Inside You

clora-p-copy

Insideyou

by

Clora P. Darlene

starring

Im Yoon Ah | Oh Sehun

and

Calista Im

Poster by ladyoong @ ladyoong's land

[Im Yoon Ah dan Calista Im adalah orang yang berbeda]

***

            Oh Sehun―si laki-laki berperawakan tinggi dengan rambut pirang-hitam―melirik arlojinya. Sudah waktunya makan siang. Pikirnya, membuat dirinya bergegas keluar dari gedung perusahaannya dan masuk ke dalam mobil, menuju sebuah lokasi syuting. Sejenak, ia merapihkan rambutnya. Tidak, dia tidak ingin tampil buruk rupa di hadapan perempuan itu. Setelah yakin bahwa ia selalu tampan, dengan sekali sentakan pintu Audi hitam itu terbuka.

Tampak ramai sekali. Membuat iris pure hazel-nya harus bekerja lebih keras dari biasanya untuk menemukan perempuan kurus itu. Bolamatanya masih sibuk mengitari lokasi luas itu, dan akhirnya―Sehun tersenyum. Perempuan itu sedang melambaikan tangannya lalu berlari kecil menghampiri Sehun.

“Kau tidak memberitahuku jika kau akan datang” Perempuan itu―Im Yoon Ah―seorang asisten sutradara terkenal Korea Selatan.

“Menelponmu hanya menghabiskan waktuku” Elak Sehun. “Kau sudah makan? Sekarang sudah saatnya makan siang.Aku ingin kau menemaniku makan”

“Kau merindukanku?” Goda Yoona.

Sehun mendengus. “Yang benar saja. Aku baru pulang dari meeting dan tidak sengaja melewati lokasi syutingmu ini” Bohong Sehun.

Yoona hanya mengangguk dengan sebuah senyuman yang ditahannya. “Baiklah. Tunggu sebentar. Aku harus meminta izin”

“Aku tidak mau tahu, kau harus menemaniku makan. Aku tunggu di mobil” Sehun berbalik dengan kilat, tidak membiarkan Yoona menyela ucapannya dan masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian, perempuan kurus dengan rambut sepunggung itu masuk ke dalam mobilnya.

“Kau tahu, aku bahkan harus bedebat dengan PD-nim hanya untuk menemanimu makan siang” Iris madunya terputar. Terlihat jengkel saat mengingat perdebatan panjangnya tadi.

“Tidak apa-apa” Timpal Sehun lalu memutar setir mobilnya.

’Tidak apa-apa’?!” Suara Yoona meninggi. “Yang benar saja. Aku bahkan harus mempertaruhkan gajiku hanya untuk menemanimu makan. Bisa saja sekarang PD-nim sedang berpikir untuk mengurangi gajiku bulan ini”

“Jika mereka menurunkan gajimu, pindah tempat kerja saja” Sehun menggumam enteng.

Dengan cepat Yoona menatap Sehun yang duduk di sebelahnya. Sedang menyetir dengan tampang datar. “Apa kau pikir mudah mencari pekerjaan?”

“Kau bisa bekerja di tempatku. Menjadi asistenku”

Yoona mendengus. “Menjadi asisten Huang Zi Tao masih terdengar lebih baik daripada menjadi asisten Oh Sehun” Canda Yoona dan diikuti dengan lirikan geram Sehun. “Aku ingin mengatakan bahwa aku bercanda, tapi, well, itu kenyataan”

Iris pure hazel Sehun terputar lalu diikuti hembusan nafasnya yang kasar.

“Jadi, kita akan makan dimana?” Tanya Yoona dengan mata yang menatapi jalan raya.

“Tempat biasa” Jawab Sehun singkat lalu keduanya membiarkan alunan lagu itu menyelinap di antara mereka. Hingga Sehun menginjak pedal remnya dan keduanya bersamaan turun dari mobil.

Keduanya duduk berhadapan, memesan makan siang lalu menunggu sejenak pesanan mereka.

“Aku ingin memberikanmu ini” Sehun mengeluarkan sebuah undangan bernuansa silver dan merah marun.

Yoona meraihnya dengan kening mengerut. Ia menarik pitanya lalu membacanya. Sebuah senyuman mengembang. “Acaranya akan diselenggarakan bulan depan dan kau memberikan undangannya kepadaku hari ini?”

Sehun menaikkan kedua bahunya. “Kau adalah orang pertama yang menerima undangannya. Berbanggalah”

“Apa kau sebegitu excited-nya dengan acara ini?”

“Acara itu hanya untuk formalitas. Sebenarnya,” Sehun menggantungkan ucapannya. “Aku hanya perlu menandatangani surat pelimpahan aset perusahaan. Ada atau tidak adanya acara itu tidak akan mempengaruhi apapun”

“Jadi, kau tidak akan lagi menjadi Presiden Komisaris?” Goda Yoona lalu tersenyum.

Sehun mendesah. “Aku menyukai pekerjaanku yang satu itu. Tapi, menjadi pemegang aset utama perusahaan terlihat lebih menyenangkan” Sehun tertawa. “Bukankah besok ulang tahunmu?”

Yoona mendongak. Menatap iris pure hazel Sehun. “Bagaimana kau tahu?”

***

            Calista Im―sebenarnya―ada di sana. Di antara laki-laki―Oh Sehun―dan perempuan itu―Im Yoon Ah.

            Ia ada di sana.

            Duduk di restaurant bersama mereka.

            Di antara mereka.

            Tapi, apa daya dirinya saat tubuhnya itu tak lagi dapat di lihat dengan mata telanjang? Tubuhnya tembus pandang. Bahkan laki-laki si pemilik iris pure hazel itu tak lagi dapat melihatnya―sejak kejadian dua tahun lalu. Saat keduanya berumur 22 tahun dan berada di puncak asmara yang membara. Tabrakan itu―Oh, betapa sosok Calista Im yang berbentuk Roh ini masih mengingatnya dengan jelas. Mobilnya bertabrakan dengan sebuah mobil yang pengendaranya sedang mabuk. Dan Calista Im membencinya, saat dirinya yang harus pergi dalam tabrakan itu.

            Hanya dirinya yang harus meregang nyawa.

            Bukan pengendara mabuk itu.

“Bagaimana kau tahu?”

Pandangan Calista teralih pada Yoona yang membuka kembali suaranya. Melihat iris madu itu lalu Calista kembali memandang Sehun.

            Laki-laki itu sedang menatap mata Yoona.

“Jujur saja, mencari tahu tanggal ulang tahunmu cukup membuatku kesusahan” Gurau Sehun. “Jadi, apa yang kauinginkan?”

“Maksudmu?”

“Kau ingin hadiah apa?”

Calista kembali menatap Yoona. Well, hari-harinya menjadi Roh―yang terjebak di antara dua dunia―berjalan seperti ini.

            Ia mengikuti Sehun kemanapun laki-laki itu pergi―tolong, jangan pikirkan kamar mandi.

“Aku tidak tahu” Yoona terlihat bingung. “Aku sedang tidak menginginkan apa-apa. Kurasa begitu”

Calista kembali mengalihkan pandangannya, menatap Sehun. Menatap wajah tampan yang pernah menjadi miliknya selama tiga tahun―dan akan selalu menjadi miliknya.

            Mata Sehun yang sempat berbinar menatap Yoona tadi, tiba-tiba menyayu. Raut wajahnya mudah berubah dengan cepat.

            Dan Calista Im tahu itu.

“Kau yakin?” Tanya Sehun.

Yoona terdengar menggumam tidak jelas, selagi berpose sebagai seakan sedang berpikir dengan dalam. “Mawar terdengar bagus”

“Sehun benci Mawar” Gumam Calista. Tidak, tidak akan satupun orang di dunia ini yang dapat mendengarnya.

            Well, kini, wajah Calista-lah yang berubah.

“Mawar? Kau ingin Mawar untuk ulang tahunmu besok?” Tanya Sehun lagi.

Yoona mengangguk dengan yakin dan mantap. “Ya. Mawar terdengar bagus sekali” Yoona terkekeh pelan.

“Baiklah” Gumam Sehun pelan.

“Wae? Kau ingin membelikanku Mawar?” Goda Yoona.

“Aku tidak akan membuang uangku hanya untuk membelikanmu hadiah” Elak Sehun.

Tidak ada yang berubah dari sifat laki-laki ini, sejak dirinya menghilang dua tahun lalu―katakan saja, ia meninggal dua tahun lalu.

***

            “Yoboseyo? Sehun-ah? Kau dimana?” Kim Jongin bertanya di ujung sana.

“Aku sedang di toko bunga. Wae?”

Toko bunga?

“Ne. Wae? Oh, tunggu” Sehun menjauhkan ponselnya lalu berbicara pada seorang ahjumma pemilik toko. “25 tangkai Bunga Mawar” Beritahu Sehun lalu kembali menempelkan ponselnya.

Bunga Mawar? Kau membeli Bunga Mawar?” Suara Jongin meningkat satu oktaf.

“Kau berisik sekali, hyung. Ada apa?”

Ayahmu mencarimu. Kurasa kau harus lembur hari ini untuk menyelesaikan laporan terakhir menjadi Presiden Komisaris” Jawab Jongin dan diikuti desahan Sehun.

“Baiklah. Aku akan kembali sebentar lagi” Gumam Sehun lalu meraih buket bunga yang diulurkan ahjumma pemilik toko.

Omong-omong, kenapa kau membeli Mawar? Apa itu untuk Yoona?

Sehun menghela nafasnya. “Bye, hyung” Tidak, Sehun sedang tidak dalam mood untuk berbicara dengan hyung-nya yang mudah memancing dirinya itu.

***

            Calista ada di dalam mobil Audi itu. Setelah ‘ikut’ mengantar Yoona kembali ke lokasi syutingnya, Calista masih setia duduk di kursi penumpang di sebelah Sehun. Menatapi sosok porselen dengan senyum manis yang akan selalu membuat Calista mabuk kepayang.

            Calista menyadari Sehun menginjak pedal remnya dan masuk ke dalam sebuah toko bunga di pusat kota. Calista berjalan di belakang Sehun, mengikuti laki-laki itu. Sedetik kemudian, ponsel Sehun berdering.

            Masih nada dering yang sama. Nada dering yang dulu. “Well, I won’t give up on us. Even if the skies get rough” Calista bersenandung pelan, mendengar percakapan antara Sehun dan Jongin.

            Calista dapat mendengarnya dengan jelas apa yang mereka bicarakan.

            Omong-omong, kenapa kau membeli Mawar? Apa itu untuk Yoona?” Calista mendengar pertanyaan Jongin yang satu itu dan berhasil membuatnya menutup mulutnya dengan rapat. Tidak berminat bersenandung lagi.

            Calista memerhatikan raut wajah Sehun.

            Wajah dengan kulit pucat itu memerah.

            Dan Calista Im―mengerti arti dari ruam merah muda di pipi Sehun.

            “Wae?” Tanya Calista saat Sehun membayar buket Bunga Mawar-nya. “Kau alergi dengan aroma Mawar dan mengapa kau masih tetap membelikannya? Wae, Sehun-ah?”

            Calista Im menyukai Mawar. Mawar adalah bunga nomor satunya. Tapi semenjak ia tahu bahwa Sehun memiliki alergi dengan aroma Mawar, ia akan lebih memilih Bunga Matahari.

            Andai saja―sekali saja―Sehun dapat mendengar Calista untuk saat ini. Dan yang Sehun hanya lakukan adalah kembali pergi. Melewati Calista seakan tidak ada siapa-siapa di sana.

***

            Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam dan Sehun baru kelar dengan kerjaannya. Tengkuknya terasa kaku sekali, harus berdiam selama lebih dari lima jam menatap layar laptop. Setelah membereskan barang-barangnya, ia memilih untuk segera pulang. Masuk ke dalam Audi-nya, mengemudikannya hingga rumah dan langsung mengistirahatkan tubuh lelahnya―terdengar tidak buruk.

Tapi ia membelokkan setirnya, setelah lebih memilih untuk membeli makan malam untuk perutnya yang mulai bermusik ria.

“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” Pelayan perempuan itu menyapa Sehun ramah. Baru saja Sehun ingin membuka mulutnya, ia kembali membungkamkannya―saat ia mendengar suara yang sangat ia kenal.

“Apa Ruang VIP sedang digunakan?” Sehun melirik pintu di ujung sana. Tertutup dengan tulisan ‘VIP Room’.

“Ne, Tuan. Sutradara Huang Zi Tao dengan teman-temannya sedang makan malam di Ruang VIP” Jawab pelayan perempuan itu.

Sehun tidak lagi merespon ucapan si pelayan, ia melangkah dengan cepat dan membuka pintu Ruang VIP itu―atau lebih tepat, Sehun mendobraknya dengan kasar dan keras.

Sedetik kemudian, ia terpaku. Iris pure hazel-nya membeku menatap iris madu itu. Iris madu yang ia kenal. Iris madu yang membuatnya keluar dari belenggu masa lalu. Iris madu yang kini basah dan penuh ketakutan tidak terkendali.

Sehun melangkah dengan cepat lalu meraih pergelangan tangan Yoona. Menatap dengan tajam satu per satu pasang mata di sana. “Maafkan aku, Tuan-Tuan. Tapi, Yoona telah berhenti menjadi asisten Sutradara Huang Zi Tao dari detik ini dan kuharap tidak ada lagi penawaran kerja yang ditujukan kepadanya yang datang dari kalian. Selamat malam” Kalimat itu keluar dengan tegas lalu Sehun menarik Yoona. Keluar dari restaurant tersebut dan masuk ke dalam mobilnya.

***

            Calista juga ikut ada di dalam Ruang VIP sebuah restaurant mewah di tengah Seoul itu. Ia berdiri di sebelah Sehun. Lalu matanya teralihkan pada telapak tangan Sehun yang meraih pergelangan tangan Yoona. Menggenggamnya seakan tidak ingin terlepas―Calista mendeskripsikannya seperti itu, karena ia tahu bagaimana rasa genggaman itu.

            Ia pernah tahu rasa hangat genggaman itu.

            Genggaman hangat yang dapat mengalirkan listrik dan menyengat jantung. Membuatnya berdetak tidak karuan dan melepaskan kupu-kupu di perunya. Calista pernah merasakannya, dan ia rindu dengan rasa itu.

            Ia menyentuh dada kirinya, dimana tempat jantungnya berada. Tidak ada lagi detakan tidak karuan itu atau kupu-kupu yang lepas di perutnya.

            Calista menatap iris pure hazel di sebelahnya. “Maafkan aku, Tuan-Tuan. Tapi, Yoona telah berhenti menjadi asisten Sutradara Huang Zi Tao dari detik ini dan kuharap tidak ada lagi penawaran kerja yang ditujukan kepadanya yang datang dari kalian. Selamat malam” Oh, ya. Ia juga tahu tatapan itu. Iris pure hazel itu menatap lurus dan tajam. Rahang Sehun juga ikut mengeras dan mengertak. Menandakan Sehun benar-benar marah.

            Calista Im―hanya terlalu mengetahui Oh Sehun.

***

            Sehun membuka pintu mobilnya dengan sekali sentakan dan menyuruh Yoona masuk. Ia menutup pintu mobilnya terlalu keras, membuat Yoona yang berada di dalamnya kaget.

“Apa yang kaupikirkan di dalam sana?!”

Yoona menoleh saat Sehun meneriakinya. “A-Apa?”

“Mereka mencoba bermaim bersamamu, Yoona! Yang benar saja! Tidakkah kau berpikir?! Kenapa kau tidak lari?!”

Yoona menutup mulutnya. Ya, memang benar. Laki-laki di dalam sana tadi memang mau memperkosanya. Menyedihkan, bukan? Apa hidup selalu seperti ini?

Sebenarnya, tidak ada Huang Zi Tao di dalam sana. Laki-laki itu pulang sebelum Sehun datang dan Yoona juga berniat pulang. Tapi, laki-laki brengsek itu menahannya dan menggodanya. Dan tepat sedetik kemudian, Sehun datang.

Yoona masih ciut untuk menjawab pertanyaan Sehun.

“Lupakan saja” Sehun mendenguskan nafasnya dengan kasar lalu menyalakan mesin mobil. “Aku akan mengantarkanmu pulang―”

“Tidak bisa” Potong Yoona, mengusap pipinya berniat menghapus air matanya. “Aku tidak bisa kembali ke flat

Sehun memandangnya. “Wae?”

“Aku belum membayar uang sewa untuk bulan ini. Aku berencana mengambil gajiku saat di restaurant tadi. Tapi kau tiba-tiba datang dan menyatakan aku berhenti menjadi asisten Sutradara Huang, itu sama saja menyatakan kau menghanguskan gajiku untuk bulan ini dengan sukarela” Jelas Yoona.

“Hei, tapi, mereka mencoba memperko―”

“Tidak apa-apa. Maksudku, tidak apa-apa kau telah menghanguskan gajiku. Dan, terimakasih atas pertolonganmu” Yoona tersenyum hambar, tidak melihat mata Sehun dengan lurus.

“Kau akan tidur dimana malam ini?”

“Akan kupikirkan nanti” Tukas Yoona, menunduk. Berpikir keras dimana ia akan mengistirahatkan badan letihnya ini.

Sehun memakirkan mobilnya di depan gedung flat Yoona. “Dimana Kim ahjumma?” Kim ahjumma―seorang wanita yang berumur sudah lebih dari setengah abad yang menyewakan beberapa flat miliknya, termasuk menyewakannya kepada Yoona.

“Sebentar” Beritahu Yoona, lalu mengetuk salah satu pintu di dalam gedung bertingkat tersebut.

“Oh, Yoona-ya”

“Annyeonghaseyo, ahjumma” Yoona membungkuk.

“Annyeonghaseyo, Yoona-ya. Waeyo?”

“Aku ingin membayar uang sewa flat Yoona bulan ini, ahjumma” Sehun membuka suara sebelum Yoona membuka mulutnya, dan malah membuat iris madu itu membulat memandang Sehun. “Berapa?”

“Maafkan aku sebelumnya,” Kim ahjumma menatap si kurus Yoona yang berdiri di hadapannya. “Tapi, karena kau tak kunjung membayar uang sewa flat-mu, aku terpaksa menjualnya dan seseorang telah membayarnya untuk jangka waktu dua tahun. Mianhae, Yoona-ya”

Wajah Yoona memucat seiring mendengarkan penjelasan dan permintaan maaf Kim ahjumma. Yoona tersenyum kecut. “G-Gwenchana, ahjumma. Mianhae, karena aku terus-menerus telat membayar uang sewa”

“Jadi, kapan kau akan membereskan barang-barangmu?” Tanya Kim ahjumma pelan.

“Sekarang. Tenang saja, ahjumma

“Kumohon padamu untuk tidak meninggalkan barang-barangmu. Ne?” Kim ahjumma tersenyum kecil dan diikuti kedipan mata Yoona.

“Ne, ahjummaArasseo” Yoona mengacungkan jempolnya dan tersenyum lebar. “Aku akan membereskan barang-barangku. Kau boleh pulang. Gomawo” Yoona berbisik pelan kepada Sehun dan melangkah menaiki tangga, bergegas masuk ke dalam flat-nya.

Sehun hanya dapat melihati Yoona hilang di balik belokan tangga. Tidak terlihat lagi. Lalu matanya beralih pada Kim ahjumma.

***

            Calista tidak beranjak dari posisinya. Ia masih berdiri di sebelah Sehun―dan akan selalu berdiri di sebelah laki-laki ini. Yoona telah pergi menuju flat-nya, dan menyisakan Sehun beserta Kim ahjumma.

“Jadi, berapa uang sewa flat Yoona sebulan ini? Aku akan membayarnya” Sehun tersenyum kecil.

Wow.

            Calista terdiam, tidak berkomentar melihat tindakan yang diambil Sehun. Laki-laki ini masih mengenakan baju kantornya, badannya lelah karena bertugas seharian hingga malam menjelang, dan belum memakan apapun untuk merendam bunyi perutnya kecuali beberapa cangkir kopi yang telah ia habiskan di kantor tadi.

            Tapi, hanya butuh sekejap secepat mengedipkan mata untuk membuat laki-laki ini seakan berenergi kembali―hanya perlu melihat Yoona dan iris pure hazel itu akan mengatakan ‘baik-baik saja’.

            Sehun akan baik-baik saja jika ada Yoona.

            Calista menatap lekuk wajah porselen yang dihiasi kantung mata hitam.

            “Apa benar kesimpulanku kali ini?” Tanya Calista.

            Setelah Kim ahjumma memberikan nomor rekeningnya, Sehun segera melesat menyusul Yoona. Tapi, Calista hanya butuh sepersekianminisecond untuk mencapai tempat Yoona.

            Teleportasi.

            Calista menyukai hal yang satu itu.

Sehun menyenderkan tubuhnya pada ambang pintu. Memerhatikan Yoona yang terlihat sibuk mengemasi barang-barangnya. Hingga perempuan itu menyadari sosok Sehun dengan rambut pirang-hitamnya berdiri di pintunya.

“Kau masih disini? Kukira kau sudah pulang”

“Aku menunggumu”

Yoona tertawa. “Jangan menungguku. Lagi pula, untuk apa menungguku?”

“Pulang bersama”

Tatapan mata Calista terlihat kosong saat Sehun mengucapkan dua patah kata itu.

            ‘Bersama’

Dengan nada yang sama saat Sehun mengucapkan kata itu kepadanya.

“Pulang bersama?” Alis kiri Yoona terangkat.

“Ya” Jawab Sehun singkat. “Kau sudah selesai berkemas?”

Yoona menatap Sehun. “Aku tidak mengert―”

“Kau sudah selesai berkemas?” Tanya Sehun lagi, terdengar perubahan nada pada ucapannya.

“Ne. Waeyo?”

“Aku tunggu di mobil” Sehun menghela nafasnya lalu berbalik.

***

            “Sebenarnya aku bisa tidur di rumah Sooyeon” Yoona membela dirinya saat Sehun menginjak pedal rem di depan sebuah gedung apartemen mewah di tengah kota. Yoona yakin, apartemen di dalamnya disewakan dengan harga setinggi kayangan.

“Tapi aku tidak mau kau tidur di rumah Sooyeon” Bantah Sehun dengan nada datar. Oh, ayolah! Dia sudah lelah sekali dan mengantuk berat. “Tunggulah di lobi, aku harus memakirkan mobilku”

Yoona melirik Sehun sekilas lalu keluar dari mobil Sehun dengan membawa dua kopernya. Well, sebenarnya, satu koper lainnya berada di bagasi mobil Sehun. Setelah memastikan perempuan itu masuk ke dalam lobi, Sehun memakirkan mobilnya dan terdiam sejenak dengan kepalanya yang ditompang oleh setir mobil.

“TIIIIIIIINNNNNN!!”

Sehun terlonjak.

“Sialan” Umpatnya kasar. Baru saja ia mengistirahatkan sejenak kepalanya di atas setir mobil, dengan tiba-tiba tombol klaksonnya tertekan. Yang benar saja. Sehun mendengus lalu melirik jam. Sudah pergantian hari lebih tujuh belas menit.

Hari sudah memasuki hari ulang tahun Yoona. Pikir Sehun.

Sehun membuka pintu bagasi mobilnya, mengeluarkan sebuah koper dan sebuket Bunga Mawar.

***

            Calista berdiri melihati Sehun yang sedang meraih sebuah buket Bunga Mawar. Setelah menutup pintu bagasinya dan memastikan mobilnya terkunci, Sehun melangkah dengan menggeret koper milik Yoona dengan satu tangan yang menyembunyikan buket bunga tersebut di balik punggungnya.

            Selama berjalan, mata Calista tidak terlepas dari 25 tangkai Bunga Mawar tersebut.

            Ia kembali mengingat masa-masa hidupnya. Well, Sehun tidak pernah membelikannya Bunga Mawar. Setangkai pun, tidak pernah. Sekali pun, tidak pernah. Tapi Sehun sering memberikannya banyak Bunga Matahari dan bunga kuning itu akan selalu menghiasi kamarnya.

            Tapi, bukankah Calista sudah mengatakan bahwa bunga nomor satunya adalah Mawar?

“Mereka terus-menerus menanyaiku. Mereka berpikir aku akan menyewa apartemen” Beritahu Yoona pelan, melirik beberapa staff gedung yang mengenakan seragam hitam.

“Kau memang akan menyewa apartemen mereka” Sehun tersenyum jahil.

“Apa?!” Suara Yoona meningkat satu oktaf lalu menghadang jalan Sehun. “Tunggu. Aku tidak pernah mengatakan hal seperti itu dan mungkin untuk membayar sewa apartemen di sini selama sebulan saja membutuhkan seluruh gajiku seumur hidup”

“Kau terlalu dramatis” Timpal Sehun dengan tawa kecil lalu menyodorkan sebuket Bunga Mawar yang sedari tadi ia sembunyikan di balik punggungnya. “Selamat menua, Im Yoon Ah-ssi

Yoona terdiam. Mulutnya mengatup rapat dan matanya membulat, mengatakan bahwa dirinya kaget. “Apa-apaan ini?”

Sehun memutar bola matanya. “Oh, astaga. Aku memberikan apa yang kauinginkan dan kau mengatakan padaku ‘apa-apaan ini’?”

“A-Aniya. M-Maksudku―”

“Ambilah. Aku masih harus mengurus tempat tinggalmu” Gumam Sehun, masih dengan tangan yang menyodorkan buket bunga kepada Yoona. Lambat laun, Yoona menerimanya dan membiarkan Sehun menghampiri seorang staff.

Beberapa saat dan akhirnya Sehun mendapatkan gold electronic card-nya lalu menghampiri Yoona.  “Kau hanya ingin berdiri disini?” Tanya Sehun lalu berjalan, meninggalkan Yoona.

***

            Calista tidak melangkah saat Sehun telah melangkahkan kakinya, meninggalkan Yoona―dan juga dirinya. Laki-laki itu masih saja beraktil ‘cool’ saat badannya lelah. Yoona berlari kecil mengejar Sehun. Sepersekianminisecond kemudian, Calista sudah berada di sebelah  kanan Sehun dan Yoona berdiri di sebelah kiri Sehun.

            “Gomawo,” Yoona menggantungkan ucapannya. “Untuk Bunga Mawar yang kauberikan”

“Itu bukan apa-apa” Bantah Sehun.

“Itu bukan apa-apa?” Tanya Calista, suaranya meninggi. Tidak setuju dengan ucapan Sehun barusan. Oh, yang benar saja, laki-laki ini. Pikir Calista.

            “Saat kau pulang nanti dan terbangun besok pagi, kau akan terkenal flu berat, Sehun-ah. Yang benar saja” Oceh Calista.

“Jadi, kau akan membiarkanku tidur di apartemenmu?”

“Kau akan menyewanya”

“Apa?!” Suara Yoona meninggi. “Menyewanya? Me-nye-wa-nya? Kau bercanda”

“Tidak ada yang gratis di dunia ini. Percayalah” Kedunya keluar dari elevator, menyusuri koridor di lantai tujuh.

“Hey, tidakkah kau ingat kau adalah orang yang mendepakku dari pekerjaanku sendiri?” Tanya Yoona. Kesal.

“Itu tidak sengaja” Bantah Sehun, lalu berhenti di depan sebuah pintu besar hitam metalik dan menggesekkan kartu emasnya pada gagang pintu.

“Itu sangat tidak manusiawi” Gumam Yoona, mengikuti langkah kaki Sehun masuk ke dalam apartemen.

Calista ikut melangkahkan kakinya.

            Dan, ini adalah kali pertamanya―sejak ia mati selama dua tahun―ia kembali ke dalam apartemen ini. Matanya menerawang, menjelajahi setiap sudut ruangan.

            Tidak ada yang berubah.

            Keadaannya masih sama seperti dulu, saat terakhir kali ia tinggalkan apartemen ini.

            Perhatian Calista teralihkan kepada Yoona yang baru saja membuka mulutnya.

“Apartemenmu bagus sekali. Apa kau memilih semua barang-barang ini?” Yoona menunjuk sebuah cermin bundar yang tergantung di dinding dengan bingkai yang terbuat dari kayu berwarna putih dan dibentuk seelok mungkin.

Calista terdiam. Ia memandang Sehun kali ini.

            Ia ingat cermin itu. Mungkin Sehun tidak menyukai kaca dengan bingkai indah dari kayu itu, tapi Calista menyukainya. Ia yang memilihnya dan menyuruh Sehun untuk menaruhnya di apartemennya.

            Dan setiap datang menemui Sehun di apartemen ini, ia akan menyempatkan dirinya untuk melihat bayangan cantiknya di kaca tersebut.

“Seseorang memilihkannya untukku” Jawab Sehun.

Rahang Sehun mengeras. Matanya terlihat sedikit lebih tegang. Calista tahu itu.

            “Seseorang?” Calista mendesah kecil.

            “Seseorang? Sungguh, Sehun-ah?” Calista menatap Sehun.

            “Seseorang” Gumam Calista. Mengapa Sehun tidak menyebutkan namanya saja? Yoona sudah mengetahui cerita tentang dirinya. Sehun pernah menceritakan ‘seorang Calista Im’ kepada Yoona. Well, walaupun saat itu Sehun menceritakan tentang dirinya terlalu singkat.

“Ini kamarmu. Istirahatlah” Sehun menaruh koper Yoona di dalam kamarnya.

Sepersekianminisecond Calista sudah berpindah, yang awalnya hanya terdiam berdiri di ruang tengah menjadi di dekat Sehun―di kamar.

            Ruangan yang pernah mereka sebut dengan ‘kamar mereka’.

            Yoona masih belum menyusul Sehun, tapi Calista sudah berdiri di sebelah Sehun. Ia memandang Sehun yang sedang memandang ranjang dengan sprei krem itu. Ranjang yang pernah mereka tiduri berdua. “Sehun-ah” Suara Calista terdengar tercekat memanggil nama laki-laki itu.

            Tiba-tiba Sehun menoleh ke arahnya. Berlagak seakan apa yang ia lalui ini adalah nyata. Calista dapat melihat iris pure hazel itu menatap balik irisnya. Dalam dan seperti tatapan kala dulu itu.

            Tatapan yang selalu dirindukan oleh seorang Calista Im.

“Sehun-ah?”

Sehun membuang pandangannya, beralih pada Yoona dan itu membuat Calista terdiam. Jika saja jantungnya masih berdetak, Calista berani bertaruh bahwa jantungnya akan berhenti.

“Istirahatlah. Aku akan pulang” Gumam Sehun.

“Baiklah” Yoona mengangguk pelan, mengikuti Sehun hingga pintu utama. “Gomawo”

“Aku hanya membantumu”

“Gomawo” Lagi, Yoona mengucapkannya.

Calista berdiri di belakang Yoona.

“Selamat malam” Sehun tersenyum kecil.

Dan Calista yakin.

“Selamat malam. Berhati-hatilah”

***

            Keduanya tampak makin dekat. Sehari setelah ulang Tahun Yoona, Sehun terserang flu berat. Matanya menyipit, kantung matanya menghitam lebih cepat dan hidungnya yang tidak bisa diajak bernegosiasi. Obat flu biasa bahkan tidak mempan untuk Sehun dan itu cukup membuat Yoona pusing. Perempuan itu akan datang setiap pagi mengunjungi Sehun―setelah mendengar berita tentang kesehatan Sehun―dan akan membuatkan sarapan pagi untuk laki-laki itu.

Dan sudah seminggu ini Sehun dengan rutin menghampiri Yoona di apartemennya. Terus menggoda perempuan itu untuk menjadi asistennya, tapi ia cukup kaget saat Yoona mengatakan bahwa dirinya kembali bekerja dengan Sutradara Huang. Saat itu Sutradara Huang meminta maaf kepadanya atas insiden ‘kotor’ itu.

Calista Im duduk di atas ranjang. Ada Im Yoon Ah yang sedang tertidur di sebelahnya. Calista memeluk lututnya. Jam sudah menunjukkan pukul 3.

            “Kau tahu,” Calista membuka suaranya, dan berharap dunia mendengarnya. “Aku adalah seorang model cantik dan sexy. Aku kaya raya dan memiliki popularitas yang tinggi. Aku memiliki laki-laki yang teramat mencintaiku dan katakan padaku apa yang tidak aku miliki”

            Calista terdiam sejenak.

            “Aku memiliki segalanya. Segalanya” Jika Calista Im bisa menangis untuk saat ini, ia akan mencurahkan air matanya. “Hidupku terlalu sempurna, maka dari itu banyak mata yang iri memandangku”

            Calista memandang Yoona yang sedang tertidur pulas. “Tapi, kenapa? Kenapa, Im Yoon Ah-ssi? Kenapa aku iri kepadamu? Katakan padaku, apa yang kau punya yang aku tidak punya” Suara Calista menipis. Beberapa detik melihat Yoona, ia turun dari ranjang Yoona. Berjalan dan kurang dari sedetik ia sudah berada di kamar Sehun.

            Ia melangkah, berlutut di pinggir ranjang Sehun. Menatap laki-laki itu dari jarak terdekat yang bisa ia raih. Bibirnya masih terkatup, ingin menikmati karya Tuhan itu untuk sejenak.

            “Setelah apa yang kaulalui bersamanya hingga saat ini, kau mencintainya, bukan?” Akhirnya, Calista kembali membuka suaranya. “Aku dapat melihatnya dari cara pandanganmu melihatnya”

            Calista tersenyum kecil. “Karena kau melihatku dengan cara seperti itu, dulu”

            “Dengarkan aku, Sehun-ah” Calista terdiam sejenak. “Aku mencintaimu dan aku tidak ingin kehilangan dirimu. Jadi, kumohon, maafkan aku”

            Perempuan itu mendekatkan wajahnya dengan wajah Sehun, dan masuk ke dalam raga Sehun. Mengendalikan raga itu.

***

            Yoona menempelkan ponselnya di telinganya. Menunggu nada dering sejenak, lalu kaget. Panggilannya ditolak. Tidak biasanya, pikir Yoona. Ia kembali mencoba menelpon lagi, tapi kini panggilannya diterima, membuat sebuah senyuman tersungging di wajah mulusnya. “Sehun-ah?”

Aku sedang sibuk” Tit. Hubungan kontak itu tiba-tiba terputus. Tidak, Yoona tidak memutuskan hubungan kontak itu ataupun tidak sengaja menekan tombol merah. Ia menatap ponselnya.

Sibuk sekali rupanya, pikir Yoona enteng lalu kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku mantel. Arlojinya sudah menunjukkan waktu makan siang. Well, alasannya menelpon Sehun tadi adalah untuk memastikan makan siang mereka kali ini. Jadi, atau tidak.

 

To: Oh Sehun

            Apa kita jadi pergi makan siang bersama?

 

            From: Oh Sehun

            Ya. Pergilah lebih dulu. Aku akan menyusul

 

Senyum Yoona mengembang. Setelah meminta izin dan membereskan barang-barangnya, ia segera melesat menggunakan taksi ke sebuah restauran yang biasa menjadi tempat makan siangnya bersama Sehun. Perempuan itu duduk di bangku yang biasa akan didudukinya bersama Sehun.

***

            Jadi, tidak ada Sehun?

Ponsel laki-laki itu tidak aktif dan Yoona tidak dapat menghubunginya.

Langit sudah menggelap sedari tadi dan jam telah menunjukkan pukul 9 malam. Restauran ini akan segera tutup, membuat Yoona―mau tidak mau―bangkit dan pulang.

***

            Sudah beberapa hari ini ia tidak melihat Sehun. Bahkan setiap kali Yoona menelponnya akan selalu direject. Yoona tidak mengerti apa yang terjadi dengan Sehun. Dan pilihan terakhirnya adalah dengan mendatangi Sehun ke perusahaannya.

Perempuan itu sedang menunggu pintu elevator terbuka. Setelah berbicara dengan resepsionis dan memastikan ia bisa bertemu dengan Sehun hari ini, Yoona melangkahkan kakinya dengan percaya diri. Menembus kerumunan karyawan dan mengetuk pintu kantor Sehun.

***

            Perempuan itu datang―Im Yoon Ah.

            Ia menyapa Sehun―menyapa raga Sehun.

            Dan tiba-tiba Calista terdiam sejenak. Ia merasakannya. Detak jantung Sehun yang meningkat. Calista dengan susah payah menahan raga Sehun itu untuk tersenyum, membuat wajah Sehun sedingin mungkin.

“Ada apa?”

Yoona akhirnya duduk di hadapan Sehun lalu berdehem. “Aku ingin bertanya, mengapa kau selalu menolak telponku?”

“Apa mengangkat telpon darimu sangatlah penting?”

Calista dapat melihat perubahan mimik wajah Yoona dari balik iris pure hazel itu.

“Aniya. Maksudk―”

“Apa kau datang ke sini hanya untuk bertanya hal bodoh itu?”

Iris madu itu menatap iris Sehun. Kaget. Yoona terdiam sejenak. “Yang ingin kukatakan hanyalah aku akan pindah dari apartemenmu. Aku telah menemukan flat yang lainnya. Aku akan pindah secepat mungkin”

“Jangan”

“Sialan” Umpat Calista.

“Kau akan tetap tinggal di sana. Keluarlah, aku masih ada pekerjaan”

Calista tidak dapat berpikir dengan jelas. Setelah Yoona keluar dari ruangan Sehun, ia menyandarkan raga Sehun pada sandaran kursi kulitnya.

            Ada bagian dari diri Sehun yang sama kuatnya dengan dirinya, mungkin lebih kuat dari dirinya. Hal yang belum bisa Calista kendalikan.

***

            Calista duduk di sebelah Sehun yang sedang tertidur. Ia keluar dari raga Sehun sebentar untuk melihat laki-laki ini. Ia memeluk lututnya. Mengingat kejadian di kantor tadi, Calista mendesah.

            “Apa sebegitu cintanya kau padanya?” Calista memandang Sehun. “Tidakkah kau tahu bahwa ada aku di sini yang tidak mau kehilangan dirimu?”

            “Sehun-ah”

            “Apa kau sudah melupakanku? Jeongmal? Tidak ada bagian dari dirimu yang merindukanku? Apa kau tidak mengingatku lagi?”

***

            Sehun tampan sekali di balik tuksedo hitam itu. Malam ini adalah malam yang ia tunggu-tunggu―acara besar untuk memperingati pelimpahan aset perusahan ke tangannya.

Gedung megah itu tampak ramai sekali. Lampu-lampu kristal besar menggantung di langit-langit gedung, menambah kesan mewah. Sehun memperkenalkan dirinya pada beberapa rekan kerja ayahnya, mencoba membuka peluang kerja yang lebih besar lagi bersama mereka. Sehun tak henti tersenyum, menawan sekali.

***

            Malam ini Calista mengalami keadaan yang cukup susah untuk ia kendalikan. Dengan susah payah Calista membuat raga Sehun untuk tersenyum, berusaha keras untuk tidak membuat raga itu mengelilingi gedung besar itu hanya untuk mencari seseorang.

            Calista Im kesusahan.

            Jika bisa dikatakan, Calista kehilangan energinya. Iris pure hazel itu akhirnya bertemu dengan iris madu di ujung ruangan sana.

            “Oh, tidak” Kedua kaki itu tidak bisa dihentikan Calista saat mengarah pada perempuan dengan make-up tipis itu. Calista mencoba menahannya sepasang kaki panjang itu.

            “Sehun”

            “Sehun!”

“Sehun-ah!”

            Langkah kaki Sehun memang melambat, tapi saat iris pure hazel itu kembali bertemu dengan iris madu itu dan ditambah senyuman yang memukau―membuat kaki itu berhenti.

            Calista yang menghentikannya.

            Dan kini ia mengerti dan mendapatkan jawabannya―mengapa raga Sehun kesusahan untuk dikendalikannya. Mengapa raga Sehun seakan enggan untuk Calista jauhkan dari Yoona. Mengapa raga ini masih ‘sadar’ akan keberadaan Yoona.

            Tangannya menyentuh dada kirinya, merasakan detak jantung Sehun. Detak jantung itu meningkat, membuatnya seakan juga ikut hidup dan memiliki detak jantung lagi.

            “Kau memiliki cinta yang besar untuknya, Sehun-ah”

            “Sehun-ah?” Yoona yang mengenakan dress simple putih itu menghampiri Sehun dan berdiri di hadapan laki-laki yang tengah menunduk itu.

            Raga Sehun―menolak kehadiran Calista di dalamnya. Hati itu juga enggan untuk dikuasai dan dikendalikannya. Menolak dengan keras dan mendesaknya untuk keluar. Dan Calista terdorong keluar, membuat raga itu jatuh dan keributan di penjuru gedung.

***

            Sehun membuka matanya dengan pelan. Silau sekali.

Saat ia ingin menghalau sinar matahari dengan tangannya, sesuatu menahannya. Ia melirik. Selang infus yang menahan tangannya rupanya. Ia mengedarkan pandangannya pada ruangan putih itu.

Ini bukan kamarnya.

Tapi, iris pure hazel hangatnya terhenti pada sebuah vas bunga di sebelah ranjangnya. Kumpulan Bunga Matahari.

“Cale” Sehun tersenyum kecil.

***

            Calista menunggui Sehun di dalam ruang inapnya. Bodoh sekali. Ia terus menghardik dirinya dengan ucapan seperti itu.

            Jika saja ia tidak berpikiran dangkal, Sehun tidak akan berakhir seperti ini.

            Calista seketika sigap berdiri di sebelah ranjang Sehun saat tangan laki-laki itu tiba-tiba bergerak. Mata itu terbuka dan membuat Calista menjadi Roh paling beruntung yang pernah ada. Ia tersenyum manis―seakan-akan Sehun dapat melihatnya.

            Ia menatap Sehun yang mengedarkan pandangannya. Mungkin laki-laki ini baru menyadari bahwa ini bukan kamarnya, pikir Calista. Calista mengikuti arah pandang Sehun dan pandangan laki-laki itu terhenti pada sekumpul Bunga Matahari pada sebuah vas di atas meja.

            Mata Calista terpaku menatap bunga kuning itu. Merasakan kenangan yang berada di dalam keindahan bunga itu. Berton-ton kenangan yang Calista sukai berkumpul di dalam sana. Terbungkus sebagai sebentuk Bunga Matahari yang akan diberikan Sehun kepadanya.

            “Cale”

Pandangan Calista cepat berpaling saat Sehun menyebutkan satu nama itu. Ia menatap Sehun dengan tidak percaya.

            ‘Apa dia baru saja menyebutkannya?’

            ‘Dia memanggilku?’

            ‘Aku tidak salah dengar, bukan?’

            ‘Apa Roh bisa berhalusinasi?’

“Hey, kau sudah sadar?” Kim Jongin, masuk memecahkan keheningan di ruang inap Sehun.

“Ne, hyung” Jawab Sehun pelan.

“Wae? Kau tidak suka bunganya? Aku bisa meminta pihak rumah sakit menggantinya―”

“Jangan. Jangan diganti. Aku menyukainya” Sehun tersenyum kecil. “Sangat menyukainya”

Percayalah bahwa Roh tidak bisa menangis.

            Tapi, Calista Im―sosok perempuan yang meninggal pada umur 22 tahun itu―menitikkan air matanya. Setitik. Dua titik. Dan menjadi tidak terkendali. Ia tidak pernah merasakan kata ‘lemah’ itu, tapi kini kakinya tidak bisa menompang tubuhnya. Dia terjatuh. Memegangi dadanya.

            Ada sakit yang tertera di dadanya, dan membuatnya merasa hidup.

            Oh, Tuhan! Dia ingin merasakan detakan jantung lagi! Hanya untuk laki-laki ini!

***

            “Kau senang sekarang?” Yoona melirik Sehun.

Laki-laki itu tersenyum lebar. “Tentu saja”

“Ini sangat kekanak-kanakan, kau tahu” Oceh Yoona saat menatapi gembok miliknya dan milik Sehun saling mengunci dan digantungkannya di N Seoul Tower.

“Yang penting aku senang” Sehun tertawa kecil lalu mencium kening Yoona. “Kajja, kita pulang”

***

            Calista menatap Sehun yang baru saja mengecup kening Yoona. Keduanya tersenyum lalu melangkah bersama―pulang.

            Faktanya adalah Calista hanya akan sebagai kenangan untuk Sehun sekarang.

            Sehun tidak akan pernah melihatnya lagi.

            Calista perlu belajar untuk tidak mengikuti Sehun lagi.

            Calista perlu belajar untuk tidak bersama Sehun lagi.

            Calista perlu belajar untuk melepaskan Sehun dan mengatakan pada dirinya bahwa Sehun telah berbahagia dengan perempuan lain yang menggantikan posisinya.

            “Aku mencintaimu, kuharap kau masih ingat itu, Sehun-ah”

***

            Sehun berdiri di sebelah makam Calista Im, menaruhkan sebuket Bunga Mawar itu di depan nisannya.

“Hey, maafkan aku karena jarang menemuimu”

“Aku membawakan bunga kesukaanmu. Maafkan aku karena tidak pernah memberikan Mawar kepadamu sebelumnya. Aku hanya takut alergiku kambuh” Sehun tersenyum kecil. “Aku ke sini untuk memberitahumu,” Sehun menggantungkan ucapannya. “Bahwa aku akan segera menikah dengan Yoona. Jadi, kuharap kau akan ikut senang, Cale”

“Dan perasaan yang pernah ada di antara kita, tenang saja. Aku tidak akan pernah melupakannya” Sehun tersenyum menatap ukiran nama ‘Calista Im’ pada nisan di hadapannya.

END

Author’s Note: Absurd gila FF ini -_- Sebenernya mau buat Calista Im-nya jadi main cast, tapi berhubung di YoongEXO main castnya kudu Yoona…ya jadinya gini-_- Sorry banget kalau garing. RCL mwah

132 thoughts on “Inside You

  1. entah knp aku ngebayangi Callista itu Krystal ._.
    kan mirip tuh. Aduh gara gara baca ff karya author jadi suka Yoonhun hehe
    aku dpet feel-nya, kasian sama Callista yg ga nyata?/
    keep writing^^

  2. Aku itu pengubek ngubek ff di yoongexo dan aku baru tau ada ff yang judulnya inside you YAAMPUN AKU KUDET BGTT/?
    Tapi sumpaaah ini keren bangeett♡ aku suka semua ff buatan clora eonnie deh pokoknya feelnya selalu dapet. Kenapa ngga buat novel yoonhun aja eon?wkwk
    Pokoknya daebak dehh^^
    Always be selenites yap eon♡

  3. INIKOKGINISIHHHHAKUKANJADIBERKACAKACAMATANYAMAUNANGISNIH /oke itu ajaran temen aku yang sama gilanya-_- masa udah pake capslock ga ada spasi lagi wkwkw/

    Gakpapa kan? Nggak perih kan matanya? Lol.

    Yep, aku lagi pengen baca karya karya kakak so begini deh. Kayaknya sebentar lagi aku bakal tinggalkan komentar macam lainnya di ff kakak yang berbeda^^

    Pembawaan alur bener bener mengalir. Pelan dan mendayu bikin aku jadi makin melankolis okeh-_- terus ke gambar perasaan sang Cale. Malah aku ngerasa si Cale ini tetep jadi pemeran utama loh, karena di ff ini hanya perasaan Cale yang dipaparkan secara keseluruhan. Dan upayanya untuk buat Sehun terus dalam kesedihan yah.
    Malah si Yoona nya sendiri kurang penulisan dia bahagia atau malu atau grogi dan semacamnya kan? Tapi itu bukan masalah sama sekali karena aku juga bayangin Cale sosok yang sama dengan Yoona.

    Terharunya tuh pas Hunnie beli mawar buat Yoona. Dia bahkan lupain tentang alerginya dan flu nya dan semuanya yang bikin dia nggak suka mawar. Kecuali kalau itu Yoona^^ ohmygod so sweettttt bangettt ♡.♡

    Akhirnya mereka nikah dan aku berharap Cale juga bahagia yaaaaaa. Keep writinggg^o^)9

  4. Huaaaaaahhhhhh ,, ceritanya mngharukan bnget ,, trnyata sehun msh nyimpen perasaan+kenangannya bersama calistha , untung ajj calistha bisa ngerelain sehun sama yoona dan ngebiarin mreka b2 bahagia , klo gaa kasian sehun :’) . Daebak thor

  5. bagusss thorrrr ^^ btw aku jadi penasaran, di ff ini kan castnya Calista Im dan dia seorang public figure gtu kan? nah sebelum baca ff ini aku baca teaser ff mono scandal yg castnya Calista Im dan disitu dia juga public figure. dan pas aku liat poster di 2 ff itu ada gambar yoona dalam pose yg sama thor. yg aku pertanyakan itu, itu kebetulan kah thor? atau di ff mono scandal itu cerita tentang Calista Im selama hidupnya? hehehe mian thor atas pertanyaanku yg super aneh ^^

  6. Ff ini baguus sih tapi terlalu condong ke calistha dan satu lagi feel nya calistha belum bisa relaain YoonHun dan judulnya juga serasa ke calistha bgt bukan YoonHun .-. Tapi kalau author buat si calistha ama sehun dan yoona jadi rohnya itu feel yoona pasti dpt ke cerita dan judul ^_^

    • Kalau aku buat Yoona jadi rohnya, FF ini malah bakal jadi angst. Aku sengaja jadiin Calista roh bukan Yoona, soalnya kasian Yoona terus masa tiap aku buat FF dia mulu yang tersakiti. Akunya juga bosen buat FF Yoona terus yang sakit hati🙂
      Thank you for your attention ya!♥

  7. suka karya mu thor🙂
    buat lagi ff yoonhun lainnya yaa
    oia mau kasih koreksi ni
    1. elevator itu kan tangga berjalan yaaa, smntra di apartemen kan harusnya pake lift. masa pintu elevator terbuka ??? kan elevator ga ada pintunya /?
    2. “Calista mencoba menahannya sepasang kaki panjang itu.” sebaiknya jgn pake NYA kalo ada kalimat tmbhn “sepasang kaki panjang itu.” cukup MENAHAN. kalo MENAHANNYA sebaiknya kalimat belakang dihilangkan
    oke, keep writing ^^

    • Thank you banget lho koreksinya😀
      Masalah kata yang “Menahannya” itu emang salah aku. Antara emang salah ngetik atau ada kurang tanda baca.
      Elevator itu nama lainnya lift sayang, kalau tangga berjalan yang gak punya pintu seperti apa yang kamu bilang itu namanya eskalator🙂

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s