(Freelance) The Transporter [4]

The Transporter

The Transporter

By Nikkireed

Casts

Lu Han and Im YoonA

Genre

Action, Romance

Cahaya matahari mengintip masuk ke kamarku melewati celah di jendela. Cahaya tersebut menerpa mata kananku, membuatku susah membuka mataku dengan jelas. Yoona sedang berdiri di depan jendela membuka hordeng lalu berbalik padaku dan tersenyum. Lagi-lagi tersenyum indah, padaku.

“Luhannie. Kau sudah bangun? Bagaimana matamu?” Yoona berjalan menghampiriku, naik ke ranjangku. Ia sudah mandi, terlihat jelas dari rambutnya yang sedikit basah dan wangi tubuhnya saat ia meringkup pada pelukanku.

Aku menyambut pelukannya dan menenggelamkan badan kecil Yoona dalam pelukanku. Wangi rambutnya setelah mandi membuatku sedikit melayang. Campuran wangi citrus dan pantai musim panas, asumsiku.

Good morning, Yoong.” Aku mengecup rambutnya. Yoona bergidik lalu melepaskan pelukanku.

“YAK! Kau belum mandi dan sudah cium-cium. Cepat mandi dan sarapan bersama.” Yoona mengeluarkan gelegat suara tingginya.

“Aku baru bangun, Yoong. Beri aku waktu sebentar lagi.” Kataku dengan suara malas manjaku, lalu bergelung pada guling disebelahku.

Ppalli. Ppalli. Aku mau pulang hari ini. Aku perlu mengambil pakaianku. Aku perlu mencari Appa. Austin juga pasti mencariku.” Suara Yoona tak kalah manja, membuatku teringat pada percakapanku dengan Ahjussi semalam. Aku perlu mencari ayahnya Yoona.

Aku bergegas bangkit dari tempat tidurku. Sekilas mencium kening Yoona lalu meraih handuk dan pergi ke kamar mandi.

Aku dan Yoona sekarang sudah berada di tempat kemarin. Sebuah pagar kayu hitam. Yang berbeda hanyalah kemarin kami dengan hati yang tenang datang ketempat ini, tapi hari ini dengan segala kewaspadaan kami menjaga sana-sini melihat pagar kayu hitam ini.

“Aku harus masuk. Bagaimanapun caranya.” Yoona berbisik padaku. Aku hanya menatap pagar kayu hitam yang menjulang tinggi ini. Bagaimana? Itulah pertanyaannya. Pagar ini begitu kuat. Tak mungkin didobrak. Hanya melalui password.

“Aku ada ide. Kau tunggu disini, Luhan-ah.” Kata Yoona mengagetkanku.

“Yoong! Kau mau kemana?” aku berteriak sedikit, tapi Yoona sudah berjalan agak jauh. Yoona berjalan kesamping rumah di perbelokan lalu menghilang.

“AAAAAAAAAAAA. LUHAN! Tolong aku!” tiba-tiba Yoona berteriak. Aku segera berlari menuju sumber suara.

Aku melihat Yoona diseret secara paksa oleh dua namja berpakaian serba hitam. Yoona memberontak ingin melepaskan diri. Namja itu! Namja kemarin yang mengincar kami berdua. Namja yang memberiku bom. Namja yang ingin menghabiskan kami berdua. Dan ia tidak sendirian. Bodyguardnya bertambah, mengelilingi kami.

“Luhan-ah. Kau lagi kau lagi.” Namja itu mendecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kau beruntung karena bisa selamat dari bom itu.” Suara bass namja itu menekan dua kata terakhir sebelum ia tersenyum licik padaku.

Aku melihat sekitarku, bodyguard dengan seragam serba hitam. “Aku tidak kaget kau yang memberikan bom itu padaku.” Aku menjaga suaraku agar tetap tenang.

“Lepaskan aku! Ughhhhhhh! Lepaskan!” Yoona semakin memberontak dibelakang namja itu. Namja itu tersenyum memperlihatkan giginya.

“Lepaskan dia!” perintahku dengan sabar.

“ck ck ck ck. Kau berani menukar paketku. Dan sekarang kau ingin mengambil paketku lagi, hah.” Bentak namja itu padaku. “Bawa ia pergi. Sekarang!” suara namja itu semakin keras. Yoona yang sedari tadi memberontak dihajar dengan satu pukulan di kepala. Yoona yang langsung tak sadarkan diri dibawa masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu disana sedari tadi. Aku terbelalak melihat Yoona terkapar pingsan. Saat aku ingin menghampiri, namja itu menahan pundakku.

“Hajar ia!” Jelas saja perintah namja itu tertuju pada bodyguard di sekelilingku yang siap memukulku.

Namja itu langsung berlalu menuju mobil yang membawa Yoona dan pergi menjauhiku. Aku tidak bisa tinggal diam. Aku berlari menyusul. Mengingat dibelakangku ada beberapa bodyguard yang mengincarku. Aku berlari sekuat mungkin tapi aku kehilang jejak mobil itu.

Sesampainya aku di apartmentku, aku langsung menelepon Ahjussi. Ia harus bisa membantuku.

Ahjussi. Yoona dibawa kabur oleh sekelompok orang. Namja. Yang memberikanku bom.” Aku berkata apa adanya tanpa memikirkan selanjutnya.

Mwo? Bom?” suara Ahjussi kaget diujung telpon sana. Terdengar beberapa celotehan orang.

Ne. Ceritanya panjang. Dimana kita bisa bertemu?” tanyaku , tersadar dengan perkataanku barusan bahwa aku telah membongkar setengah ceritanya kepada Ahjussi.

“Aku ke apartmentmu sekarang, Luhan.” Ahjussi memutuskan telepon. Aku terduduk dan terpatung disofa tanpa kedip membayangkan Yoona.

Bagaimana jika Yoona dihajar oleh orang itu? Bagaimana jika Yoona dipukul sampai babak belur? Bagaimana jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Yoona? Yoongie-ah, desahku dalam hati.

Suara ketidaksabaran terdengar dari ketukan pintu, saat kubuka, Ahjussi masuk dengan segera.

“Luhan-ah? Ceritakan padaku semuanya. Dengan rinci.” Ahjussi mendesakku duduk disofa dengan tidak sabar.

Ahjussi. Mianhata telah membohongimu. Mobilku terbakar hancur berkeping-keping sehari setelah aku mengantarkan paket kepada namja itu di Incheon Airport. Aku menukar isi paketnya. Yoona ada di dalam paket itu. Dan kurasa namja itu mengetahui bahwa aku menukar isi paketnya dan ia memberikanku sebuah bom tanpa kusadari. Ia memberikanku sebuah kotak dan menyuruhku mengantarkan ke Busan. Dipertengahan jalan aku membuka kap mobil dan mengeluarkan Yoona dari bagasi mobil belakang tapi tiba-tiba mobilku meledak. Dan untungnya kami berdua selamat. Yoona mengikutiku ke apartment dan esok harinya kau datang.” Jelasku tanpa melihat Ahjussi. Suaraku terdengar sendu, aku bisa merasakannya.

“Luhan-ah. Yoona dalam bahaya. Kita harus mencari ayahnya terlebih dahulu.” Ahjussi memegang pundakku, meremasnya sebentar. “Yoona jelas sekali merupakan target dari musuh ayahnya. Dan sekarang ia diculik. Ayahnya harus mengetahui hal ini.” Ahjussi bangkit berdiri dan berkacak-pinggang.

“Tapi mengapa Yoona menjadi target dari musuh Ayahnya?” tanyaku bingung.

“Luhan. Yoona anak satu-satunya. Barang berharga milik ayahnya. Tentu saja musuhnya akan mengincarnya. Nah sekarang rencana awal kita harus menemukan ayahnya terlebih dahulu.” Ahjussi menahan pundakku dengan kedua tangannya.

“Ne. Kalau begitu, ayo kita cari ayahnya.” Ajakku sedikit bergerak dan bergegas menuju pintu.

“Bukan kita, Luhan. Tapi kau.” Ahjussi masih terdiam di tempat. Aku yang sudah berjalan menuju pintu berbalik ke arahnya, dengan bingung.

“Apa?” suaraku parau, aku sendiri?

“Ya. Kau sendiri, Luhan. Kau yang harus bergegas menemukan ayahnya Yoona dan menyelamatkan Yoona.” Ahjussi mendeham-deham. Lalu mendekatiku dengan memberikan sebuah kartu nama dan melesat keluar dari apartmentku.

Menurut kartu nama yang diberikan Ahjussi, inilah tempatnya. Mansion bergaya Victoria seperti rumah-rumah judi di Las Vegas sana dengan nuansa mistik dan gelap. Tempat apa ini.

Aku sudah sampai di depan sebuah mansion tinggi, kali ini tanpa gerbang kayu tanpa celah yang menjulang tinggi. Tapi hanya dengan gerbang besi tua yang sudah berkarat dibeberapa bagian. Karena ini hanya gerbang besi aku nekat menerobos masuk, tanpa berpikir panjang. Aku hanya memikirkan Yoona, tentu saja.

“Yoongie-ah. Kenapa kau kabur? Kenapa kau coba melarikan diri? Kau tau, kau membuatku berada dalam masalah sulit.” Sehun mendekatkan wajahnya pada Yoona yang sedang terikat, duduk diatas kursi kayu. Wajahnya lusuh dan rambutnya berantakan. Sehun tersenyum saat menatap Yoona lekat-lekat. Sedangkan Yoona hanya menatap jijik pada Sehun.

“Kau takkan kumaafkan!” Suara Yoona menghantam telingaku. Aku yang sedang berada di depan sebuah pintu, bermaksud untuk menekan bel, mengurungkan niatku setelah suara Yoona yang nyaris tidak terlalu terdengar masuk kedalam pendengaranku.

Aku mendekatkan telingaku kepintu untuk mendengar lebih jelas.

“Aku tidak meminta maaf padamu Yoong.” Sehun mengelus pipi Yoona, lembut. Namun Yoona membuang muka, merasa jijik terhadap sentuhan Sehun.

Prok prok prok prok. Terdengar tepukan tangan. Seseorang baru saja datang.

You’re doing a good job, Sehun-ah.” Suara bass ini. Seperti pernah kudengar. Aku mencari celah untuk melihat.

Appa!” Yoona nyaris berteriak memenuhi seluruh mansion ini. Ayahnya?

“Oh Yoona-ya. I miss you. I miss you so much.” Ayah Yoona langsung memeluk Yoona. Yoona hanya terpaku diam. Tidak percaya dengan apa yang ia lihat dan apa yang ia dengar, barusan.

Yoona menggelengkan kepalanya. “Appa?” Yoona berbisik, air matanya mengalir diatas pipinya.

“Sssttt. Yoona-ya, no need to cry. Appa is here for you my dear.” Ayahnya menahan kedua pipi Yoona, dengan jempolnya menghapus air mata Yoona yang mengalir dari sumbernya.

Wae? Kenapa kau melakukan ini padaku? Pada putrimu sendiri, huh?” Yoona berteriak, tiba-tiba. Air matanya mengalir semakin deras. Giginya bergemeletuk.

“Untuk apa? For your safe of course. Do you think I’m gonna let you be insecure? Of course not.” Ayahnya tersontak dengan teriakan Yoona yang secara tiba-tiba. Kembali menggunakan punggung tangannya, ayahnya menghapus airmata Yoona.

Yoona menahan amarah. Tangannya yang terikat dibelakang kursi bergetar hebat. Ia mengigit bagian dalam pipinya, menahan air matanya turun.

“Jangan pernah kau sentuh aku. Aku bukan putrimu lagi!” Yoona kembali berteriak, jauh lebih keras sehingga kali ini ayahnya terlihat kaget. Reflex, ayah Yoona menampar pipi Yoona sangat kencang sampai Yoona tak sadarkan diri. Dan secara reflex aku hendak menerobos masuk untuk menghancurkan setiap rahang namja didalam.

Tapi sebuah tangan menahan tindakanku.

“Jangan lewat sini. Tarrawa.” Ahjussi menarikku mundur dari pintu tersebut. Aku tidak terlalu terkejut karena Ahjussi-lah yang datang.

Kami berjalan ke samping rumah, masuk ke sebuah lorong. Gelap tapi jalanannya basah. Ini seperti bagian belakang sebuah bar, pantry, ya pantry. Ahjussi membuka pintu stainless steel bagiku. Aku masuk ke dalam ruangan seperti dapur tua itu, mengendap-ngendap. Suara lantai becek yang dihasilkan sepatuku sama sekali tidak membantu.

Aku berhenti tiba-tiba. Tanpa berbalik.

“Luhan-ah? Waeyo?” Ahjussi berbisik, kaget dengan pemberhentianku yang tiba-tiba.

“Aku tidak mengerti. Kenapa kau membantuku, Ahjussi?” Aku berbalik, mengernyitkan kening, benar-benar tidak mengerti apa maksud Ahjussi, membantuku melepaskan anak seorang mafia judi pemilik casino terbesar di Korea.

“Yoona kekasihmu. Apa kau tidak mau menyelamatkannya?” Suara Ahjussi sedikit mengaung di ruangan yang agak gelap ini. Yoona kekasihmu. Yang benar saja! Aku baru mengenalnya beberapa hari dan karena masalah ini aku menjadi kekasihnya. Aku lupa memberitau Ahjussi bahwa ini hanya cerita.

Aku mendeham-deham sambil kembali melangkah. Ahjussi menodongkanku sebuah pistol sebelum aku berbalik. Walther P99 dengan kaliber penuh.

“Kau membutuhkan ini untuk melawan mereka. Aku hanya mengantar sampai sini.” Aku menerima walther tersebut dengan terheran. Ini adalah walther terbaik yang sangat kuidamkan. Aku pernah meminta Appa membelikan walther ini sebagai hadiah ulang tahunku. Bagaimana Ahjussi tau?

“Ayahmu menitipkan ini padaku. Ini milikmu.” Ahjussi selalu seperti ini, seperti bisa membaca pikiranku. Setiap pertanyaanku dijawab dengan jawaban tak terduga. Ini milik ayahku dahulu.

Aku masih terdiam tanpa kata, mengamati walther ini.

“Sudah. Kau harus menyelamatkan Yoona. Aku akan mencari bantuan.” Sebelum pergi, Ahjussi memeras pundakku, memberi semangat padaku lalu tersenyum. Ia berjalan ke arah pintu stainless.

“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” Sehun berdiri disamping namja itu. Namja itu –Ayah Yoona, tampak sedang duduk dibelakang meja. Tangannya terlipat didepan dada, raut wajahnya berpikir keras. Menyiapkan rencana.

We just have to get her out of here. Korea isn’t a good place for her.” Namja itu bangkit dan mengitari Yoona yang masih tak sadarkan diri, posisi terikat dan duduk di hadapannya.

So what you’re gonna do, Sir?” Sehun kembali mengulang pertanyaannya.

Set a plane. We left now.” Suara namja itu berat. Ia berjalan mendekati Yoona. Mengelus lembut rambut Yoona. “Be prepared, sweetheart.”

Aku tidak mengerti. Ayahnya begitu menyayangi Yoona tapi mengapa ayahnya memukul Yoona dengan keras? Aku bergerak tidak sengaja sehingga menyentuh pintu yang terbuat dari triplek itu bergeser dan menimbulkan bunyi.

Belasan pasang mata mengarah dan tertuju padaku.

Aku ketauan.

TBC

Dear all the readers, ini satu chapter sebelum akhir. Komen dong kalian mau akhir yg gimana? Kali aja aku bisa ngubah sedikit hehehe.
Dan maaf ya kalo aku pake abang Sehun jd cameo disini, abis bang Sehun doang yg cucok n dapet aj feelnya sama aku *eh
XOXO, nikkireed

55 thoughts on “(Freelance) The Transporter [4]

  1. part ini yg paling bikin tegang yaampun -__-
    itu knapa pake ada Sehun segala?

    buat part ini, sebenernya hal yg aku binguin adalah kemunculan Sehun. sebelumnya aku belum nemuin nama Sehun, trus tiba2 disini Luhan udh tau nama Sehun, jadi mereka udh kenal?
    kalo misalnya belum, aku saranin buat ada percakapan antara seseorang sama Sehun, jd Luhan bisa ambil kesimpulan kalo nama dia Sehun ya dari percakapannya itu😀

    keep writing unnie❤

  2. Ayah yoona yg culik yoona? Sehun siapa yoona?
    Ah luhan make kwtahuan segala,ini luhan sebenarnya punya rasa atau gemanasih?next chap asap ya figthing!:))

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s