Mungkin memang harus begini

poster mungkin memang harus begini

Cicil presented

Yoona with Luhan

Genre: Romance, Hurt, Suspense

Rating: SU

<1000words

Disclaimer: All cast and my story belong to God.

 

 

Hari-hari terasa hampa dilalui. Mendung bergemuruh di depan kilauan mata. Songkongan angin menembus, goyahkan relung hati. Getaran pada kedua tangan seperti tabu kebiasaan, tak mampu lagi dicerna. Yoona rapuh, sesosok boneka porselen yang mudah hancur menggerling dalam dirinya.

 

Dia menangis. Beribu buliran kristal tak kasat mata telah dibuangnya percuma, berharap sekonyong-konyong hatinya akan kembali seperti yang dulu. Hati yang utuh tanpa cacat luka, hati yang penuh kasih sayang dan terlindungi.

Detik-detik jarum jam seirama dengan jantungnya yang berdetak lemah. Sakit itu terlampau menusuk ulu perasaannya, mengobrak-abrik isinya tanpa ijin. Tangannya berangsur-angsur terulur, meremas sang dada sekuat sisa tenaga.

Lututnya ingin putus, lelah berlari sedari dua jam yang lalu. Ya, dia berlari, berusaha meninggalkan takdir dan keputusan. Berusaha kabur dari jurang kemuraman tak berujung dan kembali memanjat pada surga kebahagiaan selamanya. Namun otot-otot betisnya mulai menegang, dan buat kakinya sulit digerakan lagi.

Pilihan satu-satunya hanya terdiam, terpatung dungu di tengah jalan raya kosong melompong. Hari tidak secerah kemarin, sama layak hatinya yang mengabu karena mendung. Dalam kurun waktu beberapa detik, tetesan gerimis menghujani bumi tempatnya berpijak. Basahi seluruh jalanan kota dan rambutnya.

Dingin menusuk tulangnya dan nyeri merambat ke seluruh syaraf. Namun, Yoona tidak peduli lagi. Dengkulnya melemas, perlahan menekuk buat tubuhnya berlutut. Seolah terdengar dentuman terkeras ketika tulang bersama kulitnya menghantam bumi. Ia jatuh, seraya tangis memilukan kembali terdengar mengisi sunyi perasaannya.

Teriakan putus asa keluar begitu keras dari kerongkongan. Dia marah. dia marah kenapa dunia harus punya roda, roda yang kejam memutarnya untuk berada di bawah. Diinjak dan tersakiti. “Ke..na..pa?” disaat suaranya serak, Yoona memilih bungkam. Menyimpan sisa-sisa pita suaranya untuk sekedar bertanya pada langit.

Tak ayal, tiba-tiba seseorang datang menghampiri. Tampak tergopoh-gopoh dengan lengkungan khawatir melekat jelas di dahinya. Yoona mendongak dari keluhannya, berkerumun dalam segenap keberanian untuk menarik sosok itu masuk ke dalam jurang terluka, sama sepertinya.

“Temani aku,” dua kata itu sanggup melebarkan iris lelaki di hadapannya. Mereka sama-sama mengerti, sama-sama tahu, sama-sama bergelut dalam mendung tak berkesudahan. Tangan mungil Yoona lekas terangkat, mencekal kerah lengan sang lelaki.

“Bisakah?” tanyanya lagi. Namun hanya senyum palsu terukir tipis di kedua sudut bibirnya. Yoona muak dan dia tidak perlu sama sekali senyum itu. “Ayo kita berteduh sejenak, tidak baik menyelesaikan masalah di tengah hujan…… Yoona,” pun menutup matanya sejenak, rasakan betapa tenang suara itu merasuki telinganya. Bahkan lelaki tersebut masih mampu berlakon seolah tidak terjadi apa-apa?

Dia menarik nafas, bersusah-payah bangkit berdiri dan mengikuti langkah kaki sosok itu. Mereka berteduh, dalam payungan atap di depan etalase toko buku. Bising dari orang-orang yang mengeluh lantaran mereka tidak bisa pulang saat hujan begini mengisi percakapan kedua insan tersebut.

Setengah jam berlalu, relung senja mulai menggelap, berseru-seru menuju malam. Yoona hanya membisu dalam dekapan hangat sosok itu. Dekapan yang selalu ia rindukan.

Ia berpaling pada si wajah tegas, menilik satu persatu kejujuran yang terpatri jelas dalam kedua iris. “Ke..na..pa?” bisiknya serak, mencoba keluar dari segala yang ada, mencoba temukan jawaban lebih baik sesuai keinginannya.

Lelaki itu terhenyak, kelu bersemayam tulus dalam lidahnya. Ia membeku, menyimpan jawaban atas pertanyaan tersebut di paling dalam sudut hatinya. Acap kali Yoona mulai gerah, kedua tangannya melepas jaket tebal milik lelaki itu yang merengkuh pundaknya.

“Tidak bisakah, kamu kembali?” air matanya kembali turun, berjingkat mengalir mulus sesuai lekukan pipinya. Tatapannya hanya menguarkan kilat terluka, karena mereka masih ingat jelas kenangan manis yang ada, sejuta senyum tanpa syarat yang buat hati mereka utuh. Tapi itu dulu.

Yoona terlalu terbiasa dengan semua kebahagiaan yang ada, terlena dalam buaian sejuk yang ia pikir berkadar selamanya. Namun, sekali lagi ia tahu, setiap manusia tidak bisa luput dari roda kehidupan. Karena itu ia bertanya pada langit, mengeluh pada awan, dan menangis pada bumi.

.

 

.

 

.

 

Bosan

Yoona sering mengucapkan satu kata tersebut, satu kata tidak berarti baginya. Ia bosan sekolah, ia bosan belajar, atau ia bosan ini, ia bosan itu. Semuanya hambar, bosan hanyalah rupa lelucon semata dan keluhan sedetik yang mudah terlupakan.

Tapi tidak untuk sekarang. kata bosan bukan lagi gampangan. Kata itu telah menjadi akar dari semua penderitaannya, dan awal dari kehancuran hatinya.

Mereka bosan,

“Luhan, bicara padaku! Kenapa?!” gadis itu tak kuasa menahan emosinya, tangis tidak lagi cukup meredam amarah. Pun remasan buku-buku jemari pada dada tidak lagi mampu memuaskannya.

Ia harus bertanya, ia harus mendapatkan jawaban yang ia mau.

“Luhan, katakan! Kenapa harus ada bosan dalam cinta kita?!” lelaki itu menutup mata seraya teriakan serak milik Yoona merambangi daun telinganya. Seakan petir baru saja menyambar belakangnya, merusak takdir bahagia yang mereka pikirkan.

Mereka bosan, Yoona maupun Luhan merasakan itu. Hubungan mereka berangsur mendatar seperti roti tanpa selai. Lelucon tidak lagi lucu, kesibukan murid tingkat akhir selalu menjadi alasan mereka saling menghindar. Bukan tidak berusaha, tapi tidak bisa.

Luhan mencoba mengirim pesan sapaan setiap pagi, Yoona berusaha menelepon tiap malam. Tapi mereka bosan. Hingga hari itu datang dan menghanguskan hubungan mereka. “Sejak itu aku terus bertanya, kenapa perasaanku padamu tidak kunjung kembali?” Yoona meraung-raung, memukul sesal dada mantan kekasihnya.

Luhan merengkuh tubuh gadis itu, berusaha kembali jatuh dalam cinta manis. Tapi yang mereka temukan hanya seonggok jurang kemuraman. “Yoona, aku percaya semuanya akan kembali.”

“Tidak, tidak akan ada yang kembali.” Yoona menggeleng tegas, enam bulan ia bergelut dalam senja mendung. Ia lelah, ia jenuh pada usaha mereka.

Gerimis mulai mereda, namun gemuruh dalam hatinya tidak berakhir begitu saja. “Pergilah,” usirnya, mendorong halus pundak lelaki itu.

“Carilah yang lebih baik dariku, begitupun sebaliknya.” Luhan hanya mampu tercengang, mendengar nada keputus-asaan dari sana, ia ingin mengelak kendati keadaan jelas telak mengurungnya.

Detik-detik berlalu, Yoona meraih pandang Luhan, kabut kecil di pelupuk matanya mengaburkan sosok itu. Anggukan dari Luhan merupakan tanda mereka berpisah, benar-benar berpisah tanpa secuil usaha untuk kembali. Lama-kelamaan lenyap seiring petir membesar.

Hujan ternyata tidak berhenti, dia hanya beristirahat sebentar untuk memberikan kesempatan pada Yoona. Mendesaknya dalam angin senja untuk segera memutuskan. Gadis itu tidak mampu meyakin, tapi lembungan aura kusam mendorongnya untuk berkata. Melepaskan keinginan mereka untuk berbalik.

Bunyi guyuran hujan yang makin memperdaya sembunyikan tangisannya. Ia mengacak rambutnya frustrasi. Tersungkur dalam usaha meraih cahaya kebahagiaan.

 

Mungkin memang harus begini.

 

 

 

 

Kkeut!

 

a/n: fanfiction kali ini masuk dalam curhatan aku secara gak langsung, aku curhat kalo aku lagi bosen nulis-semacam wb tapi ini akut-ditambah aku gaktau apa eksistensiku dalam dunia fanfiction ini, kadang aku merasa aku gak maksimal dalam menulis, aku pengen jadi penulis fanfiction superkeren dan berbakat, tapi aku rasa ini bukan jalannya. Jangan dicontoh ya author yang satu ini, gampang putus asanya😄

How do you think?

Tapi ini bukan akhir bener bener akhir kok, tenang aja. Aku kan labil #gubrak#

40 thoughts on “Mungkin memang harus begini

  1. Ih.. Kenapa harus berakhir seperti ini? Emang apa sih penyebab hancurnya hubungan luhan oppa sana yoona eonni? Sabar aja deh.. Pasti ada yang lebih baik.. Hwaiting..

    Annyeong^^

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s