(Freelance) The Transporter [5-END]

The Transporter 5

The Transporter

by Nikkireed

Casts

Lu Han and Im YoonA

Genre

Action-Romance

Tanganku dibekuk di belakang oleh beberapa namja berbaju hitam. Aku memberontak ingin melepaskan diri dari mereka. Tapi aku sendiri dan mereka banyak.

“Luhan-ah? Kita bertemu lagi?” Sehun, namja itu yang memberikanku bom, berjalan menghampiriku. Tatapannya tajam dan licik, sudut bibir kananya terangkat menampilkan giginya.

Aku tidak suka dibekap seperti ini. “Eoh. Lepaskan dia.” Perintahku dengan galak, suaraku mengaung di seluruh ruangan ini.

Who’s this?” ayah Yoona dengan bingung bertanya pada Sehun. Matanya bergantian menatapku dan Sehun. Berharap mendapatkan jawaban.

“Ini Luhan. Yang menukar ‘paket’.” Jawab Sehun sambil tersenyum licik, lalu melirik Yoona yang masih tidak sadarkan diri di belakangnya.

Oh wow! Nice to meet you too.” Tangan itu terulur padaku. Ayah Yoona mengulurkan tangannya padaku dan tersenyum. Aku membalasnya dengan tatapan sinis.

Lalu namja tua itu menarik tangannya dan bertepuk tangan sambil tertawa.

Appa!” Yoona terbangun dan langsung berteriak pada ayahnya.

You’re awake, sweetheart?” Ayah Yoona berbalik untuk melihat putrinya yang sudah tersadar itu.

“Luhan-ssi?” Yoona menatap lurus, padaku. Baru kusadari, wajahnya sedikit membengkak dan matanya sudah berkaca-kaca.

You know him?” Ayahnya terkejut Yoona berbicara padaku. Ia menatapku bergantian dengan Yoona dengan tatapan penuh pertanyaan.

Yoona hanya menatapku dalam-dalam. “Tentu saja. Aku lebih mengenalnya daripada kau!” Yoona berteriak pada ayahnya.

PLAK!

Bercak tangan menghiasi pipi kiri Yoona. Aku bahkan bisa merasakan denyutan sakitnya dari sini. Yoona memegangi pipi kirinya.

“Aku membayar mahal untuk menyekolahkanmu di sekolah Inggris terbaik se-Korea. Tapi kau malah selalu bicara Korea!” Ayah Yoona menekan kata terakhir dengan nada yang tidak biasa. Dan ini adalah kalimat bahasa Korea pertama yang aku dengar dari mulutnya. Dan Yoona hanya menunduk seolah ia mengakui salahnya.

Waeyo? Untuk mempersiapkanku keluar dari Korea? Is that what you want?” Yoona berbicara, sangat pelan, hampir berbisik. Matanya mengeluarkan cairan bening, mengalir mulus diatas pipinya yang memerah bekas tamparan ayahnya.

Sehun yang sedari tadi berdiri disamping Ayahnya Yoona, menerima panggilan dari telepon genggamnya dan berjalan menjauh. Tidak jelas apa yang ia bicarakan dengan lawannya di telepon, ia kembali berbalik mendekat pada Ayah Yoona dan berkata, “Ne. Arraso.” Sehun menutup teleponnya dan menggangguk sekali pada Ayah Yoona.

Tiba-tiba Sehun dan beberapa namja memiting kedua tangan Yoona, dan menyeret Yoona tanpa perasaan. Yoona memberontak dan berteriak.

Jjamkan manyo! Aku ada sesuatu untuk dibicarakan dengan Luhan-ssi.” Yoona meminta ijin pada Ayahnya agar Sehun dan beberapa namja yang menahannya melepaskannya sebentar.

Ayahnya hanya tersenyum datar dan mengangguk sekali pada Yoona. Bagaimanapun Yoona adalah kesayangannya.

Yoona berjalan mendekatiku yang masih ditahan oleh beberapa orang. Yoona menatap namja dibelakangku, memberi isyarat untuk melepaskanku sebentar.

Yoona semakin mendekatkan wajahnya pada wajahku dan tersenyum,tidak! Ini bukan waktu yang tepat, tidak! Yoona melingkarkan tangannya pada pinggangku, meraba punggungku dan mengambil itu!

Yoona berbalik dengan cepat. Walther P99-ku sudah berada ditangannya. Ia menodongkan pistol itu pada Ayahnya, Sehun dan beberapa namja dibelakangnya.

Don’t take it too serious my dear, Yoona.” Ayahnya Yoona berjalan mendekati Yoona dengan tangan terangkat. Ia tersenyum pada putrinya itu.

“Kalau kau berani maju selangkah lagi, aku tak segan-segan melepaskan peluru ini, Appa.” Aku orang pertama yang menyadari Yoona mengetahui seluk beluk tentang pistol. Aku sedikit tersontak kaget karena Yoona berani mengancam ayahnya sendiri. Dan yang lebih kagetnya, bagaimana ia tahu ada pistol yang kusimpan dibelakang punggungku, bahkan beberapa namja yang menahanku tidak menyadari aku membawa pistol.

Yoona masih memegangi pistol itu, menodongkannya dengan jelas ke arah ayahnya. Ia berjalan mundur, aku mengikutinya, karena aku dibelakangnya. Dan beberapa namja yang tadi menahanku entah bagaimana bisa berpindah tempat dan menjauhi kami berdua.

“Yoong? Kurasa sudah saatnya kau tahu mengapa aku melakukan ini padamu.” Suara bass itu – Ayahnya dengan melihat ke arah Yoona, bisa dilihat keletihan diwajah tua-nya.

Yoona hanya terdiam tak bergerak, bingung menatap ayahnya yang berubah seperti ini.

We just have to leave now. Kim Joon Myun. He’s looking for us, he’s looking for you, Yoong.” Ada nada serius dalam nada bicara Ayahnya Yoona.

Yoona masih terdiam. Tapi bisa kulihat pistol ditangannya bergetar.

Yeah, that’s why I always ask you to learn English. So I can take you out from Korea someday. But that day………..” Ayahnya menceritakan bahwa malam itu Sehun menyuruh orang untuk ‘menjemput’ Yoona dalam keadaan kurang manusiawi, tapi entah mengapa Sehun tidak bisa percaya penuh padaku—yang mengantar paket, sehingga ia memberiku tugas baru untuk mengantar paket sebuah kotak sepatu berisi bom. Dan benar saja bahwa aku melepaskan Yoona malam itu.

And this namja is messed up my plans.” Ayahnya menunjuk padaku. Yoona berbalik mendongak ke arahku sebentar, masih tidak mengerti maksud Ayahnya.

Mwo?” Yoona kembali bertanya.

“Kim Joon Myun is looking for you because he knows you’re the last thing I have in my life, dear. Aku pernah kalah judi dengannya, dan ia memintamu sebagai gantinya. How can I just let you go with that person.” Ayahnya semakin mendekat pada Yoona. Tapi Yoona masih berjalan mundur, sehingga menabrakku sedikit. Jika ini bukan suasana yang tegang, aku akan menahan pinggang Yoona dan menggesernya sedikit.

You’re safe with Appa, Yoong. I wouldn’t let—“ DOR! DOOOR DOOOR!

Aku mendengar suara tiga peluru dilepaskan. Aku melihat ada sedikit asap keluar dari Walther P99-ku. Dan aku melihat tangan Yoona bergetar hebat. Telunjukknya yang masih ada di depan trigger (pemicu) dan pelatuk pistol itu.

“Angkat tangan semua!” Perintah sebuah suara bass, bersumber dari arah belakang komplotan ayahnya Yoona.

Mr. Im, Anda harus kami bawa untuk diperiksa karena tuduhan penggelapan uang. “ Ahjussi datang disaat yang tepat saat kami terpojok, dan Ayah Yoona membuat cerita dongeng untuk membuat Yoona luluh dan meletakan pistol itu.

Ayah Yoona berbalik ke arah polisi dengan tangan terangkat dan muka yang pucat. Air wajahnya tidak terdeskripsikan. Sehun dan beberapa namja sudah dibekuk oleh aparat kepolisian dan dibawa keluar dari tempat kejadian perkara.

Yoona akhirnya melepaskan pistol itu dan dengan cepat aku menangkapnya. Yoona berlari ke arah ayahnya sebelum tangan ayahnya diborgol oleh Ahjussi.

I’ve told you the truth. Just go! Okay?” Kata ayahnya sebelum ia diborgol dan Yoona menangis sejadi-jadinya, ingin menghentikan penangkapan ayahnya. Aku menghampiri Yoona yang memberontak menyeramkan seperti itu dan menarik dirinya.

Sebelum semuanya keluar, Ahjussi memberikanku sebuah tas kulit. Aku mengenal tas jinjing hitam besar ini!

“Semua yang kau butuhkan ada disini. Ayahnya benar, Yoona target Kim Joong Myun. Dan kau harus bisa membawanya keluar dari Korea.” Ahjussi menepuk pundakku sekali. Ia melirik Yoona yang masih terisak, lalu berjalan menjauhi kami.

CRIINGGG

“Ini. Kunci mobilku. Pergilah, biar kuurus ayahmu.” Aku menerima kunci yang Ahjussi lempar dan langsung membantu Yoona bangkit.

Hal pertama yang kulakukan adalah kembali ke apartmentku—dengan Yoona. Setelah membiarkan ia sendirian diruang depan, aku masuk ke kamarku untuk membereskan beberapa hal.

Aku membuka tas jinjing hitam besar itu. Aku tidak terkejut jika itu berisi uang seperti asumsiku. Tapi tas ini begitu lengkap seperti kata Ahjussi, segala kebutuhan Yoona seperti passport dan surat keterangan sudah disiapkan ke dalam tas ini. Bagaimana Ahjussi menemukan tas ini? Jelas-jelas ini tas jinjing yang dicuri oleh namja botak beberapa hari yang lalu. Apa ini semua berhubungan?

Ceklek

Yoona masuk ke kamarku, dengan diam. Ia sudah berhenti menangis, hanya terlihat dari matanya yang membengkak. Ia berjalan ke arahku dengan langkah gontai.

“Aku.. aku tidak percaya ini, Luhan-ssi.” Yoona duduk diranjangku. Kakinya bergelantung di sisi ranjang saat ia duduk. Aku mengikutinya duduk, disebelahnya.

Appa.. seorang bandar judi. Selama ini aku hanya tahu ia mengurusi perusahaan percetakan buku dan Sehun—“ Yoona terdiam, “Dan Sehun-ssi selalu disampingnya. Terkadang aku merasa Sehun-ssi mengambil waktuku dengan Appa. Sehun-ssi selalu mengatakan Appa sibuk rapat, sehingga aku tidak bisa berbicara dengannya. Appa juga jarang pulang kerumah, bahkan hanya sekali-kali video call denganku.” Yoona kembali menangis, ia menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangannya.

Bahkan disaat seperti ini, aku tidak tahu harus berbuat apa.

Aku hanya memegang tangannya. Memerasnya sebentar. Aku memberanikan diri untuk mendekatkan wajahku, padanya. Aku bisa mendengar suara hembusan nafasnya. Aku bisa merasakan tangannya sedikit bergetar, digenggamanku.

“Yak! Luhan-ssi!” Aku kaget Yoona berteriak padaku – disaat seperti ini, astaga!

Aku tersontak lalu menjauhkan wajahku dan melepaskan tangannya. Kenapa Yoona selalu seperti ini. Selalu disaat yang tidak tepat.

Aku hanya menggeleng, “Aniyeo.” Aku hanya menjawabnya dengan cuek. Lalu suasana menjadi canggung. Yoona terdiam. Aku terdiam. Aku merasakan sedikit hawa panas.

Kajja. Kita harus segera pergi dari Korea. Kau ini buronan.” Aku bangkit berdiri. Aku memasukkan tangan kiriku pada saku celanaku dan menggosok belakang kepalaku dengan tangan kananku. Aku tahu ini suasana paling canggung.

Saat aku berbalik, Yoona bangkit berdiri dan sedikit menjingjit untuk menyamakan tinggiku, dan menyapukan bibirnya—pada bibirku—sejenak. Reflex-ku kacau karena ia bergerak tiba-tiba seperti ini, sehingga dengan wajah kaget dan mata terbuka ia menciumku sekilas.

“Kau juga buronan, Lulu.” Yoona tersenyum walaupun bengkak dimatanya membuat mata sipitnya lucu seperti terjepit. Apa? Dia memanggilku dengan sebutan Lulu? Panggilan macam apa itu.

Aku hanya membalasnya dengan senyum, “Yah, jangan memanggilku seperti itu.”

“Kalau begitu, ehmmm—perkenalkan, Im Yoona imnida. Siapa namamu?” Yoona membungkuk sedikit sambil tersenyum. Lalu mengulurkan tangan kanannya.

Aku kembali tersenyum dan menerima uluran tangan kanan itu. Kami keluar dari kamarku sambil bergandengan dan membawa tas jinjing hitam itu.

 Dear all the readers, ini fnal. Hiks hiks hiks. Udah segitu aja. Ini final. Aku masi baru dan butuh komen kalian buat next projectku.
Thanks ud mau baca karya pertamaku ini ya. Thanks juga buat semua nya yg ud ngedukung, apa lg buat Mba Elevenoliu editorku, makasi bnyk ya mba.
XOXO, nikkireed

44 thoughts on “(Freelance) The Transporter [5-END]

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s