Beautiful Ghost – Chapter 16 [PRE-FINAL]

bg_16

Beautiful Ghost

by cloverqua | main cast Park Chanyeol – Im Yoona

other cast Byun Baekhyun – Oh Sehun – Seo Joo Hyun – Huang Zhi Tao – Kris Wu

genre Comedy – Fantasy – Romance | rating PG 15 | length Chaptered

disclaimer This fanfiction is purely my own. Cast belong’s God. I just borrowed the names of characters and places. Don’t plagiat this FF! Please keep RCL!

Happy reading | Hope you like it

2014©cloverqua

[Poster by ladyoong’s art]

[Terinspirasi dari drama korea 49 days, tapi dengan alur dan cerita yang berbeda]

.

.

.

Semenjak kejadian yang menimpa Yoona pasca tenggelam di kolam renang, Baekhyun kian intensif berkomunikasi dengan Yoona. Rupanya pria itu tak ingin menyia-nyiakan waktunya untuk mendekatkan diri dengan wanita itu. Ia bahkan mengajak Yoona beserta Tuan Im untuk menikmati makan malam bersama dengan ayahnya. Kini dua keluarga tersebut tengah duduk di ruang makan, di kediaman Tuan Byun Jung Soo.

Tuan Im dan Tuan Byun duduk bersebelahan, sama seperti Yoona dan Baekhyun. Keduanya sama-sama sudah kehilangan ibu mereka yang telah meninggal. Inilah yang menjadi alasan dua sahabat itu ingin menikahkan anak mereka. Karena mereka ingin segera memiliki cucu yang dapat menemani hari-hari tua mereka. Tapi, di luar dugaan Baekhyun dan Yoona justru sepakat untuk menjalani pertunangan sebelum mereka resmi menikah.

“Bertunangan?” tanya Tuan Byun kaget. Reaksi yang sama juga terlihat dari Tuan Im.

Baekhyun mengangguk, “Kami sudah sepakat untuk bertunangan dulu, appa.”

“Kenapa tidak segera menikah saja?”

Baekhyun melirik ke arah Yoona yang hanya tersenyum tipis. Kemudian memandangi ayahnya dan Tuan Im yang menatap bingung pada mereka.

“Akhir-akhir ini banyak hal yang dialami Yoona, terutama terkait kondisi kesehatannya. Kami juga belum sepenuhnya mengenal lebih dalam lagi pribadi masing-masing. Meskipun kami sudah menerima perjodohan ini, kami masih membutuhkan waktu untuk penjajakan. Demi melancarkan semuanya, akan lebih baik jika kami bertunangan terlebih dahulu,” jelas Baekhyun.

Tuan Byun tersenyum sambil memandangi Tuan Im yang memperlihatkan reaksi serupa.

“Jika itu memang sudah keputusan kalian, kami hanya bisa mendukungnya,” balas Tuan Im tersenyum ke arah Baekhyun dan Yoona.

“Ah, masih ada satu hal lagi yang ingin kusampaikan pada kalian,” sela Baekhyun dan sukses membuat dua pria paruh baya itu mengernyitkan dahi.

“Aku ingin mengajak Yoona berlibur ke Spanyol, sebelum kami mengadakan pesta pertunangan,” lanjut Baekhyun.

“Benarkah? Bagaimana menurutmu, Yoona?” tanya Tuan Byun tampak antusias.

Yoona tersenyum dan mengangguk, “Sepertinya menyenangkan.”

“Aku setuju. Kurasa memang lebih baik jika kalian melakukan perjalanan untuk berlibur. Ini juga bagus untuk pemulihan kondisi Yoona,” sambung Tuan Im.

Baekhyun melirik ke arah Yoona sembari menggenggam tangannya. Sikapnya itu membuat Yoona hanya menunduk. Reaksi mereka membuat kedua ayah mereka tak henti-hentinya tersenyum senang. Suasana makan malam semakin terasa hangat, seolah mereka telah menjadi satu keluarga.

Tapi, tak selamanya apa yang terlihat dari luar sama dengan apa yang ada dalam hati seseorang. Yoona—jelas sedari tadi ia memaksakan diri untuk tersenyum walau jauh dalam lubuk hatinya ia merasakan hal yang begitu menyiksanya. Ia terlalu bingung sampai tak bisa mengambil keputusan tegas yang berujung pembiaran seperti ini. Kalau saja ia lebih berani mengatakan yang sebenarnya, bisa saja jika dia menolak perjodohan tersebut. Tapi nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Semua sudah terlanjur terjadi. Apakah masih ada kesempatan bagi Yoona untuk mengembalikan semuanya seperti sedia kala?

Situasi yang sama juga terjadi pada Chanyeol. Pria itu masih berjaga di taman belakang rumahnya. Beberapa hari terakhir ini, Chanyeol memang kesulitan untuk tidur lebih awal. Hatinya sangat tersiksa dengan berbagai hal yang dialaminya belakangan ini. Terlebih kejadian 3 hari lalu, yang seolah menambah penderitaannya saat ia melihat wanita yang dicintainya berciuman dengan sahabatnya sendiri.

Dan satu-satunya orang yang selalu menghiburnya adalah Sehun. Pemuda itu berulang kali menyuruh Chanyeol untuk bertahan karena ia percaya jika Chanyeol akan bersatu dengan Yoona. Tapi, Chanyeol sepertinya sudah kelelahan dan mengalami stress berat, hingga membuatnya tak mampu berpikir jernih. Sampai akhirnya memutuskan untuk menyerah dan melepaskan Yoona untuk Baekhyun.

Hyung?” Sehun baru saja datang menghampiri Chanyeol di taman belakang rumah mereka. Wajah pemuda itu kembali murung saat melihat kondisi Chanyeol yang begitu menyedihkan.

Chanyeol tidak merespon. Pria itu masih menatap lurus ke arah taman. Sehun lalu duduk di sebelah Chanyeol dan menepuk bahu pria itu perlahan.

“Bersemangatlah, hyung,” Kata-kata yang selalu diucapkan Sehun tiap kali melihat Chanyeol kembali terpuruk seperti sekarang ini.

“Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa,” suara Chanyeol terdengar berat dan serak. “Memang belum ada 1 bulan sejak Yoona terbangun dari masa komanya. Tapi, aku benar-benar tersiksa melihatnya bersama Baekhyun. Mungkin jika aku melepaskannya, hatiku akan jauh lebih tenang.”

“Tidak!” Sehun sedikit berteriak tak setuju dengan pemikiran Chanyeol. “Menurutku kau akan jauh lebih tersiksa jika melepaskannya. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Bisa saja ingatannya kembali, hyung. Dia akan mengingatmu lagi dan kembali ke sisimu.”

“Berapa lama lagi?” tanya Chanyeol dengan sorot mata putus asa. “Berapa lama lagi aku harus menunggunya? Aku tidak yakin ingatannya akan kembali secepat itu. Sekalipun kembali, bukankah dia sudah resmi menjalin hubungan dengan Baekhyun dan menerima perjodohan itu? Jelas itu tidak mungkin bagi kami untuk bersatu, Sehun.”

Sehun terdiam. Percuma saja ia meyakinkan Chanyeol untuk bertahan dan percaya pada takdir Tuhan. Kakak sepupunya itu terlanjur putus asa sampai membuatnya tak mau mendengarkan nasehatnya.

“Aku menyerah, Sehun. Aku benar-benar sangat lelah,” lanjut Chanyeol.

“Tapi kau sangat mencintainya, hyung. Benarkah kau ingin melepaskannya begitu saja?” tanya Sehun. “Apa kau lupa dengan janji yang pernah kau ucapkan sebelum Yoona kembali dalam wujud manusianya?”

DEG! Chanyeol tertegun. Ucapan Sehun membuatnya kembali mengingat kejadian saat ia akan berpisah dengan Yoona.

*flashback*

“Tidak peduli meskipun ingatanmu nanti akan hilang, aku akan tetap mencintaimu. Jika kita berjodoh, kelak kita pasti akan bersatu. Percayalah.”

Yoona tersenyum haru mendengarnya. “Kau juga harus percaya bahwa hatiku selamanya akan mencintaimu, Yeol . . .”

*end flashback*

“Kau pasti tidak lupa, hyung. Kalian sudah berjanji akan saling mencintai walau apapun yang terjadi. Kau ingat?”

Chanyeol menghela nafas kasar. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Pria itu berteriak frustasi. Kau bodoh, Park Chanyeol! Ia merutuki dirinya sendiri yang begitu mudah melupakan janji sepenting itu. Terlalu bodoh jika sampai menyerah begitu saja. Padahal perjuangannya sudah sejauh ini dengan selalu berada di sisi Yoona saat wanita itu membutuhkan pertolongannya. Meski menyakitkan karena Yoona tidak mengingatnya, bukankah hanya dengan berada di sisi Yoona, Chanyeol sudah merasakan kebahagiaan yang tidak ternilai harganya?

Hanya saja kelemahan Chanyeol yang satu ini memang tidak bisa dipungkiri. Kelemahan yang selalu menggoyahkan keteguhan hatinya—rasa setia kawan.

“Tapi, tidakkah aku bersikap egois jika aku mempertahankan perasaanku pada Yoona? Bagaimana bisa aku mengkhianati sahabatku sendiri?”

Sehun menghela nafas, lalu meremas bahu Chanyeol dengan kuat.

“Untuk mendapatkan kebahagiaan kita, terkadang sikap egois itu perlu, hyung. Aku yakin Baekhyun-hyung juga bisa melihat ketulusan hatimu dan isi hati Yoona yang sebenarnya. Dia pasti bisa melihat bahwa kalian berdua saling mencintai dan seharusnya dialah yang melepaskan Yoona untukmu,” jawab Sehun.

Chanyeol terdiam. Walau keraguan itu masih menyelimutinya, namun hatinya perlahan mulai tenang kembali, berkat Sehun.

.

.

.

Beberapa hari ini Siwon memang belum bertemu lagi dengan Baekhyun. Ia tengah disibukkan dengan berbagai kasus yang harus segera diselesaikannya. Meski begitu ia tetap berkomunikasi dengan Baekhyun. Terakhir kali ia mendengar dari Baekhyun jika hubungannya dengan Yoona baik-baik saja.

Kini Siwon tampak tertidur pulas di kamarnya akibat kelelahan usai menyelesaikan salah satu kasus dari sekian banyak kasus yang meminta bantuannya. Dan untuk ketiga kalinya, ia kembali bertemu dengan neneknya dalam mimpi.

“Siwon . . .”

Halmeoni, apa aku datang lagi ke tempatmu?” tanya Siwon bingung.

“Tidak, justru aku yang datang ke mimpimu, Siwon. Sama seperti sebelumnya,” jawab neneknya—Choi Haneul.

Siwon terdiam. Ia ingat jika pertemuan sebelumnya, ia mendapat pesan tentang masalah Baekhyun dan Yoona. Apakah kali ini, sang nenek akan memberitahukan hal yang sama?

“Aku hanya ingin berpesan padamu,” lanjut Choi Haneul. “Ini berkaitan dengan profesi yang kau jalani.”

Dahi Siwon berkerut, “Apa maksudnya, halmeoni? Aku tidak mengerti.”

Choi Haneul berjalan mendekati Siwon, lalu membelai kepala cucunya dengan penuh kasih sayang.

“Gunakanlah kemampuan supranaturalmu untuk kebaikan. Jangan kau gunakan untuk kejahatan. Aku tidak ingin kau berakhir sepertiku, Siwon,” ujar Choi Haneul.

Halmeoni . . .”

“Mungkin semasa hidupku, aku belum pernah menceritakan semuanya padamu,” suara Choi Haneul terdengar lirih. Seperti ada penyesalan yang tersirat.

“Aku pernah melakukan kesalahan besar, Siwon. Menyalahgunakan kemampuan supranaturalku hanya demi meraup keuntungan tanpa pernah memperdulikan perasaan orang lain. Dulu aku lebih banyak membantu orang dalam kehidupan pribadi mereka, seperti karir, masalah percintaan dan sebagainya. Dan aku sering membantu client dalam hal percintaan,” lanjut Choi Haneul.

“Sebenarnya aku tahu, jika beberapa client yang meminta bantuanku tidak akan pernah mendapatkan seseorang yang mereka cintai. Namun, karena mereka begitu ingin hingga rela membayarku dengan jumlah uang yang begitu besar, aku menjadi tergiur sampai melupakan hal yang terpenting dalam membantu mereka. Fakta ataupun takdir tidak boleh diabaikan. Jika kita mengupayakan berbagai hal hanya untuk menutupi fakta tersebut, maka kita salah besar. Dan semua itu akan kita tanggung setelah kita pergi dari dunia ini, Siwon,” jelas Choi Haneul.

Siwon tertegun. Tepat dugaannya, sang nenek memperingatkannya tentang masalah Yoona, Baekhyun dan Chanyeol.

“Apa halmeoni sedang memperingatkanku tentang hubungan antara Yoona, Baekhyun dan Chanyeol?” tanya Siwon dengan matanya yang melebar.

Choi Haneul mengangguk, lalu tersenyum, “Aku tahu, sebelumnya kau sangat mendukung Baekhyun untuk tetap mempertahankan hubungannya dengan Yoona bukan? Padahal kau sendiri sudah tahu, jika pria yang akan menjadi pendamping Yoona bukanlah Baekhyun.”

Siwon seperti terkena tamparan keras dari sang nenek. Kini ia hanya menunduk tanpa berani mengangkat wajahnya.

“Katakan apa alasanmu melakukannya?” tanya Choi Haneul.

“Aku hanya tidak tega dengan Baekhyun, halmeoni. Ia sudah bersusah payah mencari keberadaan Yoona saat menghilang. Kurasa dia pantas untuk mendapatkan Yoona. Memang aku tahu saat Yoona menjalani kehidupan roh dan berinteraksi dengan Chanyeol, mereka saling jatuh cinta. Tapi, bagiku itu tetaplah tidak pantas untuk mereka jalani. Karena sejak awal Baekhyun yang dijodohkan dengan Yoona,” jawab Siwon berterus terang.

Choi Haneul tersenyum. Kemudian menepuk pelan bahu cucunya sambil berkata, “Memang benar jika Baekhyun yang dijodohkan dengan Yoona. Tapi, perjodohan itu tidaklah semulus rencana kedua ayah mereka. Takdir berkata lain. Yoona justru bertemu dengan Chanyeol lebih dulu sampai akhirnya mereka saling jatuh cinta. Sekarang mereka berpisah saat Yoona kembali dalam wujud manusianya. Terlebih karena masalah ingatannya selama menjadi roh. Tapi ini hanya untuk sementara. Sudah kukatakan ada kemungkinan jika ingatan Yoona akan kembali. Dan dia, akan mengingat perasaannya pada Chanyeol.”

Siwon membelalakkan matanya, “Mungkinkah ingatan Yoona—”

“Aku tidak perlu menjawabnya. Kau pasti sudah tahu,” potong Choi Haneul.

Wajah Siwon terlihat murung. Seperti menyesali perbuatan yang dilakukannya.

“Ingat kata-kataku. Jangan pernah mengabaikan fakta. Itu akan merugikan dirimu sendiri,” ucap Choi Haneul.

Siwon terdiam sejenak, sebelum wajah murungnya berubah cerah usai mendapat pesan dari neneknya. “Ne, halmeoni. Aku akan selalu mengingatnya.”

Choi Haneul tersenyum, “Mungkin ini terakhir kalinya aku datang ke mimpimu. Jaga dirimu baik-baik, Siwon.”

Siwon terkejut mendengar pesan terakhir yang disampaikan sang nenek. Apalagi saat Choi Haneul perlahan menjauh darinya sampai menghilang di tengah gumpalan kabut berwarna putih. Siwon berusaha mencari keberadaannya namun tak kunjung ia temukan.

HALMEONI!

SRAK! Begiu sadar, Siwon sudah terbangun dari tidurnya. Nafas pria itu terengah-engah dengan keringat yang mengucur. Siwon berusaha sekuat tenaga untuk mengatur nafasnya. Ia menunduk dengan kedua tangan yang memegang kepalanya.

Dari kejauhan, tampak sosok Choi Haneul sedang berdiri mengamati Siwon. Ia tersenyum. Seolah puas dengan apa yang baru saja dilakukannya. Di sampingnya tampak Tao dan Kris yang sedari tadi mengamatinya. Dua juniornya itu terkejut luar biasa mendengar kisahnya.

Sunbae, jadi kau—” Tao terlalu shock sampai kesulitan berucap.

Senyum Choi Haneul kembali mengembang, “Sama seperti kalian, aku menjadi malaikat kematian karena kesalahan yang pernah kulakukan. Dan kesalahanku itu sangatlah besar, hingga aku harus menjalankan tugas sebagai petinggi malaikat kematian. Beruntung aku juga diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku di masa lalu.”

Tao dan Kris terdiam. Keduanya menatap kagum ke arah Choi Haneul.

“Dengan membantu kalian untuk menepati janji di masa lalu. Cara inilah yang harus kulakukan untuk memperbaiki kesalahanku,” lanjut Choi Haneul.

Kris tersenyum, “Sunbae, maaf aku sudah salah sangka padamu. Kukira kau tidak akan pernah mendukung apapun yang kami lakukan. Tapi ternyata justru sebaliknya. Kau membantu kami untuk menepati janji di masa lalu.”

Choi Haneul memicingkan matanya, “Apa aku begitu terlihat buruk di mata kalian?”

Tao terkekeh sambil melirik ke arah Kris yang ikut tertawa.

“Jadi, benarkah Yoona akan bersatu dengan Chanyeol?” tanya Tao masih penasaran.

Choi Haneul mengedikkan bahunya, “Entahlah. Kita lihat saja nanti.”

Kris memutar kedua bola matanya malas, sambil menggelengkan kepala ke arah Choi Haneul yang tertawa pelan. Sepertinya kebiasaan Choi Haneul yang selalu membuat siapapun penasaran, tetap tidak bisa dihilangkan dari kepribadiannya.

Tao dan Kris langsung memeluk Choi Haneul dan menumpahkan perasaan haru mereka. Choi Haneul hanya membalasnya dengan membelai keduanya, dengan rasa penuh kasih sayang. Ya, dia memang menganggap juniornya itu seperti cucunya sendiri.

.

.

.

.

.

.

Chanyeol keluar dari mobil begitu tiba di restorannya. Wajah pria itu tak lagi murung seperti sebelumnya. Ia sudah siap untuk melakukan rutinitasnya seperti biasa.

Namun ada gelagat aneh yang terlihat darinya. Saat melangkah masuk ke restoran, Chanyeol memegangi perutnya. Raut wajahnya terlihat menahan sakit. Beruntung untuk beberapa saat, ia seperti berhasil mengendalikan sesuatu yang menderanya hingga tampak baik-baik saja.

DRRT! Chanyeol segera meraih ponsel dari saku celananya. Mata Chanyeol sedikit melebar saat membaca sebuah pesan masuk yang masuk.

Maaf, hari ini aku tidak ke restoran
Ada urusan penting yang harus kuselesaikan
-Seohyun-

“Bos . . .”

Suara Ahra berhasil mengalihkan perhatiannya. Salah satu karyawannya itu tampak berlari menghampiri Chanyeol.

“Ada yang mencarimu,” lanjut Ahra.

Dahi Chanyeol berkerut, lalu melirik ke arah yang ditunjuk Ahra. Matanya membulat sempurna ketika sosok pria dengan perawakan tinggi mulai berjalan menghampirinya.

“Siwon-hyung?

Dan pria itu—Siwon, hanya tersenyum kecil menanggapi reaksi Chanyeol. “Lama tidak bertemu,” ujarnya.

Chanyeol mengangguk. Sejuta pertanyaan memenuhi kepalanya. Kedatangan Siwon terbilang mendadak bagi Chanyeol.

“Pagi-pagi sekali kau datang. Ada perlu apa, hyung?” tanya Chanyeol penasaran.

“Aku ingin bicara denganmu,” jawab Siwon to the point.

“Bicara denganku?” kerutan dahi Chanyeol kian terlihat.

Anggukan Siwon membuat Chanyeol penasaran. Apa yang ingin dibicarakan pria itu dengannya? Chanyeol yakin jika topik pembicaraan nanti tidak akan jauh dari masalah Baekhyun dan Yoona.

Chanyeol mengajak Siwon untuk berbicara serius di ruang kerjanya. Ahra tampak masuk mengantarkan minum untuk mereka. Siwon tersenyum sambil mengucapkan terima kasih pada karyawan Chanyeol tersebut. Ia meneguk teh hangat yang sudah disajikan, sebelum beralih menatap Chanyeol.

Entah kenapa Chanyeol merasa canggung dan gugup. Rasanya ia ingin menghindari Siwon jika nantinya mereka memang akan membicarakan masalah Baekhyun dan Yoona.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Siwon setelah meletakkan cangkir teh yang baru saja diteguknya.

Chanyeol tersenyum tipis dari balik cangkirnya, “Baik.”

Senyum Siwon kembali muncul. Pria itu terlihat hanya memandangi Chanyeol, seolah sedang membaca air muka Chanyeol. Ia tahu jika pria di depannya itu terlihat gugup dan tak berani menatapnya.

“Apa kau sering bertemu Baekhyun dan—” Siwon menghentikan kalimatnya sejenak. “Yoona?”

Tepat dugaan Chanyeol. Siwon memang berniat membicarakan masalah Baekhyun dan Yoona. Sorot matanya langsung berubah suram. Sebenarnya ia tak ingin lagi membahas masalah itu, tapi Chanyeol tak bisa berbuat apa-apa.

“Aku terakhir bertemu dengan mereka 3 hari yang lalu. Setelah itu aku belum bertemu lagi dengan mereka,” jawab Chanyeol. “Sekarang mereka sudah menjalin hubungan. Aku senang melihatnya.”

Siwon terdiam. Matanya menatap serius ke arah Chanyeol. Ia tahu Chanyeol memaksakan diri. Terlihat jelas dari raut wajahnya.

“Apa kau yakin?” tanya Siwon sambil menaikkan salah satu alisnya. “Kau benar-benar senang melihat mereka menjalin hubungan mereka?”

DEG! Jantung Chanyeol berdegup. Pertanyaan Siwon berhasil menusuknya. Membuatnya kembali goyah dengan apa yang diucapkannya.

“Sebenarnya apa tujuanmu membahas masalah Baekhyun dan Yoona denganku, hyung?” tanya Chanyeol akhirnya tak mampu menahan emosinya.

Siwon tersenyum untuk kesekian kalinya, “Baiklah, aku tidak akan berbasa-basi lagi. Aku datang ke sini hanya untuk meminta maaf padamu.”

Chanyeol mengernyitkan keningnya, “Minta maaf?”

“Karena sikapku sebelumnya yang cenderung berpihak pada Baekhyun, aku sampai mengabaikan perasaanmu. Kau jadi mengalami hal sulit sampai harus bertengkar hebat dengan Baekhyun. Ini salahku, aku minta maaf,” jawab Siwon.

Chanyeol terdiam sejenak, sembari menatap bingung ke arah Siwon. Matanya menyipit, masih belum mengerti dengan maksud pernyataan maaf Siwon.

“Sebenarnya aku sudah tahu, jika antara kau dan Yoona terjadi sesuatu. Saat kau dan Yoona berinteraksi dengan wujudnya sebagai roh. Aku tahu bahwa kalian jatuh cinta,” lanjut Siwon.

Chanyeol menelan saliva-nya. Ia berpikir bagaimana Siwon bisa tahu? Ah, Chanyeol lupa jika Siwon memiliki kemampuan supranatural. Sudah jelas isi hatinya akan terbaca dengan mudah oleh pria itu.

“Sampai sekarang kalian masih saling mencintai bukan?”

“Tidak, hyung,” potong Chanyeol cepat karena tak ingin membahasnya lagi.

Siwon menaikkan salah satu alisnya. Sedikit kaget dengan reaksi Chanyeol.

“Kau pasti sudah tahu jika ingatan Yoona selama menjadi roh menghilang. Itu artinya, dia sama sekali tidak mengingat perasaannya padaku. Lagipula dia sudah bersama Baekhyun sekarang. Aku sama sekali tidak berhak untuk mempertahankan perasaanku padanya,” lanjut Chanyeol.

“Maksudmu—kau ingin melupakannya?” tanya Siwon dengan mata sedikit melebar. “Kau merelakannya untuk Baekhyun?”

Chanyeol mengangguk dengan senyum khasnya, “Ne, aku tidak bisa mengkhianati sahabatku sendiri, hyung. Soal Yoona, bagiku itu hanya kenangan semasa hidupku yang tak akan pernah kulupakan. Meski begitu, aku tidak ingin terlibat lagi dalam urusan mereka. Biarlah mereka menjalani hubungan mereka sebaik mungkin.”

Siwon menghela nafas, sambil mengusap keningnya yang sedikit berkeringat. Matanya menatap serius ke arah Chanyeol. “Aku tidak menyangka jika kau akan mengambil keputusan secepat ini. Aku sangat kagum dengan sikap setia kawanmu itu. Tapi, bagaimana jika ingatan Yoona akan kembali?” tanyanya.

Hening. Mendadak Chanyeol terdiam dan tidak merespon.

“Jika ingatan Yoona kembali, kemungkinan besar dia mengingat perasaan cintanya padamu. Apa kau tetap akan melepaskannya untuk Baekhyun?”

Chanyeol tersenyum tipis, “Tidak mungkin ingatan Yoona akan kembali, hyung. Itu mustahil.”

“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Chanyeol,” balas Siwon. “Aku percaya, ingatan Yoona akan kembali.”

“Kapan?” raut wajah Chanyeol terlihat penasaran. Meski beberapa kali mengelak dan yakin akan melepaskan Yoona untuk Baekhyun, tetap saja ia selalu terpancing dengan pendapat seseorang yang mengatakan jika ingatan Yoona akan kembali.

“Kau akan segera mengetahuinya, tak lama lagi,” jawab Siwon seraya menaikkan sudut bibirnya.

“Benarkah?” Keraguan Chanyeol lagi-lagi muncul. Dan pria itu hanya terdiam seolah tak yakin dengan jawaban yang diberikan Siwon.

Siwon beranjak bangkit dari posisinya dan bersiap untuk pergi. Pria itu kembali mengulum senyum ke arah Chanyeol, “Selain untuk meminta maaf, kedatanganku ke sini juga untuk memberi nasehat padamu. Aku ingin mengembalikan semuanya seperti semula, sesuai dengan takdir yang seharusnya kalian jalani. Ingat pesanku baik-baik dan percayalah, kau akan segera mendapatkan jawabannya.”

Chanyeol masih diam dan tidak menjawab. Ia menghela nafas seraya mengangguk pelan ke arah Siwon. Sang detektif itu perlahan berjalan meninggalkannya sampai tak terlihat lagi. Setelah memastikan pria itu sudah pergi, Chanyeol mengusap wajahnya berulang kali. Sungguh. Ia begitu penasaran dengan semua yang dikatakan Siwon.

.

.

.

“Yoong . . .”

Yoona yang tengah duduk di taman rumah, terkejut saat melihat kedatangan sahabatnya, “Seohyun?”

Seohyun terkekeh, “Bagaimana kabarmu? Maaf, aku tak sempat menjengukmu di rumah sakit.”

Yoona mengangguk sambil menarik Seohyun duduk di sebelahnya, “Tidak apa-apa. aku sudah lebih baik sekarang. Aku senang kau datang.”

“Syukurlah,” balas Seohyun senang. Kemudian memperhatikan raut wajah Yoona. Seohyun menyadari jika ada perubahan ekspresi di wajah sahabatnya tersebut. Dan Seohyun tahu jika kondisi hati Yoona tidak baik-baik saja.

“Bagaimana hubunganmu dengan Baekhyun?”

Tepat dugaan Seohyun. Perubahan raut wajah Yoona semakin kentara.

“Kami—” Suara Yoona terdengar ragu, sebelum wanita itu menghela nafas pelan. “Baik-baik saja. Kami berencana untuk berlibur ke Spanyol sebelum mengadakan pesta pertunangan.”

Mata Seohyun melebar. Tidak bertemu beberapa hari tahu-tahu hubungan Yoona dan Baekhyun sudah melangkah sejauh itu.

“Berlibur ke Spanyol? Tunangan?” Reaksi Seohyun sangat kaget dan ia bahkan tak bisa mengendalikannya.

Anggukan Yoona membuat Seohyun mendesah, “Aish, kau tega sekali, Yoong. Tidak memberitahuku tentang rencana besar itu. Aku sama sekali tidak menyangka jika kau akan bertunangan dengan Baekhyun, bahkan berencana berlibur dengannya.”

Yoona tersenyum getir, “Maaf.”

“Untuk apa meminta maaf?” Seohyun menaikkan salah satu alisnya. “Bukankah ini kabar baik? Seharusnya kau senang, Yoong.”

Seohyun kembali mendapati Yoona terdiam di sebelahnya. Hal itu mendorong Seohyun bertanya lebih jauh tentang isi hati Yoona yang sebenarnya. Benarkah sahabatnya itu mencintai Baekhyun, sehingga menerima perjodohan tersebut? Atau hanya terpaksa memenuhi permintaan sang ayah saja?

“Bolehkah aku bertanya sesuatu?” Anggukan pelan Yoona menuntun Seohyun melanjutkan kembali kalimatnya.

“Apa kau mencintai Baekhyun?”

Yoona menoleh kaget ke arah Seohyun. Matanya melebar, seolah ia tidak siap dengan pertanyaan yang diberikan sahabatnya tersebut.

“Kenapa kau bertanya seperti itu, Seohyun?”

Seohyun tersenyum, “Aku hanya ingin tahu perasaanmu yang sebenarnya, Yoong.”

Yoona kembali bungkam. Ingin rasanya ia menjawab tapi wanita itu tidak tahu harus menjawab apa. Sejujurnya Yoona ragu dengan keputusan yang sudah diambilnya ini.

“Entahlah, Seohyun. Aku tidak tahu,” jawab Yoona dan sukses mengejutkan Seohyun.

“Kau tidak tahu? Lalu untuk apa kau menerima perjodohanmu dengan Baekhyun?” tanya Seohyun semakin penasaran.

Yoona justru mendesah keras sambil menutupi wajahnya. “Ah, Seohyun. Jika aku bercerita padamu, kau pasti tidak akan percaya. Sungguh, ini sangat membingungkan. Sampai sekarang aku masih tidak percaya dengan apa yang kualami. Aku seperti baru saja kembali dari perjalanan waktu yang sangat melelahkan. Ini terdengar seperti mimpi yang sangat konyol. Benar-benar membuatku frustasi sampai aku tidak bisa berpikir dengan jernih.”

Seohyun mengernyitkan dahi, tidak mengerti dengan pembicaraan Yoona. Istilah ‘perjalanan waktu’ yang diungkapkan wanita itu justru membuatnya teringat akan pertemuannya dengan Kris. Seohyun menarik kesimpulan, mungkinkah jika terjadi sesuatu pada Yoona yang tidak diketahuinya? Mungkinkah ini berkaitan dengan Chanyeol dan Baekhyun?

“Jadi—maukah kau menceritakan tentang mimpi yang kau anggap konyol tadi?” tanya Seohyun berhati-hati. Ia tak ingin salah berucap hingga menyinggung perasaan Yoona.

Yoona terdiam, ia menimbang permintaan Seohyun yang seolah ingin tahu masalah yang sebenarnya. Haruskah aku menceritakannya?

“Tidak ada salahnya kau bercerita kan? Itu jauh lebih baik daripada kau simpan sendiri, Yoong,” lanjut Seohyun.

Suara Yoona perlahan terdengar sangat pelan dan bergetar, “Baiklah, aku akan menceritakan semuanya padamu.”

Seohyun memfokuskan pandangannya pada Yoona. Sorot matanya terlihat serius bahkan sampai tak berkedip. Ia mendengarkan semua yang dikatakan Yoona dengan seksama. Setelah Yoona bercerita panjang lebar, raut wajah Seohyun berubah. Ia tak bisa menutupi rasa kagetnya dengan semua penuturan yang disampaikan Yoona. Berulang kali Seohyun memperhatikan ke arah Yoona – berpindah ke arah lain – sampai berbalik lagi menatap Yoona. Seperti tengah melakukan pemahaman yang sangat serius dengan cerita tersebut.

“Kau pasti menganggapku sudah tidak waras. Benar kan?” tanya Yoona saat melihat raut wajah Seohyun. Sedikit menyesal karena sudah menceritakan semua kejadian saat ia menjalani kehidupan sebagai roh—saat mengalami koma selama 4 bulan. Semuanya sudah Yoona ceritakan pada Seohyun, tak ada yang terlewatkan satu pun. Termasuk kesepakatannya dengan Chanyeol yang berujung perasaan cintanya pada pria itu.

Seohyun memutar kedua bola matanya, sambil menghela nafas. Ia menggaruk kepalanya sejenak sebelum kembali memandangi Yoona.

“Tidak, Yoong. Aku percaya dengan ceritamu,” jawab Seohyun. “Karena—sebelumnya aku juga bertemu dengan Kris-oppa.

Mwo?!” Suara Yoona melengking dan matanya melebar. “Kau bertemu dengan Kris-oppa? Kapan?”

“Hari saat kau masuk rumah sakit,” jawab Seohyun. “Setiap kali aku mengingatnya, benar-benar seperti mimpi. Tapi itu memang kenyataan dan sungguh terjadi. Karena itulah, tak ada alasan bagiku untuk menyangkal ceritamu. Aku percaya dan yakin ini semua memang sudah takdir yang harus kita alami.”

Yoona terdiam. Masih terkejut dengan pengakuan Seohyun yang bertemu dengan Kris. Ia ingat saat Kris juga datang dalam alam sadarnya. Jika mendengar waktu yang diberitahu Seohyun, Yoona yakin jika Kris datang menemuinya usai bertemu dengan Seohyun.

“Lalu—apa Chanyeol sudah tahu tentang ingatanmu yang telah kembali?” tanya Seohyun. Rasa penasarannya terhadap pengakuan Chanyeol yang mencintai Yoona akhirnya terjawab setelah mendengar cerita tersebut.

Yoona menggeleng, “Aku belum memberitahunya.”

Seohyun menggenggam tangan Yoona dengan erat. Sorot matanya terlihat serius. “Kau harus segera memberitahunya.”

“Tapi—”

“Ikuti kata hatimu, Yoong. Jangan hanya karena terlalu takut melukai perasaan salah satu di antara mereka, kau sampai rela mengorbankan perasaanmu sendiri,” potong Seohyun dengan rentetan kalimat yang langsung mengena di hati Yoona.

“Ini terlalu berat, Seohyun.”

Seohyun meremas bahu Yoona dengan kuat, “Kau harus memilih salah satu di antara mereka, ikuti kata hatimu. Apapun keputusanmu nanti, kau juga harus yakin jika itu adalah keputusan terbaikmu.”

Mata Yoona berkaca-kaca mendengar nasehat Seohyun. Entah hanya kebetulan atau tidak, namun Seohyun mengatakan hal serupa dengan Kris.

“Nasehatmu itu, kenapa bisa sama dengan yang disampaikan Kris-oppa padaku, Seohyun?”

Seohyun tersenyum, “Karena aku adalah adiknya. Pasti kami memiliki jalan pemikiran yang sama, Yoong.”

Yoona tersenyum, lalu segera memeluk Seohyun sambil menumpahkan emosinya. Ia menangis dan Seohyun tak henti-hentinya mengusap dengan lembut punggung Yoona. Berusaha menenangkan Yoona yang tengah berada dalam posisi sulit. Berkat Seohyun, Yoona mulai bisa mengendalikan diri dan merasa jauh lebih tenang dibanding sebelumnya.

.

.

.

Sehun terlihat asyik melahap camilan sambil duduk di depan layar televisi. Hari ini ia memang tidak ada jadwal kuliah. Karena itulah ia menghabiskan waktunya untuk menonton acara kesukaannya.

Suara langkah kaki berhasil mengalihkan perhatiannya. Pemuda itu hanya melirik sekilas saat mendapati Chanyeol sudah sampai di ruang tengah.

“Kau sudah pulang? Bukankah restoran tutup sekitar 3 jam lagi?” cecar Sehun.

Chanyeol hanya menggumam dan terus berjalan melewati Sehun. Ia berjalan di belakang Sehun yang menghadap ke layar televisi. Tiba-tiba raut wajah Chanyeol berubah. Chanyeol kembali terlihat menahan sakit. Sesekali matanya terpejam dan tangannya memegangi perut. Keringat mulai keluar dari pelipisnya. Chanyeol menarik nafas panjang lalu menghelanya. Namun ia belum berhasil menghilangkan rasa sakit yang menderanya, justru semakin terasa sakit.

Sehun yang tak menyadari kondisi Chanyeol masih asyik menonton televisi. Pemuda itu malah bertanya, “Hyung, apa kau sudah makan siang?”

Chanyeol tidak menjawab. Ia semakin merintih kesakitan dalam diamnya. Tangannya terus memegangi perutnya.

BRUK!

Sehun melonjak kaget saat mendengar suara keras dari arah belakangnya. Pemuda itu menoleh ke belakang sofa yang didudukinya. Mata Sehun nyaris keluar begitu melihat Chanyeol sudah jatuh tersungkur di lantai sambil mengerang kesakitan. Ia segera bangkit dan menghampirinya.

HYUNG!

Chanyeol semakin mengerang kesakitan dengan keringat mengucur di wajahnya. Hal itu membuat Sehun panik, terlebih ketika akhirnya Chanyeol justru kehilangan kesadarannya. Kepanikan Sehun semakin menjadi.

Hyung! Kau kenapa? Buka matamu, hyung!” teriak Sehun panik. Ia menepuk berulang kali pipi Chanyeol, namun tetap tak ada reaksi. Dengan sekuat tenaga, Sehun memapah tubuh Chanyeol. Lalu membawanya menuju mobil Chanyeol yang terparkir di depan rumah. Langkah Sehun sampai terselip lantaran terlalu panik dengan kondisi Chanyeol.

Sehun duduk di kursi pengemudi. Ia menarik nafas panjang, berusaha menenangkan diri. Sehun melirik ke arah Chanyeol yang berada di bagian tengah mobil. Wajah Sehun kian khawatir. Ia menyalakan mesin mobil dan mengenakan seat belt. Kakinya perlahan menginjak pedal gas. Mobil pun segera melesat menuju rumah sakit.

Sehun menginjak pedal gas dalam-dalam. Ia sengaja menaikkan laju mobilnya, memburu waktu lantaran khawatir jika kondisi Chanyeol memburuk. Dengan lihainya ia mendahului beberapa kendaraan yang berada di depannya. Kurang dari 20 menit, mobil sudah sampai di rumah sakit Seoul.

Saat Sehun berusaha mengeluarkan Chanyeol, dengan sigap para tim medis yang ada pun berlari menghampiri Sehun sambil membawa ranjang beroda. Chanyeol segera dilarikan ke ruang UGD.

“Maaf, Anda tidak diperbolehkan masuk,” sela salah satu tim medis ketika mereka sudah membawa masuk Chanyeol ke ruangan tersebut.

Sehun menahan langkah kakinya sambil sesekali melirik ke dalam ruangan. Mencari celah untuk bisa melihat kondisi Chanyeol. Namun Sehun harus menelan kekecewaan, saat pintu itu benar-benar ditutup dan ia tak bisa melihat Chanyeol dari luar.

Kini pemuda itu hanya bisa duduk di salah satu deretan kursi yang sudah disediakan. Sudah berulang kali Sehun berpindah posisi. Matanya memanas. Sesekali Sehun mendesah lantaran tak sabar menunggu hasil pemeriksaan Chanyeol.

“Kenapa lama sekali?” Entah sudah berapa kali Sehun melontarkan kalimat yang sama. Hampir 1 jam ia menunggu dan belum ada kabar tentang kondisi Chanyeol.

KLEK! Salah satu tim medis berjalan keluar dari ruangan sambil melepas maskernya. Sehun bangkit dengan wajah cemasnya, menghampiri pria yang mengenakan kacamata tersebut.

“Dokter, bagaimana kondisinya?” Suara Sehun bergetar karena terlalu takut jika terjadi hal buruk pada Chanyeol.

“Pasien menderita maag akut,” ucap dokter tersebut. “Ada pembengkakan yang terjadi pada selaput dinding lambung.”

Leher Sehun seperti tercekat. Sampai suaranya tak bisa keluar karena terlalu kaget.

Maag akut?” Anggukan dari sang dokter membuat mata Sehun membulat sempurna.

“Ini disebabkan adanya virus dan bakteri yang menggerogoti dalam lambung,” lanjut dokter. “Pada beberapa kasus, di antara mereka memang ada yang mengalami jatuh pingsan”

Sehun terdiam dan kepalanya menunduk.

“Saya sarankan agar pasien menjalani perawatan intensif selama beberapa hari. Kami akan melakukan pembiakan jaringan dengan cara endoskopi untuk menyembuhkan maag akut,” jelas sang dokter.

Sehun mengangguk pelan dan pasrah, “Baik, Dokter. Lakukanlah yang terbaik untuk kakak sepupuku.”

.

.

.

Baekhyun memberhentikan mobilnya begitu sampai di depan rumah Yoona. Pria itu segera turun dan menghampiri Yoona yang terlihat tengah mengobrol bersama Seohyun di taman.

“Apa yang sedang kalian bicarakan?” tanya Baekhyun dan berhasil mengalihkan dua sahabat tersebut.

“Rahasia,” jawab Seohyun terkekeh. Yoona yang duduk di sebelahnya tersenyum. Baekhyun memicingkan kedua matanya, benar-benar penasaran dengan obrolan yang dilakukan dua wanita tersebut. Tawa Seohyun meledak dan Yoona lagi-lagi hanya tersenyum.

“Ada apa?” tanya Yoona bingung karena Baekhyun tak memberitahunya jika ingin datang.

Baekhyun mengambil posisi duduk di sebelah Yoona. Tanpa ragu ia melingkarkan tangannya di pinggang Yoona. “Aku hanya ingin bertemu denganmu.”

Yoona bisa merasakan wajahnya yang memerah. Ia merasa tak enak pada Seohyun yang melihat sikap Baekhyun padanya.

“Hei, hentikan bermesraan di depanku. Kalian membuatku iri,” celetuk Seohyun sengaja membuat suasana lebih santai.

Baekhyun tersenyum, “Jika kau iri, cepatlah mencari pria untuk menjadi pendampingmu.”

“Pasti. Aku yakin tak lama lagi aku akan segera mendapatkan kekasih. Lihat saja,” balas Seohyun.

Baekhyun tak dapat menahan tawanya, begitu juga dengan Yoona. Meskipun masih terlihat memaksakan, setidaknya Yoona berhasil mengendalikan diri.

DRRT! Suara dering ponsel Seohyun terdengar hingga berhasil menghentikan obrolan mereka. Sang pemilik ponsel segera mengambilnya dari dalam tas. Dahinya berkerut saat melihat nama Sehun tertera di layar.

Yeoboseyo . . .”

Seohyun-noona . . .

Kerutan di dahi Seohyun kian terlihat, “Ada apa, Sehun? Kenapa suaramu terdengar panik?”

Noona . . . Chanyeol-hyung masuk rumah sakit.

MWO?!” Seohyun berteriak dan membuat dua orang di sebelahnya terkejut. Baekhyun dan Yoona saling memandang dengan raut wajah bingung.

“Kau bilang apa? Chanyeol masuk rumah sakit?” ulang Seohyun sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Baekhyun dan Yoona.

Wajah Baekhyun terlihat khawatir. Sementara Yoona tampak lesu dengan kepala sedikit menunduk. Dua orang itu terlihat mencemaskan kondisi Chanyeol. Tapi yang paling cemas tentu saja Yoona. Dan ekpsresi wajah Yoona berhasil ditangkap Baekhyun. Pria itu hanya terdiam dengan terus mengawasi perubahan ekspresi wajah Yoona.

“Baiklah, aku akan segera ke sana,” ucap Seohyun mengakhiri obrolannya dengan Sehun. Ia lalu menatap ke arah Baekhyun dan Yoona.

“Apa yang terjadi?” tanya Baekhyun cemas.

Seohyun belum menjawab, ia masih memperhatikan Yoona.

“Chanyeol masuk rumah sakit. Kata Sehun, ada pembengkakan pada selaput dinding lambungnya,” jawab Seohyun.

“Maksudmu maag akut?” Baekhyun sepertinya sudah tahu jenis penyakit yang diderita Chanyeol. Ia tahu jika sahabatnya itu memiliki riwayat penyakit maag.

“Kurasa begitu,” jawab Seohyun. “Aku mau ke rumah sakit Seoul sekarang.”

“Aku ikut denganmu,” balas Baekhyun. Sebelum pergi, ia melirik ke arah Yoona yang masih terdiam. “Kau mau ikut?”

Gelengan pelan Yoona cukup memperlihatkan penolakannya dengan ajakan Baekhyun. “Tidak, kalian berdua pergilah.”

Seohyun mengernyitkan dahi sambil memandangi Yoona. Seohyun menyadari jika Yoona belum ingin pergi menemui Chanyeol. Meski begitu, raut wajah Yoona cukup memperlihatkan betapa ia sangat mencemaskan Chanyeol. Karena itulah Seohyun tak ingin memaksakan Yoona untuk ikut bersama mereka.

“Baiklah, kami pergi dulu,” balas Seohyun lalu menepuk bahu Baekhyun. “Kajja.”

Baekhyun terkesiap dan mengangguki ajakan Seohyun. Sebelum pergi, sesekali Baekhyun melirik ke arah Yoona yang tersenyum tipis padanya. Baekhyun tidak berkata lagi dan hanya membalas senyuman Yoona.

.

.

.

Sehun menarik kursi di samping ranjang Chanyeol. Kini wajah pemuda itu sudah terlihat jauh lebih tenang dibanding sebelumnya. Sehun merasa lega setelah dokter memastikan kondisi Chanyeol baik-baik saja. Meski begitu, Chanyeol memang masih harus menjalani perawatan intensif usai melakukan pengobatan terkait maag akut yang dideritanya.

KLEK! Suara decitan pintu berhasil mengalihkan perhatian Sehun. Pemuda itu tersenyum senang melihat kedatangan Seohyun dan Baekhyun.

“Kalian datang?” Suasana hati Sehun semakin tenang karena ada Seohyun dan Baekhyun yang menemaninya.

Seohyun mengangguk, “Bagaimana kondisinya?”

“Sudah lebih baik. Dokter sudah melakukan pengobatan untuk menyembuhkan maag akut yang dideritanya,” jawab Sehun. “Tapi Chanyeol-hyung tetap disarankan untuk menjalani perawatan intensif selama beberapa hari.”

Seohyun dan Baekhyun menghela nafas lega. Keduanya saling menatap sambil tersenyum.

“Syukurlah,” ucap Baekhyun sambil menepuk pelan bahu Sehun.

“Bagaimana kalian bisa datang bersama?” tanya Sehun penasaran.

Seohyun dan Baekhyun kembali memandang dan hanya tersenyum,

“Kau meneleponku saat aku sedang di rumah Yoona. Kebetulan Baekhyun juga ada di sana,” jawab Seohyun.

Raut wajah Sehun kembali berubah saat mendengar nama Yoona dari Seohyun. Pemuda itu memandangi Baekhyun dan hanya menghela nafas. Sebenarnya ia sedikit kesal dengan sikap Baekhyun yang seolah tak pernah memikirkan perasaan Chanyeol. Tapi, harus Sehun akui jika kakak sepupunya itu memang terlalu baik dan begitu setia kawan.

Keheningan melanda kamar tempat Chanyeol dirawat. Ketiga orang itu masih menunggu Chanyeol siuman. Wajah mereka tampak serius bercampur tegang.

“Ngg . . .”

Sehun langsung menoleh ke arah Chanyeol saat mendengar sesuatu. Mata pemuda itu melebar begitu menyaksikan jari-jemari tangan Chanyeol yang bergerak perlahan.

Hyung?

Seohyun dan Baekhyun turut penasaran sampai enggan mengalihkan perhatian mereka dari Chanyeol.

Chanyeol perlahan mengerjapkan kedua matanya. Dengan tenaga yang belum terkumpul penuh, akhirnya pria itu membuka kedua matanya. “Hyung, kau sudah sadar?” Sehun tak dapat menyembunyikan kegembiraannya menyambut Chanyeol yang sudah siuman.

Chanyeol hanya merespon dan menoleh ke arah Sehun. Kedua alisnya bertaut kala ia mendapati sosok Seohyun dan Baekhyun. Ketiga orang itu tampak tersenyum lega sambil menatapnya.

“Ini di mana?” Chanyeol kebingungan saat menyadari ia berada di ruangan serba putih dengan selang infus yang terpasang di tangan kanan.

“Rumah sakit. Kau jatuh pingsan dan Sehun membawamu ke sini,” jawab Seohyun. “Kata dokter, kau menderita penyakit maag akut.”

Mata Chanyeol membulat sempurna, kaget dengan penuturan yang disampaikan Seohyun.

“Benarkah itu, Sehun?” Anggukan pelan Sehun membuat Chanyeol menarik nafas panjang sambil menghembuskannya perlahan.

“Kau benar-benar membuatku panik, hyung,” suara Sehun terdengar kesal.

Chanyeol justru tersenyum menanggapi reaksi Sehun, “Maaf. Tapi, terima kasih sudah membawaku ke sini.”

Sehun mengangguk, “Tentu saja aku harus melakukannya, hyung. Kau ini kan kakak sepupuku.”

Senyum Chanyeol kian merekah dan berhasil menutupi wajah pucatnya. Chanyeol tampak baik-baik saja dengan rona bahagia di wajahnya.

“Terima kasih sudah datang ke sini,” ucap Chanyeol pada Seohyun dan Baekhyun.

Dua orang itu mengangguk, khususnya Baekhyun yang langsung menjabat tangan Chanyeol. “Aku senang kondisimu baik-baik saja,” ujarnya.

.

.

.

Langkah Yoona terhenti begitu tiba di ruang tengah. Ia melihat sang ayah tengah bersantai sambil duduk di atas sofa.

Appa . . .”

Tuan Im menoleh karena mendengar suara Yoona. Pria paruh baya itu tersenyum dan menyuruh Yoona untuk duduk di sebelahnya.

Appa tidak pergi ke perusahaan?” tanya Yoona bingung

Tuan Im menggeleng, “Tidak, appa ingin lebih sering menghabiskan waktu bersamamu.”

Yoona mengernyitkan dahi seraya tersenyum, “Mana bisa begitu. Appa tetap harus bekerja untuk mengawasi anak buah appa di perusahaan.”

“Baiklah, appa akan menuruti perintahmu. Besok appa akan pergi ke perusahaan,” balas Tuan Im dan disambut tawa kecil dari putrinya. Yoona menyenderkan kepalanya di bahu sang ayah. Hal itu membuat Tuan Im bingung dengan sikapnya.

“Ada apa?” tanya Tuan Im. Sudah lama Yoona tidak melakukan hal tersebut.

Yoona tersenyum seraya menghela nafas, “Bersender di bahu appa seperti ini membuatku nyaman.”

Tuan Im mengkerutkan dahinya, “Apa kau sedang ada masalah? Dengan Baekhyun?”

Yoona menggeleng cepat, “Tidak. Aku hanya ingin melakukannya saja, appa.”

Senyum Tuan Im kembali mengembang, “Baguslah. Kukira jika kau sedang ada masalah dengan Baekhyun. Kau tahu? Appa sangat senang karena akhirnya kau menerima perjodohan ini. Bahkan berniat untuk melangsungkan pertunangan terlebih dahulu dengan Baekhyun.”

Yoona terdiam. Matanya terus memandangi ke layar televisi yang masih menyala. “Appa senang?” tanyanya.

Ne, sangat senang. Terima kasih kau sudah menyanggupi permintaan appa.”

Yoona tersenyum getir. Rasanya sulit sekali bagi Yoona untuk menerima semuanya. Tapi, mau bagaimana lagi. Semua sudah terlanjur terjadi dan tak banyak yang bisa dilakukan Yoona untuk merubah keadaan.

“Sepertinya tadi aku mendengar suara Seohyun dan Baekhyun. Kenapa kau tidak mengajaknya masuk?” tanya Tuan Im tiba-tiba.

“Mereka hanya mampir. Lagipula, mereka sudah pergi ke rumah sakit,” jawab Yoona.

Tuan Im mengeryitkan dahi, “Rumah sakit? Untuk apa?”

Yoona terdiam sejenak sambil menggigit bagian bawah bibirnya, “Ngg . . . menjenguk Chanyeol. Katanya dia masuk rumah sakit.”

“Chanyeol masuk rumah sakit?” suara Tuan Im setengah berteriak karena kaget dengan berita tersebut.

Yoona mengangguk, “Kudengar dia terkena maag akut.”

Tuan Im terdiam, wajahnya tampak cemas. Mungkin berkat sikap Chanyeol yang selalu menolong Yoona, ia menjadi perhatian dan turut mencemaskan kondisi Chanyeol.

“Kau tidak datang menjenguknya?” tanya Tuan Im.

Kali ini ganti Yoona yang memilih bungkam.

“Kau tahu tidak? Chanyeol benar-benar pria yang sangat baik. Dia sudah banyak menolongmu. Apalagi saat kau tenggelam di kolam renang,” lanjut Tuan Im.

Mata Yoona nyaris keluar mendengar pengakuan Tuan Im, “Chanyeol yang menolongku?”

Ne, dia yang menolongmu,” jawab Tuan Im. “Baekhyun sungguh beruntung memiliki teman sebaik dia.”

Hati Yoona bergejolak hebat. Kecemasan semakin melandanya. Tanpa menunggu waktu lagi, ia segera bangkit dari sofa yang didudukinya.

“Yoona?” Tuan Im kaget dengan sikap Yoona.

“Maaf, appa. Aku harus pergi,” jawab Yoona tanpa berkata lagi atau bahkan memberikan kesempatan ayahnya untuk bertanya lagi. Yoona berlari keluar dari rumah. Tuan Im hanya memandangi sikap putrinya dengan dahi yang berkerut.

.

.

.

Chanyeol masih berbaring di kamar pasien ditemani Baekhyun. Seohyun tengah membeli makanan, sementara Sehun pulang ke rumah untuk mengambil beberapa pakaian milik Chanyeol. Baekhyun terlihat berkali-kali memberikan perhatiannya untuk Chanyeol yang ingin bersender dengan bantal.

“Terima kasih,” ucap Chanyeol saat Baekhyun membantunya membenarkan posisi bantal.

Baekhyun tersenyum, “Seharusnya aku yang berterima kasih padamu, Yeol.”

“Apa maksudmu?” tanya Chanyeol bingung.

Baekhyun menarik kursi lalu duduk di sebelah ranjang Chanyeol. “Kau sudah menyelamatkan nyawa Yoona. Aku sangat berterima kasih padamu.”

Wajah Chanyeol terlihat datar. Namun perlahan senyumnya mengembang. Chanyeol sepertinya memang sudah melepaskan Yoona untuk Baekhyun.

“Apapun pasti akan kulakukan untuk sahabat terbaikku,” ujar Chanyeol. “Termasuk—menolong calon istrinya.”

Baekhyun terdiam. Ia memandangi wajah Chanyeol yang seolah menyimpan banyak arti. Namun Baekhyun enggan terlalu banyak menduga-duga tentang sikap Chanyeol.

“Lalu—bagaimana hubungan kalian? Semua berjalan dengan baik?” tanya Chanyeol. Bagaimana pun ia tetap tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

Baekhyun mengangguk, “Ne, kami baik-baik saja. Kami bahkan berencana untuk berlibur ke Spanyol sebelum mengadakan pesta pertunangan.”

DEG! Chanyeol bisa merasakan dadanya yang terasa sesak. Penuturan Baekhyun tersebut sukses membuat pikirannya kosong. Chanyeol bahkan tak menyadari jika dirinya cukup lama terdiam karena terlalu kaget.

“Yeol, kau baik-baik saja?” Baekhyun terlihat cemas saat melihat Chanyeol terdiam.

Chanyeol terkesiap dan kembali mengulum senyum. Ia mencoba mengendalikan suasana hatinya yang berkecamuk hebat.

“Tidak apa-apa,” balas Chanyeol singkat. Ia lalu tersenyum memandangi Baekhyun. “Selamat ya, akhirnya kau akan segera bertunangan dengan Yoona.”

Baekhyun memperhatikan tangan Chanyeol yang terulur ke arahnya. Kemudian beralih memandangi raut wajah Chanyeol. Sahabatnya itu tersenyum. Baekhyun menangkap senyum Chanyeol tampak memaksakan. Namun Baekhyun sangat kagum dengan keputusan Chanyeol yang seolah melepaskan Yoona untuknya. Baekhyun tahu jika sampai saat ini Chanyeol belum bisa melupakan Yoona. Sangat terlihat dari raut wajahnya yang berubah-ubah. Seperti menunjukkan perbedaan antara kondisi di dalam hatinya dengan penampilan luarnya.

Baekhyun tersenyum, sambil membalas uluran tangan Chanyeol. Pria itu tak bisa berkomentar banyak dan hanya berkata, “Terima kasih.”

“Semoga kalian hidup bahagia,” lanjut Chanyeol. Ia tak peduli lagi dengan anggapan Baekhyun. Chanyeol hanya mencoba bersikap ikhlas untuk merelakan Yoona kepada sahabatnya.

Anggukan pelan Baekhyun membuat hati Chanyeol tenang. Ia merasa beban hidupnya berkurang separuh usai mengucapkan kalimat tersebut. Mungkin memang keputusan inilah yang harus diambilnya.

DRRT! Baekhyun terkejut saat menyadari ponselnya berdering. Ia melihat nama Siwon tertera di layar ponselnya. Baekhyun bangkit dari kursi dan berniat keluar untuk menerima telepon dari Siwon.

“Maaf, Yeol. Aku harus menerima telepon,” Anggukan Chanyeol menuntun Baekhyun berjalan keluar dari ruangannya.

Sepeninggalan Baekhyun, Chanyeol menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Ia mengusap-usap wajahnya berkali-kali.

“Kau sudah mengambil keputusan yang tepat, Park Chanyeol. bersemangatlah,” ujarnya menyemangati diri sendiri.

Tak jauh dari kamar Chanyeol, terdengar suara keras saat seseorang membuka pintu masuk rumah sakit. Tatapan semua orang tertuju pada wanita yang baru saja datang dengan langkah terburu-buru. Butir-butir keringat terlihat jelas di bagian keningnya. Nafasnya tersengal-sengal. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ia abaikan pandangan semua orang yang menatapnya bingung. Wanita itu terus melanjutkan langkah kakinya menuju sebuah kamar pasien.

Park Chanyeol. Wanita itu mengeja tulisan pada papan nama yang terpasang di depan pintu kamar pasien. Setelah memastikan kamar tersebut, ia tampak memejamkan kedua matanya. Ia mengatur nafas sembari mengusap dadanya. Tangannya meraih kenok, lalu mendorong pintu secara perlahan.

Matanya perlahan menangkap suasana dalam kamar tersebut. Hening. Tak ada satu orang pun di dalam kamar, termasuk pasien yang ingin ditemuinya. Wanita itu terlihat kebingungan bahkan panik.

“Yoona?”

Wanita itu melonjak kaget saat mendengar suara yang memanggilnya. Ia menoleh dan mendapati pria yang ingin ditemuinya baru saja keluar dari toilet. Pria itu tampak terkejut dengan kedatangan wanita yang tak lain adalah Yoona. Terlalu kagetnya sampai membuatnya berdiri mematung dan tak segera kembali ke ranjang pasien.

“Chanyeol-ah,” suara Yoona bergetar hebat saat menyapa pria tersebut. Tubuhnya terasa kaku sampai tak bisa digerakkan. Ia hanya diam ketika melihat Chanyeol sudah kembali naik ke ranjangnya.

Chanyeol tampak memegangi perutnya saat kembali merasakan sakit. Namun ia tetap terlihat tenang dan mengulum senyum pada Yoona.

Setelah cukup lama berdiam diri, Yoona akhirnya berjalan mendekati ranjang. Ia refleks menarik selimut sampai menutupi sebagian tubuh Chanyeol. Tak pelak sikapnya tersebut membuat Chanyeol merasa gugup dan terkejut.

“Bagaimana kondisimu?” tanya Yoona setelah berhasil mengendalikan diri.

Chanyeol mengangguk, “Sudah lebih baik. Tapi dokter menyarankan agar aku menjalani perawatan intensif selama beberapa hari ke depan.”

Serasa diguyur air es, Yoona bisa merasakan hatinya yang begitu lega setelah mendengar kondisi Chanyeol baik-baik saja. Wanita itu tampak menghela nafas cukup lama hingga berhasil membuat Chanyeol penasaran.

“Ada apa?”

Yoona terkesiap dan kembali fokus pada Chanyeol. Ia berdeham pelan sambil sesekali mengulum senyum pada pria tersebut.

“Tidak apa-apa,” jawab Yoona cepat. “Aku datang ke sini untuk menjengukmu, sekaligus ingin mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu. Kudengar dari ayahku, kau yang menyelamatkanku saat aku tenggelam. Aku benar-benar berterima kasih padamu.”

Chanyeol tersenyum tipis, “Jangan berlebihan. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan untuk Baekhyun. Dia adalah sahabat baikku. Apapun akan kulakukan untuknya, termasuk menyelamatkan nyawa calon istrinya.”

DEG! Yoona tertegun. Pernyataan yang keluar dari Chanyeol membuat hatinya terluka. Chanyeol seolah menegaskan bahwa perhatiannya pada Yoona hanya demi Baekhyun semata. Bukan karena pria itu benar-benar peduli dengannya.

“Jadi karena Baekhyun, kau begitu perhatian padaku?” tanya Yoona hati-hati. Anggukan Chanyeol membuat mata Yoona memanas.

“Lalu—” Yoona sudah tidak sabar lagi ingin mengaku semuanya pada Chanyeol. Ia berniat membeberkan satu per satu kejadian yang mereka lalui bersama.

“Soal ciuman waktu itu?”

Chanyeol sedikit terkejut dengan pertanyaan Yoona, namun ia berusaha tetap tenang. Ia hanya tersenyum, “Maaf, itu kesalahanku. Tidak sepantasnya aku melakukan itu padamu. Aku benar-benar menyesal, maafkan aku.”

Mata Yoona mulai berkaca-kaca, suaranya bergetar hebat, “Kesalahan? Menurutmu itu sebuah kesalahan?”

Dengan berat hati, Chanyeol menganggukan kepalanya. Ia mencoba tersenyum ke arah Yoona. Namun wanita itu justru menatapnya dengan raut kekecewaan yang tak disadari oleh Chanyeol.

“Lalu—apakah bantuan yang kau berikan selama aku menjalani kehidupan roh juga sebuah kesalahan?” lanjut Yoona mulai membeberkan kembali kejadian yang pernah mereka alami.

Chanyeol menatap kaget ke arah Yoona. Matanya membulat sempurna. Bibirnya sedikit terbuka lantaran pria itu terlalu kaget dengan penuturan Yoona.

“Kau yang sampai rela menerima pukulan dari Baekhyun demi melindungiku, apakah itu juga sebuah kesalahan?”

Chanyeol terdiam. Matanya kian melebar dengan penuturan Yoona.

“Dan—” Yoona menghentikan kalimatnya sejenak saat ia mulai merasakan air matanya yang mengalir. “Apakah perasaan cintamu padaku, juga sebuah kesalahan?”

Chanyeol tak bisa lagi menahan rasa penasaran sekaligus kaget yang menghinggapinya. Matanya terus menatap ke arah Yoona yang mulai terisak.

“Yoona, mungkinkah kau—” Chanyeol masih menatap Yoona dengan ekspresi kagetnya sampai kesulitan untuk berucap.

Yoona tak mampu lagi menahan air matanya. Ia mengangguk berulang kali seolah memberikan jawaban pada Chanyeol.

Ne, aku sudah mengingat semuanya, Yeol,” ujar Yoona dengan suara yang bergetar. “Semua kejadian saat aku menjalani kehidupan roh sampai detik ini, aku ingat semuanya. Aku sudah ingat semuanya, termasuk perasaanku padamu yang selamanya hanya mencintaimu, Yeol.”

Reaksi Chanyeol masih membeku di atas ranjang tanpa berkata apapun. Pria itu terus menatap kosong ke arah Yoona. Melihat hal itu, Yoona segera bangkit dan memeluk tubuh Chanyeol seerat mungkin. Ia tumpahkan semua emosinya dalam air mata yang terus membanjiri wajahnya.

“Maafkan aku, Yeol,” ucap Yoona terisak. “Aku sudah membuatmu menunggu. Maafkan aku.”

Chanyeol belum merespon. Ia masih shock dan tidak percaya dengan pengakuan Yoona.

“Benarkah—kau sudah mengingat semuanya?” tanya Chanyeol ragu.

Yoona hanya menangis dan semakin mempererat pelukannya. Hal itu cukup meyakinkan Chanyeol jika ingatan wanita itu memang sudah kembali. Akhirnya Chanyeol membalas pelukan Yoona bahkan sambil mengusap dan membelai kepala Yoona dengan penuh rasa haru.

“Kukira hari ini tidak akan pernah datang,” ujarnya. Chanyeol tak mampu menahan air matanya yang mulai mengalir.

Yoona masih menangis dan hanya berkata, “Aku sangat merindukanmu, Yeol.”

“Aku juga merindukanmu, Yoong,” balas Chanyeol. Keduanya larut dalam suasana haru tersebut. Mereka menumpahkan semua emosi yang selama ini mereka tahan. Chanyeol sangat senang setelah mengetahui ingatan Yoona yang sudah pulih. Begitu pun dengan Yoona yang merasa senang karena sudah berhasil mengakui semuanya pada Chanyeol, sebelum terlambat atau tak mempunyai waktu lagi untuk mengatakannya.

Diam-diam di balik kebahagiaan keduanya, ada sosok pria yang begitu terpukul. Pria itu baru saja ingin kembali ke kamar Chanyeol usai menerima telepon. Namun ia harus menelan kenyataan pahit saat tidak sengaja mendengar obrolan antara Chanyeol dan Yoona. Wajah pria itu tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Jelas terlihat sangat sedih dan terpuruk. Ya, pria itu tidak lain adalah Baekhyun. Apa yang baru saja didengarnya membuat perasaannya campur aduk. Ia tak mampu lagi berpikir jernih dan memilih untuk meninggalkan kamar Chanyeol dalam keheningan.

.

.

.

.

.

-To Be Continued-

{ Preview Beautiful Ghost – Chapter 17 }

.

.

“Tidak, ini tidak benar. Kau harus tetap bersama Baekhyun.”

“Bagaimana bisa kau menyuruhku untuk tetap bersamanya? Padahal kau tahu jika aku sangat mencintaimu, Yeol.”

.

.

“Baekhyun-ah, kau kenapa?”

“Tolong aku, Seohyun. Tolong aku.”

“Ada apa?”

“Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. ini semua sungguh menyakitkan. Haruskah aku melepaskan wanita yang sangat kucintai demi sahabatku sendiri?”

.

.

“Hyung, kau itu terlalu baik hati. Bagaimana bisa kau membiarkannya tetap bersama Baekhyun-hyung?”

“Memang apa salahnya?”

“Ingatannya sudah kembali dan hanya kau yang dicintainya. Kenapa kau masih tetap menyuruhnya untuk berada di sisi Baekhyun-hyung?”

.

.

“Sudah saatnya kita pergi. Pesawat tujuan Spanyol akan segera berangkat, Yoong.”

“Ne. Aku tahu, Baekhyun-ah.”

.

.

.

Selesai juga nulis chapter 16 alias chapter pre-final dari Beautiful Ghost. Jujur capek juga nulisnya, bahkan nyampe 34 halaman lho (what?!) Panjang banget kan ya?😀 Aku cuma edit lagi beberapa kali, jadi maaf kalo ada typo. Kayaknya ini cerita makin kompleks ya? Maaf *bow* ^^

Dan seperti yang udah aku bilang, untuk chapter final bakal aku protect. Rencananya aku akan menggunakan clue yang terkait dengan FF ini. Asalkan kalian mengikuti ceritanya, pasti mudah kok dapetin clue-nya. (Kagak susah, tenang aja, hehe😀 )

Begitu chapter final dipublish, aku akan langsung post clue­-nya di akun twitterku, di sini. So, kalian pantengin terus ya blog YoongEXO + akun twitter-q.

Sekali lagi, terima kasih sudah membaca FF ini❤

-cloverqua-

76 thoughts on “Beautiful Ghost – Chapter 16 [PRE-FINAL]

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s