(Freelance) The Reason

TR LuYoon

The Reason

.

.

Written by dinadinasty.
Im Yoona [GG], Xi Luhan [EXO], and Kwon Yuri [GG].
About Angst, Friendship, Sad, Romance, slight-Thriller, slight-Horror, etc.
[THIS IS PURELY MINE. Terinspirasi dari banyak film dan fanfic lain, terutama film Whispering Corridor—Wishing Stairs. Plagiat dapat dosa, ngebash dapat dosa, copas dapat dosa.]

Adalah hasil re-make dari ini.

Warning : Alur maju mundur dan konflik berat. Fokus dan perhatikan waktu dan tanggal. Lengah dikit? Feel hilang, koneksi plot pun hilang. Absurd! Ide pasaran!

PG 15+ only!

Seoul, 03 July 2014
10.47 p.m.

Wanita itu adalah Kwon Yuri.

Yang berjalan di antara malam yang semakin mencekam, bersama dengan sinar bulan. Tak ada penerangan. Yang ada gonggongan anjing memenuhi pendengarannya yang tajam. Oh, dan jangan lupakan bayangan yang sedari tadi masih mengikutinya.

Untung saja, wajah datar—yang melebihi lembaran laporan yang setiap hari dibuatnya—itu menutupi raut gelisahnya. Buru-buru Yuri menaikkan ritme langkahnya. Takut bayangan tak bertuan itu melakukan hal yang tak wajar.

Segera ia masuk ke dalam rumahnya. Tangannya langsung menekan tombol password, menarik gagang pintu, dan menutupnya rapat-rapat. Ketika Yuri hendak melenggang masuk, sesuatu terinjak oleh kakinya.

 

Diletakkan buku bertumpuknya ke atas lantai. Tak lama kemudian, Yuri membungkuk hendak mengambil kertas di bawah sana. Setelah mengambilnya, ia segera bangkit karena ransel punggung memberatkannya. Yuri pun mulai bergerak, ingin mencari tahu apa yang sedang digenggamnya.

 

Oh, itu adalah amplop yang berisi kertas bertuliskan Happy 10th Anniversary.

 

Dahi Yuri menumpuk. Ingin ia mencari tahu makna dibalik 3 kata tersebut. Tapi lelah lebih besar dari rasa penasarannya. Ia hanya meletakkan amplop bersama isinya, di samping ia meletakkan buku bertumpuknya.

 

Seoul, 01 July 2009
07.01 a.m.

Yuri berlari menuju gerbang—yang hanya menyisakan lebar tak lebih dari penggaris 30 cm. Di sekitarnya juga tampak beberapa orang yang telah dikenalnya dengan baik. Biasanya, Yuri bertemu dengan mereka saat menyapu halaman Universitas, membersihkan toilet, atau saat menulis pernyataan permintaan maaf. Mereka adalah anak-anak yang gemar berlari mengejar waktu sebelum guru penjaga menutup gerbang.

Yuri tidak mau dihukum menyapu halaman Universitas, membersihkan toilet, atau semua yang ada dalam daftar punisment. Tapi apa boleh buat, Yuri tak bisa mengelak.

Dan di sinilah Yuri. Bukan menyapu halaman Universitas, bukan membersihkan toilet, bukan juga untuk menulis surat penyataan. Ini adalah yang paling Yuri kutuk, yang paling Yuri hindari, dan yang paling Yuri benci. Ini adalah—

“Cari saja bahannya di perpustakaan! Bintang bukan hal yang akan membuat kalian mati! Apalagi kau, Kwon Yuri! Kau jurusan Astronomi, kan? Lagipula bla bla bla . . .”

Yuri sudah kenyang dengan khotbah sang guru penjaga. Ingin sekali Yuri melempar guru itu ke tengah Samudera Pasifik agar sang guru penjaga mengunci mulutnya.

Hiruk pikuk tempat ini tak pernah berubah. Selalu ramai seperti biasa. Apalagi pada jam makan siang seperti ini. Bersantai, tidur, belajar, jalan-jalan. Hampir semua hal dapat dilakukan di tempat ini. Yuri termasuk di dalamnya. Hanya saja, Yuri menggunakannya untuk duduk di bawah pohon sambil melamun.

“Unnie!” seru seseorang.

Yuri berdehem secara tak sadar. Lihat, dia masih melamun. Bahkan ia tak tahu gadis yang memanggilnya telah tiba di hadapannya.

“Sudah selesai.” Gadis itu menyodorkan beberapa lembar folio.

Yuri mengalihkan pandangannya pada sang gadis, “Yoona-ya, gomawo.” Yuri menerima kertas di hadapannya.

Never mind.” Yoona kemudian duduk di sisi Yuri. Membaca novel sangat cocok untuk moodnya hari ini.

G-Afternoon, ladies.” Suara lain menyeruak gendang telinga kedua gadis tadi.

“Kau sudah selesai?” tanya Yoona. Otot itu menarik bibirnya. Tangannya menyambut sebelah tangan yang tergantung di pundaknya. Sedangkan Yuri masih sibuk memeriksa lembaran tugas rangkumannya tadi—walaupun sebelah tangan itu juga tergantung di pundaknya.

Eoh. Hari ini tugasku lebih mudah. Profesor memberikan kelonggaran padaku. Mungkin ia kasihan pada asistennya ini. Aku sangat kewalahan.” Suara tadi juga menarik bibirnya. “Hei, Yulyuk, kau sedang apa?” Ia berbicara lagi.

 

“Aku?” Yuri bersuara bingung.

 

“Tentu saja kau. Tak biasanya kau memegang kertas. Biasanya kau memegang bantal, cermin, ponsel, si-”

 

“Berhenti membicarakanku, Xi Luhan.” Yuri mulai berlogat—logat yang dipakai oleh presenter acara gosip—saat berucap nama Luhan. Dan Luhan berdecak karena perkataannya dicegat begitu saja. Sementara Yoona tak menghiraukan debat mereka. Yoona selalu dijamu adegan itu setiap hari.

 

“Itu adalah hukuman Yuri unnie, Luhan.” Yoona, yang semula berniat tak peduli, akhirnya menengahi perdebatan kedua temannya. Tak berapa lama kemudian, fokusnya kembali ke novel yang ia baca.

 

“Tebakanku benar.” Luhan berbusung dada, bangga.

 

“Apa yang sebenarnya kau lakukan di sini? Menghinaku?” Yuri berkilat. Mengkilas balik Luhan yang tak pernah absen mengolok-oloknya; “Lihatlah, itu Yuri si salah masuk jurusan.” Atau, “Kau menyuruh Yoona mengerjakan punismentmu lagi? Sudah kubilang kan, kau seharusnya masuk olahraga. Bukan astronomi.”

 

“Hey, nona. Aku tak ada urusan denganmu. Aku ada urusan dengan Nona Holmes di sampingku ini.” Luhan mengarahkan kepalanya ke ‘Nona Holmes’ di sampingnya.

 

Yoona teralih pada Luhan, “Aku?” Pandangan Yoona menyiratkan kebingungan.

 

“Tentu.” Luhan melirik novel Sherlock Holmes di pangkuan Yoona.

 

Yoona menderik. Ia tidak terlalu dan tidak suka nickname yang dicap Luhan padanya. “Sejak kapan kau memanggilku dengan nama itu?”

 

“Sejak semalam,” jawab Luhan cepat.

 

“Semalam?” tanya Yuri tak ingin kalah.

 

“Semalam Yoona memintaku untuk menemaninya ke toko buku hari ini,” tanggap Luhan, ia tersenyum idiot pada Yuri. “Oh,” Yuri hanya mengangguk singkat. Sedangkan Yoona menyimpan Holmes miliknya ke dalam tas.

 

“Ayo, Holmes.” Telapak tangan Luhan menarik pergelangan tangan Yoona.

 

“Aish, berhentilah memanggiku Holmes, Rusa feminim. Aku bukan istri Holmes.”

 

“Kau memang bukan istri Holmes, Rusa kekar. Karena itu aku tidak memanggilmu Nyonya Holmes,” jelas Luhan tak sabaran. “Kami pergi dulu, Yulyuk. Sampai juga. Paipai.” Luhan melambaikan tangan pada Yuri dan segera menyeret Im Yoona dari sana. Sementara Yuri hanya memandang mereka seperti aneh.

 

Yuri menghela nafas singkat dan bangkit, hendak mengumpulkan tugasnya. Sebelum Yuri melenggang lebih jauh dari taman, ia mempererat jaketnya. Sekarang bukan hanya guru penjaga atau waktu saja yang Yuri kutuk. Musim dingin tahun ini mungkin juga akan Yuri kutuk. Salju memang tidak turun. Namun, kehadiran angin cukup kuasa untuk menurunkan derajat termometer.

 

Keesokan harinya.
Seoul, 02 July 2009
10.02 a.m.

“Hey, Lu!” seru Yuri. Yang dipanggil menolehkan kepalanya ke tempat Yuri berada. “Kau tak bersama Yoona?” tanya Yuri.

“Tidak.” Yang ditanya menggeleng. Sedetik kemudian, Luhan kembali fokus pada novelnya.

“Oh,” Yuri membuat-buat ekspresinya, “Benarkah?” Lalu ia berpikir sebentar, “Kupikir kalian adalah-”

“Oh, Yuri, please.” Luhan menutup novelnya dengan mimik semrawut. “Aku sedang membaca novel dan aku tidak bisa fokus memahami plotnya hanya karena kau tak berhenti mengoceh hanya untuk semenit saja!”

“Oh, Luhan! Aku hanya bertanya,” ujar Yuri. “Aku hanya bertanya, Tuan Xi. Kau dengar itu?” Oh, terjadi lagi. Yuri menggunakan logat yang sama seperti kemarin. Belum sempat Luhan memberikan oktaf tingginya pada Yuri, teknologi modern bernama ponsel bersuara dari dalam saku celananya.

“Halo Ya, ini aku Bagaimana hasilnya? Kau sudah memilihkan satu untukku? Terima kasih Aku akan segera datang Tunggu aku.”

“Aku harus pergi dulu. Bye, Yuri!”

 

Belum sempat Yuri memahami bertumpuk kata yang diucapkan Luhan, Luhan sudah menghilang. Sekarang hanya Yuri sendiri di taman ini—walaupun banyak mahasiswa lain yang berlalu lalang.

 

“Kenapa selalu aku yang paling akhir di sini?”

 

Yuri duduk sendiri di tempat itu. Pohon rindang yang hampir membeku di setiap daunnya. Namun, mereka—Yoona, Luhan, dan Yuri—tak menghiraukannya. Hal ini sudah berlaku sejak awal masa pertemanan mereka. Duduk di sana, sambil bermain bersama.

 

Keesokan harinya.
Seoul, 03 July 2009

06.34 p.m.

Yuri hanya bertatap bingung dengan bangunan di hadapannya. Seingatnya, kemarin Yoona tidak masuk kuliah. Luhan juga melewatkan jam terakhir. Dan malamnya, Yoona mengiriminya pesan agar datang ke restoran Jepang di sekitar Universitas—tempat mereka belajar—keesokan harinya. Yoona juga bilang ia akan menyambut Yuri di depan restoran.

Tapi apa?

 

Yuri belum melihat sosok Yoona di sini. Padahal ini sudah lewat berpuluh menit dari waktu awal. Yuri bahkan tergesa-gesa kemari (Yuri tak mau mendengar khotbah seorang Im Yoona jika dirinya terlambat). Khotbah dari guru penjaga sudah lebih dari cukup bagi Yuri.

 

Sebelum Yuri memperbanyak rutukan dan umpatan dalam pikirannya, mobil hitam kelam terparkir di samping mobilnya. Yah, itu Yoona. Sedangkan yang membukakan pintu untuk Yoona itu adalah Luhan.

 

Hah?

 

Luhan dan Yoona?

 

“Maaf membuatmu menunggu, Yuri unnie.” Yoona, yang baru saja menjejakkan kakinya ke lahan parkir, bersuara.

 

“Tak apa,” sahut Yuri. Belum genap sedetik, bibir bawahnya jatuh seakan terbebani oleh daya gravitasi. Bagaimana tidak? Yuri yakin, korneanya membeberkan bahwa Yoona berpegangan tangan dengan Luhan. Otak Yuri bekerja secepat lari siput sekarang ini.

 

“Halo. Kau baik-baik saja?” Telapak tangan kanan Luhan berayun di depan wajah Yuri.

 

Dengan gelagapan Yuri menjawab, “Aku … tak apa.”

 

Orang normal bisa langsung berkata—tanpa berpikir—kalau raut Yuri berubah sejak Yoona turun dari mobil. Sayangnya, Yoona dan Luhan bukan orang yang termasuk dalam kalimat di atas.

 

­­­Sementara tangan kanannya dalam genggaman tangan kiri Luhan, tangan kiri Yoona menarik pengelangan tangan Yuri, bermaksud menarik Yuri masuk ke dalam restoran. Tapi Yuri mengelak. Dilepasnya tangan Yoona pelan.

 

Hal ini membuat Yoona terheran.

 

“Aku harus mengambil sesuatu di mobilku.” Seakan mengerti, Yuri menjawab. Disertai dengan senyumnya.

 

“Cepat masuk, di luar dingin.” Itulah perkataan Yoona sebelum tubuhnya masuk ke dalam restoran.

 

Yuri berjalan ke samping mobil hitam kelam. Sesaat Yuri sempat terhenti. Dengan segera ia melangkah lagi. Namun sekarang langkah Yuri benar-benar terhenti. Dari spion mobil Yoona, terpantul sebuah pemandangan.

 

Bukan pemandangan Luhan yang menggenggam Yoona. Namun, Luhan yang berjalan sambil memeluk mesra pinggang Yoona. Sesekali Luhan berbisik di dekat telinga Yoona. Sesekali juga Yuri mendengar tawa Yoona karenanya.

Yuri menggeser pintu tempat mereka akan makan bersama. Dilihatnya dua sahabatnya telah duduk melingkari meja penghangat. Ah, inilah ruang VVIP.

“Maaf, aku lama.” Kira-kira kalimat itu yang diucapkan Yuri, setelah duduk dan melipat kakinya ke dalam meja penghangat.

“Tak apa, Yulyuk. Ah, Holmes, kau sudah-”

“Aku sudah mengurus semuanya.” Dengan mudahnya Yoona menghentikan Luhan. “Hari ini aku punya 2 kabar gembira,” sambungnya. Kalimat terakhir diselingi dengan nada ceria. Seakan itu adalah hal yang paling mengesankan yang pernah ada. “Benarkan, Luhan?” Pandangannya menoleh ke tempat Luhan duduk di samping kanannya. Yuri hanya mengikuti pandangan Yoona.

“Emm … aku hanya tahu salah satunya saja.” Bola mata Luhan bergerak tak tentu arah, seakan berpikir. Sebelum Yoona mengumumkan kabar gembira yang mengesankan hidupnya, suara pelayan dari balik pintu menyeruak masuk. Tak lama kemudian, makanan-makanan itu berjejal masuk ke dalam ruang.

“Wah.” Luhan bersinar kala melihat berjejer makanan Jepang berbaris di atas meja.

“Tolong bawa masuk makanan utamanya.” Yoona berkata. Luhan, yang merasa perkataan tadi bukanlah untuknya, bingung. Bingungnya hilang ketika melihat seorang pelayan masuk dengan membawa roti besar berselimutkan krim dan cokelat. Juga bertancapkan lilin di atasnya.

“Wah, Yoona!” Luhan mengulangi perkataannya. Luhan menaikkan oktafnya ketika kue besar terhidang di hadapannya. Bukan hanya Luhan, Yuri juga kaget karenanya. Mereka berdua terkejut. Suara pelayan yang memintanya menikmati makanan pun tidak dihiraukan.

Happy 5th Anniversary, my beloved friends.” Yoona berkata layaknya seorang pendemo. Sedangkan Luhan dan Yuri bergerak untuk memeluk gadis bermata rusa itu. Yoona adalah orang pertama yang ingat ulang tahun persahabatan mereka setiap tahunnya.

Dan ini adalah kabar bahagia yang pertama.

Setelah berdoa, meniup lilin, dan perang kue. Akhirnya mereka kembali ke suasana seperti 1 jam yang lalu.

“Luhan, ayo kita berfoto. Unnie, kemari.”

“Tidak usah. Aku tadi tergesa-gesa kemari. Jadi aku tak sempat berdandan.” Yuri tertawa hambar.

Dilihatnya wajah Yoona yang mengkerut.

“Kemarikan ponselmu. Aku yang akan memotret kalian.”

“Yoona-ya, lihatlah. Kau sangat cantik di sini.” Telunjuk Luhan tertempel di layar ponsel Yoona. Sekedar informasi, foto itu adalah foto yang dipotret Yuri. Dengan Luhan dan Yoona sebagai objeknya. Juga berjejer makanan di pojok bawah foto.

“Tidak. Aku terlihat imut di sini,” ucap Yoona sambil menunjuk bagian yang semula ditunjuk Luhan. Dirinya yang bergaya puppy eyes.

“Kurasa kau terlihat tampan di sini,” imbuh Yoona, menunjuk bagian foto Luhan yang sedang berpose mengerucutkan bibirnya sambil menyipitkan matanya.

“Tidak. Aku terlihat imut di sini,” ucap Luhan meniru perkataan Yoona. Tak terhindarkan, tawa pun terdengar sampai sudut ruangan.

“Aku ke toilet sebentar.” Yuri yang semula berstatus ‘Yuri yang terlupakan’ bersuara. Ditanggapi anggukan canggung oleh kedua objek foto tadi.

“Hey, Yoona dimana?” Yuri yang baru saja kembali dari toilet memulai pembicaraan.

“Dia tadi ke toilet. Apa kau tak berpapasan dengannya?” tanya Luhan. Ia sudah memulai memakan makanannya.

“Tidak,” ucap Yuri pendek.

“Apa yang kau pegang itu?” Yuri bingung. Tangan kanan Luhan digunakan untuk makan, sedang tangan kirinya digunakan untuk­ memegang—

“Oh, ini undangan. Sepasang kekasih akan segera menikah sebentar lagi,” jelasnya. “Aku akan ke toilet sebentar,” tambal Luhan.

“Minumlah tehmu dulu. Udara di toiletnya dingin. Kurasa pihak restoran tidak memasang penghangat di toilet.” Yuri menerangkan.

“Baiklah.” Dibandingkan dengan kilat, waktu yang digunakan Luhan untuk meneguk tehnya lebih cepat. Segera Luhan membuka dan langsung menutup pintu begitu ia keluar.

“Kenapa aku selalu sendirian?” Yuri sebal sambil menopang dagu.

Oh, sekarang sudah bertumpuk kekesalan Yuri. Sudah lebih dari 15 menit ia menopang dagu. Dan … mereka belum kembali?

Dengan langkah kesal, Yuri berjalan keluar menuju toilet. Yuri sudah memeriksa toilet wanita untuk mencari Yoona. Dan … emm … Yuri tidak mungkin ‘kan memeriksa toilet pria?

Yuri hanya berjalan tak menentu. Siapa tahu saja di tengah jalan ia bertemu setidaknya salah satu dari mereka.

“Yoona-ya, kau dari–Luhan?”

Yah, dan detik ini Yuri menemukannya. Bukan salah satu, tapi keduanya sekaligus. Yuri bersyukur karena tak harus mengelilingi seluruh restoran untuk mencari mereka. Tak sampai sepersekian detik, Yuri menarik rasa syukurnya. Yuri bersumpah, lebih baik ia mati bosan daripada datang kemari.

Lebih buruk dari Luhan dan Yoona berpegangan tangan.

Lebih buruk daripada melihat Luhan memeluk pinggang Yoona.

Lebih buruk daripada melihat Yoona dan Luhan bermesraan.

Hati Yuri terkapar melihat dua orang di hadapannya berbagi kehangatan bersama. Seakan-akan dunia dan seisinya milik mereka berdua.

Wajah Yuri masih datar, pandangannya menyiratkan kekecewaan. Sangat kontras dengan dua orang yang masih setengah berbagi kehangatan di hadapan Yuri. Mereka tak tahu harus melakukan apa. Mereka; Yuri, Yoona, dan Luhan.

Saat itu, Luhan pergi ke toilet untuk mencari Yoona.

“Hei.” Luhan tersenyum mendengarnya. Ia berbalik, menatap perempuan yang menegurnya beberapa detik yang lalu.

“Apa kau bersih-bersih toilet? Kenapa kau lama sekali?” sebal Luhan, bertampang sok marah. Membuat Yoona menarik otot-otot pipi Luhan, gemas.

“Jangan marah. Kau terlihat lebih feminim saat marah.”

“Aku imut lucu. Bukan feminim, Holmes.”

“Oh ya baiklah,” tanggap Yoona acuh. “Nah, ayo kita kembali. Yuri unnie pasti menunggu kita,” ajak Yoona. Yang diajak menyuarakan penolakannya. Luhan justru mengajaknya berkeliling taman restoran.

“Tidak, Luhan. Itu ide terbodoh yan pernah ada. Udara sangat dingin dan kau ingin berjalan-jalan? Tidak dan terima kasih.”

“Oh, baiklah. Bagaimana jika berpelukan bersama?” Luhan merentangkan kedua tangannya. Ia tersenyum cerah, dan menggoda Yoona dengan mata rusanya yang berkilauan. “Oh, ayolah. Kau bilang udaranya dingin, kan?”

Yoona tersenyum melihat Luhan bersikap seperti itu. Ia mendekat dan semakin mendekat. Hatinya bergemuruh lembut saat merasakan kehangatan Luhan mulai mengusir dingin di tubuhnya. Dengan cintanya yang mulai terbangun, Yoona menghangatkan Luhan balik. Terus menerus hingga mereka tak bisa mengeratkan pelukan mereka lagi. Mereka terlalu dekat. Bahkan dingin pun tak tega untuk sekedar menyapa.

“Mengapa pelukanmu selalu hangat, Deer?” Wanita dalam dekapan bersuara. Luhan hanya tersenyum.

Luhan tak sadar jika pelukan yang mulai longgar itu merobek pelan hati Yoona. Kedua pasang mata rusa itu saling memandang. Terus begitu.

Dengan keberanian yang ia bangun, Luhan mendekat kembali. Ia raih pinggang itu, juga nafas gadisnya. Yoona mencairkan suasana dengan menutup pandangan rusa miliknya sendiri. Mencoba menghayati arti ciuman Luhan kali ini.

Namun mereka tidak bisa berlama-lama.

“Yoona-ya, kau dari–Luhan?”

Yuri hanya duduk dan menjatuhkan air mata ketika undangan itu tergeletak di hadapannya. Beberapa menit yang lalu, Luhan dan Yoona sudah mendahuluinya pulang. Dan sekarang, Yuri tahu, apa kabar bahagia yang kedua.

 

“Maaf, Yul. Awalnya kami tidak ingin merahasiakan ini darimu. Sebenarnya kami … kami akan memberitahumu hari ini. Besok adalah hari pernikahan kami. Lusa, pesta resepsi kami. Aku mohon kau mau hadir. Sekali lagi, maaf, Yuri.”

 

Yuri ingat, Luhan mengatakan kalimat berlapis-lapis itu tanpa jeda. Seakan Luhan sudah berjuta kali mempersiapkan kata-kata itu jauh-jauh hari. Sedang Yoona? Yang bisa Yuri lihat hanya Yoona yang menunduk, tanpa suara. Tak lama kemudian Luhan membopong Yoona yang tergopoh. Meninggalkan surat undangan, yang sempat Yuri singgung pada Luhan beberapa jam yang lalu.

 

Seoul, 03 July 2009
10.02 p.m.
Beberapa jam kemudian.

Bukan karena insomnia. Bukan juga karena waktu. Seorang Kwon Yuri tak pernah mengenal waktu tentang tidur. Tapi sekarang berbeda. Yuri juga tidak merebahkan tubuhnya. Lagipula Yuri tidak memiliki niat untuk tidur. Sama sekali tidak.

Orang normal mana yang bisa tidur sementara dirinya tertimpa masalah?

Haruskah Yuri melepasnya? Haruskah Yuri melakukannya?

Yuri mencintainya. Yuri mencintai lelaki itu. Yuri mencintai Luhan. Kwon Yuri sangat mencintai Xi Luhan. Namun, ia tak pernah mengungkapkannya. Karena Yuri tidak berkeinginan untuk memiliki ikatan dengan seorang lelaki sebelum ia lulus kuliah. Yuri pikir, jika Luhan memang jodohnya, mereka akan bersatu nantinya. Jadi, Yuri hanya mengawasi Luhan dari sisi ‘sahabat’ agar Yuri bisa tetap dekat dengan Luhan.

Yuri tak menyadarinya. Selama ini ia kelepasan mata. Ia tak menyangka bahwa persahabatan mereka bertiga menghasilkan sebuah cinta. Dia tak ingin. Yuri tidak ingin Yoona bersama Luhan.

Karena Yuri telah memesan masa depan indah bersama Luhan. Bukan Yoona yang bersama Luhan.

Lalu, apa yang harus Yuri lakukan? Memisahkan mereka; mencabik-cabik tubuh Yoona seperi seorang psikopat? Atau, memantrai Luhan dengan mantra Obliviate agar ingatan dan cintanya pada Yoona hilang?

Hanya ada dua pilihan.

Yuri marah. Ia menyembunyikan bara api di dalam hatinya. Tapi, itu tidak cukup. Karena api bara itu ingin keluar dan melilit orang yang membuatnya marah.

Dan Yuri sudah tak memiliki apapun untuk dibanggakan sekarang. Jikalau Yuri harus melepasnya, itu berarti Yuri benar-benar tak memiliki apapun.

Jadi, yang harus Yuri lakukan adalah . . . . .

The Second Choice.

Luhan menggendong Yoona ke kamarnya. Rumah sebesar ini sangat sepi ditambah hanya ada dua orang yang menghuninya. Yoona dan kakaknya, Yoon-il. Yoon-il sedang menghadiri workshop keluar provinsi. Jadi, hanya ada Luhan dan Yoona di rumah keluarga Im ini.

Luhan tahu, baik Yoona ataupun Yuri sedang terpuruk. Yuri memang tidak membentak apalagi marah pada Yoona. Hanya saja, Yuri menangis. Luhan bisa merasakan kalau Yuri merasa terkhianati. Yuri pasti merasa dibohongi selama 2 tahun lamanya. Apalagi orang yang telah melakukannya adalah dua sahabat karibnya. Orang mana yang tidak terluka karenanya?

Dan Luhan tahu, hal ini telah menambah lapisan rasa bersalah Yoona pada Yuri. Yoona adalah wanita yang mudah terluka. Wanita yang sering menangis. Apalagi setelah kedua orang tuanya telah tiada. Yoona benar-benar menjadi wanita yang lebih rapuh dari gelas kristal. Dan Luhan, tidak akan membiarkan sebutir debu pun melekat pada gelas kristal tercintanya.

Keesokan harinya.
Seoul, 04 July 2009
05.54 a.m.

Luhan menuju kamar Yoona dengan bubur hangat di tangannya. Luhan tidak tahu apa yang terjadi tapi ia tidak melihat Yoona saat pintu kamarnya terbuka. Luhan tidak menemukan Yoona di atas tempat tidurnya.

Luhan merasuki kamar Yoona lebih dalam dan meletakkan mangkuk bubur buatannya di atas meja. Ia mengamati tempat tidur Yoona. Selimut Yoona berantakan. Bantalnya basah dengan air asin.

Luhan mencoba untuk tidak panik dan memfokuskan pikirannya. Yoona mungkin tidak keluar rumah karena kunci gerbang ada pada Luhan.

Luhan terhenyak. Ia mendengar segukan dari arah rancu. Ia menengok bawah ranjang. Ia menuju kamar mandi. Ia membuka almari. Ia juga tak menemukan Yoona di bawah meja riasnya.

Saat Luhan memeriksa meja belajar Yoona. Gadis itu di sana. Meringkuk di bawah meja seolah dia sedang buron.

Luhan menyisihkan kursi belajar Yoona dan terduduk. Tangannya meraih tangan Yoona. Tatapan Yoona yang kosong terisi raut Luhan yang khawatir.

“Luhan? Itu, kau Luhan? Apa Yuri unnie menelponmu? Aku sudah mencoba menghubunginya berulang kali, tapi ia tidak menjawab panggilanku. Ada apa dengan Yuri unnie, Luhan? Apa dia marah padaku? Apa aku berbuat salah? Apa aku membuatnya jengkel? Apa dia sedang sibuk?”

Luhan diam. Tatapannya semakin khawatir.

“Luhan?”

Namun tak disangka-sangka, Luhan memeluk Yoona. Ia merengkuh gadis yang berguncang itu. Gadis itu jelas sedang terguncang hebat. Yoona tak berkutik. Tatapannya kosong kembali. Ia memainkan kuku tangannya di dalam pelukan Luhan. Sedangkan tatapan Luhan juga kosong. Seolah ingin bersujud pada Tuhan dan merintih, “Kenapa bisa sampai seperti ini …..”

Luhan melepas pelukannya dan mengusap dahi sampai rambut belakang Yoona. “Apa yang kaulakukan di sini, heum?” Luhan mengangkat dagu Yoona.

“Yuri unnie—”

“Kau tidak lapar?” Luhan menatap dalam Yoona.

“Yuri unnie—”

“Kau makan dulu. Lalu aku akan menyiapkan air hangat untukmu mandi.”

“Yuri unnie—”

Luhan tak kuasa menahan matanya yang berkaca-kaca. Ia menunduk hingga wajahnya bertemu lantai dan menangis. Ia merintih seperih-perihnya. Menangis sepedih-pedihnya. Kedua tangannya dibawa ke sekitar wajahnya. Seolah membendung air matanya agar tak meluber kemana-mana. Melupakan dirinya ‘lelaki yang tidak boleh menangis’.

Luhan macet. Bahunya dipaksa perlahan untuk bangun. Ia terlambat menyadari ketika ia berada dalam pelukan Yoona. Yoona yang menegapkan bahu Luhan. Yoona yang mengusap air matanya. Yoona yang mengecup bibirnya. Yoona yang memeluknya. Yoona yang mengusap rambutnya sayang.

Luhan merasa ada beban yang hilang. Yoona menangis bersamanya. Pelukan mereka yang erat imbang.

“Aku yang akan membayar dosa kita pada Yuri unnie.”

Yoona tak mengucapkannya. Ia memendam kalimat itu dalam benaknya.

Dengan tangan kanan yang membawa dompet, Yuri melangkah menuju gereja. Yuri sudah memantapkan hatinya. Ia sudah siap dengan semuanya. Tak ada wajah kecewa, sedih, ataupun terluka. Seluruh cucu Adam menampakkan wajah bahagianya hari ini.

Yuri pergi ke ruang pengantin wanita. Dibukanya pintu itu pelan. Indranya menunjukkan bahwa Yoona sedang duduk di depan cermin. Lengkap dengan penampilan pengantin wanita pada umumnya. Yuri tersenyum, tubuhnya mendekati Yoona.

“Kau tak perlu gugup. Kau sangat cantik,” ucapnya.

“Unnie?” Yoona bangkit. Dipeluknya sahabat tercinta. “Yuri Unnie!”

“Aku tak apa, Yoong. Jangan mencemaskan diriku, eoh? Sekarang kau harus berbahagia. Berbahagialah dengan Luhan. Aku merestui kalian.” Yuri ingin menenangkan Yoona dengan ucapannya. Ia juga balas memeluk Yoona.

“Kenapa kau melakukan ini? Aku pikir kau akan murka dan membenciku selamanya,”

“Aku harus memberikanmu waktu untuk bahagia bersama Luhan,” jawab Yuri.

“Terima kasih.”

.

.

.

Aku harus memberikan waktu untukmu.

Waktu untuk berbahagia dengan Luhan.

Keesokan harinya.
Seoul, 05 July 2009
08.54 a.m.

Hari ini adalah hari resepsi pernikahan Luhan dan Yoona. Yuri sudah membereskan perlengkapannya. Semua sudah siap.

Hanya saja Yuri yang belum siap.

Padahal, kemarin ia sudah siap merelakan Luhan. Yang Yuri ragukan bukanlah tentang merelakan Luhan. Tapi, tentang yang orang yang membuatnya merelakan Luhan.

Yuri mengalah. Ia lebih memilih berdiri bagaikan patung es angsa di ruangan itu. Mengamati Luhan dan Yoona yang beramah tamah pada undangan di singgasananya. Dan akhir cerita, Yuri terus berdiri di sana, mengamati Luhan dan Yoona saling tertawa bersama. Bahkan mereka melupakan Yuri, sahabat mereka, yang tak berhenti merekatkan kembali hatinya yang robek.

Waktu berlalu dan Yuri masih belum menjalankan mobilnya. Lahan parkir telah kosong (pestanya berakhir 3 jam yang lalu). Hanya ada beberapa mobil lain di sana, termasuk mobil Yuri sendiri. Yuri bangkit dari kemudi mobilnya (yah, ia melamun sambil menidurkan kepalanya di kemudi mobil). Ia berpikir lagi. Tahu-tahu dirinya keluar dari mobil. Ia mulai memasuki gedung resepsi yang sepi.

Yuri mencari di seluruh sisi gedung. Ia masih belum menemukan Yoona. Begitu sulitnya mencari Yoona di vila luas ini. Namun, pada akhirnya Yuri menemukan Yoona. Ia menghampiri Yoona yang duduk di ruang ganti. Yoona nampak kelelahan setelah acara resepsi berakhir. Sementara Luhan tidak diketahui keberadaannya.

“Kau lelah? Minumlah.” Yuri menyodorkan botol isotonik pada Yoona. “Kau tadi terlalu bersemangat, Yoong. Hingga kau lelah seperti ini.”

Yoona menyabet botol yang dipegang Yuri. Memutar tutupnya dan meminumnya seteguk. “Bukan, unnie. Aku memang selalu bersemangat saat hatiku gembira. Dan itu bukan masalahnya, bukan karena resepsinya. Aku sudah lelah sejak semalam.” Yoona tersenyum. “Sebenarnya aku lelah karena- ”

“Yoona-ya!” Luhan datang dari arah depan gedung, membawa sebotol minuman isotonik, menyodorkannya ke hadapan Yoona.

“Aku sudah diberi oleh Yuri unnie,” jelas Yoona. Luhan mendengus lucu. Direbutnya botol Yoona dan menggantinya dengan botol yang dibawanya.

“Ini untukku saja. Kau harus minum yang dariku,” tegas Luhan. Ditanggapi anggukan pasrah oleh Yoona.

Awalnya Yuri diam. Namun tidak lagi, karena Luhan meminum botol sisa Yoona itu. Bibir bawah Yuri tertarik ke bawah. Dan itu berarti . . . . .

“A-aku pergi dulu.” Yuri beranjak dari kursinya, tak kuasa melihat pemandangan yang ada di hadapannya.

“Jaga kesehatanmu baik-baik. Aku tidak mau kau dan anakku sakit.” Luhan tersenyum dan mengelus rambut coklat gadisnya.

 

“Aku bukan anak kecil lagi, Luhan. Aku bisa menjaga kesehatanku sendiri.”

 

“Baiklah, aku tahu, aku tahu. Jangan terlalu banyak pikiran dan jangan sering melamun.”

 

“Luhan-a, menurutmu, apakah Yuri unnie akan membenciku?” Yoona terselimutkan air mata. Ia terus saja berpikir bahwa ia adalah penghancur hidup kakak baptisnya. Yoona tahu Yuri memiliki hati pada Luhan. Namun ia hanya diam.

 

“Kau sendiri yang bilang, Yuri telah merestui kita. Ingat?”

 

“Tapi, Luhan-”

 

“Sebentar lagi, Yoona. Aku harus pergi untuk bisnis. Kita tidak akan bertemu lagi untuk sebulan ke depan. Jangan khawatir, sepulang dari Swiss, aku akan membawamu ke Roma. Kita akan bersenang-senang di sana. Jadi, jaga dirimu dan janinmu baik-baik.”

 

“Luhan,”

 

“Aku mencintaimu, Yoong.” Luhan meraih air mata Yoona di pelukannya. Merengkuhnya begitu erat hingga air mata Yoona jatuh lebih banyak. “Jangan menangis, Yoona.”

 

Yoona ikut memperbanyak tangisannya dengan memeluk Luhan sama erat.

 

“Aku mencintaimu, Luhan. Aku mencintaimu.”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Luhan merasakannya.

Cinta itu kejam.

Terlalu kejam untuk Xi Luhan.

Ia menjadi seorang pengacau hubungan Yoona dan Yuri.

Ia membuat sahabat terbaiknya sakit hati. Membuat Yuri menjadi hancur tanpa sisa.

Ia membuat gadisnya merasa bersalah. Dan menambah rasa bersalah Yoona dengan menikahinya, menanamkan janin bermarga Xi di rahim sang gadis.

Luhan merasakannya.

Saat Yoona terjatuh dari pelukan cintanya. Yoona ambruk ke lantai yang dingin.

Sedingin dendam kakak baptis Yoona.

Yoona seperti terlilit oleh kemarahan Yuri.

Luhan tak tahu harus berbuat apa kecuali langsung memeluk Yoona. Dan Xi Luhan kalap. Apa? Bagaimana? Mengapa?

Luhan bisa mendengar detak jantung Yoona yang mulai melemah. Yoona membuka mulutnya, ingin mengeluarkan suara. Sekuat apapun Yoona berusaha, suara itu tak bisa keluar dari bibirnya. Nafasnya tidak teratur, sesak sekali.

Tangan Yoona terangkat membelai pipi Luhan. Setetes air lolos dari mata kanannya.

“Yoona-ya!”

Yoona melihat sosok berkapak di sekitarnya, malaikat maut. Tangannya masih membelai pipi Luhan, mencoba mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Menyeka air mata Luhan dengan sedikit tenaga yang ia punya.

Dan Luhan memejamkan mata. Berharap ciumannya bisa mengurangi sekarat sang gadis.

Aku mencintaimu, Xi Luhan.

Sangat mencintaimu.

Tangannya terhempas begitu saja. Luhan melepas ciumannya. Dilihatnya sang gadis sudah tenang. Air matanya menggenang. Dipeluknya Yoona sangat erat. Seakan tidak ingin melepas gadis itu untuk selama-lamanya.

“Aku mohon. Yoona. Yoona-ya. Aku mohon. Jangan. Jangan lakukan ini padaku. Im Yoona!” Air mata Luhan semakin banyak dari sebelumnya. Tidak ada tangan yang akan menyeka air matanya. Yoona sudah pergi.

  1. .
  2. .
  3. .

Luhan merasakannya.

Persahabatan itu kejam.

Yuri melilitnya dengan kemarahan.

Nafasnya tak teratur. Detak jantungnya juga mulai melemah. Luhan sudah tidak kuat menahan keseimbangan dirinya sendiri. Ia ambruk di sisi Yoona.

Aku mencintaimu, Yoona-ya.

Yoona ada di dalam dekapan Luhan.

Luhan mempererat pelukan mereka.

Luhan memejamkan matanya.

Terlalu mencintaimu.

Sepasang cucu adam yang dulu berjanji selalu bersama, kini mereka menepati janjinya. Mereka adalah pasangan serasi di dalam kehidupan. Dan mereka adalah pasangan abadi di dalam kematian. Dekapan mereka melindungi hal berharga. Cinta, kasih sayang, pengorbanan, dan calon Nona Muda Xi.

Seoul, 04 July 2014
02.32 a.m.

Yuri tidak bisa tidur. Padahal, ia langsung peka jika sudah melihat bantal. Ia berulang kali mencoba untuk tidur, namun tidak bisa. Oh, sialan! Padahal badannya sangat lelah. Yuri pun memilih untuk keluar, mencari angin segar.

Yuri membuka pintu rumahnya.

Pintu terbuka.

.

.

.

.

.

Bayangan itu belum hilang.

Bayangan itu di hadapannya.

Bayangan itu berdiri di hadapannya.

Bayangan itu sedari tadi menunggunya.

.

.

.

Yuri tertunduk. Matanya masih belum lelah. Yuri masih bisa melihat dengan jelas.

.

.

.

.

.

.

Itu adalah Yoona.

“Unnie, Aaku merindukanmu.” Yuri merinding mendengarnya. Bulu romanya berdiri tegak seolah diperintah oleh komandan pleton.

“Yul unnie,” panggilnya lagi. Yuri mendongak, menatap sosok yang berpenampilan layaknya seorang pengantin wanita. Sama seperti yang dilihat Yuri 5 tahun yang lalu.

“Yoona-ya.” Butuh waktu 16 detik bagi Yuri untuk mantap menyelesaikan satu kata itu.

“Aku merindukanmu, Yuri unnie,” ulang Yoona.

“Aku juga, Yoong,” jawab Yuri. “Bagaimana keadaanmu?” tanya Yuri.

Yoona berjalan mendekati Yuri, dengan ujung gaun yang menabrak tanah becek selepas hujan. Mengakibatkan sisa noda menempel di gaun putih yang sudah kusam dan berdebu itu. “Baik. Luhan juga bahagia bersamaku.” Yoona memeluk leher Yuri. Yuri membalasnya.

“Mengapa kau tak yakin kalau Luhan akan bahagia bersamaku? Mengapa kau tak memahami keadaanku? Dan kenapa kau tidak merelakan Luhan untukku, unnie?” Nada bicaranya sangat tenang. Lebih tenang dari Yoona 5 tahun lalu.

“Maaf, Yoona-ya.” Hanya satu kalimat yang bisa diucapkan Yuri.

“Kau tahukan, aku selalu bisa memahamimu. Aku juga selalu bisa memaafkanmu.” Nada bicara Yoona tak berbeda dari sebelumnya. “Tapi aku tidak bisa memaafkanmu untuk satu hal,” tambah Yoona. Nada bicaranya mulai berbeda.

Bulan purnama mulai tertutup oleh tebalnya awan malam. Ranting-ranting pohon saling bersuara karena kerasnya angin malam. Daun-daun pun mulai memucat karena suhu angin.

“Kau telah membunuh anakku!” Didorongnya Yuri ke samping, hingga terhempas keras ke tembok. Penampilan Yuri kacau. Ia lebih cemas dari sebelumnya.

Yuri bergetar karenanya. Burung gagak bertengger nyaman di dahan pohon sambil menyaksikan film yang baru saja dimulai. Suara-suara aneh mulai mengalun. Tangisan mulai bernyanyi.

Yoona berada tepat di hadapan Yuri. Rautnya berubah drastis. Yoona tersenyum mengerikan sambil merapikan rambut Yuri. Yuri tak bisa berkutik. Yuri tak bisa bernafas. Nafasnya tercekat. Oksigen benar-benar sudah punah dari planet ini. Yuri benar-benar tidak ingin melihat wajah Yoona yang menyeramkan.

Dugaan Yuri salah, Yoona tak menyakitinya. Gadis itu—bisakah hantu disebut sebagai seorang gadis?—memeluknya. Yuri tidak tahu bahwa pelukan Yoona masih hangat seperti semasa hidupnya dulu. Yuri merindukan Yoona. Yuri rindu adik baptisnya itu. Yoona yang telah ia khianati dulu. Hanya karena cinta. Yuri telah dibutakan oleh cinta.

Namun pelukan itu semakin erat. Sangat erat. Yuri mulai sesak. Suara air mengalir mulai terdengar. Mata Yuri menangkap bayangan-bayangan lain yang bersahut-sahutan. Burung gagak yang mulanya hanya seekor, sekarang sudah tidak bisa dihitung dengan jari. Seakan film yang diputar adalah film best seller.

 

Dan Yuri terlambat menyadarinya. Ia sadar saat tubuhnya kaku. Darahnya tak teralirkan lagi. Paru-parunya tak berisi okesigen.

Yoona memeluknya begitu erat hingga nafasnya berhenti. Oh, Im Yoona, kau terlalu erat memeluk Yuri.

Yuri ambruk dari pelukan Yoona.

Tanpa Yuri ketahui, Luhan sedari tadi berdiri diam di antara burung-burung gagak yang bertengger. Dan tak sampai jarum jam bergerak, Luhan sudah berada di samping Yoona. Dilihatnya Yoona yang berpandang kosong. Luhan mengenggam telapak tangan Yoona. Yoona menatap Luhan, begitu pula sebaliknya. Mereka berdua berpenampilan seperti sepasang pengantin. Luhan dengan tuxedo hitam dan Yoona dengan gau putih panjang. Walaupun baju mereka sedikit berdebu dan bernoda. Juga beberapa helai kain yang sudah mulai robek.

“Ayo pergi, Yoong. Urusan kita sudah selesai di sini. Hilangkan dendammu pada Kwon Yuri.”

Sinar bulan purnama yang tertutup awan kembali bersinar. Sepasang pengantin tadi masih berpegang tangan. Hanya saja ada yang berbeda. Baju mereka bersih, seakan baru keluar dari toko. Tatapan mereka juga melembut, seakan film yang baru diputar tadi adalah film romantis. Raut mereka juga berbeda dari sebelumnya, keduanya tersenyum bahagia. Angin malam mulai menghangat. Bayangan-bayangan tadi sudah hilang. Burung-burung gagak mengepakkan sayap satu persatu. Semuanya kembali seperti semula. Seolah film horor barusan tidak pernah dibuat.

5 tahun yang lalu.

“Bagimana kronologinya?”

“3 hari sebelum kematian, tepatnya tanggal 1 July 2014, kedua korban pergi ke toko buku bersama.”

“Kau tahu? Aku takut kau akan berkata macam-macam kepada Yuri unnie tadi.” Yoona sibuk menerawang buku-buku di hadapannya.

“Aku tidak akan melakukannya. Bukankah aku sudah berjanji?” Luhan yang berada di belakangnya menjawab.

Yoona tersenyum. Seorang Xi Luhan tidak pernah melanggar janjinya.

“Yoong, kau terlihat sangat cantik semalam. Aku senang. Ternyata kau adalah wanita yang dijodohkan denganku.”

“Dasar pesilat lidah.” Yoona mencibir. Dirinya masih belum menemukan buku yang dicarinya.

Luhan tersenyum miring—tampan tapi manis. Gadis ini terlalu menarik baginya. Yoona adalah pengaruh terbesar dalam kehidupan Luhan. Tanpa perjodohan pun, mereka juga akan menikah dimasa depan.

“Tanggal 2 July 2009 mereka berdua membeli baju pernikahan.”

“Kau sudah memilihkan satu untukku?” Luhan mendorong gagang pintu.

“Tentu. Bagaimana dengan yang itu?” Yoona berdiri sambil melipat tangannya. Tuxedo hitam dan gaun putih sedang menjadi santapan tatapannya.

“Apapun yang kaupakai selalu bagus. Kenapa kau tak mencobanya saja?” Luhan yang baru saja berdiri di samping Yoona langsung melipat tangan ke dalam saku. Ia mengikuti tatapan Yoona.

“Aku tak mau mengotorinya. Aku akan memakainya saat resepsi nanti.” Yoona bahkan tak berniat mengganti objeknya.

“Mengapa tidak saat pembaktian saja?” Dilirik Yoona yang berada di sampingnya. Dari mimiknya, tercentang bahwa Luhan sedang bertanya.

“Aku akan memakai gaun milik ibuku dulu saja.” Yoona mengganti objeknya sambil tersenyum. Membuat sang objek barunya juga meniru apa yang dilakukan olehnya.

“Ayah dan ibuku tetap bersama sampai mereka berdua mati. Aku juga ingin kita berdua bisa seperti mereka.” Segera Yoona menyambung ucapannya. Senyum Yoona semakin panjang kala Luhan berjalan, mendekat padanya. Panjangnya bertambah saat Luhan mendekapnya. Namun Yoona sudah tidak bisa memanjangkan senyumnya lagi saat Luhan mengelus punggungnya. Yang Yoona lakukan hanya membalas dekapan sang kekasih. Dekapan itu berlangsung selama beberapa putaran jarum jam. Dan dekapan itu runtuh ketika sang gadis mulai bersuara.

“Luhan, sekarang aku punya bulan.”

“Maksudmu?” Luhan terpusingkan.

“Bulan,” jelasnya lagi.

“Yoona-ya.” Luhan mulai paham. Dipandangnya sang gadis dengan tatapan takjub. Tak sampai jarum jam berotasi, Yoona sudah berada di dekapan sang lelaki. Yoona juga Luhan tersenyum. Senyum yang panjang, senyum yang lebar.

Luhan menamatkan dekapannya. Ditatap gadisnya. Ekspresi mereka masih sama. Gusi Luhan lebih terlihat saat Yoona tersenyum lebih sambil menganggukkan kepalanya. Mereka benar-benar telah terikat. Apalagi sekarang mereka terikat oleh segumpal darah.

“Esok harinya, 3 July 2014, mereka berdua merayakan hari jadi persahabatan dengan seorang wanita bernama Kwon Yuri.”

“Kau yakin akan memberitahukannya?” Suara pertama Luhan, setelah dirinya selesai memarkirkan mobil.

“Aku sudah merahasiakannya sangat lama. Mungkin ini saat yang tepat untuk mengungkapkan kebenarannya.” Yoona menyudahi kegiatan menatap jalanan di luar kaca mobil. Ditatapnya Luhan dengan pandangan yakin. Sudah seharusnya ia mengungkapkan hal yang sebenarnya. Hanya saja Yoona takut. Takut akan murka Yuri nantinya.

“Aku bersamamu.” Luhan bisa merasakan ketakutan gadisnya. Ia akan melindungi sang gadis tak peduli apapun yang terjadi. Dari sorot matanya terlihat iris seorang malaikat. Malaikat yang akan menjalankan tugasnya sebagai seorang pelindung. Tak peduli walaupun ia harus menjadi tameng yang selalu tergores pedang.

Yoona bersyukur dalam hati. Dirinya sama sekali tidak salah memilih. Sama sekali tidak. 3 tahun lalu adalah waktu yang paling ia segani. 3 tahun lalu adalah pertemuannya dengan Luhan. Berawal saat Luhan dan Yoona mengambil buku yang berseberangan. Luhan ingin mengambil buku ekonomi di depan Yoona. Sedangkan Yoona hendak mengambil novel yang berada di depan Luhan. Sungguh, Yoona sangat berterima kasih pada perpustakaan yang membuatnya bertemu Luhan. Juga yang membuatnya mengenal Luhan. Dan tentu saja, yang telah membuatnya jatuh cinta pada Luhan.

Ia memberikan senyum termanisnya untuk sang kekasih. Seakan menyampaikan rasa terima kasihnya pada sang kekasih. Sekarang ia sanggup mengatakannya pada Yuri. Ia juga sanggup menanggung murka Yuri. Karena ada seorang Xi Luhan di sampingnya. Cinta telah memberikan kekuatan untuk Im Yoona.

Yoona mengganti pandangannya. Terlihat seorang Yuri berdiri di depan restoran. Yoona berani bertaruh kalau sekarang Yuri pasti sedang mengutuk dirinya. Itulah sifat Yuri. Tidak suka menunggu.

“Ayo kita turun. Yuri unnie telah lama menunggu.”

“Mereka juga memberitahu saudari Kwon Yuri bahwa mereka akan menikah hari itu. Tapi, ada yang janggal. Pegawai restoran bilang, saudara Luhan keluar dengan membopong seorang wanita. Sedangkan 1 jam kemudian saudari Yuri keluar dengan mata sembab.”

“Jadi, menurutmu apa yang membuat mereka meninggal tiba-tiba?”

Seoul, 04 July 2014
07.47 p.m.
NFS Office.

“Nama, Kwon Yuri. Umur, 26 tahun. Tinggi badan, 167 cm. Berat badan, 48 kg. Tidak ada riwayat penyakit. Bekerja di kantor Astronomi pusat. Ditemukan meninggal di teras rumahnya dengan tulang rusuk patah. Dugaan sementara, bunuh diri.”

“Apa penyebab kematiannya?”

“Tidak ada sidik jari atau hal aneh lainnya. Jadi pihak kepolisian menyimpulkan bahwa ini adalah bunuh diri.”

“Bukankah sangat mustahil jika gadis sekurus Yuri kuasa mematahkan tulang rusuknya sendiri?”

“Entahlah. Mungkin saja hantu yang mematahkan tulang belakangnya.”

“Hilangkan khayalan anehmu itu. Ayo kita mulai otopsinya.”

Seoul, 06 July 2009
11.33 a.m.
NFS Office.

“Nama, Im Yoona. Umur, 21 tahun. Tinggi badan, 169 cm. Berat badan, 46 kg. Tidak ada riwayat penyakit. Mahasisiwi Universitas Dongguk Jurusan Astronomi Semester 5. Ditemukan meninggal setelah resepsi pernikahannya. Apa penyebab kematiannya?” Lelaki itu mengalihkan pandangannya, dari kertas yang telah ia baca kearah orang di hadapannya.

“Racun Antimony telah diekstrak dari minuman isotonik yang diminumnya sesaat sebelum pasien meninggal. Ini adalah berkas yang menyatakan bahwa korban sedang hamil 4 bulan.” Seorang wanita menjawab pertanyan sang lelaki sembari mengangkat sebuah dokumen.

“Bukankah suami korban juga meninggal?” tanya sang laki-laki lagi.

“Benar, Dokter. Suami pasien bernama Xi Luhan. Umur, 21 tahun. Tinggi badan, 178 cm. Berat badan, 55 kg. Tidak ada riwayat penyakit. Mahasiswa Universitas Dongguk Jurusan Ekonomi Semester 5. Saudara Xi Luhan ditemukan meninggal berdampingan dengan saudari Im Yoona setelah resepsi pernikahan. Penyebabnya kematiannya sama.”

“Mereka pasangan yang serasi.” Lelaki yang dipanggil dokter itu beropini. Dilihatnya dua orang yang tidur berdampingan di ranjang yang berbeda itu, dengan selimut putih yang menutupi tubuh mereka sampai batas bahu.

“Saya setuju, Dokter.” Sang wanita juga ikut beropini. Diikutinya pandangan sang dokter.

“Baiklah, ayo kita mulai otopsinya.”

Sang dokter dan asisten wanitanya mulai memakai masker dan mengambil pisau bedah.

Back in time..

Hanya ada dua pilihan.

Yuri marah. Ia menyembunyikan bara api di dalam hatinya. Tapi, itu tidak cukup. Karena api membara itu berkoar, ingin keluar dan melilit orang yang membuatnya marah.

Dan Yuri sudah tak memiliki apapun untuk dibanggakan sekarang. Jikalau Yuri harus melepasnya, itu berarti Yuri benar-benar tak memiliki apapun.

Jadi, yang harus Yuri lakukan adalah . . . . .

The Second Choice.

Pandangan yang semula kosong itu terisi dengan pandangan botol 35ml di atas meja rias.

Antimony Poison.

Aku harus memberikan waktu untukmu.

Waktu untuk berbahagia dengan Luhan.

.

.

.

Walaupun hanya sebentar, kau boleh berbahagia dengan Luhan. Aku akan memberikan waktu bahagia padamu dengan Luhan. Jika kau bukan Yoona, kau tidak akan pernah bisa berbahagia dengan Luhan. Tapi kau adalah Im Yoona, adik baptis yang kusayangi, akan kuberikan semua yang ku punya untukmu.

Tapi, maaf. Ini tentang Luhan. Untuk yang satu ini aku tidak bisa. Kau tidak bisa memiliki Xi Luhan, Im Yoona.

Kasih sayang dan rasa bersalahmu menggedor pintu hatiku yang terbutakan oleh cinta. Aku merelakan Xi Luhan yang mencintaimu. Merelakan Luhan untuk menjadi pelindung dirimu, yang ada dalam rahimmu.

Aku pantas untuk kau benci. Dengan polosnya aku datamg untuk membunuhmu. Melilitmu dengan Antimony dan amarahku yang penuh. Padahal, aku tidak tahu. Aku akan segera menjadi seorang bibi. Padahal, aku masih bisa melihat Luhan yang kucintai dari dekat.

Karena aku bukan yang terbaik untukmu. Kau mencintai Luhan, begitupun dia. Aku bagai ranjau di taman cinta kalian. Karena itu aku akan mengalah. Tapi aku tidak akan mundur.

Im Yoona, kaulah yang harus mundur.

Tapi, aku tak bermaksud menyentuh Luhan, sungguh.

Tapi, biarlah saja.

Biarkan aku merasakan sakit dan perih di sekujur hidupku untuk 5 tahun tanpa kalian berdua. Anggap saja itu hukuman untukku. 5 tahun berlalu dan kau datang, adikku.

Bawa aku bersamamu.

Mari bertemu di Surga, adikku.

  1. e

Yuri duduk di bawah pohon rindang. Dirinya tersenyum menikmati tarian angin musim semi yang baru saja dimulai ini. Di hadapannya, ada seorang anak kecil yang berlarian kesana kemari. Juga seorang wanita yang mengejar di belakangnya.

“Hanim, berhenti. Ibu lelah mengejarmu.”

Shireoyo.” Suara imut itu terdengar. Pemiliknya masih berlarian tak menentu. Hingga akhirnya anak itu bersembunyi di balik pohon besar.

“Hap! Kau tertangkap, Immie.”

Appa, lepaskan aku.” Anak kecil itu meronta-ronta dalam gendongan sang ayah. Sementara ayahnya tersenyum kemenangan.

“Kau tidak akan menang melawan ayahmu, Immie.” Sang wanita bersuara.

Appa! Lepaskan aku, Appa.”

“Tapi kau harus berjanji untuk tidak membuat eommamu kesal lagi. Mengerti?” Sang anak mengangguk. Ayahnya menurunkan sang anak dari gendongannya. Tak berapa lama kemudian sang anak berlari menghampiri wanita lainnya yang sedang duduk di bawah pohon.

Ahjumma,” panggilnya.

“Apa?” Yuri melotot. Acara bersantainya diganggu.

Ahjumma,” panggilnya lagi.

“Hei, Nona—Ah, siapa namamu? Aku lupa.”

“Hanim. Xi Han Im.”

“Oh, baiklah—terserah. Pokoknya, aku masih muda. Dan kau tidak boleh memanggilku Ahjumma, mengerti?” Yuri masih memasang wajah masamnya.

“Memangnya kenapa?” tanyanya. Rupanya anak 4 tahun ini terlalu polos untuk memahami Yuri. “Lagipula, ahjumma ini sudah tua. Ahjumma bahkan tidak ingat namaku.”

“Apa?!! Yoona-ya! Lihatlah! Hanim mengejekku!” teriak Yuri. Yoona menghampiri Yuri. Diikuti seorang lelaki di belakangnya.

“Ada apa, unnie?” tanya Yoona lembut.

“Lihat! Semakin hari dia lebih mirip ayahnya saja.” Tunjuk Yuri pada Hanim.

“Memangnya kenapa? Itu berarti ayah dan anak kompak.” Itu bukan suara Yoona. Itu adalah suara khas mengejek dari seorang Xi Luhan.

“Hah? Dasar kalian berdua! Ayah dan anak sama-sama evil!” teriak Yuri.

Luhan dan Yoona tertawa. Sementara Hanim tersenyum lebar dalam gendongan Yoona.

Yuri cemberut dibuatnya.

“Menyebalkan. Kalian keluarga Xi sama-sama evil!”

Bukannya berhenti, ketiga Xi itu justru mengeraskan tawanya.

“Yak!”

Musim dingin yang kejam telah berakhir. Digantikan musim semi yang menyenangkan. Dengan senyum dan keceriaan. Tanpa ada dendam dan kesedihan. Semua makhluk berhak bahagia. Yang hidup didunia, ataupun yang berada disurga.

[fin.]

.

.

Hola, there. Fanfic ini adalah ff pertama yang saya kirim ke yoongexo dan ff pertama yang saya buat sebagai ficcer (Ow, yes. I’m the fresh one). Memang ceritanya sangat mulek dan memusingkan. Jika anda belum faham betul, silahkan baca ulang dengan penuh fokus. Jikalau masih belum juga mengerti setelah berulang kali membaca, silahkan ajukan pertanyaan di kolom komentar. Setelah membaca, tolong berikan review anda.

Fanfic ini pernah di publish di blog lain dengan tokoh berbeda. Jika ingin memastikannya, silahkan cek di link yang telah saya sediakan. Tapi, jangan di baca ya, soalnya yang itu lebih absud nan ancur dari ini :3

 

—dinadinasty.

46 thoughts on “(Freelance) The Reason

  1. ff nya keren…cman bhsanya sya agak kurang bisa mngerti =_=..
    tp, DAEBAK lah untuk sang author!! ^^
    tp, kurang suka sih yong di psngin sma luhan..mrka nggak cocok di psangin..*my opini, smua pnya pndpt masing-masing ya.. :p
    hwaniting!!

  2. kereenn bgt^^
    aku agak gak ngerti, tpi makin kesini makin ngerti dan ini keren bgt *prok2 buat author😀
    Yuri nya kenapa jahat sih? udah sih relain aja biar LuYoon bahagia :3 agak kesel ama karakter yuri disini, tpi tak apalah ahirnya mereka bahagia juga. walau didunia lain kkk😀 fighting thor^^

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s