Salt

zzzzzzzzzzzz

Salt

Written by elevenoliu

Casts

SNSD Yoona // EXO Sehun

Genre & Rating

Romance-Angst & All Rated

Length

 Vigenette (1.333 words)

[Poster goes to Cicil @ 2deer]

[Inspired from a story @ ask.fm but I changed it a lot]

Selembar menu yang sedari tadi dibaca oleh seorang gadis muda itu akhirnya dia berikan kepada pelayan yang menunggu pesanan dari gadis itu.

“Aku memesan jus jeruk dan fish and chips.” Gadis itu menoleh ke hadapannya, seorang wanita tua yang rambutnya mulai memutih, “Umma mau apa?”

Wanita tua itu mengangkat kepalanya dari menu itu, “Kopi saja. Umma sedang tidak berselera untuk makan.” Pelayan itu langsung menulis pesanan dari kedua orang yang berada dihadapannya itu, “Kopinya pakai garam, jangan gula.”

Dahi pelayan itu nampak mengernyit tak mengerti, “Buatkan saja. Kopi dengan garam.” Perintah dari gadis itu dibalas dengan sebuah anggukan ragu dari sang pelayan.

“Sialhkan tunggu sebentar.” Pamit sang pelayan sebelum berlalu dari hadapan kedua orang itu. Sang wanita tua itu langsung mengedarkan pandangannya ke jendela besar yang berada di sebelah kirinya itu. Hari ini adalah tahun kedelapan dimana suaminya meninggalkannya untuk selamanya.

Umma?” Panggil sang gadis yang berada dihadapannya.

“Ada apa, Soojung?” Wanita tua itu—Im Yoona—merespon.

“Aku ingin tahu kenapa umma selalu minum kopi dengan garam,” Soojung menggigit bibir bawahnya, dia bimbang untuk melanjutkan perkataannya, “Apa rasanya? Asin?” Sebenarnya gadis itu ingin mencobanya tapi, dia tidak bisa membayangkan rasanya.

Yoona tersenyum, “Manis.”

“Manis?” Tanya Soojung tak percaya. Dia terkekeh, “Apa kau sedang bergurau, umma?”

“Tidak.” Yoona menggeleng pelan setelah menjawab pertanyaan Soojung itu, “Rasanya memang manis. Lebih tepatnya, sesuatu membuatnya menjadi manis.”

“Sesuatu? Apa itu?”

.

.

.

Tiga puluh tiga tahun yang lalu…

Seorang gadis yang cantik masuk ke dalam sebuah kedai kecil yang tak jauh dari universitasnya. Dia membuang nafasnya lega, minggu pertama di universitas sudah dia lewati dengan penuh rasa ketidak nyamanan. Dia harus lebih beradaptasi lagi.

Gadis yang mengikat rambut coklat tuanya itu menjadi separuh berjalan melewati beberapa meja dan kursi kecil yang tersedia di kedai ini. Setelah menemui tujuannya, dia menarik kursi dan duduk di atasnya. Dia tersenyum menyambut pria tampan yang ada dihadapannya itu. Ini adalah kencan pertama mereka. Kencannya dengan kekasihnya, Oh Sehun.

“Maaf, aku telat.” Gadis itu—Im Yoona—memohon maaf lalu membungkukkan sedikit tubuhnya.

“Santai saja.” Pria itu—Oh Sehun—menegakkan tubuhnya lalu memanggil seorang pelayan yang tak jauh dari mereka, “Hm, Luhan dan Jinri tidak bisa datang. Sepertinya, mereka punya kencan mendadak.”

“Aku memang curiga dengan hubungan mereka semenjak masuk universitas.” Balas Yoona.

Sang pelayan yang berdiri disamping meja mereka itu menghentikan percakapan mereka, “Selamat siang. Pesanannya?”

Yoona menoleh ke arah sang pelayan, “Hm. Teh hangat saja.” Yoona menoleh ke arah Sehun. Mata mereka bertemu! Tentu saja. Sedari tadi Sehun hanya menatap pipi Yoona atau dahi Yoona saja. Dia bisa gugup setengah mati jika melihat mata dari sang pemilik, Im Yoona.

“Oh…Uhm…” Sehun menggaruk tengkuknya, “Ehm…A….Aku pesan kopi saja.”

“Baiklah.” Sang pelayan menyatat pesanan mereka dengan lancar, “Tapi, pakai garam.”

.

.

.

“Jadi, seperti itu?” Tanya Soojung.

Yoona mengangguk pelan, “Ne. Appa-mu sangat berbeda, bukan?”

Ne. Tidak heran kenapa kau juga seperti dia, umma.” Canda Soojung.

Yoona tersenyum sekilas, “Aku hampir memutuskan hubunganku dengannya dulu. Aku pikir, dia orang aneh.”

“Sungguh?” Soojung terbelalak. Dia tidak percaya dengan perkataan yang baru saja terlontar dari bibir umma-nya itu.

“Tentu. Bagaimana dengamu? Disaat kencan pertama kalian, kekasihmu memesan kopi dengan garam.”

“Aku akan berpikir bahwa orang itu sudah tidak waras.”

“Begitupun denganku. Tapi, aku tanya mengapa dia memesan kopi dengan garam.”

“Apa jawabannya?”

Dan waktu luang milik sang ibu dan anaknya itu semakin berharga karena ditemani oleh cerita yang berkesan di hidup ibunya itu.

.

.

.

Kencan kedua.

Yoona cukup memahami kenapa Sehun memesan kopi dengan garam. Waaupun terdengar aneh, hubungan mereka tidak mungkin putus hanya karena kopi dan garam. Yoona menoleh ke sang pelayan yang sudah setia berdiri di dekat meja mereka.

“Kopi dua gelas. Pakai garam, bukan gula.”

Sehun tersentak. Bahkan dia sedikit menupuk meja yang berada dihadapannya dengan keras, “Kau juga minum kopi dengan garam?”

“Baiklah.” Sang pelayan itu pun berlalu dari hadapan mereka.

Yoona menoleh ke wajah tampan Sehun itu, “Segala sesuatu harus kita lakukan bersama. Bukankah itu komitmen yang kau katakan ketika aku menerimamu?” Tanya Yoona. Dia melipat kedua tangannya lalu meletakkannya ke atas meja. “Dan aku menambahkan, walaupun itu hanya hal kecil.”

“Kau benar.”

.

.

.

“Kalian sangat romantis, umma.” Puji Soojung.

“Aku tahu itu.”

“Kau pasti sangat berat ketika kehilangan appa.” Soojung merendahkan nada bicaranya. Duh, sepertinya dia salah bicara. Seharusnya, dia tidak boleh membuat ibunya itu mengingat tentang ayahnya. Pasti, dia akan sedih lagi.

“Tentu. Sangat berat. Tapi, apa kau tahu kenapa appa-mu memilih kopi dengan garam?” Tanya Yoona. Dia ingin memulai ceritanya yang lain.

“Jadi, kau tahu alasannya, umma?”

.

.

.

Sehari setelah pemakaman Oh Sehun. Yoona duduk sendiri di dalam kamar mereka. Kamarnya dan Sehun. Dia duduk di atas kursi yang berhadapan langsung dengan meja rias. Entah dorongan dari mana tapi, Yoona menarik laci kecil yang ada di meja rias tersebut.

Secarik kertas berada di dalamnya. Dengan air mata yang masih menurun dari matanya itu, Yoona meraih secarik kertas itu dan membukanya. Tulisan tangan Oh Sehun itu mengisi lembar kertas itu hingga penuh tanpa ruang sedikitpun. Air mata Yoona semakin deras menelusuri pipinya itu. Dia terharu. Bagaimana Sehun mempunyai niat untuk menulis surat seperti ini? Menanda tangani kertas ulangan anaknya—Soojung pun tidak mau.

Dia membaca surat tersebut dengan hati-hati. Dia tidak ingin melewatkan sepatah kata pun dari surat itu.

Untuk Yoona,

Hai, Yoona. Kau sudah menemukan suratku ini? Hebat sekali. Aku sudah menyimpan surat ini di tempat yang tidak akan pernah kau sentuh. Aku tahu, meja rias bukanlah tempat favoritmu. Kau benci alat make-up, bukan?

Yoong, terima kasih sudah mau menjadi istriku dan berada disampingku hingga saat ini. Mungkin, ketika kau membaca surat ini. Aku sudah tidak ada. Hei, ini hanya mungkin loh. Jadi, jangan memukulku jika kau menemukan ini ketika aku masih hidup ;p

Yoong, aku tahu. Aku tahu jika penyakit diabetes ini tidak mungkin lagi bisa untuk disembuhkan. Memiliki darah yang mempunyai keturunan diabetes itu sangat mematikan bagiku. Menyentuh gula saja, aku jarang. Kenapa aku bisa membiarkan penyakit ini memakan tubuhku perlahan?

Yoong, maafkan aku jika aku pergi lebih dahulu darimu. Tapi, aku lebih senang seperti ini. Bukan karena aku ingin meninggalkanmu tapi, aku tidak bisa hidup tanpa dirimu disampingku. Lebih baik aku pergi dahulu dari pada kau mendahuluiku.

Yoong, jaga anak kita, Soojung dengan baik. Dia baru saja berumur….Hm…..12 tahun? Aku berusaha mengingat umur Soojung selama dua menit. Aku appa yang buruk. Hahaha, aku tahu itu. Aku ingin ketika dia besar, dia menjadi anak yang berbakti padamu. Aku tidak tega jika kau harus menghadapi anak nakal sendirian. Hei, aku perduli ‘kan?

Yoong, kau masih ingat kencan pertama kita? Aku sangat gugup saat itu! Ngomong-ngomong, apa kau masih minum kopi dengan garam hingga sekarang? Aku? Oh, aku masih. Kopi dan garam itu benar-benar manis jika aku meminumnya bersamamu ;p

Tidak, Yoong. Sebenarnya rasanya asin tapi, entah kenapa ketika aku melihatmu. Aku lupa rasa asin itu tengah mengali dari lidahku hingga ke dalam tubuhku, sungguh! Tapi, semenjak aku yang gugup itu sedang berusaha untuk menjadi “berbeda” di hadapan kekasih pertamaku itu, aku jadi suka kopi dengan garam. Karena ingin “berbeda”, akhirnya aku benar-benar berbeda hingga semua orang sering menatapku aneh ketika aku pesan kopi dengan garam.

Yoona. Sebelum surat ini berakhir, aku ingin mengingatkanmu. Aku takut jika kau menjadi pikun suatu saat nanti tapi, ingatlah. Aku selalu mencintaimu. Dimanapun aku berada, dimanapun kau berada. Aku akan selalu didalam hatimu. Aku sudah menyinggah disana dan tidak bisa keluar lagi. Di hatimu.

Sekali lagi. Aku mencintaimu.

Suamimu yang ingin berbeda,

Oh Sehun

.

.

.

Diluar kesadarannya, Yoona menintikkan air matanya. Dengan cepat, dia menghapus air mata yang mengalir di pipinya itu. Dia membuang nafasnya pelan, “Jadi, begitu ceritanya.”

Soojung mengangguk mengerti, “Cinta kalian begitu kuat. Aku kagum.”

“Baguslah. Tapi, ingatlah. Jadikan cintamu dengan pasanganmu nanti menjadi cinta paling kuat dari semua cinta yang kau ketahui.”

“Pasti.”

Yoona meraih secangkir kopi dengan garamnya itu lalu meneguknya. Setiap hal kecil hingga hal besar yang dia lakukan. Dia selalu mengingat Sehun. Segala sesuatu harus kita lakukan bersama. Walaupun itu hal kecil.

Yoona meletakkan kopinya ke atas meja lalu senyumannya merekah, “Ini benar-benar manis.”


tumblr_static_gif303 tumblr_m1bdmyTr0F1r05boko1_500

FF selingan sebelum The Wedding Breaker. How? Ini hadiah buat kalian yang ngarep KrisHun disana. Maaf ya :”’ Btw, aku buat FF ini sambil denger lagu WYF. Astaga, suara dia bener-bener buat aku mikir, kok SM tega ya bikin orang ini bener-bener useless di EXO? Buat kalian yang mau download, disini ya🙂 WYF – Time Boils The Rain❤ Gbu!

59 thoughts on “Salt

  1. Sehun oppa kenapa bisa mati? Terus emangnya penyakit diabetes mematikan ya? Mian banyak tanya..
    Ceritanya daebak.. Semangat.. Hwaiting..

    Annyeong^^

  2. Awas loh Sehun, kebanyakan garam bisa darah tinggi ntar lol😄
    Demi pengen beda terus rela gitu ya ngelakuin hal aneh haha tapi mereka berdua soswiiit. Yoona bahkan sampe ikutan suka kopi pake garam. Emang bener kalo pernikahan itu mengikat dua individu menjadi satu. #halah
    This story is so sweet, dear. Sayang Sehun udah meninggal hiks😦
    Aku tunggu ff selanjutnya!😀

  3. yahh walaupun si sehun udah tiada (dalam FF ini) tapi tetep keromantisannya terasa /LOL/
    bagian surat SeYoon aku suka banget thor, sehun bikin suratnya diselipin hal-hal yang lucu >.< emm btw, aku jadi pengen nyobain kopi pake garam /plak/-_-

  4. daebak thor❤
    awalnya aku kira itu tuh yoona sama umma nya. eh, ternyata yoona sama anaknya😀
    jadi penasaran pengen rasain kopi pake garem wkwk.
    ditunggu ff lainnya ya thor

  5. YAYAYAYA!
    Ini ff manis sekali. Aku kirain pas Yoona cerita tentang Sehun, dia hanya mantan Yoona. Ternyata dia suami Yoona ya. Aku lega pas bacanya. Dan aku was-was lagi, mereka pisah kenapa? Sehun berkhianat? Dan sedikit bernapas lega karena ternyata dia meninggal, sebenarnya sedih juga sih. Dan alasan dia meninggal karena diabetes. Kayaknya bukan karena keturunan deh. Mungkin karena wajah Yoona yang terlalu manis. KKKKKK gak mungkin lah.

    Walaupun agak sedih karena Sehun udah gak ada, tapi isi surat yang mengatakan bahwa ia lebih milih pergi dulu daripada harus ditinggalkan Yoona, itu menandakan bahwa betapa Sehun mencintainya. Apalagi Yoona juga kekasih pertamanya.

    Trus trus pict itu, omegot… Sehun kayak anak TK aja. Ekspresinya itu loh… Minta dikarungin ya bawa pulang. Dan untuk lagunya Wu Yifan aku juga suka banget. Ampe putar berulang-ulang abis download. Walau gak paham tetep aja rasanya nyentuh banget, pokoknya bagus deh. Gak nyangka banget suara dia bisa kek gitu. Secara di EXO kan dia rapper. Ah. Rasanya jadi kangen lagi ama abang.

    Terakhir, aku suka ama ff-nya kak. Walau rada sedih, tapi manis kok. Sering buat yang fluff dong. Dan wedding breaker-nya kapan dipublish? Ditunggu loh ya ff-nya. Keep writing!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s