(Freelance) Oneshot : It Has To Be You

it-has-to-be-you

YDH

It Has To Be You

Im Yoon Ah | Byun Baekhyun

Romance, Sad, Family, School life

[ Mencintaiku bukan berarti memberikan nyawamu ]

Im Yoon Ah, berjalan dengan santai menggunakan kedua kaki jenjangnya. Tidak perlu terburu-buru karena bel sekolah masih lama berbunyi. Sebenarnya tidak hanya itu yang menjadi alasan, tubuhnya lelah, hatinya juga lelah, ia sungguh lelah dengan hidupnya sendiri. Pikirannya hanya dipenuhi oleh pekerjaan dan masalah keluarga.

Ayahnya yang selalu bertengkar dengan ibu, masalah ekonomi keluarganya, pekerjaan part-timenya, dan bahkan-

Yoona menghentikan langkahnya. Motor besar berwarna merah baru saja melesat melewatinya. Ia tahu siapa orang itu. Orang yang baru saja ingin ia pikirkan. Salah satu masalahnya, juga.

Seorang lelaki kaya berwajah tampan yang memiliki otak yang cemerlang dan sifat yang bagus –walaupun suka jahil-. Seseorang yang telah lama menjadi alasan dari semangatnya dalam bekerja dan kadang menjadi alasannya juga dalam kesedihan. Hanya karena seseorang bernama, Byun Baekhyun.

Yoona berjalan pelan menuju perpustakaan dengan beberapa buku yang berada di pelukannya. Pikirannya kosong. Kejadian tadi malam terputar kembali dipikirannya, saat dirinya baru saja ingin pergi ke alam mimpi dan suara bentakkan seketika membuka mata bulatnya.

“Apa yang kau lakukan pulang malam seperti ini?”

“Bekerja.”

“Bekerja? Sebagai apa? Kau bahkan tidak menghasilkan! Yoona yang selama ini membanting tulang untuk kita!”

“Diam kau!”

Yoona menunduk dalam saat mengingat teriakan berat tersebut dilengkapi dengan teriakan ibunya. Ayahnya menampar ibunya sendiri. Ia pikir hidupnya sungguh tidak adil. Ayahnya yang suka pulang malam dengan keadaan mabuk, adu mulut antar ayah dan ibunya, keluarganya yang bisa dikategorikan miskin yang membuatnya bekerja sambil sekolah. Realita kehidupan yang sungguh menampar keras dirinya.

Ia mendongak saat suara tawa lepas beberapa orang memasuki indera pendengarannya. Koridor ribut seketika dengan segerombolan lelaki tersebut. Yoona hanya mengikuti arah pandang siswi lain untuk menatap para lelaki populer itu. Ia tersentak mendapati salah satu lelaki disana –Baekhyun- menatap dan tersenyum kecil kepadanya. Entah senyum itu memang untuknya atau bukan, tapi ia hanya membungkuk pelan dan bahagia. Ya, ia bahagia, setelah ingin menangis menyadari sebuah realita. Hanya karena pesona dari seorang Byun Baekhyun.

“Terimakasih telah datang kesini.”

Yoona mengulum senyumnya dan membungkuk sopan kepada pelanggan yang baru saja membayar dan mengambil barang belanjaannya. Setelah dirasa pelanggan itu jauh dan minimarket tempat ia bekerja sepi, ia menghela nafas pelan. Menghembuskan nafas ke atas membuat poni panjang yang tadinya menutupi penglihatannya terlempar.

Bekerja, bekerja, dan bekerja. Hanya itu yang bisa Yoona lakukan untuk membantu himpitan ekonomi keluarganya. Ayahnya sudah tentu tidak bisa diandalkan, sedangkan ibunya, hanya seorang wanita yang bekerja musiman. Mencuci pakaian tetangga sebelah jika mereka meminta.

Yoona membuka tasnya dan mengaduk isinya. Mencari buku tebal dengan judul besar bertuliskan ‘Fisika’. Ia mengambil pulpen dan mulai membaca soal-soal yang diberikan gurunya itu lalu mengerjakannya. Tidak masalah karena belajar sambil bekerja. Yoona sengaja memilih minimarket dengan pengunjung yang sepi agar bisa mengerjakan tugas juga seperti sekarang.

Bel di pintu minimarket berbunyi membuat Yoona menaruh pulpen beserta buku tebal itu di atas tas. Ia membungkuk lalu mengamati pelanggannya tersebut. Matanya melebar seketika. Dia. Byun Baekhyun yang masih memakai seragam sekolah.

Untuk apa ia kesini? Seperti yang ia bilang tadi, tempat ini terpencil dan jarang pelanggan memasuki minimarket ini. Kenapa Byun Baekhyun, yang jelas rumahnya bukan di daerah ini belanja di minimarket-nya? Maksudnya minimarket tempat ia bekerja.

Yoona dengan cekatan mengambil satu persatu barang berupa snack dan beberapa minuman yang Baekhyun beli lalu mendekatkan barcode reader ke kemasan, jantungnya sungguh berdetak tak karuan dan matanya ia tahan untuk tidak melirik ke arah Baekhyun karena ia dapat merasakan kalau Baekhyun menatapnya sedari tadi.

“Kau satu sekolah denganku kan?”

Yoona mendongak dan mengerjap beberapa kali ketika matanya bertemu dengan mata Baekhyun. Lelaki itu masih menatapnya penasaran. Byun Baekhyun bahkan tidak mengenalmu, jangan bermimpi. “Ya.” Jawabnya singkat.

Baekhyun mengangguk setelah itu. “Kurasa kita seangkatan. Wajahmu sungguh familiar. Jadi kau bekerja disini?”

Gadis itu hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Ia masih menyibukkan dirinya. Yoona memasukkan semua barang belanjaan Baekhyun ke dalam kantung plastik hitam. Ketika semuanya telah selesai, Baekhyun mengambil alih kantung belanjaan itu.

Ia tersenyum menatapYoona yang masih menunduk. “Terimakasih.”

Yoona membungkuk sopan yang dibalas sama oleh Baekhyun. Ia malah tertawa kecil saat Yoona tidak juga mendongakkan kepalanya, lalu lelaki itu hilang dibalik pintu.

Yoona menghela nafas berat. Ia jadi bermimpi jika lelaki itu akan masuk ke dalam hidupnya dan merubah semuanya. Semuanya termasuk menenangkannya disaat ia ketakutan mendengar teriakan-teriakan kedua orangtuanya. Tapi ia tahu itu semua hanya mimpi.

Ia mendongak dan menatap kosong pandangannya. Namun hanya lelaki itu kunci merubah semuanya. Yoona hanya ingin lelaki itu tanpa alasan yang kuat.

Ya. Hanya ia. Harus ia. Harus Byun Baekhyun. Seorang Byun Baekhyun.

Yoona menyelipkan poni panjangnya ke belakang telinga. Matanya melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sebentar lagi waktu kerja part-time nya habis dan itu artinya ia bisa mengistirahatkan dirinya. Bukan kerja part-time di minimarket namun sekarang di cafe. Salah satu cafe yang lumayan dekat dengan rumahnya. Ia menghembuskan nafas pelan saat melihat antrian pelanggan lumayan panjang.

“Selanjutnya.”

Green tea lattenya satu.”

“Ice atau-”

Yoona menahan nafas saat itu juga. Lelaki di hadapannya juga kaget, sama seperti dirinya. Ia gigit bibir bawahnya lalu kembali menghadap lelaki itu. lelaki dengan hoodie abu-abunya. Byun Baekhyun. “Ice atau-”

Ice green tea latte.” koreksi Baekhyun.

Yoona mengangguk dengan kikuk. Kenapa harus dia lagi? Kenapa Baekhyun lagi? Kenapa? “Kau boleh-”

“Kau bekerja disini juga, Yoona-ssi?”

Matanya melebar sedikit. “Ya.” Singkatnya. Ia tidak mau memusingkan darimana Baekhyun mengetahui namanya. Ia tidak mau jantungnya kembali berhenti berdetak.

“Aku tahu namamu dari temanku. Tadi siang saat aku bertemu denganmu di minimarket, aku membeli disana untuk cemilan menonton dirumah Jongin. Rumah Jongin dekat dengan minimarket tempatmu bekerja.”

Ah, Kim Jongin. Temannya di club tari.

Baekhyun tersenyum. “Aku Byun Baekhyun.”

“Oh. Maaf, Baekhyun-ssi, tapi kau menghambat antrian.” Jawab Yoona halus.

Baekhyun menyadari kesalahannya dan segera menyingkir karena seorang wanita berumur telah mendumal sembari menatap sinis dirinya. Ia meringis dan ekor matanya mendapati Yoona menahan tawa. Mereka saling tatap dan tersipu saat wanita itu pergi melewati Baekhyun setelah mendapatkan makanan yang ia inginkan.

“Dasar anak muda zaman sekarang. Pendekatan saja di dalam antrian panjang. Memangnya dia pikir itu romantis? Dasar.”

Yoona menatap air yang terus berjatuhan dari langit. Sekarang sudah malam, pekerjaan rumah banyak dan sekarang hujan. Kapan ia akan sampai rumah? Tubuhnya bahkan pegal karena pelanggan di cafe sungguh banyak membuatnya kewalahan.

Matanya mengitari pandangan dan saat pandangannya terhenti pada motor merah besar yang terparkir kehujanan, otaknya sulit mencerna apa yang dilihatnya. Matanya membulat seketika saat mengetahui seseorang telah berdiri di sebelahnya dengan cengiran. Baekhyun menungguku?

“Aku terjebak hujan.” Jawabnya seolah mendengar pikiran Yoona. Gadis itu hanya bisa mengangguk dan menghela nafas di dalam hati. Khayalannya memang terlalu tinggi. “Sama sepertimu.” Lanjutnya.

Yoona tersenyum kecil. Baekhyun sekarang terasa benar-benar menemaninya menunggu hujan reda. Tidak bisa dipungkiri. Ia bahagia. Benar-benar bahagia karena lelaki itu ada disisinya.

“Ingin pulang bersama?”

Yoona menoleh, yang dibalas Baekhyun dengan senyum kecil. Gadis itu tersadar ketika suara gemuruh menyatu dengan hujan. “Sekarang hujan, Baekhyun-ssi.”

Baekhyun malah mengangguk meng-iyakan. Namun setelah itu, Baekhyun membuka hoodie abu-abunya. Tangan putihnya menyodorkan hoodie itu kepada Yoona, membuat gadis itu menatapnya penuh tanda tanya.

Yoona jelas bingung, namun Baekhyun malah tersenyum lebar. “Pakai ini.”

Yoona turun dari motor Baekhyun perlahan. Mereka berdua meneduh di atap depan rumah gadis itu. “Terimakasih, Baekhyun-ssi.”

Baekhyun tersadar dari lamunannya menatap rumah Yoona, ia tersenyum kecil. Namun tak lama setelah itu, ia sebal dengan suara gemeletuk giginya, gadis itu seperti merasa bersalah melihatnya yang seperti ini.

Yoona menatap Baekhyun khawatir. Lelaki itu, tersenyum kecil dengan bibir yang membiru, ia juga bisa mendengar suara gemeletuk giginya. Ia semakin khawatir melihat wajah Baekhyun yang pucat dan kaus oblong yang benar-benar sudah basah. Surai hitam lelaki itu lepek, semuanya basah karena air hujan. Sedangkan ia, hanya kakinya dan wajahnya. “Maaf, Baekhyun-ssi.” Dengan cepat Yoona melepas hoodie milik lelaki itu, menyodorkannya dan membungkuk. “Ini.”

Tanpa Yoona ketahui, Baekhyun tersenyum menerimanya. “Tidak apa. Ngomong-ngomong, jangan terlalu formal padaku. Aku temanmu sekarang, ingat?”

Yoona mengangguk, pipinya memanas. “Ya, Baekhyun…-ah.”

Baekhyun tertawa kecil. Tubuhnya memang sudah kedinginan dan mati rasa, tapi bukan berarti ia tidak bisa tertawa karena gadis itu. “Bagus. Ka-”

“DIMANA ANAK ITU?!”

Ucapan Baekhyun terpotong dengan suara berat seorang pria dari dalam rumah Yoona. Baekhyun mengernyit dan menoleh ke arah pintu, sedangkan Yoona, membeku. Baekhyun mengalihkan pandangannya dan menatap Yoona lekat, tatapan gadis itu kosong, namun matanya berkilau.

“Siapa yang kau cari, huh?!”

“DIMANA ANAK ITU?! DIMANA YOONA?!”

Baekhyun menatap lurus Yoona, semakin bingung dengan suara teriakan-teriakan tersebut.

“Dia belum pulang!”

“DIMANA ANAK ITU?! AKU BUTUH UANG!”

Tangan Baekhyun mencekal lengan Yoona yang ingin pergi darinya. Gadis itu menunduk namun Baekhyun dapat melihatnya, gadis itu menangis. “Apa yang terjadi?”

“Tidak terjadi apa-apa.” Yoona semakin menunduk dalam membuat Baekhyun susah meneliti wajahnya.

“Kau baik-baik saja? Aku bisa-”

“Aku baik.” Baekhyun tersentak saat mendengar suara gemetar Yoona. “Lebih baik sekarang kau pulang, Baekhyun-ah.”

“Tapi-” Tangan Baekhyun terlepas dari lengan Yoona karena gadis itu menghentakkannya keras.

Dan gadis itu berlalu, meninggalkan Baekhyun dengan semua kebingungannya.

“Kau yakin ingin masuk sekolah, sayang?”

“Harus. Aku ingin mengetahui sesuatu.”

“Lihat wajahmu. Kau sakit.”

“Tidak!”

“Kau sakit.”

“AKU TIDAK SAKIT!”

“Tapi-”

“Sudahlah, bu.”

“BYUN BAEKHYUN!”

Yoona melangkahkan kakinya menuju salah satu ruangan di rumah sakit yang besar ini. Lima hari telah berlalu sejak kejadian Baekhyun yang mengetahui ketidakharmonisan keluarganya. Dan setelah lima hari berlalu, Yoona semakin bersalah dengan dirinya sendiri karena lelaki itu sakit. Ia khawatir. Karena mungkin lelaki itu bisa sakit karena dirinya saat hujan waktu itu. Namun ia agak bingung karena Baekhyun dirawat, ia tidak mengira kalau dampaknya sebegitu besar bagi Baekhyun karena hujan.

Entah karena hujan atau apa, Yoona tidak tahu. Yang harus ia lakukan sekarang adalah menjenguk lelaki itu.

Perlahan Yoona masuk kedalam ruangan berpintu putih itu. Jongin yang memberitahu kamar rawat Baekhyun padanya. “Baekhyun-ah?”

Lelaki dengan garis rahang yang panjang itu menoleh ketika suara derit pintu memasuki pendengarannya. Matanya membulat dan mengerjap beberapa kali saat Yoona terus mendekati ranjang inapnya. “Kau datang kesini?”

Yoona mengangguk dan menunduk. Entahlah, ia bingung bagaimana menghadapi Baekhyun. “Maaf. Semua ini karenaku, ya?”

“Tidak! Sama sekali tidak!”

Yoona tersenyum tipis, sangat tipis. “Baguslah. Bagaimana kau bisa dirawat? Hanya demam?”

Baekhyun mengangguk kikuk, Yoona tahu. “Penyakit biasa. Tidak perlu ada yang ditakutkan. Mungkin aku hanya kelelahan sehingga pingsan saat itu.”

“Kau pingsan?”

Baekhyun mengangguk. “Esoknya setelah aku mengantarmu pulang.”

Yoona mendongak. Tak lama ia mengernyit memperhatikan wajah Baekhyun. Pucat sekali, dan bibirnya juga kering. Tapi ada yang aneh dari bibirnya. “Apa ini?”

Baekhyun mengerjap saat ibu jari Yoona mengelus bibirnya. “Ada apa?” tanyanya karena raut wajah Yoona tidak bisa dibaca olehnya.

Gadis itu menahan nafas. Entah kenapa sesesak ini. “Bibirmu berdarah?”

Baekhyun tersentak. Sedangkan Yoona tengah memperhatikannya. Ia melirik tangan gadis itu, sesuatu berwarna merah menempel di ibujarinya. “A-a-aku..” Jantungnya berpacu cepat. “Ya. Bibirku berdarah tadi, tidak sengaja tergigit.”

Yoona mengernyit, namun senyum Baekhyun yang seolah meyakinkannya membuatnya diam. Kepalanya ia tundukkan, menatap ibu jarinya dengan sendu. Bercak darah masih tertempel disana. Ia semakin bingung saat melihat bibir Baekhyun baik-baik saja, tidak sobek dan tidak ada luka yang berbekas. Lalu kenapa darah ini menempel di bibirnya?

Ia menatap Baekhyun yang tengah menatap ke depan kosong dengan lidah yang menjilat bibirnya. Lelaki itu menyembunyikan sesuatu.

Semuanya berjalan lancar setelah Baekhyun keluar dari rumah sakit. Yoona semakin dekat dengan lelaki itu, begitupun juga dengan Baekhyun yang semakin mengerti akan Yoona. Mereka berdua saling membutuhkan. Dan kali ini, Yoona merasa ialah yang paling bahagia. Baekhyun suka menemaninya di minimarket hingga membeli banyak snack disana, Baekhyun juga kadang berkunjung ke cafe tempatnya bekerja, dan Baekhyun juga mengantarnya pulang seperti sekarang.

“Terimakasih.”

Baekhyun mengangguk singkat, namun mata Yoona yang meneliti wajahnya membuatnya gugup. “Ada apa?” merasa diperhatikan, Baekhyun bertanya, ia juga penasaran dengan gadis itu yang bertingkah aneh.

Yoona mengerjap. “Kau sakit?”

Nafasnya tecekat, Baekhyun dengan susah payah membuka suara. “Apa?” Ia tidak mengerti. Sebenarnya kearah mana gadis itu berbicara? Dadanya sesak karena gadis itu bertanya hal seperti ini.

Yoona menggeleng pelan. Punggung tangannya mendarat di kening Baekhyun membuat lelaki itu terperanjat. “Wajahmu pucat. Kau juga berkeringat. Tapi suhu tubuhmu normal. Kau baik-baik saja?” tanyanya khawatir.

Baekhyun tersenyum tipis, sangat tipis, sampai Yoona tidak melihatnya. “Aku baik.” Tidak.

Yoona mengangguk mengerti. Ia lambaikan tangannya dan tersenyum. “Aku masuk dulu.” Lalu punggung gadis itu hilang di balik pintu.

Baekhyun tidak langsung menyalakan motornya dan pulang. Lelaki itu diam, menatap kosong jalanan sepi dihadapannya. Tiba-tiba batuk melandanya, lantas ia membekap mulutnya sendiri, meredam suara batuknya. Matanya sempat membelalak dan akhirnya meredup ketika melihat telapak tangannya, tangan yang tadi ia pakai untuk menutup mulutnya. Baekhyun menghela nafas. Tidak, jangan. Kumohon. Aku telah menemukannya. Dan aku masih ingin bersamanya.

“Atap sekolah merupakan tempat favoritku. Aku memilihnya sebagai tempat untuk menyendiri.”

“Kau..benar.”

“Cepat kemari! Kenapa kau lama sekali?! Anginnya segar!”

“Baekhyun-ah? Baekhyun? Kau masih dibelakangku, ‘kan?”

“BYUN BAEKHYUN!”

“Jelaskan padaku.”

Baekhyun menatap keluar jendela ruang kesehatan, menghindari tatapan sendu Yoona yang diberikan padanya. “Tidak ada yang perlu dijelaskan.”

“Kenapa?” Baekhyun sukses menoleh saat tangan gadis itu mencengkram lengannya. “Apa yang tidak kutahu darimu?” Yoona mengambil nafas sejenak, nafasnya tercekat, dadanya sesak. Ada sesuatu yang tidak ia ketahui, dan itu berurusan dengan kesehatan Baekhyun. “Kau menyembunyikan sesuatu. Katakan padaku.”

Terdengar helaan nafas Baekhyun, membuat jantung Yoona berdegup cepat. “Aku tidak menyembunyikan sesuatu.”

“Apa kau sakit?”

Pertanyaan Yoona kali ini membuat Baekhyun mendongak sekaligus menatap mata gadis itu, pertanyaan yang terlalu menohok hatinya. Dadanya naik turun, matanya memburam karena sesuatu berkumpul di pelupuk matanya, namun Baekhyun tahu. Sekarang bukan waktu yang tepat untuknya menangis.

“Penyakitmu serius?” Yoona mengguncang lengannya tidak sabar. Mata gadis itu sudah berair sama seperti dirinya. “Katakan padaku!” seru Yoona membuat Baekhyun terlonjak.

Yoona hanya ingin tahu. Ia khawatir dengan keadaan Baekhyun saat ini. Tiba-tiba pingsan dan ia tidak tahu penyebabnya. Ia takut Baekhyun sakit. Ia takut Baekhyun meninggalkannya karena hanya Baekhyun yang dapat membuatnya seperti ini. Lelaki itu merubah semuanya. Ia hanya ingin Baekhyun tetap di sisinya. Harus Baekhyun. Tidak ada yang lain.

“Kau benar.” Mata Yoona melebar. Tanpa sadar tangannya meremas tangan Baekhyun yang ia genggam. Ia menunduk, menatap genggaman tangan itu.

Air mata Yoona jatuh saat tangan Baekhyun malah menggenggamnya erat. Bulir itu menetes mengenai punggung tangannya. Tangan kiri Baekhyun. “Apa artinya? Kau..sakit?”

“Ya, aku sakit.” Baekhyun hanya menatap Yoona yang tengah menunduk.

“Seberapa parah?” Ia bahkan bisa mendengar suara Yoona yang bergetar.

Baekhyun tersenyum hambar. Ia mengalihkan pandangannya, tidak ingin menatap Yoona yang sedang mati-matian menahan suara tangisnya. “Sangat parah.”

Gadis itu diam. Terus menunduk membuat rambutnya yang tergerai panjang hampir menutupi seluruh wajahnya.

Sekali lagi, Baekhyun tertawa kecil tanpa arti. Hambar dan miris. “Tenang saja. Penyakit hati ini tidak akan menular.”

“Hati?”

Baekhyun mengangguk pelan.

“Seberapa parah?” Yoona mendongak, menatap Baekhyun dengan mata yang memerah.

“Kalau kubilang aku butuh donor hati, apa kau akan meninggalkanku?”

“Apa?”

Yoona duduk menyender tembok kamarnya. Kemudian berganti posisi menjadi kepala bagian kanannya ia senderkan ke dinding. Ia meringkuk, menenggelamkan kepalanya diantara kedua kakinya yang ditekuk. Isakan mulai terdengar pelan. Ayah dan ibunya belum pulang, membuatnya bebas menangis sekencang mungkin. Dan benar, Yoona menangis setelah itu. Menangis kencang seolah berteriak melampiaskan beban hidupnya.

“Kalau kubilang aku butuh donor hati, apa kau akan meninggalkanku?”

“Apa?”

“Aku sakit, Yoona-ya.”

“Apa maksudmu? Donor ha..ti?”

“Kau tidak mengerti? Aku sakit parah, Yoona. Organ bodoh ini tidak bisa berfungsi optimal lagi.”

“Kau bohong. Tidak mungkin! Kau sehat, Baekhyun-ah!”

“Ini fakta, Yoona-ya. Aku yang merasakannya. Ini tubuhku.”

“Tidak. Kau sehat!”

“Baekhyun-ah! Katakan kalau kau sehat! Katakan padaku..hiks.”

“Aku sakit, Yoona. Kau tidak akan pergi kan?”

“Aku..hiks..hiks”

“Kumohon, jangan..”

Yoona semakin terisak. Baekhyun sakit. Orang ia cintai sakit. Sumber kebahagiaannya sakit. Lalu, bagaimana setelah ini? Takdir kehidupan akan menampar keras dirinya lagi?

Baekhyun mengulas senyum manis. Sebuah gambar di buku berukuran sedang itu sangat pas dan indah. Hanya bermodalkan sebuah inspirasi dan satu buah pensil, sketsa wajah seseorang itu sangat indah. Baekhyun memang berbakat dalam hal melukis.

Ia menutup buku itu cepat dan menaruhnya ke laci asal saat mendengar pintu yang terbuka. Baekhyun kembali tersenyum saat dilihatnya Yoona yang membawa dua gelas orange juice. Gadis itu menyodorkan satu. “Hanya ada ini. Bibi Lee bilang dia belum belanja.” Baekhyun mengangguk dan meneguk jus itu sejenak, lalu menatap Yoona yang tengah duduk manis di sofa dalam kamarnya itu. Ya, sudah lebih dari satu bulan sejak kejadian itu, mereka semakin dekat sekarang.

“Apa yang biasa kau lakukan di kamarmu yang luas ini?” tanya Yoona dengan mata yang mengitari ruangan kamar Baekhyun.

Lelaki itu berdiri, melangkah mendekati Yoona dan duduk di sebelahnya. “Menggambar? Kurasa hanya itu.” ia tersenyum kecil melihat Yoona yang masih meneliti barang-barang di kamarnya. “Lainnya, hanya hal biasa yang dilakukan anak remaja.”

Yoona mengangguk dan mendapati Baekhyun sudah berada di sebelahnya. Ia tidak sadar kapan Baekhyun duduk disini. “Kemana orangtuamu? Dibawah hanya ada beberapa pelayan.”

Baekhyun menghela nafas, tersenyum kecut. Punggungnya ia senderkan santai. “Tentu saja bekerja.”

“Kau pasti bosan ya?”

Baekhyun tertawa saat wajah gadis itu menatapnya prihatin. Yoona tidak sadar kah? “Tidak lagi.”

“Kenapa?”

“Kan ada kau.” Cengir Baekhyun.

Yoona menggigit bibir bawahnya, gugup melandanya. Malu juga termasuk, lebih tepatnya tersipu. “Kau ini.”

Senyum Baekhyun perlahan memudar. Ia terbatuk tiba-tiba membuat Yoona beralih menatap Baekhyun dan mengelus punggungnya. Lelaki itu menutup mulutnya. Tangan kanannya yang satu lagi ia letakkan di dada. Entah apa yang Baekhyun rasakan, tapi Yoona tahu, itu menyiksa.

“Kau baik-baik saja?” tanya Yoona saat batuk Baekhyun menghilang. Lelaki itu mengatur nafasnya, lalu mengangguk. Tangan Yoona yang masih mengelus punggungnya membuat Baekhyun tak kuasa membayangkan jika Yoona melihat telapak tangan kirinya. Gadis itu kaget kah? Diam kah? Atau menangis?

Baekhyun menoleh dan menatap Yoona yang masih juga menatapnya, ia tersenyum tipis. Baekhyun merasakan gerakan di punggungnya terhenti, ia kembali menatap Yoona yang menatap kosong dirinya. Tidak. Lebih tepatnya bibirnya.

“Ada apa?”

Yoona diam. Gadis itu membeku. Namun setelah itu, telapak tangan kiri Baekhyun yang mengepal dibukanya dengan paksa. Yoona tersentak, ia tahu. “Baekhyun-ah..” Jantung Yoona terasa berhenti saat itu juga. telapak tangan lebar itu penuh darah, kejadian yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Matanya memanas, pandangannya memburam. Selalu. Jika ini menyangkut dengan kesehatan Baekhyun, bulir hangat ini akan selalu menghasilkan padahal ia tidak menginginkannya.

Yoona tersadar saat Baekhyun beranjak berdiri. “Apa yang kau takutkan?” Yoona diam. Lelaki itu mengambil tisu, lalu membersihkan telapak tangannya sendiri dengan air mata yang menggenang di matanya. Yoona bisa melihatnya walaupun samar, lelaki itu juga terpukul sama seperti dirinya. Baekhyun menjilat bibirnya yang terdapat bekas darah lalu tersenyum hambar ke arahnya. “Tidak ada yang perlu kau takutkan sekarang.”

Yoona tetap diam. Ia hanya menatap sendu Baekhyun.

“Apa yang kau rasakan?” tanya Baekhyun lembut seraya menarik tangannya untuk berdiri dan menghadap wajahnya. Yoona melihatnya. Menatap matanya. Menatap iris coklat gelap itu yang semakin meredup seiring berjalannya waktu, tidak cerah seperti pertama kali mereka bertemu. “Apa yang kau rasakan sekarang?” ulangnya beradu tatap dengan Yoona.

“A-ku hanya..” bergetar.

“Kau takut? Tidak kan?” Air mata mengalir dari mata kanan Yoona, Baekhyun tersentak. Hatinya tersentil saat itu juga. “Aku baik-baik saja.”

Baekhyun terbelalak. Yoona memeluknya erat.

“Aku tidak takut.”

Aku takut, Baekhyun-ah. Aku takut..

“Huwaaaa~ Baekhyun-ah! Ini bunga matahari! Ini bunga matahari~”

Baekhyun tersenyum senang. Bibirnya terus tertarik membentuk senyum lebar yang memamerkan gigi rapinya. Yoona disana, berlari mendekati ladang bunga matahari yang luas. Ia tahu Yoona suka bunga matahari, jadi ia membawa Yoona kesana. Gadis itu sungguh senang membuat Baekhyun sendiri senang.

Lalu ia sampai disana. Ditengah ladang bunga. Bersama Yoona. Berbeda dengan Yoona, ia sedang menatap gumpalan awan putih itu dengan warna latar biru tua. Sangat cocok dengan bunga matahari yang berwarna kuning cerah. Dan juga sangat cocok dengan gadis itu. Yoona dengan semua kecantikannya.

Baekhyun memegang dadanya, jantung itu masih bekerja. Hal yang sangat ia syukuri saat sedang menatap wajah gadis itu yang sumringah. Ia hanya perlu berharap, keajaiban datang padanya. Ibunya bilang, pendonor itu masih belum ada. Sedangkan penyakitnya, semakin berkembang.

Tadinya Baekhyun tidak se-tegar ini. Ia bahkan ingin membunuh dirinya sendiri ketika mengetahui apa penyakitnya. Namun setelah bertemu Yoona, arti kehidupan menurut pandangan Baekhyun langsung berubah. Ia pikir Tuhan tidak adil padanya, namun setelah melihat Yoona, melihat kehidupan gadis itu, dan merasakan detak jantungnya yang tidak terkendali.

Ia rasa ia masih lebih beruntung dari Yoona. Gadis itu masih melangsungkan hidupnya dengan masalah yang berkali-kali lipat ditumpukkan di pundaknya. Masih memanfaatkan hidupnya.

Harusnya ia seperti gadis itu. Bertingkah seperti orang dewasa yang tegar dan memanfaatkan hidup sebaik-baiknya. Selain itu, ia juga jadi memiliki alasan untuk hidup. Karena Yoona, gadis itu adalah alasan dibalik semua sikapnya yang berubah menjadi dewasa. Karena ia mencintainya. Ia ingin memilikinya dan ingin membuat gadis itu mencintainya. Ia ingin diberikan waktu lebih oleh Tuhan untuk membahagiakan gadis ini, tapi semuanya tetap sama. Waktu itu begitu mendesaknya. Waktunya tersisa sedikit lagi, ia yakin. Dan waktunya tinggal sebentar lagi.

“Kau suka?”

Yoona menoleh. Tersenyum lebar menampilkan deretan giginya yang rapi serta matanya yang menyipit indah. “Suka! Sangat suka!”

“Baguslah.” Baekhyun tersenyum menatap Yoona. Sudah enam bulan ia bersama Yoona. Dan sudah tiga tahun penyakit itu menggerogoti tubuhnya. Akhir-akhir ini ia merasa bahagia. “Oh ya, kameraku ada dimobil. Kau pasti ingin berfoto kan? Aku akan mengambilnya.” Yoona mengangguk dan Baekhyun berbalik menuju parkiran mobilnya.

Yoona seketika menoleh dan berlari menuju Baekhyun secepat mungkin. Lelaki itu terjatuh tiba-tiba membuatnya refleks berlari. Dada Yoona sesak tidak hanya karena berlari, namun karena Baekhyun sudah terbatuk parah.

“Baekhyun-ah, kau tidak apa-apa?” Ia sempat melihat darah di telapak tangan Baekhyun, namun ia membiarkannya, ia sesak sungguh. Lelaki itu terdiam membeku dengan nafas yang tidak teratur, membuatnya mensejajarkan tubuhnya dan memeluk tubuhnya erat. Baekhyun tidak keberatan dan tidak membalas pelukannya.

Baekhyun diam. Sedangkan Yoona sudah menangis, isakannya terdengar oleh Baekhyun tentunya. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Baekhyun. Ia takut.

“Yoona-ya..”

Gadis itu tetap terisak. Hatinya teriris mendengar suara lemah Baekhyun. Darah yang ia lihat tadi juga menambah kesakitannya. Kenapa disaat yang menyenangkan, Baekhyun seperti ini? Di ladang bunga kesukaannya. Ia hanya ingin tertawa lepas bersama lelaki itu di dalam kerumunan bunga matahari dan mengabadikan foto bersama. Yoona hanya ingin membuat kenangan manis.

“Tolong aku..”

Gadis itu semakin terisak. Baju Baekhyun sudah basah karenanya. Kenyataan ini begitu menyakitkan. Yoona mengangguk-ngangguk di dalam pelukan itu. Ia tersentak saat merasakan bagian pundak dekat lehernya terteteskan air.

“Selamatkan aku, Yoona-ya..”

Yoona kembali mengangguk, ia gigit bibir bawahnya menahan tangis. Lirihan Baekhyun menusuk hatinya.

“Aku masih ingin disini. Aku masih ingin bersamamu..”

Aku juga ingin..

Yoona menaruh tas selempangnya dan duduk bersila dengan punggung yang ia senderkan di tembok kamarnya. Ia aduk isi tas itu, mengambil sebuah buku yang tadi diberikan Baekhyun. Mengingat Baekhyun, lelaki itu dan dirinya hanya menghabiskan waktu dengan menangis bersama di ladang bunga.

Matanya menatap lekat isi buku milik Baekhyun itu. Hatinya berdesir. Buku itu penuh dengan gambar seseorang. Gambar dirinya lebih tepat.

Halaman pertama, gambar dirinya yang sedang memegang buku tebal dengan tangan kanan yang memegang pensil. Wajahnya saat itu tengah dilanda bingung terlihat dari kerutan di dahinya. Kostum yang ia pakai adalah baju pegawai minimarket. Sekarang ia ingat. Saat pertama kali mereka mengobrol di minimarket.

Lalu ada tulisan di bawah kanan gambar itu.

Pertama kali kita berinteraksi^^ Keinginanku terwujud hanya dengan memakai nama Kai sebagai alasannya. Selamat datang di kehidupanku, Im Yoon Ah-ssi^^

Halaman pertama membuatnya tersentak sekaligus tersipu. Apa maksud tulisan itu?

Halaman kedua, ia tentu langsung tahu. Saat dirinya tengah merapihkan poni panjangnya yang ia selipkan di telinga. Wajahnya saat itu terlihat kelelahan dengan apron berwarna coklat milik cafe tempatnya bekerja. Ya, saat Baekhyun secara terang-terangan mengenalkan dirinya sendiri.

Ternyata kau seorang yang pekerja keras. Fighting, Im Yoon Ah!^^

Yoona tersenyum. Ia buka lagi lembar selanjutnya.

Halaman ketiga, berisi gambar dirinya yang tengah menatap hujan. Gambarnya sungguh indah karena dilukis dari samping sehingga memperlihatkan bagian wajah kananya, hidungnya yang mancung, leher jenjang, dan bibirnya yang tipis.

Kau cantik, kau tahu?^^

Yoona tersenyum lagi, kali ini lebih lebar.

Halaman keempat, berisi gambar dirinya yang sedang menatap keluar jendela ruang ruang kelas. Jelas ia bingung karena Baekhyun tidak pernah sekelas dengannya, ia ingat ia pernah melakukan ini. Menatap kosong keluar jendela yang sedang memikirkan pertengkaran orangtuanya.

Kau mungkin tidak pernah menyadarinya, tapi aku selalu memperhatikanmu. Sejak dulu. Dan apa kau punya masalah? Aku ingin membantu.

Lalu, halaman kelima berbeda. Ternyata tidak semua buku itu penuh dengan gambarnya. Gambar yang ini, bukan gambar wajahnya. Melainkan gambar telapak tangan Baekhyun sendiri. Namun, di telapak tangan tersebut arsirannya dibuat gelap, seperti bercak cairan. Tak lama Yoona tahu, bercak itu bukan cairan biasa. Hal yang membuatnya tertohok adalah, cairan itu merupakan darah Baekhyun.

Aku batuk darah lagi. Maaf, Yoona-ya, aku sakit.

Yoona meneteskan air matanya lagi. Entahlah, kenyataan tentang Baekhyun masih susah ia percaya. Seorang lelaki baik hati yang selalu menemaninya dan menangkannya disaat kedua orangtuanya bertengkar adalah orang yang paling berharga untuknya. Baekhyun adalah orang yang berharga.

Halaman keenam, berisi tangan Baekhyun dan tangannya yang sedang bertautan. Saling menggenggam.

Aku ingin seperti ini selamanya. Apa waktu akan memihakku?

Yoona menelan ludahnya. Baekhyun ingin bersamanya? Apa itu artinya..? Gadis itu menggelengkan kepalanya pelan. Mana mungkin, Baekhyun pasti tidak ingin perempuan miskin sepertinya.

Halaman ketujuh, berisi gambarnya lagi. Kali ini berbeda dengan gambar-gambar sebelumnya. Raut wajahnya digambar ini terlihat sangat bahagia. Bahkan, tertawa lebar dengan mata yang menyipit indah. Ia tersenyum sejenak, ia lupa kapan gambar ini terjadi tapi Baekhyun benar-benar memiliki bakat dalam melukis.

Tertawa seperti ini terus ya? Aku ikut senang kalau kau seperti ini^^

Yoona tersenyum tipis lagi, setengah senang setengah sedih. Ia tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini.

Tangannya membuka lembar selanjutnya. Sekarang bukan gambar, melainkan tulisan.

Sudah melihat gambarku semua? Kau suka? Pasti kau bilang aku punya bakat dalam melukis ya? Kkk~^^

Yoona tersenyum sejenak lalu kembali membaca.

Saat ini, kau sudah mengetahui semuanya, Yoona-ya.

Yoona mengernyit, hal ini kembali dibahas Baekhyun.

Aku sakit dan aku tidak bisa disini selamanya. Aku ingin tetap disini. Bahkan ingin sekali. Bersamamu. Apa kau tidak curiga aku menuliskan kalimat seperti itu? Maksudku saat bagian ‘bersamamu’. Kkk~ Tapi, jujur aku ingin terus bersamamu^^

Bibirnya tertarik lagi membentuk senyuman tipis, namun kalimat dibawahnya membuat matanya membelalak.

Bukan sebagai teman, Yoona-ya. Tapi sebagai..kau tahu?

Bola matanya bergulir lagi kebawah.

Aku pikir, lebih baik aku memberitahumu besok, bagaimana? Di ladang bunga matahari? Pukul 3 sore. Kudengar minimarketmu tutup besok jadi tidak masalah. Sampai bertemu besok^^

Yoona meletakkan buku milik Baekhyun di sampingnya. Dadanya sesak. Perasaan tidak enak melandanya. Ia takut. Ia semakin takut saat Baekhyun bilang ‘tidak sebagai sahabat’. Apa itu berarti lelaki itu menyukainya? Hal tersebut yang membuatnya takut karena harapannya terwujud namun ia tahu waktu lelaki itu tidak banyak. Kenapa kenyataan menampar keras dirinya lagi?

Isak tangis kembali menghampiri Yoona. Otaknya bekerja lambat sekarang. Apa yang harus ia lakukan? Menghabiskan waktu dengan Baekhyun saat lelaki itu seharusnya berbaring di ranjang?

Ia tersentak saat seseorang memeluknya. Ia tahu pelukan hangat ini, ibunya.

“Ada apa, sayang? Kenapa kau menangis?”

Yoona membalas pelukan ibunya. “Baekhyun, bu..” lirihnya susah melanjutkan. Yoona tidak salah bicara karena ibunya mengenal Baekhyun.

“Ada apa dengan Baekhyun?”

“Dia..sakit. Dia butuh donor, bu.” Isak tangis Yoona semakin kencang sedangkan ibunya terpaku tidak percaya.

“Donor? Donor apa?”

“Dia butuh donor hati. Waktunya sudah tidak banyak.”

“Kau mencintainya?”

Jantung Yoona berdetak cepat seketika. “Aku-”

“Ibu tahu.” Tangan Ibunya mengelus kepala Yoona lembut, anak gadisnya itu masih belum bisa berhenti menangis.

“Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa membantunya.”

“Seseorang pasti akan mendonorkan hatinya untuk orang sebaik Baekhyun.”

Entah hal itu akan terwujud atau tidak, tapi Yoona berharap.

Tidak ada yang tahu, seseorang mendengar semua pembicaraan mereka dibalik pintu.

Baekhyun menghela nafasnya berkali-kali. Kejadian barusan membuatnya takut. Kejadian dimana tubuhnya melemas dan batuk hebat melandanya. Sedari tadi ia menyenderkan punggungnya di sisi kiri mobilnya.

Bukannya pulang kerumah setelah mengantar Yoona pulang, ia malah memarkirkan mobilnya di tempat yang agak jauh dari rumah gadis itu dan bahkan tidak tahu menunggu untuk apa. Entahlah, ia merasa waktunya semakin sedikit dan seolah tidak memiliki kesempatan melihat Yoona lagi.

Tubuhnya ia tegakkan saat melihat seorang pria berumur tengah berjalan kearahnya. Sebenarnya tidak kearahnya, mungkin pria yang seperti tidak terurus dari penampilannya itu hanya ingin melewati Baekhyun.

Ia bingung saat pria itu berhenti dihadapannya dan meneliti wajahnya. Baekhyun sedikit kaget saat mengetahui siapa orang yang familiar ini. Bukannya ia ayah Yoona?

“Kau Baekhyun?”

Baekhyun mengangguk kikuk. Ada angin apa ayah Yoona seperti ini? Terlihat serius. Ia bahkan ingat saat ia melindungi Yoona dari tamparan ayahnya waktu itu. Tatapan ayah Yoona tidak seperti ini. Lemah dan murung. “Iya, saya Baekhyun. Teman Yoona.” Entahlah, tapi Baekhyun harus menambahkan dua kata terakhir itu.

“Bisa kita bicara?”

“Kau datang?”

Yoona hanya mengangguk dan menghampiri Baekhyun yang berada di tengah-tengah ladang bunga matahari itu. Dan inilah saatnya bagi Yoona. Saat penting bagi Baekhyun juga. “Tentu, aku selalu datang ke ladang bunga kesukaanku kan?” canda Yoona.

Baekhyun terkekeh. Yoona dapat melihatnya, wajah Baekhyun yang semakin pucat dan senyum tulus yang seperti tidak habis untuknya itu. Ia menatap mata Baekhyun yang sungguh nampak bersinar dimatanya.

“Kau ingat ada sesuatu yang ingin aku katakan, bukan?”

Yoona mengangguk. Entah kenapa, tiba-tiba kepalanya ia tundukan. Ia tidak bisa membayangkan apa yang Baekhyun katakan, apalagi tatapan matanya itu. “Katakan sekarang.”

“Tatap aku.”

Yoona membeku.

“Tatap aku, Im Yoon Ah.”

Yoona mendesah dalam hati, mengutuk matanya yang mulai berair. Ia mendongak dan beradu tatap dengan Baekhyun.

“Aku tidak tahu apa kau merasakannya atau tidak, tapi..” Baekhyun meraih tangan Yoona membuat gadis itu tersentak. Telapak tangan gadis itu ia tempelkan ke dadanya. “Jantungku berdetak cepat hanya karena melihat matamu, nafasku tercekat sekarang saat matamu berair, apa kau tahu artinya?”

Yoona terdiam. Hanya menatap mata Baekhyun yang ternyata baru ia sadar berubah lemah.

“Aku mencintaimu.”

Yoona semakin terlarut di dalam tatapan Baekhyun. Suaranya seolah hilang entah kemana.

Reaksi Yoona yang tidak menunjukan apa-apa seketika membuat Baekhyun melemas. “Dari dulu, aku selalu memperhatikanmu. Melewati jalan yang kau tempuh saat masuk sekolah hanya karena ingin mendapati kau yang aman sampai sekolah. Bahkan aku tahu namamu dari dulu bukan karena Jongin, dan saat itu aku kesal tidak bisa masuk ke club tari hanya karena kondisi fisikku yang seperti ini. Aku..hanya ingin selalu melihatmu dengan kedua mataku sendiri.”

Baekhyun mengambil nafas dalam. “Aku tahu ini gila tapi aku benar-benar mencintaimu. Tidak peduli berapa lama lagi waktu yang kupunya, aku mencintaimu. Sesederhana itu yang bahkan membuatku ingin bernafas lebih lama dan merasakan jantungku yang terus berdetak. Ya, bahkan membuatku egois ingin di sisimu lebih lama padahal takdir mengatakan tidak.”

“Baekhyun-ah.” Kedua tangan Yoona beralih memegang kedua lengan Baekhyun dan mengelusnya, yang lama kelamaan merambat naik dan akhirnya melingkar di leher Baekhyun, membuat lelaki itu tersentak saat Yoona mendekatkan tubuhnya. Memeluknya erat. “Aku juga mencintaimu.”

Sebelumnya mata Baekhyun melebar, namun pada akhirnya ia juga membalas pelukan Yoona yang tak kalah erat. Menaruh kepalanya di pundak gadis itu dan bernafas disana. “Aku tidak tahu akan berakhir seperti ini.” Bibirnya tertarik membuat senyuman.

“Hm. Aku juga.”

Yoona tersentak saat Baekhyun berbisik tepat ditelinganya. “Kalau terjadi sesuatu padaku setelah ini, kau harus melanjutkan hidupmu dengan baik ya.”

Yoona ingin melepaskan pelukannya karena Baekhyun kembali membahas topik yang paling tidak ia sukai namun aksinya terhenti saat lelaki itu malah menarik pinggangnya mendekat, tidak ingin melepasnya. Jujur topik ini terlalu sensitif karena ia merasakan keanehan saat menatap mata Baekhyun yang melemah. Ia tidak tahu, tapi perasaannya tidak enak. “Aku tidak bisa..” Dadanya sesak lagi. “..karena kau tidak ada. Aku yakin kau akan selalu bersamaku, Baekhyun-ah.”

“Aku tahu kau tidak yakin tentang itu.” Baekhyun terkekeh di dekat telingnya. Memang, ia hanya menghibur dirinya. “Dan jika terjadi sesuatu padaku setelah ini, kumohon hiduplah seperti biasa. Terus semangat belajar, bekerja, dan jangan lupa makan. Carilah teman yang baik, Yoona-ya, seperti Jongin dan Luhan misalnya.”

Yoona diam.

“Mereka memang kadang suka melanggar peraturan, tapi kupikir hanya mereka yang bisa menjagamu.”

“Aku hanya butuh kau.”

Baekhyun menghela nafas berat. “Aku tidak bisa.”

Yoona melepaskan pelukannya paksa, kali ini Baekhyun tidak menarik Yoona ke dalam pelukannya lagi. Lelaki itu pasrah Yoona rasa. “Kau bisa! Kau pasti bisa!”

Baekhyun mengalihkan pandangannya, menjadi mendongak menatap gumpalan awan dengan warna latar biru muda. “Pendonor itu tidak ada, Yoona. Kesempatanku semakin lama menipis.”

Yoona menggigit bibir bawahnya, hatinya berdebar kencang. Air mata mengalir setelahnya menunjukan kalau dirinya benar-benar rapuh. “Apa yang bisa kulakukan? Aku ingin mendonorkan hatiku untukmu-”

“Tidak!” sentak Baekhyun. “Tidak perlu. Jangan pikirkan aku.”

Aliran air mata Yoona makin deras, membentuk sungai kecil di pipi tirusnya. “Tapi, aku mencintaimu-”

Kedua tangan Baekhyun menangkup wajah Yoona tiba-tiba. “Mencintaiku bukan berarti memberikan nyawamu.” Menatap mata lurus gadisnya dengan lembut. “Aku ingin kau bahagia, kenapa kau malah memberikan nyawamu? Kau harus hidup bahagia dan menikmatinya tanpa aku.” Isakan Yoona membuat kepalanya pening.

“Kenapa tanpa kau? Aku baru saja menemukan seseorang yang dapat merubah hidupku dan itu kau, Baekhyun-ah. Aku tidak ingin kalau tidak kau. Itu harus dirimu. Seorang Byun Baekhyun..”

Baekhyun membeku. Keinginan Yoona sangat sulit dikabulkan. Membuat air matanya juga meleleh dari mata kanannya. “Baik. Aku juga menginginkannya. Tapi kenapa sesulit ini?”

Beberapa detik setelah itu, wajah Baekhyun semakin mendekat. Ia memiringkan kepalanya, menatap bibir Yoona lekat. Nafas keduanya saling menerpa wajah mereka, membuat desiran halus di dada keduanya. Selang lima detik, bibir Baekhyun sudah menempel di bibir Yoona.

Mereka berdua memejamkan mata. Merasakan perasaan yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata. Sedih, bahagia, pasrah. Semuanya tercampur membuat mata Yoona yang terpejam tetap mengalirkan perasaannya, bulir bening yang menemani cerita cinta mereka.

Baekhyun mulai melumat bibir Yoona lembut. Tidak ada nafsu, melainkan berjalan dengan lembut. Lengan kurus Yoona melingkari leher Baekhyun, sedangkan Baekhyun, tangan lelaki itu menarik pelan pinggang Yoona, mendekat ke arahnya. Keduanya terlarut dalam perasaan aneh yang akhirnya melepaskan ciuman mereka saat kehilangan nafas.

Yoona mengernyit saat Baekhyun tertawa kecil ke arahnya. Tertawa miris lebih tepat. “Lipstikmu meluber kemana-mana.” Kekehan yang terkesan terpaksa dengan tangan Baekhyun yang mengelap bibirnya cepat membuatnya bingung.

Baekhyun tetap menunjukan senyumnya. Kembali menutupi fakta menyakitkan yang ia buat sendiri. Gadis itu diam, Baekhyun harap Yoona tidak mencurigainya. “Sejak kapan kau memakai lipstik super merah begitu? Aneh.”

“Lipstik merah?”

Baekhyun mengangguk cepat. Ia mengerjapkan matanya cepat saat dirasakannya matanya mulai tergenang cairan yang membuat penglihatannya memburam. “Tidak cocok denganmu, Yoona-ya.” Ia tertawa mendapati wajah bingung Yoona. Tawa paksa.

Tangannya ingin mengelap bibirnya sendiri saat mata Yoona mulai memerah dan menatap kaget bibirnya. Ia tahu, sesuatu telah terjadi. Dan Yoona mengetahuinya.

Jemari Yoona menghentikan pergerakannya. Menahan kedua tangannya. “Aku tidak memakai lipstik. Ini bukan lipstik, Baekhyun-ah.” Lirihan Yoona membuat Baekhyun tertawa paksa lagi.

“Apa yang kau katakan?” Baekhyun terkekeh. “Lipstikmu ini pasti juga meluber ke bibirku.” Tangannya kembali ditahan oleh Yoona.

“Ini bukan lipstik..” Baekhyun kembali tertawa tanpa arti saat Yoona meneteskan air matanya. “Ini-”

“Ini lipstik! Kau yang terlalu bersemangat menciumku!” Tawa Baekhyun semakin aneh saat air mata kembali keluar dari mata kanannya. Lelaki itu bersikeras menahan tangan Yoona.

“Baekhyun-ah..”

Kali ini mata kirinya juga mengeluarkan air mata, membuat Baekhyun semakin aneh karena lelaki itu terus tertawa dengan air mata yang juga mengalir. “Ini–lipstik! Kenapa kau menangis begitu?”

Kali ini Yoona menangkup wajah Baekhyun, membuat lelaki itu menghadap ke arahnya. Namun matanya menatap kosong. “Ini darah, aku tahu.” Tangannya turun dan menarik punggung Baekhyun, memeluknya. Air mata kembali mengalir dari kedua mata bulatnya. “Dan itu bukan berarti kau akan meninggalkanku. Aku yakin–kau akan tetap disini.”

Baekhyun juga membalas pelukan Yoona, ia menangis dalam diam. “Aku yakin jika kau yakin.” Tapi, aku lelah.

Yoona mengangguk. Darah itu kembali hampir meruntuhkan semangat mereka untuk bersama.

Yoona tersentak saat pelukan Baekhyun melonggar, ia juga merasakan telapak tangan Baekhyun yang menempel di punggungnya mulai terlepas. Jatuh, menggantung di sisi tubuhnya. Yoona terisak hebat saat tubuh Baekhyun mulai menumpu tubuhnya.

Gadis itu terjatuh saat tubuh Baekhyun sepenuhnya menumpu padanya, tidak kuat dengan berat tubuh lelaki itu dan juga kaki kecilnya yang sedari tadi mulai melemas. “Baekhyun.” Bisiknya di telinga lelaki itu, semakin erat memeluk tubuhnya yang sudah tidak berdaya. Ia menatap Baekhyun dengan ekor matanya. Mata lelaki itu tertutup, tidak menampakan warna iris kesukaannya. “Baekhyun!”

Ia mengguncang tubuh Baekhyun tidak sabar. Berharap lelaki itu membuka matanya dan berkata, tertipu! Aku baik-baik saja, Yoona-ya!

“Baekhyun!” panggilnya saat lelaki itu tidak merespon apa-apa.

“BAEKHYUN!”

“BYUN BAEKHYUN!”

“Kami telah menemukan pendonornya.”

“Cepat lakukan!”

“Baik, Nyonya.”

Yoona menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tangisan ibu Baekhyun yang berada di sebelahnya semakin membuatnya gusar. Mereka sedang berada di depan ruang operasi. Setelah Baekhyun pingsan, Yoona buru-buru menelpon ibu lelaki itu dan membawanya ke rumah sakit.

Entah apa yang harus ia lakukan sekarang, ia hanya bisa mendoakan lelaki itu agar bisa tetap bersamanya. Ia kaget saat Baekhyun telah menemukan sang pendonor, padahal lelaki itu bilang tidak ada yang ingin mendonorkan hatinya, namun sekarang..sungguh pendonor itu bagaikan penyelamatnya.

Sekarang kekhawatiran Yoona hanya operasi ini. Ia tidak tahu operasinya akan berjalan lancar atau tidak. Jadi, Yoona hanya bisa berharap.

Jujur ia takut. Air mata kembali mengalir dari kedua matanya. Ia takut lelaki itu tidak kuat di ruang operasi sana. Ia takut.

“Apa yang kau takutkan?”

Perkataan Baekhyun beberapa waktu yang lalu menghentakkannya.

“Tidak ada yang perlu kau takutkan sekarang.”

Air matanya kembali mengalir.

“Kau takut? Tidak kan?”

Yoona membekap mulutnya sendiri saat suara isak tangisnya mulai terdengar. Suara Baekhyun seakan hinggap ditelinganya.

“Aku baik-baik saja.”

Isakan keras itu baru saja lolos dari bibirnya. Nafasnya tercekat, jantungnya berdetak tak normal.

“Aku mencintaimu.”

Dadanya sesak, sedangkan bulir hangat itu terus membasahi kedua pipinya. Mengalir deras membentuk sungai kecil di pipinya.

“Kalau terjadi sesuatu padaku setelah ini, kau harus melanjutkan hidupmu dengan baik ya.”

Yoona menggeleng pelan. Kalimat yang paling ia benci saat Baekhyun mengatakannya.

“Aku yakin jika kau yakin.”

Kali ini Yoona kembali menutup wajahnya. Merasakan wajahnya sudah penuh dengan bekas air mata.

Aku yakin kau akan hidup bahagia setelah ini, kau juga harus yakin, jadi berjuanglah. Kita akan hidup bahagia, Baekhyun-ah.

Nyonya Byun dan Yoona serentak menoleh. Dokter berkacamata itu telah keluar dari ruang operasi yang sedari tadi mereka tunggu selama tiga jam.

Andwe!

Mata Yoona membulat saat Dokter itu menggelengkan kepalanya dengan mata yang menatapnya iba.

Byun Baekhyun, kau..pergi?

12 years later..

Seorang wanita cantik semampai itu menaruh bunga lili putih di atas makam seseorang. Air matanya mengalir bebas tanpa ia cegah. Ia usap batu nisan itu, lalu berdoa sebentar agar orang itu tenang di alam sana. Seseorang yang paling ia sayangi.

“Yoon Jae!”

Ia menoleh dan mendapati seorang anak laki-laki tengah berlari ke arahnya. Segera ia hapus jejak air matanya saat anak laki-laki itu hampir sampai di tempatnya berada.

Appa berisik sekali! Cepatlah, appa! Eomma menunggu!”

Yoona –nama panggilan wanita itu- tertawa kecil.

“Byun Yoon Jae!”

Tawanya makin besar saat seorang lelaki sedang mengejar anak laki-laki bernama Yoon Jae itu. Wajah lelaki itu khawatir saat Yoon Jae hampir saja terjatuh karena tersandung. Seulas senyum ia suguhkan saat Yoon Jae telah sampai di tempatnya berdiri.

Eomma sudah berdoa?” Yoon Jae –anaknya- menatapnya dengan polos.

Ia mengangguk. Lalu, mengelus puncak kepala anak laki-laki itu.

“Ya ampun, Yoona Jae-ya.”

Pandangannya ia alihkan. Iris coklatnya bertemu dengan iris coklat terang –kesukaannya- itu. Seketika bibirnya tertarik membentuk senyuman. “Apa yang kau lakukan pada appamu, Yoon Jae-ya?” kikik Yoona melirik lelaki berperawakan sedang itu.

Yoon Jae mencibir lelaki yang biasa ia panggil ‘appa’ lucu. “Appa lama sekali jalannya jadi aku berlari kesini. Aku rindu kakek, eomma.

Yoona tersentak. Aku rindu kakek, eomma. Sebuah kalimat yang menohok hatinya. Senyum kembali ia suguhkan walau matanya mulai tergenang saat Yoon Jae terlihat berdoa. Semuanya hidup bahagia, ia, ibunya, dan Baekhyun. Lelaki yang dulu merubah hidupnya itu sekarang telah berganti status menjadi suaminya, ayah dari Byun Yoon Jae.

Tentu semuanya tidak berjalan dengan mudah. Yoona harus kehilangan seseorang yang amat disayanginya. Ayahnya sendiri. Seorang pria yang menyayanginya dengan memberikan hatinya kepada lelaki yang dicintainya –Byun Baekhyun- agar kelak Baekhyun dengan kesehatan yang diberikannya akan membahagiakannya.

Dan benar ia bahagia sekarang. Sangat bahagia dengan keluarga kecilnya.

Baekhyun dan Yoon Jae.

Perasaan tersakiti oleh ayahnya dulu terhapus dengan mudah saat pria itu mendonorkan hatinya untuk Baekhyun. Sebenarnya tidak sepenuhnya tersakiti karena dari dulu, ia memang tetap menyayangi ayahnya walaupun seperti itu.

Sejak saat itu ia menyadari, ayahnya tetap ayahnya. Seseorang yang pasti menyayanginya dengan sepenuh hati.

“Yoona?”

Lamunannya buyar saat Baekhyun mengguncang lengannya. Lalu terlonjak saat jemari Baekhyun menghapus air matanya lembut. “Hm?” Ia baru sadar, ia menangis.

“Apa yang kau pikirkan? Kau bahagia kan?”

Ia tertawa kecil melihat wajah Baekhyun yang khawatir. Pertanyaan macam apa itu, pikirnya. Yoona merangkul lengan Baekhyun. “Tentu. Kenapa aku tidak bahagia?” tanyanya sambil melangkah keluar dari areal pemakaman.

Baekhyun mengikuti langkah Yoona, melirik istrinya sesekali. “Mungkin kau tidak merelakan ayahmu yang mendonorkan hatinya untukku. Ah, aku memang lebih baik ma-”

“Tidak!”

Baekhyun mengerjap kaget mendengar seruan Yoona. Rangkulan di lengan kirinya makin erat.

“Apa yang kau bicarakan? Kita sudah dua belas tahun bersama dan kau meragukanku? Aku tidak benci padamu karena ayahku pergi hanya untuk mendonorkan hatinya untukmu.”

“Lalu?”

“Aku tidak bisa menghentikan keinginan ayah, memang ini yang ia inginkan. Bukan berarti aku suka saat ayahku pergi tapi, kurasa inilah jalan terbaik yang ayah berikan untukku.” Yoona menoleh ke kanan dan menatap wajah Baekhyun yang dekat dengannya. “Jadi jangan merasa bersalah karena ini bukan salahmu.”

Baekhyun mengangguk. Memang, sudah lebih dari delapan tahun mereka menikah tapi ia masih memikirkan hal itu. Ia hanya ragu Yoona menjalankannya dengan terpaksa. Tapi, sekarang ia lega, pernyataan yang sudah lama ia tunggu karena harus terus menunda menanyakannya terucap dari bibir wanita itu. Ia memang harus menunda, takut wanita itu terguncang mengingat kematian ayahnya yang terlalu cepat. “Aku mengerti.”

Yoona mengangguk. Terharu mengingat Baekhyun menunjukan kekhawatirannya.

“Soal surat dari ayahmu, aku sudah membacanya.” Ucap Baekhyun membuat Yoona kembali menoleh. “Dia memang ayah yang hebat, kau tahu.”

Yoona tersenyum, kemudian menyenderkan kepalanya di pundak lelaki itu. “Aku tahu. Dia memang yang paling hebat.”

“Aku mencintaimu.”

Yoona menahan nafas, kata-kata yang sering Baekhyun ucapkan namun masih membuat jantungnya berdetak cepat dengan senyuman yang tak pernah lepas dari wajahnya.

Yoona memberanikan dirinya untuk mencium lelaki itu tepat di bibirnya dan dua detik kemudian, hal itu benar-benar terjadi. Baekhyun tersentak namun ia tersenyum. Ciuman yang singkat memang, tapi ia tetap suka.

Sedangkan Yoona, wanita itu kembali menyenderkan kepalanya di pundak lelaki itu dengan wajah yang merona menahan malu. “Aku juga mencintaimu.”

“Bisa kita bicara?”

Baekhyun mengangguk. Kemudian ia berjalan beriringan dengan ayah Yoona, hening sesaat namun keheningan itu pecah saat pria berumur itu berucap.

“Aku memang bukan ayah yang baik, ya?”

Alis Baekhyun menyatu. Kepalanya ia tolehkan dan mendapati ayah Yoona yang tengah menunduk dengan senyum miris. “Apa maksud, ahjussi?”

Pria itu menghela nafas pelan. Menoleh menghadap Baekhyun. Ia tersenyum kecil. “Bukannya kau tahu?”

Baekhyun hanya menatapnya. Mulai mengerti.

“Aku jahat pada istri dan anakku sendiri. Pria macam apa aku ini.” Baekhyun tersentak. Ayah Yoona jelas terlihat berbeda. Bukan seperti orang yang saat itu selalu meminta uang pada Yoona dengan bentakkan.

Baekhyun masih diam. Tidak berani berbicara.

Pria itu mengelus mukanya frustasi. Matanya mulai tergenang. “Aku menyesal. Apa aku berhak menyesal? Apa mereka akan memaafkanku?”

“Yoona dan ahjumma pasti mengerti.” Baekhyun tersenyum tipis. “Ahjussi bukan orang jahat, aku tahu.”

“Terima kasih kau percaya padaku, tapi bagaimana? Aku ingin mereka mengerti namun kesalahanku terlalu banyak untuk dimaafkan.” Tarikan nafas dalam terdengar. “Aku masih ingin membahagiakan keluargaku.”

Seorang ayah tetap seorang ayah yang dewasa. Selalu ingin membahagiakan keluarganya. Hal itu yang Baekhyun tahu saat ini.

“Aku memang sudah tidak pantas, jadi,” Baekhyun mendongak saat ayah Yoona menatapnya memohon. “Aku ingin kau membahagiakan Yoona. Gadis itu yang selama ini paling kusakiti. Jaga dia, Baekhyun.”

Baekhyun mengangguk mantap. “Pasti.”

“Aku tahu kau mencintainya.”

Kali ini, ia membelalak dan ayah Yoona malah tertawa kecil. Ia tersentak saat ia merasakan tepukan di punggungnya. “Ak-”

“Sudahlah, aku mengizinkannya. Kau memang yang terbaik untuk anakku.”

Baekhyun tersenyum senang dengan kikuk. Namun senyumnya perlahan memudar, “Maaf sebelumnya tapi,”

Hening. Tuan Im menunggu Baekhyun melanjutkan kalimatnya.

“aku tidak bisa menjaga Yoona. Aku tidak bisa berada di sisinya.”

“Kenapa?”

“Aku tidak punya banyak waktu lagi. Waktuku-”

“Kau punya.” Tuan Im tersenyum menenangkan. “Kau pasti punya.”

Baekhyun hanya mengangguk kikuk. Masih ragu. “Semoga. Aku akan menjaga Yoona.”

“Terima kasih.”

Untuk Yoona, anakku.

            Masih ingat tulisan tangan ini? Kau pasti sudah lupa, ya? Tidak apa, aku mengerti. Aku Im Joon Hoo, Yoona, ayahmu. Maafkan ayah, Yoona. Maafkan aku. Maafkan aku yang sudah jahat terhadapmu dan ibu. Ayah menyesal. Sangat menyesal sudah menyakiti kalian, sekali lagi maaf.
Kalau kau sudah membaca surat ini, berarti ayah sudah tidak ada di sampingmu lagi. Dan Baekhyun, lelaki yang kau cintai, sudah sembuh dari penyakitnya dan akan membahagiakanmu kelak.
Jika kau bingung kenapa ayah tahu penyakit Baekhyun, saat itu ayah tidak sengaja mendengarkan pembicaraanmu dengan ibumu yang menangisi Baekhyun tentang penyakitnya. Sejak saat itu, ayah menyesal. Benar-benar menyesal, Yoona.
Ayah hanya tidak percaya dengan diri ayah sendiri karena sudah menyia-nyiakan kalian. Ayah malu pada diri sendiri saat ayah yang diberikan kesehatan oleh Tuhan tidak memanfaatkannya sebaik mungkin, sedangkan Baekhyun yang tidak memiliki banyak waktu disini sangat ingin membahagiakan kalian. Ia terlihat begitu tulus ingin melindungimu dari tamparan ayah saat itu dan memberikan ibumu uang untuk makan. Ayah tahu semua itu dan maaf.
Ayah benar-benar menyesal sejak saat itu. Ayah benar-benar orang bodoh yang tidak bertanggung jawab.
Dan mulai saat itu, ayah ingin sekali membahagiakan kalian. Namun ayah bingung karena ayah sudah tidak pantas lagi.
Jadi, ayah memberikan hati ini untuk Baekhyun. Agar pemuda itu memiliki waktu untuk membahagiakan kalian. Agar pemuda itu dapat membahagiakan kalian. Hanya Baekhyun lah yang dapat menyalurkan rasa sayangku kepada kalian. Hanya lewat Baekhyun lah aku mengungkapkan rasa cintaku kepada kalian dengan mendonorkan hatiku ini, membuat orang yang kau cintai –Baekhyun- hidup dengan sehat dan tua bersamamu nanti.
Setelah ini, sudah kupastikan kau akan bahagia bersama Baekhyun. Aku merestuinya, Yoona. Menikahlah dengannya dan miliki anak yang lucu-lucu. Semuanya sudah bahagia, aku senang dan tenang.
Maaf sekali lagi karena pernah menjadi sosok ayah yang jahat.
Terima kasih karena sudah mengerti dan juga, ayah sangat berterima kasih pada Baekhyun, sampaikan salamku padanya.

            Selamat tinggal, anakku. Berbahagialah.

 

Ayahmu.

Halo, maaf ya nunggu lama, kuota tiba-tiba abis lagi jadi bingung mau gimana ngirimnya. Gimana ff ku yang ini? Dapet feel ga? Maaf ya kalo ga bagus dan kepanjangan. Maaf juga kalo ff nya terlalu melow, haha.

Sekedar informasi, ff ku yg buat ultah yoong unnie nanti itu LUYOON!! Haha. Dan aku juga ga tau bisa ngepost tepat waktu apa nggk karena modemku rusak! Gembel bgt yah, ini aja aku ngirim ff nya di warnet haha. Tunggu aja nanti ya, bisa apa nggk.

Tinggalkan komentar ya, sampai bertemu di ff ku selanjutnya!

 

55 thoughts on “(Freelance) Oneshot : It Has To Be You

  1. Aaaa ya tuhan ini FF asli bikin aku nangis😥 sumpah keren banget :’) feel nya itu loh dpt bgt!
    Kapan ya aku bisa buat FF sekeren dan sebagus ini?Btw ajarin aku bikin FF boleh kali thor wkwk😀
    Di tunggu FF BaekYoon selanjutnya ya thor😉

  2. haii . inget aku ga? yang minta ff sad romance di grup SMTOWN Salah Gaul CPN ff nya bnr2 sesek aku sampe nangis sangat bagus . im new fans of u yoongExo^^ . teruslah berkarya semangat^^

  3. author sukses bikin saya banjir air mata. keep writing thor, saya suka banget couple ini. jadi, hehe… banyakin cerita baekyoon yah🙂 gomawo thor, ceritanya dalam sekali, bahasanya tersusun rapi juga🙂 pokoknya daebak!!

  4. Keren banget ceritanya. Terharu bacanya:’) Bikn ff yang castnya BaekYoon lagi pleaseuT.T

    Ff luyoonnya ditunggu

  5. Terharu banget ama sikap ayah Yoona. Awalnya aku pikir Yoona yang akan mendonorkan hatinya untuk Baekhyun, ternyata bukan, dan aku senang untuk itu.
    Baekhyun ternyata udah lama suka ya ama Yoona, cuma belum punya kesempatan aja buat bicara langsung. Trus pas kenalan pake bawa-bawa nama Jongin lagi, masih malu-malu. Tapi aku tersentuh banget pas Baekhyun kasih Yoona buku yang kayak diary atau apalah itu. Menurut aku Baekhyun romantis banget.
    Waktu Baekhyun dioperasi, aku langsung pikir, apakah itu ayah Yoona? Dan ternyata benar. Emang sih, sejahat-jahatnya orangtua pasti tetap memiliki rasa sayang untuk anaknya.
    Ff-nya emang agak melow, tapi bagus kok. Aku sempet ketawa waktu Baekhyun bilang ke Yoona kalau Jongin ama Luhan itu walau suka melanggar peraturan tapi iya yakin bisa menjaga Yoona.
    Semangat ya nulisnya, ditunggu ff Luyoon kamu itu.

  6. Pengen nangis bacanya :’) coba aja setel forever ama tears. Yoonjoo beneran good father. Keliatannya aja brengsek tapi ternyata baik :”)
    ff luyoonnya ditungguuu

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s