[Final] Unbreakable — Chapter Ten

kissmeedeer-unbreakableredo2

Unbreakable – END

Written by elevenoliu

Casts

EXO Luhan // SNSD Yoona // EXO Baekhyun // SNSD Sooyoung

Lee Min Jung as Im Jihyun // Gong Yoo as Im Jinwoo

Kim JoonMyun // Wu Yi Fan

Genre & Rating

Romance-Drama & Rated for 15+

Length

Chapter (2.249 words)

[Poster goes to Haruru98 @ cafeposterart]

[Italic means flashback]

I warn you! Don’t read this if you don’t like the storyline and leave bad comments!

Luhan yang duduk di tengah itu bisa melihat Sooyoung yang sedang mencari ponselnya di bawah dashboard mobil ini. Dahi Luhan mengerut, bahaya jika seperti ini. Dia sedikit memajukan tubuhnya, “Sooyoung, bangunlah. Biar aku saja.”

Sooyoung menggeleng, “Tidak apa. Tidak usah.” Dia tetap meraba bagian bawah dashboard mobil itu. Dia sedikit melirik ke bawah dashboard mobil tanpa melihat jalan. Yoona yang sedari tadi melihat keluar jendela yang berada di kanannya itu tiba-tiba sadar ketika mobil yang mereka tumpangi ini mulai oleng dan masuk ke jalan lawan arah. Sedangkan Luhan yang tengah melihat ke kaca utama mobil ini bisa melihat truk yang melaju cepat ke arah mobil mereka.

“SOOYOUNG!!” Teriak Luhan. Sooyoung langsung menegakkan tubuhnya tapi…..terlambat sudah.

BRAK!!!

Bagian depan mobil itu hancur. Benar-benar hancur. Asap yang berwarna hitam itu mulai menggempul dan keluar dari kap mobil. Orang-ornag yang berjalan di trotoar cukup menganga lebar akan kejadian itu. Mereka berlari ke mobil yang ditumpangi oleh Luhan, Yoona, dan Sooyoung.

Mereka bisa melihat seorang wanita yang duduk tepat di belakang kursi yang kosong. hanya ada lebam di pipi wanita itu yang dimungkinkan karena benturan yang keras di besi pondasi kursi itu.

Mereka mulai menggedor jendela mobil tersebut. Berharap salah satu dari mereka bisa sadar dan membuka pintu mobil tersebut. Mereka semakin panik ketika melihat keadaan wanita yang menyetir cukup parah. Belum lagi pria yang tersungkur di tengah mobil itu, mulutnya mengeluarkan darah segar dan kepalanya terbentur tepat di kaca utama mobil.

“Cepat telepon 911!”

.

.

.

Pintu rumah sakit yang terbuka dengan kencang itu mengagetkan pria berambut hitam yang baru saja melangkahkan kakinya di koridor rumah sakit. Dia menoleh ke belakang, mengecek apa yang membuat pintu rumah sakit itu terbuka sekencang itu. Matanya terbelalak, jantungnya terasa berhenti detik itu juga, tubuhnya melemas. Dia menopang tubuhnya ke dinding dan memberikan jalan kepada tiga ranjang yang tengah didorong oleh para suster.

Pria itu—Baekhyun—mengenal mereka. Mereka yang terbaring di atas ranjang itu dengan darah yang bersimbah di wajah dan tubuh mereka. Luhan, Yoona, dan Sooyoung. Dia menahan salah satu suster yang mengikuti mereka dari belakang. Dengan suara yang bergetar, dia mengeluarkan suaranya, “Me-mereka kenapa?”

“Kecelekaan tak jauh dari sini.” Suster langsung berlalu dari pandangan Baekhyun. Mengejar Luhan, Yoona, dan Sooyoung yang memasuki Unit Gawat Darurat. Baekhyun melemas. Rasanya dia tidak sanggup lagi menopang tubuhnya ini. Lantas, dia menjatuhkan tubuhnya diatas kursi yang terletak disebelahnya. Sungguh, ini diluar dari ekspetasinya.

Baekhyun memegang dada kirinya. Mengapa rasanya sesak sekali? Melihat wanita yang sangat dia cintai tergelatak tak berdaya di atas ranjang yang baru saja melaluinya. Dia langsung bangkit berdiri dan berlari menuju kamar 351. Kamar Im Jihyun dan Im Jinwoo.

.

.

.

Im Jihyun dan Im Jinwoo tersentak ketika pintu kamar mereka terbuka dan Baekhyun muncul dari balik pintu itu. Baekhyun terengah-engah, matanya memerah, peluh mengali dari dahinya, dia melangkahkan kakinya mendekati sepasang suami-istri itu.

Ahjussi, Ahjumma.” Suara Baekhyun bergetar, setetes air mata mengalir di pipinya, “Luhan hyung, Yoona, dan Sooyoung kecelakaan.”

Jinwoo langsung bangkit dari duduknya, “APA?!” Teriakkannya itu mengisi satu ruangan ini. Jinwoo menghampiri Baekhyun, “Dimana mereka sekarang?”

“Mereka ada di Unit—“

“Ayo kita kesana!” Jinwoo memegang lengan kanan Baekhyun namun dia menghentikan niatnya untuk melangkah ketika suara istrinya keluar dari mulutnya, “Jinwoo-ah..” Mata Jihyun sudah berlinang, “Aku harus ikut.” Bendungan dimatanya pun tumpah.

.

.

.

Jinwoo terus bolak-balik di depan pintu Unit Gawat Darurat ini. Dengan mata yang memanas, dia melemparkan pandangannya ke pintu itu dengan penuh harapan. Berharap bahwa semuanya baik-baik saja. Sedangkan Baekhyun tetap duduk di sebelah Jihyun, menjaga wanita paruh baya itu yang sedang kurang sehat.

“Jinwoo-ah, duduklah sebentar.” Ini sudah lebih dari satu jam mereka menunggu di depan ruangan Unit Gawat Darurat ini. Jinwoo menghempaskan tubuhnya di atas kursi dan membuang nafasnya kasar. Bagaimana bisa begini, pikirnya. Dia menutup matanya dengan telapak tangannya, mencegah air mata yang sedari tadi berusaha untuk menerobos untuk keluar. Jinwoo mendongakkan kepalanya dan menarik nafas panjang.

Tiba-tiba pintu Unit Gawat Darurat itu terbuka dan dokter yang memakai masker itu keluar dari ruangan tersebut. Dia berhenti pada tiga orang yang duduk dan menatapnya penuh dengan harapan. Salah satu dari mereka—Jinwoo—berdiri dan menghampiri dokter itu dengan cepat.

“Dokter, bagaimana keadaan anak-anak saya?” Tanya Jinwoo.

“Maaf, apa ini keluarga dari Im Luhan dan Im Yoona?” Tanya dokter itu balik.

Jinwoo mengangguk cepat, “Ne. Aku appa-nya!”

“Kalau Choi Sooyoung?”

Semuanya hening. Mereka diam. Siapa pihak dari Sooyoung? Tiba-tiba sebuah memori terulang di otak Bakehyun begitu saja. Berpura-puralah menjadi sepupuku. Detik itu juga dia berdiri dan mendekati sang dokter.

“Aku sepupunya.”

“Baiklah.” Sang dokter menghelakan nafasnya lalu membuka maskernya, “Keadaan pasien Im Yoona tidak terlalu buruk. Hanya ada beberapa lebam di pundak dan wajahnya. Sedangkan keadaan pasien Im Luhan…” Sang dokter nampak berpikir, dia mengedarkan pandangannya, dahinya berkerut saat itu juga, “Im Luhan sangat parah. Tubuhnya terpental ke depan karena dia duduk di tengah. Saya tidak bisa memastikan keselamatan anak anda.”

Sang dokter langsung memandang Baekhyun, “Choi Sooyoung. Aku tidak yakin dengannya juga. Kami akan melaksanakan operasi kedua malam ini jika dia sudah sadar dan tolong lunaskan administrasi di depan. Pasien akan segera dipindahkan ke kamar inap. Terima kasih.”

“Luhan…” Suara Im Jihyun yang melemah terdengar dari belakang kedua pria itu. Ternyata dia mendengar seluruh penjelasan sang dokter. Jihyun memegang dadanya, sesak rasanya melihat anaknya yang tengah memperjuangkan hidupnya.

“Luhan, apa dia baik-baik saja?” Mata Jihyun memanas. Dia menarik nafasnya, “Kenapa bisa seperti ini..”

.

.

.

Mata Yoona mengerjap. Dia bisa merasakan betapa hangat tangan kanannya. Seperti tengah digenggam oleh seseorang. Dia bisa merasakan rasa ngilu di bagian kanan pundaknya. Dia memejamkan matanya, berusaha mengingat apa yang baru saja terjadi.

“SOOYOUNG!!”

Yang Yoona ingat hanyalah suara teriakkan kakaknya, Luhan. Dia langsung menoleh ke sebelah kiri. Matanya terbelalak, Luhan berada disana. Luhan terbaring lemas dengan kepala yang diperban dan tangannya yang penuh dengan kassa yang menutupi lukanya. Yoona menggerakkan tangan kanannya namun seperti tertahan. Dia menoleh ke sebelah kanannya.

Astaga, Baekhyun. Yoona bisa melihat Baekhyun yang menopang kepalanya dengan tangan kanannya dan tangan kirinya yang terus memegang tangan kanan miliknya. Yoona menghelakan nafasnya lalu tersenyum sekilas. Seandainya dia bisa membalas perasaan Baekhyun, dia akan membalasnya.

Yoona menoleh lagi ke Luhan, matanya mulai berlinang. Sayangnya, Luhan sudah memiliki hati Yoona seutuhnya. Pria ini memang hebat. Yoona menarik tangan kanannya perlahan dari genggaman Baekhyun. Dia menurunkan kakinya terlebih dahulu ke atas lantai lalu menggunakan sandal yang telah disediakan.

Dia mengedarkan pandangannya ke ruangan ini. Dimana appa dan umma? Apa mereka belum tahu? Batin Yoona. Tiba-tiba matanya menangkap sebuah tempat tidur dipojok ruangan dekat jendela. Dia bisa melihat seorang wanita yang terbaring diatas sana. Sooyoung. Dia melangkahkan kakinya mendekati Sooyoung lalu duduk di kursi yang berada tepat di sebelah tempat tidur.

Yoona cukup khawatir melihat keadaan Sooyoung. Kepala Sooyoung terbalu oleh perban. Hidungnya terdapat plester, mungkin hidungnya terbentur dengan setir mobil. Kaki Sooyoung juga di gips, pasti terjepit. Yoona bertanya-tanya, bolehkah aku menangis untuk Sooyoung? Dia masih punya hati untuk Sooyoung. Sahabatnya.

Yoona bangkit dari duduknya lalu mendekati tempat tidur Luhan dan duduk di tepi ranjang itu. Tanpa ia sadari, air matanya berhasil keluar dari matanya secara sempurna. Kenapa disaat semuanya akan baik-baik saja selalu ada hal buruk yang terjadi? Yoona menghelakan nafasnya lalu menggigit bibir bawahnya, “Aku mencintaimu.”

.

.

.

Tiga tahun kemudian…

Seorang wanita keluar dari toko roti di pinggir jalan kota Seoul ini. Dia menjijing sekantung plastic yang penuh dengan beberapa roti dan sebuah tas rilakkuma yang menggantung di bahu kanannya. Dengan senyuman yang merekah dia berjalan di sore hari ini.

Yoona, Im Yoona, dia belajar banyak dari hal-hal yang ia lewati hingga sekarang. Bagaimana untuk berharap, melepas, tersenyum lagi, dan masih banyak hal lainnya. Itu semua berkat ornag yang ada disekitarnya. Terutama kakaknya, LuHan.

Dia mempercepat langkahnya ketika melihat seorang pria yang berada di persimpangan jalan dekat rumahnya. Dia tidak sabar untuk bertemu ornag yang sudah dia rindukan itu. “Hei!” Suara Yoona keluar dari mulutnya dan pria itu langsung menoleh. Senyuman di wajah pria itu merekah ketika melihat Yoona berlari ke arahnya.

“Hei, Yoona!” Dia menyapa Yoona.

“Hei, apa kabarmu, Baekhyun-ah?” Tanya Yoona ketika dia menghentikan langkahnya tepat di sebelah Baekhyun.

“Baik. Bagaimana denganmu?” Tanya Baekhyun.

“Begitulah.” Yoona menghelakan nafasnya. “Ayo berangkat sekarang!” Ajak Yoona sambil menarik lengan kiri Baekhyun menuju ke sebuah terminal bus yang berada di hadapan mereka.

“Hei, Yoong. Aku bawa mobil.”

Wait!” Yoona menoleh dengan dahi yang berkerut, “Mobil?”

Baekhyun terkikik pelan, “Aku sudah membeli mobil baru.”

“Wah! Seharusnya kau mengajakku, siapa tahu seleraku lebih bagus dari padamu.” Ledek Yoona.

Baekhyun tersenyum malu, “Sepertinya ada yang lebih baik seleranya dibandingkan kau, Yoong.” Baekhyun melangkahkan kakinya menuju parkiran umum yang tak jauh dari tempat yang mereka pijaki ini.

“Siapa?” Tanya Yoona, dia berdeham pelan sambil memutar bola matanya, “Apa….kau sudah mempunyai kekasih?”

Baekhyun mengedikkan pundaknya, “Aku tidak tahu. Masih belum pasti.”

“Siapa namanya? Aku boleh tahu ‘kan?” Tanya Yoona tak sabar sambil menyikut lengan kiri Baekhyun.

“Namanya Kim Taeyeon.” Senyuman Baekhyun merekah saat itu juga. Yoona langsung memandang langit yang berwarna oranye kota Seoul ini lalu menghelakan nafasnya, “Seandainya aku juga punya kekasih.”

Baekhyun menoleh ke arah Yoona. Apa wanita ini sudah gila? Well, Yoona sadar ada hawa tidak enak dari sebelah kanannya. Dia langsung terkekeh pelan, “Aku hanya bercanda.”

“Ngomong-ngomong, aku beli roti. Kita bisa makan ini di mobil.” Kata Yoona.

“Aku sudah makan siang.”

“Aku tahu perutmu masih sanggup, Baek.” Dan ucapan Yoona itu dibalas dengan tawa Baekhyun yang pecah.

.

.

.

Mobil baru milik Baekhyun yang berwarna putih itu terparkir di pinggir jalan kecil. Yoona turun dari pintu sebelah kanan dan Baekhyun keluar dari pintu sebelah kiri. Yoona memakai sunglasses-nya. Dia mengedarkan pandangannya. Terakhir dia datang ke tempat ini disaat 100 hari setelah dia tiada.

“Kau masih ingat dimana pemakamannya ‘kan?” Baekhyun berusaha memastikan.

Yoona tersenyum sekilas, “Masih.” Tentu saja, bagaimana bisa dia melupakan pemakaman ornag yang sangat dia sayangi itu?

Yoona melangkahkan kakinya menulusuri pemakaman yang ada di Taman kenangan ini. Yoona menoleh ke kanan dan ke kiri. Mencari pemakaman yang dia cari. Tiba-tiba langkahnya berhenti di sebuah pemakaman yang dia cari sedari tadi.

Dia tersenyum sekilas, “Tiga tahun sudah. Seandainya aku sempat berbicara denganmu,” Yoona menghelakan nafasnya, “Walaupun satu kalimat saja.”

.

.

.

Dokter yang sedari tadi ditunggu oleh Baekhyun, Yoona, dan Im Jihyun maupun Im Jinwoo itu akhirnya keluar dari ruang operasi. Sang dokter membuka maskernya lalu membuang nafasnya kasar, “Maaf. Tapi, kami tidak bisa menyelamatkannya.”

Bagaikan hantaman besar bagi mereka. Tangisan mereka pecah saat itu juga. Terutama Yoona. Dia tidak sempat berbicara padanya. Dia tidak sempat mengatakan bahwa dia masih sayang seperti dulu. Bahkan dia tidka sempat mendengar suara yang keluar dari mulut sahabatnya itu, Choi Sooyoung.

“Sooyoung-ah..” Gumam Yoona pelan. Yoona langsung masuk ke dalam ruang operasi itu. Dia berharap dokter itu hanya bergurau. Bisa saja bukan?

Tapi, dia merasa manusia yang paling bodoh jika berpikir bahwa dokter itu bergurau. Dialah yang tidak bisa menerima kenyataan ketika melihat Sooyoung yang sudah ditutupi oleh kain putih.

Operasinya gagal.

.

.

.

“Sooyoungie, kita sudah datang.” Suara berat milik Baekhyun itu akhirnya keluar dari mulutnya. Dia mengambil buket bunga mawar putih yang sudah dia bawa dari rumah lalu meletakkannya tepat disamping batu nisan milik Sooyoung itu.

Setelah meletakkan buket bunga mawar putih itu, Baekhyun mengedarkan pandangannya dan mendapati seorang pria yang masih memakai baju kantornya dnegan lengkap sambil menggenggam buket bunga lagi.

“Yoong, dia datang.” Ucapan Baekhyun itu membuat Yoona menoleh ke belakangnya. Yoona tersenyum menyambut pria itu. Seminggu sudah mereka tidak bertemu, hanya telepon dan pesan singkat yang menghubungi mereka.

Jagiya!” Seru pria itu pada Yoona. Senyuman Yoona semakin melebar. Pria yang telah mengubah dunianya itu—Luhan—langsung memeluk Yoona dari belakang lalu menghirup rambut Yoona yang harum itu.

“Aku merindukanmu, babe.

“Aku juga.” Yoona memegang lengan Luhan lalu melirik Bakehyun yang tengah menatap mereka dnegan jengkel. Tentu saja, mereka sedang berada di pemakaman. Apa mereka sudah tidak waras lagi?

“Jangan seperti itu , Baek.” Ucap Yoona, “Yang benar itu, kau mengajak Kim Taeyeon kesini.”

“Hah. Untuk apa aku mengajaknya ke pemakaman.” Baekhyun tersenyum, senyuman setan miliknya, “Lebih baik aku membawanya ke pernikahan minggu depan.”

“Berhenti menggodai kami, Baek.” Suara Luhan itu membuat Baekhyun memecahkan tawanya. Baekhyun melangkahkan kakinya mendekati Luhan dan Yoona, “Siapa yang menggodai kalian? By the way, selamat atas pernikahan kalian. Aku ikut senang mendengarnya.”

Yoona dan Luhan. Keduanya tersenyum, “Gomawo.

“Aku boleh pulang lebih dulu ‘kan? Kau sudah bersama Luhan hyung ini.”

Yoona mengangguk, “Hati-hati di jalan.”

“Aku duluan ya. Bye!”

“Bye!”

Luhan langsung membungkukkan tubuhnya lalu meletakkan buket bunga yang dia bawa ke sisi lain batu nisan itu dan tersenyum sekilas, “Kau pasti senang berada di sana, Soo.” Luhan duduk di atas rumput pendek itu lalu memegang batu nisan yang terukir nama Choi Sooyoung, “Aku dan Yoona akan menikah minggu depan. Aku harap, kau bisa berada disana dengan kami, menyelamati kami, menemani Yoona.” Luhan menghela nafasnya pelan, “Kau sudah mengisi setengah hidupku, Soo. Terima kasih sudah berada di sisiku selama bertahun-tahun.”

“Ingat, dia sangat mencintaimu.” Yoona memperingatkan Luhan lalu duduk disebelah Luhan.

Ne. Terima kasih sudah mencintaiku selama itu. Ya, aku tidak tahu berapa lama but, thanks.” Luhan bangkit berdiri lalu mengulurkan tangan kanannya pada Yoona. Yoona menerima uluran itu dan berdiri tepat disebelah Luhan.

Tangan Luhan melingkar di pinggang Yoona sambil berjalan menuju mobil milik Luhan. Mereka tersenyum. Sebuah senyuman yang tak akan pernah lenyap lagi untuk ke depannya. Perjuangan mereka selama ini bukan hal yang sia-sia. Mereka sadar akan itu.

Perasaan yang mereka pertahankan selama ini tidak akan hancur begitu saja hanya karena cobaan yang datang silih berganti dan minggu depan akan menjadi hari bahagia mereka. Hari pernikahan Luhan dan Yoona.

END

Proudly presented by elevenoliu


unbreakable 1

Lu Han

Unbreakable 2

Im YoonA

Unbreakable 3

Byun Baek Hyun

Unbreakable 4

Choi Soo Young

Unbreakable 8

Kim Su Ho

Unbreakable 5

Lee Min Jung as Im Ji Hyun

Unbreakable 6

Gong Yoo as Im Jin Woo

Unbreakable 7

Wu Yi Fan as Kris


Akhirnya! FF ini tamat juga!!!!! KALIAN TAHU GAK SEBERAPA SENENGNYA AKU TAMATIN FF INI! Sumpah menurut aku ini FF berat banget. First time coy! Btw, aku ada ekspetasi banyak bakal END ini sebelum aku tentuin ini sebagai ENDING-nya.

1. Luhan dipindahin ke China dan Yoona tetap di Korea. Terus Yoona dijodohin sama orang lain dan Luhan sama Sooyoung.

2. Luhan sama Yoona nikah. Anak mereka adopsi dan mereka benar-benar saudara kandung.

3. Luhan dikirim ke China /emang paket/ terus pas balik ke Korea, dia diijinin nikah sama Yoonggggiieeee! Ceritanya udah sepupu.

4. Luhan aku bikin meninggal di NZ terus Yoona sama Kris. HAYOOOOOLUUUHHHHH

5. Yoona aku bikin sama Baekhyun. Bener2 aku udah mikir ini lebih dari lima kali but but buttttttt semua yang komen pengen luyoon astaga :”””

6. Luhan aku bikin meninggal di kecelakaan itu.

Jadi, ending-nya lebih baik yang mana kalau menurut kalian? Yang sekarang atau 6 biji yang diatas itu? HAHAHHAHA!! Once again, makasih bgt udah ikutin FF ini. Apalagi yang komen kasih masukkan, kritik, dan segala macem. Apalagi yang ampe LINE/BBM gue /EHEM HEM HEEEEM/ Mba Nikkir sama Mba Karin. Makasih banget yah udah mau ikutin cerita incest abal ini. Thanks banget❤ #muchlove

Kalian tahu? Dulu FF in imau dijadiin Oneshot! Aku gatau jadi apa kalau ini Oneshot dengan 123 halaman dan 31k+ words! Pasti kalian bakal bosen baca FF oneshot sepanjang itu astaga but makasih yang baca yaaa❤

Btw, udah ada yang tahu cast namja di The Wedding Breaker? Kalian harus tahu kalau kalian baca Unbreakable Chapter 8! Mereka itu ‘kunci’ FF itu :3

75 thoughts on “[Final] Unbreakable — Chapter Ten

  1. suka sma ending nya yg ini.. pas d tngah tngah cerita ini sempet ngira akhirnya bkalan baekhyun sma yoona. Dan luhan nya mati tpi ternyata perkiraanku slah🙂

    keep writting

  2. Bagusan ending yg ini thor, suka banget. Baekhyun oppa belum punya pacar sampe sakarang, padahal udah 3 thun berlalu. Sabar yah….<3
    Seruuuu

  3. sumpaah ceritanya baguus
    tp entah kenapa tiap baca ff luyoon nggak pernah dapet feel nya -..-
    tapi ceritanya kereen banget, cobaa aja si luhan di buat koma selama 3 th itu, pasti lebih greget .-.

  4. hei~ authornim, poutpout datang berkunjung (dengan keterlambatannya) wkwk, langsung cus ya ke FFnya, (semoga komen kali ini gak kepotong >_<)

    selamat buat author udah selesain FF ini dengan baik (sangat), yup aku seneng aja akhir yang bahagia buat LuYoon (reader mana sih yang gak seneng sama 'happy end' ??) secara ngikutin dari awal mulai dari luhan yang dilanda kegalauan plus yoona yang jutek abis ke kakak sendiri ehh mereka malah makin deket so itu bikin aku gemes bacanya😄

    emm btw, diantara 6 pilihan itu, aku tertarik loh thor sama yang no.2 *gak.nanya* emm yang no.2 itu kayak lebih ngegambarin luyoon yang incest (OMG, kayaknya aku addicted akut sama FF incest, wkwkwk)

    ditunggu ya FF author (aku tau author punya banyak utang FF /smirk/)
    emm btw author yang bikin FF Wrecking Ball yang castnya sehun-yoona-D.O ?? (kalau gak salah, rada-rada lupa karna kelamaan) emm kalau author yang buat, itu FF masih dilanjut gak thor? (ngikutin itu FF soalnya, hehe)🙂
    oke stop! (daripada ini komen jadi acara tagih-menagih)

    *keep.writing*

  5. huwee ending yang ini ekspektasi aku masa dari awal baca ff ini aku mikirnya ‘semiga endingnya luyoon bukan sodara kandung dan akhirnya bisa bersama dan sooyoung meninggal’ dan ternyata ekspektasi aku bener jadi terharu biru/? haha ditunggu karya karya author selanjutbya FIGHTING

  6. wah aku baru sempet baca endingnya. Gak nyangka yg mati sooyoung kirain luhan *eeehhh. I give 9.8 from 10 for unbreakable!!! I’ll be waiting for ur next ff.

  7. Huuffttt ( -.-)=3, happy ending, sempet mikir Luhan yg meninggal tapi udah feeling jg itu Sooyoung krna kyknya dia bkalan dapet luka yg parah soalnya dia yg nyetir mobilnya.
    Yaaah.. Cepat sekali kau pergi eonnie padahal belum tobat #plakk..
    Mending gini deh endingnya daripada ending alternatif yg 6 itu, paling mending sih yg nomor 3, yg lain kalo gak LuYoon nya gak bersatu, mereka incest…

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s