(Freelance) The Transporter [3]

Transporter 3

The Transporter

by Nikkireed

Casts

Lu Han | Im YoonA

Genre

Action-Romance

Badanku sedikit kaku. Berat disebelah kanan. Sesuatu menindih badanku. Mataku masih belum terbuka sepenuhnya. Sampai keadaan begitu sesak dan aku menyadari hari sudah mulai siang karena semalam tidak ada yang menutup hordeng dan sekarang matahari bisa masuk menyinari tanpa seijinku.

Yoona masih tertidur. Jelas sekali di pelukanku. Entah bagaimana yeoja ini bisa tertidur di bahuku. Dan entah bagaimana aku baru menyadarinya setelah mataku berkerja dengan normal lagi.

Aku ingin bergerak memindahkan Yoona dengan hati-hati tapi ia tertidur dengan pulas dan damai, membuatku tak ingin bergerak membangunkannya.

“Ughhhh, huammh. Jam berapa sekarang?” Yoona terbangun dan mengangkat tangannya dengan bebas.

Aku melihat jam. “Sepuluh tiga tujuh.”

“ASTAGA! Aku belum memberi makan Austin.” Yoona langsung berdiri dengan ekspresi wajah kaget. Matanya sedikit membengkak karena menangis semalam. “awwwwww.” Yoona oleng dan hampir jatuh. Tanganku menangkapnya, menopangnya agar tidak jatuh. Wajah kami hanya berjarak beberapa centi.

Yoona, masih dengan ekspresi wajah kagetnya, tersadar. “Kau tak apa?” tanyaku pelan, masih menopang tubuh kecilnya.

Yoona melepaskan diri dan berdiri. “Gwenchana. Aku harus pulang. Austin menungguku dirumah.” Suaranya melemah seperti keadaannya.

“Siapa Austin? Ni-namjachingu?” tanyaku memancing ingin mengetahui siapa Austin sebenarnya.

Yoona menggeleng. “Aniyeo. Austin anjingku.”

Astaga Luhan, apa hubungannya denganmu? “Lalu kau—“ aku membuka suara dan terpotong karena telepon genggamku berbunyi di saku celanaku. Aku mengangkatnya, “Waeyo?” sambil berjalan meninggalkan Yoona yang masih diruang depan.

Telepon itu berasal dari Ahjussi. Ia mengingatkanku mengenai Yoona. Tentu saja seorang polisi melacak siapa Yoona ini sebenarnya. Anak perempuan satu-satunya pemegang perusahaan casino terbesar di Korea. Ayahnya seorang bandar yang terkenal dengan judinya dan ibunya meninggal setelah melahirkannya.

“Aku mau keluar, Luhan-ah. Aku mau pulang.” Yoona masih mengemis-ngemis padaku untuk mengijinkannya pulang. Ralat : mengantarkannya. Tentu saja aku tidak menyuruhnya mengikutiku sejak insiden bom di mobilku. Ia sendiri yang mengikutiku dan sekarang aku harus mengantarnya pulang, yang benar saja.

Aku ingat semalam Yoona sempat bercerita bahwa ia mencurigai beberapa orang saat ia pulang malam itu. Ia sedang jalan sendirian, ingin pulang setelah dari pesta kelulusan – tentu saja, dress mini hitam dan high-heels – ia memang setengah sadar tapi ia tidak bodoh, instingnya berkata bahwa ada yang mengikutinya dan benar saja, saat ia terbangun ia berada di dalam sebuah tempat yang sempit, gelap dan pengap. Di dalam tas hitam ukuran empat puluh kali lima puluh.

“Mungkin ia target seorang bandar judi yang merupakan musuh ayahnya. Kau harus berhati-hati, Lu. Yoona dan kau dalam bahaya.” Suara telepon terputus mengakhiri percakapanku dengan Ahjussi mengingatku dalam pikiran.

“Aku tidak menyuruhmu mengikutiku. Kau sendiri yang ingin mengikutiku.” Luhan kau dalam masalah besar sekarang, batinku. Yeoja. Bom. Mobil. “Aku bahkan tidak memiliki kendaraan.”

“Aku ada ide.” Yoona menarik tanganku keluar dari apartment menuju lift.

Yoona sedang asik memilih bongeobbang[i] di pinggir jalan, aku berdiri disampingnya mengamatinya memilih. “Aku mau yang ini. Kau mau?” Yoona bertanya padaku sambil menunjuk pada sebuah waffle berbentuk ikan dengan label diatasnya tertulis ‘coklat’ dan tersenyum pada penjualnya. “Bisa tambah eskrim?” tanyanya sebelum berbalik, “Tentu bisa.” Yoona tersenyum kegirangan, “Jeongmal? Aku mau tambah eskrim vanilla.” Yoona menghadap padaku dengan wajah bertanya, “Kau?” – sebelum sempat menjawab, “Dua ya, Ahjumma.” Jawab Yoona sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya pada penjualnya.

Tak lama kemudian Yoona menerima dua tusukan sate bongeobbang lalu diberikannya padaku satu. Yoona langsung melahapnya dengan krim belepotan di mulutnya, “Ini enak sekali. Jjinja aku tak pernah makan bongeobbang seenak ini. Gamshamidda-ya Ahjumma.” Yoona tersenyum, sangat cantik. Fokus Luhan fokus, ini bukan kencan. Kau dan Yoona dalam bahaya.

Aku memberikan uang kepada penjualnya dan kami berlalu pergi.

Saat kami berjalan, aku bisa merasakan ada yang mengikuti kami. Kau dan Yoona dalam bahaya. Aku bisa merasakan ada beberapa pasang mata yang menjaga langkah kami. Aku bisa merasakan ada tatapan licik yang mengarah tertuju pada kami. Yoona yang sedari tadi asik dengan bongeobbang-nya tidak mungkin menyadarinya, kecuali ia seorang bukan manusia biasa seperti aku.

“Yoong, kau mau pulang sekarang?” ajakku dengan tenang, tanganku memegang pundaknya dan sedikit mendorongnya berjalan lebih cepat.

Perhatian Yoona tertarik dengan suaraku, ia menghadap padaku, “Tentu, Austin menungguku dirumah.”

 

[i] Sejenis kue waffle kecil berbentuk ikan dengan berbagai macam isian krim di dalamnya

 

 

Kami berhenti di depan sebuah pagar hitam yang terbuat dari kayu yang asumsiku kayu mahal yang tua dan tinggi untuk melindungi isi di dalamnya, tentu saja bandar judi paling besar di Korea.

Yoona memasukkan kode password tapi tidak ada perubahan. “Ini aneh. Kenapa password-ku tidak bekerja?” Yoona kembali memasukkan kode password tetapi pintu kayu itu masih tertutup rapat.

“Yak! Ini kenapa sih? Kenapa pintunya tidak terbuka?” teriak Yoona memecahkan telinga dengan suara cempreng khasnya sambil menendang pagar kayu itu.

“Mungkin kau salah tekan passwordnya. Coba lagi.” Kataku, sambil menghentikannya menendang-nendang pagar kayu itu, aku heran apakah tidak sakit mengadu kaki dengan kayu.

“Tidak mungkin salah. Ini ada yang aneh, Luhan-ssi. Bahkan aku tidak mendengar suara Austin.” Yoona kebingungan, mengetuk-ngetukan jarinya ke mulut dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak.

“Kau tak akan bisa membuka pintu itu, Nak.” Terdengar suara dari arah belakang kami, reflek aku berbalik dan memasang kuda-kuda melindungi Yoona. Terhitung ada delapan namja dengan pakaian serba hitam dan kacamata hitam, semuanya bertampang seperti bodyguard.

“Siapa kalian?” aku menahan suaraku agar tetap tenang. Yoona mengumpat dibelakang badanku.

“Karena kau, yeoja ini lolos. Karena kau, transaksiku gagal.” Seorang namja berjalan dari arah kiri menuju tengah. Ini namja yang memberikanku paket kotak sepatu itu!

“Kau?” kataku bingung dengan semua ini.

“Luhan-ah. Kau menggagalkan rencanaku. Habiskan mereka.” Perintah namja itu dengan suara kasar.

Enam namja bertampang bodyguard itu langsung menyerangku, sedangkan yang dua menahan Yoona. Aku meninju, memukul, menghajar, menendang, mengerahkan segala kekuatanku melawan enam namja tersebut.

Hingga semua orang itu terjatuh, aku kehilangan jejak namja yang memberikan kotak bom itu padaku. Tersisa dua orang yang menahan Yoona, langsung kuhajar dengan pukulan terakhirku. Aku tidak terlepas dari pukulan mereka semua tentu saja. Delapan lawan satu menyebabkan ujung mata kananku lebam dan beberapa bagian di perut dan kaki nyeri luar biasa. Setelah Yoona lepas, aku menarik tangannya berlari mencari tempat yang aman.

Aku masih sanggup memasukkan password apartmentku dan setelah pintu terbuka, giliran Yoona yang menarik tanganku hingga aku masuk dan setengah memapahku ke sofa.

“Lukamu harus cepat dikompres.” Yoona berbalik setelah memapahku ke sofa yang panjang. Aku bersender dengan kaki diluruskan. Yoona berjalan menuju dapur dan kembali membawa baskom berisi air hangat dan handuk kecil yang entah darimana ia temukan.

“Awwww. Ini sakit.” Erangku, saat tangannya mengompres mata kananku. Bisa dilihat kekhawatiran terpancar dari gerak-geriknya.

“Tahan sedikit.” Dengan wajah serius, tangannya mengompres lukaku.

Aku menahan diri agar tidak mengerang lagi. Tapi semua perhatianku tersita dengan wajah cantiknya Yoona yang berjarak beberapa centi dengan wajahku. Bahkan aku bisa merasakan hembusan nafas cepatnya.

Aku menahan tangan Yoona yang masih menggantung untuk mengompres luka di mataku. Mendekatkan diri untuk meraih bibir Yoona, dengan mata terpejam aku merasakan bibir Yoona di bibirku.

Yoona yang sedikit kaget melepaskan diri, terengah-engah mengambil nafas sambil menatapku lalu tersenyum. Aku membalas senyumannya. Bisa kurasakan sakit di ujung mata kananku sedikit membaik melihat senyumnya.

“Emm, lebih baik aku ambilkan minum.” Yoona hendak bergegas berdiri tapi tanganku lebih cepat menahannya sehingga ia terbanting duduk kembali di sofa, kudaratkan ciuman lembut sekali lagi di bibirnya dan tersenyum, “Gomawo, Yoong.” Yoona tersenyum canggung. Lalu ia berdiri dan berlalu ke dapur.

Mataku sontak terbuka karena ada tangan yang memegang tanganku. Yang kuingat terakhir aku tertidur di sofa ruang depan dan Yoona pergi mencari makan. Aku sempat merasa bersalah karena membiarkan ia pergi sendiri. Apalagi karena statusnya sekarang target seorang namja yang memberikan bom kepadaku. Meninggalkannya pergi sendiri bukanlah pilihan terbaik, tapi itu yang harus dilakukan. Karena aku terlalu lemah dan ia sudah berjanji untuk tidak pergi jauh hanya ke supermarket di samping apartment untuk membeli makan, maka aku menunggu dirumah. Dan aku tertidur tanpa sengaja.

“Kau sudah terbangun?” Tangan Yoona memegang keningku. Lalu dengan telunjuk ia menekan sedikit ujung mata kananku.

“Awwww.” Erangku seperti tadi ia mengompresku.

“Ughhhh. Belum membaik ternyata. Aku membuatkan sup jagung untukmu.” Yoona memberikan semangkuk sup jagung kental padaku.

Aku menatapnya bingung, “Apa orang sepertimu bisa memasak?” Terdengar jelas ada ejekan dalam kalimatku barusan. Aku menerima supnya dan menyendoknya sesuap ke mulutku. Not bad. Enak sekali tapi rasa gengsiku lebih tinggi daripada sup jagungnya. Tanpa ekspresi aku meletakkannya kembali ke meja.

“Yak! Aku sering nonton Food Network. Aku juga sering bereksperimen di dapurku.” Yoona menekan ujung mata kananku membuatku meronta kesakitan.

“Uh awwww! Kau gila? Ini sakit, Yoong.” Aku membuat suara pura-pura kesakitan.

“Ah jjinja, Luhan-ah? Mianhe.” Yoona dengan ekspresi khawatirnya memeriksa ujung mataku, tangannya dengan lembut menekan lukaku.

Aku tersenyum jahil melihatnya khawatir, “Gomawo, Yoona-ya.” Kataku dengan lembut.

“Kau! Pura-pura kesakitan membuatku khawatir. Yakkkk!” Suara Yoona memekik telinga. Bahkan disaat aku kesakitan ia masih sempat menggunakan oktaf tujuh untuk meneriakiku, yang benar saja.

“Aku membuatmu khawatir?” tanyaku hati-hati.

“Tentu saja.” Yoona menjawabnya reflek lalu menutup mulutnya seperti salah bicara. “Aniyeo. Aku merasa bersalah karena aku kau jadi begini.” Suara Yoona pecah lalu ia menunduk.

Dengan telunjuk, aku menuding dagu runcingnya sehingga matanya menatap mataku. “Bukan salahmu, Yoong. Aku sendiri yang terjebak dalam masalah ini.” Suaraku hampir seperti bisikan. Yoona tersenyum, indah sekali. Tahan dirimu Luhan, tahan.

“Baiklah sekarang kita makan.” Yoona bergerak dengan tiba-tiba membuatku kaget dengan perubahan suasana ini. Suara Yoona kembali seperti beberapa menit yang lalu. Yoona meraih mangkuk sup jagung dan memberikannya padaku. Yoona juga mengambil mangkuk supnya, “Selamat makan.”

Aku bisa mendengar suara telepon genggamku berbunyi dan begetar disaku celanaku. Aku tak bisa banyak bergerak karena Yoona tertidur di pelukanku dengan kepalanya bersandar pada bahuku. Aku tidak ingin mengacaukan tidur tenangnya. Melihat Yoona tertidur dengan tenang seperti ini bisa menyihirku untuk melupakan segalanya.

Telepon genggamku kembali berbunyi dan bergetar. Dengan hati-hati aku merogoh telepon genggamku.

Yeobosseo?” suaraku terdengar parau dan aku menyadarinya.

Luhan? Apa kau di tempatmu sekarang? Kau masih bersama Yoona?” suara Ahjussi terengah-engah diujung sana.

Aku melirik Yoona yang tertidur dalam pelukanku, “Ne, Ahjussi. Waeyo?”

Dengar. Sekarang jaringan polisi sedang mengincar ayahnya Yoona karena tuduhan penggelapan uang. Kau harus membantu Yoona mencari ayahnya dan memberitaukan bahwa ia sekarang buronan polisi.” Aku tidak mengerti maksud Ahjussi. Seorang polisi membantu bandar judi untuk meloloskan diri karena tuduhan penggelapan uang. Apakah dunia ini sudah serusak ini?

“Luhan, aku tidak sedang membantu seorang bandar judi. Aku hanya membantu Yoona karena ia kekasihmu. Kau dan Yoona jangan sampai terlibat dalam masalah ini.” Oh yang benar saja! Dari awal aku yang menjebloskan diri pada urusan ini. Melepaskan yeoja cantik dan menukar paket. Jatuh cinta pada seorang anak bandar judi. Sekarang aku lemah karena dihajar beberapa orang yang hampir mencelakaiku.

“Ne, Ahjussi. Arraso. Kirimkan aku datanya. Besok aku bergerak.” Jawaban sempurnaku terputus karena Yoona bergerak dan bangun dari tidurnya. Ia melepaskan diri dari pelukanku.

“Kau telepon siapa jam segini?” Yoona masih dengan mata terpejam dan setengah sadar bertanya padaku.

Aku menggeleng. “Ani. Bukan siapa-siapa. Ayo pindah ke kamar. Kau bisa sakit tulang jika tidur di sofa.” Bisa kurasakan tubuhku sakit di segala bagian. Tapi lebih baik daripada siang tadi. Aku berdiri dan menggandeng Yoona yang masih setengah sadar berjalan menuju kamar.

TBC

Dear all the readers, aku mau jawab beberapa pertanyaan readers nih.
Ada yg komen bilang penasaran Yoona sebenernya siapa kan, nah coba kalian tebak ya hehehe. Awalnya emg aku juga bingung mau kasi Yoona peran apa disini, soalnya dari judul kan lebih fokus ke transporter yg castnya itu namja.
Ada juga beberapa komen yg nanya ini remake film ya? Jawabannya iyah benar sekali. Aku adaptasi cerita ini dari sebuah film hollywood dgn judul yg persis, cuma ada beberapa perubahan dari aku.
Makasih readers buat dukungannya nulis ff jni. I’ll do my best! Still counting ur comments guys. ^^

XOXO, Nikkireed

74 thoughts on “(Freelance) The Transporter [3]

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s