(Freelance) Mistake (Chapter 2)

Untitled-1

(Freelancer) Chapter 2 : Mistake

Author : Rachelympian13
Title : Mistake
Cast : Yoona GG | Sehun EXO | Krystal f(x) | Secret Cast
Genre : Romance, Sad.
Rating : PG-14
Note: Abaikan Cover fanfic yang bikin sakit mata -___-
Discalaimer: Story is mine! Benar-benar hasil dari pemikiran keras Author! Jika ada kesamaan itu karena ketidaksengajaan.
~RCL~

“Kau pembunuh! Apa yang kau lakukan padanya!”

“A-aniy, aku tidak melakukan apa-apa! Bukan aku pembunuhnya!”

“Dasar pembohong!”
PLAK

“AAAAA!!”
Teriakan Namja bersurai coklat itu menggema di seluruh ruangan kamar. Teriakan yang menjadi sebuah pertanda bahwa ia- Sehun kembali mengalami mimpi yang sama untuk beberapa hari terakhir.
Sebuah mimpi yang cukup mengerikan baginya…
Mimpi buruk yang sebelumnya pernah menjadi cerita nyata dalam kehidupan kelamnya..
Sehun meraih cepat gelas berisi penuh air mineral yang tampak tergeletak manis di atas sebuah meja kecil di dekatnya, lalu meneguknya dengan sekali tenggak- membiarkan cairan menyegarkan tersebut membasahi tenggorokannya yang kering.
Namja itu menghela napas berat.
PRANK
Gelas berbahan dasar Kristal tersebut tanpa penyesalan terlempar begitu saja ke arah sudut kamar setelah air jernih di dalam gelas itu habis. Hingga bentuk indah dari gelas menjelma menjadi kepingan-kepingan tajam- bentuk benda yang cukup bisa menggambarkan keadaan pikiran Sehun sekarang.
Berantakan..
Satu kata yang dapat mendeskripsikan penampilan Namja bermarga ‘Oh’ tersebut.
Kedua pasang matanya terlihat memerah, keringat dingin mengucur dengan deras melalui kulit tubuhnya, nafasnya terengah-engah tak beraturan persis seperti keadaan seeorang setelah melakukan olahraga berat.
Ah… Bukan berantakan, lebih tepatnya ‘Benar-benar Berantakan’.
Iris pure hazelnya melirik sekilas jam yang masih terpasang pada pergelangan tangannya.
Pukul 01:26 KST.
Matahari bahkan belum terlihat sedikitpun memancarkan cahaya terang melalui ufuk timur. Membuat Namja berkulit pucat itu kembali membaringkan tubuh yang seakan dalam keadaan rapuh karena terlalu lelah.
Matanya belum terpejam sedikitpun, mimpi buruk itu kembali mengusik pikiran Sehun yang mulai sedikit lebih tenang, membuat pikirannya kembali hancur berantakan.
Sebuah mimpi yang bahkan tak pernah sekalipun di inginkan muncul di dalam tidur nyenyaknya…
Mimpi yang selalu sukses mengacaukan pikiran Namja itu seketika…
“Bukan aku…BUKAN AKU!!!”
.
.
.
.
.
“Mereka saling menatap…”

“Jinjja? Apa mereka saling menyukai?”

“eummm, aku tak yakin….”

Suasana pada siang hari merupakan komposisi yang pas untuk menonton film di rumah. Di tambah dengan semilir angin yang datang dari fentilasi rumah membelai lembut kulit wajah, menjadikan suasana rumah bergaya minimalis itu terlihat lebih bersahabat.
Kedua pasang iris milik Sehun menatap dengan penuh fokus ke arah layar Tv yang menampilkan sebuah film bergenre Romance. Terkadang mulutnya berucap pelan menceritakan scene demi scene yang tak mungkin di lihat oleh Yeoja yang kini tengah duduk dengan manis di sebelahnya.
Menonton film…
Ini bukan sepenuhnya kemauan murni milik Yoona, lebih tepatnya ini berawal dari Sehun yang tiba-tiba mengajaknya menonton film yang memang sedang booming saat itu.
Tanpa menunggu, jawaban ‘iya’ langsung terucap melaui mulut kecil Yoona.
Yoona mengunyah pelan potong apel yang masih tersisa di mulutnya, tangan Yeoja itu perlahan mulai meraba piring yang tergeletak di atas paha Namja di sebelahnya. Lalu mengambil beberapa potong apel dan mengarahkannya pada mulut Sehun.
“Buka mulutmu…”
Sehun menoleh ke arah sumber suara, wajah tanpa ekspresi terlihat jelas melekat di wajah cantik Yoona.
Tanpa sadar, kekehan pelan terdengar memecah keheningan di antara mereka. Tangan kanan Sehun mulai mengambil satu potong apel lalu mengarahkannya tepat di depan mulut Yoona hingga menyentuh lembut bibir Yeoja tersebut.
Senyum tulus terekspos di wajah Sehun. “Buka mulutmu..” Tiru Namja itu berhasil membuat senyuman cerah terpancar melalui bibir tipis Yoona.
Mulut kedua insan tersebut terbuka secara bersamaan, lalu potongan-potongan buah apel masuk dari mulut mereka hingga tawa pelan terdengar saat mereka menyadari betapa konyolnya tingkah masing-masing.
Yoona mengunyah pelan potongan apel yang berada di dalam mulutnya. Sedangkan Namja beriris pure hazel itu kembali tenggelam dalam cerita film yang mampu membuat seluruh perhatiannya terarah pada Tv.
Yoona menundukan kepalanya.
Ada sebuah pertanyaan yang mendadak mengusik konsentrasinya untuk mendengar percakapan pada film yang di rekomendasikan Sehun padanya. Sejak awal sebuah pertanyaan itu sudah mengiang di benaknya. Namun, ia selalu menahan diri untuk tidak melontarkan pertanyaan tersebut pada Sehun.
Dan entah keberanian apa yang tiba-tiba memasuki tubuh Yoona. Mulutnya bertanya begitu saja pada Namja di sampingnya. Kunyahan demi kunyahan potongan apel yang terdengar keluar dari mulut Sehun mendadak terhenti saat pertanyaan Yoona masuk ke gendang telinganya. Membuat Yoona hanya bisa mengutuk mulutnya.
“Sehun-ssi, kenapa kau melakukan pekerjaan  mengerikan dalam hidupmu? Apa kau punya alasan? Apa kau mau menceritakannya padaku?”
Yoona mengginggit bibir bawahnya kuat sebagai ganjaran pada mulut kecilnya yang tak berhati-hati dalam bicara.
Suasana santai yang tercipta di antara mereka perlahan menjelma menjadi sunyi dan mencekam.
Yeoja bersurai panjang itu menelan salivanya kuat.
“Gwaenchana, jika tak mau ber…-“
“Aku akan jawab pertanyaanmu.” Ujar Sehun, iris pure hazel nya menatap dalam iris madu di sampingnya.
Sehun menarik napas dalam hingga semua pertanyaan yang Yoona lontarkan terjawab tanpa ada satu pun yang terlewat. Membiarkan cerita kelamnya di dengar oleh Yeoja itu.
Menceritakan semuanya sama saja kembali mengingat cerita tersebut, membuat hatinya serasa pecah berkeping-keping…
Menceritakan semuanya membuat seorang ‘Oh Se Hun’ yang dingin dan terkesan kaku tak berperasaan dapat mengubah dirinya kembali menjadi sosok asli dari ‘Oh Se Hun’…
Sebuah cerita yang benar-benar dapat mengubah diri Sehun…
Setitik air mata meluncur dengan bebas melalui pelupuk mata Yoona, cairan bening itu perlahan mengalir berjatuhan.
Yoona menggeser posisi duduknya, tubuh mungilnya tertarik untuk memeluk tubuh besar milik Sehun. Berharap pelukannya dapat sedikit menyembuhkan luka yang kembali terkuak di hati Sehun.
Mata tajam itu mulai berkaca-kaca saat pelukan Yoona menyelimuti tubuhnya, memberikan kehangatan yang mengingatkannya pada seseorang di masa lalunya tersebut.
Perlahan, bulir air mata bergulir bebas melalui dua pasang mata Namja bersurai coklat itu. sorot dingin mendadak hilang begitu saja di mata elangnya.
Namja itu tidak cengeng..
Namja itu menangis bukan karena cengeng..
Melainkan cerita masa lalunya yang terlalu menyakitkan untuk di ingat. Cerita itu bagaikan gas air mata baginya.
.
.
.
.
.
Kerlap-kerlip kota Seoul memancar jelas jika di lihat dari ketinggian pada malam hari. Campuran-campuran warna berpadu satu menjadikan kota metropolitan tersebut benar-benar enak untuk di pandang. Bunyi kendaraan berlalu-lalang selalu tertangkap oleh indra pendengaran menjadikan suasana malam tak akan pernah terasa sepi.
Di sebuah apartement mewah, seorang Namja tampak berdiri santai menikmati pemandangan dari ketinggian gedung melalui teropong besar miliknya.
Lembaran-lembaran uang won dengan nominal tinggi rela ia korbankan demi mendapatkan apartement yang letaknya sangat strategis di kota Seoul. Membuat banyak orang mendamba-dambakan apartement mewah yang kini sepenuhnya telah menjadi milik Namja bersurai hitam tersebut.
Dengan sebuah kopi hangat di salah satu genggaman tangannya, Namja berwajah tampan itu menyapu seluruh pemandangan kota Seoul melalui kaca besar yang menjadi batasan antara dirinya dan dunia luar. Menelusuri pemandangan kota yang tampak seperti miniatur kecil ketika di lihat dari ketinggian.
Kota Seoul…
Kota yang menyimpan banyak kenangan untuk dirinya, dan setiap kali iris itu menyapu pemandangan kota terkenal tersebut, kenangan masa lalu kembali terputar di memori otaknya.
Kenangan yang tak ia ketahui statusnya sebagai kenangan indah ataupun menyedihkan…
“Tonny-ssi…”
Merasa terpanggil, Namja itu menoleh sedikit untuk melihat sang pemanggil lalu kembali memposisikan kepalanya seperti semula, tanpa memperdulikan Namja berumur 27 tahun di belakangnya.
Umur mereka sama, wajah mereka tak kalah tampan. Tapi, derajat  Namja bernama ‘Tonny’ itu sedikit lebih tinggi di banding Namja yang tampak mengenakan  tuxedo lengkap berdiri di dekat pintu masuk apartement.
Aroma kopi khas Americano menggelitik indra pernapasannya. Membuat Tonny tertarik untuk menyesap sedikit kopi favoritnya tersebut. ”Katakan apa yang ingin kau katakan, Tao-ssi..”
Tao- bawahan setia Tonny mulai melangkahkan kakinya mendekat pada atasannya.
“Yoona Agasshi keberadaannya benar-benar tak di ketahui saat ini. Bahkan utusan-utusan dari pihak keluarga Im masih sibuk dengan pencariannya.”
Tonny meletakan cangkir kopi di atas sebuah meja besar di dekat Tao. Badan Namja itu berbalik lalu menatap ramah bawahannya.
“Gwaenchana, lupakan kasus ini. Biar aku saja yang mencari Yoona.” Tutur Namja kelahiran Bushan tersebut. Tangannya menepuk pelan bahu Tao membuat Namja keturunan China itu tersentak kaget.
“panggil aku dengan nama asliku, aku tidak terlalu suka jika kau memanggilku dengan nama ‘Tonny’.”
.
.
.
.
.
Tangan besar Sehun dengan enteng mengangkat tubuh kurus Yoona yang tampak tertidur lelap. Langkah demi langkah Namja itu telusuri hingga ia mendapati dirinya sudah berdiri di depan pintu kamar Yoona.
Iris pure hazel itu melirik sekilas ke arah jam dinding besar yang menggantung di tembok sampingnya.
Pukul 11:37 KST.
Sehun menghela napas pelan,
Waktu terlalu cepat berlalu, sangat cepat setelah kedatangan Yeoja yang kini berada di pegangannya.
Sehun memutar knop pintu lalu masuk ke dalam kamar besar yang sekarang berstatus menjadi kamar Yoona. Namja berkulit pucat itu berjalan pelan menuju kasur besar yang berada tak jauh dari pandangannya.

“buat aku bahagia…hanya untuk 2 minggu saja, setelah itu harta yang kumiliki. Seluruhnya akan menjadi milikmu…”

Langkah besar Sehun terhenti.
Pikirannya melayang saat pertemuan pertama kalinya dengan Yoona. Di saat mereka membuat sebuah perjanjian bodoh demi memuaskan hasrat masing-masing.
2 minggu..
Waktunya bersama yeoja berwajah cantik itu hanya 2 minggu..
Sehun memang melupakan sisa waktu tersebut. Tapi, Namja itu sangat yakin bahwa waktu yang di habiskannya bersama Yoona telah memakan rakus 2 minggu perjanjian mereka. Menjadikan puncak hari ke 14 hanya tinggal beberapa langkah lagi.
Sehun membaringkan tubuh Yoona di atas Kasur ukuran king size di hadapannya. Namja itu diam di tempat. Iris pure hazelnya menatap teduh Yeoja yang kini tampak tertidur dengan begitu damai.
Tangan hangat Sehun membelai pelan surai cokelat panjang milik Yoona. Merapikan rambut sehalus sutra itu yang terlihat sedikit berantakan, merapikan rambut Yoona dengan jari-jari panjangnya.
Kenapa harus 2 minggu? Kenapa tidak untuk waktu yang lebih lama?
Sehun tak pernah sekalipun menyadarinya, perubahan besar benar-benar telah di alami Namja itu, hidupnya perlahan mulai berubah…
Semua orang tua tau saat melihat tingkah dan perilaku Namja itu di hadapan Yoona…
Semua orang tau saat melihat air muka wajah yang terpancar dari wajah tampan Sehun ketika menatap Yoona…
Semua orang tau saat melihat seulas senyum tulus yang terpahat saat Namja itu bersama Yoona…
Semua itu cukup membuktikan bahwa…
Sehun benar-benar telah mencintai Yoona hanya dalam waktu yang cukup singkat….
.
.
.
.
.
Yoona membuka kelopak matanya perlahan, tanda-tanda kehadiran Sehun sudah tak lagi di rasakannya di dalam ruangan tersebut.
Tangan Yeoja beriris madu itu mulai meraba-raba permukaan meja kecil di sampingnya, lalu mengambil selembar kertas dan sebuah pena yang tergeletak di atas meja tersebut.
Mata Yoona tak akan bisa menangkap cahaya ataupun gambaran. Tapi, setidaknya dengan kekurangan tersebut, tangannya masih bisa di ajak bekerja sama untuk menulis. Jari-jarinya dengan lincah menulis Hangeul di selembar kertas tersebut.
Ia hanya ingin menulis, tanpa memperdulikan apapun. Meluapkan dan mencurahkan seluruh isi hatinya dalam bentuk Tulisan tangan indahnya.
Hingga sebuah titik menjadi pertanda akhir dari rangkaian-rangkaian kata yang tertulis pada kertas yang kini berada di genggaman tangannya. Tangan porselen itu meletakkan kembali kertas tersebut di atas meja.
Kelopak matanya perlahan menutup menandakan ia akan kembali pada dunia mimpi.
2 minggu sebentar lagi akan berlalu..
Tapi, apa keberanian benar-benar ada di dalam dirinya untuk melakukan hal gila yang sudah di rencakannya sejak awal?
.
.
.
.
.
“aku hanya pergi sebentar, kau bisa mengunci pintu jika kau mau.”
“Jangan bukakan pintu untuk orang lain!”

“jangan mencoba untuk kabur, eoh?”

Seulas senyum tipis terpahat nyata di wajah Yoona saat telinganya menangkap Rentetan kalimat meluncur bebas melalui mulut Sehun, sorot mata bahagia seakan tersenyum pada Namja di hadapannya. Anggukan pelan menjadi respon Yoona setelah rangkaian kata itu berhenti.
Tangan Yeoja bersurai sepinggang itu meraba-raba, mencari leher jenjang Sehun. hingga sebuah scraft hitam tebal menyentuh kulit leher Namja itu setelah Yoona melilitkan benda betekstur lembut tersebut. Menyebarkan kehangatan di sana.
Blush
Hawa dingin yang seakan menyelimuti tubuh seketika musnah tergantikan dengan hawa panas yang menyebar cepat di seluruh tubuh Sehun. Wajah tampannya pun terlihat memerah saat Yoona secara tiba-tiba melilitkan scraft ke lehernya. Kegugupan pun perlahan menghampiri Namja itu.
Hal yang terjadi seperti sekarang sudah biasa. Tapi, Namja beriris pure hazel itu tak pernah sekalipun bertingkah normal. Ketika Yoona tiba-tiba memeluknya, memegang tangannya, apapun yang melibatkan kontak fisik. Membuat Sehun hanya bisa mengutuk wajahnya yang selalu memerah dan sikapnya yang secara drastis mendadak berubah.
Sehun mundur beberapa langkah dari Yeoja di hadapannya.
“a-aku pergi dulu..” Ucap Sehun gagu, kakinya berjalan dengan cepat meninggalkan Yoona menuju halaman luas rumah, memasuki mobil sport silver mewahnya, dan menginjak kuat gas mobil tersebut hingga kendaraan itu hilang dari kawasan perumahan mewah di sana.
Tatapan kosong itu memancarkan sorot kebingungan saat merasakan tingkah Sehun yang mendadak berubah.
“Ada apa dengan Sehun?” sebuah pertanyaan langsung berkelebat di hati Yoona. Yeoja bertubuh ramping itu mulai melangkahkan kakinya menuju pintu utama rumah, tangannya meraba-raba- agar dirinya tak menabrak benda-benda yang tersebar di dalam rumah.
Tiiin
Tiiin
Tiiin
Yoona terhenyak.
“Sehun-ssi?”
.
.
.
.
.
Salju perlahan mulai berjatuhan dari langit menyelimuti bumi. Sebagai pertanda bahwa Seoul telah memasuki musim dingin hari pertama. Kaki panjang dengan balutan celana panjang itu tampak berjalan dengan santai menuju salah satu Café terkenal di Gangnam. Tanpa memperdulikan begitu dinginnya suhu di kawasan tersebut.
“Eosseo eosseyo!!”
Ucapan selamat datang terdengar menyeruak muncul setelah Namja berkulit pucat itu memasuki Café yang merupakan hak milik dari sahabatnya.
Sehun mengedarkan pandangannya hingga fokusnya terhenti pada salah satu bangku yang terletak di pojok Café. Penghuni bangku tersebut dengan heboh meneriakan nama Sehun, senyum polos tersungging manis di wajah Namja imut tersebut. Tangannya pun melambai-lambai mengisyaratkan pada Sehun bahwa dia berada di sana.
Hanya tahanan tawa yang bisa Sehun lakukan saat sahabatnya itu melakukan hal yang menurutnya memalukan.
“Ya Oh Se Hun!! 3 kali kau membuat janji untuk bertemu, tapi kenapa kau sendiri yang membatalkannya secara tiba-tiba? Aish, mengesalkan sekali saat aku kembali mengingat ketika aku menunggumu selama 2 jam dan dengan mudahnya kau menelponku dan bilang
bahwa janji di batalkan, apalagi saat bla bla bla..” Sahabat Sehun- Byun Baekhyun berceloteh ria saat melihat Namja berkulit pucat yang di kenalnya sudah duduk santai di depannya.
Sehun hanya bisa mengangguk-angguk saat celotehan itu lolos dari mulut Baekhyun, yang menjadi pertanda buruk bahwa Namja berwajah imut itu tak akan menghentikan kalimat demi kalimat yang di ucapkannya.
Kalimat yang tak akan ada ujungnya sampai Namja itu puas mencurahkan seluruh isi hatinya pada Sehun.
Kalimat yang tak akan bisa di hentikan oleh siapapun.
Sehun memainkan buku menu yang tergeletak di dekatnya, membolak-balik lembaran halaman tanpa ada niat sedikit pun untuk mendengar celotehan Baekhyun yang berhasil menimbulkan efek sakit kepala.
KRING
Kalimat panjang yang terucap dari mulut Namja yang berada di hadapan Sehun terhenti saat dering handphone berbunyi nyaring di antara mereka. Sehun refleks meraba sakunya diikuti dengan arah pandangan Baekhyun mengikuti.
Pancaran penuh tanya terlihat jelas dari sorot mata Baekhyun saat Sehun tampak menatap tajam layar benda yang tengah di pegang Namja itu.
Salah satu jari Sehun nyaris menggeser tombol merah di layar handphone. Namun, jari jempolnya langsung beralih pada tombol hijau dan menggesernya dengan menyentuh layar benda elektronik tersebut- menandakan bahwa dirinya telah menerima panggilan masuk.
Sehun menempalkan Handphone ke telinga.
“Annyeong Sehun-ah! Sudah lama aku tak menelponmu!”
Lagi, Baekhyun menatap dengan kebingungan yang makin menjadi-jadi saat air muka Namja bermarga ‘Oh’ di hadapannya perlahan berubah.
“Kau ja..-“
“Aku hanya ingin meminta izin padamu untuk bertemu dengan Yoona, tak apa bukan?”
Mata Sehun membelak saat omongannya di sela oleh suara dari sebrang telpon, sepasang mata itu terlihat seakan ingin keluar dari tempatnya.
“Apa kau mau bicara dengannya? Aku membelikan makanan untuknya, sekarang kami sedang makan bersama..”
BIP
Sambungan telpon dengan mudahnya langsung di putuskan oleh Sehun, Namja itu segera beranjak dari tempatnya.
Dengan tergesa-gesa, Sehun berlari keluar Café tanpa memperdulikan Baekhyun yang hanya bisa menganga melihat tingkah Sehun yang benar-benar membingungkan dirinya.
Membiarkan punggung Namja bersurai coklat itu lenyap dari pandangannya…
Baekhyun mendesis pelan. “Ia bahkan belum mengucapkan satu kata pun padaku, dan dengan mudahnya ia kembali membatalkan janji ke 4?? Ah, aku butuh obat penenang sekarang..”
.
.
.
.
.
BIP
Krystal menatap layar Handphonenya saat sambungan begitu saja terputus. Smirk terlihat jelas di wajah cantik Yeoja itu saat memikirkan bagaimana reaksi Namja yang baru saja di telponnya saat mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Krystal.
Sehun.
Namja itu benar-benar termakan omongan Krystal, sekalipun ia sudah mengelak ratusan kali, tapi tetap saja kenyataan selalu mengatakan kebenaran.
Dan Krystal yakin jika Oh Se Hun sekarang tengah dalam perjalanan pulang menemui dirinya.
Yeoja bersurai panjang itu memutar-mutar benda berbentuk persegi panjang di tangan kanannya.

“10 menit lagi ia akan datang jika menurutnya rencanannya sangat penting..”

Krystal mengunyah pelan permen karetnya, menyebarkan kesegaran mint pada mulutnya. Yeoja itu masih memutar-mutar handphone dengan kedua iris yang masih mengawasi gerak-gerik Yoona dari ruang santai- sepasang iris itu terlihat seperti sebuah CCTV.

“Atau 5 menit jika ia mulai melihat Yoona sebagai wanita…”

Handphone di genggaman Krystal jatuh begitu saja, membiarkan benda itu terhempas dengan sangat kuat ke lantai. Yeoja itu mulai melangkahkan kaki jenjangnya hingga menginjak Benda mahal tersebut sebagai imbas kekesalannya, tampak jelas bahwa layar lebar dari Handphone keluaran terbaru itu retak- seakan benda tersebut mewakilkan perasaan krystal saat itu.
Seorang Yeoja yang masih berpakaian lengkap dengan piyama dengan lahap memakan nasi goreng kimchi. Seukir senyuman terpancar jelas di wajah cantik Yoona tiap kali sendok makan di tangannya menyendokkan  makanan favoritnya tersebut.
Krystal mengambil posisi duduk tepat di sebelah Yoona. Mengamati Yeoja jelmaan malaikat itu dengan saksama. Mencoba mencari titik terang yang dapat menjadikan Sehun benar-benar berubah dari dalam diri Yoona.
Krystal menopang kepalanya dengan salah satu tangannya. Permen karet dikunyah perlahan di dalam mulutnya. “Sehun tidak membuatkanmu sarapan? Kau terlihat sangat kelaparan.” Tanya Yeoja angkuh tersebut.
Yoona memberhentikan aktivitasnya, lalu mengalihkan fokusnya pada suara Krystal. Sebuah gelengan pelan menjadi jawaban yang krystal lemparkan padanya.
“Aniy, hanya saja aku sangat menyukai makanan ini. Sudah lama aku tidak memakannya, hahahaha..” jawab Yoona diselingi dengan tawa canggung yang terdengar. Tangannya meraba-raba untuk mendapatkan segelas air yang baru saja di letakannya.
Krystal mengambil gelas berisi air di dekatnya, tangan Yeoja itu menggenggam tangan Yoona lalu menempelkan permukaan tangan Yoona pada gelas tersebut. Hingga gelas panjang itu langsung tergenggam oleh kedua tangan kurus Yoona.
“Gomawo…” Yoona berucap pelan lalu segera meneguk minuman segar tersebut.
Krystal meremas ujung roknya kuat, Yeoja itu kesal, marah, sedih, semuanya bercampur satu setelah melihat Yoona.
Krystal bisa saja membocorkan kejadian 7 tahun lalu pada Yoona sekarang jika ia mampu, Krystal bisa saja mencaci maki Yoona jika ia mampu,
Dan…
Tangannya bisa saja mengambil nyawa Yoona saat itu juga.
Hanya saja jika ia mampu…
Krystal benar-benar akan melakukan semua itu jika ia sudah terlampau kesal, setidaknya Yeoja itu masih bisa menahan diri. Krystal bisa mendapatkan semua yang di inginkannya dari Sehun jika ia bisa menunggu sedikit lebih lama.
Setidaknya ia harus bermain-main terlebih dahulu bersama Sehun…
.
.
.
.
.
Mobil sport berwarna silver itu melaju kencang melintasi jalan raya yang terbilang cukup padat. Sang pengemudi menginjak kuat gas sehingga kecepatan mobil berada di atas rata-rata.
Mobil mewah itu seakan tengah menantantang kematian ketika melaju dengan sangatlah kencang memotong perjalan mobil lain. Membuat beberapa klakson mobil terdengar keras mengisyaratkan agar berhati-hati dalam mengemudi pada pengemudi mobil sport silver tersebut.
Ekspresi takut terlihat jelas melekat di wajah Sehun, salah satu tangannya dengan lincah menekan-nekan layar Handphone, sedangkan tangan lain di gunakannya untuk mengemudi setir.
Tak ada jawaban, panggilan terputus.
Sehun menghela napas kasar, lalu kembali menekan-nekan layar benda tersebut untuk melakukan panggilan.
Namja itu takut….
Sangat takut….
Takut jika saja fakta 7 tahun lalu dapat terdengar sampai ke telinga Yoona. Alasan kenapa Namja itu takut? Tak ada yang tau…
.
.
.
.
.
“Berapa umurmu?”
“23 tahun.”
“ah, kita beda 4 tahun. Aku seumuran dengan Sehun.”
“27 tahun? Atau… 19 tahun?”
“27 tahun.”
Anggukan samar terjadi saat Yoona bersama Krystal tengah membicarakan soal umur. Yoona mengambil sesendok dari nasi goreng kimchinya. Lalu mengarahkannya tepat di depan mulut Krystal.
Krystal tertegun melihat perlakuan Yeoja di sebelahnya.
Senyuman manis terukir di wajah Yoona. “Eonnie, buka mulutmu. Tidak enak jika hanya aku yang makan di sini..”
Krystal hanya menatap Yoona tanpa sorot apapun, dan perlahan membuka  mulutnya mengikuti perintah Yoona. Lalu melahap nasi goreng itu dengan kunyahan-kunyahan ringan.
“Yoona-ssi..”
Yoona mengalihakan perhatiannya pada Krystal ketika suara milik Yeoja itu menyebutkan namanya.
“Apa kau tau kenapa…-“
TING TING
TOK TOK TOK
Ucapan Krystal terhenti ketika gendang telinganya menangkap suara bel dan gedoran kuat pintu dari luar.
Krystal mendecakan lidahnya. Yeoja itu melirik ke arah jam tangannya, salah satu jarinya menekan tombol timer pada jam berwarna putih yang melingkar di pergelangan tangannya.
Hingga sebuah desahan lolos keluar dari mulutnya ketika melihat waktu yang tertera pada timer di jam tangan berwarna putih hitam tersebut.
4 menit.
Kenyataan pahit yang harus di telan kuat oleh Krystal.
Sehun melihat Yoona sebagai wanita, lebih tepat rasa di hati es namja itu mulai mencair dan menumbuhkan perasaan untuk Yoona. Setidaknya itulah yang cukup di yakini Krystal untuk saat ini.
“Biar aku yang buka kan pintu.”
Krystal mengambil cepat kunci rumah yang tampak tergeletak di atas meja makan, langkah kakinya berjalan santai menuju pintu masuk rumah yang besar.
Yoona hanya bisa diam di tempatnya, sesekali Yeoja bersurai coklat itu meneguk sedikit minumannya. Tatapan kosong  itu tak memancarkan sorot apapun. Tapi, tak bisa di pungkiri bahwa hatinya sedikit cemas saat mendengar suara heboh dari luar.
Krystal memutar kunci pintu rumah. Hingga kaki jenjangnya harus mundur beberapa langkah saat pintu itu di buka paksa dari luar.
Terlihat Seorang Oh Se Hun dengan wajah dingin dan mata yang menusuk dalam kedua pasang iris Krystal- Seakan mata tajam itu ingin menerkam Krystal.
Krystal mendesah pelan saat melihat tingkah Sehun padanya.
Membosankan…
Satu kata terlintas di otak Yeoja licik itu ketika melihat air muka Sehun. Yeoja itu bosan, setiap kali ia bertatap muka dengan Sehun. wajah garang selalu saja terpasang di wajah tampan Namja itu.
“Krystal Eonnie, Nugu?”
Sehun mengangkat kepalanya, mengedarkan pandangannya untuk mencari sumber suara. Tampak Yoona terduduk dengan tenang di atas kursi makan dengan sendok yang terpegang erat oleh jari-jari tangan kanannya.
Sehun mendelik menatap wajah Krystal yang kini tengah menyunggingkan sebuah fake smile. “Eonnie? Bagaimana bisa ia memanggil orang sepertimu dengan panggilan ‘Eonnie’?” Ujar Namja itu yang lebih terdengar seperti sebuah bisikan. Hanya sebuah tawa renyah yang lolos dari mulut Yeoja di hadapannya.
“Molla setidaknya saat ini ia menganggapku orang baik..-“
Krystal menyingsingkan sebagian surai panjangnya yang menghalangi pandangannya pada wajah Sehun.
“Dan aku bisa dengan cepat menggagalkan semua rencanamu.”
Rahang Sehun mengeras, tatapan tajamnya perlahan bertransformasi menjadi tatapan kebencian, ekspresi marah dan kesal bercampur satu  di wajahnya.
Tangan Sehun mencengkram kuat pergelangan tangan Krystal dan menarik Yeoja itu pergi menjauh dari rumah bergaya minimalis tersebut, meninggalkan Yoona sendiri di sana.
Membawa Krystal menuju halaman belakang rumah lalu menghempaskan tubuh Yeoja berbalut pakaian mahal itu pada sebuah tembok tinggi yang menjulang- sebuah lokasi di mana Yoona tak akan mendengar percakapan mereka.
Krystal menatap malas Sehun lalu berjalan pergi meninggalkan Namja itu. Namun, dengan gesit Sehun kembali menarik kuat tangan Krystal. Menghempaskan tubuh Yeoja itu pada dinding, lalu menahannya dengan mendorong bahu Krystal hingga menyentuh dinding. Membuat Krystal tak bisa berkutik.
Sorot cemas mulai memancar melalui kedua mata bulatnya.
“Hentikan semuanya, jebal..”
Sorot cemas yang memancar perlahan tergantikan dengan tatapan memuakkan. Tak pernah sekalipun Krystal melihat Sehun menundukan kepala kepada Yeoja itu.
Tak pernah sekalipun Krystal mendengar nada memohon yang keluar dari mulut Sehun.
Tak pernah..
Krystal menepis kasar kedua tangan Sehun yang menahan bahunya. Mata Yeoja itu berkaca-kaca . Sejujurnya, ia sangat suka melihat Sehun memohon padanya, ia sangat suka melihat keadaan Sehun saat ini.
Tapi,
Namja yang sudah berhasil mengambil hatinya itu memohon bukan untuk dirinya, melainkan untuk Yoona…
Krystal tau itu, ia bukan Yeoja bodoh. Yeoja bersurai panjang itu melangkahkan kakinya lebih dekat dengan Sehun agar bisa melihat sorot mata Namja di hadapannya.Mencoba melihat apakah ada bayang-bayang Yoona di sana.
Hingga setitik air mata meluncur bebas dari kedua matanya. Menandakan betapa dalam rasa sakit yang di rasakan oleh Krystal saat melihat bayang Yeoja yang dapat di tangkapnya di mata tajam Sehun.
Bibir Yeoja itu bergetar.
“Lupakan.” Tukas Krystal berjalan cepat meninggalkan Sehun, mencoba meninggalkan kepedihan itu dengan tidak melihat Namja itu.
“JUNG KRYSTAL!”
“KEUMANHAE OH SE HUN!!”
Langkah Krystal terhenti saat mendengar jeritan Sehun. Krystal menggigit bibir bawahnya kuat, berusaha mencoba untuk menahan isakan tangis yang mendesak keluar. Punggung itu bergetar menandakan bahwa Yeoja itu tengah menangis pilu.
“Kenapa kau tak pernah sekalipun memahami perasaanku?!..-“ Tutur Krystal tanpa respon apapun dari Namja yang kini tengah berdiri dalam diam di belakangnya.
“Kau tau, aku bahkan rela memberikan apapun padamu, aku bahkan rela membiarkan harga diriku terinjak-injak, aku melakukan itu semua karena aku mencintaimu! Apa kau tak pernah menyadarinya?!”
Sehun diam di tempat, menatap punggung Krystal tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Guratan rasa bersalah perlahan mulai tergores di hati Sehun. setidaknya Namja itu merasakan kesalahan pada Yeoja di hadapannya.
Lidahnya terasa kelu untuk mengucapkan kata-kata. Seakan semua rangkaian kata yang keluar dari mulut Krystal bagaikan bius pada lidahnya.
“Aku.. Tak akan pernah berpikir untuk membatalkan rencana ini sampai kau benar-benar menjadi milikku..”
Punggung Krystal mulai menjauh dan hilang dari pandangannya, seiring hilangnya Yeoja itu dari tangkapan mata Sehun. pikiran Namja itu melayang pada sesosok Yeoja.
Yoona
Namja itu yakin, waktunya bersama Yoona tak akan lama. Sekalipun Yeoja itu pergi dari hidupnya, Yeoja itu tak akan pernah kembali untuk kedua kalinya.
Karena mau tak mau, cepat atau lambat, kejadian 7 tahun lalu akan terungkap. Meninggalkan kepedihan dan kesakitan di hati Yoona. Membuat Namja itu menyesal telah melakukan hal itu.
Sehun tak tau, ia takut semuanya terungkap karena rencananya yang akan berakhir dengan kegagalan atau,
Takut kehilangan Yoona untuk selama-lamanya….
.
.
.
.
.
Cairan berwarna ungu itu mengalir perlahan pada secangkir gelas, botol besar berisi wine membuat bunyi besar saat dasar botol itu menghantam kuat permukaan meja ketika tangan Sehun meletakannya ke meja. Lalu secangkir penuh wine  tersebut di teguk cepat hingga membasahi tenggorokannya. Memberikan sensasi yang aneh pada tubuhnya saat minuman itu berhasil sampai di lambungnya.
Sehun kembali menuangkan wine pada gelas, Dan kembali meneguknya. Kegiatan itu terus terulang hingga kemabukan mulai menjalari tubuhnya. Membuat Namja itu tak terkendali.
Sehun, Namja tampan itu tak akan pernah sekalipun menyentuh minuman keras jika ia tidak mempunyai masalah yang mengusik pikirannya..
Flashback On
“Kenapa matamu bisa seperti sekarang?”
Di pekarangan rumah, dua manusia berbeda gender tampak berbaring dengan begitu santai di atas rerumputan yang terbentang indah. Diselimuti oleh kegelapan malam yang menenangkan.
Yoona menarik napas dalam saat pertanyaan Sehun terdengar hingga ketelinganya.
Hembusan napas pelan terdengar memecah keheningan. “ Molla, Eomma hanya mengatakan bahwa aku mengalami kecelakaan hingga membuat mata dan ingatanku terganggu. Ingatanku benar-benar hilang setelah kecelakaan itu terjadi, sedangkan mataku..-“
Telinga Sehun masih mendengar lanjutan dari jawaban Yoona.
“Mataku perlahan mengalami kemunduran dalam melihat hingga aku benar-benar tak dapat melihat apa-apa, tapi sejujurnya  aku juga tak ingin untuk melihat seperti manusia normal.”
Pertanyaan timbul saat mendengar kalimat terakhir Yoona, Yeoja itu menghela napas berat.
“Ketika mataku tak bisa melihat, penderitaan yang kurasakan benar-benar sangat menyakitkan. Bagaimana jika aku dapat melihat? Penderitaanku pasti akan makin berat..” Ujar Yoona, iris madunya menatap kosong langit bertabur bintang.
Sehun menghembuskan napasnya perlahan, Namja itu menatap iris madu Yoona dalam.
“Apa kau punya seseorang yang di benci?” Sebuah pertanyaan meluncur bebas melalui mulut Sehun.
“Seseorang yang telah membuat hidupku hancur, pembunuh Eomma…”
Seakan kilatan petir menyambar pada diri Sehun, keringat dingin mengucur deras melalui pelipis Namja itu, keringat yang membuktikan ketakutan yang menyebar di hatinya.
“P-pembunuh Eomma mu?” suara Sehun terdengar bergemetar.
“Ne…”
Akibat yang di timbulkan sangatlah besar jika saja kejadian 7 tahun yang lalu terungkap. Sehun memejamkan matanya, menenangkan diri sejenak. Hingga mata Namja itu kembali terbuka.
Sebuah fakta yang mengejutkan bahwa, Oh Se Hun adalah orang di benci Yoona…

Flashback Off

Seorang Namja mulai memasuki Café dengan langkah tergesa-gesa. Namja itu menatap seorang pelayan yang menjadi bawahannya-Choi Jin Ri. Pelayan yang baru saja melakukan pekerjaan di Café tersebut 2 hari yang lalu. Namja itu- Baekhyun mendesah pelan.
“Gwaenchana, sebaiknya kau segera pulang. Terima kasih karena telah memberitahuku..”
“Jeosonghamnida! Aku tak akan melakukan kesalahan lagi! Jeosonghamnida!”
Yeoja bertubuh semampai itu langsung berlari keluar Café ketika matanya tanpa sengaja melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 11 malam.
Baekhyun mengalihkan perhatiannya pada meja yang terletak paling pojok, menatap nanar keadaan Sehun yang terlihat berantakan, Baekhyun tau jika seorang Oh Se Hun tak akan pernah mau menyentuh minuman keras jika saja tidak mempunyai masalah dalam diri Namja tersebut.
Langkah kaki Namja itu membawa dirinya berjalan ke tempat Sehun. lalu mulai memapah tubuh Sehun dengan tenaga yang di milikinya.
“Aish, aku masih mau minum!!!”
Teriakan Sehun yang memekakkan telinga hanya bisa membuat Baekhyun mendesis pelan.
“Jika saja Chanyeol yang kau mintai wine, kau pasti sudah di ocehi oleh pelayan kesayanganku itu..”
.
.
.
.
.
“Kenapa aku melakukannya!!! WAE!!”
Teriakan Sehun menggema di seluruh rumahnya, dengan tubuh sempoyongan. Namja itu berjalan tak tentu arah yang hanya di ikuti oleh pandangan mengawasi dari Baekhyun.
Hingga wajah kaget terpampang nyata ketika Baekhyun melihat Sehun mulai menghempaskan seluruh benda yang berada di dekat Namja tersebut. Menjadikan semuanya hancur berantakan.
Baekhyun langsung menahan Sehun saat Namja beriris pure hazel tersebut sudah bersiap-siap untuk merobohkan rak buku besar yang menjadi koleksi kesayangan Sehun sendiri.
“YA! LEPASKAN!!!”
“Sehun-ssi, apa itu kau?!”
Sehun berhenti memberontak,
1 detik
2 detik
3 detik
Namja itu terdiam untuk beberapa saat, hingga perlahan dirinya mulai terduduk di atas lantai saat mendengar suara Yoona. Aksi Sehun yang tak terkendali mendadak terhenti. Membuat tatapan bingung Baekhyun terpancar saat sahabatnya menatap lurus tangga menuju lantai dua. Iris Baekhyun mengikuti arah pandang Namja itu.
Seorang Yeoja dengan balutan piyama tampak menatap kosong dengan sorot ketakutan. Tangan kurusnya meraba-raba pegangan tangga menjadi penuntunnya untuk melewati tingkatan-tingkatan tangga tersebut.
Ekspresi yang tak dapat di artikan apa maksudnya perlahan terpancar dari wajah Baekhyun.
Pegangan Baekhyun pada lengan Sehun mulai terlepas, langkah kaki Namja imut itu melangkah pelan membawanya hingga ke tempat Yoona. Matanya mulai memerah saat melihat sosok Yeoja yang kini sudah berada di hadapannya.
Tak ada reaksi apaun yang di tunjukan oleh Yoona, itu cukup membuktikan bahwa Yoona tak dapat melihat Namja di hadapannya sendiri. Hanya tatapan kosong tanpa gambaran apapun yang terlihat dari sepasang iris madu tersebut.
“Y-yoongie-ah….” Satu patah kata terdengar dari mulut Baekhyun. Suara yang dapat menuntun Yoona mengetahui di mana asal sumber suara. Yeoja bersurai panjang itu memutar kepalanya ke arah sumber suara.
“Nugu?” hanya sebuah pertanyaan yang menjadi respon dari Yoona.
15 tahun merupakan waktu yang lama…
Yeoja di hadapannya tak akan mungkin mengingat dirinya lagi.
ia tau persis keadaan Yoona sejak kejadian mengerikan yang terjadi 15 tahun lalu, Walaupun masih terbesit rasa ketidak percayaan karena Namja itu belum pernah melihat keadaan Yoona secara langsung untuk 15 tahun terakhir…
Namja itu hanya memantau Yoona dari jauh…
Sehun mulai mencoba berdiri dengan tubuhnya yang masih tak terkendali.
“BYUN BAEKHYUN!!!”
Tak ada sahutan.
“YA!! TONNY BYUN!!!”
.
.
.
.
.
TBC
Eottae? Eottae? Gaje kah FF ku ini? Sudah tau kejadian 7 tahun itu apa? Udah tau secret castnya siapa? Apa ada yang menunggu chap 2 ini? #Readers:Gak!! #Nangisdibawahmeja
Mungkin masih ada yang bingung ama cerita ini. Apa masa lalu Sehun? Apa yang di tulis Yoona di kertas? Tonny kok bisa tau Yoona? Kenapa Author lagi-lagi nulis ff aneh? Aku kenapa? Kamu kenapa? #GilaKumat
Semuanya bakal aku jelasin di FF chap selanjutnya dan selanjutnya ampe Final, semuanya bakal terungkap, jadi tetap terus menunggu FF gaje ini di post😉
Dan juga, comment dan like kalian bisa menjadi motivasiku untuk melanjutkan ke chap selanjutnya. Ah, terima kasih sebelumnya sudah yang meninggalkan jejak pada chap 1!!
#PelukCiumDariRachel #ReadersMuntahBerjamaah #Abaikan

63 thoughts on “(Freelance) Mistake (Chapter 2)

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s