The Story I Didn’t Know 4th Story (1 of 3)

 

The Story I Didn’t Know 4th Story (1 Episode)

Park Hanna Presented

Kim Jongin | Im YoonAh

Multi Chapter  | Teen | Romance – Hurt – AU – Fluffy Angst

Poster by Ahn Yura @ Lovely Deer Artwork

1st Story | 2nd Story | 3rd Story

 

 

 

 

(Atas nama apakah kedekatan yang membungkus hari kita selama ini?)

Dimataku, kau tak pernah basi.

Meskipun kadang ada kekesalan yang kau hadirkan pada semarak kerinduanmu

Bagiku, itu tak lebih dari bunga tidur untuk cinta yang tengah kita cari muara bahagianya, bersama


Yoona menghirup nafas dalam-dalam sambil memandang jauh ke arah laut lepas. Ramai pejalan kaki dan lalu lalang kendaraan menjadi pemandangan yang sejenak menyekat pikiran. Sejenak, desau roda kendaraan menyapu jalanan. Menyadarkan Yoona dari kesendirian. Sesaat ia terombang-ambing di atas kursi kayu. Bertanya untuk apa ia disini dan seorang diri. Berada di antara ratusan pejalan kaki yang melenggang bergandengan dengan menyungging senyum kemesraan.

Sejenak, ia di hinggapi rasa iri yang menusuk dalam, menggerogoti logika waras tanpa perlawanan ketika mendapati puluhan pasang mata berbinar duduk dibuai kemesraan. Dan ia masih sendiri terpaku tanpa teman, tanpa siapa-siapa.
Betapa menyesakkan hidup sepi di tengah keramaian. Melintas detik demi detik dengan hanya berpelukan pada asa yang tersisa, menggangtungkan angan hanya pada bayang-bayang semu, pudar lalu tercerai-berai bersama awan. Yoona memaksakan bangkit dari duduknya. Berlibur beberapa hari di pulau Jeju memang tak selalu terkesan indah.

“Yoong … bagaimana dengan bisnismu?” tanya Eomma ketika mendapati putri kesayangannya duduk termangu di meja makan. Eomma memilih duduk berhadapan dengan Yoona setelah meletakkan segelas teh untuknya.

“Ap … Apa?” Yoona terkesiap. Ia masih saja terlarut dalam masalahnya tanpa memperdulikan pertanyaan Eommanya. Eomma terlihat sangat mengkhawatirkan keadaan Yoona semenjak mereka tiba di Jeju beberapa jam yang lalu.

“Apa sedang ada masalah? Apa kau tak suka Eomma memintamu menemani Eomma ke pulau Jeju?” Eommanya memburu beberapa pertanyaan dalam satu waktu. Tanpa memberikan Yoona barang sedikitpun waktu untuk menjawab.

“Eomma …,” Yoona menggenggam punggung tangan Eommanya. Ia menatap Eomma sendu. Terlihat sangat menyedihkan.

“Ada apa, sayang?” Eomma menggenggam tangan Yoona yang sedang menggenggam tangannya erat. Tangannya dingin sedingin es balok karena keringat yang bercucuran.

Yoona mencoba mengingat setiap kejadian yang membebaninya. Lidahnya tiba-tiba saja berubah menjadi kelu hanya sekedar untuk berucap, menceritakan setiap kejadian yang ia alami selama Eommanya pergi meninggalkannya.

Malam itu, ketika Yoona selesai bertemu dengan Kris di sebuah kafe. Yoona bertemu dengan wanita itu lagi. Wanita yang beberapa bulan terakhir telah mengganggu ketenangan harinya. Ya, ia bertemu Hyoyeon sedang mengobrol asik dengan Luhan. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Yang jelas, Hyoyeon terlihat lebih berisi dan sintal. Apa mungkin akibat kehamilannya. Yang jelas, Yoona tak mau ikut campur lebih dalam lagi. Cukup sudah ia tersakiti akibat ulah mereka.

“Apa maksudmu?” Eomma nampak tak percaya dengan apa yang baru saja ia ucapkan. Yoona yakin, Eomma sama kecewanya dengan dirinya. Bisa dibilang, Eomma lebih menyayangi Kai daripada Soohyang. Eomma juga amat sangat menyayangi Kai—sama sepertinya.

“Eomma, Kai selingkuh.” Susah payah Yoona mengungkapkan kalimat terakhirnya sebagai penutup cerita.
Kerongkongannya terasa kering dan tercekat. Ia mencoba tegar. Terlihat baik-baik saja di hadapan Eommanya.

“Yoong …” Eomma mengucap lirih. Ia beralih mendekati Yoona dan mendekapnya erat. Menandakan Eomma juga ikut bersedih atas apa yang menimpa putri kesayangannya. Namun jauh dalam lubuk hatinya, ia yakin Kai tak melakukan hal itu. Ia tahu betul bahwa namja itu sangat mencintai Yoona.

“Sungguh, aku tak apa.” Yoona menatap Eomma mencoba meyakinkan bahwa ia baik-baik saja. Senyum yang ia kembangkan hanyalah senyum keterpaksaan. Senyum palsu yang penuh kemunafikan. Sekali lagi, Yoona mengangguk pelan meyakinkan.

Eomma bangkit dari duduknya. Menggiring putrinya untuk melepas lelah malam ini. Ia ingin menemani putrinya terlelap sampai pagi menjelang. Menjaganya dari alam bawah sadarnya dan menyapanya ketika ia telah terbagun. Eomma sangat menyayagi Yoona. Ia yakin suatu keajaiban pasti akan terjadi untuk Yoona dan Kai.

–Hanna’s Storyline—

“Yoong … kembalilah ke Seoul.” Ucap Eomma setelah menyingkap tirai dan meletakkan segelas susu di samping nakas. Melihat putrinya belum juga terbangun, Eomma memilih duduk di samping perebahan Yoona. Ia mengusap lembut surai putrinya yang masih terpejam.

Manik mata milik Yoona terbuka perlahan. Ia mengerjapkan matanya perlahan. Melihat Eomma yang duduk manis menyunggingkan senyum, ia pun juga membalasny dengan senyum yang tak kalah manis. Ia memilih mendudukkan tubuhnya dan menyandarkan pada kepala ranjang.

“Eomma, ada apa?” Yoona menerima segelas susu dari Eomma yang di daratkan diatas tangannya. Lalu meneguknya hingga habis tak bersisa. Menyiapkan telinganya untuk mendengar nasihat Eomma selanjutnya.

“Kembalilah ke Seoul.” Eomma mengusap punggung tangan Yoona meyakinkan. Tatapannya tak menyiratkan keraguan barang sama sekali. Justru ia terkesan memaksa atau mengusir Yoona demi kebaikannya.

“Aku baru saja tiba, Eomma. Kau mengusirku?” Yoona menanggapinya dengan gurauan. Sedetik kemudian, kekehan kecil meluncur dari bibirnya. Ia yakin, Eommanya saat ini tak mengharapkan jawabannya.

“Bukan. Eomma hanya tak ingin kau lari dari masalahmu. Temuilah Kai dan selesaikan masalah kalian.” Eomma hanya tak ingin Yoona kehilangan Kai untuk selamanya. Karena ia tahu, bahwa putrinya ini benar-benar mencintai

“Eomma …” Yoona memeluk Eommanya erat.

Ia memang tak boleh berlama-lama mendiamkan Kai. Ia tak boleh menggantungkan Kai dengan hubungan yang tak jelas. Dengan masa depan yang tak berani di tatap. Seharusnya saat ini, sebagai kekasih ia mensupport Kai dalam masa sulitnya.

“Eomma, terimakasih. Aku akan segera menemuinya.” Yoona melepas pelukannya. Ia menatap Eomma yang masih mengusap surainya yang acak-acakan. Merapihkannya agar lebih enak dipandang.

Yoona memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam koper yang ia bawa dari Seoul. Baru saja ia bertemu dengan Eomma, kini ia harus meninggalkannya. Ini memang pilihan yang sulit untuknya. Toh, ia juga harus menyelesaikan masalahnya dengan Kai. Ia juga tak bisa melepaskan Kai dengan perasaan cinta dan luka yang menganga hanya demi wanita itu.

“Yoong, bagaimana? Kau sudah siap?” tanya Eomma ketika hendak melepas kepergian putrinya di depan gerbong kereta kepergian ke Seoul. Tempat dimana putrinya akan menemui Kai, kekasihnya.

“Doakan aku, Eomma.” Yoona memeluk Eommanya erat. Sangat erat. Seolah ia akan kehilangan Eommanya karena kepergiannya. Bulir kristal yang tak diharapkannya turun akhirnya melesak tanpa persetujuannya.

“Simpan saja air matamu untuk Kai, Yoong.” Eomma menghapus bulir itu dari pipi Yoona dengan ibu jarinya. Meyakinkan Yoona bahwa semua akan berlalu dengan baik-baik saja. Eommanya yakin bahwa Yoona bisa melewati ujian ini.

Yoona berjalan menjauh dari Eomma. Ia merajut langkah memasuki kereta menuju Seoul. Hatinya sudah berdebar sedari tadi. Menginginkan perjumpaan dengan Kai yang sudah lama tak ia temui. Ia merasa bersalah pasti. Ia berniat untuk memperbaiki hubungannya yang sudah di ujung tanduk. Maaf atas segala kelakuan kekanak-kanakannya selama ini. Kai, kekasihmu ini lelah mengharapkan kejelasan hubungan mereka yang tak berkesudahan.

 

–Hanna’s Storyline—

Malam semakin larut bergelayut manja. Semilir angin yang berhembus mesra lambat laun menjadi urakan. Dibawah naungan rembulan yang sedang berbuah manis berganti purnama. Yoona menatap gedung pencakar langit dihadapannya. Mencari keberanian untuk menemui Kai. Ia yakin, malam larut seperti ini pasti Kai masih lelah bekerja.

Jejak baru ingin kupijak. Saat ada teduh kutemukan di matamu. Saat ceria bisa kureguk dengan kehadiranmu. Sapamu, candamu, tawamu, melengkapi kehampaan hati yang selama ini telah lelah kutunggu.

Ada getar yang membaur dalam desah dan bilur syahdu mengeram dalam hasrat. Tapi luka ini masih menganga. Penantian panjang yang kujerat, ditelan mimpi kosong tak berjawab. Lara dan pedih mengukir di ujung tangis yang tak berair. Kenangan masa lalu yang pahit tak lelah menghantui barisan hariku.

Ingin segera kutumpahkan segalanya pada pundak juwita yang rela menyambutku tanpa tanya yang merajuk. Mungkinkah? Sementara ragu mengulum dambaku kembali tiada, hadirmu menggugahku untuk tertawa, tiba-tiba. Mencium bahagia meski baru sekejap.

Bisakah perjumpaan sesaat menjadi awal yang menuntun getar pada tali kasih? Menjadi dua tiang dan jembatan tanpa sebab. Menyemai arti dan menggamit mimpi, bersamamu.Yoona menghalau segala pertentangan buruk yang terlintas di pikirannya. Ia bersiap menemui Kai. Menjemput cintanya yang sempat hilang karena keputusan sepihak.

Ditemani segelintir mimpi tak berkesudahan, Yoona memaksakan diri melangkah menuju ruang kerja Kai. Ruangan kerja yang sudah lama tak ia kunjungi. Ia ingat, saat mereka masih menjadi pasangan muda yang dimabuk cinta. Saat mereka selalu menghabiskan jam makan siangnya di ruangannya atau ruangan Kai. Hanya agar terlhat selalu bersama-sama.


 

[TBC]

Hai hai hai ^^ Maaf yaa untuk kelanjutan ff absurd ini yang tersndat -___-
Anti klimaks setelah ini /yeyeye/ yang ternyata memicu klimaks /kapan mereka bahagia -__-/
Karena baru gak ada feel untuk nulis. Author yang baik egk mau meracuni pikiran kalian. /ngeles, gak guna/
Maaf atas kependekan ff yang <1000 words ini

Haha maap yee.. Adegan mature akan ada di chapter slanjutnya. Dan sebelum aku post akan aku kasih tahu bgmn cara mendapatkan password tersebut. Okay, ada yang perlu di tanyakan? Just Comment! Aku akan menjawab comentar kalian one by one tomorrow.

Jangan lupa RCL pleasee🙂
See You Next Story! Bye… *Mwwwhh*

45 thoughts on “The Story I Didn’t Know 4th Story (1 of 3)

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s