luhan yang terlihat hendak mengencarkan pukulan kedua pada namja bermarga Byun itu.

“Luhan! Hentikan!” hertak Suho kesekian kalinya. Ia tak tahu alasan apa dibalik pukulan Luhan pada Baekhyun. Yang ia tahu, dirinya bertanggung jawab penuh atas member-member groupnya selama di Korea. Dan ia tak ingin apapun permasalahan Luhan dan Baekhyun berakhir dengan kekerasan.

Luhan menyentak kasar tangan-tangan yang menahan tubuhnya. Pandangannya terpusat pada sosok Baekhyun yang kini menyeka sudut bibirnya yang berdarah.

Perlahan, dengan mati-matian menahan emosinya, Luhan bergerak mendekat pada Baekhyun. Membuat 10 pasang mata itu menatap lekat keduanya. Mewanti-wanti tindak-tanduk Luhan yang mungkin kembali lepas kendali.

“Temui dan jelaskan padanya—saat ini juga, Loser.”

.

.

.

Pintu ruang latihan terketuk beberapa kali. Namun aku lebih memilih tak mengindahkannya. Aku hanya butuh sendiri untuk saat ini—ataumungkin, beberapa hari kedepan.

“Nuna,” aku tertegun. Tanpa perlu menengok sosok pemilik suara itupun, aku sudah tau dengan pasti bagaimana rupa sosok itu. Tsk. Sebegitu mencintainya kah aku padanya?

 

“Nuna,” panggil sosok itu lagi. Namun aku kembali memilih untuk tak mengindahkannya. Mengabaikan sosoknya yang kini berdiri menatapku intens disamping pintu ruang latihanku. Aku pun memfokuskan diripada latihanku, benar-benar tak ingin menanggapinya. Hanya ada aku diruangan ini. tidak ada Baekhyun. Ya, aku harus mulai mencamkan kalimat itu jika tak ingin Baekhyun melihat betapa menyedihkannya diriku saat ini.

 

Nafasku tercekat. Tubuhku mematung. Sepasang lengan kekar memeluk bahuku dengan sempurna dari arah belakang.

 

Aku tak pernah tahu wangi tubuhnya bisa menusuk paru-paruku sesakit ini.

 

Aku tak pernah tahu terpaan nafasnya dibahuku bisa seperih ini.

 

Aku tak pernah tahu akan merasakan hal lain dibalik sentuhan kulit miliknya ditubuhku,

 

—merasakan betapa dinginnya pelukkan hangat darinya.

 

Tidak tahu dan tidak pernah.

“Maafkan aku, Nuna. Maafkan aku,” lirihnya yang terdengar seperti bisikkan. Aku memang sedang didera rasa sakit yang amat sangat. Namun aku masih bisa merasakan betapa tulusnya permintaan maaf itu. Aku tahu ia takkan pernah menyakitiku—meski sekalinya ia lakukan, sakit yang aku dapatkan tidak hanya sekali.

Aku tahu dan akan selalu tahu—meski hatinya bukan lagi untukku.

 

“Pergilah, Baekhyun.” Aku harus melepaskanmu.

 

Baekhyun mengeratkan pelukannya padaku. Segudang memori tentang ia dan aku terputar jelas dipikiranku. Membuat rasa sakit itu semakin mencabik-cabik seluruh sistem tubuhku. Aku tak sanggup. Sungguh.

Untuk satu menit saja. Izinkan aku untuk merasakan sisa-sisa perasaanmu untukku, Baekhyun. Untuk yang terakhir kali.

 

Aku menghirup nafasku dalam-dalam. Aku harus segera menyudahinya sebelum aku benar-benar tak bisa melepaskannya.

 

“Pulanglah, Baekhyun. Aku masih harus berlatih.” Aku melepas pelukkan Baekhyun. Lalu tertawa getir dalam hati. Suaraku bergetar. Aku gagal mempertahankan ketegasan ucapanku sendiri.

Baekhyun terus menunduk memandang lantai ruang latihanku. Aku berusaha kembali memfokuskan diri pada latihanku. Memulai kembali gerakkan-gerakkan sesuai alunan lagu yang terputar.

Perlahan, Baekhyun membalikkan tubuhnya. Berjalan mendekat kearah pintu ruang latihanku.

Tanganku terkepal kuat. Aku tak yakin sejauh mana kuatnya diriku untuk memulai hidupku tanpa Baekhyun.

 

He is my heroin. And I was addicted with him.

 

Sebelum tangannya memutar knop pintu, aku memanggilnya.

 

“Bagaimanapun akhir dari kita, terimakasih. Terimakasih untuk kisahmu denganku, Baekhyun.”

 

Tak ada sahutan. Yang terdengar hanya bunyi derit pintu yang tertutup.

 

Airmataku mulai berjatuhan. Kuhapus segera sebelum airmata lain ikut membentuk sungai kecil tiada henti dipipiku. Aku mendongak, menatap langit ruang latihanku. Menahan mati-matian desakkan liquid bening kesedihan yang tak bisa diajak kompromi.

Aku memutuskan kembali berlatih. Entah berapa kali aku mengulang gerakkan yang sudah kukuasai jauh diluar kepala. Aku hanya ingin terus berlatih. Aku hanya ingin terus melupakan rasa sesak yang menjerat sistem pernafasanku. Aku hanya ingin melupakan Baekhyun. Untuk saat ini saja. Kumohon.

Aku jatuh terduduk. Seluruh upaya pertahananku hancur seketika. Liquid bening itu terus saja berjatuhan tanpa henti. Mengalir bebas membentuk sungai kecil dipipiku. Aku terisak. Tersedu-sedu mengasihi diriku sendiri yang terlalu jauh mencintai sosok Baekhyun. Sosok Byun Baekhyun dengan kisah yang ia tuliskan di lembar putih kisah hidupku. Membuku dalam kisah hidup seorang Im Yoona.

.

.

.

OHYEAAA HALOHALO PARA READERS TERCINTA.

Gimana ceritanya? Ngebosenin? Ngegantung? Freak?

HOHOHO AMPUUUUN AKU KAYAK KENA SYNDROME ‘KARANGAN AMATIR PAKE BANGET’ GARAGARA LAMA GA NULIS FANFICT/padahal mah emang author amatir wk/

Ngeblank semu gituu kosakata plus majas-majasnya>.<

Maap-maap>< anggep aja ini fanfict debute-ku/halah

Duh ini tuh sebenernya oneshoot, Yoona POV semuaa, tapi gatau kenapa ituu keselip Author POV pas bagian Luhan-Baek. Huehehe

As usual, aku gapernah maksa buat ninggalin comment kok~

See ya!

 

 

55 thoughts on “(Freelance) Oneshot : Still Loved, Still Missed

  1. sequel dong thoooorrr, bikin yoona move on, kelihatannya sih luhan naksir sama yoona buktinya sampe belain yoona segitu banget nya😀 ayok thor sequelnya hihi😀

  2. ya ampun… jarang temuin ff yg yoona nya diduain trus gak ada penggantinya….
    Tp keren…. ngena di hati

  3. Jd ceritanya bneran baek slingkuh , ??? Sekuel dong thor ,, bkin yoona bisa lupain baek trus yoona sama luhan ,, trus baek nyesel deh udah nyia2in yoona , tp ak pngennya pov -nya smuanya baekhyun ,, : boleh ? thor :p

  4. pengen rasanya nabok si baekhyun — kasian banget eonnie gue. udah eon, sama si luhan aja /wht/
    ditunggu ff lainnya ^^

  5. Gila.. Feelnya dapet banget..
    Baekhyun!! Kau menghancurkan hati Eonniq, dasar Nappeun!!
    Apakah kau benar2 berkhianat?? Apakah berita itu benar??
    Aq harap akan ada side storynya Baekhyun ya, biar jels.. Kekekekke😀
    ffnya keren lah. Daebak. Pake banget!

  6. baekhyun, why you so nappeun namja.😦
    oh my. ini bner2 bgus bgt. bahasanya sdh sperti pembawa perasaan yg real.
    good.. (y)

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s