The Wedding Breaker [1]

twb-elevenoliu

The Wedding Breaker

Written by elevenoliu

Casts

Wu Yi Fan // SNSD Yoona // EXO Chanyeol

Genre & Rating

Romance-Drama & Rated for 15+

Length

Chapter

[Poster goes to MyeonnieKim @ posterdesigner]

Jarum jam yang sedari tadi berputar itu diperhatikan oleh seorang wanita yang cantik dan menawan namun, tidak ada senyuman di wajahnya itu. Wanita itu membuang nafasnya pelan lalu memalingkan pandangannya dari jam tersebut dan memerhatikan seorang wanita yang jauh lebih tua darinya yang sibuk memilih-milih sebuah gaun pengantin dari puluhan gaun pengantin yang ada dihadapannya.

Wanita itu menundukkan kepalanya dalam. Dia tertekan. Kenapa perjodohan di tahun 2014 ini masih saja terjadi? Dia mengerutkan bibirnya lalu membuang nafasnya lagi. Dia ingin sekali pergi dari toko bridal ini dan tidak ikut melihat gaun pengantin yang akan dia pakai tiga hari lagi.

Semuanya mendadak. Semuanya serba mendadak. Undangan baru saja selesai dicetak kemarin. Memesan gedung, memesan menu makanan, hingga berapa banyak piring baru dilaksanakan pagi tadi dan sekarang dia berada di toko bridal untuk memilih gaun pengantinnya. Wanita itu mendecak kesal. Yang dia inginkan adalah pergi dan melakukan hal itu semua bersama dengan calon suaminya.

Oh, bukan calon suami yang ini. Calon suami yang dia cintai. Jujur saja, Yoona bahkan bertemu dengan pria yang akan dijodohkannya itu baru dua kali saja. Pertama, ketika makan malam keluarga dan mereka tidak berbicara banyak. Hanya beberapa kalimat saja. Kedua, ketika mereka memang disengaja untuk berkencan. Kencan yang sangat kaku. Tidak. Bagi dia, itu bukan kencan. Mana ada kencan tapi tidak berbicara disepanjang jalan?

Tidak. Im Yoona—wanita itu—tidak berharap jika pria yang dijodohkan dengannya itu berbicara banyak padanya. Justru dia berharap agar pria itu tidak akan betah untuk tinggal bersamanya nanti. Well, Yoona hanya berharap saja. Walaupun dia tahu bahwa harapan itu tidak akan menjadi nyata.

Bagaimana tidak? Orang tuanya tidak akan memikirkan perasaan anak tunggalnya itu. Mereka lebih memikirkan perasaan kerabat dekat mereka. Bukan. Bukan karena masalah pekerjaan tapi mereka tidak mau hubungan mereka putus. Oleh sebab itu, Yoona dikaitkan.

“Yoona.” Suara serak milik ibunya itu membuyarkan lamunannya. Yoona langsung menoleh ke asal suara. Dia hanya melihat ibunya itu. Tidak tersenyum dan tidak memberikan respon lebih. Dia tidak bisa membohongi dirinya, dia sangat membenci perjodohan ini.

Tanpa basa-basi, Yoona meletakkan tasnya ke atas sofa yang dia duduki lalu bangkit dan berjalan menghampiri ibunya yang tengah memegang gaun pengantin yang ehm…lumayan bagus untuk Yoona. Dia pasti akan sangat cantik jika memakainya.

“Ada apa?” Suara lembut milik Yoona itu keluar dari bibirnya yang tipis. Dia hanya melemparkan tatapan mau-tidak-mau kepada ibunya itu. Ibunya tersenyum lalu mengguncangkan lengan Yoona pelan.

“Ayolah, jangan memasang wajah seperti itu.” Bujuk ibunya.

“Mau seperti apa?” Tanya Yoona. Dia langsung mengambil gaun pengantin itu dan memberikan pada salah satu pelayan yang ada disebelah kanannya. “Tolong bantu aku memakai ini.”

“Baiklah.” Pelayan itu mengikuti langkah Yoona dari belakang menuju ke ruang ganti. Yoona memasuki sebuah ruangan yang berbentuk bulat dan besar, lebih besar dari ruang ganti biasanya. Di hadapannya terdapat sebuah cermin besar yang memantulkan dirinya itu. Dia memandangi pantulan dirinya disana. Dia membuang nafasnya, dia tidak menyangka jika di hari besarnya nanti dia tidak akan merasa setitik kebahagiaan nantinya.

Yoona pun melepaskan pakaian yang melekat ditubuhnya dan segera memakai gaun pengantin itu. Dia sedikit melihat gaun pengantin yang masih belum terpakai sempruna itu dari cermin yang ada dihadapannya. Dia mendengus sebal. Gaun ini terlihat terlalu besar untuknya. Dia menoleh ke pelayan yang sedang menaikan ritsleting yang berada di punggung gaun Yoona.

“Permisi, bisakah gaun ini sedikit dikecilkan?” Tanya Yoona hati-hati.

“Maaf, nyonya. Tapi, tidak bisa. Satu-satunya cara adalah anda menggemukkan tubuh anda agar gaun ini terlihat pas.”

Ugh! Menggemukkan tubuhnya itu adalah keinginannya dari dulu. Sayangnya tubuh ini tidak mau menggemuk sama sekali. Yoona memutar tubuhnya perlahan. Ketika dia sudah membelakangi cermin besar itu, dia tersenyum sekilas, “Baiklah. Bisakah kau buka hordengnya? Aku ingin ibuku melihat ini.”

Pelayan itu hanya mengangguk kecil dan membuka hordengnya perlahan. Yoona mengerucutkan bibirnya. Sebenarnya, dia tidak tahu perasaan apa yang dia rasakan. Dia membenci perjodohan ini tapi, dia senang menggunakan gaun pengantin ini. Ya, sedikit senang.

Yoona mendongakkan kepalanya yang sedari tadi dia tundukkan itu. Dia melihat pemandangan yang tepat berada dihadapannya. Yoona terperanjat. Dia…ada disini. Dia yang dijodohkan oleh Yoona. Dia yang akan berdiri di depan altar nanti.

Dia. Kris Wu.

Well, namanya adalah吳亦凡 (read; Wu Yi Fan)tapi lebih akrab dipanggil sebagai Kris. Yoona tetap menatap pria yang bertubuh tinggi itu. Rambutnya yang berwarna blond itu benar-benar mencolok dari mereka—ibunya dan dua pelayan toko ini. Dia berdiri tegap sambil melipatkan kedua tangannya tepat di depan dadanya yang bidang itu.

“Ka-Kau kenapa—“

“Kris-ssi, bagaimana pendapatmu dengan gaun ini?” Pertanyaan yang dilontarkan oleh ibu Yoona itu menyela pertanyaan dari Yoona.

“Hm?” Kris merespon lalu melirik sebentar ke wanita tua yang berada disebelah kirinya, “Aku kurang suka dengan gaun yang ini, Im ahjumma.” Kris mengedarkan pandangannya kepada deretan gaun pengantin yang berada di ujung ruangan itu. Matanya bertukar dari gaun yang ini lalu ke gaun yang disebelahnya lalu ke gaun yang ada disana dan…

Sebuah gaun putih yang tampak anggun dan elegan itu benar-benar membuat seorang Kris bisa tertarik. Tanpa dia sadari, tangan kanannya terangkat dan menunjuk gaun tersebut. “Coba yang itu.”

Yoona tercengang melihat respon Kris yang diluar ekspetasinya. Yoona mendengus sebal, “Kenapa kau disini?” Akhirnya pertanyaan yang tertahan pun berhasil lolos juga.

Kris menoleh dengan cepat, “Kau berbicara padaku?”

Yoona menopang pinggangnya, “Siapa lagi?”

Kris hanya diam. Dia tidak mengacuhkan Yoona. Dia memundurkan langkahnya lalu duduk di atas sofa. Dia meraih sebuah majalah yang berada di meja yang terletak disamping sofa tersebut dan meletakkan kaki kanannya di atas kaki kirinya sambil melihat-lihat isi majalah itu.

Rahang Yoona mengeras. Pria itu benar-benar menyebalkan. Rasanya dia ingin keluar dari ruang ganti ini dan menghajarnya sekarang juga. Tapi, tetap saja dia tidak bisa melakukannya. Selain gaun pengantin yang panjang dan kebesaran itu mengganggunya, disana ada ibunya yang tengah melemparkan tatapan mematikan.

Salah satu pelayan mengambil gaun tersebut dari tempat penyimpanan dan memberikannya kepada pelayan yang berada di ruang ganti bersama Yoona. Yoona menurut dari pada dia merasa merinding karena seseorang—ibunya—melototinya setiap detik.

Tak lama kemudian, hordeng ruang ganti itu terbuka lagi dan Yoona dengan gaun pengantin yang berwarna putih pilihan Kris itu pun muncul. Yoona hanya berdiri diam sambil menatap ibunya dan Kris bergantian. Dia menunggu respon mereka.

“Gaun ini terlihat lebih baik.” Puji ibunya ketika melihat sosok anak tunggalnya yang sudah terlihat sempurna dengan gaun pengantin pilihan Kris.

“Dan pas.” Tambah Kris. Dia langsung bangkit berdiri dari sofanya dan melangkahkan kakinya keluar dari toko bridal ini. Tidak pamit. Tidak menatap mata Yoona. Tidak tersenyum.

Dia benar-benar manusia es yang bisa berjalan.

Yoona dan ibunya keluar dari toko bridal itu lalu membuka pintu mobil yang telah menjemput mereka. Dia menoleh kearah ibunya dan sedikit tersenyun, “Ibu. Masuklah.”

“Untuk apa kau membukakan aku pintu?” Dahi ibunya mengerut, “Apa kau ingin sesuatu? Jadi, kau bersi—“

Yoona meletakkan telunjuk kanannya ke depan bibir tipisnya, “Ssstt! Sudahlah, bu. Masuk saja.” Suruh Yoona.

Ibunya hanya menurut lalu masuk ke dalam mobil tersebut. Setelah Yoona yakin bahwa ibunya sudah masuk ke dalam mobil dengan seutuhnya. Dia langsung menutup pintu tersebut dan menoleh ke kaca bagian supir. Dia mengetuk kaca tersebut, “PERGILAH!” Teriak Yoona.

Yoona langsung berlari dengan tas jinjing yang dia pegang dan sepatu tumit yang menjadi alas kakinya. Dia bukan ingin kabur tapi, dia ada janji dengan sahabatnya, Kim Taeyeon. Lebih tepatnya, dia ingin memberikan undangan secara khusus kepada sahabatnya itu.

Yoona terus berlari selama lima menit. Dia tidak mau menoleh ke belakang setelah dia meninggalkan ibunya itu. Dia yakin pasti ibunya itu membuka kaca mobil dan mengeluarkan kepalanya sambil berteriak-teriak tidak jelas. Tapi, masa bodoh dengan itu. Yang terpenting bagi Yoona sekarang adalah bertemu dengan Taeyeon.

BRUK!

Yoona menabrak seseorang yang berada didepannya hingga jatuh tepat di atas trotoar. Orang yang dia tabrak itu langsung menoleh ke seseorang yang menabraknya. Tapi, dia tidak bisa melihat apa-apa.

“Ugh!” Erangan Yoona membuat ornag tersebut sadar bahwa orang yang menabraknya itu jatuh. Dia langsung melihat ke bawah—kepada Yoona.

Yoona mendongakkan kepalanya tapi, cahaya matahari yang tengah bersinar itu membuat matanya sedikit silau. Dia menyipitkan matanya dan menutupnya dengan tangan kanannya. Mungkin orang yang dia tabrak itu berpikir bahwa Yoona meminta bantuan. Orang tersebut langsung memegang tangan kanan Yoona yang dia gunakan untuk menutup sinar matahari lalu membantu dirinya berdiri.

“Maaf, tapi apakah—YOONA?” Suara orang tersebut meninggi ketika dia melihat wajah orang yang menabraknya dengan jelas.

“Oh, ehm. Maaf, aku sudah menabrakmu.” Yoona tidak merespon betapa terkejutnya pria yang berada dihadapannya itu.

“Sial!” Gerutu Yoona ketika dia sadar bahwa sepatunya rusak. Tapi, Yoona sadar bahwa seseorang tengah berada dihadapannya. Gawat jika orang ini merasa bahwa Yoona mengatainya.

“Uh…Maaf, aku tidak bermaksud untuk mengataimu seperti tadi.”

“Tidak apa. Santai saja. Aku sudah biasa.”

Tunggu! Sepertinya pria yang dia tabrak itu sudah mengenalnya hingga dia terbiasa. Tapi, terbiasa dengan ucapan Yoona atau terbiasa dengan dikatai seperti itu? Yoona menatap pria yang berada dihadapannya dengan aneh. Sepertinya, dia mengenal pria ini.

“Hei, Yoona. Kau lupa denganku?” Tanya pria itu.

“Lupa? Apa kita saling—OH PARK CHANYEOL? PRIA BO—Oh, maaf.” Yoona mengakhiri perkataannya dengan tawanya yang pecah. Dia sedikit meninju lengan kanan Chanyeol.

“Kemana saja kau? Aku tidak pernah melihatmu semenjak hari kelulusan.”

“Aku? Masih di Seoul.” Chanyeol memeriksa sepatu Yoona, dahinya sedikit mengerut, “Ngomong-ngomong, bagaimana dengan sepatumu?”

“Oh? Ini?” Yoona melepaskan sepatu tumitnya itu dan memegangnya serta memeriksanya. Dia mengedikkan pundaknya, “Aku tidak tahu. Pasti sudah rusak.”

“Benarkah? Oh, iya.” Chanyeol mengeluarkan sebuah kotak dari kantung plastik yang dia jinjing.

“Tadi aku beli sepasang sepatu. Mungkin kau bisa memakainya.” Chanyeol membuka kotak sepatu sport itu lalu membuang nafasnya kasar. Dia bodoh. Memang. Park Chanyeol memang bodoh. Sepatu sport itu terlalu besar untuk Yoona.

“Ini…terlalu besar.” Chanyeol memutar bola matanya, berusaha untuk berpikir, “Atau kau mau membeli sepatu baru? Biar aku yang bayar.”

Yoona menggeleng dengan cepat, “Tidak. Terima kasih. Aku harus buru-buru pasti tidak cukup waktuku jika aku beli sepatu lagi.”

“Benarkah?”

“Iya. Aku begini saja. Tidak apa-apa.” Yoona mengangguk kecil lalu mengangkat kaki kanannya lalu kaki kirinya seperti berjalan di tempat.

“Kalau begitu, pakai ini saja. Tidak apa-apa kok.” Chanyeol langsung mengeluarkan sepatu sport tersebut lalu meletakkannya tepat berada dihadapan kaki Yoona.

“Pakailah. Kebesaran lebih baik dari pada jalan pincang seperti itu.” Usul Chanyeol itu memang lebih baik dari pada harus berjalan dengan sepatu yang seperti ini.

“Baiklah.” Yoona melepaskan sepatunya lalu memasukannya ke dalam tas jinjingnya dan langsung memakai sepatu sport tersebut.

“Memangnya ini untuk siapa? Kau?” Tanya Yoona.

“Oh, itu untuk temanku. Aku baru saja ingin bertemu dengannya tapi, tidak apa. Buat kau saja.”

Mata Yoona melebar tidak percaya. Jadi, ini hadiah untuk seseorang? Baru saja dia ingin melepas sepatu yang sudah terpasang di kakinya namun tangan Chanyeol menghentikan niat Yoona.

“Tidak apa. Ini untukmu saja,” Chanyeol tersenyum hingga deretan giginya terlihat dengan jelas, “Anggap saja ini hadiah pertemuan kita.”

“Sungguh?” Tanya Yoona.

“Tentu saja. Sejak kapan aku ini suka bergurau.” Tawa Chanyeol yang khas itu menutup perkataannya.

“Bukankah kau memang seperti itu?” Tanya Yoona. Sebelum Chanyeol menjawab, Yoona sudah mengecek arlojinya. “Maaf, Chanyeol. Aku harus pergi sekarang. Aku akan memberi sepatu yang baru jika kita bertemu lagi. Okay?

Yoona tidak menunggu jawaban Chanyeol. Dia langsung berlari dari hadapan Chanyeol dengan sepatu yang kebesaran itu.

Pria berambut blond itu meneguk kopi yang masih mengembulkan uap. Tak lama kemudian, pintu café yang dia pandangi sedari tadi terbuka dan munculah seseorang dari sana. Seseorang yang sudah dia tunggu sedari tadi.

Pria berambut blond itu—Kris—meletakkan secangkir kopi itu ke atas meja lalu tersenyum hangat kepada seseorang yang sudah dia tunggu sedari tadi.

Orang yang dia tunggui itu meletakkan kantung plastik yang dia bawa ke bawah meja lalu duduk di hadapan Kris dan tersenyum membalas senyuman Kris.

“Aku merindukanmu.” Ucap Kris.

“Aku juga. By the way, tadi aku sudah membeli sepatu untukmu tapi, aku memberikannya kepada temanku. Sepatunya patah.”

Kris melemparkan pandangannya ke luar jendela, “It’s okay, babe. Itu hanya sepatu.”

“Sungguh? Aku kira kau akan mengamuk karena hal itu.”

“Kau seperti tidak tahu aku saja.” Balas Kris. Kris membuka tas kerjanya dan merogoh isi dalam tasnya, “Chanyeol-ah..” Panggil Kris dengan lembut.

Orang yang berada dihadapannya itu—Chanyeol—mengangkat kedua alisnya sebagai respon yang dia berikan. “Ada apa?” Rupanya Chanyeol masih mempunyai respon yang lain.

“Aku ingin memberikanmu sesuatu.” Kris mengeluarkan sebuah undangan berwarna merah muda lalu meletakkannya di atas meja. Chanyeol terus memerhatikan undangan tersebut hingga dia bisa melihat nama yang pengantin yang tertulis disana.

Kris Wu dan Im YoonA

Mata Chanyeol memanas. Rasanya seperti ada batu besar yang menghantam dirinya. Chanyeol menatap mata Kris. Dia tidak mengerti. Bukan, dia mengerti tapi, dia tidak mau mengerti. Jadi, apa yang telah mereka lewatkan selama dua tahun itu?

“Chanyeol-ah, maafkan aku. Ini perjodohan. Bukan kemauanku.” Kris memohon maaf. Dia membuang nafasnya pelan lalu meneguk kopi itu lagi.

“Apa kau memikirkan perasaanku?” Tanya Chanyeol dengan hati-hati.

Kris meletakkan kopinya ke atas meja, “Aku memikirkannya. Aku memikirkanmu setiap detik, Chanyeol.”

“Tapi, kenapa kau menerima perjodohan itu? Kau tertarik dengan wanita itu ‘kan?” Sekali lagi Chanyeol melirik ke undangan tersebut, “Yoona..” Gumam Chanyeol.

“Aku yakin kau tertarik dengannya. Im Yoona adalah teman sekolahku dulu.” Chanyeol menahan nafasnya sebelum dia melanjutkan perkataannya, “Dia sangat menawan. Setengah dari kelasku dulu menyukainya.”

Chanyeol menatap mata Kris lagi. “Tidak mungkin jika kau tidak tertarik dengannya.” Chanyeol bangkit berdiri dari duduknya dan mengambil undangan tersebut, “Aku akan datang.”

Sebelum Chanyeol benar-benar berlalu dari hadapan Kris, dia berkata, “Semoga Yoona bisa menjadi penggantiku.”

TBC


Hai, gimana chapter 1 nya? Kayaknya kependekan ya, maklum ini kan masih awal jadi aku biasanya nungguin respon readers gimana karena komen kalian itu bisa ngubah alur ceritanya ._. Oke, makasih yang udah baca chapter 1 ini😀

116 thoughts on “The Wedding Breaker [1]

  1. Lanjut thor,ditunggu yaaa chapter selanjutnya hehehehe udah ga sabar ni sama ceritanya. Dan ternyata kris sama chanyeol ohh my god ‎​ƋЌƲ‎​‎​ ga nyangka.‎​ƋЌƲ‎​‎​ pikir chanyeol itu ‎​ªĐª˘ hubungan sama yoonA . Okee di tunggu yaaa thor🙂

  2. YAOI? *kaget *pingsan *kejang-kejang #plak readers alay -_-
    thor kau membuatku kaget, kenapa yaoi? ishhhh*lempar Sooman -_-
    aku kira Cenyol suka ama Yoona, tapi….. *pingsan lagi -_-
    tpi keren thor, tpi aku lebih mau Cenyol ama Yoona thor, Yoona thor *jiwa shipper kumat -_-

  3. Mwo-ya? Mereka berdua hombreng? Astaga, imajinasi mu terlalu tinggi thor, aku tidak kuat oh noo *alay tapi lucu aja di balik sifat nya si kris yang dingin itu ternyata dia hombreng, Hahaha, daebak thor,

  4. WduuuhhHh ,, ak kira dsni yg drebutin itu yoona ,, trnyata kris sama chanyeol gay ??? ? ampun gaa nyangka banget … Kasian banget yoona , udh djodohin sama orng yg gaa dia suka udh gitu suaminya suka sesama jenis lagi .. Hadeuuuhhh

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s