3 Wishes

chanzio3_500url3

3 Wishes

by cloverqua | main cast Im Yoona – Park Chanyeol

genre Romance – Sad | rating PG 15 | length Oneshot

disclaimer This fanfiction is purely my own. Cast belong’s God. I just borrowed the names of characters and places. Don’t plagiat this FF! Please keep RCL!

Happy reading | Hope you like it

2014©cloverqua

 

Gadis itu menatap nanar ke arah lelaki di depannya. Lelaki yang terbaring lemah tak berdaya, dengan dikelilingi peralatan medis di sekitar ranjang. Air mata gadis itu terus mengalir, seolah tiada henti. Ia baru saja kembali dari Jepang, hanya untuk menemui lelaki tersebut. Sayang, ia justru mendapati kenyataan pahit bahwa lelaki itu dalam kondisi kritis. Sudah 1 bulan, lelaki itu terbaring dalam kondisi koma.

Gadis itu—Im Yoona—masih ingat saat beberapa jam lalu, ia menyambangi rumah lelaki tersebut. Ia hanya bertemu dengan kakaknya, Park Yura. Dari wanita itulah, ia mengetahui jika Park Chanyeol—mengalami masa koma akibat kanker otak yang dideritanya.

Tangan Yoona meraih tangan Chanyeol yang terkulai lemah. Gadis itu menahan isak tangis sambil menutup mulutnya. Tangan lelaki itu terasa dingin. Yoona menggenggam tangan Chanyeol dengan kedua tangannya. Ia usapkan perlahan, berharap bisa memberikan kehangatan untuknya.

“Kau merasa dingin?” tanya Yoona lirih. Kemudian menatap wajah Chanyeol yang terlihat pucat pasi dengan masker oksigen yang terpasang. Keheningan kembali melanda ruang tempat Chanyeol dirawat. Hanya terdengar suara mesin kardiograf, yang menambah suasana di ruangan tersebut kian memilukan.

“Mau sampai kapan kau tidur terus, Yeol?” tanya Yoona lagi. Ia tak peduli apakah Chanyeol akan mendengarnya atau tidak. Yoona hanya ingin berbicara sepuasnya, setelah ia kembali ke Seoul untuk menepati janjinya pada Chanyeol.

Yoona semakin menunduk dalam, “Yeol, aku sudah datang. Apa kau tak ingin menyambut kedatanganku?”

Seperti yang sudah diduga, tak ada respon yang terdengar dari Chanyeol. Hal itu membuat hati Yoona terasa sakit. Kenyataan pahit ini begitu menyayat hati Yoona.

Chanyeol, sosok lelaki yang begitu ceria dan hangat di mata Yoona. Lelaki itu adalah sahabat terbaik Yoona sejak keduanya duduk di bangku SMA sampai mereka menamatkan kuliah mereka. Meski berpisah jarak lantaran Yoona melanjutkan pendidikannya di Jepang, keduanya terus berkomunikasi satu sama lain. Terakhir kali mereka bertemu, 3 bulan yang lalu saat Yoona kembali dari Jepang, untuk mencari kekasihnya yang menghilang.

Tidak disangka, pencarian Yoona justru berakhir menyedihkan. Yoona harus menerima kenyataan bahwa sang kekasih—Kris Wu, telah resmi bertunangan dengan teman kuliah Chanyeol—Jung Jessica. Yoona begitu terpukul dan sangat sedih. Ia sampai menangis semalaman dalam pelukan Chanyeol.

Yoona masih ingat. Saat itu Chanyeol benar-benar perhatian padanya.

.

.

.

“Bagaimana bisa dia melakukan ini padaku, Yeol? Bagaimana bisa?” teriak Yoona histeris.

Chanyeol hanya terdiam dan membiarkan Yoona menangis dalam pelukannya. Wajah lelaki itu tampak geram dan juga iba atas apa yang menimpa sahabatnya. Ia sendiri bisa merasakan apa yang tengah dirasakan Yoona. Chanyeol bukan hanya merasa sedih, tapi juga sangat marah. Ia tak terima dengan perlakuan Kris, mantan kekasih Yoona, yang begitu tega mengakhiri hubungan itu secara sepihak.

Setidaknya Chanyeol bisa meluapkan amarahnya dengan melayangkan satu pukulan pada Kris. Ia tahu sikapnya itu tidak akan pernah menggantikan rasa sakit di hati Yoona. Tapi lelaki itu pantas menerimanya.

“Lupakan dia. Dia tidak pantas untukmu. Benar-benar tidak pantas,” ujar Chanyeol sambil membelai surai hitam Yoona dengan lembut.

“Ini terlalu sulit. Aku tidak tahu, bagaimana aku bisa melewati ini semua,” sahut Yoona dengan isak tangis.

Chanyeol mendekatkan wajahnya dengan kepala Yoona, “Ada aku di sini. Kau jangan khawatir. Aku akan selalu berada di sisimu, Yoong.”

Tangis Yoona kembali pecah. Ia tumpahkan semua emosinya dalam pelukan Chanyeol yang dipenuhi kehangatan.

.

.

.

Wajah Yoona terlihat murung saat masa-masa kelam itu kembali terlintas dalam kepalanya. Ia mengusap air matanya perlahan. Lalu memandangi Chanyeol di depannya. Yoona mencoba untuk tersenyum, walau terlihat sangat dipaksakan. Ia senang Chanyeol selalu berada di sisinya. Lelaki itulah yang selalu menguatkannya dan membantu Yoona untuk melewati hari-hari terburuknya. Membantu Yoona untuk bangkit dan kembali menata masa depannya.

.

.

.

“Kau sudah banyak membantuku. Terima kasih, Yeol,” ucap Yoona senang.

Chanyeol tersenyum, lalu memeluk Yoona dengan erat, “Sudah kubilang, aku akan selalu berada di sisimu.”

Yoona melingkarkan tangannya di pinggang Chanyeol, “Aku senang mempunyai sahabat sepertimu, Yeol. Sekali lagi terima kasih.”

Gadis itu tak menyadari ada perubahan raut wajah Chanyeol saat kata ‘sahabat’ meluncur bebas dari mulutnya.

“Hanya ucapan saja? Kau tidak ingin memberikanku sesuatu atas apa yang telah kulakukan?” tanya Chanyeol memelas.

Yoona terkekeh, “Baiklah. Sebutkan 3 permintaanmu. Akan kukabulkan.”

“Seperti jin lampu saja,” balas Chanyeol justru meledek.

Yoona mengerucutkan bibirnya kesal, “Kau mau atau tidak? Jika tidak mau, aku tarik ucapanku tadi.”

Chanyeol mengangguk-angguk dan menarik tangan Yoona saat gadis itu hendak pergi. Lelaki itu tersenyum, “Tentu saja aku mau.”

Yoona duduk kembali di sebelah Chanyeol, “Baiklah, apa permintaanmu yang pertama?”

Chanyeol tampak berpikir keras. Sesekali ia memutar bola matanya sambil memijat dahi. Yoona masih menunggu lelaki itu menyebutkan permintaan pertamanya. Gadis itu tersenyum geli melihat ekpsresi wajah Chanyeol.

“Aku tidak bisa mengatakannya sekarang. Ini terlalu mendadak,” jawab Chanyeol. “Beri aku waktu untuk berpikir.”

.

.

.

Yoona tersenyum tanpa sadar setiap kali mengingat moment manis yang dilaluinya bersama Chanyeol. Perhatian yang diberikan Chanyeol, seolah membuka mata hati Yoona bahwa gadis itu mulai jatuh cinta pada sahabatnya sendiri. Tapi, Yoona belum sempat mengakuinya. Saat itu ia harus kembali ke Jepang, usai menyelesaikan masalahnya dengan sang mantan kekasih.

.

.

.

“Kapan kau akan kembali ke Seoul?” tanya Chanyeol dengan bibir merengut. Wajahnya terlihat menekuk, memperlihatkan betapa ia tak rela Yoona kembali ke Jepang.

Yoona mengalihkan perhatiannya dari paspor dan tiket pesawat yang dipegangnya. Ia memandangi Chanyeol yang masih menunduk dalam.

“Aku tidak tahu,” jawab Yoona ringan. “Memangnya kenapa?”

Chanyeol mendongak, “Kau berhutang 3 permintaanku yang harus kau penuhi. Kau ingat?”

Yoona terdiam sejenak. Lalu menepuk pelan keningnya, “Benar juga. Kenapa kau tidak segera memberitahuku? Kemarin masih ada waktu seminggu saat aku masih tinggal di rumahmu.”

Chanyeol akui, ia menyesal lantaran tidak segera memberitahu Yoona untuk memberitahu 3 permintaannya, “Aku lupa. Maaf.”

Yoona mengerucutkan bibirnya kesal, sambil merapikan rambutnya, “Ya sudah, cepat beritahu permintaan pertamamu.”

Chanyeol kembali diam. Pandangan matanya terus mengitari sekeliling bandara. Lelaki itu tersenyum menyeringai, “Aku ingin, kau segera kembali ke Seoul dalam waktu kurang dari 3 bulan.”

Yoona menoleh kaget, “Aku tidak janji bisa menepatinya, Yeol.”

Chanyeol menggelengkan kepalanya sambil merangkul Yoona, “Tidak. Pokoknya kau harus menepatinya. Ini permintaan pertamaku dan kau harus mengabulkannya.”

Yoona menelan salivanya dan mengangguk pelan, “Baiklah. Lalu apa permintaan keduamu?”

“Akan kuberitahu setelah kau kembali ke Seoul,” jawab Chanyeol tersenyum.

.

.

.

Kristal bening itu kembali mengalir membasahi wajah cantik Yoona. Ia begitu terpukul dengan kondisi Chanyeol.

“Yeol, kenapa kau masih diam saja?” tanya Yoona kembali menggenggam erat tangan Chanyeol. Matanya memerah dan berkali-kali Yoona terisak.

“Bukankah kau seharusnya memberitahu permintaan keduamu,” kepala Yoona semakin menunduk. Gadis itu menangis di samping tubuh Chanyeol yang terbaring lemah di atas ranjang.

“Kalau saja aku datang lebih awal, aku pasti sudah mendengar permintaan keduamu . . .”

.

.

.

“Apa yang terjadi dengan Chanyeol, eonni?” tanya Yoona pada Yura, kakak perempuan Chanyeol. Yoona baru saja tiba di rumah Chanyeol setelah menaiki penerbangan dari Jepang. Kedatangannya memang terlambat dari permintaan pertama yang dilontarkan Chanyeol. Yoona baru kembali ke Seoul setelah sebelumnya pergi ke Jepang selama 4 bulan.

Yura tidak menjawab. Wanita itu hanya terdiam dan semakin menunduk dalam.

“Jawab pertanyaanku, eonni! Apa yang terjadi dengan Chanyeol?” tanya Yoona kian panik saat Yura justru menangis.

Yura menggenggam erat tangan Yoona, “Chanyeol—dia mengidap kanker otak, Yoong.”

“A—a—apa? Kanker otak?”

“Sudah 3 minggu, dia terbaring koma di rumah sakit. kondisinya kritis,” lanjut Yura. “Dokter bilang, sudah tak ada harapan lagi bagi Chanyeol untuk sembuh.”

“Tidak, itu tidak mungkin . . .” Yoona mulai panik dan kehilangan kendali. Yura berusaha menenangkan Yoona sambil memeluk gadis itu.

“Tidak mungkin, eonni. Tidak mungkin!” teriak Yoona histeris. Gadis itu menangis keras dalam pelukan Yura. Ia sangat terpukul dengan fakta yang baru saja diketahuinya dari Yura.

.

.

.

Yura berjalan mendekati kursi yang diduduki Yoona. Sesekali ia memperhatikan kondisi sang adik yang belum menunjukkan perubahan. Tangan Yura dengan lembut mengusap pundak Yoona. Sampai berhasil membuat gadis itu menoleh padanya.

Eonni, dia akan baik-baik saja kan?” tanya Yoona mulai frustasi. Belum ada 2 jam, Yoona berada di ruangan Chanyeol. Namun hati gadis itu semakin kalut. Ia takut, tidak memiliki waktu banyak untuk memenuhi 3 permintaan Chanyeol.

Yura tersenyum tipis, “Adikku sangat kuat, Yoong. Chanyeol pasti baik-baik saja.”

Yoona mengangguk, lalu kembali menundukkan kepalanya di atas ranjang Chanyeol. Sementara Yura hanya menghela nafas pelan sambil memandangi sekeliling ruangan. Saat Yura kembali memperhatikan Chanyeol, ada sebuah kejadian yang membuat matanya membulat sempurna. Wanita itu melihat jari tangan Chanyeol mulai bergerak.

“Yoong, lihat jari Chanyeol bergerak!” teriak Yura sambil menepuk pundak Yoona.

Yoona mendongak, melihat ke arah yang diserukan Yura. Gadis itu pun menunjukkan reaksi yang sama. Ia bahkan sampai tak berkedip ketika melihat gerakan jari tangan Chanyeol. Ia juga bisa melihat ada pergerakan mata dari lelaki tersebut. Yoona segera meraih tangan Chanyeol.

“Yeol?” Yoona mencoba memanggil Chanyeol. Memeriksa apakah Chanyeol benar-benar sudah sadar dari masa komanya.

Tuhan akhirnya telah mengabulkan doa Yoona. Perlahan mata Chanyeol terbuka. Berkali-kali lelaki itu mengerjapkan matanya sebelum ia menoleh ke arah Yoona.

“Chanyeol?” Yoona tak kuasa menahan tangis saat melihat Chanyeol sudah sadar. Sementara Yura segera berlari keluar untuk memanggil dokter.

“Yo—Yoona?” suara Chanyeol terdengar sangat pelan.

Ne, ini aku. Ini aku, Im Yoona,” sahut Yoona. “Kau masih mengenaliku?”

Walau wajahnya terlihat pucat dan tenaganya masih lemah, Chanyeol tetap berusaha untuk tersenyum pada Yoona. Lelaki itu mengangguk pelan.

“Maaf aku datang terlambat,” ujar Yoona merasa bersalah. Buliran air matanya kian membanjiri wajahnya.

“Tak apa,” ucap Chanyeol dengan volume suara yang kecil. “Setidaknya—kau sudah datang menemuiku.”

Yoona menutup mulut, berusaha menghentikan tangisnya tapi selalu gagal. Gadis itu bangkit dari kursi yang didudukinya. Ia dekatkan wajahnya ke arah Chanyeol. Tanpa ragu, Yoona mendaratkan satu kecupan tepat di kening lelaki itu.

.

.

.

“Ini sungguh sebuah keajaiban . . .”

Yura mengernyitkan dahi saat menemui Dokter Han, dokter yang menangani kondisi Chanyeol.

“Maksud—Dokter?”

“Seperti yang pernah kukatakan sebelumnya, harapan Chanyeol untuk bertahan hidup sangatlah tipis,” lanjut Dokter Han. “Tapi, aku tidak menyangka jika dia masih bisa bertahan sampai saat ini. Kondisinya cukup baik. Chanyeol bahkan tidak memerlukan alat bantu pernafasan seperti sebelumnya.”

Yura tersenyum lega, namun sesekali wajahnya masih terlihat cemas. “Lalu—sampai kapan dia akan bertahan, Dokter Han?” tanyanya.

Dokter Han menggeleng pelan, “Aku tidak tahu, berapa lama lagi Chanyeol akan bertahan. Kanker yang menyerang otaknya sudah sangat parah. Tak bisa disembuhkan bahkan melalui operasi sekalipun.”

“Seharusnya dari dulu Chanyeol segera melakukan operasi. Tapi dia malah menolak,” ucapan Dokter Han membuat Yura terpukul.

“Benarkah sudah tidak ada harapan lagi?” tanya Yura tak bisa menahan kesedihannya.

Gelengan pelan dari Dokter Han membuat Yura harus kembali menelan kenyataan pahit dalam hidupnya. Ia harus melihat orang-orang yang dicintainya pergi dari dunia ini. Sebelumnya, Yura telah kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan. Kini Yura harus siap kehilangan Chanyeol, adik yang sangat disayanginya.

.

.

.

Yoona terus berjaga di samping ranjang Chanyeol. Ia tak pernah meninggalkan Chanyeol sedetik pun. Hal itu membuat Chanyeol terus tersenyum memandangi Yoona.

“Ada apa?” tanya Yoona bingung karena Chanyeol terus melihat ke arahnya.

Chanyeol menggeleng, “Aku sangat senang. Rasanya seperti mimpi, kau ada di dekatku seperti ini.”

Yoona bisa merasakan hawa panas di pipinya. Gadis itu mengulum senyum dan tersipu. Ia menggenggam tangan Chanyeol, “Mulai sekarang, aku akan terus berada di sisimu.”

Chanyeol tersenyum sumringah. Ia turut mengeratkan genggaman tangannya pada Yoona. Lalu mengecupnya perlahan.

“Kau masih ingat, jika aku sudah kembali ke sini, kau akan memberitahu permintaan keduamu?” tanya Yoona.

Chanyeol mengangguk, “Tentu. Aku tidak lupa. 3 permintaan itu sudah aku tulis di sebuah kertas. Tapi, aku tidak mau menunjukkannya padamu.”

Raut wajah Yoona berubah, “Kenapa?”

“Aku lebih senang mengatakannya langsung padamu,” jawab Chanyeol terkekeh.

Yoona tidak membalas ejekan Chanyeol. Entah kenapa, keinginan untuk membalas sikap jahil yang biasa Chanyeol berikan padanya, hilang seketika saat gadis itu memandangi wajah pucat Chanyeol.

“Kenapa diam saja?” Chanyeol rupanya menyadari perubahan wajah Yoona. Gadis itu hanya menggeleng dan membuat Chanyeol sedikit kecewa.

“Yoong, bisakah kau tetap bersikap seperti biasa?” tanya Chanyeol dan sukses mengejutkan Yoona.

“Aku lebih suka Yoona yang ceria. Yoona yang tidak pernah takut membalas setiap ulah jahil yang kulakukan. Yoona yang selalu bisa membuat hari-hariku dipenuhi tawa dan canda. Aku lebih suka kau yang seperti itu,” lanjut Chanyeol.

Yoona bisa merasakan matanya yang berair. Ia tahu, ia harus bersikap biasa. Tapi nyatanya tidak semudah yang ia kira. Terlalu sulit bagi gadis itu untuk bersikap seolah tidak ada apa-apa dengan kondisi Chanyeol. Lelaki itu sakit parah dan itu fakta yang tidak bisa diabaikan olehnya.

“Bagaimana bisa kau menyuruhku untuk bersikap seperti biasa?” tanya Yoona. Suaranya terdengar serak karena terlalu banyak menangis.

“Kenapa kau rahasiakan ini padaku?” tanya Yoona lagi. Surainya menutupi sebagian wajahnya saat gadis itu menunduk dalam. “Kenapa kau tidak memberitahuku tentang penyakitmu, Yeol? Apakah aku tidak ada artinya sama sekali, sampai kau tega menyembunyikannya dariku?”

Chanyeol terdiam. Matanya menatap lurus ke arah Yoona yang kembali menangis.

“Maaf, aku tidak bermaksud menyembunyikannya darimu. Dan sampai kapanpun, kau sangat berarti bagiku, Yoong,” lanjut Chanyeol.

“Lalu kenapa kau merahasiakannya?!” suara Yoona setengah berteriak.

“Aku hanya tidak ingin kau sedih,” jawab Chanyeol.

“Justru aku sangat sedih karena tidak tahu dari awal,” balas Yoona kesal. Ia tak peduli dengan wajahnya yang dibanjiri air mata. Gadis itu berbalik dan bersiap keluar dari kamar Chanyeol. Melihat reaksi kekecewaan dari Yoona, Chanyeol mencoba bangun dari posisinya. Tapi kondisinya yang belum memungkinkan, justru membuat lelaki itu mengerang kesakitan.

Yoona menghentikan langkah kakinya. Ia tahu Chanyeol kesakitan dan mencoba memaksakan diri. Hal itu membuat hatinya semakin terasa sedih. Gadis itu memutar tubuhnya dan berlari menghampiri ranjang Chanyeol. Ia langsung memeluk lelaki itu dengan sangat erat.

“Yoong?” Chanyeol merasa bersalah karena sudah menyembunyikan penyakitnya dari Yoona. “Maafkan aku.”

Yoona tidak menjawab dan terus menangis dalam pelukan Chanyeol.

.

.

.

Atas permintaan Chanyeol, kini ia sudah kembali ke rumahnya. Chanyeol menolak untuk menjalani rawat inap di rumah sakit. Ia tidak mau menghabiskan waktunya dengan suasana rumah sakit yang membosankan. Chanyeol ingin bersenang-senang dan pastinya harus ia lakukan bersama Yoona.

Yoona membantu Chanyeol berbaring di ranjang kamar. Perhatian yang diberikan gadis itu membuat senyum Chanyeol tak pernah pudar.

“Beristirahatlah,” ujar Yoona setelah menarik selimut yang menutupi sebagian tubuh Chanyeol.

SET! Langkah Yoona terhenti ketika gadis itu ingin keluar dari kamar Chanyeol. Rupanya Chanyeol menahan langkahnya dengan memegang tangan Yoona.

“Ada apa?” tanya Yoona.

“Temani aku sampai tidur,” jawab Chanyeol.

“Apa?” Yoona melebarkan matanya dan menatap kaget pada Chanyeol.

Chanyeol tersenyum jahil, “Aku tidak bisa tidur jika tidak ada kau di sisiku.”

Semburat rona merah itu kembali menghiasi wajah Yoona. Permintaan Chanyeol tersebut berhasil membuat jantung Yoona berdegup kencang.

“Naiklah. Aku ingin tidur dengan merasakan belaianmu,” lanjut Chanyeol.

Yoona mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Setelah berhasil mengendalikan diri, ia berjalan mendekati ranjang Chanyeol. Kemudian menempatkan diri tepat di sisi Chanyeol. Tangannya mulai membelai kepala Chanyeol dengan lembut.

“Yoong?”

“Hmm?”

“Besok kita pergi berkencan, ne?” tanya Chanyeol kemudian.

Yoona terdiam sejenak, lalu tersenyum geli, “Apa ini permintaan keduamu?”

Ne, ini permintaan keduaku,” jawab Chanyeol terkekeh.

“Baiklah. Besok kita pergi berkencan. Sekarang kau harus tidur dan beristirahat,” sahut Yoona.

Chanyeol tersenyum senang. Tangannya meraih tangan kiri Yoona, lalu menggenggamnya dengan erat. Yoona tidak bisa menahan rasa harunya melihat sikap Chanyeol. Bahkan dalam kondisi seperti ini pun, Chanyeol masih bisa menunjukkan perhatiannya untuk Yoona.

Yoona memberanikan diri untuk kembali mencium kening Chanyeol, saat lelaki itu sudah masuk ke alam mimpinya.

.

.

.

“Dia sudah tidur?”

Yoona terkejut saat mendengar suara Yura. Gadis itu baru saja keluar dari kamar Chanyeol.

Yoona mengangguk, “Ne, dia baru saja tidur, eonni.”

Yura tersenyum senang. Ia menggenggam tangan Yoona dengan erat dan kembali meneteskan air mata. Sikapnya itu mengundang reaksi bingung dari Yoona.

Eonni?

“Aku tidak tahu harus berkata apa,” ucap Yura terisak. “Bisakah, kau terus mendampinginya? Tetaplah berada di sisinya, Yoong.”

Yoona terdiam. kepalanya menunduk dalam dan lagi-lagi ia merasakan matanya yang berair, “Benarkah, tidak ada harapan lagi bagi Chanyeol untuk sembuh.”

“Kalau saja Chanyeol bersedia menjalani operasi, mungkin dia bisa lolos dari penyakit itu,” jawab Yura mengejutkan.

Yoona tercengang, “Chanyeol menolak untuk menjalani operasi?”

Yura mengangguk, “Aku tidak tahu apa alasannya. Tapi, dia benar-benar menolak keras untuk menjalani operasi itu.”

Yoona memandangi tangan Yura yang kembali menggenggam tangannya.

“Bisakah kau mengabulkan permintaanku, Yoong?” tanya Yura lagi.

Anggukan pelan dari Yoona membuat kakak perempuan Chanyeol itu tersenyum lega. Ia langsung memeluk Yoona dengan sangat erat.

“Terima kasih, Yoong,” ucap Yura senang.

Yoona hanya tersenyum. Mencoba bersikap tegar namun apa daya, hatinya tidak sama dengan apa yang terlihat di wajahnya. Jauh dalam hati Yoona, ia begitu rapuh dan takut dengan datangnya hari itu. Hari di mana Chanyeol akan meninggalkan kehidupan dunia ini.

.

.

.

.

.

.

“Kau sudah siap?” tanya Chanyeol dan dibalas anggukan Yoona.

Chanyeol dan Yoona baru saja tiba di taman hiburan kota Seoul. Wajah keduanya tampak sumringah. Mata mereka terus memandangi suasana ramai di sekitar mereka. Sesuai permintaan Chanyeol yang kedua, hari ini Yoona menyanggupi ajakan kencan dari lelaki tersebut.

“Hari ini, kita harus bersenang-senang sepuasnya,” lanjut Chanyeol mengedipkan mata.

Yoona terdiam sejenak saat memandangi wajah Chanyeol. Sampai akhirnya ia mengangguk lagi dan tersenyum senang.

Kajja . . .” Chanyeol menarik tangan Yoona dan menggandeng gadis itu masuk ke dalam taman hiburan kota Seoul.

Keduanya berlari menyisiri berbagai wahana permainan yang ada. Yoona yang semula masih diliputi kekhawatiran terhadap kondisi Chanyeol, perlahan mulai larut dalam kebersamaan mereka. Ia tepiskan sejenak rasa khawatirnya dan fokus menikmati keceriaan yang dilaluinya bersama Chanyeol.

“Kita naik itu,” ajak Yoona sambil menunjuk ke wahana perahu kora-kora. Chanyeol tersenyum dan mengangguk. Ia senang akhirnya Yoona bisa bersikap lepas dan sangat menikmati kebersamaan mereka.

Terlalu asyik dengan wahana yang ada, mereka tak menyadari jika hari mulai senja. Keduanya sepakat untuk menaiki wahana terakhir, bianglala.

Bianglala itu mulai bergerak setelah mereka menaiki salah satu dari sekian benda yang berbentuk mirip seperti sangkar burung. Chanyeol memilih duduk di salah satu kursi, sementara Yoona masih asyik berdiri dengan melihat pemandangan kota Seoul yang sangat cantik saat menjelang malam.

“Kau senang?” tanya Chanyeol membuyarkan keasyikan Yoona.

Yoona menoleh dan tersenyum, “Seharusnya aku yang bertanya padamu. Apa kau senang?”

Chanyeol mengangguk, “Tentu saja aku senang. karena aku menikmatinya denganmu, Yoong.”

Wajah Yoona memerah saat Chanyeol kembali tersenyum padanya. Sebelumnya Yoona sempat lupa jika mereka hanya berduaan saja dengan Chanyeol. Kini setelah mengingatnya, jantung Yoona kembali berdebar-debar.

Yoona mengusap-usap kedua tangannya dan berjalan untuk duduk. Tiba-tiba, bianglala terhenti karena ada penumpang lain yang hendak naik. Karena kaget, Yoona tidak siap sehingga keseimbangannya goyah. Tanpa sengaja gadis itu langsung jatuh ke arah Chanyeol dan terduduk di pangkuannya. Wajah keduanya sangat dekat dengan bibir mereka yang nyaris bersentuhan.

Yoona segera bangkit dari Chanyeol dan memilih duduk di sebelahnya. Ia merapikan rambutnya dan berusaha menutupi wajahnya yang memerah. Gadis itu merasa canggung dan kikuk dengan apa yang baru saja mereka alami. Chanyeol juga menunjukkan reaksi yang tak jauh berbeda dari Yoona. Keheningan kembali melanda keduanya.

“Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?” tanya Chanyeol akhirnya bersuara.

Yoona mengangguk, “Katakan saja.”

“Kita sudah saling mengenal hampir 7 tahun,” ucap Chanyeol. “Di matamu, apakah aku hanya kau anggap sebagai sahabat?”

Yoona menelan saliva-nya. Gadis itu masih terdiam dan terlihat tidak siap untuk menjawabnya.

“Jawab pertanyaanku, Yoong,” pinta Chanyeol.

“Kenapa kau bertanya seperti itu?” tanya Yoona penasaran.

Chanyeol tersenyum, “Karena—aku tidak hanya menganggapmu sebagai sahabat. Perhatian yang selama ini kuberikan padamu, bukan semata-mata karena kau adalah sahabatku. Tapi, karena hatiku yang sangat mencintaimu.”

Yoona tertegun. Ia tidak menduga jika Chanyeol akan begitu mulus mengatakan rentetan kalimat tersebut. Secara tidak langsung lelaki itu sudah menyatakan perasaan cintanya pada Yoona.

“Kau tersinggung dengan ucapanku?” tanya Chanyeol merasa bersalah saat melihat perubahan raut wajah Yoona.

Yoona menarik nafas panjang lalu tersenyum pada Chanyeol, “Tidak, aku sama sekali tidak tersinggung. Aku justru senang mendengarnya.”

“Sebelumnya, aku memang masih menganggapmu sebagai sahabat. Kedekatan yang terjadi di antara kita, masih kurasa dalam batas wajar karena persahabatan kita sejak SMA. Tapi, saat kau menghiburku karena perpisahanku dengan Kris, aku mulai menyadari ada perasaan lain dalam diriku,” ucap Yoona. Chanyeol memilih diam dan membiarkan Yoona menyelesaikan ucapannya.

“Aku merasa, kau adalah satu-satunya orang yang selalu berada di sisiku. Kau selalu ada di saat aku membutuhkan tempat untuk bersandar dan meluapkan kesedihanku. Kau selalu ada untuk menghiburku dan menyemangatiku. Hari-hari yang kulalui selalu menyenangkan setiap kali aku bersamamu, Yeol,” lanjut Yoona.

Chanyeol membulatkan matanya dan terus memandangi Yoona.

“Aku sadar, bahwa sebenarnya aku telah jatuh cinta padamu. Aku tidak bisa berpisah sedetik pun darimu. Saat aku melihatmu terbaring tak berdaya, hatiku benar-benar sakit. Aku begitu takut jika harus kehilangan dirimu sebelum aku mengakui perasaan ini padamu,” suara Yoona mulai bergetar.

Chanyeol tersenyum haru dengan penuturan Yoona. Ia biarkan gadis itu memandangi suasana di luar bianglala. Lelaki itu mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah dari saku celananya. Chanyeol membuka kotak tersebut lalu mengambil sebuah cincin yang ada di dalamnya. Ia sematkan cincin tersebut pada salah satu jari tangan Yoona.

Yoona terkejut dengan sikap Chanyeol yang memasangkan cincin tersebut. Terlebih saat lelaki itu mengecup tangannya.

“Yeol?”

Chanyeol tersenyum, “Maukah kau menikah denganku?”

Mata Yoona membulat sempurna. Gadis itu menatap tak percaya ke arah Chanyeol yang masih memperlihatkan senyum terbaiknya.

“Kau—melamarku?” tanya Yoona tak percaya dan dibalas anggukan pelan Chanyeol.

Yoona terdiam sejenak. Disentuhnya cincin yang sudah tersemat di salah satu jari tangannya. Gadis itu menarik sudut bibirnya sampai membentuk lengkungan senyum.

“Apa ini permintaan ketigamu?” tanya Yoona lagi sambil menahan tawa.

Chanyeol mengangguk sambil tersenyum lebar hingga memamerkan gigi rapinya. Yoona bisa merasakan matanya yang berair. Bukan karena ia merasa sedih. Justru sebaliknya, Yoona sangat senang mendengar lamaran yang diucapkan Chanyeol padanya.

“Kau harus menjawabnya sekarang, Yoong . . .” pinta Chanyeol.

Yoona menoleh dengan senyum cantiknya. Ia mengangguk dengan penuh keyakinan, “Ne, aku mau menikah denganmu.”

“Kau sama sekali tidak keberatan dengan kondisiku?” tanya Chanyeol lagi dan sesaat berhasil membuat wajah Yoona terlihat sedih. Namun gadis itu langsung menggeleng keras sambil membelai wajah Chanyeol.

“Bukankah mencintai seseorang harus menerima apapun kondisi mereka?” bibir mungil Yoona kembali melengkung. “Aku pun sama. Tidak peduli bagaimana kondisimu, aku akan tetap menerimamu. Aku bersedia menjadi pendamping hidupmu untuk selamanya.”

Chanyeol yang sedari tadi menahan air matanya tampak tersenyum bahagia. Ucapan Yoona berhasil melegakan hatinya yang sempat dilanda ketakutan. Ia takut Yoona akan menolaknya karena penyakit yang dideritanya. Ternyata Yoona tanpa ragu justru langsung menerima pinangannya.

Chanyeol menarik tubuh Yoona dalam dekapannya, “Terima kasih, Yoong. Aku senang kau bersedia menerimaku.”

Yoona mengusap kedua matanya dan kembali tersenyum. Tangannya memeluk tubuh Chanyeol dengan erat.

“Aku tidak tahu berapa lama aku bisa bertahan,” ujar Chanyeol dan membuat Yoona sedih.

“Tapi, aku berjanji padamu akan membuatmu bahagia,” lanjut lelaki itu dengan senyum khasnya. Yoona mengangguk dan turut tersenyum.

Chanyeol melepas pelukannya. Kini keduanya saling memandang dengan tatapan penuh arti. Mata Chanyeol tertuju pada bibir mungil Yoona yang begitu menggoda. Ia beranikan dirinya untuk mendekatkan wajahnya pada Yoona. Perlahan Yoona memejamkan kedua matanya. Ia tahu apa yang akan dilakukan Chanyeol selanjutnya.

Saat bianglala kembali bergerak, keduanya pun berciuman.

.

.

.

.

.

.

10 years laters

Yoona tengah menyisiri rambut panjangnya di depan kaca meja rias. Senyum cantik itu terus menghiasi wajahnya. Sesekali perhatiannya tertuju pada buket bunga yang ada di dekatnya. Hari ini adalah hari yang sangat special dan Yoona tak ingin melewatkannya.

Eomma!

Yoona menoleh saat mendengar suara keras di kamarnya. Ia tersenyum senang menyadari kehadiran Park Chanhun, putra semata wayangnya dengan Chanyeol.

“Chanhun-ah, apa yang sedang kau lakukan di sini? Bukankah eomma sudah menyuruhmu untuk menunggu di dalam mobil?” tanya Yoona sambil merapikan rambut Chanhun.

Chanhun meringis lebar, “Aku tahu. Tapi, saat aku menemukan benda ini di laci meja ruang tengah, aku tidak bisa pergi begitu saja. Aku harus memberikannya pada eomma.”

Yoona mengernyitkan dahi, “Apa ini?”

Chanhun menggeleng, “Sepertinya sebuah surat untuk eomma. Ada nama eomma tertulis di bagian depan amplop.”

Yoona kembali duduk pada kursinya dan merobek amplop yang diberikan Chanhun. Ia menemukan ada dua lembar kertas di dalamnya. Yoona mengambil salah satu kertas lalu membaca tulisan pada kertas tersebut.

.

.

Untuk Yoona

Kau berhasil menemukan surat ini? Benarkah? Ah, aku tidak percaya. Pasti Chanhun yang menemukannya. Aku tahu benar kebiasaanmu yang tak pernah memeriksa laci meja. Karena itulah aku menyembunyikan surat ini di sana. Aku hebat kan. Ah, tidak. Kurasa Chanhun jauh lebih hebat dariku. Dia berhasil menemukan surat yang ditulis ayahnya untuk ibunya.

Aku menulis surat ini saat kau pergi bersama Chanhun untuk berbelanja, untuk perayaan ulang tahun Chanhun yang ke-2. Jika diingat lagi, aku sungguh tidak menyangka bisa bertahan hidup selama 3 tahun setelah kau kembali dari Jepang. Saat kau melihatku terbaring koma akibat penyakit kanker otak yang menderaku.

Kau pernah bertanya, kenapa aku menolak untuk menjalani operasi. Aku menolak karena aku tidak mau kehilangan sebagian atau seluruh ingatanku akibat operasi yang harus kujalani. Kebanyakan mereka yang menjalani operasi ini, akan kehilangan sebagian atau bahkan seluruh ingatan mereka. Aku tidak mau itu terjadi padaku. Aku tidak mau, melupakan kenangan-kenangan manis yang pernah kita alami. Karena itulah aku memilih untuk pergi dengan membawa semua kenangan yang pernah kita lalui bersama. Menurutku, itu akan jauh lebih membahagiakan daripada aku harus bertahan hidup, tapi tak pernah mengingat wanita yang sangat kucintai.

Aku sadar, bahwa waktuku tidak banyak lagi. Aku sadar bahwa aku tak bisa selamanya untuk berada di sisimu. Awalnya aku khawatir karena takut tidak ada seseorang yang akan menjagamu. Tapi, sekarang aku sudah siap, karena sudah ada Chanhun yang akan menemanimu. Bukankah kau bilang jika dia sangat mirip denganku? Aku yakin, kelak jika dia sudah besar, wajahnya akan tampan sama sepertiku. Tapi kau harus ingat, tetap akulah yang paling tampan di matamu. Camkan itu baik-baik, Yoong.

Apa kau masih ingat dengan 3 permintaan yang pernah kau janjikan padaku? Waktu itu, aku pernah bilang bahwa aku sudah menulisnya di secarik kertas. Kertas itu sudah kumasukkan dalam amplop ini. Kau bisa melihatnya. Aku sudah menandai 3 permintaanku yang sudah kau kabulkan.

Yoong, terima kasih. Kau sudah bersedia mendampingiku sampai nafas terakhirku. Sungguh aku tidak menyangka bisa mendapatkan kebahagiaan terindah sepanjang hidupku. Kini aku harus pergi. Berjanjilah, kau akan hidup bahagia bersama Chanhun. Maaf, aku tidak bisa menemanimu untuk membesarkan Chanhun sampai dia tumbuh dewasa. Tidak bisa menemanimu untuk melihatnya sukses dalam pendidikan ataupun karir, menikah dengan wanita yang dicintainya, bahkan tak bisa melihatnya memberikan cucu untuk kita. Sampaikan permintaan maafku ini untuk Chanhun. Katakan padanya bahwa aku sangat menyayanginya.

Sekali lagi kuucapkan terima kasih. Aku benar-benar beruntung memiliki pendamping hidup sebaik dirimu, Yoong.

Aku mencintaimu

-Park Chanyeol-

.

.

Eomma, kenapa menangis?”

Yoona terkesiap dan segera mengusap air matanya. Ia memeluk Chanhun sambil tersenyum. Dipandanginya wajah sang anak dengan penuh kasih sayang. Perlahan tangan Yoona membelai lembut kepala Chanhun.

“Surat itu dari siapa?” tanya Chanhun penasaran.

“Dari ayahmu,” jawab Yoona tersenyum.

Mata Chanhun berbinar, “Bolehkah aku membacanya?”

Yoona belum merespon permintaan Chanhun. Perhatiannya beralih pada secarik kertas yang dipegang putranya. “Apa yang sedang kau pegang?” tanyanya.

Chanhun menyodorkan kertas itu pada Yoona, “Aku tidak tahu, eomma. Kertas ini ada dalam amplop itu. Eomma menjatuhkannya saat mengambil kertas lainnya.”

Yoona memandangi secarik kertas yang sedikit lusuh di tangannya. Ia tersenyum setelah selesai membaca tulisan dalam kertas tersebut.

Eomma, bolehkah aku membaca surat yang ditulis appa?” tanya Chanhun lagi.

Yoona menoleh dan mengangguk, “Boleh. Tapi, setelah kita mengunjungi ayahmu.”

Chanhun mengangguk senang dan meraih buket bunga yang diletakkan Yoona, “Appa pasti senang jika kita meletakkan bunga ini di dekat makamnya.”

Yoona membelai rambut Chanhun dan tersenyum, “Tentu. Ini kan bunga kesukaan ayahmu, Chanhun.”

Chanhun tersenyum manis sambil memamerkan giginya, “Ayo kita ke sana, eomma. Aku tidak sabar ingin menyapa appa di depan makamnya.”

Yoona tersenyum kecil dan membiarkan putranya menarik tangannya. Sesekali ia memperhatikan kertas yang ditinggalnya di atas meja rias. Senyum bahagia itu kembali menghiasi wajah Yoona.

 

3 whises_kertas

Meskipun kau sudah pergi, aku senang karena sudah berhasil memenuhi 3 permintaanmu. Apa kau melihatku dari atas sana? Lihatlah, Chanhun sudah tumbuh besar. Dia benar-benar mirip denganmu, Yeol.

Aku berjanji akan hidup bahagia bersama Chanhun. Semoga kau tenang di sana. Aku mencintaimu.

-Im Yoona-

-THE END-

Hai, maaf jika aku kembali membuat FF selingan. Dan cast-nya YoonYeol lagi hehe. Maaf kalau alurnya berantakan atau ada typo yang bermunculan *bow*

Aku belum bisa nulis lagi kelanjutan FF Destiny / Sense of Love. Apa ya? Mungkin sedikit ngandat imajinasinya. Dan nggak bisa tahan saat imajinasi FF ini muncul. (Sumpah, kagak merasa bersalah banget nih author *abaikan*mulai ngaco*😄 ) Maaf atas kekhilafan saya *plak*😀

Semoga kalian suka ya, terima kasih sudah membaca❤😉

-cloverqua-

51 thoughts on “3 Wishes

  1. Huhuhu…terharu banget bacanya aku, Chanyeol sampe gak mau diopersai biar ingatannya tentang Yoona gak hilang. Pengorbanan banget, di surat yang Chanyeol tulis itu keliatan banget tulusnya, huhuhu…..ngefell banget thor.
    Daebak….

  2. Hiks hiks *nyeka ingus* hiks hiks.. aku udh tau nih pasti bakal sedih dari baca title nya ;( huhhhhh *narik napas dalem dalem* ya ampun eonni aku sampe larut banget terenyuh bacanya… apalagi pas yoona baca surat dari chanyeol aku ngerasa chanyeol bener bener tulus.. aku gatau mo ngomong apalagi saking terlalu larut sama feelnya.. *belepotan banget ngomongnya yak* lol
    Jinjja daebak unni aku sampe nangis.. u r da best!! Jjang

  3. Oh my.. ini bikin aku terharu. chanyeol gamau operasi biar ingatannya sama yoona ga terhapus. sedih😦 terus suratnya chanyeol.. aaaa ini keren bgt🙂

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s