Beautiful Ghost – Chapter 15

bg_14

Beautiful Ghost

by cloverqua | main cast Park Chanyeol – Im Yoona

other cast Byun Baekhyun – Oh Sehun – Seo Joo Hyun – Huang Zhi Tao – Kris Wu

genre Comedy – Fantasy – Romance | rating PG 15 | length Chaptered

disclaimer This fanfiction is purely my own. Cast belong’s God. I just borrowed the names of characters and places. Don’t plagiat this FF! Please keep RCL!

Happy reading | Hope you like it

2014©cloverqua

[Poster by ladyoong’s art]

[Terinspirasi dari drama korea 49 days, tapi dengan alur dan cerita yang berbeda]

 

.

.

.

“Kau mau kemana, hyung?

Chanyeol yang sedang mengenakan jaketnya, hanya tersenyum saat Sehun bertanya padanya. “Aku mau keluar sebentar.”

“Kemana?” tanya Sehun penasaran sambil mengkerutkan dahi. Sesekali ia meneguk air putih yang sedang dipegangnya.

“Ke rumah Yoona,” jawab Chanyeol kali ini wajahnya tampak bersedih. “Aku ingin meminta maaf padanya, soal ciuman itu.”

Wae?” Sehun terlihat kaget dengan keputusan Chanyeol. “Apa kau mau menyerah? Kau ingin melepaskannya dan merelakan dia untuk Baekhyun-hyung?

Helaan nafas panjang kembali keluar dari Chanyeol. Ia yang semula sudah siap untuk pergi, kembali duduk di sofa ruang tengah. Wajahnya terlihat frustasi. Ia mengacak-acak rambutnya dan mendesah kasar. Sehun tertegun, tak pernah ia melihat kakak sepupunya tampak kacau seperti ini.

“Entahlah, Sehun. Aku tidak tahu apakah yang kulakukan ini benar,” ujar Chanyeol dengan kepalanya yang menunduk. “Rasanya aku sudah tidak kuat lagi, Sehun. Aku benar-benar lelah, sangat lelah. Melihat mereka berdua datang dan Baekhyun mengatakan bahwa mereka sudah resmi menjalin hubungan, hatiku sakit. Bahkan yang lebih menyakitkan, saat aku memandangi Yoona, dia langsung mengalihkan pandangannya. Dia tidak lagi terbuka seperti sebelumnya. Seolah tidak mau menatapku, Sehun. Aku yakin perubahan sikapnya itu semenjak aku menciumnya.”

Hyung . . .”

“Ah! Aku benar-benar bodoh!” runtuk Chanyeol. “Kenapa aku melakukannya? Kenapa aku tidak bisa mengendalikan diri? Kenapa?!”

Sehun berjalan mendekati Chanyeol. Ia menepuk pundak pria itu berkali-kali, mencoba menenangkan suasana hati kakak sepupunya.

“Sudah tidak ada harapan lagi, Sehun. Aku harus merelakannya,” lanjut Chanyeol. “Karena itulah, agar aku tidak terbebani dengan rasa bersalahku atas sikapku kemarin, aku harus meminta maaf padanya.”

“Kau yakin dengan keputusanmu itu?” tanya Sehun sekali lagi.

Chanyeol menoleh ke arah Sehun. Sorot matanya terlihat sendu. Sebenarnya pria itu belum yakin sepenuhnya dengan keputusan tersebut. Namun, demi persahabatannya dengan Baekhyun, keputusan itu memang harus diambilnya.

“Aku sudah yakin, Sehun. Seperti apa yang pernah kukatakan, aku tidak ingin mengkhianati persahabatanku dengan Baekhyun,” jawab Chanyeol.

Sehun menghela nafas. Ia tahu, sulit bagi Chanyeol untuk mengambil keputusan berat tersebut. Ia biarkan Chanyeol beranjak dari sofa dan pergi melewatinya begitu saja. Sehun menatap punggung Chanyeol sampai tak terlihat lagi. Pemuda itu merasa kasihan padanya. Ia ingin kakak sepupunya itu bersatu dan hidup bahagia dengan Yoona. Tapi, apa yang diharapkannya tidaklah semulus yang ia kira. Fakta bahwa Chanyeol sangatlah setia kawan memang tidak terbantahkan. Jelas jika Chanyeol akhirnya memilih untuk melepaskan Yoona demi sahabatnya sendiri.

Setelah masuk ke dalam mobil, Chanyeol segera melesat menuju rumah Yoona. Beruntung ia sempat menanyakan alamat rumah Yoona pada Seohyun beberapa waktu lalu. Mungkin ini kesempatan terakhir yang bisa dilakukan Chanyeol, untuk memperbaiki semua keadaan dan mengembalikannya seperti semula.

Tak butuh waktu lama bagi Chanyeol untuk tiba di rumah Yoona. Hanya membutuhkan waktu kurang dari 30 menit. Chanyeol memang sengaja memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.

Mobil Chanyeol berhenti di depan sebuah rumah yang cukup mewah. Chanyeol mengatur nafasnya dan suasana hati yang tiba-tiba gugup. Ia segera turun dari mobil lalu berjalan menuju pintu rumah. Tangannya perlahan menekan bel rumah. Chanyeol menunggu dengan raut wajahnya yang tegang.

KLEK! Pintu perlahan terbuka dan terlihat Tuan Im datang menghampirinya.

“Chanyeol-ssi?” Tuan Im menatapnya dengan raut kaget.

Chanyeol hanya tersenyum tipis dan memperhatikan sekeliling. “Ahjussi, maaf jika aku mengganggu. Aku hanya ingin bertemu dengan Yoona. Apakah dia ada?”

“Ah, Yoona. Dia—” Mendadak raut wajah pria paruh baya itu terlihat cemas.

Chanyeol mengkerutkan dahinya. “Ada apa, ahjussi?

“Sebenarnya aku sedang mencarinya. Aku pergi ke ruang makan untuk memeriksa makan malam, Yoona kutinggal di ruang tengah. Tapi saat aku kembali dia tidak ada. Aku sudah berkeliling ke seisi rumah tapi belum berhasil menemukannya,” jelas Tuan Im.

“Benarkah?” Chanyeol ikut merasa cemas mendengarnya. “Biar aku juga membantu mencarinya, ahjussi.”

Tuan Im mengangguk. Keduanya pun berpencar untuk mencari keberadaan Yoona yang tiba-tiba menghilang. Sementara Tuan Im masih mencari di dalam rumah, Chanyeol memilih area luar rumah. Pria itu berjalan menyisiri taman. Matanya masih fokus mencari sosok wanita itu, namun ia belum berhasil melihatnya. Hati Chanyeol kian diliputi perasaan cemas.

“Yoona,” Chanyeol mendesah pelan dan kembali berjalan. Kali ini ia melangkah menuju kolam renang yang lokasinya tak jauh dari taman.

Saat Chanyeol tiba di kolam renang, ada sesuatu yang terlihat di kolam renang. Chanyeol penasaran. Ia berjalan mendekati kolam renang, mencoba melihatnya dari jarak terdekat.

Seketika mata Chanyeol terbelalak, ketika meyakini jika apa yang dilihatnya adalah sosok wanita yang sedari tadi dicarinya.

“YOONA!”

Tanpa pikir panjang, Chanyeol langsung terjun masuk ke dalam kolam renang. Ia berenang secepat mungkin ke bagian tengah.

BYUR! Tuan Im yang baru sampai di taman, terkejut begitu mendengar suara dari arah kolam renang. Ia pun berlari menuju tempat sumber suara. Tuan Im tak dapat lagi menyembunyikan raut kagetnya saat mendapati Chanyeol sudah berada di dalam kolam renang untuk menyelamatkan Yoona yang diketahuinya dalam kondisi tenggelam. Dengan hati yang diliputi perasaan was-was, pria paruh baya itu hanya bisa menunggu di tepi kolam renang.

Setelah menghabiskan waktu selama hampir 10 menit, Chanyeol berhasil membawa Yoona kembali ke atas permukaan. Wanita itu segera dibaringkan di tepi kolam, agar mendapat pertolongan pertama. Tubuh Yoona terasa dingin dan wanita itu dalam kondisi tak sadarkan diri.

“Yoona! Yoona buka matamu!” teriak Chanyeol sambil menepuk pelan pipi Yoona.

“Astaga, Yoona,” Tuan Im tak dapat lagi menyembunyikan kepanikannya.

Chanyeol melakukan CPR, berusaha membuat Yoona mendapatkan kesadarannya. Sesekali ia memberikan nafas buatan untuknya.

“Kumohon buka matamu, Yoona!” teriak Chanyeol kian panik.

Tuan Im tampak semakin cemas dengan kondisi putrinya.

Beberapa detik kemudian, Yoona mulai menunjukkan reaksi. Ia tersedak hingga air yang tanpa sengaja tertelan, tersembur keluar. Wanita itu terbatuk-batuk dengan mata setengah terpejam. Chanyeol dan Tuan Im terlihat senang melihat Yoona sudah sadarkan diri.

“Yoona!” teriak Tuan Im senang. Sementara Chanyeol masih menggenggam erat tangan Yoona. Wajah pria itu pun tak kalah berbeda dari Tuan Im.

Perlahan Yoona mulai mengerjapkan kedua matanya. Kondisinya masih lemas, bahkan membuatnya tidak sanggup untuk melihat secara jelas. Berkali-kali Yoona mengerjapkan kedua matanya. Samar-samar ia mulai bisa melihat sosok pria yang menatap cemas padanya. Namun, belum sempat Yoona mengatakan apapun, Yoona justru kembali tak sadarkan diri. Hal itu kian menambah kepanikan yang mendera Chanyeol dan Tuan Im.

“YOONA!”

“Sebaiknya kita bawa ke rumah sakit,” usul Tuan Im.

Chanyeol mengangguk. Ia pun membopong tubuh Yoona menuju mobilnya. Tuan Im mendampingi Yoona di bagian tengah. Sementara Chanyeol bergegas menyalakan mesin, lalu melajukan mobil secepat mungkin menuju rumah sakit Seoul.

.

.

.

Seohyun dan Kris baru saja keluar dari elevator. Mereka kembali ke bagian dasar setelah menikmati indahnya pemandangan kota Seoul dari observatorium—bagian puncak Namsan Tower. Kini keduanya tengah berada di counter souvenir. Kris mengajak Seohyun untuk membeli gembok, yang nantinya akan dipasang pada space yang sudah disediakan. Kris begitu bersemangat menuliskan pesan pada gembok yang sudah dipilihnya. Sementara Seohyun masih terdiam dengan tangan yang memegang gembok pemberian Kris. Wanita itu terus memandangi Kris, tanpa pernah melewatkan sedetik pun. Sampai saat ini Seohyun tidak percaya dengan apa yang dialaminya. Bagaikan mimpi, bertemu kembali dengan Kris—kakak tirinya sekaligus pria yang pernah dicintainya, yang sebenarnya sudah meninggal akibat kecelakaan 5 tahun silam.

*flashback*

Oppa, benarkah ini kau?” tanya Seohyun dengan mimik kagetnya. “Tapi—bagaimana bisa? Apa aku sedang bermimpi?”

Kris tersenyum, lalu membelai lembut kepala Seohyun. “Kau tidak sedang bermimpi. Ini memang aku, Seohyun. Aku diberi kesempatan untuk bertemu kembali denganmu. Hanya kau yang bisa melihat wujudku asliku. Sementara orang-orang di sekitar kita, akan melihatku sebagai orang lain.”

“Bertemu kembali denganku?” Mata Seohyun tampak berkaca-kaca.

Kris mengangguk. “Aku akan memberikan kenangan terindah untukmu, Seohyun.”

*end flashback*

“Kenapa kau diam saja?”

Lamunan Seohyun buyar saat Kris memanggilnya. Seohyun menoleh ke arah Kris. Ia baru sadar jika Kris sudah memperhatikannya.

“Tidak apa, oppa,” jawab Seohyun lalu kembali fokus dengan gembok miliknya. Sesekali ia masih mencuri pandang ke arah Kris. Wajah tampan pria itu dengan tatapan hangatnya, terlebih ketika bibirnya membentuk lengkungan senyum. Sungguh, Seohyun sangat merindukan sosok pria itu dan ia benar-benar beruntung telah diberi kesempatan untuk bertemu kembali dengannya.

“Apa yang kau tulis? Aku ingin melihatnya,” ucap Seohyun dan tangannya langsung meraih gembok yang diletakkan Kris. Seohyun mengeja kata demi kata yang dituliskan Kris. Seketika raut wajahnya berubah. Sederet kalimat tersebut berhasil membuat hatinya tersentuh.

Appa, eomma dan Seohyun
Keluargaku yang sangat berharga
-Kris Wu-

Seohyun kembali memandangi Kris. “Oppa, ini . . .”

“Tidak selamanya kita harus menuliskan ungkapan cinta pada seseorang bukan?” Kris tersenyum sambil menopang dagu dengan tangan kanannya. “Inilah yang ingin kutulis jika aku mengunjungi Namsan Tower.”

Seohyun mengangguk. Ia tersenyum, walau untuk sesaat terkesan sangat memaksakan. Ia tahu, secara tidak langsung Kris kembali menegaskan bahwa pria itu benar-benar menganggapnya sebagai adik, tidak lebih.

Usai menuliskan pesan pada gembok masing-masing, Seohyun dan Kris berjalan menuju space yang tersedia sebagai tempat untuk menggantungkan berbagai gembok serta gantungan lainnya. Mereka memilih menggantungkan gembok mereka menjadi satu. Kris memperhatikan tulisan tangan milik Seohyun. Pria itu penasaran dengan pesan yang ditulis Seohyun.

“Apa yang kau tulis?”

Seohyun menoleh. Ia hanya tersenyum sambil menjawab,“Appa, eomma dan Kris-oppa, adalah keluargaku yang sangat berharga.”

“Hei, kau tidak boleh mencontek tulisan orang, Seohyun,” ucap Kris sambil menggerakkan jari telunjuknya.

“Kau tidak punya hak untuk melarangku, oppa,” ujar Seohyun.

“Tentu punya. Aku ini kakakmu,” sergah Kris.

“Dan aku adikmu. Aku juga punya hak untuk menulis apa yang kuinginkan,” balas Seohyun tak mau kalah.

Kris memicingkan matanya, sementara Seohyun terkekeh pelan sambil menutup mulutnya. Barulah keduanya tertawa bersama sambil memandangi indahnya suasana di area tersebut.

Sesaat kemudian, keheningan kembali melanda keduanya. Baik Seohyun maupun Kris, keduanya sama-sama diam dan saling mengalihkan perhatian. Seohyun akhirnya memberanikan diri untuk berterus terang pada Kris. Mengatakan apa yang seharusnya sudah lama ia katakan.

“Maafkan aku, oppa.”

Kris menoleh ke arah Seohyun. Sorot matanya terlihat penasaran dengan kelanjutan ucapan Seohyun.

“Tidak seharusnya aku bersikap egois. Mementingkan diri sendiri tanpa pernah memikirkan perasaanmu, appa dan eomma. Aku tahu apa yang kulakukan di masa lalu adalah kesalahan terbesar yang pernah kulakukan. Aku bahkan sudah mengkhianati temanku sendiri dengan mencintai tunangannya, yang tidak lain adalah kakak tiriku sendiri,” lanjut Seohyun. Ia lalu menoleh ke arah Kris dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Seohyun . . .”

“Maafkan aku, oppa. Aku benar-benar menyesal,” ucap Seohyun sambil menunduk dan terisak. “Jika saja aku bisa merelakanmu untuk Yoona, sekarang kau pasti sudah hidup bahagia bersamanya. Tapi, tapi aku justru membuatmu—”

SET! Kris langsung menarik tubuh Seohyun ke dalam dekapannya. Raut wajahnya terlihat sedih mendengar ucapan Seohyun yang terkesan menyalahkan diri sendiri atas kepergiannya.

“Kematian manusia bukan disebabkan seseorang, melainkan sudah suratan takdir yang harus diterimanya. Sama halnya diriku. Kematianku bukan disebabkan olehmu, Seohyun. Ini adalah takdir yang harus kuterima. Kau sama sekali tidak bersalah. Bagiku, Yoona memang jodohku. Tapi bagi Yoona, aku bukan jodohnya, karena aku harus menemui ajalku sebelum kami bersatu. Jadi, kumohon berhentilah menyalahkan dirimu sendiri,” pinta Kris sambil membelai kepala Seohyun. Tangis Seohyun pecah. Ia langsung menumpahkan semua kesedihan yang ditanggungnya selama 5 tahun sejak kepergian Kris.

Kris tak henti-hentinya menenangkan Seohyun. Layaknya seorang kakak yang menenangkan adiknya yang sedang menangis. Kris begitu perhatian pada Seohyun dan dia memang sosok kakak yang baik di mata Seohyun.

“Sudah, jangan menangis lagi,” ujar Kris seraya menyeka air mata yang masih mengalir di wajah Seohyun. “Kau harus hidup bahagia, arraseo?

Walau masih terisak, namun Seohyun berusaha tersenyum dan mengangguki perintah Kris.

“Satu lagi, aku ada permintaan untukmu,” ucap Kris tiba-tiba berubah serius. “Bisakah, kau membantu Yoona agar hidup bahagia bersama pria yang dicintainya?”

Permintaan Kris tersebut membuat dahi Seohyun berkerut. “Maksudmu Baekhyun?”

Kris menggeleng. “Bukan Baekhyun, tapi Chanyeol.”

“Chanyeol?” Seohyun berteriak kaget. “Park Chanyeol?”

Ne, Park Chanyeol,” jawab Kris. “Hanya dia yang bisa membahagiakan Yoona.”

“Tapi, bagaimana bisa Chanyeol?” tanya Seohyun bingung.

Kris tersenyum, lalu menggenggam tangan Seohyun dengan erat. “Suatu saat nanti kau akan mendapatkan jawabannya. Ingatlah pesanku, Seohyun. Hanya Chanyeol yang bisa membahagiakan Yoona.”

Seohyun masih ragu. Namun setelah melihat sorot mata penuh keyakinan dari Kris, ia pun mengangguk.

SING! Entah apa yang terjadi, tiba-tiba di sekitar Seohyun dan Kris tampak sepi. Hanya tinggal mereka berdua. Mata Seohyun terbelalak ketika menyaksikan peristiwa ajaib yang terjadi di depannya. Perlahan dari tubuh Kris muncul cahaya yang menyelimutinya.

“Sudah saatnya aku pergi,” ucap Kris. Ia tersenyum seraya menggenggam tangan Seohyun untuk terakhir kalinya.

Seohyun kembali meneteskan air mata. Sebenarnya ia tak rela jika kebersamaannya dengan Kris hanya berlangsung dalam waktu singkat. Ia ingin lebih lama lagi menghabiskan waktunya dengan pria itu.

Oppa . . .” Seohyun tak mampu lagi menahan tangisannya.

“Jaga dirimu baik-baik, Seohyun. Kau harus hidup bahagia bersama appa dan eomma. Berjanjilah padaku,” pinta Kris. “Aku yakin, kau akan mendapatkan sosok pria yang tepat untuk menjadi pendamping hidupmu.”

Seohyun mengangguk sambil terisak. “Ne, aku berjanji oppa.”

Semakin lama cahaya itu sudah menutupi hampir seluruh tubuh Kris. Pria itu tersenyum dengan raut wajah penuh kebahagiaan. Hingga akhirnya cahaya itu benar-benar menutupi seluruh tubuh Kris, sampai pria itu menghilang bersama cahaya tersebut.

Seohyun menatap tak percaya ketika mendapati Kris sudah tidak ada. Ia masih berdiri dengan tatapan kosongnya. Samar-samar Seohyun mendengar suara terakhir Kris.

“Kau adalah adikku yang sangat berharga, Seohyun.”

Dalam sekejap situasi di Namsan Tower kembali seperti semula. Namun Seohyun tak menyadarinya. Wanita itu tampak menangis dalam posisi jongkok. Ia menyembunyikan wajahnya di balik kedua tangan. Walau terasa menyedihkan karena harus berpisah dengan Kris, namun Seohyun tetap merasa bahagia. Karena ia sudah diberi kesempatan bertemu dengan pria itu dan telah mengatakan apa yang selama ini belum sempat ia sampaikan pada Kris.

Seohyun bangkit dari posisinya, kemudian menatap langit yang mulai dipenuhi bintang-bintang. Seohyun tersenyum, saat melihat ada satu bintang yang bersinar sangat terang.

“Terima kasih, oppa. Kudoakan semoga kau bahagia di sana,” ujar Seohyun dengan senyum yang terus menghiasi wajahnya.

.

.

.

Seoul Hospital

Pintu ruang UGD masih tertutup rapat. Chanyeol dan Tuan Im yang menunggu di luar ruangan kian dilanda kecemasan. Sudah hampir 1 jam Yoona menjalani pemeriksaan, namun belum ada satu pun dari tim medis yang keluar untuk menyampaikan kondisi Yoona.

DRAP. DRAP. DRAP.

Suara derap langkah kaki berhasil memecah keheningan di luar ruang UGD. Sosok pria itu baru saja datang dengan wajah kusut yang dengan keringat yang mengucur dari pelipisnya. Pria itu—Baekhyun, terlihat datang dengan wajah cemasnya setelah mendapat kabar dari Tuan Im jika Yoona masuk rumah sakit.

Ahjussi,” Baekhyun mengatur nafasnya yang terengah-engah. Belum sempat ia melanjutkan kembali kalimatnya, Baekhyun terlanjur kaget saat menyadari keberadaan Chanyeol. Tatapannya justru terfokus pada Chanyeol yang masih bersender di dekat pintu UGD.

“Baekhyun?” Tuan Im memanggil Baekhyun yang terlihat berdiri mematung di depannya. Ia menepuk pelan bahu Baekhyun hingga berhasil membuat pria itu menoleh padanya.

“Apa yang terjadi?” tanya Baekhyun setelah kembali fokus dengan Tuan Im.

“Yoona kami temukan tenggelam di kolam renang, saat menjelang jam makan malam. Untung saja ada Chanyeol yang kebetulan datang dan langsung menolongnya,” jawab Tuan Im. Berkali-kali ia menghela nafas pelan, berusaha untuk bersikap setenang mungkin.

Baekhyun terdiam. Tidak tahu harus berkata apa menanggapi cerita dari Tuan Im. Ia kembali melirik ke arah Chanyeol. Tanpa sengaja mata mereka bertemu. Chanyeol langsung mengalihkan perhatiannya, seolah tak berani untuk bertatapan langsung dengan Baekhyun.

KLEK! Perlahan terdengar suara decitan pintu seiring dengan keluarnya salah satu tim medis yang menangani Yoona. Semua orang langsung mendekati pria yang mengenakan jas putih serta masker yang baru saja dilepasnya.

“Dokter, bagaimana kondisi putriku?” tanya Tuan Im cemas.

“Kondisinya baik-baik saja. Pasien hanya mengalami shock dan masih belum sadar. Kami akan segera memindahkannya ke kamar pasien,” lanjut dokter tersebut, kemudian membungkuk ke arah Tuan Im, Baekhyun dan Chanyeol. Wajah ketiga orang itu tampak lega mendengar kabar bahagia yang disampaikan dokter.

“Syukurlah, ahjussi,” ucap Baekhyun sambil merangkul Tuan Im.

Tuan Im tersenyum, kemudian mendekati Chanyeol dan menjabat tangannya. “Aku berhutang budi padamu, Chanyeol-ssi. Terima kasih sudah menyelamatkan nyawa putriku.”

Chanyeol merasa tidak enak dengan ucapan Tuan Im, terlebih karena ada Baekhyun. Pria itu hanya mengangguk dengan senyum yang sedikit dipaksakan. Ia memutuskan untuk pulang. Setidaknya ia bisa bernafas lega karena Yoona sudah dipastikan dalam kondisi baik-baik saja.

“Baiklah, ahjussi. Aku harus pulang sekarang. Ada hal yang harus kuselesaikan,” ucap Chanyeol sedikit berbohong dengan alasan kepulangannya.

“Kau tidak ingin melihat Yoona dulu?”

“Nanti saja jika dia sudah sadar, aku akan datang menjenguknya,” jawab Chanyeol. Ia melirik ke arah Baekhyun. Sahabatnya itu tersenyum tipis ke arahnya.

“Terima kasih, Yeol,” ucap Baekhyun.

Chanyeol mengangguk. Kemudian membungkuk ke arah Tuan Im sebelum berbalik meninggalkan mereka.

Tuan Im masih memperhatikan punggung Chanyeol yang semakin menjauh dari pandangannya. Pria paruh baya itu tersenyum.

“Baekhyun, kau beruntung mempunyai sahabat sebaik Chanyeol,” puji Tuan Im.

Baekhyun hanya diam dan terus memandangi Chanyeol sampai tak terlihat lagi. Ia tidak bisa berkomentar banyak. Satu hal yang Baekhyun yakini, Chanyeol masih peduli dengan Yoona. Itu artinya, Chanyeol masih mencintai Yoona.

.

.

.

Tao berdiri di luar gedung rumah sakit dalam kondisi melayang. Ia berada tepat di depan jendela kamar tempat Yoona dirawat. Matanya masih mengawasi Yoona yang kini ditemani oleh Tuan Im dan Baekhyun.

Sebenarnya Tao tidak menduga jika Chanyeol akan datang bahkan menyelamatkan wanita itu. Ini di luar kendali Tao dan sepertinya memang takdir yang sudah memberi kesempatan Chanyeol untuk melakukan hal tersebut.

Perlahan terlihat gumpalan asap hitam di dekat Tao. Rupanya Kris sudah kembali dalam wujud malaikat kematiannya. Kini ia tengah memperhatikan arah yang sama dengan Tao.

“Bagaimana?”

Tao terkejut saat mendengar suara Kris. “Sunbae, apa kau sudah selesai dengan urusanmu?”

Kris mengangguk. “Bagaimana dengan Yoona? Dia baik-baik saja?”

Ne. Aku sudah memastikan jika kondisinya baik-baik saja. Sekarang dia masih belum sadarkan diri dan terbaring di kamar itu,” jawab Tao.

Kris tampak lega. “Syukurlah. Aku tidak habis pikir kenapa kau memilih cara seperti itu, Tao. Tidak bisa kubayangkan jika terjadi hal buruk pada Yoona.”

Tao terkekeh. “Tenang saja, sunbae. Aku tahu tindakanku memang sangat berbahaya. Tapi, hanya inilah yang bisa kulakukan. Menempatkan Yoona pada situasi yang sama ketika ia mengalami tenggelam di bawah Gwangan Bridge. Dengan begini, aku yakin ingatannya akan kembali. Saat itulah kita bisa masuk ke alam sadar Yoona dan bertemu kembali dengannya.”

“Sebelum matahari terbit, kita harus segera masuk ke dalam alam sadar Yoona,” ucap Kris.

Tao mengangguk. Keduanya pun bersiap dan mendekati kamar Yoona.

.

.

.

Chanyeol memberhentikan mobilnya ketika sampai di depan rumah. Pria itu turun dan berjalan masuk dengan langkah gontai. Ia memilih untuk duduk di taman belakang rumah, tempat ia biasa menghabiskan waktu saat Yoona masih bersamanya dalam wujud roh.

Chanyeol menengadahkan kepalanya, menatap langit yang dipenuhi banyak bintang. Wajahnya terlihat murung, walau masih memperlihatkan kelegaan setelah kondisi Yoona dinyatakan baik-baik saja. Pria itu menarik nafas panjang lalu menghelanya perlahan. Chanyeol merasa sangat lelah. Sepertinya ia memang sudah mencapai batas dari kesabarannya selama ini.

Hyung . . .”

Chanyeol menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Ia terkejut saat melihat Jongin, roh anak kecil yang hanya dalam waktu tertentu berada di rumahnya. Kalau sebelumnya Chanyeol langsung berlari ketakutan saat berinteraksi dengan roh, kini Chanyeol sudah bersikap biasa dan sepenuhnya menerima kenyataan bahwa dirinya sekarang bisa melihat sosok-sosok mistis tersebut.

“Jongin-ah, apa yang sedang kau lakukan di sini?”

Jongin menggeleng sambil berjalan mendekati Chanyeol. “Kenapa semalam ini, hyung belum tidur?”

Chanyeol tersenyum. “Aku tidak bisa tidur.”

“Apa karena Yoona-noona?

Chanyeol mengangguk. Sementara Jongin tampak menggembungkan pipinya sambil terus memegang bola di tangan.

“Tadi, aku melihat Yoona-noona datang ke sini bersama pria. Siapa pria itu, hyung?

“Dia sahabatku, sekaligus calon suami Yoona,” jawab Chanyeol.

Wajah Jongin berubah kaget dan murung. “Kukira Yoona-noona akan menikah denganmu, hyung. Setahuku, dia sering bercerita banyak tentangmu. Aku yakin jika hyung yang hanya dicintai Yoona-noona, bukan pria itu.”

Chanyeol tersenyum tipis. “Itu tidak mungkin, Jongin-ah. Yoona sama sekali tidak mengingatku. Bagaimana bisa kami bersatu? Kenyataannya dia sudah dijodohkan dengan pria lain.”

Mendengar hal itu, tangis Jongin justru pecah. Jongin mengusap kedua matanya yang dibanjiri air mata.

“Jongin-ah, kenapa kau menangis?” tanya Chanyeol cemas.

“Aku sedih melihat kalian berdua seperti ini,” jawab Jongin terisak. “Aku ingin melihat kalian berdua bersatu dan hidup bahagia.”

Usai mengatakannya, tangis Jongin kembali keras. Reaksinya itu membuat Chanyeol turut merasakan kesedihan yang semakin mendalam. Ia sendiri tak dapat menahan air matanya yang mulai menetes membasahi wajahnya.

.

.

.

.

.

Waktu menjelang pagi, Yoona masih terbaring di ranjang kamar pasien tempatnya dirawat. Sesekali terlihat adanya pergerakan mata darinya, walau mata wanita itu belum benar-benar terbuka. Jari-jemari tangannya turut bergerak secara perlahan. Tak banyak yang tahu, jika wanita itu tengah mengalami sebuah peristiwa besar yang terjadi dalam alam sadarnya.

Beralih menuju alam sadarnya, sekelebat memori itu mulai menghampiri Yoona. Semua kejadian yang dialami Yoona setelah kecelakaan di bawah jembatan Gwangan Bridge terlintas dalam kepalanya. Mulai dari Yoona yang mengetahui dirinya telah menjadi roh saat dalam masa koma sampai akhirnya terpisah cukup jauh dari posisi tubuhnya. Dalam kondisi bingung ia menangis karena tidak tahu harus berbuat apa, sampai ia bertemu dengan Tao dan Kris yang berwujud malaikat kematian. Ia ingat saat Tao akan membantunya untuk mencari keberadaan tubuhnya dengan meminta bantuan manusia, dan orang itu adalah Chanyeol.

Yoona mulai mengingat berbagai kejadian lucu yang ia alami saat berinteraksi dengan Chanyeol yang saat itu begitu takut dengan roh. Masih ada sosok Sehun yang notabene adik sepupunya yang turut bersikap jahil pada Chanyeol. Tak hanya itu, berbagai kejadian menyedihkan yang dipenuhi air mata juga dialaminya selama menjalani kehidupan sebagai roh. Pertemuannya kembali dengan Kris yang tidak lain adalah tunangannya. Pernyataan cinta dari Chanyeol yang membuatnya luluh sampai akhirnya ia pun juga jatuh cinta pada pria tersebut.

Namun semuanya tak berjalan mulus ketika ia tahu bahwa pria yang dijodohkan dengannya adalah sahabat Chanyeol sendiri, Baekhyun. Belum lagi kehadiran Siwon, detektif suruhan Baekhyun dengan kemampuan suprantural yang mengetahui keberadaannya dan semakin memperkeruh suasana, karena pada akhirnya Baekhyun tahu jika Chanyeol berinteraksi dengan Yoona yang berwujud roh.

Yoona juga ingat saat ia harus berkorban merelakan dua butir mutiara waktunya, ketika Baekhyun bertengkar hebat dengan Chanyeol. Waktu pencarian keberadaan tubuhnya yang tersisa 6 hari kian menambah suasana semakin kelam dan menyedihkan. Ditambah fakta menyakitkan yang harus diterima Yoona, terkait ingatannya selama menjadi roh yang akan hilang begitu ia kembali dalam wujud manusianya. Itu sangat menyakitkan, terlebih ia akan melupakan perasaannya yang begitu mencintai Chanyeol.

Ingin rasanya Yoona menangis sekencang-kencangnya usai mengingat kejadian selama ia pernah menjalani kehidupan sebagai roh. Serta berbagai peristiwa yang dialaminya setelah kembali dalam wujud manusianya sampai sekarang. Ya, Yoona memang sudah mengingat semuanya dan itu membuat hatinya dilanda kebingungan luar biasa. Di sisi lain ia merasa senang karena mengingat kembali perasaannya pada Chanyeol, namun ia juga dihadapkan pada posisi sulit bahwa ia sendiri sudah menerima perjodohannya dengan Baekhyun.

Yoona yang sedari tadi menutupi wajah dengan kedua tangan, perlahan menarik tangannya. Ia terkejut saat menyadari dirinya berada di tempat yang berbeda. Tempat yang biasa ia datangi ketika berkeluh kesah dengan Tao maupun Kris. Sebuah taman yang berada di dunia roh.

“Yoona . . .”

Yoona menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Ia mendapati dua sosok pria sudah berdiri di depannya. Dua pria dengan perawakan tinggi terlihat mengumbar senyum ke arah Yoona. Bibir Yoona bergetar hebat ketika mengenali dua sosok pria tersebut. Tangis wanita itu pecah. Ia langsung bangkit dan memeluk salah satu dari mereka.

Oppa . . .” Yoona memeluk sosok yang tidak lain adalah Kris. Pria itu hanya tersenyum sambil membelai kepalanya. Sementara pria satunya—Tao, tidak dapat menyembunyikan rasa harunya saat mengetahui dirinya berhasil membangkitkan ingatan Yoona.

Usai memeluk Kris, Yoona langsung berlari memeluk Tao. Ia kembali menangis sampai tidak mampu berkata apapun.

“Senang bisa bertemu lagi denganmu,” ucap Tao saat keduanya saling bertatapan satu sama lain.

Yoona mengangguk. Dengan mata yang masih sembap, ia mencoba tersenyum ke arah Kris dan Tao.

“Apa—yang sebenarnya terjadi padaku?” tanya Yoona bingung. “Bagaimana aku bisa mendapatkan ingatanku kembali?”

Tao tersenyum. “Ini memang takdir yang harus kau jalani, Yoona. Pada akhirnya kau memang akan mendapatkan ingatanmu kembali. Ingatanmu selama menjalani kehidupan roh tidak benar-benar hilang untuk selamanya, hanya sementara.”

“Benarkah?” tanya Yoona tidak percaya.

Tao mengangguk senang. “Aku senang, akhirnya bisa menepati janjiku padamu.”

Dahi Yoona berkerut. “Janji? Apa maksudmu?”

Senyum Tao kembali mengembang. Ia mundur beberapa langkah dari posisinya. Tangannya terlihat melakukan gerakan mulai dari atas kepala hingga bawah. Dalam sekejap Tao sudah berganti penampilan. Ia tampak mengenakan jaket berwarna hitam bergaris merah serta membawa sebuah helm di tangannya. Gaya rambutnya pun turut berubah.

“Kau tidak ingat aku?” tanya Tao. Ia lalu tersenyum sambil berucap, “Maukah kau mengantarku ke Sungai Han?”

Yoona memicingkan kedua matanya. Kalimat terakhir yang keluar dari Tao terdengar tidak asing bagi Yoona. Setelah cukup lama berpikir, barulah Yoona mengingatnya. Ia menepuk keras kedua tangannya dan kembali memeluk Tao. Ia ingat jika di masa lalu mereka memang pernah bertemu dan menjadi teman meski hanya dalam waktu singkat. Yoona tidak tahu jika sehari setelah bertemu dengan Tao, pria itu mengalami depresi hingga akhirnya meninggal akibat gantung diri.

“Sekarang aku sudah tahu, kenapa aku diizinkan membantumu,” lanjut Tao. Yoona mengkerutkan dahinya, belum mengerti pembicaraan Tao.

“Karena aku sudah berjanji, akan membantumu mencari pria yang tepat untuk menjadi pasangan hidupmu. Dan sekarang, aku sudah menepatinya. Aku sudah menemukan pria yang tepat untukmu, Yoona. Dia adalah Park Chanyeol. Hanya Chanyeol yang cocok untuk menjadi pendampingmu. Kalian berdua saling mencintai dan aku sangat yakin kau akan bahagia jika bersamanya,” ucap Tao panjang lebar.

Mendengar hal tersebut, wajah Yoona bukannya terlihat senang malah justru terlihat sedih. Wanita itu tampak menunduk dan kembali terisak. Hal itu membuat Tao dan Kris saling memandang satu sama lain.

“Aku senang ingatanku sudah kembali. Aku senang aku sudah ingat tentang perasaanku pada Chanyeol. Tapi, aku tidak bisa mengabaikan Baekhyun. Aku terlanjur menerima perjodohan kami,” keluh Yoona dengan wajah berurai air mata. “Apa yang harus kulakukan sekarang?”

Wajah Tao kembali murung. Ia tahu, ingatan Yoona yang kembali membuatnya dihadapkan pada posisi yang sulit. Tapi memang jalan inilah yang harus dilalui Yoona untuk mendapatkan kebahagiaannya.

Kris memegang bahu Yoona, menghadapkan wanita itu ke arahnya. Ia menatap lekat wajah cantik Yoona yang kini terlihat murung.

“Aku yakin, kau bisa mengambil keputusan yang tepat. Bagaimana pun kau harus memilih salah satu di antara mereka. Entah itu Park Chanyeol ataupun Byun Baekhyun,” ujar Kris.

Sunbae!”Tao kaget dengan penuturan Kris. Padahal sudah jelas hanya Chanyeol yang bisa membahagiakan Yoona. Tapi, ucapan Kris justru terkesan mengatakan bisa saja Baekhyun yang nantinya akan dipilih wanita itu.

“Aku hanya ingin, Yoona mengambil keputusan sesuai isi hatinya, Tao. Pada akhirnya keputusan ada di tangan Yoona, bukan kita,” jelas Kris pada Tao. “Ketahuilah Tao, apa yang kau lakukan untuk membantu Yoona hanya sampai batas ini. Selebihnya, kita kembalikan pada keputusan Yoona.”

Tao terdiam, sebelum akhirnya mengangguk ke arah Kris. Sementara Yoona hanya memandangi keduanya dengan raut wajah yang masih terlihat bimbang.

“Yoona, ini terakhir kalinya kita bertemu. Kali ini kita benar-benar harus berpisah,” ujar Kris membuyarkan lamunan Yoona. “Kau harus berjanji untuk hidup bahagia. Apapun keputusan yang kau ambil, kau harus yakin jika itu adalah keputusan terbaikmu. Arraseo?

Yoona segera menghapus air matanya, kemudian memasang senyum tercantiknya. “Ne, arraseo.”

“Jaga dirimu baik-baik. Aku senang pernah mengenalmu, Yoona,” ucap Tao. Yoona tersenyum penuh haru sambil memeluknya. Sebelum akhirnya berganti memeluk Kris.

Dua pria tersebut tampak tersenyum dengan tubuh mereka yang perlahan menjauh dari posisi Yoona. Tiba-tiba muncul sebuah cahaya putih yang menyilaukan mata. Semakin lama cahaya itu kian besar hingga membuat Yoona menutupi kedua matanya dengan tangan.

SING! Saat Yoona membuka kedua matanya kembali, Yoona terkejut mendapati dirinya sudah berada di tempat yang berbeda. Yoona mengamati sekeliling. Sebuah ruangan dengan nuansa serba putih membuatnya yakin jika ia sudah kembali ke tempat semula—rumah sakit.

Yoona mengerjapkan kedua matanya. Ia menoleh ke samping ranjang. Mata Yoona membulat sempurna ketika mendapati sosok pria tengah tertidur dengan kepala yang bertumpu di atas ranjang. Samar-samar Yoona melihat sosok pria itu adalah Chanyeol. Yoona menggerakkan tangannya, berniat membelai kepala pria itu. Merasakan adanya sentuhan di kepalanya, pria itu justru terbangun hingga berhasil menatap ke arah Yoona.

“Yoona, kau sudah sadar?”

Mata Yoona melebar setelah melihat dengan jelas sosok pria tersebut. Rupanya ia salah sangka. Pria itu bukan Chanyeol, melainkan Baekhyun. Wajah Yoona terlihat kecewa dengan mimik kagetnya. Namun wanita itu mencoba untuk tetap tersenyum.

Sementara itu, Baekhyun terlihat sangat senang dan langsung menggenggam erat tangan Yoona. “Syukurlah kau sudah sadar. Aku sangat mengkhawatirkanmu.”

Yoona tersenyum tipis. Ia hanya mengangguk pelan tanpa berkata apapun. Baekhyun memang pria yang baik. Tapi bagaimana dengan ingatannya yang sudah kembali? Termasuk perasaannya yang sangat mencintai Chanyeol. Yoona benar-benar dalam posisi sulit. Tidak tahu keputusan apa yang harus diambilnya.

.

.

.

Chanyeol baru saja keluar dari rumah untuk menikmati suasana pagi dengan berjalan-jalan di sekitar kompleks rumahnya. Ia terkejut begitu mendapati Seohyun sudah berdiri di depan rumahnya.

“Seohyun?”

Seohyun tersenyum. “Kau ingin jalan-jalan?”

Chanyeol sedikit terkejut dengan penuturan Seohyun. Pria itu hanya mengangguk dengan senyum khasnya.

“Biar aku temani,” ucap Seohyun kembali mengejutkan Chanyeol. Namun pria itu tidak berkata banyak dan mengizinkan Seohyun menemaninya.

Chanyeol dan Seohyun pergi bersama menikmati suasana pagi di sekitar kompleks rumah Chanyeol. Keduanya terlihat berkali-kali menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, merasakan sejuknya udara pagi. Seohyun mencoba membuka pembicaraan di antara keduanya. Ia memutuskan untuk tidak berbasa-basi, bermaksud langsung menanyakan tentang Yoona pada Chanyeol. Rupanya kata-kata terakhir yang disampaikan Kris terus terngiang dalam kepala Seohyun hingga membuatnya tak tahan untuk diam saja.

“Aku mendengar kabar bahwa Yoona masuk rumah sakit,” ucap Seohyun tiba-tiba dan sukses membuat Chanyeol berhenti melangkah.

Ne, aku sudah tahu,” balas Chanyeol.

Seohyun melirik Chanyeol yang tidak melihat ke arahnya. “Ahjussi juga memberitahuku jika kau yang menolong Yoona. Benarkah itu?”

Chanyeol terdiam. Ia hanya menghela nafas pelan. “Aku hanya kebetulan datang saat Yoona tiba-tiba menghilang. Kami menemukannya tenggelam di kolam renang.”

“Kau datang ke rumahnya? Untuk apa?”

DEG! Chanyeol kembali bungkam. Seohyun sebenarnya memang sengaja memancing Chanyeol soal Yoona. Ia benar-benar penasaran dengan pesan yang disampaikan Kris. Benarkah jika hanya Chanyeol yang mampu membahagiakan Yoona? Jika memang benar, apa alasannya?

“Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu, Yeol?” tanya Seohyun akhirnya berterus terang. “Dari apa yang kulihat, sepertinya kau menaruh perhatian khusus pada Yoona.”

Seketika wajah Chanyeol berubah gugup. Pria itu menelan saliva-nya sambil melirik ke arah Seohyun. Entah kenapa tiba-tiba bibirnya terasa kelu sampai kesulitan untuk bicara. “Itu . . . sebenarnya aku hanya—”

“Sudahlah, Yeol. Kau jangan sungkan padaku. Katakan saja yang sebenarnya. Aku hanya penasaran dengan apa yang kupikirkan. Sejak pertama kali kau melihat foto Yoona dalam dompetku, aku merasa kau begitu tertarik padanya. Kau seakan mengikuti perkembangan berita saat dia menghilang. Bahkan ketika Yoona sudah ditemukan, kau turut antusias mengantarku untuk menjenguknya. Ketika Yoona datang ke restoran beberapa waktu lalu, aku melihat kau begitu memperhatikannya. Selama ini aku mengamatimu. Setiap kali aku membicarakan Yoona, kau tidak pernah mengabaikannya. Terlihat sangat antusias,” ucap Seohyun panjang lebar.

Chanyeol tertegun. Ia tidak menduga jika Seohyun mengamatinya diam-diam dan itu membuatnya tahu tentang perasaannya pada Yoona.

“Yeol?” Seohyun memanggil Chanyeol yang masih terdiam dengan tatapan kosongnya. Pria itu menoleh dan tersenyum pada Seohyun.

“Aku hanya bisa menjawab, jika aku sangat mencintai Yoona,” jawab Chanyeol tanpa ragu berterus terang pada Seohyun.

Seohyun terkejut karena Chanyeol justru berkata jujur. Sepertinya pesan yang disampaikan Kris menunjukkan kebenarannya. Hal itu membuat Seohyun kembali teringat pada tujuan awalnya, yang sempat bermaksud menjodohkan Chanyeol dengan Yoona. Entah ini hanya kebetulan atau memang sudah takdir?

Tapi, bagaimana bisa menyatukan Chanyeol dan Yoona, sementara Yoona sendiri sudah dijodohkan dengan Baekhyun. Terlebih Yoona sudah mengaku padanya jika telah menerima perjodohan tersebut.

“Aku tidak tahu, apa yang membuatmu jatuh cinta pada Yoona. Tapi aku akan mendukungmu. Aku ingin kau bersatu dengan Yoona. Terlepas statusnya sekarang yang sudah menjalin hubungan dengan Baekhyun, aku tidak peduli. Aku yakin jika kalian ditakdirkan untuk bersama, kalian pasti akan bersatu,” ujar Seohyun sambil menepuk pelan bahu Chanyeol. Lalu berjalan mendahului pria itu.

Chanyeol menatap bingung ke arah Seohyun yang terus berjalan di depannya. Ia hanya tersenyum tipis dan kembali berjalan menyusul Seohyun.

.

.

.

Baekhyun baru saja selesai menemui dokter yang menangani Yoona. Ia berjalan menuju kamar tempat Yoona dirawat. Namun Baekhyun justru mendapatkan hal yang mengejutkan. Ia melihat Tuan Im baru saja keluar dengan wajah panik. Baekhyun pun bergegas menghampirinya.

Ahjussi, ada apa?”

Tuan Im menoleh ke arah Baekhyun. Wajahnya semakin terlihat panik. “Yoona . . . Yoona menghilang, Baekhyun. Dia tidak ada di kamarnya.”

MWO?” Baekhyun berlari menyeruak masuk ke dalam kamar. Nihil. Seperti yang dikatakan Tuan Im, wanita itu tidak ada di kamarnya. Hanya pakaian pasien yang tertinggal di atas ranjang. Hal itu membuat Baekhyun yakin jika Yoona keluar meninggalkan rumah sakit.

Ahjussi, sebaiknya kau tunggu di rumah. Biar aku yang mencarinya. Entah Yoona sekarang berada di mana, jika dia nanti sudah pulang ke rumah, segera hubungi aku,” ucap Baekhyun.

Tuan Im mengangguk. Kemudian ia memberitahu tempat-tempat yang sekiranya biasa didatangi oleh Yoona. Tanpa membuang waktu lagi, Baekhyun pun segera berlari keluar meninggalkan rumah sakit untuk pergi mencari keberadaan Yoona.

Baekhyun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pria itu menelusuri setiap sudut kota Seoul. Namun Yoona tak kunjung ia temukan. Baekhyun berteriak frustasi sambil memukul setir mobil. Ingin bersikap tenang namun kenyataannya ia panik luar biasa. Dalam usaha pencariannya, entah kenapa restoran Chanyeol terlintas dalam pikiran Baekhyun. Awalnya Baekhyun ragu dengan pemikirannya tersebut. tapi akhirnya, ia memutuskan untuk menelepon Chanyeol.

Di sisi lain, Chanyeol yang baru kembali ke rumahnya usai jalan-jalan bersama dengan Seohyun, tampak terkejut ketika menyadari ponselnya berdering keras. Ia baru saja masuk ke bagian depan rumahnya di mana Sehun sudah menunggunya. Dahi Chanyeol berkerut begitu melihat nama Baekhyun tertera di layar ponsel.

Yeoboseyo . . .”

Ini aku, Yeol. Aku ingin bertanya padamu.

Dahi Chanyeol kian berkerut, terlebih saat mendengar suara Baekhyun yang terdengar panik di telinganya. “Ada apa? Katakan saja.”

Apakah Yoona datang menemuimu?

“Yoona? Bukankah dia di rumah sakit?”

Chanyeol bisa mendengar Baekhyun menghela nafas panjang. Hal itu membuatnya semakin penasaran dan merasa cemas. “Ada apa sebenarnya?”

Baekhyun terdiam cukup lama, sebelum akhirnya menjawab, “Yoona menghilang.

MWO?!

Sehun dan Seohyun terlihat kaget dengan reaksi Chanyeol. Keduanya saling memandang dan begitu penasaran dengan pembicaraan yang dilakukan Chanyeol.

Saat ini aku sedang mencarinya. Bisakah kau membantuku? Jika kau bertemu dengannya, segera hubungi aku.

Chanyeol memejamkan matanya seraya menghela nafas. “Ne, arraseo. Aku akan membantumu mencarinya.”

KLIK! Chanyeol memutus sambungan teleponnya dan beralih menatap Sehun. “Sehun-ah, tolong ambilkan kunci mobilku.”

“Apa yang terjadi?” tanya Seohyun penasaran.

Chanyeol menghela nafas. “Yoona menghilang.”

“Menghilang?” Bibir Seohyun nyaris terbuka lebar karena terlalu shock. “Bagaimana bisa dia menghilang?”

“Entahlah Seohyun, aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Baekhyun menghubungiku karena mengira Yoona datang menemuiku. Setelah aku tanya padanya, dia bilang jika Yoona menghilang dan saat ini ia sedang mencarinya,” cecar Chanyeol kian panik. “Aku akan pergi mencarinya.”

Hyung, ini kuncinya,” ucap Sehun yang baru kembali usai mengambil kunci mobil Chanyeol.

Chanyeol menerima kunci mobil tersebut, namun ia tak segera masuk ke dalam mobilnya. Pria itu terlihat kebingungan.

“Aish, aku harus mencarinya di mana?” runtuk Chanyeol frustasi.

“Mungkin tempat yang biasa ia datangi untuk menyendiri,” celetuk Sehun.

Chanyeol menatap binar ke arah adik sepupunya. “Sehun, kau jenius!”

“Tempat menyendiri? Aku tahu, Yeol! Kurasa Yoona mendatangi Sungai Han. Dia selalu bercerita padaku jika dia sangat menyukai Sungai Han. Tempat itu adalah tempat favoritnya untuk menenangkan diri,” sahut Seohyun.

Senyum Chanyeol mengembang usai mendengar penuturan Seohyun. “Terima kasih, Seohyun. Aku akan segera ke sana.”

“Segera hubungi aku jika kau menemukannya,” ucap Seohyun.

Chanyeol mengangguk. Ia masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan rumah menuju Sungai Han.

Di saat yang bersamaan, Baekhyun yang sudah lebih dulu tahu dari Tuan Im, tengah dalam perjalanan menuju tempat yang sama dengan Chanyeol. Pria itu terlihat melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia ingin segera sampai di Sungai Han dan berharap jika Yoona memang ada di sana. Hatinya benar-benar kalut. Di kepalanya sekarang hanya ada Yoona. Ia tak peduli selain itu, sampai mengabaikan telepon ayahnya yang berkali-kali masuk ke ponselnya.

Sementara sang wanita yang tengah dicari oleh dua pria tersebut, tengah duduk termenung di tepi sungai yang begitu luas dan terkenal di Seoul. Tepat seperti yang dikatakan Tuan Im dan Seohyun, saat ini Yoona memang berada di Sungai Han. Ia terlihat menatap lurus ke arah aliran sungai yang begitu tenang. Wajah cantiknya tertutupi oleh gurat kesedihan. Sekilas masih terlihat sedikit pucat, mungkin lantaran kondisinya yang belum pulih sepenuhnya.

Yoona memutuskan pergi meninggalkan rumah sakit tanpa pamit, karena ingin menyendiri. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa setelah mendapatkan ingatannya kembali. Yoona merasa konyol. Sekarang ia dibuat bingung dan dihadapkan pada posisi yang begitu sulit. Semakin lama Yoona memikirkannya, hanya jalan buntu yang selalu didapatnya. Semua terasa menyakitkan.

Yoona berteriak keras untuk menumpahkan semua emosinya. Ia merasa dunia sangat kejam dengan membuatnya mengalami masalah yang begitu rumit. Yoona menangis. Ia benar-benar putus asa.

“Apa yang harus kulakukan?” ricaunya dengan air mata yang kian mengalir deras membasahi wajahnya. Isak tangis Yoona kembali terdengar hingga berhasil memecah keheningan di sekitar Sungai Han.

Beberapa waktu kemudian, sebuah mobil tampak berhenti tak jauh dari posisi Yoona. Sang pengemudi mobil langsung berlari keluar setelah berhasil menemukan wanita yang sedari tadi dicarinya.

“YOONA!”

Yoona terkesiap dan menoleh ke arah suara. Wanita itu segera bangkit dan menatap pria yang berlari mendekatinya. “Baekhyun?”

Baekhyun datang dengan penampilan kacau. Wajah yang dipenuhi keringat dengan nafas terengah-engah. “Kenapa kau tiba-tiba pergi tanpa memberitahuku? Tahukah kau betapa paniknya aku mencarimu kemana-mana?!”

Yoona menunduk. Ia sedikit gemetar ketakutan karena suara keras Baekhyun. Pria itu benar-benar terlihat marah padanya.

“Maaf, aku hanya ingin menyendiri,” ujar Yoona sedikit terisak.

Baekhyun menatap Yoona dengan mata yang berkaca-kaca. Meski sudah menemukan Yoona, tetap saja Baekhyun merasa kalut. Sebelumnya ia harus mendengar kabar bahwa Yoona kembali masuk ke rumah sakit setelah ditemukan tenggelam di kolam renang rumahnya. Dan baru saja ia bersusah payah mencari keberadaan Yoona yang tiba-tiba menghilang. Sungguh, Baekhyun sangat takut jika kehilangan Yoona dari sisinya.

“Maafkan aku, Baekhyun. Aku tidak bisa bermaksud membuatmu sedih, aku hanya—”

SET! Kalimat Yoona terputus saat Baekhyun tiba-tiba langsung memeluknya dengan begitu erat. Seolah tak ingin lepas dari wanita itu.

“Kumohon . . .” Baekhyun terisak. “Bisakah kau tidak membuatku khawatir seperti ini? Aku takut jika kehilangan dirimu, Yoong.”

Yoona tidak bisa menahan air matanya. Sungguh ia tidak tega pada Baekhyun. Pria itu begitu perhatian padanya sejak Yoona terbangun dari masa komanya. Selalu berada di sisinya setiap kali Yoona menjalani masa pemulihan kondisi tubuh. Dan kencan mereka untuk kali pertama sampai akhirnya Yoona memutuskan menerima perjodohannya dengan Baekhyun.

Tapi, hati Yoona juga tidak bisa berbohong. Hanya Chanyeol yang sampai detik ini berada dalam lubuk hatinya yang terdalam. Yoona bahkan sangat merindukan pria itu hingga rasanya ingin segera bertemu dan mengaku bahwa ingatannya sudah kembali. Tapi ia tidak bisa membayangkan reaksi Chanyeol apalagi Baekhyun. Ini kondisi yang sangat menyulitkan bagi Yoona.

Baekhyun melepaskan pelukannya, lalu menyeka air mata Yoona yang masih mengalir. Keduanya terlihat saling menatap satu sama lain.

Tanpa sepengetahuan Yoona dan Baekhyun, sosok pria terlihat berlari mendekati mereka. Setelah memastikan wanita yang berdiri di dekat sungai adalah orang yang dicarinya, wajah pria itu tampak sumringah. Ia langsung memberhentikan mobilnya dan berlari mendekati wanita itu. Tapi, ia tidak menyadari jika ada seseorang yang bersama wanita itu. Langkahnya terhenti ketika ia melihat sosok pria yang tengah menatap serius wanita tersebut. Ia bahkan tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya saat pria itu mencium sang wanita dalam waktu yang cukup lama.

Pria itu—Chanyeol, tertegun dan hanya berdiri mematung di posisinya. Hatinya hancur berkeping-keping menyaksikan Yoona dan Baekhyun berciuman di depan matanya sendiri. Rasanya sangat menyakitkan. Chanyeol sampai tak sadar telah meneteskan air mata. Kali ini Chanyeol sudah lelah. Ia ingin melepaskan beban penderitaan tersebut. Dan satu-satunya cara adalah dengan melepaskan Yoona. Ya, sepertinya melepaskan Yoona adalah keputusan terbaik yang harus segera diambilnya.

.

.

.

.

.

-To Be Continued-

{ Preview Beautiful Ghost – Chapter 16 }

.

.

“Aku ingin mengajak Yoona berlibur ke Spanyol, sebelum kami mengadakan pesta pertunangan.”

“Benarkah? Bagaimana menurutmu, Yoona?”

“Sepertinya menyenangkan.”

.

.

“Aku menyerah, Sehun. Aku benar-benar sangat lelah.”

“Tapi kau sangat mencintainya, hyung. Benarkah kau ingin melepaskannya begitu saja?”

.

.

“Apa kau mencintai Baekhyun?”

“Kenapa kau bertanya seperti itu, Seohyun?”

“Aku hanya ingin tahu perasaanmu yang sebenarnya, Yoong.”

.

.

BRUK!

“Hyung! Kau kenapa? Buka matamu, hyung!”

.

.

“Seohyun-noona . . .”

“Ada apa, Sehun? Kenapa suaramu terdengar panik?”

“Noona . . . Chanyeol-hyung masuk rumah sakit.”

“MWO?!”

.

.

.

Yuhuuu! Spesial untuk dua chapter sebelum chapter final bakal aku kasih preview untuk part selanjutnya. Ya, karena memang aku sudah hampir selesai dalam penulisan draft sampai part final. (Ingat, baru draft lho ya. Belum full story-nya, hehe). Kemungkinan untuk 3 chapter terakhir bakalan panjang banget. Aku memang nggak mahir skip tiap scene. Jatuhnya jadi detail banget dan panjang lebar. Maaf kalau membosankan dan apabila ada typo, atau alur cerita yang makin ruwet *bow*

Untuk sementara aku akan fokus selesain FF ini dulu sampai tamat. Jadi, mohon maaf banget aku belum bisa melanjutkan FF Destiny / Sense of Love. Takut cerita yang ini keburu lupa, hehe.

Sampai bertemu di part selanjutnya. Pada penasaran kah? Muehehehe *senyum evil*

Terima kasih sudah membacanya❤

-cloverqua-

76 thoughts on “Beautiful Ghost – Chapter 15

  1. Omooonaaa .. Knapa chanyeol nyerah sihhh .. Gaa pngen perjuangin yoona .. Yoona harus mulai bisa tegas nih nentuin pilihan . Jgan karna kasian sama baekhyun chanyeol jd mnderita ..

  2. huwaaa… Knapa di saat ingatan Yoong saa jadi roh udah balik, Chanyeol justru mau nyerah W(TAT)W

    coba aja Chanyeol tau…

    YoonYeol 22nya terlalu baik, mrka brkorban buat Baekhyun walaupun hrs ngorbanin prasaan masing2…

  3. Cie…chanyeol jd penyelamat yoona😀
    Syukur dh ingatan yoona udh kembali dan dia bisa ketemu sm kris n tao walaupun untuk terakhir kalinya…..semoga akhirnya yoona sm chanyeol…daebak eon(y) fighting!!!next chapt~~~

  4. Whoohoooo~ akhirnya dilanjut wkwkwk😀
    Duhh~ByunCaBaek~ kenapa musti cium yoong? #NyesekBarengChanyeol
    kenapa cium nya pas chanyeol datang? ._. kenapa ga ngumpet(?) aja ._. jadi chanyeol ga terkena penyakit GALAUISASI(?),NYESEKULOSIS (?) dan HANCURIS HATILUS(?) *eh? ._. #MulaiMabok =,=

    LANJUTT~~ PANJANG JUGA GA APA-APA~~ MALAH SENENG BANGET~~ :3

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s