The Wedding Breaker [2]

the-wedding-breaker

The Wedding Breaker

Written by elevenoliu

Casts

Wu Yi Fan // SNSD Yoona // EXO Chanyeol

Genre & Rating

Romance-Drama & Rated for 15+

Length

Chapter

[Poster goes to Fira @ cafeposterart]

Teaser | Introduce Characters | 1 | 2

Pintu apartment itu terbuka dengan kencang dan membanting dinding hingga mengeluarkan suara yang keras. Kantung plastik yang dijinjing oleh pria jangkung itu dilempar ke atas lantai dan ditendangnya hingga melesat ke ujung ruangan. Pria itu, Park Chanyeol membuang nafasnya kasar lalu menghempaskan tubuhnya ke atas sofa yang berada di dekatnya.

Dia memijat puncak kepalanya pelan. Dia tidak mau memikirkan masalah ini lagi. Bisakah dia melupakannya? Satu hari saja. Setitik air mata keluar dari ujung matanya. Dia membiarkan air itu mengalir di wajahnya lalu menatap langit-langit apartment miliknya.

“Aku tidak mau menghentikan rasaku sampai disini.”

MWO?!” Suara melengking milik seorang wanita yang bernama Kim Taeyeon itu berhasil membuat pengunjung yang berada di café itu melemparkan tatapan sinis kepadanya. Sedangkan Taeyeon hanya bisa menyengir lalu menatap sahabatnya yang berada di hadapannya.

“Kau akan menikah 3 hari lagi? Kapan kau punya kekasih, huh?” Tanya Taeyeon kepada wanita yang berada di hadapannya, Yoona.

Yoona menghembuskan nafasnya pelan lalu mengedikkan bahunya, “Tidak tahu.” Dia menopang dagunya dengan tangan kanannya.

“Bagaimana bisa begi…” Taeyeon menggantungkan perkataannya lalu mengerutkan keningnya, “Apa kau dijodohkan, Yoong?”

Yoona diam. Tak lama kemudian, dia mengangguk kecil. “Aku sudah menolaknya puluhan kali. Tapi, tetap saja mereka itu keras kepala.”

“Untung saja aku tidak sepertimu.”

“Ya, kau benar. Kau sangat beruntung.” Yoona memerhatikan dan mengaduk jus jeruk yang berada di hadapannya dengan sedotannya. Tiba-tiba kepalanya terangkat dan menatap Taeyeon yang sedang sibuk mengotak-atik ponselnya.

“Taeyeon-ah! Tebak tadi aku ketemu dengan siapa!” Suara Yoona berubah saat itu juga. Nadanya terdengar lebih ceria dari sebelumnya.

Taeyeon menatap Yoona dengan sinis, “Mana aku tahu, dasar bodoh.”

Yoona mengerutkan mulutnya lalu mengangguk pelan, “Baiklah. Baiklah. Tadi, aku bertemu dengan Chanyeol. Park Chanyeol, teman sekelas kita dulu. Apa kau masih ingat?”

“Chanyeol..” Gumam Taeyeon. Dia memejamkan matanya lalu menopang kepalanya dengan tangan kanannya, “Chanyeol… Chanyeol…”

“Si pria bodoh itu.” Sela Yoona pelan.

Mata Taeyeon membulat, mulutnya menganga, dan telunjuk kanannya terangkat mengekspresikan seseorang yang mengingat sesuatu.

“OH SI BODOH ITU!” Teriak Taeyeon dan lagi-lagi semua mata dari pengunjung di café ini tertuju kepada Kim Taeyeon. Ugh, hal tersebut semakin membuat Taeyeon merasa jengkel dan akhirnya dia mendengus sebal.

“Iya. Aku tidak menyangka jika aku bisa bertemu dengannya.” Suara Yoona mengecil, dia semakin menundukkan wajahnya.

“Maksudmu?” Taeyeon sadar ada yang mengganjal dengan sahabatnya yang satu ini.

“Maksudku….Aku bisa minta tolong padanya untuk menjadi kekasihku—“

“APA? KAU MAU BERSAMA SI BODOH ITU?!” Teriak Taeyeon lagi.

“Jangan menyelaku, bodoh.” Balas Yoona dnegan tajam, dia membuang nafasnya pelan sebelum melanjutkan perkataannya lagi, “Hanya pura-pura. Lagi pula, dia tidak begitu bodoh kok.”

Senyuman Yoona merekah di wajahnya. Dia langsung menutup wajah bagian bawahnya dengan tangan kanannya, “Dia sangat baik dan…manis?” Entah itu sebuah pernyataan atau pertanyaan.

“Hah, Yoong…Jangan bilang kau menyukainya.”

“Tidak.” Tungkas Yoona, “Aku….hanya tertarik padanya. Itu saja.”

“Aku rasa kau mulai terkena virus dari Chanyeol.”

Yoona menggeleng dengan cepat, “Tidak. Kenapa sih kau itu sok tahu sekali?”

“Iya. Iya. Terserah padamu.”

“Ngomong-ngomong,” Yoona menaikkan kaki kanannya ke bangku Taeyeon. Oh, mereka duduk saling berhadapan di bangku panjang yang dekat jendela. Kalian bisa membayangkannya, bukan?

“Lihat! Ini sepatu darinya!” Nada bicara Yoona terdengar riang. Yoona tersenyum sambil menngoyang-goyangkan kakinya. Tapi, Taeyeong langsung menyenggol kaki Yoona dengan paha kirinya hingga kakinya menyentuh lantai.

“Sepatu apa itu? Kebesaran.”

“Hei! Ini sepatu dari si bodoh..” Taeyeon tidak merespon perkataan Yoona dan Yoona memilih untuk melanjutkan perkataannya, “Dan ini dia berikan kepadaku. Padahal ini untuk temannya.”

Dan Yoona bangga akan itu.

To : Chanyeol

Chanyeol-ah,buka pintunya. Aku tahu kau di dalam.

Pria berambut blond itu menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya. Dia meletakkan tangannya yang terkepal di daun pinti apartment milik Chanyeol. Dia menghembuskan nafasnya lalu menyandarkan keningnya di daun pintu tersebut.

“Chanyeol..”

Kris ingin Chanyeol mendengarkan seluruh penjelasannya. Kris mau dia mengerti. Kris mau dia tetap menjadi Chanyeol yang selalu ada untuk Kris. Disaat-saat seperti ini Kris sangat membutuhkan Chanyeol berada di sampingnya untuk memeluknya dan memberinya semangat. Well, Kris tahu bahwa hubungan mereka itu tidak seharusnya untuk dilanjutkan. Tapi, dia tidak bisa. Chanyeol adalah orang yang sangat mengerti dirinya. Oleh sebab itu, dia tidak mau melepas Chanyeol begitu saja.

Tangan Kris mulai menurun hingga berhenti di tombol password. Sudah tiga bulan Kris tidak menginjak apartment milik Chanyeol. Yang dia ingat, password pintu Chanyeol adalah tanggal dimana mereka memutuskan untuk bersama. Ya, Kris akan mencobanya. Semoga ini berhasil.

Kris mulai menekan tombol 210312 yang merupakan tanggal mereka. Tapi, pintu itu tidak terbuka melanikan mengeluarkan nada aneh yang tentunya karena Kris salah menekan password. Dia mengetuk pintu apartment Chanyeol lagi. Lagi. Lagi. Dan lagi.

Tapi, tetap saja tidak ada balasan dari sana.

Langit yang berwarna oranye itu mulai berubah menjadi gelap. Sinar matahari yang sedari tadi menyinari kota Seoul itu mulai mengumpat. Yoona yang baru saja turun dari taksi yang berhenti di depan rumahnya langsung membuka pagar rumahnya dan masuk ke dalamnya.

Yoona melihat salah satu pembantu yang bekerja di rumahnya tengah menyapu daun-daun yang berjatuhan dari pohon. Dia langsung mempercepat langkahnya hingga berdiri tepat di hadapan sang pembantu itu.

“Bibi, apa umma ada di dalam?” Tanya Yoona sambil menunjuk pintu masuk rumah utamanya.

Pembantu itu menoleh dengan cepat lalu menegakkan tubuhnya, “Oh, iya. Nyonya sedang menunggumu di ruang tengah.”

Yoona mendengus sebal. Dia hanya tersenyum lalu sedikit membungkukkan tubuhnya dan melanjutkan langkahnya. Tidak. Dia tidak akan lewat pintu utama rumah mereka. Langkahnya berbelok menuju pintu yang langsung menembus ke dapur. Dia membuka pintunya perlahan dan masuk ke dalam rumahnya.

Sepertinya kesialan memang berada di sekitar Yoona. Ibunya—Im Jihyun sedang berdiri memergoki Yoona dengan segelas air putih yang tengah digenggam olehnya. Jihyun terkekeh pelan lalu menggelengkan kepalanya, “Kenapa lewat sini? Mengendap-endap?”

“He-he-he-he.” Tawa garing Yoona yang terputus-putus itu membuat raut wajah Jihyun menjadi sangat menyeramkan.

“KAU KEMANA TADI, HAH?” Suara melengking milik Jihyun itu mengisi ruangan dapur ini. Lantas, Yoona menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya lalu mendengus sebal.

“Jangan membentakku, umma!”

“YAK! MAU MASUK ATAU TIDAK?” Jihyun mengangkat gelas yang dia genggam hendak menyiram Yoona. Tidak mau menunggu lama lagi, Yoona langsung lari terbirit-birit keluar dari dapur lalu menaikki tangga dan masuk ke dalam surganya, kamarnya.

Ponsel yang bergetar di sebelah kanan kepala Yoona itu membangunkan dirinya. Dia mengerjapkan matanya dan membiarkan sinar matahari menyelip ke dalam penglihatannya. Dia menguap dan meregangkan otot-ototnya dan…

BRUK!

Sebuah benda jatuh dari atas tempat tidurnya dan saat itu juga, Yoona terbelalak. Dia mematung berusaha menebak apa yang baru saja dijatuhkannya. Tiba-tiba dia teringat sebuah getaran yang membangunkannya dan…

“PONSELKU!” Pekiknya lalu menoleh ke atas lantai. Dia mendecak lalu meraih ponselnya. Dalam posisi tengkurap, dia melihat isi pesan yang baru saja masuk beberapa detik yang lalu dan nama Kris terukir disana.

Yoona tersenyum. Tapi, kecut. Tanpa basa-basi, dia membuka isi pesan tersebut dan membacanya perlahan. Well, kantuk masih betah berada di matanya.

From : Kris

Malam ini ada acara? Ayo, makan malam bersama.

Yoona memilh meletakkan ponselnya ke atas meja yang terletak di samping tempat tidurnya. Jujur saja, dia sangat tidak tertarik pada pria bertubuh jangkung dan kepribadiannya melebihi dinginnya es. Yoona tidak menyukainya. Sungguh. Dia melirik ke jam dinding yang berada di sebelah kirinya. Matanya melebar. Bahkan matanya terlihat seperti hampir keluar dari tempatnya.

“ASTAGA! SUDAH JAM SEBELAS!”

“Ini gila!” Yoona mengoceh sambil melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi lalu duduk di atas kursi yang berhadapan dengan meja riasnya.

“Kenapa aku bisa tidur selama itu?” Tanya Yoona pada diri dia sendiri. Dia mengambil sisir lalu menyisir rambutnya sendiri. Pantulan dirinya yang ada di cermin itu membuatnya sadar. Senyuman mereka di wajah cantik Yoona. Dia sadar bahwa dirinya itu cantik. Sedetik kemudian, senyumannya menghilang. Percuma saja aku cantik, pikirnya.

Tentu saja. Dia sudah dijodohkan. Untuk apa dia berusaha melakukan yang terbaik jika dia pasti akan dimiliki oleh seseorang tanpa usahanya sendiri. Dia mengedarkan pandangannya lalu pandangannya berhenti di sepasang sepatu sport.

“Bisakah aku bertemu dengannya lagi?”

Knop pintu yang dingin itu akhirnya digenggam oleh Chanyeol. Persediaan di lemari es mulai berkurang dan dia memutuskan untuk turun ke lantai dasar untuk membeli beberapa keperluan di mini market disana. Dia memutar knop pintu dan mendorongnya keluar.

Tapi, kehadiran seseorang disana membuatnya sadar dan melirik sebentar. Ada dia disana. Ada Kris yang berdiri sambil memerhatikan dirinya sekarang. Chanyeol membuang nafasnya pelan lalu menarik pintu itu kembali. Tapi, tangan Kris bergerak cepat hingga pintu itu tertahan.

“Lepas.” Suara Chanyeol yang bass dan serak itu keluar dari bibirnya. Kris menggeleng lalu menarik pintu itu hingga terbuka lebih lebar lagi.

“AKU BILANG, LEPAS!” Teriak Chanyeol lalu menatap Kris dengan amarahnya. Tubuh Chanyeol memanas bagaikan terbakar oleh api.

“Chanyeol-ah, bukankah—“

“Tidak. Ini tidak bisa dilanjutkan lagi.” Sela Chanyeol.

“Tap—“

“Kau tahu? Hubungan kita ini salah. Aku tidak ingin melan—“ Kris memegang tangan kiri Chanyeol hingga pria itu berhenti untuk melanjutkan perkataannya.

“Kenapa kau menyerah seperti ini?” Dahi Kris berkerut. Kenapa reaksi Chanyeol sangat berbeda? “Fight for me, Chanyeol.” Lanjut Kris.

“Aku tidak mau berjuang demi cinta yang salah ini.” Balasan Chanyeol terdengar dalam bagi Kris. Kenapa semuanya berubah secepat ini? Kris melepaskan genggamannya di tangan Chanyeol.

“Aku tahu bahwa kau akan melakukannya.” Chanyeol diam. Dia tidak membalas perkataan Kris.

“Aku tahu besok kau akan datang. Aku tahu kau tidak akan merelakan aku begitu saja. I know.”

“Berhentilah berharap,” Suruh Chanyeol. Dia menatap manik mata Kris dan Kris bisa melihat mata Chanyeol yang memerah dan mulai berair itu, “Sebelum kau disakitkan oleh harapanmu sendiri.”

Chanyeol langsung mendorong dada Kris pelan hingga dia bisa menutup pintunya. Dan Kris, dia terpaku disana. Kenapa untuk sekarang bernafas pun susah?

Yoona yang sedang memakai lipstick berwarna merah itu langsung menghentikan kegiatannya ketika dia mendengar ketukan pintu di pintu kamarnya.

“Sebentar.” Teriaknya lalu dia melanjutkan kegiatannya lagi lalu meletakkan lipstick tersebut ke atas meja rias. Dia meraih handbag miliknya lalu menggantungkannya di pergelangan tangannya. Dia melangkahkan kakinya hingga berhenti di sebuah cermin besar. Dia melihat refleksi dirinya di cermin tersebut.

“Sempurna.” Gumamnya pelan lalu membuka pintu kamarnya yang berada di sebelah kanannya. Pembantunya berdiri disana dengan senyuman hangat miliknya.

“Maaf, Nona. Kekasih anda sudah menjemput anda.”

Dahi Yoona berkerut. Okay, tidak masalah jika Kris menjemputnya. Tapi, kekasih?! Yoona memutar bola matanya lalu menghembuskan nafasnya pelan.

Okay. Terima kasih, Bi.” Pembantu tersebut langsung membungkukkan tubuhnya dan berlalu dari hadapan Yoona. Yoona melangkah keluar dari kamarnya dan menutup pintu kamarnya lalu turun ke lantai dasar rumahnya.

Kris menoleh ke asal suara sepatu tumit yang terentak ke atas lantai. Sepatu tumit berwarna hitam itu adalah benda pertama yang dia lihat. Dia mulai menaikkan pandangannya kepada kaki jenjang dari sang pemilik dan berhenti di mini dress berwarna hitam yang elegan. Dia terus menaikkan pandangannya hingga berhenti di mata sang pemilik.

Kris merasa goyah saat itu juga.

“Ada apa?” Tanya Yoona—seseorang yang Kris perhatikan dari ujung kaki hingga ke ujung kepala itu. Kris hanya diam dan membuang pandangannya. Dia memasukkan tangannya ke saku celananya lalu berjalan keluar dari ruang tengah rumah Yoona. Yoona menggerutu sebal. Dia melanjutkan langkahnya keluar dari rumahnya itu.

Yoona menarik sabuk pengamannya lalu berusaha memasangnya. Tapi, gagal. Dia menghembuskan nafasnya sebal. Dia menarik lagi dan memasangnya. Tapi, gagal lagi. Yoona langsung melempar tatapannya kepada Kris, “Mobilmu ini kenapa? Aneh sekali.”

Kris tidak menjawab. Dia hanya menggeser tubuhnya dan meraih sabuk pengaman milik Yoona. Kris menarik nafasnya dan harum tubuh Yoona….tunggu, ini harun dari tubuh atau rambut? Okay. Sepertinya harum rambut Yoona itu menyeruak masuk ke dalam pernapasannya. Kris sedikit melirik ke wajah Yoona yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.

Kris menelan ludahnya susah payah. Kenapa wanita ini cukup menarik perhatiannya malam ini? Yoona bisa merasakan aura aneh yang keluar dari tubuh Kris. Dia menatap Kris—dia sedari tadi menatap keluar jendela—dan mata mereka bertemu.

“A…apa yang kau…” Yoona kehabisan kata-kata. Kris langsung menarik sabuk pengaman milik Yoona dan menekan pengaitnya lalu memasangnya.

“Mobil ini dibuat bukan untuk sembarang orang yang sering kali teledor.” Kata Kris sambil menarik sabuk pengaman miliknya.

“Maksudmu? Kau sedang menyindirku?”

“Apa kau merasa?”

“Untuk apa?”

Kecanggungan mulai menyelimuti isi mobil ini. Kris menghembuskan nafasnya sambil menginjak gas mobilnya, “Baiklah. Sabuk pengaman mobil ini memang berbeda karena dibuat untuk mereka yang selalu memakai sabuk pengaman dengan benar. Bukan untuk mereka yang sudah dalam keadaan darurat lalu memakainya.”

“Memangnya aku menanyakan hal itu?” Tanya Yoona.

Kris hanya menatapnya dengan tatapannya yang membunuh itu. Wanita ini memang berbeda.

Yoona memberikan menu kepada sang pelayan lalu pelayan itu menerimanya dan membungkukkan tubuhnya, “Silahkan ditunggu beberapa saat. Terima kasih.”

Yoona dan Kris hanya mengangguk pelan. Yoona membuang rambutnya yang berwarna hitam pekat itu ke punggungnya. Dia menatap kotak tissue yang berada di hadapannya. Tujuannya adalah tidak menatap pria dingin yang berada di hadapannya itu.

“Yoona-ssi.” Panggil Kris.

“Ada apa?” Tanya Yoona dengan tatapan yang masih tertuju pada kotak tissue itu. Kris hanya diam. Dia berusaha mengerti kelakuan wanita yang dijodohkan oleh orang tuanya ini.

“Aku ingin membahas sesuatu.”

“Katakan saja.”

“Baiklah.” Kris berdeham pelan lalu menatap Yoona, “Aku tidak ingin melanjutkan permainan bodoh ini.”

Yoona langsung mengangkat kepalanya dan menatap Kris, “Kau pikir aku mau?”

“Kalau begitu, kita hentikan saja.”

“Aku juga mau seperti itu.”

“Asal kau tahu, aku sudah punya kekasih.”

Balasan dari Kris itu cukup membuat Yoona tersentak. Dia mengerutkan dahinya. Kali ini, dia merasa bersalah. Dia sama saja sudah mengahncurkan hubungan seseorang. Tapi, senyuman Yoona merekah. Bukankah itu hal yang bagus?

“Kalau begitu, pergilah bersama kekasihmu itu.”

“Aku akan memberi tahumu sekali saja.” Ucap Kris. Dia terdiam sejenak, seperti mempertimbangkan sesuatu yang harus dikatakan dan tidak, “Besok kekasihku akan datang ke pernikahan ki—maksudku, pernikahan bodoh ini.”

Yoona hanya diam mendengar ucapan Kris. Dia tidak merespon sama sekali.

“Aku akan memperingatkanmu.” Dahi Kris mengernyit seakan-akan perkataan yang ingin dia keluarkan itu beban baginya, “Dia akan memperhentikan pernikahan kita. Jangan terkejut, Yoona-ssi.”

Maaf, Kris. Tapi, kau sudah mengejutkannya.

TBC

Okaaaaaaaaaaaaaaay! Aku tahu ini masih pendek buat kalian, tahu kok tahu banget. Tapi, makasih yang udak mau baca loh dan fyi, aku kaget pas liat komen di chapter 1 MASA SAMPAI 90+? Itu komen yang cukup memberikan mini heart attack setelah Unbreakable Chapter 7

Makasih yang udah baca dan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H bagi yang merayakannya. Fighting!

82 thoughts on “The Wedding Breaker [2]

  1. Aigoo Pasti Yg Di Maksud Kekasihnya Oleh Kris Itu Chanyeol,, Bgaimana Ea Reaksi Yoona Saat Tau Calon Suaminya Kris Seorang Gay ?? Dan Apakah Rencana Chanyeol Untuk Menggagalkan Pernikahan Krisyoon Akan Berhasil ?? Next

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s