(Freelancer) Oneshoot : Complicated(Sequel On Rainy Days)

 

Title : Complicated (Sequel On Rainy Days)

Author : Indah Kslyoong

Main cast :

– Im Yoona

– Kim Joonmyun

– Do Kyungsoo.

Genre : Romance

Rating : PG 13

 

You don’t always make the sky dark, but make it colorful.

“Jaga kesehatanmu Yoona. Jangan lupa makan dan istirahat. Aku mencintaimu.”

Sambungan telepon itu terputus. Aku menghela napas, menyimpan ponselku sembarangan di atas tempat tidur dan berjalan membuka jendela kamarku.

Aku menatap langit, berwarna biru dan tidak terlalu banyak gumpalan awan pagi ini. Sangat indah. Aku berharap perasaanku bisa seindah dan secerah itu, tapi semuanya tidak berubah.

Tok..tok.

“Yoona.”

Aku menoleh ke arah pintu, memunculkan ibuku yang tengah tersenyum manis dan berjalan memasuki kamarku. Aku pun balas tersenyum ke arahnya. Setidaknya, hanya aku yang boleh benar-benar mengerti perasaanku saat ini.

“Kau benar-benar akan melakukannya? Ayahmu sudah memberitahuku.”

Aku memandang wajah ibu. Ada sedikit kesedihan yang kasat mata terpancar dari wajahnya. Sebagai seorang ibu, ia pasti tidak rela aku mengambil keputusan seperti ini. Tapi percayalah, ini mungkin adalah keputusan terbaikku.

“Aku sudah memikirkannya. Maafkan aku.”

Ia menggenggam tanganku erat, membuatku merasakan kehangatan untuk sementara ini. Ia tersenyum tulus ke arahku.

“Kau sudah memberitahu Joonmyun?”

Aku tersenyum tipis.

“Belum saat ini. Waktu kami masih banyak.”

Walau sebenarnya tadi aku berencana memberitahu pemuda itu ketika ia menelepon. Tapi setelah kupikir, mungkin itu bukanlah pilihan yang baik. Mungkin aku akan mencari waktu yang tepat.

“Lalu bagaimana dengan Kyungsoo?”

Akh, pemuda itu. Aku kembali memikirkannya. Sahabatku selama belasan tahun. Sahabat yang beberapa bulan lalu bertunangan dengan gadis yang dijodohkan dengannya dan mungkin juga dicintainya setelah menjalin hubungan selama 3 tahun. Ia bertunangan di acara ulang tahunnya yang ke-21. Sungguh membuatku iri.

“Aku sudah memberitahunya, dan dia marah besar.”

Kejadian akan Kyungsoo yang marah besar padaku kembali terngiang di kepalaku. Bagaimana ia yang berteriak, dan membanting pintu kamarnya saat aku pergi sungguh membuatku terenyuh. Aku tidak tahu kalau ia akan bereaksi seperti itu. Semuanya sungguh rumit.

“Ibu tidak tahu alasan kau memilih jalan ini, tapi ibu percaya padamu.”

Aku tersenyum lalu memeluk ibu erat. Apa yang dikatakan orang ternyata benar, bahwa ibumu adalah orang yang paling mengerti perasaanmu. Karena saat ini, hanyalah dukungan dari orang terdekat yang kubutuhkan.

“Terima kasih, ibu.”

___

 

Aku berjalan pelan meninggalkan area kampusku. Mata kuliahku memang sudah berakhir sejak 45 menit yang lalu, namun aku baru akan pulang sekarang. Aku mengamati setiap sudut halaman kampus ini, menghapalkannya dan akan mengenangnya. Suasananya masih sama, hanya saja, suasana hatiku yang mulai berubah.

Tidak ada lagi Kyungsoo yang berjalan di sampingku, tertawa, dan menghiburku. Karena Kyungsoo sudah lepas dari genggamanku, dan aku merelakannya. Kyungsoo tidak pergi kemana-mana, hanya saja aku yang menjaga jarak dengannya. Karena aku cukup tahu diri bagaimana posisiku saat ini. Dan sepertinya pemuda itu juga masih marah padaku. Aku belum pernah melihatnya hari ini.

“Yoona!”

Aku tersentak ketika mendengar suara itu. Aku mengenalnya dengan baik.

Joonmyun-oppa.

Ia ada di sana, tidak jauh dari tempatku berdiri. Ia berdiri di samping mobilnya dan melambaikan tangan ke arahku. Aku tersenyum lalu berjalan ke arahnya.

“Oppa menungguku lama?”

Ia tersenyum manis, mengacak pelan rambutku. Ia sangat tahu apa yang kusuka darinya.

“Tidak. Ayo masuk.”

Dia membukakan pintu mobil untukku lalu berjalan masuk dan duduk di depan kemudi. Ia melirikku sekilas masih dengan senyum manisnya lalu mulai melajukan mobilnya.

Tidak ada yang mulai pembicaraan. Ia sibuk dengan kemudinya dan aku hanya memandang jalanan dari jendela mobil. Aku tahu, sesekali ia melirik ke arahku. Tapi saat ini, aku benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa. Karena terlalu banyak hal yang harus kukatakan padanya.

23 menit. Mobil Joonmyun berhenti tidak jauh dari pantai. Aku beranjak keluar dari mobil. Angin langsung menyambutku dan mengibarkan rambutku. Indah, sejuk, sangat menenangkan.

“Kau suka?”

Aku menoleh ke arahnya, ia tersenyum tulus ke arahku. Pemuda ini, apa yang harus kulakukan untuk membalas kebaikannya?

“Ayo.”

Ia menggenggam erat tanganku dan menuntunku untuk berjalan ke pinggir pantai. Tidak ada orang di pantai ini, sekali lagi ia tahu apa yang kusukai.

“Aku senang kau masih berdiri di sampingku. Setelah lebih 2 tahun, aku bersyukur kita masih bersama.”

Ia menatap lekat mataku, hal yang selalu kuhindari. Tapi kali ini, aku membiarkannya. Mencoba untuk mengerti perasaannya dari pancaran matanya yang kusadari begitu menghangatkan. Aku benar-benar bodoh.

“Tidak ada hal lain yang kuinginkan. Cukup kau tetap di sampingku seperti ini, aku sudah sangat bahagia.”

Aku tertohok. Aku merasa menjadi gadis paling jahat saat ini. Bagaimana mungkin aku bisa membuatnya berharap seperti itu padaku? Apakah aku sanggup untuk mewujudkannya? Tidak lagi Yoona.

“Hari ini sangat indah, ayo bermain.”

Ia kembali menarikku untuk lebih dekat dengan pantai. Kami berlari seiring dengan angin yang terus mengibarkan rambut kami. Aku tersenyum mendapati wajahnya yang terlihat begitu bahagia. Semoga dia akan terus seperti ini.

“Oppa!”

Aku berteriak ketika ombak datang dan tiba-tiba ia mendorongku hingga membuatku terjatuh. Keadaanku basah, dan itu justru membuatnya tertawa keras. Aku mengerucutkan bibir kesal lalu berlari ke arahnya. Menarik tangannya lalu mendorongnya ke pantai.

“Yoona!”

Dan giliran dia yang basah__hanyapada celana. Aku tertawa melihatnya. Tapi sungguh, ini membuatku merasa semakin jahat.

“Kau mulai nakal ya.”

Aku berlari menghindar ketika kulihat ia mulai berlari ke arahku. Aku masih tertawa, Aku merasa menemukan suatu hal yang kucari selama ini. Tapi sayang, aku menemukannya di waktu yang tidak tepat.

“Kau tidak bisa kabur lagi.”

Hawa dingin yang kurasakan langsung hilang begitu saja ketika kurasakan dirinya memelukku. Aku terdiam, mencoba meresapi moment saat ini. Aku bisa merasakan pelukannya yang semakin erat. Cukup lama, dalam diam.

“Kau bahagia, kan?”

Ia melepaskan pelukannya. Mengelus pelan rambutku yang basah dan sedikit merapikannya.

“Kau pasti kedinginan. Tunggu sebentar.”

Ia berjalan menjauhiku dan menuju mobilnya. Aku menatap punggungnya sendu. Apakah aku akan merusak kebahagiaannya saat ini juga?

“Pakailah ini.”

Ia datang dengan jas yang kupikir adalah jas yang dia pakai ke kantornya. Ia menyampirkan jas itu di pundakku lalu menuntunku untuk duduk di atas pasir. Kembali ia merangkul pundakku, memberikan kehangatan yang lebih.

“Oppa.”

Aku membuka suaraku ketika cukup lama terdiam. Dia tidak menjawab, hanya menoleh ke arahku dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya.

“Terima kasih untuk semua yang telah kau berikan kepadaku.”

Aku mengambil napas sejenak. Menatap matanya dalam. Aku berharap agar tidak menyakitinya terlalu dalam. Sudah cukup aku menjadi gadis yang jahat.

“Tapi, mungkin ini adalah pertemuan kita yang terakhir. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita lagi. Aku akan pergi.”

Senyumnya perlahan menghilang, matanya meredup. Maafkan aku.

“A-apa maksudmu?”

Nada suaranya melemah, bahkan seperti bisikan. Aku tahu apa yang dia rasakan, karena aku pernah merasakannya, tapi dalam kadar yang berbeda.

“Aku akan pindah kuliah, ke Paris. Oppa tahu kan aku ingin menjadi seorang designer?”

Alasan yang tidak cukup.

Ia masih menatapku tak percaya. Aku juga sakit, dan aku memilih untuk menjadi seorang pengecut.

“Tapi, kenapa kau harus mengakhiri hubungan kita? Aku tidak apa-apa jika harus berhubungan jarak jauh. Apa kau-”

Ia menghela napas frustasi. Tangannya pun mulai lepas dari pundakku. Aku merasa dingin saat ini juga, seolah membeku pada keegoisanku.

“Apa kau masih mencintai Kyungsoo?”

Aku tersentak kaget. Apa benar yang baru saja ditangkap oleh indra pendengaranku? Apakah dia?

“Aku tahu kau itu hanya menganggapku sebagai pelarian. Aku bisa menerima itu. Tapi, apa kau pergi karena ingin melupakan Kyungsoo yang sudah bertunangan?”

Ada setetes air mata di pipinya. Ini adalah kali pertama kulihat ia serapuh ini. Dan aku sakit melihatnya. Aku meraih tangannya dan mengenggamnya.

“Maafkan aku.”

Ia masih terdiam menatapku. Matanya memerah, antara menahan amarah atau kesedihannya. Ia menarik napas dan mencoba untuk tersenyum, sangat tipis.

“Jika itu memang pilihanmu, maka lakukanlah. Aku harap kau bahagia.”

Aku tidak bisa lagi membendung air mataku. Akhirnya aku merapuh di hadapannya. Ia menarikku dalam pelukannya. Masih hangat.

Maafkan aku.

___

 

Aku membuka jendela kamar apartemenku. Memandangi indahnya kota ini, Paris. Aku memejamkan mataku, tersenyum, membiarkan angin membelai wajahku. Aku mengingat bagaimana dulu aku ketika baru pertama kali datang ke kota ini. Cukup sulit untukku, mengingat aku bukanlah orang yang muda bergaul. Tapi aku berhasil, dan sekarang aku bahagia untuk itu.

Sudah 3 tahun, sudah banyak musim yang aku lewatkan tanpa orang yang kusayangi di sisiku. Aku merindukan semuanya. Keluargaku, negaraku, dan aku juga…

Ponselku bergetar di atas tempat tidur. Aku berjalan untuk meraihnya. Aku tersenyum melihat nama yang tertera di layar ponsel itu, aku segera mengangkatnya.

“Halo.”

“Kau akan pulang besok?”

Akh, suara ini. Aku tersenyum manis, dia masih tidak berubah.

“Iya, Kyungsoo.”

Kudengar ia menghela napas lega di ujung sana. Ingatanku kembali pada kejadian 3 tahun lalu. Ketika kupikir ia tidak akan mengantarku untuk pergi, tapi ternyata dia datang ke bandara. Ia memelukku erat kala itu. Mengatakan bahwa ia minta maaf karena telah marah padaku. Dan itu membuatku tenang, sampai saat ini. Tapi tetap saja, ada hal yang mengejutkanku kala ia melepaskan pelukannya.

#

“Sebelum kau pergi, aku ingin membuat suatu pengakuan padamu.”

Aku menatap wajahnya lekat-lekat waktu itu. Sekuat tenaga aku mengontrol detak jantungku yang kembali bekerja tidak seperti biasanya. Dan alasannya, ia menatapku dengan tatapan yang membuatku selalu berharap.

“Aku pernah mencintaimu. Ketika ulang tahunku yang ke-18, aku ingat kau menyuruhku membuat permohonan sebelum meniup lilin. Dan permohonanku adalah, Im Yoona. Tapi, ketika orangtuaku datang dan membawa seorang gadis, mengatakan bahwa dia adalah orang yang dijodohkan denganku, aku sadar bahwa permohonanku tidak mungkin terkabul.”

Aku menangis mendengar perkataannya kala itu. Iya, aku ingat dengan pasti pesta ulang tahunnya itu. Karena itulah saat dimana Hyerin datang dan menggeser posisiku.

Tapi hal yang begitu menyedihkan adalah, mengetahui bahwa ia juga diam-diam mencintaiku sama seperti diriku. Mungkin ini adalah akibat, ketika kita sama-sama menyimpan perasaan dan berpura-pura tegar. Tapi pada kenyataanya, kami hanya saling menyakiti. Walaupun akhirnya kami menemukan jalan yang tepat.

Cinta pertamaku cukup menyedihkan, iya kan?

#

“Kau pasti bangga, kau lulus dengan predikat lulusan terbaik, selamat.”

Aku tertawa mendengarnya. Dia tahu apapun tentangku selama aku di Paris. Padahal, aku datang ke sini adalah untuk menghindarinya dan melupakannya. Tapi aku merasa tidak dirugikan untuk itu, karena aku menemukan hal lain yang sebenarnya harus kuselesaikan.

“Terima kasih. Sepertinya aku harus mengakhiri teleponnya, aku harus bersiap-siap. Tunggu aku di Seoul.”

Aku memutuskan teleponnya. Mataku beralih pada secarik kertas di atas nakas. Aku meraihnya lalu kembali membacanya. Aku tersenyum untuk kesekian kalinya karena ini.

Semua masih sama.

Tidak ada yang berubah dari langit dan segala benda-benda langit yang kau sukai.

Mereka masih setia menemanimu. Pagi dan malam.

Sinar mentari yang membangunkanmu di pagi hari, dan bulan bintang yang menidurkanmu di malam hari.

Aku berharap, kau cepat pulang. Menemaniku melihat langit bersama setiap harinya.

Karena aku di sini, masih menantimu dan tidak ada sedikitpun perasaanku yang berubah.

Joonmyun

…Dan aku juga merindukannya.

Pemuda yang mengirimiku surat 1 bulan yang lalu itu, aku menyadari semuanya. 3 tahun aku tidak pernah mendengar suaranya. Tapi, semua itu tergantikan dengan sepucuk surat yang kukenali adalah tulisan tangannya.

Aku sadar, meskipun dulu Kyungsoo adalah orang yang aku inginkan, tapi ternyata, orang yang sangat kubutuhkan adalah dia. Jika dulu Kyungsoo selalu membuatku ingin melihat langit malam yang gelap, justru dia selalu membuatku ingin melihat langit yang berwarna. Tidak ada yang terlambat, dan aku menemukan jawaban.

Love, can come without realizing slowly but surely.

_Fin_

Hai … aku bawa sequel On Rainy Days. Ada yang kecewa ama endingnya. Maaf ya, aku mentoknya kayak gitu. Yang kemarin minta Kyungyoon, aku benar-benar minta maaf. Seperti biasa, aku minta kritik dan sarannya, ya. Terima kasih J

58 thoughts on “(Freelancer) Oneshoot : Complicated(Sequel On Rainy Days)

  1. KyungYoon tetep gak bersatu ya😦
    kenyataan kalo mereka memendam rasa yg sama tp pd akhirnya gak bisa bersatu bener disayangkan…. Tp aku suka kalimat ini “Jika dulu Kyungsoo selalu membuatku ingin melihat langit malam yang gelap, justru dia selalu membuatku ingin melihat langit yang berwarna”
    kalo gini aku stuju aja deh Yoong ama Joonmyeon^^

  2. suka ending yg sprti ini, yoong sadar ada suho yg slalu mencintAinyA,.
    dan dgn bgitu tdk akan ada yg tersakiti diantara mereka..

  3. This is very sweet🙂 Yeah, i think SuYoon is better than KyungYoon. Actually, i am little disappointed with Kyungsoo-.- Why you love Hyerin not Yoona?
    Well, fine. I give you 100 values😀 Hwaiting😉

    • Hahaha aku seneng banget baca komen kamu.
      Ya gitu deh Kyungsoo. Tapi sebenarnya kasihan juga loh dia. Kan dia pernah naksir ama Yoona. Tapi tiba-tiba ortunya datang bawa cewek lain. Dan mau gak mau dia harus ngelupain perasaannya demi hormatin ortunya.
      Makasih ya udah baca dan komen🙂

      • Aduh, emang ortu tua jaman sekarang sukanya gitu yah-.-
        Sama sama loh😀 Okee, keep writing! Make another amazing ff again😉

  4. Suka suka suka…#upin ipin
    Q kra tdi end Ϟўª ama kyungsoo,ternyata suho.tpi q tetap ska..daebak LªƗƚ sma ff ni ^^
    D tggu ff lainnya thor!FIGHTING!!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s