[3rd-END] Loyal

LuYoon Fanart_4

1st | 2nd | 3rd-END

Loyal

Written by elevenoliu

Starring

EXO Luhan // SNSD Yoona

Genre&Rating

Romance-Angst&All Rated

True love.” Kata Yoona sambil berjalan keluar dari studio di salah satu mall yang ada di Seoul ini.

“Dan tidak datang dari lelaki saja.” Sambung Luhan yang berjalan disampingnya—sedikit lebih belakang—Yoona.

“Film itu sangat bagus, Luhan-ah.” Puji Yoona.

“Aku memilih film yang bagus, bukan?” Luhan tersenyum sembari mengatakan hal tersebut. Membanggakan dirinya sendiri.

Yoona menoleh lalu menatapnya dengan sinis, “Bangga pada diri sendiri?”

“Hm. Lalu, itu salah?” Deretan gigi Luhan yang putih itu muncul ketika dia mengakhiri perkataannya.

“Tidak.” Balas Yoona lalu menatap arloji yang mengalung di lengan kirinya, “Sekarang sudah jam lima sore. Kau mau mengajakku kemana lagi?”

Senyuman lebar Luhan berubah menajdi senyuman terkecut yang pernah ada. Dia berjalan melewati Yoona, “Tak masalah jika kau tidak ingin ikut.”

Yoona hanya menatap punggung Luhan yang mulai melangkah menjauhi dirinya. Ugh! Bagaimana dia bisa melakukan hal ini? Dia harus memberi moment terbaik—setidaknya. Mau tidak mau, Yoona berlari mengejar Luhan lalu memeluk lengan kanan Luhan.

Mianhae, kenapa kau menganggap itu serius?”

Luhan terkejut ketika dia sadar Yoona tengah memeluk lengan kanannya, “A…apa yang kau lakukan?”

“Aku hanya bergurau.” Mendengar suara Yoona membuat Luhan yang tadinya terkejut menjadi mematung di tengah jalan seperti ini.

“Hey, ada apa?” Tanya Yoona.

Sungguh. Ini diluar ekspetasi Luhan. Dia pikir, Yoona tidak akan memeluk—bahkan memegang—dirinya seperti ini. Mimpinya….seperti terkabul.

“Hey, Luhan-ah. Ada apa?” Tanya Yoona sekali lagi sambil mengguncangkan lengan kanan Luhan.

Luhan tersadar lalu menoleh, “Ti..tidak apa. Tidak ada apa-apa.”

.

.

.

Yoona duduk di atas salah satu kursi panjang yang ada di mall ini. Dia menepuk-nepuk bagian kursi yang kosong disebelahnya lalu tersenyum pada Luhan, “Duduk disini, Luhan.”

Luhan menurutinya. Dia duduk tepat disebelah Yoona yang sedang menatapnya dari sebelah kanan.

“Jadi, apa ada sesuatu yang ingin kau katakan?”

Luhan menatap Yoona. Matanya bergetar menahan seluruh bebannya yang ingin dia keluarkan melalui air matanya.

“Aku tahu kau ingin mengatakan sesuatu. Katakanlah.” Suruh Yoona sambil menatap manik mata Luhan.

“Yoona-ya…

“Hm?” Respon singkat yang diberikan oleh Yoona itu semakin membuat nyali Luhan mengecil.

“Aku…” Luhan diam di detik berikutnya. Dia tidak sanggup untuk mengatakan ini semua. “Aku…mengidap kanker darah.”

“Oh..” Hati Yoona terasa tertumbuk ketika mendengar kalimat itu keluar dari bibir Luhan. Tidak. Dia tidak tahu apa alasannya dia merasa seperti itu. Lagi pula, Yoona tidak membutuhkan alasan saat ini. “Aku tahu. Umma-mu memberi tahuku kemarin.” Lanjut Yoona.

“Baguslah kalau kau sudah mengetahuinya.” Balas Luhan.

“Tapi, kenapa kau tidak memberi tahuku?” Tanya Yoona. Dahinya mengerut, tatapannya sangat cemas hingga dia memeras ujung rok yang dia kenakan.

“Aku pikir kau tidak akan peduli tentang hal itu.” Jawab Luhan.

“Berhenti berkata, ‘aku berpikir’. Karena pikiranmu itu tidak sesuai dengan kenyataannya, Lu.” Yoona menarik nafasnya sebelum melanjutkan perkataannya lagi, “Aku tahu selama ini aku bersikap dingin kepadamu. Tapi, bisakah aku memperbaikinya? Walaupun hanya sedikit.”

“Ini bukan candaan ‘kan? Apa umma memaksamu untuk mengatakan semua ini?”

“Tidak.” Yoona menatap mata Luhan. “Aku yang ingin melakukan hal ini. Aku….tidak ingin mengecewakanmu, Luhan.”

Hanya suara nafas yang terdengar setelah percakapan mereka. Yoona berdiri dari duduknya lalu tersenyum kepada pria yang berstatus menjadi suaminya untuk sekarang.

“Aku ingin menemanimu check up di rumah sakit. Aku ingin menemanimu dalam masa terapimu. Aku ingin menjadi istri yang baik selagi aku bisa.” Lanjut Yoona. Dia mengulurkan tangan kirinya kepada Luhan, berharap jika Luhan akan menyambut tangannya.

Dan Luhan menyambut tangannya.

.

.

.

“Hei, Luhan-ah.”

Luhan menoleh ke asal suara yang dimiliki oleh istrinya itu. Dia tersenyum sebelum menyahutinya, “Ada apa?”

“Dasi ini. Aku suka.” Yoona meletakkan dasi itu di depan dada Luhan. “Tapi, terlihat tidak cocok padamu.”

“Sebenarnya, aku bosan melihat dasimu yang itu-itu saja setiap hari.” Kata Yoona sambil memilih-milih deretan dasi yang berada di hadapannya.

“Aku akan membeli beberapa dasi. Tidak apa-apa ‘kan?” Yoona berusaha memastikan sambil mengenggam 3 dasi di tangannya.

“Baiklah. Tidak apa-apa.” Jawab Luhan. Luhan hendak mengeluarkan dompet dari saku jeans-nya. Tapi, Yoona menahannya.

“Aku yang akan membayar ini dan juga…” Yoona menggantungkan perkataannya, “Aku yang akan memakaikan dasi ini setiap pagi sebelum kau berangkat ke kantor.”

“Aku senang mendengar itu.”

“Dan kau akan lebih senang ketika aku melakukannya. Benar ‘kan?”

“Hei, Yoona..” Panggil Luhan. Yoona yang baru saja memalingkan wajahnya langsung menatap Luhan.

“Bolehkah aku melakukan…” Luhan meletakkan tangan kanannya di puncak kepala Yoona, “…ini?”

“Tentu saja.” Yoona menyambutnya dengan senyumannya.

Luhan terkekeh pelan, “Terima kasih, Yoona-ya.”

.

.

.

“Terima kasih.” Ucap Luhan pada pelayan restoran yang baru saja meninggalkan mereka untuk menyampaikan pesanan mereka.

“Aku betul ‘kan?” Tanya Luhan.

Yoona menoleh kebingungan, “Hah?”

“Ini restoran favorite-mu, bukan?” Luhan berusaha memastikan.

Bukan. Ini bukan restoran favorite Yoona melainkan restoran favorite Jongin. Tapi, dia tidak mau mengecewakan Luhan yang sudah menyiapkan ini semua. Dia tersenyum hingga matanya menyipit dan berbentuk seperti bulan sabit.

Ne. Ini restoran favorite-ku, Luhan. Aku tidak menyangka kau bisa mengetahuinya.”

Bohong demi kebaikan itu bukanlah masalah yang besar, bukan?

.

.

.

Kini mereka sudah berada di atap mall ini. Luhan melangkahkan kakinya hingga dia bisa menyandarkan tubuhnya ke penyangga yang ada. Dia tersenyum sambil menatap Yoona.

“Kemarilah.” Ajak Luhan.

Yoona melangkahkan kakinya mendekati Luhan lalu berhenti tepat disebelah kanannya. Dia sedikit menempelkan tubuhnya ke tubuh Luhan dan menoleh ke wajah pria itu, “Kenapa?”

Jantung Luhan berdebar lebih kencang. Rasanya dia ingin terjun bebas dari atap ini hingga ke atas tanah dan hal itu hanya untuk memastikan bahwa ini nyata.

“Aku ingin menunjukkan sesuatu.” Ucap Luhan. Dia mengeluarkan ponsel dengan layar yang besar dan membuka sebuah video. Sebelum video itu diputar, Luhan menoleh kepada Yoona.

“Selamat ulang tahun, Yoona.”

Mata Yoona melebar. Dia terkejut. Sangat terkejut. Dirinya saja lupa bahwa hari ini, 30 May adalah hari ulang tahunnya. Yoona langsung memalingkan wajahnya dari wajah Luhan dan menunduk dalam.

“Terima kasih.” Sejujurnya, Yoona tidak mau memperlihatkan wajahnya yang bersemu merah sekarang.

“Dan aku punya sesuatu untukmu.” Luhan mencolek lengan kiri Yoona, “Lihatlah ini.” Luhan langsung menekan tanda play di layar ponselnya dan video itu…

 loyal1

Hari dimana kita menjadi sepasang suami istri yang sah. Kau tersenyum dengan hangat kepada keluargaku—yang menjadi keluargamu juga. Yoona-ya, kau berhasil membuatku jatuh saat itu juga.

 loyal2

Kau ingat ketika kau menolak ajakan makan malamku? Aku tahu sebenarnya kau sangat lapar waktu itu. Tapi, kau menolakku. Oleh sebab itu, aku minta tolong kepada umma agar mengajakmu makan malam di luar. Untungnya, kau tidak menolak.

 loyal4

Ini ketika kau berhasil menangkap kamera yang ternyata aku simpan di ruang tamu—disebelah televisi. Kau mengamuk dan membanting kamera itu di depan mataku.

loyal5 

Pernikahan Joonmyun dan Soojung. Kau siap dengan dress berwarna merah muda dnegan pita besar di bagian dadanya. Aku bersyukur karena kau tidak sadar dengan kamera yang berada di tanganku waktu itu. Kau sangat cantik, Yoona.

 loyal7

Seperti keajaiban bagiku ketika aku mengecek kamera yang aku letakkan di samping telepon rumah dan kau tahu? Aku baru bisa tidur jam tiga subuh ketika aku melihat video yang terekam. Kau….membuatku kewalahan, Yoona.

 loyal3

Kau masih ingat di pagi hari yang kau mengamuk lagi karena aku merekammu? Kau juga menyuruhku untuk memperbincangkan rumah tangga kita ke orang tuaku agar kita berpisah.

 loyal6

Kamera yang aku letakkan di dapur ternyata sangat berguna. Aku bisa melihat sisi malaikatmu disana. Seandainya kau bisa memasak untukku lagi, Yoong.

loyal8 

Kau memasang wajah imutmu ketika Jessica datang mengunjungi rumah kita. Well, sehabis kau melihat video ini. Kau pasti akan menyuruhku untuk melepaskan seluruh kamera yang aku selipkan.

 loyal10

Such an angel, Yoong. Kau benar-benar menghilangkan niatku yang menolak mentah-mentah perjodohan ini dan kau yang membuatku melenyapkan niatku dalam waktu tiga detik. Kau menghilangkan semua niatku yang buruk ketika kedua ujung bibirmu terangkat.

My heart beats because your smile.

Happy Birthday Im YoonA.

Lengan Luhan yang memanjang karena memegang ponselnya itu tiba-tiba terdapat bercak darah disana. Yoona yang matanya sudah memerah karena video tadi langsung menoleh kearah Luhan.

“LUHAN?” Teriak Yoona. Dia panik ketika melihat Luhan sudah setengah sadar dengan darah yang mengalir dari lubang hidungnya. Dia mengambil ponsel Luhan dan memasukkannya ke dalam tasnya. Tangan Luhan dia genggam dan diletakkan di bahu kanannya.

“Luhan..bertahanlah.”

.

.

.

Langkah Yoona berhenti di depan pintu Unit Gawat Darurat. Yoona menahan lengan kiri dokter yang hendak masuk ke dalam menyusul Luhan yang baru saja masuk lebih dulu.

“Selamatkan suamiku, Dokter.”

Dokter itu hanya mengangguk dan masuk ke dalam ruangan itu, meninggalkan Yoona dengan mata yang penuh dengan air matanya. Dia menahannya. Dia tidak mau menangis hanya karena hal ini. Dia harus kuat. Yoona harus kuat.

Tak lama kemudian, Yoona mendengar derap kaki dari koridor rumah sakit. Dia langsung menoleh ketika umma-nya dan umma Luhan tiba. Dia bangkit dari duduknya dan menghampiri mereka.

Yoona memeluk umma-nya dan menangis di bahunya. Tubuhnya bergetar, dia bisa melihat sisa darah yang keluar dari hidung Luhan yang mengenai di lengan kirinya hingga mengering.

Umma..

.

.

.

Setengah jam Yoona dan kedua ibunya menunggu di luar Unit Gawat Darurat. Tiba-tiba pintu yang sedari tadi dipandang oleh ketiganya terbuka dan muncul dokter yang menangani Luhan. Yoona bangkit dari duduknya dan menghampiri dokter tersebut.

“Dokter, bagaimana keadaan suami saya?” Tanya Yoona tak sabar lalu kedua wanita paruh baya itu menyusul di belakang Yoona.

“Maaf, apa anda yang bernama Yoona?” Tanya sang dokter.

Yoona mengangguk sekilas dan dokter itu merekahkan sedikit senyumannya, “Mari ikut saya.”

.

.

.

Yoona meletakkan bokongnya di atas kursi yang berhadapan dengan dokter dan terhalang dengan sebuah meja hitam besar yang penuh dengan kertas-kerta—berkas pasien—diatasnya.

“Dokter, bagaimana keadaan suami saya?” Tanya Yoona.

Dokter itu membuang nafasnya, “Maaf, apakah pasien sudah mengetahui penyakitnya?”

Yoona ragu. Dia baru saja mengetahui penyakit Luhan kemarin. Tapi, dia tidak boleh menjadi manusia bodoh untuk saat ini. Dengan penuh keraguannya, dia mengangguk.

Dokter itu melihat respon Yoona dengan jelas, “Apa dia selalu minum obat dengan rutin?”

Dahi Yoona mengerut. Kenapa dokter ini menanyakan hal seperti ini?

“Aku baru saja memberikan obat yang baru kepadanya kemarin.”

“Aku hanya mengingatkan anda…” Dokter itu mengerutkan dahinya dan menaikkan kacamata yang dia kenakan, “Suami anda sudah memasuki stadium akhir dan kemungkinan waktunya tinggal—“

“Maaf..” Yoona menatap dokter itu dengan matanya yang memerah, “Aku tidak mau mengetahui berapa lagi waktunya.”

Dokter itu mengangguk, “Baiklah. Itu saja. Anda sudah bisa menemui suami anda di ruangan 109.”

Ne. Terima kasih, dokter.”

Ya, Yoona tidak mau mengetahuinya. Dia sudah siap jika dia kehilangan Luhan yang sudah mengidap kanker stadium akhir itu. Tapi, dia tidak sanggup membayangkan sisa waktu Luhan.

.

.

.

Yoona mengintip dari jendela kecil yang ada di pintu kamar 109 itu. Dia bisa meilhat kedua ibunya duduk sambil berbincang dengan suaminya, Luhan. Dia bisa melihat tawa yang keluar dari bibir kedua ibunya itu. Tapi, kecemasan yang ada di mata mereka tak kian hilang.

Yoona memejamkan matanya dan menarik nafasnya ketika dia memegang knop pintu itu. Dia membuka kedua matanya dan matanya bertemu dengan mata Luhan yang sudah menatapnya. Kekuatan Yoona seperti lenyap saat itu juga. Bisakah waktu ini berhenti sebentar saja?

Knop pintu itu ditekan oleh Yoona lalu mendorongnya. Dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar itu. Dia tersenyum lalu membungkukkan tubuhnya memberikan rasa hormat kepada kedua ibunya itu.

“Jinhee-ya, kita diluar saja, ya? Biarkan Luhan dan Yoona berdua dulu.” Ajak ibu Yoona. Jinhee—ibu Luhan—hanya mengangguk sambil tersenyum. Dia memegang tangan kanan Luhan sebelum melangkahkan kakinya ke pintu keluar.

“Jaga Luhan, Yoona.” Pesan Jinhee sambil menepuk pundak kanan Yoona. Yoona hanya mengangguk lalu diam menatap Luhan. Dia hanya berdiri sampai suara pintu yang tertutup terdengar olehnya.

“Yoong…” Panggil Luhan.

Yoona tidak berkutik. Dagunya mengerut menahan tangisannya yang ingin dia keluarkan. Tiba-tiba Yoona menunduk dalam dan membiarkan tangisannya jatuh saat itu juga.

Beberapa detik kemudian, Yoona bisa merasakan dua lengan yang panjang dan putih itu memeluk pinggangnya. Dia bisa mencium aroma tubuh Luhan yang seperti susu itu.

“Kenapa?” Tanya Luhan.

Yoona hanya menggeleng. Luhan langsung menarik Yoona ke dalam dekapannya dan memeluknya erat. Tangan Luhan juga bergerak, mengusap-usap puncak kepala Yoona hingga ke punggungnya.

“Kau menangis, Yoona.” Bisik Luhan di telinga Yoona. Yoona hanya diam. Dia tidak merespon lebih selain suara tangisan yang keluar dari mulutnya.

“Pasti ada sesuatu. Apa yang membuatmu menangis?” Tanya Luhan. Tiba-tiba Luhan tersenyum lalu menarik nafasnya. “Jangan menangis jika itu karena aku.” Luhan mengangkat kepalanya lalu menatap langit-langit rumah sakit itu.

“Aku tidak mau membuatmu menangis, Yoong.” Luhan melepaskan pelukannya dan memegang dagu Yoona lalu sedikit mendorongnya ke atas hingga dia bisa melihat wajah Yoona yang sudah basah karena tangisannya.

“Mungkin kau tahu jika waktuku…” Luhan menghentikan ucapannya lalu tersenyum sekilas, “Tidak. Aku hanya ingin membuatmu tersenyum, Yoong. Jangan menangis lagi.” Tapi, Yoona tetap menangis. Air mata terus keluar dari matanya.

“Jika kau mengeluarkan air matamu lagi, aku akan menciummu.” Ancam Luhan. Namun, air mata tetap keluar dari mata Yoona. Dia benar-benar tidak bisa menahan ini semua.

Luhan tidak bergurau. Dia langsung menempelkan bibirnya di atas bibir tipis Yoona hingga membuatnya terperanjat dan memegang lengan Luhan yang masih melingkar di pinggangnya. Berciuman dengan Luhan terasa berbeda. Berciuman dengan Luhan membuat Yoona tahu bagaimana rasanya ketika semua beban dan kekuatannya lenyap. Berciuman dengan Luhan membuat Yoona sadar bahwa jantungnya selalu berdebar lebih cepat jika bersama Luhan.

Luhan membuka matanya dengan keadaan bibirnya yang masih bertemu dengan bibir Yoona. Dia mengusap air mata Yoona yang masih berada di pipinya lalu melepaskan ciumannya. Dia terkekeh pelan, “Ternyata caraku ampuh.”

Luhan berdiri menunggu respon Yoona. Ternyata, Yoona tidak merespon apa-apa. Luhan langsung memutar tubuhnya hendak kembali ke tempat tidurnya. Tapi, lengan kanannya tergenggam oleh Yoona. Luhan langsung menoleh, “Ada apa?”

“Aku…” Yoona mengangkat kepalanya dan menatap mata Luhan, “Aku mencintaimu, Luhan.”

Luhan tersenyum, “Aku juga mencintaimu.”

.

.

.

Dua tahun kemudian…

Seorang wanita duduk di sebuah café sendirian. Dia menyantap kopi hitam dan hangat yang ada di hadapannya lalu membuang pandangannya ke jendela besar yang berada di sebelah kirinya. Musim dingin mulai tiba dan entah kenapa musim dingin membuatnya mengingat dia lagi.

Wanita itu—Im YoonA—masih ingat kapan Luhan meninggalkannya. Dua minggu setelah Luhan dirawat di rumah sakit. Kesehatannya semakin menurun tiap hari hingga di hari dimana dia dipanggil dan meninggalkan Yoona yang masih ada disini.

Menjalani dua minggu bersama Luhan di rumah sakit itu membuatnya sadar apa arti dari setia. Dia sadar bahwa Luhan itu sangat setia pada dirinya dan dia sangat berterima kasih akan hal itu. Yoona menghembuskan nafasnya hingga mulutnya mengeluarkan uap. Dia berjanji di depan Luhan bahwa kali ini dia akan setia menjaga cintanya untuk Luhan.

END

LAP KERINGET! Aduh, maaf banget ini FF di pending lebih dari sebulan sepertinya? Atau hampir sebulan? Duh, nggak tahu. Nggak bisa ngitung lagi berapa lama FF ini di pending gara2 unbreakable. <— kayak nyalahin nih HAHAHAHA Btw, makasih yang udah mau baca FF aku yang Loyal ini walaupun sad ending tetep makasih banyak. Sebenarnya endingnya itu udah dibahas berkali-kali sama Mba Nikki, tahu kan? Sih penulis The Transporter itu loh.

Bahas ending dari Luhan bunuh diri dengan pil euthanasia. Yoona nabrak dirinya sendiri terus donorin apasih itu sumsum tulang belakang buat Luhan. Maaf, kalo masalah penyakit Luhan itu kurang detil disini. Saya males cari info apa aja jenis kanker, sebab, akibat, dan segala tetek bengeknya.

Udah cukup capek cari begituan bakal FF Unbreakable. Btw…………ada yang demen FF incest? Elevenoliu punya ide incest nih! Ada yang mau? Kalau eyke sih demennya Lu-Yoon ya. Bukan karena aku ini fawn akut tapi mereka cocok aja dijadiin kakak-adik (well, ini ikutin pendapat orang sih)

Btw, ada yang tahu moment Luyoon? Aku ada buat gifnya nih, di cek yuaaaaak!

LuYoon

Ini moment pas Incheon Korean Music Wave yang mereka ngobrol pas lagi jalan ke belakang panggung. Yang ngeselin itu lampunya mati dan TERNYATA YOONA NEPUK PUNDAK LUHAN ASTAGA GAK KELIATAN DARI SEGALA MACAM GIF YANG UDAH DIBUAT OLEH ORANG-ORNAG DAN DARI FANCAM INI TERNYATA KELIATAN.

Oke maafin gua, kalian tahu kan gua fawn akut. Btw, FF ini sebenarnya buat ultah Yoona sih tapi…..ke pending 2 bulan astaga maafin!

55 thoughts on “[3rd-END] Loyal

  1. Daebak.. Sad ending.. Aku gereget sama yoona eonnie.. Gak peka apa? Jadi ginikan.. Nyesel cuma bisa menikmati dalam waktu yang singkat.. Keep writing..

    Annyeong^^

  2. Tuh kan Luhan nya meninggal T,T
    Wahh Yoong eon setia banget yakk!🙂
    Buat epep Luyoon lagi yah thor, kalo nggak epep about Yoona. Terserah cast cowoknya siapa🙂
    Fightingg!!

  3. omo!! udah END? gak rela/?/
    walaupun luhannya pergi/?/ tapi aku tetep seneng bacanya karna akhirnya yoona cinta ke luhan dan ini FF sweet menurut aku thor, masih ingat banget pas awal-awal gimana ketusnya yoona eh luhan malah tetep jahil/?/ tapi itu yang bikin lucu, belum lagi nyeseknya pas tahu si luhan punya sakit, syukurnya LuYoon tetep bertahan >.<keep.writing

  4. Demi Luhaaannn, itu kenapa Luhannya meninggaal, aaa tidak *bantinglaptop
    Sad ending T.T, kenapa Luhan nya dibikin meninggal thor, kasian yoona huee. aku ngga terima. Sumpah ni ff bikin aku aku nangis. Daebak thor.

  5. Demi kerang laut yang warnanya pink!!! itu lulu kenapa meninggal😥 *kiss lulu* #Plak *ditabok chanyeol*

    qw sukaaa “incest” pakek buangettttt eon~😀 apalagi klo maincast-nya LuYoon

    gilaaa… qw makin ngefly keantariksa bareng chanyeol, wktu baca luyoon fact auuu saranghaeyo nan neugdaego neon minyeo #Plak

    ditunggu next ff ne😉 LuYoon incest lagi dong…😀 ditunggu loh… mian telat baca #Plak

  6. kyaaa itu moment ternyata yoonanya nepuk yoona nepuk..AAAAAA. emg ga keliatan di gif yg sbelumnya ternyata yg ini keliatan! AAAA FF NYA JUGA BAGUS AAAAA

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s