Unbreakable — Chapter Eight

Unbreakable 3

Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7

Unbreakable

Written by elevenoliu

Casts

EXO Luhan // SNSD Yoona // EXO Baekhyun // SNSD Sooyoung // Wu Yi Fan

Genre & Rating

Romance-Drama & Rated for 15+

Length

Chapter (3.623 words)

[Poster goes to Monggji @ Summer Graphics AFF]

Pintu kamar itu terbuka pelan dan muncul Luhan dari dalam. Ketika dia berada di luar kamar, dia menutup pintu itu perlahan agar decitan yang ditimbulkan tidak terlalu nyaring agar sang putri yang tengah tertidur pula situ tidak terusik.

Dia memutar tubuhnya memunggungi pintu tersebut dan berjalan menuruni anak tangga yang berada di rumah besar ini. Ketika dia menginjak anak tangga terakhir, dia melihat seseorang berdiri di ambang pintu dengan punting rokok yang tengah ia genggam.

Orang itu menoleh terkejut ketika dia sadar bahwa seseorang tengah memerhatikannya dari belakang. Dia langsung membuang punting rokok itu lalu menginjaknya serta menendangnya keluar rumah. Dia tersenyum, “Siang, Luhan-ssi.” Sapanya ramah.

Luhan menuruni anak tangga terakhir, “Siang, Kris.” Dia berjalan hingga berada di samping kiri Kris menghadap luar rumah. Kris memutar tubuhnya hingga Luhan berada di sisi kanannya.

“Sepertinya, kau sangat menyayangi adikmu.”

Jantung Luhan seakan-akan berhenti saat itu juga. Seingatnya, dia mengatakan bahwa mereka ini sepasang suami istri yang tengah menikmati bulan madu tapi sekarang….

Luhan mendengus pelan. Pasti Yoona.

“Siapa yang tidak menyayangi adiknya sendiri?” Luhan melemparkan pertanyaannya.

Kris terkikik pelan, “Well, kau tahu? Kau itu orang pertama yang aku temui—“

“Tentu. Hanya ada 1 orang di dunia ini yang sepertiku.” Sela Luhan.

“Benar. Mungkin hanya kau yang menyayangi adiknya sendiri seperti wanita.”

Shit. Luhan membatin. Dia menggigit bibir bawahnya kesal lalu mengedarkan pandangannya. Dia memasukkan tangannya ke saku jeans-nya, “Apakah itu terlalu jelas?”

“Jangan menanyakan hal itu pada orang lain,” Kris melipat lengannya di depan dadanya, “Seharusnya, kau tanyakan hal itu pada dirimu sendiri.”

“Cukup jelas.” Jawab Luhan dengan berani. Dia menoleh ke arah Kris, “Apa itu salah untuk mencintai adikku sendiri?”

“Cinta itu tidak salah. Bagaimana bisa kau menyalahkan cinta?” Kris melangkahkan kakinya keluar rumah lalu berbalik, “Yang salah itu kau, kenapa kau mencintai Yoona?”

Luhan mengikuti langkah Kris yang tengah berjalan menuju taman kecil yang ditunjuk oleh Yoona tadi. Kris duduk di bangku panjang taman itu dan Luhan duduk di sebelahnya.

Demi apapun itu, bisakah Luhan mengharapkan satu hal? Hanya satu.

.

.

.

Jemarinya yang panjang itu mengetuk daun pintu dengan saksama. Dahinya terpaut, dia sangat ragu untuk melakukan hal ini sebenarnya. Bagaimana tidak? Suaminya sendiri sudah ditolak secara mentah-mentah, apalagi Sooyoung yang sebenarnya bukan siapa-siapa di bagian keluarga ini.

Omonim..” Sooyoung menelan saliva-nya, “Ini Sooyoung. Bolehkah aku masuk?”

Sooyoung berdiri di depan pintu kamar utama yang berada di rumah keluarga Im ini. Dia mengetuk-ngetukkan kakinya ke atas lantai yang dingin ini dengan kepala yang tertunduk.

Tiba-tiba terdengar pintu yang terbuka dihadapannya. Dengan cepat, dia mengangkat kepalanya menatap orang yang membuka pintu itu—tentunya umma dari Luhan dan Yoona—Im Jihyun.

Omonim..” Nada khawatir Sooyoung itu memenuhi koridor rumah ini. Ya, dia khawatir melihat keadaan wanita paruh baya yang berada di hadapannya ini. Dia berantakan. Sangat berantakan. Ini tidak seperti Im Jihyun yang biasanya. Im Jihyun selalu tampil menawan dimanapun dia berada. Tentu saja, dia adalah model terkenal di umur mudanya.

“Sooyoung-ah..” Suara serak milik Im Jihyun itu memasuki pendengaran Sooyoung. “Masuklah.” Suruh Jihyun sambil melebarkan pintu kamarnya.

Sooyoung mengangguk pelan lalu memasuki kamar tersebut. Kacau. Sangat kacau balau seperti kapal pecah. Alat make-up yang selalu tertata rapi di meja rias itu berantakan di atas lantai. Seprei tempat tidur juga berantakan, tidak bisa dideskripsikan.

“Hati-hati dengan langkahmu, Soo.” Jihyun memperingatkan.

Sooyoung menoleh ke lantai. Oh, shit. Pecahan kaca pun ada di atas lantai ini. Dia menelan saliva-nya, masalah ini pasti sangat berat bagi Jihyun.

“Ada apa, Sooyoung?” Suara Jihyun semakin menyerak. Tentu saja, dia sudah 2 hari tidak keluar kamar. Minuman dan makanan pun tidak dia sentuh.

Sooyoung menyodorkan sebotol air putih kepada Jihyun, “Minumlah, omonim.”

Jihyun menggeleng. Sedetik kemudian, air mata keluar dari matanya yang sembab itu. Jihyun menggeleng. Dia terus menggeleng dan menolak minuman itu.

“Yang aku butuhkan hanyalah anak-anakku. Itu saja.” Jihyun menghapus air mata yang mengalir di pipinya dengan punggung tangannya yang sudah berkeriput itu.

“Maafkan aku, omonim.”

Mata Jihyun terbelalak menatap Sooyoung. Ada apa dengan anak ini? Kenapa dia minta maaf?

“Ini semua salahku. Aku tahu.” Sooyoung menahan nafasnya, menahan kata-kata yang tengah mendobrak bibirnya itu untuk keluar. Tapi, ia tidak bisa, “Tidak seharusnya aku memberi tahu dimana Luhan dan Yoona saat itu. Kalau aku tidak memberi tahu kalian, semua akan baik-baik saja.” Air mata Sooyoung menerobos keluar dari matanya, “Maafkan aku, omonim. Maafkan aku.”

Jihyun menghelakan nafasnya, “Taka pa, Sooyoung-ah. Yang sudah berlalu, biarkan saja berlalu. Yang terpenting hanyalah…” Isakkannya keluar lagi, “Anak-anakku saja.”

Sebenarnya tujuan Sooyoung hanya satu. Dia ingin menanyakan sesuatu pada wanita ini. Menanyakan sesuatu yang telah mengahntui pikirannya semalaman semenjak dia mendengar percakapan Baekhyun dengan Im Jinwoo—ayah dari Luhan dan Yoona.

.

.

.

“Baekhyun-ssi..” Langkah Sooyoung terhenti ketika mendengar nama Baekhyun itu. Dia sangat mengenali suara ini, suara Im Jinwoo. Dia memundurkan langkahnya perlahan lalu mengintip lewat celah pintu ruangan kerja Im Jinwoo ini.

“Ada apa, ahjussi?” Baekhyun yang duduk di hadapannya itu memainkan jemarinya sendiri. Sooyoung sangat yakin itu Baekhyun, jari dan hidungnya (hanya itu yang bisa dia lihat)sangat familiar.

“Kau tahu kenapa istriku bisa mengurung diri seperti itu?”

Hidung Baekhyun bergerak. Sooyoung yakin dia menggeleng. Tiba-tiba suara Baekhyun menyusul, “Memangnya kenapa?”

Sooyoung bisa melihat dengan jelas bahwa Jinwoo memegang tulang hidungnya dengan ibu jari dan jari telunjuknya. Dia terlihat sangat frustasi.

“Im Yoona. Dia bukan anak kami.”

Jantung Sooyoung berdebar lebih cepat bagaikan Ferrari yang tengah mengejar garis finish yang sudah ada di hadapannya. Sungguh, dia tidak mengerti pengakuan itu. Apa dia salah dengar?

“Bu-bukan? Maksud, ahjussi?” Pertanyaan Baekhyun itu membuat Sooyoung yakin bahwa dia tidak salah dengar atau apapun itu. Dia yakin, dia mendengar dengan jelas.

“Im Yoona sebenarnya sepupu Luhan, bukan adik Luhan. Kedua orang tua Yoona meinggal karena kecelakaan pesawat. Karena kami merasa iba, kami mengangkatnya menjadi anak kami.”

“Tapi, kenapa ahjussi tidak mau mereka bersatu? Bukankah—“

“Jangan membohongi perasaanmu, Baekhyun-ssi.” Ucapan Jinwoo itu membuat diri Baekhyun tercengang. “Aku tahu kau menyukai Yoona.”

Dengan nafas yang tersengal, Sooyoung pun berlalu.

.

.

.

“Istriku. Dia sangat menyayangi Luhan dan Yoona. Dia sangat sayang kepada mereka walaupun Yoona bukan anak kandungnya. Aku bangga kepadanya.” Jinwoo menghelakan nafasnya panjang lalu meraih segelas anggur yang ada di atas meja di hadapannya, “Yang ia takutkan hanyalah anak-anaknya meninggalkan dirinya. Dia tidak mau hal itu terjadi.” Jinwoo meneguk anggur tersebut.

“Aku mengerti, ahjussi.”

Pandangan Jinwoo terpaut pada sepasang mata Baekhyun yang memerah itu. Dia bisa melihat bulir-bulir yang ada di mata Baekhyun dengan jelas. Dia meletakkan segelas anggur itu ke tempatnya lagi.

“Jangan menahan perasaanmu, Baekhyun.”

“Aku sudah di tolak.” Baekhyun menghelakan nafasnya, “Sepertinya Yoona juga mempunyai perasaan yang sama dengan Luhan hyung.”

Jinwoo menarik nafas dengan kasar lalu menggeleng, “Aku sudah tidak tahu lagi harus bagaimana.”

.

.

.

Sooyoung pun tersadar dari lamunannya. Dia memandang Jihyun yang masih menangis di hadapannya. Dengan keberanian yang tersisa, dia membuka mulutnya, “Omonim, bolehkah aku menanyakan sesuatu?”

Jihyun menoleh dengan matanya yang sangat sembab, “Wae?

“Yoona. Apa dia anak kandungmu?”

Jihyun melemas saat itu juga. Pandangannya kabur ketika dia berusaha menjawab pertanyaan Sooyoung.

“Soo…” Jihyun tumbang.

.

.

.

Ponsel yang terletak di atas meja it uterus bergetar karena ada panggilan yang masuk. Ponsel itu bergetar hingga tergeser dan BRUK!

Mata Yoona terbuka ketika mendengar suara keras itu. Dia bangkit dari tidurnya lalu duduk di pinggir tempat tidur. Dia mengedarkan pandangannya, mencari sang kakak. Kemana dia?

Dia bangkit berdiri lalu melangkahkan kakinya namun kakinya menginjak suatu benda yang panjang, keras, dan bergetar. Dengan cepat, dia menyingkirkan kakinya dari beda itu dan melihatnya.

Yoona berteriak, “PONSELKU!!!”

Yoona lantas mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan itu—tanpa meilhat siapa yang menelepon, “Halo?”

“Yoona? Kau dimana?”

Yoona bungkam. Dia menurunkan ponselnya dari telinganya lalu melihat layar ponselnya. Baekhyunee tertera disana. Dia menelan saliva-nya susah payah lalu menempelkan ponselnya ke telinganya lagi.

“A-aku..”

“Yoona, kau dimana? Bisakah kau pulang sekarang? Nona Im jatuh pingsan. Dia sednag dirawt di rumah sakit sekarang.”

“Jangan bergurau, Baekhyun.”

“Aku serius. Aku tidak berbohong. Cepatlah pulang! Dia merindukan anaknya.”

“Aku tidak mau. Ini hanya jebakan kalian saja, bukan?”

“YOONA! AKU SERIUS!” Bentakkan Baekhyun itu mengenyahkan pendirian Yoona. Yoona langsung menutup sambungannya dan berlari keluar kamar mencari Luhan.

Dia menuruni tangga dengan cepat. Matanya sudah penuh dengan bulir-bulir air matanya, dia berteriak, “OPPA! LUHAN OPPA!”

Dia berlari keluar dari rumah dan melihat dua sosok pria yang ia kenali. Luhan dan Kris. Lantas, dia berlari menghampiri mereka, “Oppa! Umma masuk rumah sakit. Bagaimana ini?”

Air mata Yoona sudah terjun bebas dari matanya. Dia menggigit bibir bawahnya lalu jatuh berlutut di atas rerumputan yang berwarna hijau segar itu, “Bagaimana ini… Ini karena kita…” Sesal Yoona.

Luhan bangkit dari duduknya. Dia berusaha untuk tenang. Dia mengangkat tubuh Yoona yang masih berlutut di atas rumput itu. “Berdirilah.”

Yoona berusaha bangkit berdiri. Dia memegang kedua lengan Luhan yang menopang tubuhnya. “Bagaimana ini… bagaimana…” Yoona mengulang perkataan yang sama. Air matanya terus mengalir hingga dia berada di pelukan Luhan.

“Bagaimana ini…” Ulang Yoona lagi.

“Tenanglah. Berhenti menangis. Jika kau tidak berhenti, kita tidak akan lekas kesana.”

“Tapi..”

“Semuanya akan baik-baik saja. Jadi, tenanglah.”

.

.

.

Yoona sudah duduk di bangku penumpang taksi yang berhenti di depan rumah besar milik Kris ini. Dia menatap Luhan yang masih berdiri berhadapan dengan Kris. Mungkin, dia ingin menyelesaikan pembayaran selama mereka tinggal disini.

“Kami akan pulang sekarang. Terima kasih atas kamarnya, Kris.” Ucap Luhan dnegan senyuman di wajahnya.

Sure. Jangan lupa kembali dengan istri sungguhanmu.” Ejek Kris sambil menepuk pundak Luhan, “Hati-hati di jalan. Sampaikan salamku pada Minseok juga.”

Luhan mengangguk singkat, “Terima kasih banyak.” Dia mengulurkan tangan kanannya bermaksud untuk bersalaman salam terakhir.

Kris menyambut tangan Luhan lalu tersenyum, “Jaga Yoona baik-baik.”

“Tidak perlu kau suruh but, thanks.” Luhan berbalik meninggalkan Kris yang berdiri di depan pagar rumah itu. Dia membuka pintu taksi tersebut dan masuk ke dalamnya.

Airport, please.

.

.

.

Hari kedua Jihyun dirawat di rumah sakit ini dan Jinwoo masih setia duduk di samping tempat tidur dimana istrinya tengah berbaring lemas dengan wajahnya yang pasi. Dia khawatir, sangat khawatir akan keadaan istrinya yang masih belum siuman dari kemarin sore.

Bagaimana tidak?

Istrinya tumbang karena dia tidak mengkonsumsi makanan maupun minuman selama dua hari penuh. Siapa yang tidak khawatir? Siapa yang tidak takut jika sesuatu terjadi pada istrinya? Dimana kedua anaknya itupun dia tidak tahu tapi dia tertimpah masalah lagi.

Seseorang membuka ruang rawat inap yang ditempati oleh Jihyun itu. Seorang wanita dengan rambut coklat gelapnya itu memasuki ruangan tersebut.

Aboji…” Orang itu memanggil tapi tidak mendapatkan sedikitpun respon dari Jinwoo. Jinwoo tetap memandangi istrinya itu.

Aboji. Aboji harus istirahat.” Mau tidak mau, orang itu—Sooyoung—menyentuh pundak Jinwoo. Berharap bahwa Jinwoo akan merespon. Namun, tetap saja. Tidak ada hasilnya.

“Apa aku salah?” Jinwoo mengeluarkan suaranya.

“Maksud aboji?”

Jinwoo menggeleng dengan cepat, “Tidak. Lupakan saja.”

Ah, Sooyoung ingat dia membelikan makanan untuk Jinwoo. Dia memegang tangan kiri Jinwoo dan membukanya lalu memberikannya tanpa seijin Jinwoo.

Aboji harus makan. Jika aboji jatuh sakit, siapa orang pertama yang akan omonim lihat?

Jinwoo tersenyum. Sebuah senyuman yang sangat ia paksakan, “Gomawo, Sooyoung.”

.

.

.

From : Yoona

Aku sudah tiba di Korea. Apa nama rumah sakitnya?

Lantas, Baekhyun membalas pesan itu secepat mungkin. Ini sudah hari keempat dan Yoona sudah kembali ke Korea. Well, dia tidak tahu tepatnya dimana Yoona. Tapi, dia yakin bahwa Yoona memang tidak berada di Korea beberapa waktu yang lalu.

Baekhyun tersenyum. Dia siap bertemu dengan cintanya.

.

.

.

From : Baekhyunee

Wooridul Spine. Cepatlah dan hati-hati (:

Tanpa membalas, Yoona memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya lalu menatap supir taksi yang duduk di bangku kemudi, “Rumah sakit Wooridul.”

.

.

.

Baekhyun berlari di koridor rumah sakit yang sedikit ramai karena orang-orang yang tengah duduk di bangku yang disediakan. Dia membuka pintu kamar bernomor 351 itu lalu melihat Sooyoung yang sednag membaca majalah dan Jinwoo yang sedang makan makanan yang dibawa oleh Sooyoung.

Ahjussi, Yoona dan Luhan sedang dalam perjalanan kesini.”

Jinwoo yang tengah menyendokkan makanan ke mulutnya itu langsung berhenti dan meletakkan makanannya ke atas meja terdekat. Dia meneguk air putih seadanya lalu bertanya, “Mereka mau kesini? Apa mereka gila?!”

Ahjussi..

“Jangan suruh mereka kemari! Beri tahu mereka!!” Tekanan dari Jinwoo itu hanya terbalas dengan mulut menganga Baekhyun. Bagaimana bisa Jinwoo keras kepala di keadaan yang seperti ini?

“Ta-tapi..”

“Beri tahu mereka!!”

Sooyoung langsung bangkit berdiri, “Baekhyun, beri tahu mereka.”

Shit! Baekhyun bergerutu di dalam hatinya. Disaat yang mencekam seperti ini, mereka masih mengeraskan kepala mereka? Dia menghelakan nafasnya lalu menggeleng, “Tidak. Yang aku utamakan adalah kesehatan Jihyun ahjumma.”

“Mementingkan apanya!! MEREKA YANG MEMBUAT JIHYUN SEPERTI INI!” Teriakan Jinwoo memenuhi ruangan rumah sakit ini.

Aboji! Tenanglah.” Ucap Sooyoung lalu dia menghampiri Baekhyun dan mendekatkan mulutnya ke telinga Baekhyun, “Jangan biarkan mereka masuk.”

“Tapi—“

“Kau mau aboji marah besar? In ibis amenjadi kesempatan kita.” Bisik Sooyoung lagi.

Baekhyun langsung mendorong Sooyoung hingga wanita itu terjatuh tepat di atas sofa, “AKU TIDAK BISA MEMENTINGKAN HAL SEPERTI ITU LAGI!”

Baekhyun menarik kerah kemeja yang Sooyoung kenakan, “HENTIKAN OTAK PICIKMU ITU SOOYOUNG!” Dia melepaskan cengkraman tangannya di kerah kemeja Sooyoung, “Kau harus sadar, Sooyoung. Luhan tidak akan bisa menjadi milikmu! Begitupun Yoona.”

Baekhyun melangkahkan kakinya menjauhi mereka dan keluar dari ruangan itu. Setelah menutup pintu itu, Baekhyun menyenderkan tubuhnya ke dinding rumah sakit ini lalu melorot ke atas lantai. Matanya penuh dengan air matanya. Dia menutup matanay denagn telapak tangannya itu.

Dia menangis. Baekhyun menangis.

.

.

.

Pintu taksi itu terbuka lalu munculah Yoona dan Luhan dari dalam. Yoona langsung berlari ke meja resepsionis sedangkan Luhan menghampiri orang buahnya yang sudah menunggu di depan pintu utama rumah sakit ini, “Bawa pulang koper kami…” Luhan menggantungkan perkataannya, “Jangan. Bawa koper kami ke hotel milik Kyungsoo. Urus seluruh administrasinya.”

Luhan langsung berlalu setelah memerintah anak buahnya itu dan berlari mengejar Yoona. Ketika dia tiba di sebelah Yoona, Yoona langsung memegang lengan kirinya, “Ayo!”

Mereka berjalan cepat menuju depan lift. Yoona menekan tombol lift sambil bergumam, “Cepatlah. Cepatlah.”

Satu hal yang dapat Luhan simpuli, Yoona benar-benar menyayangi ibu mereka.

TING!

Suara khas lift itu berbunyi lalu pintu lift itu terbuka. Tak menunggu waktu lama, mereka berdua memasuki ke dalam lift itu dan memencet tombol nomor 3.

Kamar nomor 351 yang ditempati oleh ibu mereka terletak di lantai 3 rumah sakit ini. Lagi-lagi Yoona bergumam, “Cepatlah.”

TING!

Pintu lift terbuka lagi. Yoona langsung keluar dari lift mendahului Luhan. Dia langsung mencari pintu bernomor 351 dengan cepat. Dia berlari di koridor rumah sakit itu. Matanya berair. Yang dia pikirkan saat ini hanyalah ibunya. Hanya ibunya.

“Yoona!” Suara berat khas Baekhyun itu memasuki pendengaran Im YoonA. Yoona menoleh dengan cepat kepada pria yang berdiri yang tak jauh dari hadapannya, “Baekhyun!!”

Yoona berlari ke arah Baekhyun, “Apa umma ada di dalam?”

Baekhyun mengangguk, “Iya. Cepatlah.” Yoona langsung membuka pintu yang berada di sebelah kanannya itu.

Luhan menyusul dari belakang, “Terima kasih, Baekhyun.” Luhan menepuk pundak kanan Baekhyun pelan lalu masuk ke dalam ruangan menyusul Yoona.

Baekhyun tidak menjawab. Dia membuang pandangannya ke luar jendela. Apa dia salah melakukan hal ini? Apa dia boleh menangis lagi setelah menyerah atas cintanya?

.

.

.

UMMA!” Teriak Yoona sambil berlari menuju tempat tidur dimana sang ibunya tengan berbaring di atasnya. Yoona menangis dengan sangat. Air mata Yoona terjatuh tepat di atas lengan ibunya. Dia memeluk ibunya itu, dia sangat menyayangi wanita tua yang sudah menjaganya dari kecil.

Luhan menyusul dari belakang. Dia berjalan lalu memegang kaki ibunya. Setidaknya, dia bisa merasa tenang walaupun hanya menyentuh kaki ibunya itu.

“Apa yang kalian lakukan?!” Suara yang menahan amarahnya itu keluar dari mulut Jinwoo. Dia berjalan menghampiri Luhan lalu menariknya dan mendorongnya hingga terjatuh di atas lantai.

“Beraninya kau membawa kabur adikmu!” Teriak Jinwoo melampiaskan amarahnya. Dia menarik kerah kemeja Luhan hingga Luhan berdiri dihadapannya. “APA KAU SADAR ATAS HAL YANG KAU LAKUKAN?!”

“Apa kau tidak puas aku kurung selama dua bulan dikamar?! Apa kau ingin mengulang hal itu setelah tiga tahun berlalu?!”

Luhan hanya diam. Dia tahu dia salah. Tapi, membela cintanya itu apakah sebuah kesalahan?

.

.

.

Yoona melepaskan pelukannya ketika mendengar teriakkan dari mulut ayahnya itu. Dia menoleh ke asal suara dan Luhan yang tergeletak di atas lantai memasuki pandangannya. Air matanya terjatuh lagi.

“Beraninya kau membawa kabur adikmu!” Teriak Jinwoo melampiaskan amarahnya. Dia menarik kerah kemeja Luhan hingga Luhan berdiri dihadapannya. “APA KAU SADAR ATAS HAL YANG KAU LAKUKAN?!”

“Apa kau tidak puas aku kurung selama dua bulan dikamar?! Apa kau ingin mengulang hal itu setelah tiga tahun berlalu?!”

Yoona melangkahkan kakinya lalu memegang lengan ayahnya yang tengah mencengkram Luhan, “Lepaskan, appa. Kumohon.”

“TIDAK! Kakakmu ini harus diberi pelajaran! Seharusnya dia—“

“Jangan, appa. Kau bisa lihat bukan bagaimana keadaan umma? Dia tidak ingin keadaan kita seperti ini. Percayalah.”

Jinwoo melepaskan cengkramannya lalu melayangkan tangan kanannya ke pipi kiri Yoona, “Beraninya kau mengaturku! KAU ITU SIAPA, HAH!!”

.

.

.

Sooyoung bisa melihat Jinwoo melepaskan cengkramannya pada Luhan lalu melayangkan tangan kanannya ke pipi kiri Yoona, “Beraninya kau mengaturku! KAU ITU SIAPA, HAH!”

Oh, tidak. Jangan sekarang. Bahaya jika Jinwoo mengatakan sebenarnya pada sejoli ini rahasia yang telah diumpatkan selama bertahun-tahun itu. Dia langsung berlari menghampiri Jinwoo dan menenangkannya, “Aboji, tenanglah. Ayo duduk.”

Sooyoung berbalik menatap Luhan dan Yoona, “Kalian berdua keluarlah dulu.”

.

.

.

Mata Jihyun mengerjap. Kebisingan yang ada di ruangan ini mebangunkan tidur panjangnya itu. Dia mengernyitkan dahinya karena pening di kepalanya itu datang lagi.

Tiba-tiba dia mendengar suara seseorang yang dia yakini itu suara milik Sooyoung, “Kalian berdua keluarlah dulu.”

Dia mengedarkan pandangannya dan mendapati seorang pria dan wanita yang berdiri memunggungi dirinya. Siapa?! Dia berusaha untuk membuka suaranya, “Yoo..Yoona.” Suaranya yang serak itu berhasil lolos dari kerongkongannya.

Jihyun bisa melihat wanita berambut coklat kemerahan itu memutar tubuhnya hingga berhadapan pada dirinya sendiri dan disusul oleh pria yang berdiri di sebelahnya. Jihyun bisa melihat beban di mata anaknya itu. Dia berusaha mengangkat tangan kirinya seraya memanggil Yoona untuk mendekat, “Kemarilah.”

Yoona melangkahkan kakinya,” Umma..

“Bagaimana kabarmu, nak?” Jihyun berusaha untuk duduk di atas tempat tidur itu. Dengan tubuh yang lemas, dia meletakkan kedua tangannya di atas tempat tidur.

“Berbaringlah.” Suruh Yoona sambil menahan pergerakkan ibunya itu. Dia duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur itu.

“Maafkan aku, umma.” Yoona menggeleng pelan, “Maksudku, maafkan kami. Kami tahu bahwa kami salah.”

Jihyun memegang pipi Yoona yang sedikit mememar karena tamparan tadi. Dahinya berkerut. Dia khawatir apa yang terjadi dengan anaknya ini, “Yoona, ada apa dengan ini?”

Yoona langsung menukar tatapannya dengan Yoona, “Oh, ehm…” Yoona menatap Jihyun lagi, “Ini…”

“Yoona ditampar oleh appa.” Sela Luhan. Mata Jihyun terbelalak, “APA?!”

Mata Luhan memanas, “Tak masalah bagiku jika appa memukulku, mengurungku, atau apapun itu. Yang terpenting, jangan Yoona.” Luhan menatap Jinwoo dengan sinis, “Aku tidak suka melihat itu.”

.

.

.

Baekhyun yang sedari tadi berdiri di depan pintu kamar 351 itu mendengar teriakkan milik Im Jihyun itu. Apa Jihyun sudah sadar? Perlahan, Baekhyun membuka pintu tersebut dan masuk ke dalamnya. Dia bisa merasakan hawa panas yang ada di dalam ruangan ini.

“Tak masalah bagiku jika appa memukulku, mengurungku, atau apapun itu. Yang terpenting, jangan Yoona.” Nada dingin milik Luhan itu membuat bulu kuduk Baekhyun berdiri. Sungguh, dia tidak pernah berpikir bahwa Luhan seberani itu. Luhan menatap ayahnya, dia bisa melihat tatapan amarah di dalamnya, “Aku tidak suka melihat itu.” Baekhyun tercengang. Demi apapun itu, Luhan sangat berani.

Jinwoo langsung berjalan menghampiri Luhan dengan tangan yang terkepal. Oh, tidak. Jangan sekarang! Baekhyun langsung menahan langkah Jinwoo, “Ahjussi, jangan sekarang.”

Jinwoo menggeram menahan amarahnya. Rasanya, dia ingin sekali memberi pelajaran pada anaknya itu. “Tidak. Aku tidak bisa—“

“Jangan aboji!” Tahan Sooyoung. Dia menepuk pundak kanan Jinwoo pelan, “Kita keluar saja dulu. Biarkan Luhan dan Yoona punya waktu dengan omonim.”

.

.

.

Genggaman tangan Yoona tak dia lepaskan sedetikpun dari tangan Jihyun. Dia terus mengenggamnya dengan senyuman yang merekah di wajahnya. Tangan Jihyun terangkat memegang pipi Yoona lalu menghapus sisa air mata yang masih di pipi Yoona.

“Jangan menangis lagi, Yoona.”

Luhan yang berada di sampingnya hanya menjadi orang yang mendengar percakapan sang anak dan sang ibu sedari tadi. Dia tersenyum melihat keduanya. Dia tersenyum bagaimana Yoona bahagia sekarang.

“Aku tidak akan menangis lagi, umma.”

“Janji?” Jihyun mengeratkan genggamannya.

Yoona tersenyum, “Ne. Aku berjanji.”

“Jangan pernah pergi lagi dari sisi umma. Mengerti?”

Yoona mengangguk, “Aku mengerti.”

Tiba-tiba Jihyun teringat kenapa Yoona dan Luhan pergi dari hadapannya dalam waktu yang lama. Dia harus tau alasannya. Dia harus tahu mengapa Yoona dan Luhan melakukan hal itu. Dia harus mengetahui alasan yang tersembunyi selama ini. Dia harus tahu apakah dua insan yang berada di hadapannya ini saling mencintai atau tidak.

“Yoona-ya. Luhan-ah.”

Keduanya mengangguk, “Ya?”

“Apakah kalian saling….mencintai?”

Keduanya bungkam. Mereka menatap satu sama lain. Mata Yoona seakan berbicara, tidak, jangan sekarang. Sedangkan Luhan, aku tidak mau menunggu lebih lama lagi. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Tapi, Luhan bergerak lebih dulu. Luhan megenggam tangan Yoona, tangan wanita yang sangat dia cintai lalu mengangkatnya ke tepi tempat tidur hingga Jihyun bisa melihatnya dengan jelas.

“Ya. Aku mencintainya.” Jawab Luhan sambil menatap manik mata Yoona dengan dalam. Pengakuan Luhan itu cukup mengaduk perasaan Yoona. Dia tidak tahu harus senang, marah, atau sedih. Perasaannya seakan teraduk-aduk menjadi satu.

“Yoona?” Suara lembut milik Jihyun itu membuat Yoona memalingkan wajahnya dari Luhan dan menatap ibunya yang masih terbaring di atas tempat tidur.

Ne?” Respon Yoona.

“Bagaimana denganmu?” Pertanyaan dari Jihyun itu benar-benar menyadarkan Yoona. Untuk apa jika dia menajwab iya namun cintanya tidak akan pernah berhasil? Dengan keberaniannya, dia melontarkan pertanyaan pada ibunya itu, “Jika aku mencintainya, apa semua keadaan bisa berubah? Apa kita bisa bersatu?”

Jihyun tersenyum, “Bantu aku duduk.”

Luhan bangkit berdiri lalu membantu Jihyun untuk duduk di atas tempat tidur dan menyandarkannya ke sandaran tempat tidur itu.

Jihyun tersenyum lagi, “Kenapa tidak?”

Luhan dan Yoona terkejut. Dia langsung melempar tatapan mereka satu sama lain. “Bagaimana bisa?” Tanya Luhan tak sabar.

“Tentu saja.” Jihyun memegang tangan Yoona dan tangan Luhan. Dia mempersatukan kedua tangan mereka, “Yoona bukan adik kandungmu, Luhan-ah. Dia itu sepupumu.”


Review pls review! HAHAHAHA LuYoon bisa barengan nih akhirnya. Tapi…………………

221 thoughts on “Unbreakable — Chapter Eight

  1. Akhir x… LuYoon bisa bersatu !!!! #NangisTerharu
    tapi eon..aku gak seneng tuh sama si jihyun!! Pakek mukul Luhan sama nampar Yoona lagi!! -_-
    keren eon!!!! ^^

  2. Wah mamanya udh ngasih tau tuh mereka bukan kakak adik kandung

    Penasaran selanjutnya gimana sedih juga sih pas bagian baekhyun😦

    Semoga endingnya bahagia deh

  3. huwee author maaf jujur aku baru baca ff nya pas buka yoongexo unbreakable udah final lagi astogeh endingnya luyoon bersatu ya hehe maaf nih aku bingung mau komen apa eh tapi aku bingung yoona kan sepupu luhan emang sama sepupu itu masih bisa nikah yaa?

  4. maaf baru bisa comment d chapter ini..ffnya keren bgt!!! bikin nangis>< feelnya dapet bgt!! bahagia bgt luhan sama yoona bukan saudara kandung😀

  5. wahhhh thorrr!!!! bener kan dugaan ku kalo yoona bukan adik kandung luhan wkwkwk ahhhh senengggg yoona-luhan bisa bersatuuuuu!!! ^^

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s