Beautiful Ghost – Chapter 17 [FINAL]

bg_16

Beautiful Ghost

by cloverqua | main cast Park Chanyeol – Im Yoona

other cast Byun Baekhyun – Oh Sehun – Seo Joo Hyun – Huang Zi Tao – Kris Wu

genre Comedy – Fantasy – Romance | rating PG 15 | length Chaptered

disclaimer This fanfiction is purely my own. Cast belong’s God. I just borrowed the names of characters and places. Don’t plagiat this FF! Please keep RCL!

Happy reading | Hope you like it

2014©cloverqua

[Poster by ladyoong’s art]

[Terinspirasi dari drama korea 49 days, tapi dengan alur dan cerita yang berbeda]

 

.

.

.

Tangan Yoona bertaut dengan tangan Chanyeol. Ia senderkan kepalanya di bahu Chanyeol. Yoona tak peduli jika harus naik ke atas ranjang. Asalkan bisa sedekat ini dengan pria yang sangat dicintainya. Yoona tak dapat menyembunyikan perasaan senangnya. Senyum manis itu terus terukir di wajahnya.

Reaksi berbeda justru terlihat dari Chanyeol. Raut wajahnya datar, seolah belum menerima sepenuhnya kebahagiaan yang menghampirinya. Berulang kali ia menghela nafas kasar. Hatinya tak tenang. Tampaknya Chanyeol masih terbebani dengan status hubungan Yoona dan Baekhyun. Meskipun Yoona mengatakan ingatannya sudah kembali dan hanya mencintainya, tetap saja mereka tak boleh mengabaikan Baekhyun.

“Tidak, ini tidak benar. Kau harus tetap bersama Baekhyun,” ucap Chanyeol tiba-tiba.

Mata Yoona melebar, tak percaya dengan kata-kata yang keluar dari pria tersebut. “Apa maksudmu, Yeol?”

“Kau harus tetap bersama Baekhyun,” ulang Chanyeol.

“Bagaimana bisa kau menyuruhku tetap bersamanya? Padahal kau tahu jika aku sangat mencintaimu, Yeol,” suara Yoona bergetar hebat. Matanya berkaca-kaca.

Chanyeol memandang Yoona dalam-dalam. Tangan kirinya membelai lembut rambut panjang Yoona. Gurat kesedihan makin kentara di wajah Chanyeol. Terlebih saat Yoona kembali menangis di hadapannya.

“Jika kau mengakhiri hubunganmu dengannya, karena aku. Apa yang akan kau katakan pada ayahmu?”

Satu pertanyaan terakhir dari Chanyeol sukses membuat Yoona bungkam. Wanita itu terlihat gelisah. Chanyeol benar, bahkan seolah sudah tahu jika Yoona belum siap mengaku pada ayahnya sendiri.

Tangan Chanyeol memegang dagu Yoona hingga wanita itu menoleh padanya. Ia mencoba bersikap realistis dan tersenyum, “Tak ada pilihan lain, Yoong. Kita tidak bisa bersatu. Sebaiknya kau tetap bersama Baekhyun.”

Buliran air mata itu kembali mengalir. Yoona terisak sambil menutup mulutnya. Chanyeol tak tega melihat Yoona bersedih. Ia menarik tubuh Yoona dalam dekapannya. Chanyeol ingin memberikan kehangatan pada Yoona—kehangatan yang mungkin untuk terakhir kalinya ia berikan.

“Benarkah—kita tidak bisa bersama?” tanya Yoona sedih. “Kita bahkan belum memulainya. Kenapa harus mengakhirinya, Yeol?”

Chanyeol mendongakkan kepalanya, berusaha mati-matian menahan air mata yang bersiap turun. Ia menghela nafas pelan sambil mensejajarkan pandangannya dengan Yoona.

“Aku hanya tidak ingin, kebersamaan kita justru melukai perasaan orang lain,” lanjut Chanyeol.

Yoona memejamkan kedua matanya perlahan sambil menghela nafas. Sepertinya ia paham kenapa ayahnya selalu mengatakan jika Baekhyun sangat beruntung memiliki teman sebaik Chanyeol. Karena pria itu lebih mementingkan kebahagiaan Baekhyun, dibandingkan kebahagiaannya sendiri.

“Baiklah,” Yoona mulai bangkit dan menatap wajah Chanyeol. “Jika memang ini keputusanmu, aku hanya bisa mengikutinya. Aku akan tetap bersama Baekhyun, seperti kemauanmu.”

Chanyeol bisa merasakan sesak di dadanya saat Yoona mempertegas kalimat terakhir. Secara tidak langsung, Yoona menumpahkan kekecewaannya pada Chanyeol yang lebih memikirkan perasaan Baekhyun dibandingkan perasaannya.

Mata Chanyeol mengikuti Yoona yang berjalan keluar meninggalkan kamarnya. Ia terus menatap punggung itu sampai tak terlihat lagi. Perlahan Chanyeol meneteskan air mata. “Maafkan aku, Yoong.”

.

.

.

Seohyun baru keluar dari lift usai membeli beberapa makanan untuk Chanyeol. Ia berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Matanya sedikit melebar saat mendapati Baekhyun tengah berjalan dari arah yang berlawanan. Seohyun yang semula bersikap biasa, tak bisa lagi menahan rasa penasarannya saat melihat Baekhyun. Pria itu berjalan dengan langkah gontai, seolah tak ada semangat hidup dalam dirinya.

“Baekhyun-ah,” Seohyun bergegas menghampiri Baekhyun, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan pria itu.

Baekhyun menoleh lemas ke arah Seohyun. Wajahnya terlihat kusut dan suram. Ia malah menjatuhkan kepalanya tepat di bahu Seohyun. Sikapnya tersebut membuat Seohyun terkejut bukan main.

“Baekhyun-ah, kau kenapa?” tanyanya panik.

Baekhyun mendesah dengan suaranya yang bergetar, “Tolong aku, Seohyun. Tolong aku.”

Seohyun semakin kebingungan. Apalagi karena banyak pasang mata yang memperhatikan mereka berdua. Baekhyun tak kunjung bangkit dan masih menyenderkan kepalanya di bahu Seohyun. Hal itu membuat Seohyun gemas dengan wajahnya yang memerah.

Setelah Baekhyun mulai tenang, Seohyun mengajaknya ke taman yang ada di rumah sakit. Keduanya duduk berdampingan pada salah satu kursi. Seohyun memperhatikan Baekhyun. Sementara pria itu masih fokus memandangi air mancur yang berada tak jauh dari mereka.

“Katakan saja,” Seohyun mulai bersuara. “Jika itu membuatmu jauh lebih baik, jangan sungkan untuk berbagi apa yang membebanimu pada orang lain.”

Baekhyun menghela nafas kasar untuk kesekian kalinya. Terkadang ia memejamkan mata, seperti tengah berupaya menenangkan suasana hatinya yang kalut.

“Baekhyun-ah?” Seohyun memanggil lagi pria itu lantaran Baekhyun tidak merespon.

“Apa—kau pernah mengalami cinta yang begitu rumit?” suara Baekhyun terdengar serak dan berat.

“Cinta yang begitu rumit?” Seohyun mengernyitkan dahi. Setelah tahu apa yang dimaksud Baekhyun, ia tersenyum, “Cinta segitiga?”

Baekhyun menganggukan kepala sampai lebih dari satu kali. Meski belum menceritakannya secara detail, Seohyun langsung tahu jika Baekhyun ingin membicarakan masalahnya dengan Yoona dan Chanyeol.

“Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kau sedang ada masalah?” tanya Seohyun penasaran, mencoba memancing Baekhyun untuk lebih terbuka dengan masalah yang menderanya.

Baekhyun memijat keningnya sambil menarik nafas panjang, “Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Ini semua sungguh menyakitkan. Haruskah aku melepaskan wanita yang sangat kucintai demi sahabatku sendiri?”

Senyum Seohyun terlihat seiring rentetan kalimat yang keluar dari Baekhyun. Ia sudah menduga jika Baekhyun memang sedang membicarakan Yoona dan Chanyeol.

“Ya, aku pernah mengalaminya,” jawab Seohyun. “Aku pernah menyukai kakak tiriku, yang telah bertunangan dengan sahabatku sendiri.”

Baekhyun menoleh kaget. Sorot matanya terlihat serius dengan dahi yang berkerut.

“Saat itu, aku tidak peduli pada siapapun. Tidak memikirkan perasaan ibuku, ayah tiriku dan juga kakak tiriku. Termasuk sahabatku sendiri. Aku lebih memikirkan perasaanku yang begitu mencintainya,” jelas Seohyun.

“Suatu hari, mereka berdua akan melangsungkan pernikahan. Upacara pernikahan itu diadakan di rumah sahabatku. Aku berangkat bersama kakak tiriku. Dengan hanya berdua saja, aku memanfaatkan kesempatan ini untuk menolak pergi ke acara pernikahannya. Aku memaksanya untuk memberhentikan mobil sampai aku berjalan meninggalkannya. Kakakku berusaha menghentikanku dan memohon agar aku merestui pernikahan mereka. Tapi aku malah membentaknya sampai kami bertengkar hebat. Tidak kusangka, ini menjadi pertengkaran terakhir yang kulakukan dengannya,” lanjut Seohyun.

Dahi Baekhyun berkerut, “Apa maksudmu?”

Seohyun terlihat mengusap kedua matanya, “Terlalu emosi, aku menyeberang jalan sembarangan. Tidak melihat jika ada sebuah truk besar yang akan melintas. Kakakku langsung berteriak memanggilku, lalu mendorong tubuhku ke seberang jalan. Belum sempat dia menyelamatkan diri, dia sudah lebih dulu tertabrak oleh truk itu.”

Baekhyun tercengang, “Lalu, apa yang terjadi padanya?”

“Dia meninggal, nyawanya tak bisa diselamatkan,” jawab Seohyun lirih.

Mata Baekhyun terasa memanas. Ia prihatin dengan kisah Seohyun yang begitu memilukan.

“Kau pasti merasa sangat sedih,” ujar Baekhyun langsung mengerti kondisi Seohyun.

“Lebih dari itu, Baekhyun. Rasa bersalah terus menghinggapiku selama 5 tahun sejak kepergiannya. Berkali-kali aku terus menyalahkan diriku sendiri karena merasa akulah penyebab kecelakaannya. Aku sudah menghilangkan kebahagiaan kedua orang tuaku dan sahabatku sendiri. Sahabatku bahkan begitu terpuruk sampai beberapa kali mencoba melakukan usaha bunuh diri,” jelas Seohyun.

Baekhyun terdiam dan hanya menghela nafas, “Dia pasti sangat mencintai kakakmu.”

“Kau tahu tidak, siapa sahabat yang aku maksudkan?” tanya Seohyun dengan sorot mata seriusnya.

Baekhyun menggeleng pelan. Wajahnya tampak penasaran.

“Sahabatku yang begitu mencintai kakakku itu—” suara Seohyun terdengar bergetar. “Tidak lain adalah Yoona.”

Mata Baekhyun membulat sempurna. Pria itu menoleh kaget ke arah Seohyun dengan tatapan tak percaya.

“Jadi, Yoona sebelumnya pernah bertunangan?”

Seohyun mengernyitkan dahinya, “Kau belum tahu? Kukira ahjussi sudah mengatakannya.”

Baekhyun menggeleng, “Tidak. Aku sama sekali tidak tahu soal cerita itu.”

“Kau jangan salah paham lantas sampai marah karena mereka tidak memberitahumu. Kurasa, ahjussi tak ingin membahasnya lagi. Karena menurutku itu adalah masa lalu yang begitu kelam bagi Yoona,” ucap Seohyun menenangkan Baekhyun.

Nafas Baekhyun menderu. Pria itu menunduk dengan kedua tangan yang memegangi kepalanya.

“Masalah yang kau katakan tadi, ada hubungannya dengan Yoona dan Chanyeol kan?”

“Sudah kuduga, kau pasti langsung tahu,” ucap Baekhyun tersenyum tipis.

Seohyun mengangguk, “Yoona sudah menceritakan semuanya padaku. Tentu aku tahu masalah apa yang menimpa kalian bertiga.”

“Lalu, menurutmu apa yang harus kulakukan?” tanya Baekhyun.

“Sebenarnya apa yang menimpamu, sama seperti yang kualami di masa lalu, Baekhyun,” jawab Seohyun. “Andai saja aku bisa memutar waktu kembali, saat itu aku pasti akan merelakan kakakku untuk hidup bahagia bersama Yoona.”

Baekhyun tertegun, “Jadi, maksudmu aku harus—”

“Aku tak perlu menjelaskannya lagi. Kau pasti sudah tahu maksudku,” potong Seohyun tersenyum.

Baekhyun terdiam, tidak berkata lagi. Seperti yang dikatakan Seohyun, Baekhyun memang sudah menemukan jawaban tentang apa yang sekiranya harus ia lakukan dalam menyelesaikan masalahnya. Namun Baekhyun enggan mengatakannya. Ia masih membutuhkan waktu untuk mencerna situasi yang menderanya.

.

.

.

Sehun baru kembali dari rumah usai mengambil beberapa pakaian untuk Chanyeol. Pemuda itu tampak memasuki kamar Chanyeol. Sebuah pemandangan di dalam kamar membuat dahinya berkerut. Ia mendapati kakak sepupunya terlihat berdiri di dekat jendela dengan tatapan kosong.

Hyung?

Chanyeol terkesiap dan segera mengalihkan perhatiannya pada Sehun. Ia lalu kembali naik ke atas ranjang. Sehun dengan sigap membantu Chanyeol membetulkan posisi selang infus. Kemudian menarik selimut sampai menutupi sebagian tubuhnya.

“Apa terjadi sesuatu?” tanya Sehun curiga.

Chanyeol menaikkan sudut bibirnya sampai membentuk lengkungan senyum, “Yoona baru saja datang ke sini.”

Mata Sehun terbelalak, “Benarkah? Dia datang menemuimu?”

Chanyeol mengangguk, “Dia mengatakan jika ingatannya sudah kembali.”

Hening. Sehun mematung namun wajahnya tampak berseri dengan sinar matanya yang cerah. Ia menatap binar ke arah Chanyeol dengan mulut setengah terbuka.

“Ini kabar bagus, hyung!” teriaknya sambil menepuk kedua tangan. “Chukkae!

Sepertinya ucapan selamat Sehun tak digubris oleh Chanyeol.

Wae? Apa aku salah bicara?” tanya Sehun bingung melihat ekspresi wajah sedih dari Chanyeol.

Chanyeol tersenyum tipis, “Ingatannya memang sudah kembali. Tapi perjodohannya dengan Baekhyun akan tetap berjalan.”

MWO?

“Aku menyuruhnya untuk tetap bersama Baekhyun. Selain itu, jika kami menjalin hubungan, penjelasan apa yang harus kami berikan pada ayah Yoona. Bisakah dia menerimanya? Aku tidak ingin ada yang terluka karena hubungan kami,” jelas Chanyeol.

Sehun memijat keningnya seraya mendesah, “Sampai sekarang kau masih mengutamakan kebahagiaan Baekhyun-hyung daripada kebahagiaanmu sendiri?”

Anggukan pelan Chanyeol membuat Sehun merasa gemas.

“Hyung, kau itu terlalu baik hati. Bagaimana bisa kau membiarkannya tetap bersama Baekhyun-hyung?” tanya Sehun emosi.

“Memang apa salahnya?” Chanyeol menoleh malas ke arah Sehun. “Aku hanya ingin menepati janjiku pada Baekhyun. Tidak akan mengganggu hubungannya dengan Yoona.”

“Ingatannya sudah kembali dan hanya kau yang dicintainya. Kenapa kau masih tetap menyuruhnya untuk berada di sisi Baekhyun-hyung?” Sehun menarik kursi di sebelah ranjang Chanyeol, kemudian menatap pria itu dalam-dalam. “Tidakkah kau memikirkan perasaan Yoona? Dia akan sangat tersiksa, hyung.”

“Sudahlah, Sehun. Kau jangan membuatku kembali goyah. Aku sudah yakin dengan keputusanku,” ujar Chanyeol sambil memutar bola matanya kesal.

“Tapi, hyung—

“Aku lelah. Aku ingin istirahat,” Chanyeol segera berbaring dengan posisi tubuh yang membelakangi Sehun.

Sehun hanya menatap nanar ke arah punggung Chanyeol. Ia menyadari bahwa ia gagal meyakinkan Chanyeol untuk menjalin hubungan dengan Yoona. jika Chanyeol sudah mengambil keputusan tersebut dengan sikap yang diperlihatkannya, Sehun tak bisa berbuat banyak. Hanya bisa mendukung apapun keputusan yang diambil kakak sepupunya.

.

.

.

Baekhyun menjatuhkan tubuhnya di atas sofa ruang tengah. Nafasnya menderu seiring dengan wajahnya yang berkeringat. Ia mengusap wajahnya berkali-kali dengan tangan. Hari ini menjadi hari terburuk dalam hidupnya. Mengetahui ingatan Yoona yang sudah kembali, membuat hatinya sangat tersiksa. Terlebih ketika Baekhyun mengingat obrolannya dengan Siwon saat ia menjenguk Chanyeol di rumah sakit.

*flashback*

Bagaimana hubunganmu dengan Yoona?

“Baik, hyung. Kami berencana berlibur ke Spanyol sebelum mengadakan pesta pertunangan,” jawab Baekhyun.

Benarkah? Jadi hubungan kalian sudah berjalan sampai sejauh itu?

Baekhyun mengernyitkan dahi. Ia menangkap hal aneh dari suara Siwon. “Ada apa, hyung? Apa kau ingin mengatakan sesuatu padaku?”

Kerutan di dahi Baekhyun semakin kentara, saat ia mendengar helaan nafas dari Siwon.

Hyung?” Baekhyun memanggil Siwon lantaran tak ada tanggapan.

Jika aku boleh memberikanmu saran, sebaiknya kau batalkan saja perjodohanmu dengan Yoona.

Leher Baekhyun terasa tercekat saat mendengar perkatan Siwon, “Apa maksudmu, hyung?

Maaf jika aku menyinggung perasaanmu. Tapi, aku punya firasat tidak enak jika kau terus melanjutkan perjodohanmu dengan Yoona. Karena dalam hubungan kalian, hanya ada salah satu yang memiliki perasaan cinta.

“Maksudmu—cinta yang bertepuk sebelah tangan?” tanya Baekhyun dengan suara pelan.

Ne, cinta yang bertepuk sebelah tangan. Bukankah tidak baik, menjalankan sebuah hubungan hanya dengan mengandalkan perasaan salah satu pihak saja? Itu akan melukai kalian semua, Baekhyun.

“Kau sudah tahu masalah ini dari awal?”

Hening. Baekhyun lagi-lagi tidak mendengar jawaban apapun dari Siwon.

“Jawab aku, hyung!” teriak Baekhyun frustasi.

Maafkan aku, Baekhyun. Seharusnya kukatakan sejak awal. Aku benar-benar sangat menyesal.

*end flashback*

Baekhyun tertawa miris usai mengingat kembali percakapannya dengan Siwon. Ia juga mengingat pengakuan Yoona pada Chanyeol tentang ingatannya yang sudah kembali. Siwon benar. Dalam perjodohannya dengan Yoona, hanya Baekhyun yang mencintai Yoona. Tapi, tidak dengan wanita itu. Karena perasaan Yoona hanyalah untuk Chanyeol, bukan untuknya.

Perlahan raut wajah Baekhyun berubah sedih. Matanya memerah sampai meneteskan air mata. Baekhyun menangis. Ini terlalu menyakitkan, mengetahui wanita yang sangat dicintainya justru mencintai pria lain. Apalagi pria itu adalah sahabatnya sendiri.

Ingin rasanya Baekhyun mengabaikan fakta tersebut dan juga ucapan Siwon yang menyuruhnya untuk menghentikan perjodohannya dengan Yoona. Ia ingin tetap melanjutkan perjodohan tersebut. Tapi, itu artinya ia telah bersikap egois. Tidak mempedulikan perasaan Yoona yang sebenarnya hanya mencintai Chanyeol. Ia juga mengabaikan perasaan Chanyeol yang begitu mencintai Yoona. Bukankah Baekhyun akan membuat dua orang yang saling mencintai itu menderita?

Hal yang paling diingat oleh Baekhyun adalah cerita masa lalu Seohyun. Cerita yang sama dengan apa yang dialaminya sekarang. Bahkan cerita itu berakhir tragis dengan tidak bersatunya Yoona dan kakak tiri Seohyun. Rasanya, itu sudah cukup memberikan tamparan keras bagi Baekhyun atas apa yang dilakukannya selama ini.

Tanpa Baekhyun sadari, ada dua sosok yang sedari tadi mengamatinya. Mereka mengamatinya dari dunia yang berbeda—dunia roh. Pandangan mereka tertuju pada kolam yang memperlihatkan Baekhyun. Dua sosok itu tengah berbisik, seolah menganalisa sikap selanjutnya yang akan diambil oleh Baekhyun.

Sunbae, menurutmu apakah Baekhyun akan melepaskan Yoona untuk Chanyeol?” suara Tao terdengar cemas.

Kris hanya mengedikkan bahu, “Entahlah. Aku tidak tahu.”

Tao menatap iba ke arah Baekhyun, “Sebenarnya aku merasa kasihan padanya. Cinta yang bertepuk sebelah tangan itu sangat menyakitkan.”

Kris mengangguk, “Aku sependapat denganmu. Tapi memang inilah yang harus diterimanya.”

“Setidaknya dia sudah tahu jika ingatan Yoona telah kembali.” Sebuah suara berhasil mengalihkan perhatian Kris dan Tao. Mereka langsung membungkuk ke arah Choi Haneul yang berjalan menghampiri keduanya.

“Kau benar, sunbae,” balas Kris. “Aku juga tidak menyangka jika cucumu akan berterus terang seperti itu pada Baekhyun.”

Choi Haneul tertawa, “Siwon memang orang yang seperti itu. Begitu tahu jika membuat kesalahan, ia tak akan mengulur waktu lagi dan segera memperbaiki kesalahannya.”

Kris dan Tao saling memandang dengan senyum mereka.

“Lalu, apakah dia akan melepaskan Yoona untuk Chanyeol?” tanya Tao lagi karena terlalu penasaran.

“Setelah mendengar cerita masa lalu yang dibeberkan Seohyun, aku yakin dia akan mengambil keputusan yang tepat. Bagaimana pun masa lalu yang dialami Seohyun, sama dengan apa yang dialaminya sekarang. Baekhyun pasti sudah belajar banyak dari Seohyun,” jawab Kris sambil menepuk Tao. “Percayalah, Tao. Pada akhirnya semua akan berakhir bahagia.”

Tao tersenyum lega, terlebih saat melihat Choi Haneul menganggukan kepala, setuju dengan apa yang disampaikan oleh Kris. Semoga saja semuanya memang akan berakhir bahagia.

.

.

.

.

.

.

Rencana Baekhyun dan Yoona untuk berlibur bersama ke Spanyol tetap dilaksanakan. Bertepatan dengan keluarnya Chanyeol dari rumah sakit Seoul setelah menjalani perawatan intensif selama 5 hari. Yoona tampak sibuk memasukkan barang bawaannya ke dalam mobil, yang akan dikemudikan oleh supir pribadi keluarga Im. Baekhyun terlihat membantu Yoona memasukkan barang-barang tersebut.

“Segera memberi kabar setelah kalian sampai di Spanyol,” pinta Tuan Im.

Yoona dan Baekhyun mengangguk. Sebelum masuk ke dalam mobil, Yoona memeluk Tuan Im terlebih dahulu.

“Semoga perjalanan kalian menyenangkan,” balas Tuan Im dengan senyum khasnya. Ia menepuk bahu Baekhyun dengan lembut, disambut anggukan pelan dari calon menantunya tersebut.

“Kami pergi dulu, appa,” pamit Yoona sambil masuk ke dalam mobil.

“Kami akan segera memberitahumu setelah tiba di Spanyol,” lanjut Baekhyun.

Tuan Im mengangguk dan melambaikan tangan ke arah mobil yang sudah mulai berjalan meninggalkan kediamannya. Pria paruh baya itu tersenyum senang.

Selama perjalanan dalam mobil, entah kenapa keheningan justru melanda Baekhyun dan Yoona. Keduanya tidak mengobrol. Yoona lebih fokus mengamati jalanan kota sedangkan Baekhyun memilih mendengarkan alunan musik menggunakan headset miliknya.

DRRT! Yoona terkejut ketika mendengar dering ponselnya. Tangannya segera meraih ponsel yang ditaruhnya dalam tas. Ia tersenyum saat melihat nama Seohyun tertera di layar.

“Seohyun-ah,” sapa Yoona senang.

Samar-samar Baekhyun mendengar suara Yoona. Ia segera mematikan musik yang didengarnya sejenak, namun tidak melepas headset yang dipakainya.

Kau sudah sampai di bandara? Maaf aku tidak bisa mengantarmu.

“Kami masih dalam perjalanan,” jawab Yoona. “Tidak masalah, lagipula kami hanya berlibur selama 2 minggu.”

Baiklah, semoga perjalanan kalian menyenangkan.

Ne, terima kasih,” sahut Yoona sambil tersenyum tipis.

Boleh aku bertanya sesuatu padamu?

Yoona mengkerutkan dahinya, “Katakan saja.”

Apa kau sudah mengaku pada Chanyeol, jika ingatanmu sudah kembali?

Yoona terdiam. Ia melirik Baekhyun karena khawatir jika pria itu mendengar obrolannya dengan Seohyun. Setelah memastikan jika headset masih terpasang di telinga Baekhyun, Yoona kembali fokus pada ponselnya.

Ne, aku sudah mengatakannya,” jawab Yoona.

Benarkah? Lalu, kenapa kau masih melanjutkan rencanamu untuk berlibur ke Spanyol? Apa kau akan tetap melanjutkan perjodohanmu dengan Baekhyun?

Yoona menghela nafas, “Karena ini permintaan Chanyeol sendiri. Dia menyuruhku untuk tetap bersama Baekhyun.”

DEG! Baekhyun terkejut saat mendengar pengakuan Yoona tersebut. Ia mencoba bersikap biasa, seolah masih mendengarkan musik dari ponselnya

Yoona masih berbicara dengan Seohyun. Ia tidak menyadari jika sedari tadi Baekhyun mendengarkan pembicaraannya. Pria itu tampak menghela nafas kasar berulang kali. Bahkan mengusap dadanya yang terasa sesak.

Ne, arraseo. Begitu tiba di Spanyol aku akan menghubungimu,” ucap Yoona sebelum mengakhiri pembicaraannya dengan Seohyun.

KLIK! Yoona memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas. Kemudian memandangi Baekhyun yang masih fokus memperhatikan ke luar mobil. Hal itu membuat Yoona mengurungkan niatnya untuk memanggil Baekhyun.

Tanpa Yoona sadari, raut wajah Baekhyun terlihat murung. Pria itu berusaha mati-matian menyembunyikan suasana hatinya yang kembali kalut. Rupanya Chanyeol benar-benar menepati janjinya untuk tidak mengganggu hubungannya dengan Yoona. Padahal ia tahu jika Yoona sudah mengakui soal ingatannya yang kembali. Tapi, Chanyeol tetap menyuruh wanita itu untuk tetap berada di sisinya. Inilah yang membuat pertahanan batin Baekhyun akhirnya hancur sampai sebuah keputusan akhir sudah berada dalam pikirannya.

Mobil berhenti tepat di depan bandara internasional Incheon. Keduanya segera keluar dari mobil dan melakukan serangkaian prosedur pemeriksaan sebelum mereka naik ke pesawat. Setelah semua diperiksa, Baekhyun dan Yoona langsung menuju ruang tunggu keberangkatan. Keduanya memperhatikan jadwal penerbangan menuju Spanyol yang tak lama lagi akan segera berangkat.

“Sudah saatnya kita pergi. Pesawat tujuan Spanyol akan segera berangkat, Yoong,” ucap Baekhyun.

“Ne. Aku tahu, Baekhyun-ah,” balas Yoona bangkit dari kursi yang didudukinya.

Keduanya berjalan menuju pintu keberangkatan sesuai dengan jadwal penerbangan. Tiba-tiba, Baekhyun berbalik sejenak sampai ia berhadapan dengan Yoona.

“Sebelum kita berangkat, aku ingin bertanya sesuatu padamu,” ucap Baekhyun. “Kumohon, jawablah dengan jujur.”

Dahi Yoona berkerut. Ia melihat sorot mata serius dari Baekhyun. Yoona mengangguk pelan dan mengizinkan Baekhyun untuk melanjutkan kalimatnya. Dalam hati Yoona, ia sangat penasaran dengan pertanyaan yang akan dilontarkan oleh Baekhyun.

.

.

.

“Tidak ingin berbaring di kamar, hyung?

Chanyeol menggeleng. Ia biarkan Sehun membantunya duduk di sofa ruang tengah. Pria itu baru saja kembali ke rumah. Setelah diperbolehkan pulang dari rumah sakit Seoul. Sehun memberikan perhatian penuh pada Chanyeol. Itu membuat Chanyeol tertawa kecil karena terkadang Sehun berlebihan mengkhawatirkannya.

“Tidak, aku ingin di sini saja,” jawab Chanyeol ringan.

Sehun hanya mengangguk, dan melanjutkan kembali kegiatannya memasukkan barang-barang Chanyeol ke kamar.

“Jadi—hari ini mereka berangkat ke Spanyol?” tanya Sehun setelah kembali ke ruang tengah. Chanyeol mengangguk pelan.

Hyung, aku tidak tahu harus berkata apa,” ucap Sehun menahan nafas. “Aku sangat kagum padamu.”

Chanyeol tersenyum lebar hingga memperlihatkan giginya yang rapi, “Aku memang hebat kan?”

Sehun mengangguk mengi-iyakan. Kepalanya yang semula menunduk kembali tegak. Sehun menoleh ke arah Chanyeol. Ia bisa melihat jika pria itu bersusah payah untuk terlihat baik-baik saja di hadapannya.

TING! TONG!

Suara bel berbunyi berhasil mengalihkan pandangan Sehun dan Chanyeol. keduanya refleks memandang ke arah pintu rumah mereka.

“Biar aku saja,” ucap Sehun sambil berjalan.

Chanyeol mengangguk dan kembali menarik nafas panjang. Ia menunggu Sehun kembali untuk menemuinya.

“Sehun-ah, siapa yang datang?” tanya Chanyeol setengah berteriak. Ia terlalu penasaran dan Sehun tak kunjung kembali ke ruang tengah.

Namun bukan sosok Sehun yang datang. Melainkan sosok wanita yang berhasil membuat Chanyeol bangkit berdiri. Mata pria itu melebar. Bibirnya bergetar hebat sampai membuatnya sulit bicara. Ia menatap lurus ke arah wanita yang menatapnya dengan haru.

“Yoona?”

Setelah Chanyeol menyebut namanya, wanita itu langsung berlari menghampiri Chanyeol. Mengalungkan kedua lengannya di leher Chanyeol. Ia tersenyum haru dengan air mata yang mulai mengalir.

“Yoona?” Chanyeol masih bingung dan hanya memanggil nama wanita itu untuk kedua kalinya.

Yoona menarik kedua lengannya. Mengusap dengan lembut dada Chanyeol. Kepalanya menunduk. Sesekali masih terdengar isak tangis darinya.

“Bukankah seharusnya kau pergi ke Spanyol bersama Baekhyun?” tanya Chanyeol bingung.

Yoona mengangguk pelan, dan dibalas kerutan di dahi Chanyeol.

“Lalu kenapa kau ada di sini?”

Yoona menegakkan kepalanya. Menatap bola mata Chanyeol dalam-dalam, “Aku tidak jadi pergi.”

Mwo?

“Aku tidak jadi pergi, Yeol,” ulang Yoona. “Mulai sekarang, aku tidak akan pergi kemana-mana. Aku akan selalu berada di sisimu. Selamanya.”

Chanyeol mengernyit, “Sungguh, aku tidak mengerti maksudmu, Yoong.”

Yoona tersenyum. Ia kembali memeluk tubuh Chanyeol. Senyum bahagia itu masih terukir di wajahnya. Apa yang terjadi beberapa waktu lalu sebelum keberangkatan ke Spanyol, adalah jawaban kenapa sekarang Yoona bisa berada di rumah Chanyeol.

*flashback*

“Apa kau mencintaiku?”

Ucapan Baekhyun berhasil membungkam mulut Yoona. Wanita itu masih berdiri mematung. Kepalanya menunduk. Tak berani melihat ke arah Baekhyun.

“Jawab aku, Yoong,” ujar Baekhyun. “Apa kau mencintaiku?”

“Baekhyun-ah, aku—” Yoona menggigit bagian bawah bibirnya. Ia sama sekali tidak siap dengan pertanyaan itu.

“A—aku . . .” Yoona menunduk dalam.

Baekhyun bisa merasakan matanya yang memanas. Sudah tidak ada waktu lagi baginya untuk menunggu Yoona melanjutkan kalimatnya. Cukup hanya melihat sikap Yoona sekarang ini, Baekhyun sudah tahu jawabannya.

Tangan Baekhyun menyentuh dagu Yoona. Menuntun wanita itu untuk menatap padanya.

“Sudahlah, kau tidak perlu menjawabnya,” potong Baekhyun. “Aku sudah tahu.”

Yoona mengernyit dan menatap bingung.

“Kau sama sekali tidak mencintaiku. Karena selamanya, hatimu hanya untuk Chanyeol,” lanjut Baekhyun.

“Baekhyun-ah, aku . . .”

“Bukankah ingatanmu sudah kembali?” tanya Baekhyun memotong ucapan Yoona.

DEG! Yoona mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia menatap Baekhyun dengan rasa bersalah, “Kau sudah tahu?”

Baekhyun mengangguk, “Ne, aku sudah tahu. Saat kau mendatangi Chanyeol di rumah sakit dan juga obrolanmu dengan Seohyun tadi. Aku sudah tahu semuanya.”

Yoona semakin menunduk dalam, “Maafkan aku.”

Baekhyun tersenyum tipis sambil mengeluarkan sesuatu dari saku mantelnya. “Pergilah. Temui Chanyeol dan berikan ini padanya,” ujarnya sambil menyodorkan sebuah amplop kecil.

Yoona terpaku pada benda yang diberikan Baekhyun.

“Kita akhiri saja perjodohan ini,” lanjut Baekhyun. “Kau tidak perlu ikut bersamaku ke Spanyol. Kembalilah ke sisi Chanyeol. Masalah ayah kita, biar aku yang menjelaskannya pada mereka.”

Yoona menutup mulutnya. Menahan tangis karena terharu dengan keputusan Baekhyun. Ia langsung memeluk pria itu dengan erat, sebagai tanda perpisahan mereka.

“Maafkan aku, Baekhyun-ah,” ucap Yoona merasa bersalah. “Kau pria yang sangat baik. Aku yakin kau akan mendapatkan wanita yang jauh lebih baik daripada aku.”

Baekhyun membelai rambut Yoona dengan lembut. Baekhyun tersenyum puas. Akhirnya ia memang mengambil keputusan tersebut setelah memikirkannya matang-matang. Hanya inilah, yang bisa membuat Yoona hidup bahagia. Dengan mengembalikan Yoona ke tempat yang diinginkannya, yaitu ke sisi Chanyeol.

“Berjanjilah padaku, kau harus hidup bahagia bersama Chanyeol,” pinta Baekhyun sambil menyeka air mata Yoona.

Yoona mengangguk. Ia tersenyum bahagia ke arah Baekhyun.

*end flashback*

Yoona menemani Chanyeol duduk di taman belakang rumah, tempat mereka biasa menghabiskan waktu bersama sebelumnya. Chanyeol merobek amplop yang disodorkan Yoona. Ia mulai membaca tulisan Baekhyun pada secarik kertas di dalamnya.

.

.

-Untuk Chanyeol-

Aku tidak bisa berkata banyak, selain beribu kata maaf atas apa yang sudah kulakukan padamu. Aku bukan sahabat yang baik. Selama ini aku hanya memikirkan perasaanku sendiri dan mengabaikan perasaanmu.

Sulit bagiku untuk menerima kenyataan bahwa cintaku pada Yoona bertepuk sebelah tangan. Kenapa harus kau yang dicintai Yoona? Kenapa bukan aku? Padahal akulah yang sudah dijodohkan untuk menjadi pendamping hidupnya. Tapi kenapa justru kau yang dipilih Yoona?

Aku selalu memikirkan pertanyaan-pertanyaan itu sampai aku merasa muak dan menyadari kebodohanku. Bahwa ini semua adalah takdir yang harus kuterima.

Aku sadar, kau sudah banyak berkorban untukku. Kau terima sikapku yang seperti anak kecil dengan lapang dada. Kau yang tidak melawan saat aku memukulmu, mengucapkan selamat ketika aku memamerkan hubunganku dengan Yoona. Sampai ketika Yoona mengakui bahwa ingatannya telah kembali, kau masih menyuruhnya untuk tetap bersamaku. Sungguh, aku bukanlah sahabat yang baik. Aku masih berpura-pura tidak tahu dan tetap melanjutkan perjodohan ini. Padahal jelas-jelas aku sudah membuat kalian menderita.

Karena itulah, untuk menebus semua kesalahan yang kulakukan, aku ingin mengembalikan Yoona ke sisimu. Dia pantas untuk mendapatkan pria yang jauh lebih baik daripada aku. Dan orang itu adalah kau, Yeol. Aku sadar kau adalah pria yang tepat untuk menjadi pendamping hidupnya. Kudoakan semoga kalian hidup bahagia.

-Sahabatmu, Baekhyun-

.

.

Chanyeol tidak kuasa menahan air mata harunya usai membaca isi surat yang ditulis Baekhyun. Ia tersenyum bahagia, “Terima kasih, Baekhyun.”

Chanyeol menoleh, dan dibalas senyuman oleh Yoona. Keduanya saling berpelukan erat dengan wajah mereka yang sangat dekat. Untuk menambah kebahagiaan tersebut, Chanyeol memberanikan diri untuk mencium bibir Yoona.

“Jadi, kalian akan menjalin hubungan?”

Suara Sehun berhasil merusak suasana antara Chanyeol dan Yoona. Keduanya terkesiap saat melihat adik sepupu Chanyeol itu sudah berdiri di belakang mereka. Pemuda itu terkekeh.

“Aish, kau benar-benar perusak suasana!” umpat Chanyeol. Sementara Yoona hanya tertawa kecil melihat pertengkaran konyol yang sangat dirindukannya. Ia bangkit dan segera memeluk Sehun.

“Aku merindukanmu, Sehun,” ucap Yoona dan disambut senyuman oleh Sehun.

“Aku juga merindukanmu. Akhirnya kau bisa mengingat kami kembali,” balas Sehun.

SET! Chanyeol langsung menarik Yoona agar melepas pelukannya dengan Sehun. Belum ada satu menit, tapi pelukan yang dilakukan mereka sudah membuat Chanyeol cemburu.

“Kenapa? Memangnya aku tidak boleh memeluk calon kakak sepupu iparku?” tanya Sehun sambil mengerucutkan bibirnya.

“Tidak boleh!” teriak Chanyeol. Yoona tersenyum geli melihat sikap protective yang ditunjukkan Chanyeol.

Noona!

Chanyeol melonjak kaget saat mendengar suara keras Jongin. Lagi-lagi roh anak kecil itu datang ke rumahnya. Ia langsung mendekati Yoona yang menatapnya dengan kaget.

“Jongin? Lama tidak bertemu,” sapa Yoona.

“Aku senang bisa melihat noona lagi,” balas Jongin. Keduanya lalu bercerita saling melepas rindu.

Chanyeol dan Sehun saling memandang. Keduanya bingung karena Yoona bisa melihat kehadiran Jongin.

“Kau—kau bisa melihat roh?” tanya Chanyeol kaget.

Yoona meringis sambil mengangguk pelan. “Sejak aku memperoleh ingatanku kembali, aku jadi bisa melihat roh.”

Mata Yoona lalu membulat sempurna setelah mencerna pertanyaan Chanyeol, “Apa kau juga bisa melihat roh?”

Anggukan pelan Chanyeol membuat tawa Yoona meledak. Ia ingat akan pertemuannya dengan Chanyeol pertama kali. “Jadi, kau sekarang tidak takut lagi dengan roh?”

Chanyeol tersenyum bangga sambil membusungkan dada, “Tentu saja tidak.”

Sehun memutar bola matanya dengan malas, “Ah, tidak seru. Aku jadi tidak bisa lagi mengerjaimu, hyung.”

“Apa maksudmu?!” tanya Chanyeol galak dan menatap tajam pada Sehun.

Sehun terkekeh, lalu mendekati Yoona. “Kau ingat tidak, saat Chanyeol-hyung berteriak ketakutan karena melihatmu yang berwujud roh sudah di kamarnya?”

Yoona mengangguk dan ikut tersenyum geli, “Ne, aku masih ingat Sehun. Dia benar-benar ketakutan. Wajahnya terlihat konyol.”

Chanyeol mengepalkan tangannya. Apalagi Sehun dan Yoona tertawa bersama sambil menunjuk ke arahnya.

“Oh Sehun, kau benar-benar . . .” Chanyeol tak dapat lagi menahan amarahnya. Ia langsung berlari mengejar Sehun yang sudah lebih dulu mengerahkan langkah kaki seribu. Adik sepupunya itu tertawa keras saat berusaha melarikan diri dari kejarannya.

Yoona dan Jongin tertawa melihat sikap Chanyeol dan Sehun yang tidak akan pernah berubah sampai kapapun.

.

.

.

Seminggu berlalu sejak kepergian Baekhyun ke Spanyol untuk berlibur seorang diri, tanpa mengajak Yoona. Kini Yoona terlihat mengunjungi makam Kris dikebumikan. Ia ditemani Chanyeol, Seohyun dan Sehun. Mereka tampak memberikan penghormatan di depan makam Kris.

Oppa, mulai sekarang kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku sudah menemukan pria yang tepat untuk menjadi pendamping hidupku,” ujar Yoona seraya meletakkan buket bunga di depan pusaran makam Kris.

Seohyun mengangguk, “Yoona benar, oppa. Kau tidak perlu lagi mengkhawatirkannya. Kau juga tidak perlu lagi mengkhawatirkanku. Aku berjanji akan hidup bahagia bersama eomma dan appa.”

Setelah Yoona dan Seohyun, giliran Chanyeol yang berbicara.

Hyung, meskipun kita belum pernah bertemu, aku senang bisa datang ke sini. Aku berjanji akan membahagiakan Yoona untuk selamanya,” ucap Chanyeol.

Sehun memandangi tiga orang yang baru saja berbicara di depanya. Pemuda itu menggaruk-garuk kepalanya. Ingin rasanya ia ikut mengatakan sesuatu namun tidak tahu harus berkata apa.

Hyung, aku tahu aku sama sekali tidak ada keperluan apapun denganmu. Tapi, kau bisa mempercayaiku untuk mengawasi kehidupan mereka bertiga. Aku jamin, mereka akan hidup bahagia. Kudoakan semoga kau hidup tenang di sana,” ujar Sehun. Sikap polosnya itu berhasil mengundang tawa bagi Chanyeol, Yoona dan Seohyun.

Yoona terus tertawa sambil melingkarkan lengannya di pinggang Chanyeol. Ia mengalihkan pandangannya pada makam yang berada tepat di sebelah makam Kris. Sebuah nama yang terukir membuat matanya terbelalak.

Yoona mengambil buket bunga yang sebelumnya diletakkan di depan makam Kris. Ia mengambil beberapa tangkai bunga lalu meletakkannya di depan makam yang bertuliskan nama Huang Zhi Tao.

“Makam siapa?” tanya Seohyun bingung.

Yoona tersenyum, “Seseorang yang sangat berjasa dalam hidupku. Apalagi dia membantuku untuk mendapatkan kebahagiaanku.”

Chanyeol dan Seohyun saling memandang. Keduanya tidak bertanya lagi dan hanya mengulum senyum.

Yoona memperhatikan arah lain saat ia berhasil menangkap dua sosok yang menatapnya. Yoona tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya saat melihat Kris dan Tao tengah melambaikan tangan ke arahnya. Dua orang itu tampak bahagia dengan penampilan mereka yang berpakaian serba putih.

Yoona membalas dengan memasang senyum tercantik mungkin. Ia menunggu sampai Kris dan Tao menghilang bersama cahaya putih yang menyelimuti mereka. Ini menjadi terakhir kalinya ia bertemu dengan mereka.

Yoona menoleh, dan dibalas senyuman oleh Chanyeol. Keduanya pun segera pergi meninggalkan area pemakaman, dengan diikuti Seohyun dan Sehun di belakang mereka. Kini Chanyeol dan Yoona telah siap, untuk menyambut lembaran baru dalam kehidupan mereka.

.

.

.

.

.

.

6 months laters

“Mari kita sambut kedua mempelai yang sudah resmi menjadi suami-istri . . .”

Suara MC yang cukup keras berhasil memancing tepuk tangan riuh para tamu undangan yang hadir dalam acara pernikahan Chanyeol dan Yoona. Acara pernikahan tersebut digelar di kediaman Chanyeol. Setelah menjalin hubungan selama 6 bulan, keduanya sepakat untuk mengukuhkan jalinan cinta mereka dalam sebuah ikatan pernikahan. Keluarga masing-masing pun sudah memberikan restu untuk hubungan mereka.

Tuan Im tersenyum bahagia memandangi wajah putrinya yang kini telah resmi dipersunting oleh Chanyeol. Pria paruh baya itu masih tak percaya dengan kebahagiaan yang menghampiri keluarga mereka. Setelah melalui perjalanan hidup penuh liku, Yoona akhirnya bisa menemukan pendamping hidupnya. Meskipun, pria yang dipilihnya bukanlah pilihan sang ayah, melainkan pilihan Yoona sendiri.

*flashback*

“Kau sungguh-sungguh dengan keputusanmu?”

Tuan Im menatap kaget ke arah Baekhyun. Pria itu hanya tersenyum seraya menyesap kopi yang baru saja dipesan. Keduanya tengah berada di salah satu kafe yang terkenal di Seoul. Pertemuan yang mereka lakukan atas permintaan Tuan Im setelah Baekhyun kembali berlibur dari Spanyol. Ayah Yoona itu bermaksud meminta penjelasan atas keputusan Baekhyun yang ingin mengakhiri perjodohannya dengan Yoona.

Baekhyun meletakkan cangkir kopi ke atas meja. Ia kembali mengulum senyum ke arah Tuan Im, “Ne. Aku sungguh-sungguh dengan keputusanku, ahjussi.”

Tuan Im memijat keningnya dengan sorot mata bingung ke arah Baekhyun, “Kenapa? Apa alasannya? Apakah kalian bertengkar? Apakah Yoona membuat kesalahan padamu?”

“Tidak, ahjussi,” potong Baekhyun cepat. “Kami tidak bertengkar. Yoona bahkan tak pernah membuat kesalahan padaku. Justru aku yang berbuat salah padanya.”

Dahi Tuan Im berkerut, “Apa maksudmu?”

“Aku bersalah—karena telah membuatnya menderita. Yoona sama sekali tidak mencintaiku, ahjussi. Dia mencintai pria lain,” jawab Baekhyun.

“Pria lain? Siapa?” tanya Tuan Im kian dilanda kebingungan.

Baekhyun menahan nafas, “Chanyeol. Yoona sangat mencintainya.”

MWO?!” Tuan Im setengah berteriak mendengar pengakuan Baekhyun. Pria paruh baya itu tak bisa lagi menutupi reaksi kagetnya.

“Chanyeol? Bagaimana bisa Yoona mencintainya?” tanya Tuan Im tak percaya. “Mereka bahkan tidak sering bertemu, Baekhyun.”

“Bukankah ahjussi sudah melihat sendiri jika Chanyeol begitu perhatian pada Yoona?” jawab Baekhyun. “Selama ini, apa yang dilakukan Chanyeol bukan semata-mata hanya untukku. Tapi, dia memang peduli pada Yoona melebihi siapapun. Karena Chanyeol juga sangat mencintai Yoona, ahjussi.”

Tuan Im menghela nafas kasar. Belum memahami penjelasan yang disampaikan Baekhyun.

“Melihat dari sikap Chanyeol, aku bisa mengerti kalau dia memang seperti menaruh perhatian khusus pada Yoona. Tapi, Yoona sama sekali tidak pernah memberitahuku soal perasaannya pada Chanyeol. Bagaimana bisa aku percaya jika mereka saling mencintai?” tanya Tuan Im.

Baekhyun tersenyum. Ia menyesap kembali kopi miliknya sebelum menjawab pertanyaan Tuan Im. “Mudah saja, ahjussi. Saat kau melihat Yoona berinteraksi dengan Chanyeol, kau bisa melihat sinar matanya yang begitu cerah. Kau akan melihat betapa Yoona tampak bahagia jika bersama Chanyeol,” jawabnya.

*end flashback*

Percakapan itu kembali terlintas dalam kepala Tuan Im. Ia menoleh ke arah Baekhyun yang tengah duduk di deretan kursi tak jauh dari tempatnya. Baekhyun tersenyum bahagia dan meyakinkan Tuan Im jika ia sama sekali tidak menyesal dengan keputusan yang diambilnya.

Tuan Im memperhatikan putrinya yang begitu cantik dengan balutan gaun pengantin. Yoona tidak berhenti tersenyum sambil memandangi Chanyeol, yang terlihat tampan dengan setelan tuxedo hitam dengan dalaman kemeja putih. Interaksi keduanya membuat Tuan Im kembali tersenyum. Baekhyun benar. Yoona tampak bahagia jika bersama dengan Chanyeol.

“Tuan Im, mereka terlihat bahagia. Bagaimana menurutmu?” suara Tuan Park Chansung—ayah Chanyeol, berhasil membuyarkan lamunan Tuan Im.

Tuan Im mengangguk, “Kau benar, Tuan Park. Mereka memang terlihat bahagia.”

“Yoona terlihat sangat cantik. Sampai sekarang aku tidak menyangka jika wanita secantik dia sudah menjadi menantuku. Apalagi kepribadiannya juga sangat baik. Pasti menurun dari ayahnya,” puji Nyonya Park.

“Kau terlalu memuji, Nyonya Park,” sahut Tuan Im tersipu. “Justru putramu yang sangat tampan dan begitu perhatian pada putriku. Aku sungguh beruntung memiliki menantu seperti Chanyeol.”

Tuan Park tertawa melihat istri dan besannya saling memuji satu sama lain. Hal itu membuat suasana kekeluargaan mereka semakin terasa hangat.

Siwon yang juga hadir dalam acara pernikahan Chanyeol dan Yoona, terus tersenyum melihat kebahagiaan semua orang. Terutama pasangan pengantin yang menjadi tokoh utama dalam acara tersebut. Ia sangat senang karena telah mengambil keputusan yang tepat beberapa bulan yang lalu. Dengan mengikuti apa yang dikatakan mendiang neneknya, Siwon telah mengembalikan semuanya seperti semula. Sesuai dengan takdir yang akan mereka jalani.

Untuk sesaat, Siwon berhasil menangkap sosok wanita paruh baya yang terlihat di antara para tamu undangan yang hadir. Wanita paruh baya itu tersenyum pada Siwon. Senyum Siwon kian merekah saat meyakini jika sosok tersebut adalah mendiang neneknya, Choi Haneul. Sang nenek tampak mengangkat ibu jarinya ke arah Siwon, menunjukkan betapa ia sangat bangga dengan sikap cucunya. Siwon hanya mengangguk dan tersenyum senang ke arah neneknya. Lalu kembali fokus mengamati jalannya acara pernikahan Chanyeol dan Yoona.

Kini tiba saatnya bagi sang mempelai wanita untuk melemparkan buket bunga pernikahan. Para tamu undangan terlihat berebut mencari posisi terbaik agar bisa menangkapnya. Rupanya Sehun tak ingin ketinggalan dalam moment yang paling ditunggu tersebut. Pemuda itu sudah menyeruak masuk ke dalam kerumunan para tamu undangan. Tampak dari belakang kerumunan itu, Baekhyun dan Seohyun hanya berdiri dengan tatapan takjub mereka.

“Kau tidak ke sana?” tanya Baekhyun pada Seohyun. “Lihatlah, Sehun sudah lebih dulu berada di sana.”

“Untuk apa?” Seohyun hanya menanggapi dengan senyuman kecil.

Baekhyun terkekeh, “Siapa tahu kau yang akan mendapatkannya.”

Sang MC terlihat memberi aba-aba pada Yoona untuk segera melemparkannya. Dalam hitungan ketiga, tangan Yoona melempar buket bunga tersebut dan disambut para tamu undangan yang berebut untuk mendapatkannya. Baekhyun dan Seohyun terlihat antusias dari kejauhan.

SLAP! Tanpa diduga, lemparan buket bunga itu cukup jauh dari posisi para tamu undangan. Dan orang yang berhasil menangkapnya, tidak lain adalah Seohyun. Wanita itu masih menatap tak percaya pada buket bunga yang sudah dipegangnya. Baekhyun yang berdiri di sebelahnya tersenyum senang ke arah Seohyun.

“Aku benar kan, kau yang mendapatkannya. Itu artinya, kau akan segera menikah,” celetuk Baekhyun sambil mengedipkan matanya.

Sehun berlari menghampiri mereka dengan langkah tergopoh-gopoh. Ia memandangi benda yang diincarnya sudah berada dalam genggaman tangan Seohyun.

“Aish, noona. Kau beruntung mendapatkannya,” ucap Sehun iri.

Baekhyun mengernyitkan dahi, “Kenapa kau ikut berebut, Sehun? Memangnya kau ingin segera menikah?”

“Setidaknya aku bisa memiliki kekasih, hyung. Daripada aku masih berstatus single dan harus tinggal bersama pasangan pengantin baru itu,” jawab Sehun. “Bisa-bisa aku kenyang melihat kemesraan yang mereka lakukan setiap hari di depanku.”

Seohyun tertawa kecil. Lalu melirik ke arah Yoona dan Chanyeol. Keduanya melambaikan tangan sambil tersenyum pada Seohyun.

“Aku tidak tahu apakah aku akan segera menikah,” ujar Seohyun menanggapi pernyataan Baekhyun. “Aku sendiri belum mempunyai kekasih.”

Seohyun menyodorkan benda yang digenggamnya pada Sehun. “Untukmu. Kurasa aku tidak terlalu membutuhkannya.”

Mata Sehun bersinar terang, “Sungguh? Kau memberikannya untukku?”

Seohyun mengangguk. Hal itu membuat Sehun melompat kegirangan. Para tamu undangan tak dapat menahan tawa saat melihat kepolosan Sehun. mereka bertepuk tangan dan bersorak untuk Sehun.

Sementara Baekhyun, ia terlihat kesal dengan keputusan Seohyun yang memberikan buket bunga tersebut pada Sehun.

“Kenapa kau berikan padanya?” tanya Baekhyun dengan nada meninggi.

“Memangnya kenapa? Aku tidak membutuhkan buket bunga itu. Seperti yang kubilang tadi, aku belum mempunyai kekasih. Tidak mungkin akan segera menikah,” jawab Seohyun seraya memasang senyum semanis mungkin.

“Lalu, memangnya aku bukan—” Kalimat Baekhyun terhenti. Pria itu tampak berdeham pelan karena menyadari wajahnya yang memerah.

Tawa Seohyun meledak saat melihat wajah memerah Baekhyun. Hal itu membuat Baekhyun mendengus kesal sambil mengerucutkan bibirnya. Seohyun menyentuh lengan Baekhyun, berusaha membujuk pria itu supaya tidak marah padanya. Namun pria itu hanya membuang muka dengan wajahnya yang terlihat seperti anak kecil ketika sedang marah. Seohyun semakin geli dengan tingkah Baekhyun.

Sejak Baekhyun memutuskan untuk mengakhiri perjodohannya dengan Yoona, keduanya memang menjalin kedekatan. Terlebih karena Seohyun sering menjadi tempat berkeluh kesah bagi Baekhyun.

Dari kejauhan, Yoona tampak membisiki Chanyeol dengan semburat rona bahagianya.

“Kau lihat mereka?” bisiknya. “Apa menurutmu, di antara mereka terjadi sesuatu?”

Chanyeol mengedikkan bahu. Namun ekspresi wajahnya tak jauh berbeda dari Yoona. “Entahlah. Tapi, kurasa di antara mereka memang terjadi sesuatu.”

Dua orang itu kembali tertawa sambil memandangi kedekatan dua sahabat mereka. Chanyeol tampak melingkarkan tangannya di pinggang Yoona. Kemudian mengecup dengan lembut kening wanita yang sudah resmi menjadi istrinya. Yoona sendiri semakin mengeratkan pelukan tangannya di tubuh Chanyeol. Sesekali keduanya tampak saling menatap satu sama lain dengan rona bahagia mereka. Mulai sekarang, keduanya sudah resmi menjadi sepasang suami istri dan siap menjalani kehidupan rumah tangga mereka.

.

.

.

Usai menghadiri pernikahan Chanyeol dan Yoona, Seohyun bergegas pergi menuju bandara. Rencananya hari ini ia akan pergi ke China untuk tinggal sementara waktu bersama kedua orang tuanya. Seohyun tiba di bandara internasional Incheon dengan diantar oleh Baekhyun. Pria itu tampak membantu Seohyun menurunkan beberapa barang, sampai mengantarnya di dekat pintu keberangkatan.

“Semua sudah lengkap?” tanya Baekhyun pada Seohyun yang tengah memeriksa tiket beserta paspor.

Seohyun mengangguk, “Ne, terima kasih atas bantuanmu.”

Baekhyun tersenyum seraya menggaruk pelan kepalanya, “Seharusnya aku yang berterima kasih padamu.”

“Untuk apa?” tanya Seohyun dengan dahi berkerut.

“Kau sudah membantuku keluar dari masalah hidupku yang paling berat. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku, jika aku tak pernah mendapatkan semangat darimu. Setiap saat kau selalu menghiburku dan memberiku tempat yang nyaman untuk berbagi rasa senang dan duka. Aku tak akan pernah melupakan perhatian yang selalu kau berikan untukku. sekali lagi terima kasih, Seohyun,” ujar Baekhyun panjang lebar. Kemudian ia menarik tubuh Seohyun dalam dekapannya. Seohyun membalas pelukan Baekhyun dengan senyum dan semburat merah di wajahnya.

“Baiklah, aku harus pergi. Jaga dirimu baik-baik,” pamit Seohyun.

Baekhyun menghentikan langkah Seohyun sejenak, “Berapa lama kau akan tinggal di China?”

“Kurasa dalam waktu yang cukup lama,” jawab Seohyun. “Sudah 5 tahun aku tinggal seorang diri di Korea.”

Baekhyun menghela nafas. Wajahnya terlihat bersedih, seolah berat melepas kepergian Seohyun.

“Ada apa?” tanya Seohyun bingung dengan ekspresi wajah Baekhyun.

“Jika aku merindukanmu, bolehkah aku mengirim e-mail atau meneleponmu?” tanya Baekhyun.

“Tentu saja boleh,” jawab Seohyun tersenyum.

“Kalau—” Baekhyun menggigit bagian bawah bibirnya dan berdeham pelan. “Sesekali aku datang mengunjungimu di China?”

Senyum Seohyun kian mengembang. Wanita itu menganggukan kepalanya seraya berkata, “Aku pasti senang sekali dengan kedatanganmu, Baekhyun.”

Keduanya tersipu satu sama lain dengan senyum bahagia. Setelah puas bercengkerama sebelum berpisah, Seohyun berjalan mendekati pintu keberangkatan pesawat. Sesekali wanita itu berbalik dan melambaikan tangan ke arah Baekhyun. Baekhyun membalasnya dan terus tersenyum ke arah Seohyun.

Sepertinya, kehidupan baru akan segera menghampiri keduanya. Benar atau tidaknya, hanya waktu yang bisa menjawabnya.

.

.

.

Pasangan pengantin baru itu tengah menikmati moment manis mereka di kamar Chanyeol. Kamar tersebut telah disulap menjadi kamar pengantin yang sangat indah. Keduanya tampak berpelukan mesra di atas ranjang king size tersebut. Selimut berwarna merah hati sudah menutupi sebagian tubuh mereka.

“Bagaimana perasaanmu?” tanya Chanyeol sambil membelai kepala Yoona.

Yoona tersenyum, “Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Aku sangat bahagia, Yeol.”

“Aku juga sangat bahagia, Yoong,” balas Chanyeol. “Akhirnya kita bisa hidup bersama. Untuk selamanya.”

Ne, kita akan hidup bersama untuk selamanya dan hanya maut yang akan memisahkan kita,” sahut Yoona. Lalu mengeratkan pelukannya di tubuh Chanyeol.

“Kau ingat tidak? Pertemuan pertama kita jauh dari kesan romantis. Lain dari kebanyakan orang,” ujar Chanyeol mengingat-ingat pertemuan awalnya dengan Yoona.

Yoona terkekeh, “Aku masih ingat. Saat itu wajahmu begitu ketakutan melihatku. Mana mungkin aku melupakannya.”

Chanyeol memutar bola matanya, “Aish, aku hanya kaget. Bukannya takut.”

Yoona mengangkat kepalanya sambil menatap ke arah Chanyeol, “Benarkah? Tapi waktu itu kau langsung lari keluar dari kamarmu.”

“Sudah kubilang aku hanya kaget,” elak Chanyeol. “Aku memang takut dengan hal-hal berbau mistis seperti roh dan sebagainya. Tapi, untukmu itu pengecualian.”

“Kenapa?” Yoona menaikkan salah satu alisnya sambil menahan senyum.

“Dalam wujud roh sekalipun—” Chanyeol menahan nafasnya sejenak sambil menggigit bagian bawah bibirnya. “Kau tetap terlihat cantik.”

Yoona tersenyum, lalu mencubit dengan gemas pipi Chanyeol. “Kau manis sekali, Yeol. Aku belum pernah melihat wajahmu seperti ini.”

Chanyeol mengusap pipinya yang terkena cubitan tangan Yoona, “Berhenti menggodaku. Sudahlah, kita jangan membahasnya lagi. Sebaiknya kita melakukan hal lain.”

“Melakukan apa?”

Chanyeol tersenyum menyeringai, “Apalagi? Tentu saja yang biasa dilakukan pasangan pengantin baru setelah mereka menikah.”

Yoona tersipu malu dan hanya mengangguk pelan. Chanyeol tampak bersemangat, tangannya langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.

“Apa yang sedang kalian lakukan?”

SRET! Chanyeol dan Yoona terkesiap saat mendengar suara seseorang. Keduanya menatap kaget ke arah Jongin yang sudah berada di kamarnya. Mereka sama-sama menarik selimut itu hingga menutupi sampai bagian leher.

“Kenapa kau ada di sini?!” tanya Chanyeol kesal pada roh anak kecil tersebut.

Jongin tersenyum sambil menggembungkan pipinya, “Aku sedang bermain petak umpet dengan Sehun-hyung.”

“Memangnya kau tidak punya tempat lain untuk bersembunyi apa?” Chanyeol tak bisa lagi menahan emosinya. “Keluar! Jangan bersembunyi di sini!

Jongin menggeleng, “Katanya akan lebih aman jika aku bersembunyi di kamarmu, hyung.”

“Siapa yang mengatakannya?” tanya Yoona turut penasaran.

BRUK!

Chanyeol dan Yoona membelalakkan mata mereka saat melihat pintu kamar terbuka lebar. Mereka mendapati Sehun sudah jatuh terjembab di lantai sambil terkekeh.

“Dia yang mengatakannya, noona,” jawab Jongin sambil menunjuk ke arah Sehun.

Mata Chanyeol memanas, ia menatap geram ke arah Sehun. Sementara Yoona hanya menutupi wajahnya yang memerah dengan selimut.

“Maaf, aku hanya sedang mencari Jongin,” jawab Sehun seraya bangkit. Ia meringis ke arah Chanyeol dan Yoona. “Silakan lanjutkan.”

“OH SEHUN!”

Sehun langsung lari terbirit-birit meninggalkan kamar Chanyeol. Reaksi yang sama juga diperlihatkan Jongin. Ia berlari menyusul Sehun. Terdengar gelak tawa dari Sehun dan Jongin.

Tak terima dengan perlakuan Sehun yang bermaksud mengintip kemesraannya dengan Yoona, Chanyeol bangkit dari ranjang dan berlari mengejar keduanya. Chanyeol mengumpat habis-habisan, lantaran kesal malam pertamanya dengan Yoona terganggu oleh sikap jahil Sehun dan Jongin.

Melihat sikap suaminya itu, Yoona tersenyum geli. Ia hanya menggelengkan kepalanya lalu merebahkan tubuhnya. Suara keributan masih terdengar dari arah taman dan membuat tawa Yoona semakin keras.

“Aish, mereka benar-benar keterlaluan!” umpat Chanyeol begitu kembali ke kamar.

Yoona terkesiap dan menoleh ke arah Chanyeol yang sudah naik ke atas ranjang. Pria itu meringis ke arahnya.

“Kita lanjutkan lagi apa yang tertunda,” ajak Chanyeol.

Sepertinya Sehun berhasil memberikan pengaruh buruk pada Yoona. Sebuah ide jahil justru terlintas di kepala Yoona. Ia bermaksud mengerjai Chanyeol.

“Tidak mau. Aku lelah, aku mau tidur,” jawab Yoona sambil memindah posisi tubuhnya hingga membelakangi Chanyeol.

Reaksinya itu tak pelak membuat Chanyeol kaget. Ia menepuk bahu Yoona, berusaha membuat wanita itu menoleh padanya, tapi gagal. Yoona tetap bersi keras untuk langsung tidur.

“Hei, kau tidak bisa melakukan ini padaku, Yoong,” rengek Chanyeol seperti anak kecil.

Tanpa Chanyeol ketahui, sedari tadi Yoona menahan tawanya. Karena tidak kuat, Yoona akhirnya berbalik sampai ia berhadapan dengan Chanyeol. Ia menarik tubuh pria itu dan memeluknya dengan erat.

“Aku hanya bercanda,” balas Yoona sambil mengedipkan salah satu mata. Lalu terkekeh pelan karena wajah Chanyeol yang terlihat polos.

Chanyeol memicingkan matanya. Ia baru sadar jika Yoona sedang mengerjainya. Chanyeol menghela nafas lega namun tetap memperlihatkan raut kekesalannya. Pria itu mengeratkan pelukannya. Tanpa basa-basi, ia langsung mengecup bibir Yoona dengan lembut dan dalam waktu yang cukup lama

Usai melakukan ciuman mesra itu, Chanyeol dan Yoona tertawa bersama. Mereka kembali mengeratkan pelukan masing-masing, seolah tak ingin lepas.

Akhirnya, setelah berbagai hal dan perjuangan yang mereka lakukan, cinta mereka bisa bersatu dan selamanya akan selalu bersama. Seperti janji yang telah mereka ucapkan, hanya maut yang akan memisahkan mereka.

.

.

.

.

.

­-THE END-

bg_end

Finally, akhirnya bisa kelar juga menyelesaikan chapter final dari FF ini. Jujur, ini FF terpanjang yang pernah aku buat (17 chapter dan @chapter sampai 20-25 halaman). Kebayang nggak ada berapa halaman kalo dijadikan satu. Berasa jadi novel aja, hehe.

Aku juga nggak nyangka akhirnya bisa juga nyelesain FF ini. Untuk chapter final ini memang sampe pusing nulisnya. Beberapa kali gonta-ganti scene atau nulisnya yang kagak urut karena ada aja idenya yang muncul di tengah2 pas aku nulis scene tertentu.

Untuk endingnya, apakah kalian puas? Agak kurang yakin sih sebenarnya, tapi aku tetap berharap kalian suka, hehe. Kalaupun kurang, aku mohon maaf yang sebesar-besarnya *bow*. Maaf untuk yang mengharapkan endingnya BaekYoon. Apalagi malah kubuat Baekhyun jadi sama Seohyun (hanya untuk memenuhi kebetuhan cerita saja ya, #no bash). Dan, nggak tahu kenapa karakter Sehun malah jadi jahil banget di sini, hehe😀

Terima kasih atas dukungan kalian yang sudah berkenan mengikuti FF ini dari awal sampe chapter final. Beneran lho, aku nggak nyangka bisa dapet respon positif dari kalian. Sekali lagi, aku ucapkan terima kasih banyak❤😉

Oh iya, berhubung bentar lagi lebaran, aku pribadi mau mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H bagi yang merayakannya. Mohon maaf lahir batin ^^

P.S : Untuk sementara aku break sejenak ya. Mau istirahat habis nyelesain FF ini. Apalagi memasuki lebaran, lebih banyak waktu untuk bersilaturrahmi dengan saudara😄
Dan sebelumnya ini aku protect, tapi karena banyak yang nggak bisa masuk, aku putuskan untuk un-protect. Yang sebelumnya bisa masuk dengan password + baca, jangan merasa dibedakan ya. Karena ini murni kendala teknis, trims😉

-cloverqua-

87 thoughts on “Beautiful Ghost – Chapter 17 [FINAL]

  1. Sama2 thor,, ff nya sangat menghibur..
    Yey akhir nya chanyoong bersatu dan baekhyun jadi sama seohyun bagus deh
    Aku puas sama ending ny,dan terimakasih thor karena udah d un-protect
    Keep Writing

  2. oh iya,ini ff ada terusan nya bukan sih?yang chanyeol sama yoona udh mau punya anak, sehun jadi om, terus jongin itu bakal lahir kembali jadi anak mereka, ternyata mereka sekeluarga itu reinkarnasi dari keluarga jongin 100thn lalu? bener gak sih eon?

  3. makasih buat eonni yang mau susah susah nulis, tadinya aku udh liat ff ini, terus aku gaberani buka karena ini ber-chapter2 aku takut nanti gabakal ada end nya jadi cuma ditengah2, aku stress sendiri nanti.. tapi seneng banget, ngeliat ff ini, makasih mau namatin ff ini eonni. jeongmal2 saranghae!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s