What is it?

PicsArt_1406695718630-1

 Presented by Cicil

Yoona as main cast

Luhan and Luna as support cast

Genre : Creepy, Mystery, Suspense, Horror

Disclaimer: cerita ini terinspirasi dari cerita supupu saya.

 

Aku terjebak di sini. Oh, sial sekali rasanya.

Hanya karena dompet kosong, kulkas kehabisan makanan, dan lemari penyimpanan tidak lagi menampung beberapa ramen–aku harus bekerja.

Setelah memilah-milah dengan baik. Berpikir cukup masak, keputusan menjadi babysitter sementara tidak buruk juga. Kebetulan, orang tua Luhan dan Luna sedang bekerja ke luar kota. Kebetulan sekali juga, aku datang mencari pekerjaan dan mereka menerimaku langsung.

Ini sudah hari ke-empat aku menempati rumah besar berlantai tiga, dengan ukiran-ukiran khas Yunani di tembok gadingnya. Mengurus dua anak sekaligus tampak begitu sulit bagiku pada awalnya. Tapi Luhan dan Luna adalah anak kembar terbaik selama aku merasa. Mereka penurut, sedikit sering mengerjaiku–mencelupkan handuk mandi miliku ke pewarna cat air–misalnya. Namun, mereka terlampau mudah untuk diajak tidur.

Setelah memberi kedua anak umur tujuh tahun ini makan. Kami bertiga gegas menuju lantai dua–kamar mereka.

“Nuna Yoona,”

Tiba-tiba saja suara kecil milik Luhan menyambangi telingaku seraya tarikan-tarikan halus tangannya pada ujung bajuku.

“Ya, sayang?”

“Aku mau segelas susu hangat,”

“Untuk membantumu tidur?”

“Iya,”

Kami sampai di kamar, aku menyuruh mereka duduk sebentar di karpet dan menonton teve. Sementara kedua belah tungkai ini mulai kembali menuruni tangga. Berkunjung ke dapur untuk sekedar menyeduh segelas susu. Sakelar-sakelar lampu masih setia menerangi. Namun sepi lebih memdominasi buat bulu-kuduku meremang tidak jelas. Rumah ini terlampau besar untuk empat orang saja. Aku bahkan tidak tahu harus mulai membersihkan ruangan-ruangan mulai dari mana.

Lekas-lekas aku menyeduh air panas, memasukan bubuk susu ke dalam gelas dan mengaduknya selagi berjalan menuju kamar. Tidak, aku sama sekali tidak terbiasa dengan suasana seperti ini.

Sepi adalah musuh utamaku guna memunculkan secercah ketakutan dalam hati.

Ceklek!

“Ayo cuci muka dan kaki kalian, dulu.”

Ya ampun, mereka berdua sedang rebutan boneka Angry Bird merah rupanya. Buat kepalaku makin pusing bukan kepalang.

“Aku hanya meminjamnya!”

“Tetap saja tidak boleh!”

“Dasar pelit!” “Tidak peduli,”

“Jelek!”

“Apa? Jelek? Mukamu tuh yang buruk rupa!”

“Aku sedang berbicara dengan nuna, bukan dengamu.”

“Kauuuu… menyebal–”

Aku harus cepat-cepat memisahkan atau akan ada acara cakar-cakaran rambut dan tangisan memerah. Hal itu cukup terjadi dua kali saja.

Lantas, segera aku menarik kedua lengan mereka. Menyatukan keduanya dalam paduan air hangat untuk mencuci muka. Lalu menggantikan baju tidur dan naik ke atas ranjang.

Peraturan dari Nyonya Xi adalah aku boleh bebas melakukan apapun asal tidak membahayakan setelah menidurkan mereka berdua.

Setelah setengah jam menepuk-nepuk lengan mereka, antarkan keduanya pada mimpi indah. Lagi Luna tampak tidak bisa tidur dan secuil ketakutan menggerling dalam irisnya. Mungkin karena langit lebih gelap dari biasanya, pun aku juga resah sesaat semenjak menyeduh susu. Aku membutuhkan waktu sedikit lama dari biasanya. “Tidur yang nyenyak ya, Luna.” Rambut panjangnya ikut bergoyang seraya kepalanya mengangguk. Aku tersenyum, kendati beberapa menit kemudian dengkuran kecil dari hidungnya terdengar begitu menenangkan.

Tenang.

Satu kata paling deskriptif untuk perasaan ini. Aku turun dari ranjang mereka. Duduk di karpet, sekedar menyalakan teve dengan volume kecil. Pikirku, bersantai sedikit sebelum tidur bukan masalah besar’kan? Di sela berisiknya percakapan kedua tokoh dalam teve. Aku masih dapat mempertajam suara aneh dari ujung sana.

Kresek, kresek!

Jantung ini sepertinya sudah jatuh ke perut. Terasa begitu mendebar, bahkan aku bisa mendengarnya. Tanganku lepas mencengkram remote teve, hingga buku-buku jemariku memutih. Mataku beralih dari layar persegi, coba menilik ke sudut sebelah tenggara di belakangku. Pojokan itu tampak gelap, tersendiri lewat remangan lampu kuning.

Kresek, kresek!

Mungkin tikus rumahan berwarna abu-abu kecokelatan sedang mencari makan di sana. Lantaran bunyi suaranya terdengar seperti dorongan dan gesekan. Dua tungkaiku lantas berdiri, memacu waspada untuk sampai di sana. Harus ada sesuatu yang dipastikan di sini.

Tap. Tap. Tap.

Makin mendekati. Mengeliminasi jarak. Aku meraih segenggam buku anak-anak di nakas terdekat. Memulungnya sampai berbentuk suatu tongkat kecil. Bersiap jika saja ada penjahat mengumpat di baliknya. Sementara tangan satunya lagi meraba-raba dinding untuk mendapat penerangan lebih.

Tek!

“AAAAAAAAAAAAAAAAAA”

Kesepuluh jariku langsung membekap mulut. Supaya si teriakan histeris tidak mengganggu tidur Luhan dan Luna. Sang buku tebal telah jatuh timbulkan bunyi berdebam cukup keras. Lampu telah menyala lebih terang. Memperlihatkan sudut bersembunyi tersebut.

Napas ini tidak bisa diatur. Terus menderu, sambil mataku menatap satu-satunya benda yang ada di hadapan.

Sebuah boneka badut. Rambut ikal kecil warna pelangi. Senyum tiga jari dalam lipstik merah menyala. Kostum baju polkadot warna delima. Tidak ada yang aneh–kecuali matanya–, Anak-anak suka badut dan mungkin dua anak kembar itu juga menggemarinya hingga mereka membeli boneka setinggi satu setengah meter dan menaruhnya di sini.

Aku berbalik, tanpa mematikan lampu pada area tersebut, ingin segera kembali duduk di karpet dan janjiku adalah tidak akan menajamkan telinga lagi, cukup fokus pada film di teve.

Namun mata itu. Mata badut itu, kelihatan melototiku. Terasa mengawasiku walaupun aku sudah tidak mengubrisnya lagi. Gelisah mulai merambangi jiwa. Keringat dingin tak ayal keluar dari pori-pori kulit. Aku meremas kedua tanganku yang basah.

Ini aneh. Seperti badut itu akan mencengkramku lalu memakanku hidup-hidup dari belakang. Tapi secuil malaikat membisikan sesuatu padaku. Tidak apa, mungkin ini hanya aku saja yang terlalu parno. Sebenarnya badut itu hanya boneka dan dia tidak akan menelanku.

Acap kali, aku dengan lugas menekan nomor ponsel Nyonya Xi, guna menggambarkan padanya sesuatu yang aku ragukan.

“Nyonya, maaf. Tapi badut milik Luhan dan Luna di ujung sana membuatku tidak bisa tidur.”

“Badut? Ada badut di mana?”

“Di sudut kamar anak-anak, matanya besar sekali.”

“Oh, tidak apa-apa. Jangan ketakutan, tetap tenang dan berpikir positif. Sekarang, dengarkan aku baik-baik. Bawa anak-anak ke rumah tetangga sebelah, bilang pada mereka aku menitipkannya hingga besok pagi. Tidurlah bersama anak-anak di sana, aku akan segera kembali besok.”

Aku mengikuti kata-katanya, berusaha mengatur napasku. Kendati aku masih setia mendengar perintahnya. Dalam sekali kedip, aku mengerti. Meskipun tidak tahu apa alasannya. Aku menggendong Luna dalam pelukan. Sedikit mengorbankan Luhan karena aku membangunkan tidurnya dan menggandengnya saja.

Kami bertiga pergi mengetuk pintu tetangga sebelah. Secuil malu mencuat dalam hati lantaran aku telah mengganggu kedua suami-istri muda tersebut malam-malam begini. Untungnya mereka menerima dengan lapang hati, menunjukan padaku letak kamar tamunya.

Keesokan paginya, Tuan dan Nyonya Xi datang subuh sekali. Mereka dengan raut khawatir memeluk kedua anaknya, pun memastikan bahwa kami baik-baik saja.

Maka tanda tanya besar setia bersemayam dalam pikirku. Aku lantar menagih penjelasan pada Nyonya Xi.

“Sebenarnya ada pembunuhan tanpa alasan yang beberapa kali terjadi belakangan ini. Anak-anak juga mengeluhkan padaku bahwa mereka merasa risih akan adanya sosok badut di kamar. Padahal kami tidak pernah membelikan mereka boneka badut.”

Jadi mungkin, badut yang aku anggap boneka itu bukan adanya? Lantas…

Fin–

 

Note: ini pertama kali aku bikin fiksi bergenre seperti ini dan pertama kali juga aku nulis satu fanfiksi di hp langsung. Tanpa edit edit lagi di lepi. So sorry kalo ceritanya nggak serem sama sekali-_- sama sda typo wkwkwkk. Thankyou for reading and comment are really welcome!

41 thoughts on “What is it?

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s