[Pre-Final] Unbreakable — Chapter Nine

Unbreakable 3

Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8

Unbreakable

EXO Luhan // SNSD YoonA // EXO Baekhyun // SNSD Sooyoung

Genre & Rating

Romance-Drama & Rated for 15+

Length

Chapter (3.302 words)

[Poster goes to monggji @ Summer Graphics]

Jantung Yoona terasa seperti berhenti berdetak ketika mendengar perkataan yang terlontar dari mulut seorang wanita paruh baya yang dia panggil sebagai ibu selama ini. Dia meletakkan tangan kanannya di dadanya, sesak rasanya untuk mengetahui kenyataan pahit ini. Air mata terus mengalir keluar dari matanya dan menetes dari dagunya hingga mengenai jaket yang dia gunakan.

Dia menutup mulutnya, berusaha menangis terisak-isak. Dia tidak ingin melepaskan tangisannya begitu saja dan membuat kedua orang yang sangat ia kasihi ini semakin khawatir akan dirinya. Namun, tangan Luhan yang sedari tadi diam mulai bergerak memegang punggung tangan Yoona yang dia letakkan di atas pahanya. Luhan menggenggam tangan Yoona dengan hangat.

Luhan tersenyum, “Jangan menangis, Yoona.” Dia melepas genggamannya lalu memeluk erat Yoona, dia meletakkan dagunya di atas bahu kiri Yoona seraya berkata, “Ada aku disini. Jangan menangis.”

Tangan Yoona tergenggam oleh seseorang yang tengah berbaring di hadapannya. Seseorang yang cukup terkejut akan reaksi Yoona yang berbeda dari jangkauan pikirannya. Dia pikir, Yoona akan bahagia jika dia mengetahui bahwa dia bisa bersama Luhan.

“Maafkan aku.” Jihyun—orang itu—mengusap punggung tangan Yoona dengan ibu jarinya, “Jangan menangis. Disini ada Luhan. Ada umma juga. Kami tidak akan meninggalkan kamu, nak.”

“Maaf,” Yoona menarik tangannya lalu mendorong tubuh Luhan perlahan, “Aku butuh waktu,” Dia tersenyum sekilas sebelum beranjak dari duduknya, “sendiri.” Sambungnya sebelum dia benar-benar berlalu.

.

.

.

Pintu yang bernomor 351 itu terbuka dan munculah Yoona dari dalam dengan tissue yang menutupi setengah wajahnya. Tanpa memandang tiga orang yang sedari tadi berdiri di luar itu, Yoona melangkahkan kakinya melalui mereka.

Im Jinwoo memerhatikan punggung Yoona yang semakin menghilang dari pandangannya, “Lihat anak itu! Dia benar-benar tidak sopan.”

Tidak ada yang mengacuhkannya, Sooyoung mengernyitkan dahinya. Pasti dia sudah mengetahuinya. Sooyoung membuka pintu kamar 351 itu dan melihat Jihyun yang tengah menangis sedangkan Luhan sedang menenangkannya. Im Jinwoo mendahului langkah Sooyoung, “Sudah kukatakan bukan?!” Bentaknya.

“Dari awal sudah kukatakan. Jangan mau membantu anak itu! Dia itu tidak tahu diri!” Bentakkan Jinwoo itu memasuki pendengaran Luhan. Panas. Dia kesal. Dia tidak suka wanita yang sangat dia cintai itu dihina seperti itu. Seandainya Im Jinwoo itu bukanlah ayahnya, wajahnya pasti sudah hancur detik itu juga.

.

.

.

[Yoona, kau dimana?]

[Yoona, jawab teleponku!]

[Yoona…. Kau dimana?]

[Hei, kau dimana, Yoona? Aku merindukanmu.]

[Yoona, berhenti membuatku khawatir.]

[Balas pesanku. Kumohon.]

Yoona meletakkan ponselnya di atas meja bundar yang berada di hadapannya ini. Dia meraih gelas yang terisi oleh Romanee Conti, salah satu wine terbaik dan termahal di dunia lalu meneguknya tanpa sisa. Dia rela menghabiskan setengah dari uang tabungannya demi memuaskan dirinya sendiri.

Setengah dari botol Romanee Conti itu sudah habis diteguk oleh Yoona. Dia meletakkan gelas tersebut ke atas meja lalu disusul oleh kepalanya. Dia tersenyum, “Lu….Han.” Gumamnya. Setetes air mata keluar dari matanya. Dia menangis lagi tapi…..dia tetap tersenyum.

“Lu…Haaaannh.” Mabuknya. Dia memainkan gelas kaca yang berada di hadapannya itu lalu memutar-mutarkannya. Tiba-tiba matanya menangkap sebuah bayangan yang bergerak-gerak dari gelas kaca itu. Dia menyipitkan kedua matanya lalu tertawa pelan, “Oppa…” Panggilnya.

Oh, Luhan berada disana?

“Akhirnya……kau menemukanku.” Yoona menutup matanya perlahan. Dia merasa tenang selagi ada orang yang ia percaya ada disampingnya.

.

.

.

Pria itu memutar-mutarkan ponselnya sambil berdiri di depan rumah sakit Wooridul. Dia tengah menunggu seseorang yang baru saja meninggalkan rumah sakit ini dengan tangisannya. Dia menghembuskan nafasnya hingga uap keluar dari bibirnya itu. Apa yang Yoona lakukan? Dia dimana? Apa dia baik-baik saja?

Baru saja dia ingin melangkahkan kakinya tapi lengan kirinya tertahan oleh seseorang. Dia menoleh dengan cepat. Dahinya mengernyit tak mengerti ketika dia melihat siapa yang menahan langkahnya.

“Baekhyun? Ada apa?” Tanya pria itu tak mengerti.

“Luhan hyung, aku tahu dimana Yoona.” Jawab Baekhyun. Luhan—pria tersebut—terbelalak, bagaimana bisa pria yang berada di hadapannya ini tahu dimana keberadaan Yoona sekarang?

“Kau….yakin?” Tanya Luhan. Keraguan memenuhi tatapannya.

“Tentu. Tapi, aku rasa…..dia belum ingin menemuimu.” Baekhyun melepaskan genggamannya di lengan kiri Luhan. “Aku janji. Aku akan membawanya pulang.”

Luhan bisa melihat keyakinan dari mata Byun Baekhyun itu. Luhan mengangguk kecil lalu tersenyum, “Baiklah.” Luhan mengeluarkan dompetnya dan memberinya sebuah kartu, “Jangan membawanya pulang. Bawa dia ke hotel ini. Hubungi aku jika kau sudah tiba. Mengerti?”

Baekhyun mengangguk, “Baiklah. Aku pergi dulu, hyung.” Tanpa menunggu respon Luhan, Baekhyun melewati Luhan lalu melangkahkan kakinya meninggalkan rumah sakit ini. Dia mengeluarkan ponselnya dari saku jaketnya lalu membuka kotak pesan masuk dan membuka pesan terakhir yang dia terima.

From : Donghae hyung

Hei, Baek! Wanita itu ada disini.

.

.

.

Pintu kelab malam itu terbuka lalu munculah Baekhyun dari balik pintu tersebut dengan peluh yang mengalir di dahinya. Dia mengedarkan pandangannya, mencari wanita yang mengisi ruang hatinya yang kosong itu. Dia berjalan melewati orang-orang yang tengah menari di tengah ruangan itu sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Siapa tahu jika wanita yang dia cari itu tengah menari?

Well, sebenanrya itu pemikiran yang bodoh. Wanita itu—Yoona—sedang galau berat. Tidak mungkin dia menghabiskan waktunya untuk menggerakkan tubuhnya di lantai dansa seperti ini. Baekhyun pun keluar dari kerumunan orang-orang itu dan mendapati seorang wanita yang setengah tertidur di atas meja. Wanita itu wanita yang dia cari, Yoona.

Tanpa basa-basi, Baekhyun menghampiri Yoona yang pasti sedang mabuk berat itu. Dia memastikan wajah Yoona, apa dia sedang tertidur atau apa. Penyesalan muncul di dirinya. Seharusnya dari awal dia tidak memeriksa keadaan Yoona dan langsung menopangnya keluar dari kelab malam ini.

Yoona menangis. Dia tahu betul mengapa Yoona menangis. Melihat wanita yang ia cintai itu menangis malah memberikan pukulan besar pada dirinya. Sedetik kemudian dia mendengar Yoona bergumam, “Lu…Haaaannh.”

Oh, shit. Jangan katakan jika Yoona melihat dirinya sebagai Luhan. Baekhyun menelan saliva-nya lalu memegang lengan kanan Yoona dan meletakkannya di lehernya.

“Yoona. Bangunlah. Ini aku, Baekhyun.”

Yoona menggeleng, “Tidak. Aku mau disini. Le..paskan!” Berontaknya.

“Yoong…” Panggil Baekhyun lalu membantu Yoona bangkit dari duduknya dan memikul Yoona seorang diri keluar dari kelab malam yang berisik itu.

.

.

.

Ponsel Luhan berbunyi tanda pesan masuk. Dengan cepat Luhan meraih ponselnya yang terletak di atas meja kaca di hotel milik Kyungsoo—relasinya—lalu membuka pesan itu dengan cepat. Dia yakin pesan itu dari Baekhyun.

From : Yoona

Hyung, ini aku, Baekhyun. Turunlah dalam waktu 5 menit lagi. Sebentar lagi aku sampai.

Tanpa membalas, Luhan memasukkan ponselnya ke dalam saku celanannya lalu keluar dari ruangan hotel ini. Derap kakinya memenuhi koridor hotel ini. Larinya berhenti di depan lift lalu menekan tombol lift dengan cepat. Dia tidak mau menunggu waktu lama lagi. Dia ingin menemui Yoona. Dia sangat khawatir.

TING!

Suara khas lift itu berbunyi. Ketika pintu lift itu terbuka, Luhan langsung masuk ke dalamnya dan menekan tombol G. Kakinya tidak berhenti mengetuk lantai lift ini, dia tidak sabar. Bisakah lift ini turun lebih cepat? Dia membuang nafasnya kasar lalu mengacak rambutnya pelan.

Tanpa Luhan sadari, matanya berlinang. Dia benar-benar khawatir keadaan adiknya itu. Tsk! Bisakah keberuntungan sedikit berpihak padanya? Kenapa disaat ada kesempatan hal lain terjadi?

TING!

Lift tersebut berhenti di lantai yang menjadi destinasinya. Luhan langsung keluar dari lift itu dan berlari keluar dari gedung hotel ini. Angin malam yang berhembus itu membuatnya menggigil. Ya, ini kesalahan kecil yang dia lakukan, tidka membawa jaket. Tapi, masa bodoh dengan itu. Yoona jauh lebih penting.

Luhan berdiri selama beberapa menit. Terkadang dia memeluk lengannya sendiri berusaha menghangatkan dirinya yang dingin bagaikan es itu. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Tak lama kemudian, sebuah taksi memasuki area hotel dan melintasi pintu utama hotel ini. Pintu taksi itu terbuka dan muculah pria berambut hitam pekat—Baekhyun—yang sedari tadi ditunggu oleh Luhan.

Hyung..” Panggil Baekhyun pelan.

Luhan menoleh, “Baekhyun?! Dimana Yoona?” Luhan melangkahkan kakinya mendekati Baekhyun.

“Yoona didalam. Aku sudah membayar taksinya. Aku pulang ya?” Tanya Baekhyun.

Luhan tersneyum lalu memeluk Baekhyun, “Terima kasih, Baekhyun. Aku tidak tahu bagaimana nasibku jika kau tidak membantuku.” Luhan melepas pelukannya, “Hm…kau bisa menyetir?”

“Bisa. Kenapa?”

Luhan merogoh saku celananya lalu mengeluarkan kunci mobilnya, “Pulanglah bawa mobilku. Sudah malam. Tidak baik jalan kaki.”

Baekhyun menggeleng, “Tidak usah. Aku lebih suka—“

“Pulanglah. Hati-hati di jalan.” Luhan memotong perkataan Baekhyun lalu memberikan kunci mobil itu secara paksa ke genggaman Baekhyun. Luhan langsung membuka pintu taksi tersebut dan melihat Yoona sedang tertidur di dalam. Tak mau menunggu lama lagi, Luhan menggendong Yoona keluar dari taksi tersebut.

Luhan tersenyum. Dia merasa tenang jika dia bisa melihat wajah cantik adiknya itu. Sebelum masuk ke dalam gedung hotel itu lagi, Luhan berbalik menghadap Baekhyun, “Hati-hati, Baek.”

Dan Baekhyun hanya menyambutnya dengan senyuman yang merekah di wajahnya.

.

.

.

Luhan merebahkan tubuh Yoona di atas tempat tidur dengan ukuran king size. Dia menarik selimut yang tersedia lalu menyelimuti tubuh Yoona hingga lehernya. Luhan duduk di atas lantai lalu meletakkan dagunya di atas tempat tidur itu. Matanya dapat melihat Yoona dengan jelas dan dia tersadar ada sisa air mata di pipinya.

Luhan meletakkan ibu jarinya di pipi Yoona dan mengusap sisa air mata itu dengan hati-hati. Setelah itu tangannya bergerak turun menyentuh punggung tangan Yoona yang dingin. Sangat dingin. Dia menggerakkan ibu jarinya di punggung tangan Yoona. Luhan sungguh merindukannya.

Seandainya waktu di Selandia Baru bisa dia ulang. Dia akan mengulang masa-masa itu. Hidupnya terasa manis saat itu. Luhan mendekatkan wajahnya ke wajah Yoona. Senti demi senti mulai berkurang. Dengan hati-hati, Luhan mendaratkan bibirnya di pipi Yoona yang tirus itu. Wanita ini memang terlalu kurus.

“Selamat malam, Yoona.”

.

.

.

“Jinwoo-ah, aku ingin mengatakan sesuatu.” Ruangan yang sedari tadi sangat hening itu akhirnya terisi dengan suara serak milik Im Jihyun itu. Jihyun berusaha untuk duduk di atas tempat tidur.

“Ada apa?” Tanya Jinwoo yang duduk tepat di sebelah tempat tidur itu.

“Aku…..” Jihyun nampak ragu, dia memegang selimut yang menutupi setengah tubuhnya dengan erat, “Aku ingin Luhan menikah dengan Yoona.”

Jinwoo menghelakan nafasnya, “Tidak. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.”

“Tapi, aku ingin mereka bersatu.”

“Mereka tidak ditakdirkan untuk bersatu maupun bersama.”

“Takdir yang mempertemukan, Jinwoo-ah. Aku bisa merasakannya.” Jihyun memegang tangan Jinwoo , “Kumohon. Kali ini saja.”

Jinwoo menggeleng, “Tidak. Aku tidak ingin memenuhi keinginanmu itu.”

“Jinwoo. Aku mohon. Kali ini saja.” Mata Jihyun mulai berlinang, matanya mulai memerah. Jinwoo bisa melihat itu dengan jelas. Hatinya seperti tertusuk-tusuk oleh puluhan pisau jika melihat istrinya menintikkan air matanya.

“Kau tahu bukan kalau keluarga ini bukan hanya dikenali oleh orang sekitar rumah saja. Mau dikatakan apa jika aku menikahkan kedua anakku yang mereka tahu sebagai saudara kandung? Apa kau gila?” Tanya Jinwoo. Ya, dia memikirkan nasib perusahaannya. Perusahaan yang telah dia bangun belasan tahun itu tidak akan dia biarkan jika menikahkan kedua anaknya—yang mereka tahu sebagai anak kandung.

“Prioritaskan keluargamu. Bukan perusahaanmu.” Balasan dari Jihyun itu cukup mengetuk hati Jinwoo.

“Tapi—“

“Aku yakin kau akan bahagia jika melihat anak yang telah kita besarkan bersama juga bahagia.”

“Jihyun-ah…” Jinwoo mengernyitkan dahinya, “Baiklah.”

.

.

.

Pintu rumah sakit itu tertutup perlahan. Jinwoo takut jika suara decitan pintu itu membangunkan Jihyun yang sudah terlelap. Jinwoo mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi seseorang.

Jinwoo berjalan bolak-balik sambil menunggu nada sambung ini berakhir. Tiba-tiba terdengar balasan dari sebrang sana dan saat itu juga Jinwoo menghentikan langkahnya.

“Halo?”

“Halo? Sooyoung? Apa aboji menganggumu?”

“Aniyo, ada apa aboji?”

“Begini. Besok bisakah kau ke rumah lalu menjemput Luhan dan Yoona?”

“Oh..ehm..umm.. Jemput? Memangnya mau kemana?”

“Ke rumah sakit. Aku ada urusan dengan mereka. Penting.”

“Oh, iya. Baiklah. Aku akan menjemput mereka.”

Ne. terima kasih banyak, Sooyoung-ah.”

“Ne…”

Sambungan itupun terputus. Jinwoo memasukkan ponselnya ke saku celanannya lalu menatap keluar jendela. Dia menghembuskan nafasnya hingga kaca yang berada dihadapannya itu berembun. Semoga langkah yang sudah dia pilih itu menjadi langkah yang benar.

.

.

.

Sinar matahari yang menembus kaca jendela itu membuat mata Yoona mengerjap. Dia menguap lalu meregangkan otot-ototnya. Dia berusaha untuk bangkit dari tidurnya tapi kepalanya sakit. Sakit sekali. Ugh! Mungkin ini efek banyaknya anggur yang dia minum kemarin.

Ugh…” Erangannya itu membuat pria yang tidur di atas sofa itu bergerak. Pria itu—Luhann—bangkit dari tidurnya lalu duduk di sofa. Dia mengecek tempat tidur itu dengan penglihatannya. Oh, Yoona sudah bangun.

Luhan tetap duduk diam sambil mengusap matanya pelan. Matanya tidak lepas dari Yoona. Yoona masih sibuk memegang kepalanya yang sedikit pening itu. Well, itu salahnya sendiri. siapa suruh untuk meminum anggur hingga setengah botol. Apa dia sudah gila?

UGH!!” Erang Yoona keras. Dia menjambak rambutnya sendiri berharap pening itu keluar dari kepalanya. Namun, tetap saja sia-sia. Luhan bangkit berdiri sambil mendecak pelan, adiknya ini kenapa.

“Hei, ada apa?” Tanya Luhan lalu duduk di pinggir tempat tidur.

Yoona menoleh lalu membuang pandangannya, “Buat apa kau disini.”

“Aku baru saja bangun.”

“Memangnya aku tanya itu?”

“Hei, ada apa?”

“Enyahlah dari pandanganku. Aku ini bukan siapa-siapa.” Yoona menurnkan kakinya dari tempat tidur. Ketika dia bangkit berdiri, kepalanya sakit lagi. Jangan sekarang!

Tubuh Yoona goyah. Dengan cepat, Luhan menangkap Yoona yang nyaris jatuh ke atas lantai. Yoona masih sibuk memegang kepalanya yang sakit itu.

“Yoona. Apa kau minum semalam?” Pertanyaan Luhan itu hanya dijawab dengan anggukan oleh Yoona. Luhan menghelakan nafasnya perlahan lalu menggendong Yoona.

“Yak! Apa ini!” Pekik Yoona. Luhan tidak mengacuhkannya. Luhan malah melangkahkan kakinya menuju sofa yang tadi dia gunakan untuk tidur dan meletakkan Yoona di atasnya.

“Jangan berjalan dulu.”

Yoona membuang nafasnya kasar, “Aku mau mandi.”

Luhan terkekeh pelan, “Bahaya untuk mandi sendiri dengan keadaan seperti ini.”

Mata Yoona langsung melebar ketika mendengar ucapan Luhan. Rasa sakit di kepalanya mendadak lenyap saat itu juga. Dia menoleh ke arah Luhan yang berada di sebelah kanannya, “YAK! MESUM!”

Luhan tertawa sampai sakit perut. Seingatnya, dia tidak mengatakan hal lebih. Jadi yang mesum itu Yoona atau dirinya? Luhan menjitak kepala Yoona pelan, “Kau memikirkan hal yang tidak-tidak.”

“Kau yang mencurigakan.”

“Kau itu kenapa moody sekali, sih?”

“Siapa yang moody? Kau yang terlalu mudah mencairkan suasana.”

Luhan langsung merangkul Yoona, “Tidak. Mungkin kau memang tidak bisa marah padaku.”

Yoona melepas rangkulan Luhan dengan kasar, “Aku mau mandi.”

.

.

.

Pintu mobil yang terpakir di halaman rumah besar kediaman Im itu terbuka dan Sooyoung turun dari mobil itu. Dia menoleh ke mobil yang terparkir di depannya. Mobil Luhan. Seharusnya Luhan belum keluar pagi ini. Lagipula jam delapan masih terlalu pagi bagi Luhan untuk keluar. Biasanya dia berangkat kerja jam setengah delapan.

Bagaikan rumah sendiri, Sooyoung masuk tanpa permisi. Dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah lalu ke ruang tengah. Dia mengedarkan pandangannya, seperti tidak ada kehidupan disini. Dia menghelakan nafasnya lalu mendekati tangga. Berniat untuk menyusul ke kamar Luhan.

“Sooyoung?” Suara yang familiar di pendengarannya itu membuatnya berhenti. Sooyoung menoleh ke asal suara. Matanya melebar. Bagaimana Baekhyun bisa ada disini?

“Kau…..apa yang kau lakukan?” Pertanyaan Sooyoung itu penuh dengan kekagetannya.

Ahjussi menyuruhku menginap disini.” Jawab Baekhyun santai. “Kalau kau sedang apa?”

“Aku mau menjemput Luhan dan Yoona.”

“Percuma. Mereka tidak ada disini.”

“Mereka dimana?”

Baekhyun merasa curiga. Buat apa Sooyoung menanyakan dimana Luhan dan Yoona berada. Apa dia ingin merecoki mereka lagi?

“Untuk apa kau menanyakan hal itu?” Tanya Baekhyun.

Aboji menyuruhku untuk menjemput mereka ke rumah sakit. Mereka ada dimana?”

Baekhyun berpikir, apa kali ini dia bisa di percaya?

“Mereka ada di hotel pertigaan yang tak jauh dari sini.”

.

.

.

Bel kamar hotel yang ditempati oleh Luhan dan Yoona itu berbunyi. Karena Luhan sedang mandi. Yoona memutuskan untuk membuka pintu tersebut. Tanpa mengeceknya terlabih dahulu, Yoona memutar knop pintu itu dan membukanya.

Oh, tidak. Iblis satu ini.

“Hai, Yoona.” Sapa Sooyoung manis.

Yoona menghelakan nafasnya lalu melipat tangannya, “Mau apa kau kesini?”

“Aku ingin menjemput um….ini keinginan aboji—

Aboji?! Kau memanggil appa-ku dengan sebutan aboji?” Tanya Yoona tak percaya, “Hah. Kau ini siapa? Apa kau menantu mereka? Apa kau diangkat juga sebagai anak mereka?” Yoona menekankan pertanyaannya. Well, dia yakin bahwa Sooyoung mengetahui bahwa dirinya itu bukan anak kandung dari kedua orang tuanya.

“Mungkin aku terdengar lancang. Tapi, aboji menyuruhku untuk menjemput kalian ke rumah sakit.”

“Tidak usah.” Tolak Yoona mentah-mentah, “Kami bisa pergi sendiri dan kau bisa pergi lebih dulu. Aku tidak suka merepotkan orang lain.” Yoona hendak menutup pintunya tapi dia mengundurkan niatnya itu, “Terima kasih atas tawarannya but, sorry.” Yoona menutup pintu itu.

Sooyoung mengepal tangannya yang memegang handbag­-nya itu lalu menggigit bibir bawahnya. Dia berbalik lalu melangkahkan kakinya dengan keras di koridor hotel ini. “Dasar wanita gila!”

.

.

.

Luhan dan Yoona memasuki rumah sakit ini. Sebenarnya Yoona sangat benci bau rumah sakit yang menyeruak itu. Tapi, mau tidka mau dia harus datang. Ibunya sedang dirawat dan ayahnya memanggil mereka. Langkah Yoona berhenti ketika dia melihat Luhan yang didepannya juga berhenti.

“Ada apa?” Tanya Yoona. “Apa sesuatu tertinggal di taksi?”

Luhan menggeleng, “Tidak.” Tiba-tiba Yoona bisa merasakan tangannya tergenggam oleh tangan Luhan. Yoona melirik ke tangan mereka itu. Dia tersenyum. Dia baru sadar bahwa tangan mereka ini cocok sekali. Well, mungkin karena hatinya tengah berbunga-bunga sekarang.

“Ayo!” Ajak Luhan sambil menarik Yoona pelan.

.

.

.

Luhan mengetuk pintu itu lalu membukanya. Dia melangkahkan kakinya lebih dahulu lalu disusul oleh Yoona dari belakang. Luhan tersenyum sekilas melihat Jihyun dan Jinwoo yang tengah asik berbincang,

Appa? Apa appa memanggil kami?” Jinwoo menoleh ketika mendengar suara Luhan. Tapi, matanya tertuju pada kedua tangan mereka yang masih terpaut. Jinwoo menghelakan nafasnya, sepertinya dia harus meruntuhkan pertahanannya selama ini.

Ne. kemarilah.” Suruh Jinwoo sambil menujuk beberapa spasi yang berada di hadapannya. Luhan dan Yoona berjalan menuju tempat itu tanpa melepaskan pegangan mereka.

Ne?” Tanya Luhan sambil menundukkan kepalanya. Dia sedikit takut jika ayahnya ini mendadak menyerangnya seperti kemarin. Jujur, itu sangat sakit. Tapi, dia bisa apa? Ayahnya itu patut untuk marah.

Jinwoo tersenyum, “Aku melakukan hal ini karena permintaan dari umma kalian.” Jinwoo menghelakan nafasnya, “Kalian boleh menikah.”

Luhan mengangkat kepalanya, matanya melebar, begitupun Yoona. Dia menatap Jinwoo dan Jihyun bergantian. “Ini…..ini sungguhan? Ka…kalian..”

“Iya. Kami merestukan kalian. Kami tidak boleh menahan ego kami terus. Kalian patut untuk bahagia.” Jawaban Jinwoo itu membuat Luhan memeluknya dengan erat.

“Terima kasih, appa. Sungguh, aku benar-benar berterima kasih.” Ucap Luhan sambil memeluk Jinwoo. Sedangkan Yoona masih mematung di tempat. Dia takut. Dia takut untuk memeluk Jinwoo dan Jihyun, dia sudah tahu kenyataannya, dia bukan anak kandung mereka.

Tapi, Jinwoo menatapnya penuh dengan harapan. Jinwoo tersenyum kepada Yoona, “Kemarilah, nak.” Yoona sedikit ragu untuk melangkahkan kakinya. Tapi, dia harus berani. Dia tersenyum lalu menghampiri Jinwoo dengan cepat. Dia memeluk Jinwoo sebagai tanda terima kasih terbesarnya.

“Terima kasih. Teirma kasih.”

.

.

.

Pintu itu terbuka lalu Sooyoung muncul dari balik pintu itu. Dia tersenyum kepada orang-orang yang berada di ruangan ini. Yoona. Luhan. Jinwoo. Jihyun. Dia melemparkan senyumannya lalu berjalan menghampiri Jinwoo, “Aboji, aku sudah datang.”

Ne. Yoona dan Luhan. Bisakah kalian pulang bersama Sooyoung? Dia akan membantumu untuk membahas masalah pernikahan. Berhubung saudaranya adalah salah satu anggota organisir pernikahan, aku pikir ada baiknya jika kalian sedikit berbincang dengannya.”

Yoona tidak bisa mengelak. Begitupun Luhan. Tapi, mereka harus menerimanya. Mereka harus membahagiakan orang tua mereka yang sudah berkorban untuk mereka. Yoona tersneyum lalu mengangguk, “Baiklah, appa.”

.

.

.

Sooyoung sedang fokus dengan acara menyetirnya. Yoona dan Luhan duduk di kursi penumpang. Yoona memeluk lengan Luhan dengan erat. Akhirnya, dia bisa mencintai seseorang sebebas ini. Tanpa kekangan. Tiba-tiba ponsel Sooyoung berbunyi tanda telepon masuk, Sooyoung merogoh handbag-nya lalu mengeluarkan ponselnya.

“Sooyoung, menyetir saja dulu.” Luhan mengingatkan Sooyoung.

“Tapi, ini penting.” Balas Sooyoung. Dia ingin menggeser layarnya agar panggilan tersebut bisa dia terima. Tapi, tangannya terlalu kecil untuk ukuran ponselnya yang besar itu. Ponselnya tergelincir hingga jatuh ke bawah dashboard mobil.

“Sial!” Gerutu Sooyoung. Dia meraba bawah dashboard mobil itu dengan tangannya dengan keadaan mobil yang masih berjalan.

“Sooyoung, bangunlah. Biar aku saja.” Kata Luhan hendak memajukan tubuhnya.

Sooyoung menggeleng, “Tidak apa. Tidak usah.” Dia tetap meraba bagian bawah dashboard mobil itu. Dia sedikit melirik ke bawah dashboard mobil tanpa melihat jalan. Yoona yang sedari tadi melihat keluar jendela yang berada di kanannya itu tiba-tiba sadar ketika mobil yang mereka tumpangi ini mulai oleng dan masuk ke jalan lawan arah. Sedangkan Luhan yang tengah melihat ke kaca utama mobil ini bisa melihat truk yang melaju cepat ke arah mobil mereka.

“SOOYOUNG!!” Teriak Luhan. Sooyoung langsung menegakkan tubuhnya tapi…..terlambat sudah.

BRAK!!!

.

.

.

.

.

TBC


 

HAAAAI! Gimana chapter 9 nya? HEHEHHE aku udah bener2 cepetin loh post nya jadi tolong komen ya!

Buat yang nanya password bisa follow & mention ke @elevenoliu kalau mau follow backbisa ke @lyviamidul (Bukan promosi)

Dan maaf lagi, di chapter ini dan chapter selanjutny EHM UMMMM EHEEEM Chapter terakhir itu alurnya dipercepat soalnya aku udah ga mau basa basi lagi sama FF ini. Pas FF ini seleasi, beban hidup menghilang HEHEHHE

Makasih udah mau baca❤

 

92 thoughts on “[Pre-Final] Unbreakable — Chapter Nine

  1. Yah kecelakaan deh
    Makin seru ih gregetan bacanya
    Sama penasaran abis kecelakaan mereka gimana ya semoga pada hidup deh jgn ada yg meninggal😦

  2. kok aku mikirnya ayah luhan sama sooyoung bersekongkol buat nyelakain yoona sama luhan yaa ah tapi entahlahh/?

  3. Oh no! Apa yang akan terjadi pada LuYoon? Ga meninggal kan eon😦 Ya Alloh, udah mau bahagia, masih aja ada cobannya ;-( Di final part nnt LuYoon kudu bersatu ya? Jebal *aegyo Keep writing😉

  4. Kya!!😮 Soo, kenapa km keras kepala? Di kasih petolongan malah sok nolak! Apa yg akan terjadi? LuYoon gapapa kan? Awas dah kl LuYoon luka, bakal kurebus yu! ;-> Buat author, keep writin;-)

  5. Aduh..
    SooYoung, SooYoung, coba aja fokus nyetir, pasti ga tabrakan, udh mau d bantuin, ga mau lg..
    Ckckckck -,-
    Keep writing Thor! ^^

  6. Sumpah kesel banget sama sooyoung disini -_-
    Fokus nyetir bisa kan ish-_- jadinya tabrakan deh hft
    Ditunggu thor klanjutannya, udah seneng gt luhan sama yoona boleh nikah, eh kok malah:/
    Berharap bgt happy ending T_T

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s