Revenge (Part 3.1)

“Just as there are two sides to every story, there are two sides to every person.

One that we reveal to the world, and another we keep hidden inside.” ㅡ Emily Thorn, Revenge.


brought to you by

( two deers )

622258710Yoona SNSD Girls Generation Casio Sheen GIF (2)

EXO-K’s Sehun        x       SNSD’s YoonA

 

 tumblr_mq1272Buk71rw6t7no4_1280

Revenge ( 2 ) : https://yoongexo.wordpress.com/2013/12/02/revenge-part-2/

Saat ujung jarinya menyentuh kumpulan kertas sobekan (sticky note mungil atau bahkan bagian belakang brosur ㅡyang membuat Yoona mendumel “kalau mau menggoda, setidaknya punya modal, bodoh.” yang entah ditujukannya pada siapa) Yoona tak habis pikir kenapa ia masih terbangun pukul 2 pagi, masih dalam piyama dan rambut singanya yang tak beraturan, hanya untuk membereskan kumpulan kertas sobekan berisi nomor ponsel (beberapanya bau parfum murahan dan ada bekas lipstik dengan warna yang menjijikkan) yang berceceran dari jaket Sehun.

Yeah, Oh Sehun.

Jadi mengapa Oh Sehun ada di rumah Yoona, di jam 2 pagi, tertidur diatas tempat tidur gadis itu dalam keadaan mabuk?

Diskotik. Yoona mendengus. Mau berkali-kali ia mengucapkannya, tetap saja kata disko- (-tik, Yoona suka memelankan satu suku kata terakhir itu karena menurutnya kata ‘disko’ lebih ‘alim’ daripada kata ‘diskotik’, yang akan ditertawakan oleh Sehun setiap saat), adalah kata tabu baginya. Yah, selevel dengan kata kasar menurutnya. Karena -duh,- bukannya yang biasa orang lakukan di diskotik juga sama menjijikannya?

Oke, kembali pada Yoona dan kumpulan kertas sobekannya.

Setelah memastikan sampah-sampah itu terkumpul di satu tempat, (tempat sampah, apa lagi?) Yoona menepuk-nepuk jaket Sehun yang penuh bau alkohol. Campuran parfum murahan, rokok, dan….. muntahan pizza? Yaiks. Apa orang-orang di diskotik juga menjual pizza? Kalau ya, Yoona pasti akan melahap semuanya (minus alkohol, yang akan membuatnya teler hanya dalam satu detik).

Yoona mengesampingkan pikirannya tentang apakah pizza -apalagi dengan topping keju- dijual di diskotik atau tidak, dan menoleh pada sosok jangkung yang menempel pada kasurnya dengan mata yang terpejam dan mendengkur halus. Oh Sehun.

Gadis itu mendaratkan bokongnya dengan sempurna di ujung tempat tidur, membuat tubuh Sehun agak memantul. Pandangannya kini tertuju pada kalender kusam di kamarnya. 15 Desember. Kalau dihitung, berarti— 3 bulan, 2 minggu, 5 hari (terberkatilah otaknya yang lumayan bagus di pelajaran matematika).

Benar. 3 bulan lebih sejak Oh Sehun ㅡsahabat sehidup sematinya (janji konyol mereka saat smp)ㅡ berubah drastis dari murid SMA manis dan populer menjadi pelanggan tetap diskotik dan -uh- sex (p.s.: Yoona akan mengernyit setiap kali hampir mengucapkannya).

Dan itu semua karena si jalang itu. Oh ayolah, haruskah Yoona menyebut namanya? Kim Jaekyung.

Yoona bisa merasakan dadanya yang mulai memanas. Bahkan hanya mengingat namanya membuat Yoona ingin menguliti gadis itu dan menyumpalkan mulutnya yang diolesi lipstik merah tebal dengan belatung (kalau saja Yoona tidak jijik dengan makhluk lembek itu). Apalagi kalau Yoona mengingat apa yang telah dilakukan jalang berdada palsu itu pada Sehun.

Bukan hanya pada Sehun, tapi juga pada keluarga pria itu. Hayoung, ibu dan ayah Sehun, yang tak pernah lagi Sehun hubungi. Mereka benar-benar tak tahu apa penyebab Sehun melakukan itu hingga saat ini. Yoona tak menceritakannya. Ia ingin Sehun melakukannya (yang tak pernah pria itu lakukan), karena menurutnya, kali ini ia tidak boleh ikut campur. Singkat cerita, mereka seperti ‘melepas’ Sehun pada Yoona. Tentu, mereka membayar uang sekolahnya, memberi uang jajan, membeli sepatu basketnya (yang usang karena Sehun jadi benci basket). Tapi semuanya melalui Yoona.

Orang tua Yoona? Well…. bagaimana caranya mengatakan kalau orang tuamu hampir tidak peduli dengan eksistensimu kecuali kau membakar rumah mereka, pulang dengan perut bunting dan berkata “aku hamil 9 bulan yang lalu, dan terima kasih untuk tidak memperhatikan, danㅡ ini cucu kalian.” Atau memasukkan kepala Timothy (anjing bulldog tetangga yang sangat bising) ke dalam kulkas? Yah, seperti itu.

Yoona tidak peduli, karena dia punya Sehun. Dia butuh Sehun, dan Sehun membutuhkannya. Cukup. Itu sangat lebih dari cukup.

Dan mereka akan tetap saling membutuhkan. Ujian sudah selesai. Formulir peminatan universitas sudah dibagikan. Dan, tebak apa? Yoona dan Sehun masuk di universitas yang sama. Dan untuk tambahannya, mereka akan membeli apartemen untuk ditinggali bersama. Seisi sekolah bahkan tak akan kaget kalau mereka akan memakai sweater rajutan kembar dan tas kotak-kotak kembar (seperti pada kembar Semi dan Sera di hari pertama sekolah mereka).

Yoona dan Sehun bukan kembar. Tapi mereka bukan juga sepasang kekasih. Sahabat. Oke, sahabat. Yoona dan Sehun bersahabat. Tapi apa keduanya senang dengan title itu?

Yoona tidak. Well, walau kadang ia merasa senang, karena dengan menjadi sahabat, tidak akan ada acara putus dramatis yang diikuti segunung tisu dan wajah sembab. Persahabatan harusnya berjalan lebih lama dibanding gaya pacaran remaja dungu sekarang.

Yoona terlonjak saat kaki Sehun menyenggol pahanya. Gadis itu mengamati Sehun yang tertidur seperti bayi diatas ranjangnya. Perlahan, Yoona merangkak dan mendekati Sehun. Jemarinya menyelusup diantara helaian rambut Sehun yang lembut, membuat wangi sampo pria menguar dari sana. Yoona hampir terlonjak (untuk kedua kalinya) saat tangan Sehun mencengkram erat pergelangan tangannya. Kali ini, sangat erat.

“…an…”

Yoona mendekatkan telinganya ke wajah Sehun dengan kening berkerut, mencoba mendengar ucapan Sehun lebih jelas. “Hmmm….” Gumaman asal terdengar lagi.

Dan saat Yoona akhirnya bisa menangkap perkataan Sehun, senyum mengembang di wajahnya, sangat, sangaaaat lebar.

“Jangan pergi, Yoong.” Hening sesaat, hingga Yoona bisa mendengar lagi dengkuran halusnya.

Yoona terkekeh, kemudian mengelus pipi Sehun perlahan dengan jemarinya. Dan hanya dalam hitungan detik, bibirnya mendarat disana dengan lembut.

“Aku tidak akan pergi,” bisik Yoona pelan di telinga Sehun, seiring senyumnya yang mengembang, “bodoh.”

×××

Sebagai satu-satunya mahasiswi jurusan ekonomi (karena hanya ada 2 orang di ruangan itu, dan satunya lagi adalah pria yang jelas-jelas bukan anak jurusan ekonomi) di ruang tamu apartemen itu, Kwon Yuri seolah bisa melihat uang yang melayang diatas benda-benda yang rusak (dan hancur parah. Dan dalam artian ini, artinya sangat, sangat parah).

Lampu yang pecah, meja terbalik, kursi dengan salah satu kakinya yang patah, vas yang pecah berkeping-keping, dan….. ugh. Yuri menghela napas untuk kesekian kalinya hari ini. Acara penghancuran itu memang sudah selesai sejak setengah jam yang lalu, termasuk omelan para pemilik kamar lain yang terganggu akan kebisingan itu. Ini baru jam 6 pagi, sialan. Yuri hanya bisa membungkuk berkali-kali, minta maaf dengan alasan yang tak masuk akal (“kucingku mengamuk” atau “aku terpeleset, kena mejaku, kena kursiku, kena blablabla” yang semuanya hanya dibalas dengan decakan kesal, bahkan ancaman).

Yoona tidak memberitahu kalau pria ini akan mengacaukan apartemennya sendiri dengan melemparkan barang seperti orang kesurupan. Setidaknya gadis itu harus menceritakan alasannya pergi. Yuri merasa ini agak tidak adil.

Pagi-pagi buta Yoona sudah berdiri didepan pintu rumahnya dengan koper hitam disebelahnya. Yuri yang masih dalam piyamanya (kaus bergambar karikatur The Beatles dan celana bermotif tentara sependek lutut termasuk piyama, kan?) hanya bisa menatap sahabatnya itu terkejut, saat ia menjelaskan semuanya dan langsung pergi.

“Aku meninggalkan Korea sekarangㅡdan jangan tanya kemanaㅡ, dan aku menitipkan Sehun padamu. Kalau kau tahu tujuanku, jangan pernah beritahu, jangan biarkan ia tahu. Pergi ke apartemennya pagi ini dan beritahu padanya soal ini. Oh, passwordnya tanggal ulang tahunku. Juga, siapkan makan pagi dengan nasi, Sehun benci roti untuk sarapan, dan–“

“Wait, wait.” Yuri yang sedaritadi hanya bisa melongo, akhirnya bisa sadar dan langsung menyela perkataan Yoona. “Apa kau…. akan…. uhmm… maksudku- kembali? Seperti… entahlah, pulang ke rumah? Kesini?”

Yoona menatap Yuri sepersekian detik, lalu tersenyum. “Pasti.”

Yuri menatap sosok Sehun yang terduduk di pojok ruang tamu. Dia kacau. Sangat, sangat kacau. Yuri masih berdiri di counter dapur, tempatnya semula saat memberitahu Sehun mengenai kepergian Yoona. Yuri mengikuti perkataan Yoona untuk menjelaskan pada Oh Sehun. Singkat, padat, dan jelas (tidak terlalu karena Sehun bertanya seperti orang dungu berkali-kali sebelum memutuskan untum mengamuk di ruang tamu).

“Pagi, aku -well, aku Kwon Yuri, teman Yoona, ingat? Ah ini sarapanmu. Nasi dan ikan goreng, seperti kata Yoona. Lalu, aku sudah mengirim pakaian kotormu ke binatu, seperti kata Yoona. Dan…. oh, Yoona? Dia pergi meninggalkan Korea pagi tadi. Dan, yeah, berterima kasihlah karena aku sudah mencabuti tulang dari daging ikannya.”

Ekspresi wajah Sehun membuat Yuri tercengang. Terkejut (sudah pasti), marah, kecewa, dan….. sedih? Oh Sehun -si playboy yang suka meniduri wanita- hampir menangis karena Yoona pergi?

Uh-oh, okay. Yuri memang sedih karena Yoona pergi. Tapi sebagai sahabat wanita pertamanya, Yuri sangat mempercayai Yoona. Gadis itu pasti akan kembali. Yoona selalu memegang janjinya, dan Yuri akan selalu percaya padanya. Yoona pasti kembali. Itu seperti membiarkan ayammu lepas di pagi hari karena ia pasti akan kembali di sore hari (Yoona bukan ayam, tapi begitulah).

Tapi reaksi Oh Sehun berbeda.

Yoona tidak akan meninggalkannya. Yuri tahu benar akan hal itu. Yoona dan Sehun sudah bersama (since God knows when) dan peluang bagi Yoona untuk meninggalkan Sehun dan tak pernah kembali lagi adalah….. 0%.

Tapi (seperti yang dikatakaㅡ ditulis diatas,) reaksi Oh Sehun berbeda.

Sahabat pasti akan mempercayai satu sama lain kan? Mereka seolah punya radar khusus untuk satu sama lain (yang sangat berguna saat bergosip hanya dengan tatapan mata). Menurut Yuri, ikatan antara sahabat adalah yang terkuat, ketiga setelah ikatan dengan Tuhan, dan ikatan keluarga. Dan reaksi Sehun membuat Yuri merasa kalau ikatan antara Sehun dan Yoona adalah yang keempat, yaitu…

….suka.

Atau cinta? Atau sayang? Saat menyukai seseorang, pasti akan ada kekhawatiran bukan? Khawatir saat tahu orang itu akan pergi, dan mungkin takkan kembali. Dan menurut Yuri, ikatan antara Yoona dan Sehun adalah suka, yang berarti buruk karena itu bagaikan pedang dengan dua sisi. Bisa menyenangkan, bisa menyakitkan.

“….yoona…”

Lamunan Yuri buyar saat ia mendengar suara serak Sehun dari sudut ruangan. Yuri berjalan melewati ongokkan sampah dan puing kaca diatas karpet, dan berusaha mendekati Sehun, dan berusaha menenangkan pria itu dengan beberapa kalimat untuk menghiburnya.

“Yoon…. Yoona, maafkan aku….”

Dan untuk pertama kalinya, Yuri merasa ada bola besi di tenggorokannya dan membuatnya bungkam.

×××

Yuri duduk di kursi ruang makan. Sehun masih terdiam di ruang tamu.

Tak ada satupun yang bicara. Tak ada suara lagi. Sehun tampak terlalu lelah bahkan untuk bergerak, dan Yuri -entah kenapa- merasa bersalah untuk sahabat dari sahabatnya itu.

Ting tong!

Yuri buru-buru bangkit dan berjalan ke pintu masuk, mengintip sedikit, sebelum membiarkan sosok diluar itu masuk.

“Kau pasti Woori.” Ucap Yuri dengan ekspresi datar, tak tahu harus berekspresi apa melihat wanita yang hanya ia kenal namanya itu.

Woori menatap Yuri dengan raut wajah cemas yang tampak jelas. “Kau meneleponku karena ada sesuatu pada Sehun, kan? Dimana dia?” Tanya Woori tak sabaran.

Yuri membiarkan gadis itu masuk, dan mengamati reaksi kagetnya saat melihat kondisi ruang tamu yang berantakan dan Sehun yang duduk di tengah-tengahnya.

“Yaampun….” Woori menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Tatapan matanya ngeri, ia tidak percaya dengan apa yang ada dihadapannya sekarang. “Apa yang terjadi…?” Tanya Woori tanpa menoleh kepada Yuri.

“Yoona pergi.” Dan kali ini Woori menoleh, menatap Yuri jauh lebih kaget. “Meninggalkan Korea. Aku hanya menitip pesan pada Sehun. Yoona bilang padaku untuk memanggilmu, yang katanya mengandung anak Sehun, untuk kemari kalau terjadi sesuatu. Dan…. begitulah.”

Woori menggeleng, dan Yuri tidak mengerti apa maksud gadis itu. Apa yang salah? Yuri menatap Woori heran. Woori hanya menggeleng, dan air mata mengalir di pipinya. Wajahnya ia tenggelamkan diantara kedua telapak tangannya. “yaampun. Aku- oh, tidak. Yoona. Yaampun. Aku tidak tahu- oh, apa yang harus kulakukan…?”

Woori kini menoleh pada sosok Sehun di ruang tamu. Gadis itu menutup mulutnya dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya tergantung begitu saja. “Sehun….”

Yuri mengernyit saat ia menyadari gadis itu menginjak pecahan kaca di karpet dengan kaki telanjang, membuat darah mengucur di telapak kakinya. Dan Woori tampaknya hanya fokus pada Sehun, bukan pada beling yang menancap di kakinya.

“Sehun…. Sehun!” Woori berjongkok dan memeluk leher Sehun dari belakang, menenggelamkan kepalanya di leher pria itu. “Oh, yaampun… Oh Sehun…”

“Sehun-ah, aku…. oh, ya Tuhan…. aku tidak hamil, Oh Sehun…. Oh Sehun, maafkan aku…. maafkan aku, Sehun-ah….”

Sehun tidak bergeming, tapi Yuri bisa melihat air mata di pipi pria itu. Dan untuk beberapa detik, Yuri bersyukur Yoona tidak ada disana. Karena gadis itu akan menangis juga. Pasti.

 

tumblr_mq1272Buk71rw6t7no5_1280

a/n:

HIIII!!!!

twodeers’ at your service!

Kali ini aku bawa Revenge Part 3.1 yang selama ini kalian tagihin hehehe.

Kenapa part 3.1? Soalnya ini ga berhenti disini. Bakal ada kelanjutnya dan aku bakal usahain buat post secepetnya aku deh hehe.

Nah sekarang direview dulu part 3.1 ini. Di bagian awal (sampai tanda xxx itu flashback Yoona, pas setelah kejadian Sehun dicampakkin Jaekyung) diceritain salah satu rutinitas Sehun, pergi ke diskotik. Terus bagian kedua, balik setelah Sehun bangun (baca part 2) dan ternyata Yoona udah- boom! ilang. Dan ternyata sebelum ilang, Yoona sempet semacem ‘ngelempar tanggung jawab’ atau bahasa enaknya ‘nitip’ Sehun ke Yuri. Kenapa pake dititip segala? Duh, Sehun is a jerk here. Yoona tuh kayak harus ngontrol dia, dan tetep mastiin kalau dia gapapa dan ga bikin gara-gara.

Dan… Woori! Kayak yang udah beberapa readers ‘tebak’ di part 2, dia ga hamil! /silently cheers/ penyebab kenapa dia pura-pura bakal lebih dibahas selanjutnya di part 3.2, dan sekarang kenapa aku masukkin Woori lagi disini? Awalnya dia cuma karakter tambahan yang penting engga dibilang gapenting juga gabisa. Tapi di part selanjutnya bakal ditunjukkin gimana Woori ikut ambil andil, jadi tokoh yang netral diantara Yuri sama Sehun yang saling bertentangan.

Aku gabisa ngereview banyak sih, soalnya ini juga pendek BANGET, gamungkin kan panjangan review daripada main story-nya? Awalnya aku mau bikin ini jadi trailer buat part 3 nanti. Tapi rasanya ga afdol, yaudah part 3 aku belah lagi jadi dua bagian haha maaf ngebingunginnn😦

Makasih ya buat yang selalu nunggu Revenge & Saudade (sumpah yang ini aku belum ngelanjutin sama sekali-_-v), aku nerima semua saran dari kalian kok. Dan kalau kalian punya alternative ending, coba kasitau aku! I’ve planned one, tapi liat aja yang paling klop yang mana P:

Thank you for reading, everyone~~

large

115 thoughts on “Revenge (Part 3.1)

  1. Kog aku jd sebel gini sih, kog abang sehun diginiin lagi udah ditinggal mb yoona eh woori nipu abang sehun lagi…
    aduuh… pusing.. abang cepet cari mb yoona atao mb yoona cpet comeback please… semua itu keg nya permainan jaekyung yg udah tau rencana kalian (YoonHun) #maybe
    auah pokoknya YoonHun Harus Bersatu and Happy ending ne… oke next palli keep writing and FIGHTING…😀

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s