(Contest) Pecundang Sejati

Judul : Pecundang Sejati

Author : ninuninun

Cast : Im Yoona sebagai Im Yoona, Kris sebagai Kim Yifan, Luhan sebagai Lu Han

Genre : Drama, Romance

Rating : PG 15+

Summary : Ketika perasaan saling menyukai dikalahkan oleh gengsi.

Yoona terkejut sekali ketika melihat foto-foto Yifan, yang sedang bermesraan dengan seorang wanita, terpampang di akun media sosial seorang wanita bernama Jung Sooyeon. Di dalam hati ia bertanya, “Siapa sebenarnya Jung Sooyeon itu? Apakah Yifan sudah menemukan kekasih hatinya?”

Tiba-tiba Yoona menitikan air mata karena foto-foto itu, namun bukan sepenuhnya karena foto-foto itu. Perasaan Yoona sangat terluka karena teringat akan kenangan-kenangan bersama Yifan. Kenangan ketika mereka masih satu sekolah lalu berlanjut dengan pernikahan paman dan tante mereka yang mengawali kedekatan mereka. Kenangan ketika mereka menumpang tinggal di rumah pengantin baru hampir setiap hari Jumat. Kenangan saat Yoona menyemangati Yifan untuk mempertahankan hubungannya dengan Seohyun tetapi gagal. Kenangan ketika mereka bersama-sama mendaftar perguruan tinggi. Kenangan saat mereka tahu bahwa mereka saling menyukai yang berujung pada jalinan hubungan diam-diam. Jalinan hubungan secara diam-diam yang kemudian hancur karena gengsi. Perasaan yang tidak bisa selamanya bertahan. Perasaan saling memiliki namun menyebabkan luka hati secara diam-diam.

Yoona masih menangis karena luka di hatinya. Tak henti-henti hatinya bertanya-tanya jika memang Jung Sooyeon itu kekasih hati Yifan, mengapa begitu cepat ia berpindah ke lain hati?

Yoona benar-benar merindukan Yifan. Kini, Yifan sudah tidak bisa selalu berada di sisi Yoona.

*flashback

“Yoona, kemarilah. Ada yang ingin ayah tanyakan.”

Yoona kemudian keluar dari kamarnya dan menuju ruang keluarga. Ia duduk di samping Tuan dan Nyonya Im.

“Ada apa, Ayah?”

“Ayah lihat kamu sudah sangat lama dekat dengan Yifan, keponakan Paman Minseok. Apa kalian menjalin hubungan?”

“Hubungan? Ah tidak, Ayah. Kami hanya bersahabat. Memangnya ada apa, Ayah?”

“Nah kan, Ibu bilang juga apa. Mereka berdua hanya bersahabat. Lagipula, Yifan itu sudah bukan orang lain karena dia memang keponakan Minseok.” Tiba-tiba Nyonya Im angkat bicara mengenai kedekatan Yoona dan Yifan.

“Ya syukurlah kalau memang kalian bersahabat.” Sahut Tuan Im. “Banyak-banyaklah memiliki teman, Nak. Hanya saja kalau dalam hal hubungan, Ayah minta carilah laki-laki selain Yifan. Kamu kan tahu kalau tantemu, Taeyeon, sudah menikah dengan pamannya Yifan. Kita jangan sampai besanan dengan keluarga Kim lagi lah.”

Deg, jantung Yoona serasa berhenti berdetak mendengar permintaan ayahnya. Entah mengapa, hati Yoona merasa sakit sekali. Ia sudah menyukai Yifan; dan hanya Yifanlah laki-laki yang saat itu ia sukai; tetapi pihak keluarga tidak merestui hubungan mereka.

“Bagaimana, nak? Kamu, mengerti pesan ayah kan?”

“Yoona mengerti, Ayah.”

*flashback end

 

Sejak saat itu, Yoona tidak berani menemui Yifan lagi. Ia selalu menolak entah dengan alasan apapun jika Yifan mengajaknya bertemu. Yoona hanya bisa menghubungi Yifan lewat ponsel atau media sosial; itu pun perlahan-lahan berkurang. Yoona dan Yifan kehilangan kontak perlahan-lahan.

Tiga tahun berlalu, hingga pada suatu ketika Yoona mengunjungi rumah Nenek Kim. Ia bertemu dengan keluarga Minseok yang kebetulan sedang berkunjung ke rumah Nenek Kim juga. “Eh Tante, apa kabar? Sepertinya Tante semakin makmur hehehehe.” Yoona menyapa Taeyeon lalu memberi salam. “Oh iya, mana Baekhyun dan Chanyeol?”

“Mereka di ruang TV, Baekhyun dan Chanyeol sedang bermain dengan Jongdae. Wah tante gerah sekali.”

“Memangnya Tante dari mana kok sampai gerah begitu?”

“Dari rumah Yifan. Kamu tahu kan kalau keadaan di rumah Yifan itu panas sekali.”

“Memangnya ada acara apa di sana, Tante? Tante juga berpakaian formal.”

“Ada tamu dari keluarga tunangan Yifan. Oh iya, Tante belum cerita ya. Jadi, Yifan sudah bertunangan 3 bulan yang lalu. Nah ini tadi, keluarga Jung datang untuk membahas pernikahan mereka bulan depan.”

“Yifan mau menikah? Cepat sekali.” Yoona sangat terkejut.

Minseok datang lalu menanggapi komentar Yoona, “Iya, Yoona-ya. Pihak keluarga Jung yang meminta supaya Yifan dan Sooyeon segera meresmikan hubungan mereka.”

Yoona berteriak menanggapi pernyataan Minseok dan Taeyeon, “Wuaaa aku dilangkahi Yifan!”

Yoona berteriak seperti itu sebenarnya untuk menutupi rasa campur aduknya; percampuran antara perasaan terkejut, bahagia, dan sedih. Rasanya ia ingin menangis mendengar berita tersebut.

 

//

 

H-5 Pernikahan Yifan

Yoona mendengar bunyi suara telepon ketika sedang bersiap-siap pulang kerja. Dilihatnya layar smartphone-nya yang ternyata bertuliskan ‘Kim Yifan’. Dengan pelan-pelan, Yoona menjawab telepon tersebut, “Hallo.”

“Hallo, Yoong-ie. Bisa kita bertemu sekarang?”

“Oh, sekarang? Tapi sekarang aku ada…”

“Sekali ini saja, Yoong. Ada yang ingin aku sampaikan.”

“Oh, baiklah. Di mana kamu sekarang?”

“Di depan kantormu. Kamu keluar saja sekarang.”

Yoona menutup telepon kemudian melangkahkan kaki keluar gedung. Saat ia keluar gerbang, tiba-tiba ada yang menarik tangannya menuju sebuah mobil.

“Masuklah, Im Yoona.” Pinta orang tersebut untuk masuk mobil.

Orang tersebut, yang ternyata adalah Yifan, langsung menutup pintu mobil begitu Yoona masuk. Ia menyusul masuk lalu mengemudikan mobil tersebut ke suatu tempat.

 

Di perjalanan…

“Yifan, kamu mau membawaku ke mana?” Tanya Yoona lirih.

“Nanti kamu akan tahu.” Yifan semakin kencang mengemudikan mobilnya.

Selama di perjalanan, Yoona tidak berani mengajak Yifan berbicara begitu juga dengan Yifan. Yifan hanya sesekali menatap Yoona.

 

30 menit kemudian…

Yifan bergumam, “Nah sudah sampai.”

Mereka kemudian keluar dari mobil. Ternyata Yifan membawa Yoona ke tempat kencan pertama kali setelah mereka tahu kalau mereka saling menyukai.

“Yoong-ie, ini.” Yifan memberikan sepucuk amplop berwarna peach yang ternyata undangan pernikahan. “Aku akan menikah 5 hari lagi. Ini undangan untukmu.”

Dengan menahan air mata, Yoona menerima undangan itu. Amplop undangan tersebut tertulis :

 

Undangan Pernikahan

Jung Sooyeon dan Kim Yifan

11 Januari 2014

 

Yoona kemudian memberi selamat kepada Yifan, “Selamat, Yifan. Akhirnya kamu sudah menemukan calon pendamping hidupmu, calon ibu dari anak-anakmu kelak, seseorang yang akan selalu kamu jaga sampai akhir hayat.”

“Terima kasih, Yoong-ie. Aku sangat berharap kamu bisa datang di acara pernikahanku.”

Mereka terdiam sejenak, hingga akhirnya Yifan membuka pembicaraan, “Yoong-ie.”

“Ya?”

“Kamu masih ingat kenangan kita di tempat ini?”

“Bagaimana mungkin aku tidak mengingatnya, Yifan?”

“Hmm iya kamu benar. Maka dari itu, aku membawamu kemari. Aku ingin di sini kita mengenang semua yang telah kita lalui sebelum aku menikah.”

“Mengapa begitu, Yifan?”

“Karena aku tidak mungkin bisa berada di sisimu lagi setelah menikah, Yoong-ie.”

“Maafkan aku, Yifan.” Air mata Yoona akhirnya menetes juga karena sudah tidak bisa ditahan lagi.

“Hei, kenapa menangis?”

“Aku. Hiks. Aku minta maaf karena telah memulai kekacauan ini. Aku juga tidak bisa menjaga perasaanmu; dan malah meninggalkanmu begitu saja. Maafkan aku, Yifan. Aku sudah melukaimu.” Air mata Yoona mengalir semakin deras saja

Melihat Yoona menangis, Yifan jadi tidak tega. Yifan pun memegang kedua telapak tangan Yoona. Yoona yang masih menangis bergumam di dalam hati, “Yifan, tolong hentikan. Jangan sampai aku terjebak lagi. Tolong hentikan ulahmu ini.”

“Aku yang seharusnya minta maaf, Yoong-ie. Aku juga tidak bisa memperjuangkan perasaan kita. Aku mengerti kalau kamu sangat menghormati keluarga Kim. Maka dari itu aku menjalin hubungan dengan Sooyeon tanpa sepengetahuanmu, supaya kamu tidak semakin terluka. Namun, kenyataan berkata lain. Aku juga melukaimu, bahkan mungkin lebih dalam.”

“Maukah kamu memaafkanku, Yoong-ie?”

Hiks. Aku mohon hentikan, Yifan. Hiks” Tangisan Yoona semakin kencang saja. “Kamu, masih ingat janji yang pernah kamu ucapkan di sini?”

“Aku juga memohon padamu jangan bahas hal itu. Aku sudah mengingkarinya.”

“Ya, aku tahu. Kita sama-sama pecundang, Kim Yifan. Aku meninggalkanmu karena terlalu takut menghadapi keluarga Kim. Sedangkan kau,”

Yifan memotong pembicaraan Yoona, “Sedangkan aku memilih Jung Sooyeon karena aku yakin dialah yang bisa mendampingiku tidak peduli bagaimanapun keadaannya.”

“Apakah itu artinya, kamu juga mencintainya?”

“Aku. Aku tidak tahu.”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak bisa mengecup keningnya dengan tulus seperti aku mengecup keningmu. Hanya keningmu yang bisa kukecup dengan tulus, Yoong-ie.”

Suasana hening kembali terasa hingga beberapa saat kemudian, Yifan membuka pembicaraan lagi.

“Asal kamu tahu, Yoong-ie. Aku juga merasakan hal yang sama sepertimu, bahkan mungkin lebih menyakitkan.”

“Memang apa sebenarnya yang terjadi?”

“Ah sudahlah. Mungkin kamu tidak akan mendengarkanku.”

“Akan aku dengarkan, supaya terungkap semua.”

“Baiklah. Keadaanmu masih mending karena yang berpendapat hanya ayahmu. Kamu tahu? Setelah aku putus dari Seohyun, aku tidak hanya ditanyai ayahku tentang hubungan kita. Paman Minseok juga menanyaiku, dan memintaku supaya jaga jarak denganmu. Padahal saat itu, aku hanya menginginkan dirimu.”

Yoona menangis lagi setelah Yifan selesai bercerita. “Maafkan aku, Yifan. Sekali maafkan aku. Aku benar-benar jahat padamu.”

Yifan sudah sangat tidak tega melihat keadaan Yoona. Ia langsung menarik tubuh Yoona kemudian memeluknya.

“Jangan menangis, Yoong-ie.”

“Tidak bisa, Yifan. Hiks. Air mata ini keluar sendiri.”

“Aku memaafkanmu, Yoong-ie. Aku sudah memaafkanmu. Jangan menangis lagi ya, Sayang.”

“Benarkah?” Yoona hendak melepaskan pelukan Yifan tetapi Yifan menahannya.

“Tunggu dulu, Yoong-ie. Biarkan dulu seperti ini.”

Yoona masih merasakan hal yang sama saat berada di pelukan Yifan, namun ia merasa ada yang hilang dari perasaannya. Perasaan nyaman ketika berada di dalam rengkuhan Yifan sudah tak lagi ia rasakan. Beberapa saat kemudian, Yifan melepaskan pelukannya.

“Yoong-ie, aku punya permintaan.”

“Katakan saja.”

“Segera temukan Mr.Right-mu, yang harus lebih baik dariku. Aku ingin melihatmu hidup bahagia.”

“Doakan saja supaya aku segera menyusulmu menikah.”

“Pasti, Yoong-ie. Karena menurutku, hanya itulah jalan satu-satunya.”

“Maksudmu?”

“Supaya kita tidak lagi menjalani hubungan yang rumit, jalan satu-satunya adalah menemukan pasangan masing-masing. Aku mengerti saat ini kamu pasti belum terpikir untuk menikah, tapi aku mohon padamu sekali lagi. Segera temukan Mr.Right-mu, Im Yoona, setidaknya supaya kamu tidak lagi tergantung padaku. Dan tentunya, aku juga tidak akan mengganggumu lagi kalau kamu sudah memiliki pasangan.”

“Itu tidak mudah, Yifan. Seperti yang pernah kamu katakan dulu kalau mencari istri itu tidak segampang seperti di film-film.”

“Aku mengerti, tapi aku yakin kamu pasti bisa. Belajarlah membuka hati untuk orang lain.”

Yoona speechless. Ia tidak tahu lagi harus berkata apa.

“Maafkan aku karena akhirnya aku harus meninggalkanmu, Im Yoona.”

“Aku mengerti. Kalau kita tetap bersama pun, aku juga tidak yakin apakah keadaan kita bisa lebih baik.”

“Baiklah kalau begitu. Yoona, boleh aku meminta sesuatu sebelum kita berpisah?”

“Apa itu?”

“Goodbye kiss.” Yifan kemudian mengecup kening Yoona. Saat mengecup kening Yoona, Yifan bergumam di dalam hati, “Ternyata masih belum berubah. Hanya kening gadis ini yang bisa kukecup dengan tulus.”

Yoona diantar Yifan kembali ke kantor untuk mengambil mobilnya. Selama di perjalanan, mereka lebih banyak diam daripada ngobrol.

“Sudah sampai, Yoong-ie.”

“Baiklah, aku turun. Terima kasih ya sudah mengantarku.”

Ketika Yoona hendak melepaskan seatbelt, Yifan menahan tangan Yoona.

“Yoong-ie, tunggu.”

“Ada apa?”

“Apakah kamu, sudah memaafkanku?”

“Sudah sejak lama, Yifan.”

“Oh, terima kasih Yoong-ie kalau begitu. Sebentar, ada lagi.”

“Ya?”

“Setelah ini, jangan ada lagi yang namanya gengsi ya.”

Yoona tersenyum mendengar permintaan Yifan. “Tidak akan ada lagi, pasti. Aku doakan pernikahan kalian mendapatkan berkah dari Tuhan. Kalian bisa saling mendampingi. Sampaikan salamku untuk Sooyeon ya.”

“Terima kasih, Yoong-ie. Kamu gadis yang baik. Akan aku sampaikan salammu.”

“Ok, kalau begitu aku turun.”

“Yoong tunggu.” Yifan menahan Yoona lagi. Yoona tersenyum sambil mengangkat alis kanannya.

“Kamu, kamu semakin cantik kalau tersenyum begitu.”

“Hei, jangan coba-coba merayuku! Mau menikah masih saja coba-coba merayu gadis ckckck.”

“Aku tidak merayumu. Aku mengatakan hal yang sebenarnya.”

“Sesukamu saja lah, Yifan.”

“Hahahaha dia ngambek.”

“Hmmm, permisi Yifan. Tanganmu bisa…”

“Oh, maaf Yoong. Biar aku saja yang melepas seatbelt-mu. Kamu diam saja di situ.”

Yifan melepaskan seatbelt Yoona kemudian keluar untuk membukakan pintu mobil.

“Kamu duluan saja, Yifan.”

“Tidak mau. Aku mau menunggumu sampai mobilmu keluar.”

“Baiklah kalau begitu.”

 

//

 

Hari-H pernikahan Yifan-Sooyeon

Acara pernikahan Yifan dan Sooyeon berjalan lancar. Yifan dan Sooyeon sibuk menyalami tamu-tamu yang hadir. Dari sekian banyak tamu, ada satu tamu yang ditunggu Yifan sejak acara dimulai. Tamu tersebut belum juga menunjukkan sosoknya, bahkan sampai akhir acara. Saat acara sudah selesai dan hidangan sudah habis pun, tamu yang ditunggu Yifan tidak juga menunjukkan sosoknya.

“Dia tidak datang.” Batin Yifan di dalam hati.

Terlihat Minseok mendatangi Yifan dan Sooyeon. “Yifan, Sooyeon, selamat ya. Semoga kalian jadi keluarga yang harmonis.”

“Terima kasih, Paman.” Jawab Yifan-Sooyeon bersama-sama.

“Oh iya. Paman membawakan ini, dari Yoona.” Kata Minseok sambil menyerahkan bingkisan kepada Yifan. “Yoona minta maaf karena tidak bisa datang. Dia ada tugas kantor di luar kota katanya. Makanya ia menitipkan bingkisan ini kepada paman. Dia bilang harus diserahkan kepada pengantinnya langsung. ”

“Ah Yoona ini ada-ada saja. Awas saja dia nanti karena tidak datang.”

“Sudah-sudah, kalian cepat sana istirahat. Kalian pasti sudah lelah dari tadi.”

Yifan dan Sooyeon menuju kamar pengantin untuk beristirahat. Sebelumnya, mereka membersihkan make up dan mandi dulu. Selesai mandi, mereka membuka bingkisan-bingkisan dari tamu.

“Sayang, bolehkah aku membuka bingkisan dari Yoona?” Tanya Sooyeon agak sinis menyebut nama Yoona

“Boleh, buka saja.”

Dibukanya bingkisan tersebut yang ternyata isinya lukisan. Lukisan foto prewedding Sooyeon-Yifan, juga ada sepucuk surat. Sooyeon terlihat tidak senang dengan bingkisan dari Yoona. Ia ingin sekali menghancurkan lukisan itu karena ia sangat tidak menyukai Yoona. Sebelum Seeyeon mengetahui hubungan Yoona dan Yifan yang sebenarnya di masa lalu, Seohyun lah perempuan yang paling ia cemburui. Namun ia berubah setelah adik Yifan, Tao, menceritakan masa lalu Yifan. Sooyeon langsung mencari cara pokoknya Yifan dan Yoona jangan sampai berhubungan lagi.

Ketika Sooyeon hendak membanting lukisan itu, Yifan menahannya.

“Mau kamu apakan bingkisan itu?”

“Aku hanya mau…” Sooyeon bingung harus menjelaskan apa

“Sooyeon istriku, tolong jangan lakukan itu. Aku tahu kamu tidak menyukai Yoong. Aku juga tahu kamu sudah menghapus semua kontak Yoona di ponselku, meng-unfriend SNS-nya dari daftar teman SNS-ku, juga menghapus IM-nya dari semua kontak IM-ku, tapi untuk bingkisan ini, tolong jangan kamu buang. Ia tulus membuat lukisan ini untuk kita. Tidak ada niat jahat darinya.” Yifan kemudian mengambil lukisan itu dari tangan Sooyeon.

“Suamiku.”

“Ya?”

“Apakah, apakah kamu marah dengan kelakuanku ini?”

“Untuk apa aku musti marah? Tapi aku ingin menanyakan satu hal.”

“Silakan, tanyakan saja.”

“Mengapa kamu menghapus semua kontak Yoona setelah aku melamarmu?”

“Waktu itu aku takut. Aku takut kehilangan dirimu. Aku takut Yoona kembali lalu mengacaukan semuanya. Semua yang sudah kita rencanakan.”

“Kamu hanya belum mengenalnya lebih dekat, Nyonya Kim. Yoona itu bukan tipe perusak hubungan orang. Kamu lihat sendiri kan, hubungan kita baik-baik saja tanpa diganggu olehnya.”

Sooyeon hanya terdiam mendengarkan penjelasan suaminya.

“Sekarang aku sudah menjadi suamimu. Itu artinya aku sudah memilihmu untuk menjadi pendamping hidupku, dan tidak ada perempuan lain.”

“Apakah itu artinya, kamu sudah menyelesaikan semua kejanggalanmu dan Yoona?”

“Sudah, istriku. Semua kejanggalanku dan Yoona sudah selesai. Kamu sudah bisa tenang sekarang.”

“Syukurlah kalau begitu. Aku tidak perlu curiga lagi terhadapmu.”

“Aku mencintaimu dengan segenap hatiku, Nyonya Jung (Kim) Sooyeon.”

“Aku juga mencintaimu, Tuan Kim Yifan.”

 

//

 

Di lain pihak, Yoona yang sudah menitipkan hadiah pernikahan untuk Yifan kepada Minseok kemudian berangkat menuju stasiun dengan diantar oleh adiknya, Sehun. Ia benar-benar tidak berani menampakkan diri di pesta pernikahan sahabat sekaligus orang yang pernah mengisi hatinya. Ia juga tidak ingin merusak mood Jung Sooyeon jika ia hadir di pesta tersebut. Maka dari itu, tidak hadir di pesta pernikahan Yifan merupakan jalan yang dipilih Yoona. Ia lebih memilih untuk ikut tugas kantor.

Noona serius akan menemui putra dari teman ibu yang bernama Lu Han hyung setelah tugas kantor selesai?” Tanya Sehun sebelum melepaskan Yoona di pintu keberangkatan. Yoona hanya mengangguk menanggapi pertanyaan adiknya.

“Ibu sudah bercerita banyak tentang noona kepada ibunya Lu Han, tentu saja noona tidak enak jika sudah sampai di sana tetapi tidak sekalian mampir, Sehun-ah.”

“Baiklah kalau begitu hati-hati di jalan, Noona. Kabari aku kalau noona sudah di kereta terakhir saat mau pulang.”

Berhubung rekan kerja Yoona sudah berkumpul semua dan kereta akan berangkat, Yoona lalu masuk menuju kereta tersebut. “Aku pergi dulu, Sehun-ah!” Yoona melambaikan tangan dari jendela kereta kepada adiknya. Ia kemudian duduk di kursi yang sesuai dengan tiket kereta yang telah dipegangnya.

Yoona dan rekan kerjanya kini sedang di tengah perjalanan. Kereta berhenti di salah satu stasiun untuk menaikkan penumpang lagi.

“Permisi.” Seorang gadis bersama ibunya dengan pakaian serba hitam dilengkapi cadar sedang berusaha mencari tempat duduk yang tertera di tiket di tengah kerumunan penumpang kereta karena ibu dari gadis tersebut sedang demam tinggi. Alangkah malangnya nasib dua orang tersebut karena tidak ada seorang pun yang memberinya jalan untuk lewat. Hingga pada saat itu, Yoona kehilangan konsentrasi membaca buku karena pandangannya tertuju kepada ibu dan anak tersebut. Merasa iba, Yoona kemudian memanggil lalu mempersilakan mereka untuk duduk di kursinya. “Nona, Ibu, silakan duduk di sini saja.” Kata Yoona dengan sopan. Ia kemudian bertukar tiket dengan ibu dan anak tersebut.

“Hei, anak muda!” Tiba-tiba datanglah seorang bapak-bapak bertubuh kekar menghampiri Yoona sehingga membuatnya terkejut. Ia tidak sengaja menjatuhkan buku yang ia pegang saat pria tersebut menggertaknya. “Untuk apa kau mempersilakan duduk kepada dua orang teroris ini, huh!”

Dengan sedikit menengadahkan kepala, Yoona mencoba memberanikan diri menjawab gertakan pria tersebut. “Hanya karena dua orang tersebut berpakaian serba hitam dan bercadar; Anda langsung menghakimi mereka kalau mereka teroris begitu? Apa Anda tidak merasa kasihan dengan Ibu yang hampir tidak kuat berjalan, matanya merah, dan ternyata suhu badannya tinggi sekali!”

Sang bapak-bapak tersebut menjadi geram karena ia merasa tidak terima dibentak oleh anak muda. Adu mulut sempat terjadi di antara dua orang tersebut. Sementara itu, ada seorang pemuda yang ternyata mengamati gerak-gerik Yoona sejak ia mempersilakan ibu dan anak tadi duduk di tempatnya. Pemuda itu kemudian mendekati Yoona yang akhirnya beradu mulut dengan bapak tadi. Ia menghentikan tangan bapak tersebut dengan tangkas saat sang bapak hendak menampar Yoona. “Serendah itukah martabat Anda karena hanya berani dengan perempuan?” tanya pemuda tersebut dengan senyum sinisnya.

Emosi bapak tersebut semakin meningkat karena mendapati tangannya yang digenggam erat oleh laki-laki saat ia hendak menampar seorang gadis. Saat ia hendak memukul pemuda itu tiba-tiba terdengar bunyi suara customer service pertanda bahwa kereta sudah memasuki stasiun pemberhentian. Yoona yang hendak dipukul oleh bapak tadi pun bergegas keluar kereta bersama rekan kerjanya karena mereka sudah sampai stasiun tujuan; begitu juga dengan dua orang ibu dan anak tadi. Ternyata, pemuda itu juga berhenti di stasiun yang sama dengan Yoona. Dengan muka sinis, ia melepaskan tangan bapak itu. Saat ia hendak melangkahkan kaki, ia melihat sebuah buku bersampul kuning terjatuh di lantai kereta. Ia ambil buku tersebut sebelum keluar dari kereta. Saat kaki pemuda tersebut melangkah melewati puntu kereta, ia ingat bahwa gadis yang beradu mulut demi ibu dan anak tadi membawa buku kemudian menjatuhkannya saat dihampiri bapak bertubuh kekar itu. Pemuda itu mulai mencari gadsa tadi karena ia berpikir gadis tadi pasti belum jauh.

Pemuda itu melihat sosok gadis mengenakan setelan berwarna ungu saat ia hendak melewati sebuah kios bubble tea. Gadis itu ternyata adalah gadis pemilik buku. Tanpa ragu-ragu, pemuda tersebut langsung mendekati Yoona. “Permisi,  Nona!” Panggil pemuda itu ketika sang gadis beserta rekan kejanya sedang menunggu pesanan minuman yang sedang dibuat. “Apa buku ini milikmu?” Tanya pemuda itu sambil menunjukkan buku bersampul warna kuning yang ia temukan.

Yoona langsung memeriksa tasnya; dan benar buku itu sama persis seperti buku yang baru saja ia beli. Yoona senang sekali karena ternyata ada seseorang yang menemukan dan berniat untuk mengembalikan bukunya.

“Iya benar, buku ini milikku.” Kata Yoona dengan suara halusnya. Pemuda itu kemudian menyerahkan buku kuning kepada pemiliknya. Dengan senang hati, Yoona mengulurkan tangannya menerima buku itu. “Terima kasih. Senang sekali rasanya bisa bertemu dengan orang baik di kota yang jahat ini. Oh iya. Kenalkan, namaku Yoona. Im Yoona.” Im Yoona mengajak pemuda tersebut berkenalan. Ia mulai mengulurkan tangannya pertanda mengajak pemuda itu berjabat tangan.

“Oh.” Dengan ramah, pemuda itu pun menerima jabatan tangan dari Yoona. “Namaku Han, dengan marga Lu, jadi panggil saja aku Lu Han. Senang bertemu denganmu, Yoona.” Lu Han kemudian melepas tautan tangan di antara mereka. Karena seperti sedang terburu-buru, ia berpamitan kepada Yoona.

Yoona menatap punggung Lu Han yang semakin lama semakin jauh, kemudian sama sekali tidak terlihat. Entah mengapa, ia merasa sangat familiar dengan wajah pemuda bernama Lu Han tadi. Saat pesanan bubble tea untuk Yoona dan rekan kerjanya sudah siap, smartphone Yoona berdering. Ia membaca notifikasi pesan instant dari smartphone tersebut yang tertulis :

“Nona Im Yoona, jangan lupa dengan rencana kita kemarin untuk makan siang di Zeus Restaurant saat kamu break time nanti.”

“Lu Han.”

 

END

19 thoughts on “(Contest) Pecundang Sejati

  1. Sequel dong thor~ nanggung ini._. LuYoon please~~ authornya suka banget yang gantung-gantung😀 biar gak gantung kasih sequel ya

  2. Pas awal2 baca, q rasa alurnya sedikit kecepetan ya, n ada beberapa kalimat yg menurutq bahasanya kurang formal. Jd feelnya kurang dapet.
    Tapi overall q suka sama ide ceritanya..
    Dan berharap banget ada sequel tentang LuYoon.kkk😀
    jangan tersinggung, sama komenanku.
    Semoga lebih baik untuk ff selanjutnya. Fighting!

  3. Endingx ngerasa gantung gk sih?
    Btuh sequel nhe🙂
    kris jhat bnget sih.. Npa dya dgn mudah gt, memlh nikah gt ma org lain

  4. Duhh gantung~ knapa yoon ga nyadar ya kalo itu luhan? Kan namanya sama. Juga .. Kata yoon pemuda itu ‘Han’ trasa familiar ._. ???

    Dan.. Kris sbenernya bner2 cinta sma yoon ato sama jesica?? Php._.

    Sequel bisa??

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s