(Freelance) Green Eyed Monster

Green-eyed

Title                                                       : Green-eyed Monster (Oneshot)

Author                                  : Hime Lee

Cast                                                       : Yoona, Sehun

Genre                                   : Romance, Fluff

Length                                  : 3,223 words

Author’s note                    :

I’m back with another Yoonhun oneshot! Yang ini lebih ringan, aku janji. Untuk mengobati Yoonhun yang gak bisa bersatu di ff-ku sebelumnya. Hope you enjoy this one too!

Happy reading and please let me know what you think.:)

p.s. Sorry posternya seadanya, gak ada waktu hehe😀

Love,

Hime Lee

 

Green-eyed

  1. jealous: suspicious or unduly suspicious or fearful of being displaced by a rival; “a jealous lover”

 

Suara televisi terdengar samar-samar dari ruang tengah. Dua insan terlihat sedang bergelung di sofa, sepertinya sama sekali tidak memperhatikan tayangan dari benda kotak datar itu. Well, mungkin hanya sang pria. Kedua mata sang wanita masih tertuju pada layar televisi. Sesekali tawa renyah meluncur dari bibirnya ketika tokoh utama drama yang sedang ditontonnya mulai bertingkah konyol.

Sang pria bernama Sehun, dan seseorang yang kini sedang berada dalam pelukannya adalah Yoona, kekasihnya. Kedua kaki Yoona ditumpangkan di atas paha Sehun. Tangan kiri Sehun melingkar di bahu Yoona sementara tangannya yang lain bertaut dengan tangan Yoona. Kepalanya ia benamkan di antara leher dan bahu Yoona, menghirup aroma kekasihnya itu dalam-dalam. Yoona sama sekali tidak mengernyit risih walupu Sehun beberapa kali mendaratkan kecupan ringan di pundaknya yang terbuka.

Tawa Yoona kembali terdengar setelah ia lagi-lagi melihat adegan konyol di layar televisi. Sehun tampak tidak terpengaruh. Ia masih sibuk mencari ketenangan dalam kehangatan yang hanya mampu diberikan kekasihnya yang cantik itu.

“Kurasa Nam Dajung lebih lucu dari ini,” kata Sehun tanpa mengangkat kepalanya.

Yoona menolehkan kepalanya agar bisa menatap kekasihnya. “Kau tahu aku tidak suka menonton dramaku sendiri jika aku sedang bersamamu.”

Kali ini Sehun mengangkat kepalanya hanya untuk melemparkan pandangan heran pada Yoona. “Mengapa? Bukankah itu bagus? Kita bisa mengamati aktingmu bersama. Kau sendiri pernah bilang bahwa pendapatku sangat penting bagimu.”

Yoona mendengus. “Bagaimana bisa kau menilai aktingku jika kau saja belum pernah memainkan peran di drama apapun?”

Sehun mengangkat bahu, sama sekali tidak tersinggung. “Well, aku bisa menilaimu dari kacamata seorang kekasih.”

Yoona hanya memutar bola matanya, sama sekali tidak berniat untuk menanggapi ucapan Sehun barusan. Lalu matanya kembali tertuju pada televisi ketika sebuah iklan menarik perhatiannya. Iklan tersebut adalah iklan sebuah produk elektronik yang dimodeli oleh EXO dan Apink. Yoona berusaha untuk terlihat tenang saat tiba adegan ketika Sehun melingkarkan tangannya di pinggang Naeun sambil berbisik di telinga idol cantik itu.

“Naeun-ssi cantik juga,” komentar Yoona. Sehun bisa menangkap aroma kecemburuan pada suara kekasihnya itu. Namun, karena Yoona masih berusaha untuk terlihat tenang, Sehun tidak mau menyinggungnya. Ide jahil untuk menggoda Yoona justru malah muncul di kepalanya.

“Dia lebih cantik lagi jika kau bertatap muka dengannya secara langsung. Pantas saja dia menjadi visual grupnya.”

Sehun mengamati perubahan ekspresi kekasihnya. Mata Yoona terlihat menyipit. Mulutnya tertutup rapat, bibirnya membentuk garis tipis. Ingin sekali Sehun tertawa melihat Yoona yang sekuat tenaga menyembunyikam rasa cemburunya. Namun, demi melihat Yoona meledak, ia rela bermain api.

“Banyak stylist di tempat syuting film iklan itu yang berpendapat bahwa Naeun dan aku sangat cocok. Kami berdua pasti akan terlihat serasi jika bersama,” tambah Sehun. Ia bersorak dalam hatinya saat melihat kilatan kecemburuan di mata Yoona. Yoona memang jarang sekali cemburu. Sehun sering dibuat frustrasi jika wanita itu tetap setenang air walaupun ia melakukan hal paling intim sekalipun dengan idol lain baik untuk pemotretan atau syuting iklan.

Ingin sekali Yoona mencakar wajah kekasihnya itu. Haruskah ia terus menyulut emosinya? Beberapa waktu ini Yoona memang sedang tidak baik-baik saja. Ia begitu sibuk dan lelah. Belum lagi persiapan comeback yang begitu menguras waktu. Yoona yang cenderung sering merasa insecure pun tidak bisa mengelak bahwa ia merasakan ketakutan itu saat ini. Ketakutan bahwa ia akan digantikan oleh wanita-wanita yang lebih cantik dan lebih muda darinya. Dan seumuran dengan Sehun, Yoona menambahkan dalam hati sambil berusaha menelan kenyataan pahit itu.

“Apakah kau menikmati waktumu bersama Naeun?” tanya Yoona hati-hati, seakan mengetes Sehun.

Sehun mengangguk antusias. “Tentu saja. Dia orang yang menyenangkan.”

“Apakah kau ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengannya?” kali ini Yoona menatap Sehun tajam, memberinya kesempatan terakhir untuk memperbaiki suasana.

Sehun yang masih dalam euforia karena melihat Yoona yang seperti ini tidak sadar akan tindakannya sendiri. Dengan antusiasme yang sama, ia mengangguk. Hancur sudah pertahanan Yoona.

“Oh Sehun!” teriak Yoona frustrasi. Air mata mulai mengalir dari pipinya.

Sehun yang baru saja menyadari apa yang terjadi langsung gelagapan panik. Apalagi dengan menetesnya satu-persatu air mata Yoona, ia sadar ia baru saja melakukan tindakan bodoh.

“Yoona, maksudku…”

Perkataan Sehun terpotong begitu saja. Yoona melepaskan diri dari pelukan Sehun, mengambil tasnya, dan berjalan cepat ke arah pintu. Sehun mengejarnya dengan panik. Ia memanggil-manggil nama Yoona sambil berusaha meraih tangan wanita itu. Yoona sama sekali tidak menanggapi. Ia membuka pintu dan keluar dari apartemen Sehun tanpa memedulikan pria itu yang terus memanggilnya.

“Stupid Oh Sehun,” geram Yoona dalam perjalanannya menuju tempat parkir. Apakah ini salah satu cara Sehun untuk berpisah dengannya?

Yoona tidak peduli jika fans di luar bisa melihatnya di lobi. Ia lebih tidak peduli lagi ketika orang-orang yang berpapasan dengannya menatapnya heran melihat air mata yang mengalir deras di pipinya. Ia ingin segera sampai di rumahnya, menenggelamkan wajahnya di bantal dan menangis keras-keras di sana.

 

“Yah! Ada apa dengan wajahmu? Mengapa murung begitu?”

Yoona hanya tersenyum tipis ketika Eunhyuk menjatuhkan diri di sampingnya. Keduanya baru saja berlatih dance bersama. Tidak ada acara khusus, hanya menari untuk menghilangkan penat. Yoona sedang berkonsentrasi pada gerakannya ketika Eunhyuk masuk ruang latihan.

Saat melihat wajah Yoona setelah itu, Eunhyuk tahu Yoona tidak hanya stres karena pekerjaan. Ada hal lain yang menganggunya. Eunhyuk bertanya-tanya apakah ini semua ada kaitannya dengan salah satu juniornya yang sedang naik daun itu.

“So, what did that idiot do now?” tanya Eunhyuk. Yoona terlihat ragu untuk menjawab, tetapi akhirnya ia menceritakan semuanya. Eunhyuk adalah salah satu orang terdekatnya di SM. Ketika masih menjadi trainee pun, Eunhyuk adalah tempatnya berkeluh kesah selain Leeteuk dan Donghae.

Cerita itu mengalir dari bibir Yoona. Eunhyuk mendengarkan degan saksama tanpa berniat memotong atau menanggapi. Ia menunggu hingga Yoona selesai bercerita, hingga wanita itu mendesah panjang setelah memejamkan matanya cukup lama.

“Well, that sucks,” Eunhyuk berkomentar. Yoona mengangkat sebelah alisnya.

“Oh, ayolah, Yoong. Kau tahu kau jauh lebih cantik daripada Naeun itu. Kau jauh lebih berbakat, lebih menyenangkan, fansmu juga jauh lebih banyak. Mengapa kau harus merasa insecure? Kalau Sehun lebih memilih Naeun, Sehun sudah membuang kesempatan untuk berasama Yoona the Nation’s Sweetheart. It’s his loss, not yours. Tunjukkan padanya bahwa tidak ada gunanya memikirkan Naeun kalau ia memilikimu.”

Yoona terkekeh mendengar penjelasan Eunhyuk. Seniornya itu ada benarnya, walaupun Naeun pasti akan sakit hati jika mendengarnya.

“Aku nyaris lupa kalau Oppa adalah fans terberatku,” kata Yoona tanpa bia menyembunyikan tawanya.

Eunhyuk tidak menyangkal. Ia bangkit dari duduknya, mengulurkan tangan pada Yoona yang mendongak menatapnya dengan heran. “Let’s have fun.”

Yoona tidak perlu berpikir untuk menyambut uluran tangan Eunhyuk dan membiarkan pria itu memimpin. Eunhyuk menyalakan speaker lagi, memilih lagu Oscar milik SNSD. Dentuman musik bergema di seluruh dinding. Dengan seringai lebar, Eunhyuk mengambil botol minumnya dan mulai menggerakkan tubuhnya seolah-olah ia sedang berada di club. Yoona tergelak. Ia pun mengambil botol minumnya sendiri dan mulai mengikuti Eunhyuk. Keduanya menari-nari seperti orang mabuk, saling menertawakan gerakan konyol masing-masing.

Ketika lagu berakhir, senyum lebar masih menghiasi bibir Yoona. Eunhyuk tersenyum puas, akhirnya bisa menghilangkan kemurungan dongsaeng-nya itu. Leeteuk dan Donghae pasti bangga padaku, batinnya.

Yoona dan Eunhyuk baru selesai membereskan barang-barang mereka ketika tiba-tiba pintu ruang latihan itu terbuka. Chanyeol dan D.O muncul di ambang pintu, diikuti anggota EXO yang lain. Yoona membeku di tepatnya ketika Sehun masuk ruangan, terlibat obrolan seru dengan Kai hingga tidak menyadari keberadaan Yoona dan Eunhyuk di situ.

Chanyeol yang melihat kedua seniornya, langsung membungkukkan badan. “Annyeonghaseyo, sunbaenim,” katanya hormat. Anggota EXO yang lain mengikuti. Mendengar suara Chanyeol, Sehun langsung mengehentikan obrolannya untuk menatap kedua orang itu. Matanya membeliak mengetahui Yoona dan Eunhyuk hanya berdua di ruangan itu sebelum mereka datang.

“Hai, anak-anak! Kalian mau menggunakan ruangan ini? Well, pas sekali. Aku dan Yoona baru saja selesai,” kata Eunhyuk.

Mata Sehun menyipit melihat Yoona yang seolah-olah tidak melihatnya. Wanita itu berpura-pura berkutat dengan tasnya. Sehun bisa merasakan mata anggota EXO yang lain tertuju ke arahnya.

“Yoona-yah, ayo kita turun. Kau berhutang satu cupcake padaku.”

Yoona mengangkat kepala, tersenyum lebih lebar dari seharusnya kepada Eunhyuk. Satu ide baru saja melintas di pikirannya. Melihat kekasihnya yang menyebalkan itu di sini, Yoona ingin balas bermain api sedikit. Ia kemudian melingkarka tangannya pada lengan Eunhyuk, dengan sengaja menempelkan tubuhnya pada pria itu. Eunhyuk menatapnya heran, tetapi Yoona sudah lebih dulu menyuruhnya diam dan mengikuti permainan dengan kedua matanya. Menahan geli, Eunhyuk menurut saja.

“Kami berdua duluan, guys!” Yoona melambaikan tangannya yang bebas. Ia menarik Eunhyuk dan keduanya keluar dari ruangan itu, dengan lengan yang masih bertatut. Dari ekor matanya, Yoona bisa melihat Sehun yang seperti menahan amarah. Hah! Rasakan itu, Oh Sehun! soraknya dalam hati.

“Apa itu tadi?” tanya Eunhyuk begitu mereka sudah jauh dari ruang latihan. Ia menatap Yoona geli.

Yoona langsung menarik tangannya. Ia mengedipkan sebelah matanya. “Satu pelajaran untuk Sehun tidak ada salahnya, kan?”

Eunhyuk tergelak. Ia menggelengkan kepala, tidak habis pikir dengan kelakukan wanita di depannya itu. Ia baru akan melanjutkan langkahnya ketika tiba-tiba ia melihat Amber dan Shim Jaewon berlari ke tempat ia dan Yoona berdiri.

“Unnie, Oppa!” sapa Amber riang. “Apakah kalian free malam ini?”

“Memangnya ada apa?” tanya Yoona penasaran. Tidak biasanya Amber begini.

“Ayo kita party!” Amber bersorak. Yoona dan Eunhyuk bertukar pandang bingung.

Jaewon akhirnya membantu menjelaskan. “Aku dan Yunho sudah membooking club yang biasanya. Malam ini kita semua, artis SM dan beberapa staff, akan berpesta, bersantai sejenak dari pekerjaan. Bagaimana? Kalian ikut?”

“Semua artis SM?” tanya Eunhyuk memastikan.

“Yup!” jawab Amber antusias. “Dari Boa Unnie sampai EXO, semua diundang.”

Mendengar grup yang baru saja disebut Amber, Yoona langsung menjawab tanpa berpikir dua kali. “I’m in!”

Pelajaran untuk Oh Sehun masih belum berakhir, batin Yoona sambil menyeringai.

 

Setelah sapuan terakhir pada bibirnya, Yoona mendekatkan wajah ke cermin, memeriksa dandanannya kembali. Tidak ada yang cacat. Make up-nya terpulas sempurna, eye liner yang sengaja ia pulaskan lebih tebal mampu membuat penampilannya lebih seksi dan terlihat fierce. Bibir merahnya merona sempurna. Perfect, batin Yoona. Sexy but classy.

“Yoona kau sudah siap?” kepala Sooyoung mengintip di daun pintu. Yoona berdiri, menata rambutnya sekali lagi dan meraih tasnya lalu bergabung dengan Sooyoung dan yang lain.

“Wow,” Sooyoung menyapukan pandangannya dari ujung kaki yoona yang dibalut stiletto hitam dengan heels mematikan, hingga kepalanya yang terbingkai rambut cokelatnya dengan manis. “You look…different.”

“Ini tidak terlihat murahan, bukan?” Yoona tidak tahan untuk merasa khawatir. Ia merasa menjadi orang lain hari ini. Mini dress hitam ketat di atas lutut, make up yang lebih tebal dan lebih dark dari biasanya, dan rambut ikal yang seksi. Selama ini, make up Yoona selalu minimum dengan warna yang natural.

“Tentu saja tidak!” Jessica menyahut dari seberang ruangan. Ia sedang sibuk memasang antingnya. “You look hot. Dan jauh dari kata slutty. Itu yang paling penting.”

Yoona menghela napas lega. Ia rela berdandan seperti ini untuk memberi pelajaran pada kekasihnya yang sampai detik ini masih membuatnya kesal.

“Sehun akan terlihat seperti cacing kepanasan kalau melihatmu,” Hyoyeon mengedipkan sebelah mata. Yoona tertawa sebelum ber-high-five ria dengan wanita berambut pirang itu.

“Let’s go, girls! Semuanya pasti sudah menunggu,” seru Tiffany dari pintu depan. Bersama-sama, semua member SNSD keluar dari dorm. Sembilan wanita itu tampil memesona dengan suasana gelap.

Club yang malam itu dipesan khusus untuk artis dan staff SM sudah ramai begitu SNSD menginjakkan kaki di sana. Suasana pesta di dalam sudah hidup. Ada yang bersenang-senang di lantai dansa, menikmati minuman di bar, dan ada juga yang memilih untuk bersantai di sofa yang terletak di sudut ruangan.

“Yo, Yoona!” Yoona menoleh dan melihat Heechul melambaikan tangan padanya. Di sekelilingnya, sebagian besar anggota Super Junior ikut tersenyum menatapnya.

“Sampai ketemu nanti!” Yoona harus berteriak kepada Seohyun, berusaha mengalahkan dentuman musik.

“Woohooo who’s this hot chick over here?” sambut Donghae begitu Yoona menghampiri gerombolan Super Junior.

Satu tangan Yoona memeluk Donghae, lalu menyikut rusuknya karena berkomentar seperti itu, kemudian memeluk satu persatu anggota Super Junior yang lain. Eunhyuk mengamati penampilannya, sebelum mengacungkan jempolnya.

“Kau cantik sekali, Yoong,” puji Ryeowook. Ryeowook memang sudah menyukai Yoona dari awal, dan selalu memiliki sisi kelembutan untuk Yoona.

“Thanks, Oppa,” jawab Yoona dengan senyum lebar.

Tiba-tiba dari arah samping, Sungmin dan Siwon datang dengan langkah tergesa. Tanpa aba-aba, Sungmin langsung memeluk Yoona erat, mengabaikan Yoona yang membeku di tempatnya karena terkejut.

“Kami merindukanmu! Sudah lama sekali kau tidak mampir ke dorm kami,” tuduh Sungmin begitu ia melepaskan pelukannya. Yoona tertawa sambil berjanji bahwa ia pasti akan mengunjungi dorm Super Junior jika ia tidak sibuk.

Sebuah minuman diletakkan cukup keras di depan Yoona, membuat Yoona menoleh kaget. Di belakangnya, Kyuhyun menyeringai. “Hey, weirdo,” sapanya. Yoona menggelengkan kepala, tertawa kecil.

“Oh, ngomong-ngomong,” kata Kyuhyun setelah ia duduk di hadapan Yoona, “kau yakin kau tidak duduk di tempat yang salah?”

Donghae mengerutkan kening, hendak protes. “Apa maksudmu? Yoona bisa duduk di mana saja ia mau. And she’s welcomed here.”

Kyuhyun memutar bola mata, memilih untuk mengabaikan Donghae yang mulai bertingkah kekanakan. Lagipula, yang ia maksud bukan itu. Kyuhyun kembali menatap Yoona, dan wanita itu balas menatapnya tidak mengerti.

“Setelah aku amati, ada seseorang di belakangmu yang sepertinya siap membakar meja kita ini karena kau memilih untuk duduk di sini,” Kyuhyun menunjuk ke seseorang jauh di belakang Yoona. Tanpa Yoona melihat pun, ia tahu siapa yang Kyuhyun maksud.

Yoona bersikap seolah-olah ia tidak peduli. “Biarkan saja,” katanya cuek. Semua orang di meja itu mengangkat alis mereka, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Eunhyuk yang sudah tahu duduk permasalahannya, menahan tawa yang mengancam untuk meledak dengan punggung tangannya. This choding is so stubborn, pikirnya.

 

Sejak melihat kekasihnya memasuki club, mata Sehun tidak pernah lepas dari wanita cantik itu. Damn, she’s so hot, rutuk Sehun dalam hati. Ia mengamati gerak-geriknya, menyipitkan mata ketika kekasihnya memilih untuk duduk bersama anggota Super Junior dan bukan dengan anggota SNSD atau dengannya. Matanya tidak pernah lepas dari punggung Yoona. Ia merasakan sesuatu yang panas di dalam tubuhnya ketika melihat Yoona terlihat akrab (ia bahkan memeluk semua orang seolah-olah itu hal yang wajar!) dengan sunbae-nya, yang Sehun tahu sejak dulu memang terlalu mengidolakan Yoona hingga memanjakannya.

Tatapan mata Sehun seakan-akan bisa memuat puluhan lubang di punggung Yoona ketika wanita itu menerima uluran tangan Changmin, yang entah dari mana datangnya, untuk berdansa bersama. Tanpa sadar, genggamanya pada gelas cocktail mengerat. Suho yang duduk di sebelahnya menatapnya heran, tetapi Sehun tidak peduli. Yang ada di pikirannya saat ini adalah pemandangan di lantai dansa, di mana kekasihnya sedang meliuk-liukkan tubuhnya di depan pria lain.

Sebuah geraman terlontar begitu saja dari mulut Sehun, membuat Suho terlonjak kaget. Selaput merah menguasai pandangannya, dan tanpa berpikir, Sehun langsung bangkit menuju lantai dansa.

You’ve gone too far, Im Yoona.

 

Yoona melirik Sehun yang masih intens menatapnya. Diam-diam ia menyeringai. Biarkan pria itu merasakan sensasi terbakar dalam hatinya ketika dikuasai perasaan cemburu. Sehun sendiri yang menyulut api, Yoona hanya mengikuti permainannya.

Perhatian Yoona kembali pada Changmin ketika Changmin menyentuh pinggangnya lembut. Yoona tersenyum ke arahnya, lalu kembali berdansa dengan pria itu. Yoona menyukai Changmin. Changmin adalah orang pertama yang menyapa Yoona ketika ia yang waktu itu masih berusia 11 tahun memasuki gedung SM.

And he’s hot too, so that’s a bonus for me, batin Yoona sambil terkikik geli. Entah apa yang dikatakan Changmin jika ia tahu Yoona baru saja mengatakan hal seperti itu. Mungkin Changmin akan tertawa hingga terjungkal dari kursinya dan menyuruh Yoona untuk meminum obat karena ia pasti sedang sakit.

Di tengah-tengah lagu, dari ekor matanya, Yoona bisa melihat Sehun berjalan dengan langkah-langkah lebar ke arahnya. Tubuh Yoona sedikit kaku, mulai merasakan aura tidak enak yang dikeluarkan kekasihnya itu. Dan ketika ia merasakan tangan seseorang menggenggam tangannya dengan erat, Yoona harus menenangkan dirinya agar tidak gemetaran. Ketika matanya beradu dengan mata Sehun, lutut Yoona seakan-akan meleleh melihat kemarahan dalam kedua mata itu. Uh oh.

“Changmin-hyung, bisa aku pinjam Yoona sebentar?” tanya Sehun dengan rahang mengatup. Changmin terlihat bingung, tetapi ia akhirnya mengangguk. Yoona melempar senyum menenangkan ke arahnya sebelum wanita itu diseret Sehun menjauh dari lantai dansa.

Sehun menarik Yoona ke koridor sepi di dekat toilet. Keadaan di situ gelap, tapi Yoona masih bisa melihat mata Sehun yang seakan-akan ingin menelannya hidup-hidup. Susah payah Yoona menelan ludahnya.

“What the hell was that?!” geram Sehun begitu mereka sampai di ujung koridor. Sehun memojokkan Yoona, mengapit wanita itu di dinding agar ia tidak bisa lari.

Melihat Sehun bereaksi seperti itu, Yoona merasakan emosinya kembali tersulut. “Apa pedulimu? Bukankah kau lebih senang menghabiskan waktu dengan Naeun itu?!”

Selama beberapa detik, kedua insan itu bertukar pandang dengan marah. Hingga akhirnya, Sehun menangkup wajah Yoona dengan kedua tangan dan langsung menyerang bibirnya. Mata Yoona membeliak merasakan bibir Sehun menciumnya dengan kasar. Sehun menciumnya dengan tidak sabar, sama sekali tidak memberikan kesempatan Yoona untuk bergerak.

Dengan segala tenaga yang dipunyainya, Yoona mendorong dada Sehun kuat-kuat. “Fuck you, Sehun! Kau pikir satu ciuman bisa menyelesaikan masalah?!” Yoona mengusap bibirnya yang basah dengan punggung tangan, membuat lipstick merahnya sedikit memudar dan mengotori pipinya.

Sehun terpaku di tempatnya sebelum akhirnya tertawa. Ia tertawa keras dengan mulut terbuka. Mulut Yoona terbuka separuh, tidak mengerti apa yang membuat kekasihnya itu tiba-tiba tertawa. Setelah beberapa detik, Sehun akhirnya berhenti tertawa, tetapi bibirnya masih menyunggingkan senyum. Semua kemarahan dalam matanya hilang seketika, digantikan dengan kelembutan yang Yoona rindukan.

Lipstick-mu menempel di pipi,” Sehun menunjuk pipi Yoona.

Yoona terkesiap. “Oh,” katanya seperti orang bodoh, lalu hendak mengusap pipinya tetapi tangan Sehun menghentikannya. Sebagai gantinya, Sehun mendaratkan ibu jarinya di pipi wanita itu dan menghapus jejak lipstick di sana. Yoona hanya bisa menatap Sehun tanpa bisa berbuat apa-apa. Jantungnya berdentum begitu keras, mengalahkan musik yang memenuhi setiap sudut ruangan.

“Maafkan aku, oke? Aku hanya ingin menggodamu, ingin melihatmu cemburu karena kau jarang sekali menunjukkan perasaanmu. Dan sepertinya aku kelewatan hingga tidak menyadari apa yang kulakukan. Semua yang kukatakan tidak benar. You’re the only one, Yoona. Tidak akan ada yang bisa mengubahnya,” jelas Sehun.

Yoona masih terdiam. Sehun terlihat cemas. Apakah Yoona tidak memaafkannya?

“Kau bodoh!” Yoona tiba-tiba memukul dada Sehun, membuat pria itu terlonjak. “Kau sangat bodoh! Bodoh!” maki Yoona berkali-kali. Wajah Yoona memerah, entah karena merah atau karena malu setelah ciuman tadi.

Sehun menangkap kedua tangan Yoona. Ditatapnya Yoona yang masih menunduk. “Tapi kau memaafkanku, kan?”

Yoona mengangkat kepala. Sehun langsung panik melihat wanita itu menangis. “Yoona-ya,” katanya khawatir.

Yoona menatap Sehun galak. “Jangan pernah lakukan itu padaku! Aku sangat sensitif dengan hal-hal seperti itu! Kau bodoh, Sehun!”

Sehun menghela napas lega. Setidaknya, ia tahu Yoona sudah memaafkannya. Ia melepaskan kedua tangan Yoona, lalu menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Yoona menyurukkan kepalanya ke dada Sehun, menghirup aroma maskulin Sehun dalam-dalam. Tangan Sehun terangkat untuk membelai punggung Yoona, matanya terpejam menikmati kehangatan wanita yang berada di pelukannya.

Namun, tiba-tiba, Sehun teringat sesuatu. Sesuatu yang mengganggunya sejak beberapa jam lalu hingga membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Masih dengan Yoona di dalam pelukannya, Sehun bertanya, “Apa yang kau lakukan dengan Eunhyuk-hyung di ruang latihan?”

Yoona terkikik geli. Suaranya teredam dada Sehun ketika menjawab, “Kami hanya berlatih bersama, tidak lebih. Aku sengaja membuatmu cemburu ketika kau dan anggota EXO lainnya tiba-tiba masuk.”

Sehun menggeram. “Kau benar-benar…”

Yoona melepaskan diri dari pelukan Sehun. Ia membenarkan dandanannya yang pasti terlihat berantakan. Kemudian ia berjinjit sedikit, membuat Sehun terkejut ketika ia tiba-tiba mendaratkan satu kecupan ringan di bibir pria itu.

“Sekarang, bisakah kita kembali ke dalam? Aku ingin menikmati pesta,” Yoona merajuk.

Tanpa diminta dua kali, Sehun langsung menggandeng tangan Yoona. Sebelum ia melangkah, ia menoleh ke arah Yoona. “Kau harus duduk denganku, dan kau juga harus berdansa hanya denganku. Tidak boleh dengan pria lain. Mengerti?”

Yoona tersenyum geli sebelum mengangguk. What a protective boyfriend I have. “Setuju,” katanya akhirnya.

Sehun mengecup puncak kepala Yoona sebelum menggandeng wanita itu ke dalam. Yoona melingkarkan lengannya di lengan pria itu, menyandarkan kepalanya di bahu bidang Sehun dan mendesah, lega semuanya sudah berakhir.

Malam itu, Yoona dan Sehun melanjutkan pesta dengan bahagia.

 

END

93 thoughts on “(Freelance) Green Eyed Monster

  1. Hubungan yoona eonni sama sehun oppa itu emang disetujui sama agensinya? Yoona eonni keterlaluan membalasnya.. Dan terlalu sensitif.. Tapi gapapa sih.. Happy ending.. Gomawo..

    Annyeong^^

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s