Realize (C9~FIN)

realize-req

Realize

present by Fumi Nakamura

poster by KimHyeni@HSG

PG 17+ | chaptered | sad, hurt, romance, happy, family, married life, etc

Yoona | Baekhyun

inspiration from : my imagination, other fanfiction, film and manga.

thank you for everyone who always support me🙂

dont be silent riders, dont bash. I hope you’re enjoy the last part of this fanfic.

—-

I’m Done

—-

Baekhyun pov

Aku menghela nafasku kasar. Aku melepaskan jasku dan juga melempar tas yang aku bawa ke sofa. Apa yang terjadi dengan yeoja didepanku ini?

Sebuah kalimat terlintas dibenakku

“apa—aku menyakitimu?”

“apa kau—tak bahagia bersamaku?” tanyaku pelan

—-

“apa kau—tak bahagia bersamaku?” tanyaku pelan, aku tak berharap banyak. Lelah cukup lelah

Yoona, dia menggeleng cepat sambil menatapku

“aku—hanya merindukan eomma” jawabnya pelan

Aku menghela nafasku. Kenapa dia tak mengatakan tentang hal ini tadi? Kenapa tadi ketika aku tanya dia menggeleng? Ahh… aku benar-benar bingung dengannya. Aku belum bereaksi apapun

“tenanglah” kataku kemudian memegang pundaknya dengan kedua tanganku

“aku tadi mengunjungi makam eomma dan ada sebuket bunga disana. Kau yang melakukannya?”

Aku mengangguk pelan, “ne, aku mengunjungi eommonim tadi” jawabku sambil menatapnya dalam

“m—mianhe” katanya menangis (lagi). Kenapa dia justru menangis? Aku pikir dia tak sedang melakukan sesuatu yang salah?

“mianhe? Kau tak salah, untuk apa meminta maaf?” tanyaku bingung dan merengkuhnya

Aku senang dengan memeluknya seperti ini, hangat, aku bisa mencium wangi rambutnya, aku bisa merasakan aromanya yang merasuk kedalam tubuhku, membuat jantungku berpacu cepat, membuat wajahku terasa panas dan semakin meningkatkan gairahku untuk memeluknya semakin dalam. Ohh… jangan sekarang!

“aku wanita jahat kan, Baekhyun? Buktinya, aku menyia-nyiakanmu selama ini, aku bahkan tak pernah melihat ketulusan dari hatimu tapi kenapa? Kenapa kau masih saja bersamaku? Selalu tersenyum padaku? Selalu sabar ketika aku mengacuhkanmu? Kau dibutakan oleh cinta? Kau lelaki cerdas Baekhyun, kau selalu berhadapan dengan para pengusaha tinggi, berdebat dengan mereka dan hasil akhir kau selalu menang tapi kenapa kau hanya diam saja ketika seorang wanita sepertiku memainkanmu seperti ini? Kecerdasanku bahkan jauh dibawahmu, aku tak bisa berdebat dengan orang. Apa kau bodoh atau terlalu bodoh?” tanya Yoona panjang lebar

Aku melepas pelukanku, diam tetap menatap mata coklatnya yang indah dan penuh dengan air matanya. Aneh? Tentu saja kenapa tiba-tiba dia mengatakan hal ini?

“maksudmu?” tanyaku pelan

“aku jahat Baekhyun! Kau pasti tahu akan hal itu. Ayolah Baekhyun jangan berpura-pura bodoh didepanku, dengan sikapmu yang seperti ini kau malah membuatku terlihat sangat-sangat bodoh!” jawabnya sambil mengusap-usap wajahnya yang menangis

‘Yoona, aku mohon, jangan menangis’ batinku

Aku tetap terdiam menatapnya dalam, jujur saja aku sedikit terkejut dengan pengakuannya ini. Aku tak mengatakan apapun dan kembali aku memeluknya, aku merasakan tangannya melingkar dipinggangku. Satu perasaan yang menyentuhku

‘nyaman, sangat nyaman’

“kau tahu? Semua kecerdasanku terasa luntur jika didekatmu, aku menjadi seseorang yang lelaki bodoh jika aku didekatmu. Aku cerdas tapi aku tak akan menjadi cerdas jika aku dekat dengan wanita yang aku cintai, kau bisa mengatakan bahwa aku sangat bodoh jika aku berada didepanmu”

Kami berdua terdiam dalam pikiran kami masing-masing, aku masih tetap memeluknya dan tangannya masih melingkar dipinggangku. Aku mencium rambutnya, dan semakin menenggelamkan kepalaku pada bahunya dan mengeratkan pelukanku. ‘aku sangat menikmatinya, sangat, aroma tubuhnya yang aku sukai’

3600

“aku—mencintaimu Baekhyun” katanya pelan

Sontak aku melepaskan pelukan kami, “tidak—kau tidak mencintaiku Yoona—dan aku tahu itu, aku yang bodoh karena memaksamu menikah denganku. Kau pasti membutuhkan waktu Yoona”

Dia membuang nafasnya, “jangan menjadi bodoh untuk kali ini, Baekhyun. Kau pikir waktu selama ini aku gunakan untuk apa?!” tanyanya menaikkan sedikit nada bicaranya

“jangan menjadi bodoh! Gunakan otak cerdasmu! Telan apa yang aku katakan tadi! Telan apa yang aku lakukan tadi! Gunakan otakmu gunakan!” lanjutnya setengah berteriak

Aku menatapnya diam. Dia benar-benar mencintaiku? Dia benar-benar sudah menerimaku? Dia benar-benar melepaskan Sehun?

“jangan men—”

Aku membungkamnya dengan bibirku. Aku merasakannya, aku mulai merasakan ketulusannya. Ya, dia sudah mulai mencintaiku. Ya, dia menerimaku dalam kehidupannya. Ya, dia merelakan Sehun. Ya, dia—mencintaiku

Aku mencium bibirnya lembut, menarik pinggangnya agar semakin mendekat kearahku. Dia tetap diam tak membalas apa yang aku lakukan, aku tetap menciumnya hingga aku merasakan air matanya diwajahku

Aku menjauhkan wajahku, “Yoong, uljim—”

Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku dia menarik tengkukku dan menciumku.

‘aku mencintaimu, Yoong, sangat mencintaimu’ batinku membalas apa yang tengah dilakukannya saat ini

Aku melepaskan ciuman kami, dia mengambil nafas panjang begitupula denganku. Ini pertama kalinya aku melakukan hal itu padanya meskipun sebelumnya aku pernah melakukannya tapi itu hanyalah sebuah kecupan singkat didepan pendeta saat kami menikah 1 tahun yang lalu

“kau tidak bodoh, kau tidak jahat, kau tidak egois dan aku tahu itu, kau hanya butuh waktu untuk menata hatimu untukku. Justru aku yang merasa bodoh” kataku lembut mengusap air mata yang masih mengalir diwajahnya

“uljima, sayang” kataku sekali lagi mengusap wajahnya dan mencium bibirnya sekilas.

Author pov

Yoona menatap Baekhyun lama sekali, dia bingung dan dia cukup senang dengan perlakuan Baekhyun tak lain Baekhyun yang senang karena Yoona sudah mulai menerimanya meskipun dalam waktu yang sedikit lama. *1 taun itu sebentar lho😀 #abaikanini*

“tidurlah” kata Baekhyun lagi. Yoona menurutinya

Malam itu mereka tidur bersama, maksudnya tidur bersama dengan waktu yang sama. Dengan Yoona yang membelakangi Baekhyun dan dengan Baekhyun yang memeluk Yoona dari belakang. Baekhyun semakin menenggelamkan kepalanya pada rambut Yoona yang tergerai, dia menyukai wanginya. Tangannya semakin rapat menggenggam tangan Yoona bahkan dia tidur masih menggunakan kemeja kerjanya yang sudah tak rapi. Yoona hanya diam saja dengan perlakuan Baekhyun, nafas suaminya sangat menyentuh kepalanya dan membuatnya sedikit merinding, agak bergidik sebenarnya tapi dia memilih menahannya. Dia mengerti bahkan sangat mengerti, jika Baekhyun pasti memang ingin melakukan ini sejak lama, jadi dia hanya diam saja ikut menikmatinya

‘sebegitukah dia mencintaiku?’ batin Yoona tetap dalam posisinya yang sedikit memaninkan jari Baekhyun

Beberapa saat kemudian, ia tak merasakan genggaman erat tangan Baekhyun lagi, rupanya suaminya tengah tertidur, dia memutar tubuhnya pelan, sedikit menghadap suaminya, nafas suaminya menerpa wajahnya dan tangan kanannya tergerak membelai wajah Baekhyun, ‘hangat’ batinnya yang kemudian dia kembali pada posisi semulanya. Berganti dia yang menggenggam tangan suaminya erat.

3600

Dulu, Baekhyun tertidur diranjang dan Yoona tertidur dimeja kerjanya atau bahkan di sofa, jika mereka satu ranjang pun Yoona pasti akan membelakangi Baekhyun. Pasangan aneh? Tentu saja tidak, mungkin di luar sana pasti juga ada yang seperti mereka. Mungkin.

Paginya…

Baekhyun terbangun dengan tangan mereka yang masih bertautan, bukan beranjak mempersiapkan diri bekerja Baekhyun justru semakin mendekap Yoona, menenggelamkan kepalanya lagi

“Baek, kau tak ingin bangun?” tanya Yoona, Baekhyun hanya diam saja tak menanggapi

“aku tahu kau sudah bangun, jangan pura-pura tidur” tegur Yoona, Baekhyun tetap tak menggubrisnya, “Baekhyun, kita harus bekerja” ingat Yoona

Baekhyun tetap tak bergeming, “tuan Byun jangan menjadi contoh yang buruk bagi karyawan”

Baekhyun berdehem, “aku masih ingin tetap seperti ini” jawab Baekhyun

Yoona terkekeh, “ini sudah pagi, kau tak ingin bukan membuat mereka berpikir telah terjadi sesuatu karna kita tak kunjung keluar lalu Chanyeol dan Kai mendobrak masuk dan melihat keadaan kita dengan posisi seperti ini?”

“issh… kau cerewet sekali” jawab Baekhyun melepaskan tangannya sedang Yoona bersiap mandi untuk bekerja.

—-

“kau tak ingin menyelesaikan masalahmu dengan Chanyeol dan Kai?” tanya Baekhyun sambil menata dasinya

“entahlah, sepertinya mereka terlanjur membenciku” jawab Yoona tersenyum membelakangi Baekhyun, senyuman itu terlihat sangat berbeda dari biasanya

“tak ada salahnya jika mencoba kan?” tanya Baekhyun menatap punggung Yoona dan mendekatinya

“aku akan memikirkannya nanti” jawab Yoona berbalik ingin menatap suaminya

Cup

Pipi Yoona bersemu merah karna Baekhyun menciumnya tiba-tiba, “lebih baik sekarang kita sarapan” ajak Yoona berusaha bersikap normal

Baekhyun menarik pinggang Yoona yang bersiap meninggalkannya dan memeluknya dari belakang, “aku ingin seperti ini” bisik Baekhyun lembut ditelinga Yoona dan menyandarkan kepalanya

Yoona merinding, hembusan hangat nafas suaminya menerpa lehernya dan dia tak bisa menyembunyikan rona merahnya, “kita harus bekerja, ingat” jawab Yoona berusaha melepaskan tangan Baekhyun dari pinggangnya tapi tangan Baekhyun jauh lebih kuat dari Yoona

“Baekhyun” panggil Yoona pelan, “kita harus bekerja dan aku benar-benar tak ingin dimarahi Kim sajangnim”

“arraseo. Kita berangkat bersama” kata Baekhyun tersenyum, mencium bahu Yoona sejenak melepaskan pelukannya

“aniyo, aku—biasa—”

“baiklah, pulang saja aku akan menjemputmu, tak ada penolakan” potong Baekhyun cepat, ‘dia gugup, eoh? Wajahnya lucu’ batin Baekhyun tersenyum

“baiklah” kata Yoona mengalah mengalihkan pandangannya dari Baekhyun

“tak ada penumpang bus yang duduk disamping supir bus” kata Baekhyun mensejajari langkah Yoona

“aah… kau masih mengingat kata-kata itu” jawab Yoona tertawa kecil

“aku selalu mengingat semua moment denganmu”

“itu bukan moment, Baekhyun”

“tapi itu kenangan yang bagus, kau benar-benar sangat kolot saat itu” jawab Baekhyun tertawa kecil

“dasar” sahut Yoona pelan.

—-

“kau sudah pulang?” tanya Baekhyun ketika pekerjaannya sudah selesai

“…”

“baiklah, jika sudah kirim pesan padaku”

“…”.

“menunggu lama?” tanya Yoona sambil menyerahkan secup kopi yang masih hangat pada Baekhyun

“ini?” tanya Baekhyun, “minumlah, tadi aku mampir kekedai kopi sebentar” jawab Yoona meminum kopinya sendiri

Baekhyun meminumnya pelan dan lagi dia menoleh ke Yoona dengan tatapan penuh arti, “wae? Tak enak?” tanya Yoona bingung

Baekhyun terdiam masih tetap menatap Yoona, “gumawo” kata Baekhyun, “aku sangat merindukan sensasi kopi ini” lanjutnya

“memangnya kenapa dengan kopi itu?” tanya Yoona bingung, “aku bisa merasakan jika ini buatanmu atau tidak jangan berpura-pura bodoh” jawab Baekhyun meminum lagi kopinya, “kau berlebihan” sahut Yoona tersenyum, “mashita” kata Baekhyun tersenyum

“tadi aku mampir ke cafetaria dikantor, masih ada seseorang disana dan aku meminta izin untuk membuat kopi untukku sendiri” jelas Yoona, “dan juga untukku, jangan lupakan bagian itu” ralat Baekhyun

Baekhyun menatap wajah Yoona dalam dan sebuah lengkungan terbentuk diwajahnya dan dia melihat wajah Yoona terlihat sangat lelah. “jangan terlalu lelah” tegur Baekhyun meletakkan kopinya disampingnya

“terlihatkah?” tanya Yoona tersenyum

“sangat jelas” jawab Baekhyun mengelus rambut Yoona sebentar kemudian menjalankan mobilnya.

3600

Keadaannya hangat, tak secanggung dulu, kadang Baekhyun membuat lelucon yang sama sekali aneh tapi itu cukup membuat Yoona tertawa karena Baekhyun gagal. Cukup lelah tertawa tangan Yoona beranjak menekan tombol on pada tape dimobil Baekhyun dan dia kembali menyandarkan tubuhnya dikursi

“stop, stop!” kata Yoona sedikit berteriak

“waeyo?” tanya Baekhyun memberhentikan mobilnya mendadak karena kaget, untung jalanan sudah sepi jadi dia tak harus mendapatkan sumpah serapah dari pengemudi dibelakang yang kaget dengan rem mendadak yang baru dia lakukan tadi

“Chanyeol… Kai…” gumam Yoona menatap lurus tak menjawab pertanyaan Baekhyun

Flashback

“Kai, kau benar-benar sudah diluar batas!” kata Chanyeol tak percaya, “waeyo? Kau berubah hyung, lihatlah kita bahagia jika seperti ini” jawab Kai sambil mengambil bubuk putih itu

Buug

Chanyeol, kesabarannya selama ini sudah benar-benar diambang batasnya. Kai memarahi halmoni dan noonanya dia hanya diam saja karena dia memang merasa nyaman dengan geng jalanan ini tapi untuk narkoba? Heroin? Maaf-maaf saja, dia sudah berjanji tak akan bersentuhan dengan obat biadab itu. Chanyeol dan Kai, mereka dulu memang pernah memakainya tapi itu tak sengaja, ketua geng itu mengatakan jika mereka ingin bergabung maka mereka harus mencoba pil putih itu tapi setelah mereka mencobanya, mereka berdua merasakan sensai yang berbeda yang terjadi pada tubuh mereka.

Ketika Chanyeol sadar bahwa yang tadi adalah narkoba, dia langsung menjaga diri tapi berbeda dengan Kai, Kai sudah terlampau dari batasnya. Dia melanggar semua peraturan yang mereka berdua buat ketika mereka akan bergabung dengan geng jalanan itu. Kai hampir pernah akan membunuh orang karena ketua memberinya sebuah pisau lipat

“Kai, dengarkan aku, aku sudah lelah dengan ini semua. mereka memang menganggap kita, tapi tak lihatkah jika mereka setiap hari selalu memanfaatkan kita untuk membeli obat-obatan biadab itu? sadarlah Kai!”

“tapi aku bahagia hyung!” teriak Kai, “kau bahagia?! Apa kau bodoh?! Kita bisa masuk penjara dan mendekam selamanya disana! Kau tak pikirkan bagaimana noona?! Dan bagaimana eomma diatas sana melihat kelakuan kita?! Sadar Kai! Sadar! Jangan membutakan dirimu!” kata Chanyeol tak kalah kerasnya

Kai menatap hyungnya diam, dia masih berusaha keras mencerna apa yang dikatakan oleh Chanyeol. Dia mengingat-ingat tentang semuanya, ketika mereka pertama kali masuk ke geng jalanan itu dan ketika geng jalanan itu merubah semua sifatnya, hingga dia berani melawan halmoni dan noonanya

“Kai, kita keluar dari geng jalanan itu. mereka benar-benar diluar batas dan kau juga sudah terkena pengaruh dari mereka”

“buang obat itu kedalam selokan, aku tak ingin berurusan dengan polisi” lanjut Chanyeol

Kai menatap Chanyeol diam, belum sempat Kai menjawab semua perkataan Chanyeol geng jalanan itu datang mendekati mereka pelan, beberapa dari mereka membawa senjata, kayu bahkan ada juga tongkat baseball

“kau ingin keluar?” tanya Tao, ketua geng jalan itu, Kai dan Chanyeol hanya mengangguk

Mereka semua tertawa, “kau tahu arti kata ‘keluar’ dari kamus kami?” tanya Tao, “keluar berati berhianat dan kalian ingin melakukan penghianatan pada kami setelah kalian bergabung kurang lebih selama 2 tahun?”

Kai dan Chanyeol terdiam ditempatnya, “kami berdua hanya ingin bersama keluarga kami” jawab Chanyeol sedikit takut, “keluarga? Bukankah dulu Kai menyebut keluarga kalian keluarga bangsat tanpa kasih sayang? Bahkan kau juga mengatakan noonamu menikah dengan kakak lelaki dari namjachingunya sendiri? Miris sekali hidup kalian” cibirnya

Mata Chanyeol memerah, dia tak terima jika keluarganya dihina seperti itu. dia menatap Kai masih dengan tatapan membunuh, “mi—mianhe” kata Kai menunduk. Mata Chanyeol kembali menatap Tao yang sedang tertawa dengan gerombolannya, “jangan menghina keluargaku!”

Tao menoleh dan menatap Chanyeol iba, “lihatlah mereka kawan, mereka sangat menyedikan” ejeknya, “ibunya meninggal, appanya entah dimana dan dia hidup seorang diri disini bersama nenek dan noonanya yang bekerja sebagai desainer rendahan di kota Seoul yang sibuk seperti ini” tambah Kris, anggota salah satu dari geng jalanan itu menyeringai

“kau itu dibuang! Kalian itu anak terbuang yang pantas bersama kami” imbuh Kris, “ssstt, Kris, aku rasa mereka berdua sudah tak pantas bersama kita. Bukankah kita membenci penghianat?” tanya Tao

“brengsek! Kami berdua jauh lebih baik daripada kalian yang tak memiliki keluarga sedikitpun! Rendahan!” hardik Chanyeol

Hardikan Chanyeol membuat Tao naik pitam, begitu juga dengan anggota geng jalanan lainnya. Mereka merasa Chanyeol tengah menghina mereka. Rendahan? Itu kata-kata yang sangat kasar. Tao membuang putung rokok yang tengah dihisapnya tadi dan menginjaknya pelan

“brengsek! Cepat habisi mereka!” teriak Tao

Semua anggota geng itu langsung menyerbu Kai dan Chanyeol. Kai dan Chanyeol sendiri bersiap dengan posisi mereka, mereka tahu jika mereka akan kalah. Tak mungkin bukan dua orang melawan hampir 12 orang hanya dengan tangan kosong apalagi kekuatan bela diri mereka tak begitu baik.

Flashback off

Baekhyun mengikuti tatapan Yoona tampak beberapa orang menghajar dua orang, dua orang itu tidak membalas, mereka terkulai lemas di jalanan remang itu. Mereka berdua sudah tak mempunyai tenaga untuk membalas perlakuan yang diberikan oleh segerombolan orang itu.

Tanpa mengatakan apa-apa, Yoona langsung keluar dari mobil. Adiknya, kedua adiknya sedang dalam masalah. Dia harus menyelamatkannya

“Yoona! Apa yang akan kamu lakukan?!” teriak Baekhyun.

“lepaskan mereka!” teriak Yoona

Orang-orang itu menoleh menghentikan aktivitas mereka dan menatap Yoona terkejut, kedua orang tadi hanya bisa menatap Yoona samar. Mereka benar-benar lebam. Ketika anggota geng benar-benar menyadari keberadaan Yoona beberapa dari mereka mulai tersenyum

“heh? Siapa kau?” tanya seseorang dari mereka

“aku noona mereka!” jawab Yoona geram

“oh… jadi ternyata wanita waktu itu noonamu, dia cantik sekali, lihatlah dia bahkan lebih cantik ketika rambut coklatnya itu tergerai” kata orang itu menggoda Yoona dan mendekatinya

Buugg

“jangan sentuh noonaku!!” teriak kata Chanyeol setelah berhasil memukul wajah Tao, ketua geng jalanan itu. “brengsek”

Bug

Buug

Buugg

“diamlah bodoh!” kata Tao mendekati Yoona sambil membersihkan darah yang keluar dari ujung bibirnya

“jangan menyentuhnya!” kata Chanyeol mencoba berdiri meninju orang itu lagi, tapi dengan sigap teman orang itu meninju perut Chanyeol terlebih dahulu

Hasil akhir, Chanyeol tak dapat bergerak sedikitpun, dia lunglai, tenaganya sudah benar-benar habis, nafasnya tak teratur. Kai? Dia hanya diam saja melihat hyungnya yang mencoba membela noonanya dan dia juga diam saja ketika melihat Tao mendekati Yoona dengan wajah mesumnya

“bukankah dulu kau sudah pernah membuatku tak menyentuhnya? Aku pikir sekarang kita impas” jawab Tao tersenyum menyeringai

Baekhyun mendekat dan berdiri didepan Yoona, “kami tak ingin ada masalah, tolong lepaskan mereka”

“siapa kau? Dengan mudah menyuruh kami” kata orang itu

“lepaskan mereka!” kata Baekhyun lagi

Buugg….braaakk

Dengan satu kali pukulan dan lemparan, Baekhyun mendarat mulus dijalanan kasar itu

“ya…dengan ganti yeoja ini menjadi milik kami!” jawab Tao terkekeh diikuti anggotanya yang lain

“ambil saja noonaku, jika kalian bisa mengambilnya dengan mudah, heh!” kata Kai tersenyum mengejek

“hahahahaa” tawa orang itu menggandeng tangan Yoona. Sebelum Baekhyun sempat bertindak, 2 orang tengah mencengkram tangannya dan memberinya pukulan. Tao mendekati Yoona tersenyum licik, tangannya mulai bergelayut dirambut Yoona yang kemudian semakin turun tapi dengan cekatan Yoona menepisnya

Buuug…buggg

Tao menatap Yoona kaget dan penuh amarah, “aku tak pernah direndahkan seperti ini!” teriaknya, beberapa detik kemudian dia tertawa, “baiklah, aku akan membuatmu terkulai lemas terlebih dulu baru aku akan menikmatimu sebagai ganti kau memukulku” kata Tao mendekati Yoona lagi

Tapi Yoona bukanlah gadis biasa

Buuuggg…braaakkk…daakkk…buuggg….buggg…braaakk

“jangan sentuh adikku, lagi!” kata Yoona mengancam, semua orang tadi berlari menjauh begitupula Tao yang meringis kesakitan

Baekhyun melongo, ‘jadi, selain jago mendesain, membuat kopi dan memasak istriku juga jago kendo?’ batinnya kaget, ‘apa dia wanita multifungsi?’

‘kenapa aku merasa sangat tak berguna?’ batin Baekhyun

“Baekhyun” kata Yoona mendekati suamninya dan membantunya berdiri, “kau ini nekat sekali” lanjutnya, “justru aku yang mengatakan hal itu” jawab Baekhyun tersenyum, “kita bantu Chanyeol dan Kai dulu”

“kau sendiri?” tanya Yoona, “gwenchana, hanya sedikit luka disini” jawab Baekhyun menunjuk ujung bibirnya yang berdarah, ‘dan disini juga sebenarnya’ batin Baekhyun menatap perutnya.

Mereka berdua berjalan mendekati Chanyeol dan Kai yang terkulai tanpa daya dijalan itu. Baekhyun menyadari bahwa ada narkoba disana, sebelum Yoona menemukannya Baekhyun menendang narkoba itu keselokan dengan menggunakan tongkat kayu. Baekhyun langsung berjalan mendekati Kai dan Yoona mendekati Chanyeol

‘aku tak pernah lupa jika noonaku ini juara lomba kendo’ batin Kai meringis

“gumawo, noona” kata Chanyeol

“tak masalah, yang penting kalian baik-baik saja” jawab Yoona

“kita kerumah sakit terlebih dahulu” lanjut Yoona

“tak usah” tolak Kai, “aku ingin pulang saja” lanjutnya

“tapi lukamu…”

“aku tak apa noona, tak perlu berlebihan” potong Kai

“baiklah, kita pulang saja” kata Yoona mengalah.

Ketika mereka berempat sampai dirumah, nenek mereka menjadi sangat bingung dan khawatir bahkan matanya terlihat berkaca-kaca. Bagaimana bisa ketiga cucunya bisa babak belur seperti itu, Baekhyun memang tak terlalu parah tapi Kai dan Chanyeol, wajah mereka benar-benar membiru dimana-mana

“kenapa kalian bisa menjadi seperti ini?” tanyanya khawatir sambil membantu Shin ajhumma menyiapkan obat untuk Chanyeol dan Kai

“halmoni, tenanglah” kata Baekhyun menenangkan neneknya, “kau juga bagaimana bisa seperti itu?” tanya halmoni kembali pada Baekhyun, “ini hanya luka kecil, aku akan mengobatinya nanti” jawab Baekhyun tersenyum dan berjalan kearah Kai

“aauuu” rintih Chanyeol

“sakit? mian, aku akan lebih berhati-hati” kata Yoona menatap Chanyeol khawatir

“ahh” rintih Kai tiba-tiba, “hyung, pelanlah” kata Kai menjauhkan wajahnya

“ne, ne, mianhe” jawab Baekhyun

“noona, mianhe, seharusnya kami mendengarkanmu” kata Kai

“mianhe” kata Chanyeol

“dan—halmoni—kami minta maaf” lanjut Kai

“sudahlah, yang berlalu biarlah berlalu” jawab Yoona tersenyum diikuti dengan nenek mereka

“aku jadi ingat eomma” celetuk Chanyeol, “sifat noona sama seperti eomma” lanjutnya

“kau merindukannya?” tanya Yoona menghentikan aktivitasnya

“aku merindukannya setiap hari” jawab Chanyeol tersenyum tipis

Kai hanya berdehem, “jangan membahas eomma, ne?”

Yoona dan Chanyeol hanya mengangguk, tentu saja karna Kai tak pernah bertemu dengan eommanya sekalipun. Setelah Kai lahir Im ajhumma yang merawat Kai, karena kondisi ibu Kai memang sudah sangat lemah.

Lalu keadaan menjadi diam dan sedikit canggung, Chanyeol menjadi sedikit gusar

“Kai, kenapa tadi kau bersikap sangat tenang?” tanya Chanyeol penasaran

“maksudmu?” tanya Kai tak mengerti, “saat mereka mengganggu Yoona noona” jawab Chanyeol

“kau lupa? Yoona noona kan juara kendo jadi aku tenang saja. Kau ini bagaimana hyung, padahal kau jauh lebih tua dariku, kau malah tak mengingatnya”

“ahh…iya, sebab trofi aku sudah tak pernah melihat piala-piala noona di pajang didala lemari” jawab Chanyeol

“ehh… noona, kenapa kau memanggil Baekhyun hyung dengan namanya langsung, kan dia suamimu?” tanya Chanyeol mengerjap-ngerjapkan matanya yang sedikit lebam pada Yoona

“emmm….” Yoona berpikir lama lalu tersenyum canggung begitupula Baekhyun yang mengelus tengkuknya

“dasar, aneh” gumam Kai yang mendapat tatapan menyelidik dari Yoona

“kalian jangan menggoda noona kalian” kata nenek mereka tersenyum

“kami tidak menggoda, halmoni. Hanya bertanya saja” jawab Chanyeol tersenyum

“ne, sedikit aneh saja seorang istri memanggil suaminya seperti itu” sahut Kai

“aauu!!”, “ya! Ya! Noona, pelanlah! Kau ikhlas tidak sih!” kata Chanyeol sebal

“salah siapa bertanya aneh-aneh” jawab Yoona kesal.

Setelah Yoona dan Baekhyun selesai mengobati luka Kai dan Chanyeol, Baekhyun lebih dulu kembali kekamar sedangkan Yoona masih sibuk menyiapkan sesuatu. Baekhyun langsung ke kamar mandi melepas kemejanya dan—warna membiru itu terlukis di perutnya yang putih. Dia berniat mengambil handuk untuk dan membasahinya tapi panggilan istrinya mengurungkan niatnya. Dia kembali memakai kemejanya dan bergegas keluar

“wae?” tanya Baekhyun bersikap normal dan duduk disebelah Yoona, “buka kancing bajumu” perintah Yoona tanpa menoleh. Merasa tak ada pergerakan dari Baekhyun, Yoona menatap suaminya tersenyum, “aku tahu perutmu juga lebam, aku lihat tadi mereka memukulmu” jelas Yoona. Baekhyun mengangguk, dengan pelan dia membuka kancing bajunya, Yoona yang melihat itu langsung mengobatinya

“aku tak berguna bukan?” tanya Baekhyun yang membuat Yoona mendongak, “aku bahkan tak bisa melindungimu” lanjutnya, “tsk, berhentilah mengatakan hal bodoh” kata Yoona geleng-geleng, “yang pasti lukamu ini harus sembuh lebih dulu” lanjutnya lalu menutup luka Baekhyun dengan kain kasa

“selesai, istirahatlah” kata Yoona tersenyum merapikan alatnya tadi dan membawanya keluar. “so lucky?” gumam Baekhyun tersenyum beranjak mengganti kemejanya dengan kaos putih yang biasa dia gunakan untuk tidur.

Esoknya…

“noona, nugu?” tanya Chanyeol mengucek matanya

“entahlah” jawab Yoona masih dengan piyamanya serta suaminya yang masih menguap dan berusahan menormalkan pandangannya dengan cahaya lampu dirumah itu

“ramai sekali” imbuh Kai yang baru keluar dengan baju tidurnya, “ayolah ini masih pagi” kata Chanyeol melemaskan tubuhnya

“aah… noona, masih sakit” kata Chanyeol manja pada Yoona, “dasar! Manja” cibir Kai, “tak apa biar saja, beberapa hari lagi juga sembuh” jawab Yoona

Mereka berempat tak ada yang bergerak dari posisi mereka, tetap berdiri sambil bercakap-cakap kecil. Yoona menatap keujung bibir Baekhyun yang masih lebam tapi Baekhyun hanya menjawab anggukan bahwa dia benar-benar sudah baik-baik saja

“tuan, nona, tuan besar sudah pulang” kata bibi dirumah Yoona tiba-tiba mendekati mereka

“eh? Pulang? jinja?” tanya Yoona kaget

“appa pulang? Ajhumma kau tidak bercanda bukan?” tanya Chanyeol tak percaya

Bibi itu hanya mengangguk, “ne, bukankah kalian merindukannya? Cepat temui appa kalian” jawabnya

Mata mereka yang semula masih berat sekarang membuka sempurna, appa mereka pulang. Ya. Appa mereka baru saja pulang dari Amerika. Tuan Im bekerja sebagai pelukis disana.

“setelah 8 tahun akhirnya dia pulang, aku pikir dia sudah melupakan kita” kata Kai melipat tangannya dan menyandarkan tubuhnya pada dinding rumahnya

“Kai…”

“ne ne noona aku tahu apa yang kau maksud” potong Kai cepat, “cepat kalian bersihkan diri kalian” kata Yoona melesat masuk kekamarnya diikuti Baekhyun.

—-

“appa! haraboeji!” panggil Yoona menghambur memeluk appa dan kakeknya bergantian

“dear, kau pasti sangat merindukan kami” kata kakek Yoona

“ne, sangat” jawab Yoona tersenyum

“oh… mana suamimu itu?” tanya tuan Im, kakek Yoona

Baekhyun memperkenalkan dirinya, “annyeong, Byun Baekhyun imnida” kata Baekhyun tersenyum memperkenalkan dirinya

“ini suamimu?” tanya kakek mereka tak percaya, Yoona mengangguk

“tampan, terlihat cerdas dan berwibawa pantas saja kau menyukainya” kata kakek Yoona

“kakek…” kata Yoona mendesah

“aniyo, aku hanya bercanda, kekeke” jawabnya tertawa

“kau menjaga dengan baik satu-satunya anak manjaku ini bukan?”

“tentu saja, abeonim” jawab Baekhyun tersenyum

“aku sugguh tak percaya, bahwa justru kau yang akan menjadi menantuku. Yah… meskipun aku tak pernah bertemu denganmu atau Sehun secara langsung. Hanya foto kalian yang aku punya, tapi benar dugaanku kau jauh lebih tampan jika aku melihatmu langsung seperti ini”

Baekhyun hanya tersenyum menganggapi, “gumawo, abeonim”

“Sorry, aku dan kakekmu ini tak bisa datang ke pernikahan kalian” kata tuan Im

Yoona dan Baekhyun hanya mengangguk, “kami mengerti, pekerjaan disana pasti sedang sangat membutuhkan abeonim dan haraboeji” jawab Baekhyun tersenyum

“Chanyeol? Kai? Ada apa dengan kalian? Ada apa dengan wajah kalian berdua?” tanya tuan Im beralih melihat wajah Kai dan Chanyeol

“emmm….”

“kemarin ada sedikit masalah, appa” potong Yoona

“kalian berdua tidak bertengkar bukan?” selidik appanya

“aniyo” jawab Chanyeol dan Kai serempak

“tapi appa, meskipun hancur Chanyeol tetap tampan” kata Yoona melirik Kai

“jauh lebih tampan aku noona…” sambung Kai sewot

“aniyo, tampan Chanyeol” kata Yoona tersenyum kearah Chanyeol, sedangkan Chanyeol hanya terkikik

“tampan aku!” kesal Kai

“bwhahahahaha” tawa alligator Yoona kembali

“Yoongie… kau ini punya suami ataupun tidak punya suami sama saja, menggoda adikmu” kata tuan Im geleng-geleng.

“apapun yang terjadi Chanyeol jauh lebih tampan” kata Yoona mehrong dan berlari kecil ke dapur

“ANIYO!!” kesal Kai

“awas kau noona!!” teriak Kai mengukuti arah Yoona pergi

‘tak ada yang lebih menyenangkan selain melihatmu tertawa seperti itu’ batin Baekhyun tersenyum.

 

THE END

 

*tambahan

“ehm… Baekhyun” panggil Yoona pelan

Baekhyun yang kala itu sedang sibuk mengetik sesuatu dikomputernya menoleh

“soal foto—yang aku tangisi—itu—”

“foto Sehun?” potong Baekhyun sedikit gusar

“aniyo” balas Yoona cepat, “sebenarnya itu foto eomma” lanjutnya sambil membuka dompetnya dan memperlihatkan pada Baekhyun

Mata Baekhyun langsung membulat

“aku memang mempunyai foto Sehun tapi itu dilaci meja kantorku dan rumor aku membawa setiap hari foto Sehun itu tidak benar. Didompet itu fotoku bersama eommaku ketika ulang tahunku ke-8 dan foto yang aku bawa ditas adalah foto eomma dan foto—pernikahan kita”

Glek…

Dia menelan ludahnya pelan, “foto—pernikahan?” tanya Baekhyun tak percaya. Yoona mengangguk, mengambil tasnya dan memperlihatkan padanya. Mata Baekhyun mengernyit, ‘bukankah ketika kami menikah Yoona tak tersenyum sama sekali? Hanya aku yang selalu tersenyum’

“tapi—bukankah—”

“aku tersenyum saat itu dan aku meminta fotografer itu menyembunyikan foto ini” potong Yoona pelan, “sebenarnya—aku selalu tersenyum saat itu” lanjutnya. Yoona beranjak lagi menggeser meja dikamar mereka dan mata Baekhyun terbelalak ketika melihat sebuah pintu kecil dari kayu berwarna coklat, Yoona membukanya dan mengeluarkan sebuah foto album dan memberikannya pada Baekhyun

“aku memiliki brankas sendiri, eomma yang membuatkan khusus untukku. Yang tahu tentang brankas coklat itu hanya aku, eomma, tukang kayu pembuatnya dan yang terakhir kau”

Baekhyun tak percaya apa yang dilihatnya. Semua foto di album ini adalah ketika mereka menikah dan semuanya penuh dengan senyuman Yoona. Senyuman yang berkembang, senyuman cantik yang menghiasi wajahnya. Senyuman yang sangat Baekhyun kenal

“mianhe, aku menyembunyikannya darimu. Aku hanya berniat menyimpannya untukku sendiri” kata Yoona, Baekhyun tak bisa berkata-kata, dia membalikkan album foto itu terus menerus

“aku baru sadar jika mereka pikir foto yang menyebabkan aku menangis adalah foto Sehun karena tanggal kematian Sehun sama seperti eomma” lanjutnya

Baekhyun mencoba menenangkan dirinya, dia kaget, tak percaya tapi dirinya lalu mengangguk, “ne?” singkatnya

“ne, bukankah kau pernah datang ke makam eomma?” tanya Yoona

Baekhyun menerawang ingatannya

Rest In Peace

Im Dae Ah

23 Juni 1970 – 15 Desember 2000

Rest In Peace

Byun SeHun

12 April 1994 – 15 Desember 2010

Baekhyun menutup matanya, ingat,

’15 Desember 2000’

’15 Desember 2010’

“kau pasti juga berpikir jika didalam dompetku foto Sehun, bukan?” tanya Yoona menyadarkan Baekhyun

“ahh…itu se—”

Yoona tertawa kecil, “tak perlu kau jawab sudah terbaca jelas diwajahmu” potong Yoona tertawa kecil diikuti Baekhyun yang menjadi gugup yang membuat Yoona semakin tertawa lebar

“jangan menertawaiku” gumam Baekhyun pelan menyembunyikan wajahnya yang malu, sama seperti saat mereka bertemu di Coffe shop tempat Yoona bekerja dulu

‘tak ada yang lebih menyenangkan selain melihat wajah gugupmu. Kau tau, aku sangat menyukainya sejak pertama kali aku bertemu denganmu saat itu’ batin Yoona tersenyum manis.

‘ahh… seseorang yang sangat aku cintai dengan seluruh apapun yang aku punya adalah, eommaku, bukan Sehun’

“dan aku sangat penasaran kenapa kau menyimpan foto pernikahan kita ini” kata Baekhyun yang membuat Yoona tertawa (lagi), “selalu ada rahasia dibalik rahasia” jawab Yoona

“tapi aku kan suamimu” kata Baekhyun pelan, “r-a-h-a-s-i-a” jawab Yoona mengerlingkan sebelah matanya.

 

FIN~

done…yeaahh!!! \m/

gimana chingu? kurang puas? kurang greget? kurang romantis? kurang apa lagi chingu? jujur ya… agak susah sebenernya aku ngebuat ff ini jadi romantis terus juga aku rada bingung mau buat akhir ceritanya kayak gimana

ini ff udah panjang kan? aku berusaha buat di chapter ini aku buat sepanjang-panajngnya *tapi ya nggak berlebihan* biar para readers semua puas hehe🙂

gumawo yang sebanyak-banyaknya buat yang udah ngikutin FF ini dari awal sampai akhir. terus juga makasih saran-saran dan kritikannya. berguna banget lhooh… apalagi ada yg komen smp panjang itu aku hargain banget.

ada yang siders? gapapalah, it’s okay it’s love… lagian ini bulan puasa nyenengin hati orang kan dapet pahala. hehe😀

oke…gumawo sekali lagi yaa yang udah baca komen like dan semuanya aja lah… aku sangat-sangat berterimakasih

annyeong!!!

51 thoughts on “Realize (C9~FIN)

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s