Separation

SEPARATION

A fanfiction by Felicia Rena

.

Casts :

Im Yoon Ah/Lim Yoon Ah | Zhang Yi Xing

Rating : PG 13+

Genre : Romance, Hurt

Length : Oneshoot

Disclaimer :

I do not own anything except storyline. This story is pure fiction. All casts belongs to God.

Storyline and poster by Felicia Rena

Author’s Note : 

FF ini sudah pernah di publish di blog pribadiku dengan cast berbeda. FF ini terinspirasi dari lagu S.M. The Ballad “Breath” (walaupun hasilnya nggak mirip lagunya), tetapi ide dan jalan cerita murni hasil pemikiranku. Di FF ini bakal ada timeline yang lompat-lompat, jadi perhatikan tanggal dan tahun setiap bagian karena tidak ada pemberitahuan flashback.

Hope you’ll enjoy this fanfic ^^

Please don’t be plagiat

.

July 14, 2014 – Changsha, Hunan

“Halo?”

Yoona mematung saat mendengarkan suara seorang laki-laki menjawab panggilan teleponnya. Ia menutup kedua matanya. Suara laki-laki di seberang telepon itu masih sama seperti yang diingatnya, dan yang terus terngiang di telinganya.

“Halo?” Suara laki-laki itu kembali terdengar.

Tanpa terasa, airmata Yoona perlahan jatuh membasahi wajah gadis cantik itu. Ia memegangi dadanya yang tiba-tiba berdegup kencang dan begitu menyesakkan.

“Halo?” ulang lelaki itu.

KLIK

Yoona memutuskan sambungan teleponnya tanpa berkata apa-apa. Tubuhnya mulai merosot ke lantai. Ia menelungkupkan wajahnya di antara lututnya dan menangis tanpa suara.

‘Apa kabar?’, ‘Bagaimana keadaan disana?’, ‘Sudah lama tidak bertemu.’, ‘Maaf baru sekarang aku menghubungimu.’

Entah mengapa kata-kata sederhana seperti itu tidak bisa terucap dari mulut Yoona. Ini bukan yang pertama kalinya. Berkali-kali ia mencoba, namun tetap tidak ada yang bisa ia katakan. Pada akhirnya selalu hanya airmata yang mengalir turun setiap kali laki-laki itu menjawab panggilan teleponnya. Dan entah apa juga yang membuat Yoona akhirnya selalu kembali menekan nomor laki-laki itu.

Yoona mengangkat kepalanya dan menyandarkan punggungnya ke dinding. Matanya terlihat merah dan bengkak karena hari-hari belakangan ini ia habiskan dengan menangis. Kepalanya terasa pening karena terlalu banyak menangis.

Ia tidak pernah merasa serapuh ini. Selama bertahun-tahun, ia selalu berhasil mengatasi rasa rindu yang membuncah dalam dirinya. Ia tidak pernah merasa selemah ini. Mungkin inilah puncaknya, ketika perasaan yang selalu ia timbun sudah waktunya untuk meluap keluar. Ia tidak tahan lagi. Rasa rindu dalam dirinya begitu menyesakkan sampai ia merasa dadanya bisa meledak kapan saja. Ia begitu merindukan laki-laki itu. Laki-laki yang selama enam tahun ini tidak pernah meninggalkan hatinya. Ia sangat merindukan Zhang Yixing.

July 14, 2014 – Cheongdamdong, Seoul

Yixing—atau yang lebih dikenal dengan nama Lay—menurunkan ponsel dari telinganya. Kerutan kecil muncul di antara kedua alisnya. Ini bukan pertama kalinya ia mendapatkan telepon tanpa suara. Ia memang pernah beberapa kali mendapatkan telepon tanpa suara itu, tetapi akhir-akhir ini intensitasnya semakin sering.

Ia berpikir keras. Siapakah kira-kira yang meneleponnya kemudian memutuskan sambungan tanpa berkata apa-apa. Apakah salah satu fans-nya? Tidak. Ia yakin kalau nomornya itu tidak akan tersebar karena ia benar-benar menggunkannya untuk urusan pribadi dan hanya sedikit sekali yang mengetahui nomor itu. Tapi bukankah nampaknya tidak ada yang mustahil untuk sasaeng fans?

Tidak. Sepertinya tidak mungkin. Ya, memang hanya sedikit yang mengetahui nomor itu. Bahkan manager dan membernya pun tidak mengetahui nomor itu. Hanya keluarganya serta satu atau dua teman dekatnya di Changsha, dan—

“Yoona!” Kedua mata Yixing melebar ketika ia mengingat nama itu.

Ia segera meraih ponselnya dan membuka daftar panggilan masuk. Ia berniat untuk menelepon balik siapapun yang meneleponnya tadi. Sayangnya, ketika Yixing melihat di daftar panggilannya, rupanya orang yang meneleponnya tadi menggunakan private number.

Yixing kembali meletakkan ponselnya dan mengerang frustasi. Kenapa baru sekarang nama gadis itu terlintas di otaknya? Padahal selama enam tahun ini ia tidak pernah berhenti memikirkan gadis itu dan terus berharap kalau gadis itu akan menghubunginya suatu hari nanti.

Lim Yoona adalah satu-satunya hal yang disesali oleh Yixing sejak ia meninggalkan negaranya untuk menjalani training di Korea. Ia tidak pernah berhenti menyesali keputusannya meninggalkan gadis itu. Sekalipun sekarang ia sudah berhasil meraih mimpinya—yang menjadi alasannya meninggalkan gadis itu—tetapi bayangan Yoona tidak pernah lepas dari dirinya.

Sampai saat ini, Yixing masih mengingat dengan jelas pertemuan terakhir mereka, yang juga menjadi akhir dari hubungan yang sudah mereka jalin selama dua tahun terakhir. Yoona tersenyum padanya, namun kedua mata gadis itu tidak bisa berbohong. Yixing tidak pernah bisa melupakan sorot mata Yoona yang dipenuhi kesedihan itu. Ia begitu menyukai tawa Yoona yang nyaring, jadi ia benci melihat Yoona sedih atau menangis. Terlebih lagi jika alasan dibalik itu adalah dirinya.

Yixing menghela napasnya. Memikirkan gadis itu membuatnya merasa hampir gila. Ia sangat merindukan Yoona. Tidak pernah sedetikpun selama enam tahun ini ia lewatkan tanpa merindukan seorang Lim Yoona.

September 28, 2008 – Changsha, Hunan

“Aku akan pergi ke Korea.”

Yoona mengangkat kepalanya kaget mendengar ucapan laki-laki itu. Ia menatap laki-laki di hadapannya dengan tidak percaya.

“Apa maksudmu?” tanya Yoona cepat. “Kau bercanda kan?”

Zhang Yixing menggelengkan kepalanya. “Aku tidak bercanda, Yoon.”

Yoona masih menatap Yixing tidak percaya. Kedua matanya seolah menuntut Yixing untuk memberikan penjelasan.

“Aku pernah mengatakan padamu kalau aku ingin menjadi seorang entertainer kan? Aku mengikuti audisi untuk menjadi trainee di sebuah agensi di Korea dan aku diterima,” jelas Yixing.

“Kenapa harus di Korea? Kalau kau ingin menjadi seorang entertainer, kau bisa melakukannya disini!” seru Yoona.

 “Aku tahu. Aku tahu, Yoon. Tapi—kau tahu kan, Korea Selatan memiliki industri hiburan yang luar biasa. Aku merasa aku bisa jauh lebih baik disana. Ini adalah kesempatan yang bagus. Aku harap kau bisa mengerti, Yoon,” ucap Yixing dengan tatapan menerawang.

 “Kapan—“ Yoona bertanya dengan suara tersendat.

“Bulan depan,” jawab Yixing sambil mendesah. “Aku akan berangkat setelah selesai mengurus semua yang diperlukan.”

“Aku—aku tidak ingin berpisah denganmu, Yixing-ah,” lanjut Yoona dengan suara lirih. Airmata mulai menggenangi pelupuk matanya.

Yixing menatap Yoona sedih. Ia juga tidak ingin meninggalkan Yoona, tetapi kesempatan yang ia dapatkan juga terlalu sayang untuk di sia-siakan. Ia sudah lama memimpikan hal itu dan ketika kesempatan itu datang, ia tidak mungkin melepaskannya begitu saja.

“Kita masih bisa tetap berhubungan,” ucap Yixing pelan. Ia menyentuh tangan Yoona dan menggenggamnya erat. “Aku tidak ingin putus denganmu.”

Yoona menatap Yixing dengan kedua matanya yang masih memerah. “Apakah itu mungkin?” tanyanya.

“Tentu saja,” sahut Yixing menenangkan. Tangannya bergerak untuk mengusap pipi Yoona yang sudah basah karena airmata. “Jangan menangis lagi, kumohon. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri kalau kau tidak berhenti menangis karena aku.”

“Aku tidak ingin berpisah denganmu,” bisik Yoona pelan, mengulangi kata-kata yang tadi sudah diucapkannya.

“Aku tahu,” balas Yixing sambil tersenyum lembut. “Aku juga tidak ingin berpisah denganmu. Maafkan aku.”

Yoona bergerak memeluk Yixing. Tangannya mencengkeram bagian belakang seragam Yixing erat-erat seolah tidak ingin melepaskannya lagi. Yixing melingkarkan tangannya pada pinggang ramping Yoona dan balas memeluknya. Ia menepuk pelan punggung gadis itu, berharap bisa memberikan ketenangan untuknya. Ia bisa merasakan keresahan Yoona saat ini. Itu juga yang sekarang sedang dirasakannya.

“Aku mencintaimu,” ucap Yoona dengan suara nyaris menyerupai bisikan.

“Aku juga mencintaimu,” sahut Yixing.

October 20, 2009 – Changsha, Hunan

Yixing menutup kedua matanya, mencoba untuk menerima keputusan yang telah di ambil oleh gadis yang sekarang berada di hadapannya. Kegelisahan dan ketakutan yang dirasakannya selama beberapa hari menjelang kepergiannya ini akhirnya terbukti. Yoona memilih untuk mengakhiri hubungan mereka.

“Kita tidak harus mengakhiri semuanya, Yoon,” desah Yixing yang belum membuka matanya.

“Maafkan aku. Aku—aku tidak bisa menjalaninya,” ujar Yoona dengan kepala tertunduk. “Aku tidak sanggup menjalani hubungan jarak jauh ini.”

“Lagipula—” Yoona melanjutkan. “Menjadi seorang trainee membutuhkan konsenterasi dan tentunya menyita waktu dan perhatianmu. Aku—aku tidak ingin mengganggumu.”

“Apa yang kau katakan?” Yixing mulai merasa gusar. “Bagaimana mungkin kau bisa berpikir kalau kau akan menggangguku? Aku membutuhkanmu, Yoon.”

Yoona meraih jemari Yixing dan menelusupkan jemarinya sendiri di sela-sela jari laki-laki itu.

“Aku selalu ada untukmu,”  bisiknya. “Pergilah dan kejar mimpimu. Aku akan selalu mendukungmu, kau tahu itu.”

“Aku hanya—maaf—aku benar-benar tidak bisa menjalaninya. Ini terlalu berat untukku,” lanjut Yoona.

“Baiklah,” kata Yixing akhirnya. “Aku mengerti. Aku akan menerima keputusanmu ini.”

“Tapi ingatlah satu hal,” sambungnya. Ia menatap Yoona dalam-dalam. “Suatu saat nanti, setelah aku berhasil meraih mimpiku, aku akan kembali kesini. Dan saat itu, jika perasaan kita belum berubah, maukah kau mempertimbangkan untuk kembali padaku? Jika saat itu datang, maka tidak ada lagi yang bisa memisahkan kita.”

Yoona balas menatap Yixing dengan tatapannya yang sendu. Perlahan seulas senyum terukir di bibirnya.

“Aku akan menunggu datangnya saat itu,” jawabnya.

Yixing mengeluarkan secarik kertas dan memberikannya pada Yoona. Gadis itu menerimanya dengan bingung.

“Itu nomor ponselku di Korea. Aku membelinya saat pergi ke Korea minggu lalu,” jelas Yixing menjawab tanda tanya yang dilayangkan Yoona padanya.

“Berjanjilah kau akan menghubungiku,” ujar Yixing.

Yoona hanya tersenyum sambil memasukkan kertas itu ke dalam tasnya. Ia tidak menjanjikan apapun pada Yixing.

July 18, 2014 – Cheongdamdong, Seoul

Yoona tidak pernah menghubunginya. Setiap hari, setiap waktu, Yixing selalu menunggu telepon dari gadis itu. Ia sudah mencoba menghubungi Yoona, tetapi nomornya tidak pernah aktif. Yixing tidak tahu lagi bagaimana caranya menghubungi Yoona. Mereka kehilangan kontak sejak Yixing melangkahkan kakinya memasuki pesawat yang membawanya ke Korea.

Dering ponsel membuat Yixing tersentak. Ia menoleh mencari sumber suara dan memastikan ponsel mana yang mendapatkan panggilan.

Private number.

Tanpa menunggu lagi, Yixing langsung menekan tombol jawab dan menempelkan ponsel itu di telinganya.

“Halo!” jawab Yixing.

Lagi. Seperti sebelum-sebelumnya, tidak ada jawaban di seberang sana. Namun kali ini, Yixing semakin yakin kalau Yoona-lah yang berada di balik telepon itu.

“Yoon,” panggil Yixing pelan. “Yoon, ini kau kan?”

July 18, 2014 – Changsha, Hunan

Yoona kembali menatap ponselnya. Jemarinya mulai bergerak dan melakukan panggilan pada nomor di belahan negara lain. Ia menempelkan ponsel itu ditelinganya, menunggu seseorang menjawab panggilannya.

“Halo!” Suara itu kembali terdengar.

Yoona menutup matanya mendengar suara itu. Hatinya terasa tenang setiap kali mendengar suara itu. Mendengar desahan napas yang keluar dari laki-laki itu. Walaupun ia harus membayarnya dengan rasa rindu yang semakin membuatnya sulit untuk bernapas.

“Yoon.” Yoona membuka kedua matanya lebar-lebar mendengar laki-laki itu memanggil namanya.

“Yoon, ini kau kan?”

Yoona menutup mulutnya, mencegah supaya suara tangisnya yang kembali pecah tidak terdengar sampai seberang sana.

“Lama tidak bertemu,” lanjut Yixing di telepon. Laki-laki itu sepertinya tidak peduli apakah Yoona akan menyahutnya atau tidak. Dan nampaknya ia memang begitu yakin jika Yoona-lah yang sedang meneleponnya saat ini.

Yixing berusaha menjaga supaya suaranya terdengar biasa, namun Yoona mengetahui perbedaan suara Yixing yang sedikit bergetar saat ini.

Yoona masih tetap pada posisinya, tidak bergerak sedikitpun. Ia sama sekali tidak menyangka jika Yixing bisa menebak bahwa dirinyalah yang menelepon. Padahal sebelumnya Yixing tidak pernah berkata apa-apa

Selama beberapa saat, mereka hanya terdiam. Tidak ada lagi yang bersuara. Mungkin Yixing menunggu Yoona untuk berbicara, tetapi gadis itu tetap diam. Hanya suara desahan napas mereka yang terdengar.

Yoona ingin sekali menutup teleponnya seperti sebelumnya, tetapi sesuatu menahannya kali ini. Ia tidak bisa menutupnya begitu saja. Berkali-kali juga ia membuka mulutnya untuk mengucapkan sesuatu, tetapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.

“Yoon.” Yixing kembali memanggil Yoona. “Aku akan segera menemuimu. Maukah kau menungguku?”

Yoona menggigit bibirnya. Jantungnya berdegup kencang. Apa yang dimaksud oleh laki-laki itu? Menemuinya? Apakah itu artinya—

“Kuharap kau masih mau bertemu denganku. Aku berjanji, tidak akan lama lagi. Maaf karena aku sudah membuatmu menunggu lama,” lanjut Yixing.

“Aku harus pergi sekarang. Terima kasih, aku senang sekali bisa berbicara denganmu.” Yixing terdiam sesaat sebelum menambahkan, “Aku merindukanmu.”

Yoona memegangi dadanya ketika sambungan telepon terputus. Berbeda dengan biasanya, kali ini bukan rasa sesak yang menyakitkan yang memenuhi rongga dadanya. Bahagia. Mendengar Yixing berbicara padanya seperti itu membuatnya merasa sangat bahagia.

Enam tahun berlalu, namun perasaannya pada Yixing tidak pernah pudar. Enam tahun mereka tidak pernah bertemu, namun rasanya cinta yang dimiliki Yoona justru semakin kuat. Apakah kali ini Yixing benar-benar akan menemuinya?

July 26, 2014 – Changsha, Hunan

Yoona tersenyum menatap poster besar yang terpasang di salah satu jalanan Changsha. Poster itu menampilkan foto sebelas orang laki-laki yang tergabung dalam grup bernama EXO. Besok malam, boyband asal Korea Selatan itu akan menggelar konser perdana mereka di Changsha.

“Apa kau benar-benar akan menemuiku?” gumam Yoona. Tatapannya tidak lepas dari foto seorang laki-laki yang merupakan member dari boyband tersebut.

Ini bukan pertama kalinya EXO mengunjungi Changsha. Sebelumnya, mereka sudah berkali-kali menginjakkan kaki di daerah kelahiran salah satu member mereka, Lay. Tetapi menurut yang Yoona dengar, jadwal mereka begitu padat sehingga mereka bahkan tidak memiliki waktu untuk sekedar menikmati keindahan yang ditawarkan Changsha. Lay—Yixing—bahkan tidak bisa pulang ke rumahnya untuk sekedar melepas rindu dengan keluarganya.

Dengan senyum yang masih mengembang, Yoona berjalan memasuki sebuah kafe yang sudah menjadi langganannya sejak masih SMP dulu. Yoona sangat suka minum teh dan kafe itu memiliki rasa teh paling enak di Changsha. Kafe itu juga menjadi salah satu tempat kenangannya bersama Yixing.

Yoona menyebutkan pesanannya lalu membawa pesanannya dan memilih tempat duduk di pojok dekat jendela. Yoona menyesap teh-nya. Sesekali ia akan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan kafe yang tidak terlalu besar itu. Kadang ia juga akan menatap lama-lama bangku kosong di hadapannya. Ditempat itulah Yixing biasanya duduk bersamanya.

Yoona memalingkan wajahnya melihat ke jalanan diluar. Ia kembali membayangkan ketika dirinya dan Yixing masih bersama menyusuri jalanan diluar sana. Senyum kembali terukir di wajah cantik gadis bermarga Lim itu. Rasanya sudah lama sekali ia tidak mengenang masa-masa itu dengan senyum seperti ini.

Yoona baru akan kembali menghadapi teh-nya ketika matanya menangkap sosok seorang laki-laki melintas tepat diluar jendelanya. Yoona tertegun menatap punggung laki-laki diluar itu. Jantungnya tiba-tiba berdebar dengan sangat kencang. Laki-laki itu memunggunginya dan Yoona tidak merasa mengenal seseorang yang berpotongan seperti itu. Tetapi mengapa rasanya Yoona begitu mengenal laki-laki itu?

Laki-laki diluar itu menolehkan kepalanya menatap jalan raya, tampak sedikit ragu saat melangkahkan kakinya dua kali kemudian berlari meyeberang. Seketika itu juga Yoona berdiri dari tempat duduknya. Ia mungkin tidak mengenali potongan laki-laki itu, tetapi ia tidak pernah melupakan cara laki-laki itu berjalan dan berlari.

Dengan cepat Yoona berlari keluar kafe dan mengikuti jejak laki-laki itu. Ia tidak mempedulikan tatapan heran orang-orang karena berlari dengan masih menggunakan heels. Ia juga tidak menoleh ketika menabrak beberapa pejalan kaki. Yang ada dalam pikirannya hanyalah menemukan laki-laki itu.

Yoona berlari ke segala tempat yang bisa dijangkaunya, yang mungkin dikunjungi oleh laki-laki itu. Sayang hasilnya nihil. Ia tidak menemukan laki-laki itu dimanapun. Yoona mendesah kesal. Ia mulai menyerah dan memutuskan untuk kembali saja ke apartemennya.

Jarak apartemennya tidak jauh lagi dari tempat ia berada sekarang, maka ia memutuskan untuk melanjutkan dengan berjalan kaki saja. Yoona bahkan tidak tahu sudah sejauh mana ia berlari tadi, tetapi jika melihat jarak kafe itu dengan apartemennya, maka ia berlari sudah cukup jauh untuk bisa memenangkan medali olimpiade.

Hari mulai gelap saat Yoona berjalan pulang. Lampu-lampu di sepanjang jalan sudah dinyalakan, termasuk lampu di depan gedung apartemen Yoona yang sudah terlihat di depan sana.

Yoona tidak memperhatikan sekelilingnya. Ia berjalan lunglai dengan kepala tertunduk. Ia sudah melepas heels-nya dan menjinjingnya.

“Lim Yoona.”

Yoona berhenti berjalan ketika mendengar suara itu. Suara yang sama dengan yang beberapa hari lalu didengarnya melalui telepon. Suara yang sama yang selalu terngiang di benaknya selama enam tahun ini. Suara yang sama yang dulu selalu memanggilnya seperti itu. Tidak berubah sedikitpun. Yoona masih mengingatnya dengan jelas.

Yoona mengangkat kepalanya. Di depan gedung apartemennya, laki-laki yang tadi dicarinya sedang berdiri menatapnya. Laki-laki itu memakai kacamata dan topi yang menghalangi Yoona untuk melihat wajahnya dengan jelas, tetapi ia tidak perlu melihat wajahnya untuk mengenali siapa sebenarnya lelaki itu. Yoona mengerjapkan kedua matanya ketika Yixing tersenyum lembut padanya, memperlihatkan lesung pipinya yang mempesona. Lelaki itu terlihat jauh lebih dewasa dari terakhir kali mereka bertemu. Ketika Yixing berjalan mendekatinya, Yoona menyadari kalau Yixing juga bertambah tinggi.

“Yixing—.”

Yixing tersenyum mendengar Yoona memanggil namanya. Ia berhenti tepat di depan gadis itu dan menatapnya lembut, tetapi kemudian ekspresi wajahnya berubah kesal.

“Aku sudah mencarimu kemana-mana. Aku pergi ke rumahmu, tetapi ternyata kau sudah pindah. Bagaimana mungkin kau tidak memberitahuku soal itu? Kenapa kau tidak memberiku kabar sama sekali, padahal aku sudah berkata aku akan kembali kesini? Apa kau tahu kalau aku sudah mencarimu kemana-mana? Aku mendatangi semua tempat yang dulu sering kita datangi berdua tetapi kau tidak ada dimanapun. Kau ini sebenarnya kemana?” cecar Yixing.

Yoona kembali mengerjapkan kedua matanya mendengar omelan panjang lebar dari Yixing. Laki-laki itu bicara dengan cepat dan tanpa jeda. Yoona sampai harus fokus untuk mendengar dan mencerna setiap ucapannya. Yixing boleh saja terlihat pendiam dan jarang bicara, tetapi sekali ia mengomel, mulutnya tidak bisa berhenti mengeluarkan suara.

“Kenapa—“ Yoona kembali bersuara. “Lalu kenapa kau bisa ada disini?”

Tatapan Yixing kembali melembut. “Qian,” jawabnya.

Song Qian adalah sahabat Yoona sejak masih kecil.

“Apa kau tahu perjuanganku untuk mendapatkan alamat ini dari Qian? Saat pertama melihatku, ia langsung menyerangku dan meneriakiku. Ia memarahiku habis-habisan, kau tahu? Aku sampai harus memohon-mohon dan meyakinkannya untuk mendapatkan alamatmu ini. Akhirnya ia mau memberikanku alamatmu tetapi tidak mau memberitahukan nomor apartemenmu, jadi aku menunggumu disini,” jelas Yixing dengan mimik setengah kesal setengah geli.

Alih-alih tertawa melihat ekspresi lucu Yixing, Yoona justru tercengang mendengarkan penjelasan pemuda itu. Ia masih tidak percaya kalau Yixing kini berdiri di hadapannya.

“Yoon?”

Yoona tersentak kaget ketika Yixing menggerakkan tangannya di depan wajahnya sambil memanggil namanya. Laki-laki itu terlihat heran dengan sikapnya yang seperti orang bingung.

“Kau—apa kau baik-baik saja?” tanya Yixing dengan nada khawatir.

“Ya. Aku baik-baik saja,” jawab Yoona. “Aku—aku hanya masih tidak percaya kalau kau sekarang berdiri di depanku.”

Yixing tersenyum geli mendengar penuturan Yoona. Ia mengangkat tangannya dan mengacak-acak rambut gadis itu.

“Astaga! Ini benar-benar aku. Zhang Yixing. Apa kau masih tidak percaya?” ujar Yixing.

Yoona menatap Yixing cukup lama, kemudian sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman. Yixing benar-benar berdiri di hadapannya. Yixing sudah kembali. Rasanya ingin sekali Yoona melompat memeluk laki-laki itu.

“Hei,” panggil Yixing. “Apa kau masih ingat janji kita dulu?”

Yoona mengerutkan keningnya. “Janji apa?” tanyanya.

“Kau melupakannya?” Yixing menatap Yoona tidak percaya. “Kau berjanji untuk kembali padaku saat aku kembali kesini.”

“Aku tidak pernah berjanji seperti itu!” sahut Yoona. “Waktu itu kan kau bilang kalau perasaan kita belum berubah. Aku tidak pernah berjanji untuk kembali padamu.”

“Sama saja. Aku yakin perasaanmu padaku belum berubah,” timpal Yixing penuh percaya diri.

“Huh! Kau ini percaya diri sekali? Bagaimana kau bisa tahu kalau perasaanku belum berubah padamu?” tanya Yoona.

“Karena perasaanku padamu belum berubah,” sahut Yixing cepat.

Yoona terdiam mendengar jawaban Yixing. Laki-laki itu menatapnya dalam-dalam, sama seperti ketika ia mengatakan hal yang sama enam tahun yang lalu. Yoona menatap wajah serius itu tanpa bergerak.

“Jadi—“ Yixing meraih tangan Yoona dan menggenggamnya, memberikan kehangatan yang segera menjalar ke seluruh tubuh Yoona. “Apakah kau akan kembali padaku?”

Yoona menggertakkan giginya kesal. Ia melepaskan tangan Yixing yang menggenggam tangannya, kemudian mulai memukuli laki-laki itu.

“Sakit! Apa yang kau lakukan?” jerit Yixing yang berusaha menghindari kepalan tangan Yoona yang mengincar tubuhnya.

“Kau! Dasar bodoh! Aku sudah menunggumu selama enam tahun! Apa kau tidak tahu betapa tersiksanya aku selama enam tahun ini? Beraninya kau masih bertanya seperti itu? Apa kau benar-benar bodoh, hah?” seru Yoona nyaring.

Yixing akhirnya berhasil menangkap pergelangan tangan Yoona, menghentikan usaha gadis itu untuk mendaratkan pukulannya ke bagian tubuh Yixing manapun yang bisa dicapainya. Yoona mendongak dan menatap Yixing kesal, tetapi kemudian tatapan itu melembut.

“Aku merindukanmu,” bisik Yoona.

Yixing menarik Yoona kedalam pelukannya. “Aku juga merindukanmu. Aku sangat sangat merindukanmu, kau tahu?”

“Kau adalah satu-satunya yang aku sesali dari keputusanku untuk pergi ke Korea. Aku tidak pernah berhenti menyesal berpisah darimu,” ujar Yixing. “Tetapi kau juga yang membuatku bertahan untuk meraih mimpiku disana. Karena aku tidak ingin kembali padamu dengan tangan kosong dan membuat perpisahan kita menjadi sia-sia. Jika aku gagal, bagaimana aku akan menghadapimu nanti?”

Yoona tersenyum kecil mendengar cerita Yixing. Ia mengeratkan pelukannya pada laki-laki itu, menghirup aroma yang tidak berubah sejak pertama kali ia menghirupnya.

“Kita tidak akan berpisah lagi. Aku berjanji. Walaupun aku masih harus kembali ke Korea, tetapi aku tidak mau lagi berpisah darimu. Jangan pernah mengatakan kalau kau ingin berpisah lagi dariku! Kau mengerti?” ucap Yixing setengah mengancam.

Yoona terkikik geli. Yixing-nya sudah kembali sesuai janjinya, dan ia tidak akan pernah melepaskannya lagi.

“Tidak akan. Aku tidak akan melepaskanmu lagi, apalagi kau sekarang sudah menjadi seorang artis terkenal. Bagaimana mungkin aku begitu bodoh untuk melepaskanmu yang tergila-gila padaku?” gurau Yoona.

Ya! Lim Yoona!”

The End

Please leave your comment

NB: Kalau ada readers yang menemukan typo, bisa kasih tau lewat komen ya ^^

28 thoughts on “Separation

  1. mempertahankan perasaan selama 6 tahun pasti sulit, keren
    jarang ada ff castnya yoona sama lay, jempol deh buat author😀

  2. hei~ jarang baca FF LaYoon, dan pas baca ini FF, gak nyesel banget dehh, walaupun pas diawal rada nyesek karna Lay harus pergi, tapi diakhir LaYoon bahagia, hehe..

    ditunggu karya YoongEXO lainnya^^
    semangat >< keep.writing

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s