Misconception [PART 1]

misconception-ly

qintazshk’s present

  Misconception  

staring

Luhan and Im Yoona 

PG-17 ||  chaptered  ||  Romance ||  Poster by KISSMEDEER 

♥ leave your review for better fanfiction in the future from me ♥

 Author note 

you can read this fanfiction with another pairing in here and here 

aku sudah memperingatkan mengenai FF ini di Teasernya 

[TEASER] 

 Enjoy this fanfiction and create your imagination ^^ 

MISCONCEPTION

“LUHAN!”

Aku menutup telingaku rapat-rapat menggunakan bantal yang kujadikan sandaran tidurku tadi. Teriakan yang memanggil namaku tadi membuatku setidaknya terbangun. Aku menggeliatkan badanku ke samping kanan dan tersenyum senang saat menyadari betapa beruntungnya aku ada bantal guling besar yang bisa aku peluk sepuasnya.

YA!”

“ouch!” aku mengusap punggungku yang baru saja menjadi sanggahan saat aku terjatuh dari kasurku tadi. Kualihkan pandanganku pada kasurku dan aku mendapati seorang perempuan duduk diatas sana dengan napas tersenggal. Ish, apa maksudnya itu?

“kenapa kau menjatuhkan-“

“apa yang kau lakukan di kamarku, Luhan?!”

“hey, ini kamarku.”

Ia membulatkan matanya lebar-lebar sedangkan aku berusaha meraih pegangan agar aku bisa berdiri tegak. Tahu-tahu, ia mengulurkan lengannya padaku. Aku menyambutnya cepat lalu menarik tubuhku sendiri agar berdiri. Perempuan itu masih saja betah berdiri di atas kasur sambil memegang boneka dari perusahaan San-X berwarna cokelat yang tersohor itu.

“kenapa kau tidur disini, Luhan-ah?”

“ini memang kamarku. Harusnya aku yang bertanya padamu, kenapa kau-“ aku memilih menghentikan kalimatku saat melihat gadis di depanku ini menggelengkan kepalanya tidak setuju.

“ini kamarku. Kau salah, Tuan Luhan.”

“hey, sejak kapan kita meributkan kepemilikan kamar kita kalau kita setiap hari tidur bersama?”

mwo? Apa maksud- AHH!!”

Lagi, badanku terjatuh diatas lantai. Masih dengan pungungku yang menempel pada lantai. Namun, kali ini posisi gadis ini yang membuatnya berbeda. Gadis tadi jatuh tepat diatasku dengan kedua tangannya bertumpu di atas dadaku. Rambut panjang kecokelatannya menerpa wajahku. Kuulurkan tanganku untuk menyelipkan helai rambut cokelat itu ke belakang telinganya.

“tapi, ini kamarku.”

Kujitak kepalanya kesal. “kenapa kau keras kepala sekali, sih? Kita bisa buktikan-“

“LUHAN!”

Gadis itu bangun dengan mendorong tangannya yang tadi ada di atas dadaku. Lagi-lagi ia mengulurkan tangannya kepadaku. Aku menyambutnya lalu berdiri dengan cepat.

“jadi, kau sudah percaya kalau ini kamarku, Im Yoona?”

Kusunggingkan senyum selebar mungkin padanya. Ia membalasnya dengan dengusan dan hal itu makin membuatku senang. Ia berjalan menjauhiku dan membuka pintu lemari setelah ia sampai di depannya. Aku memilih untuk membuka tirai putih kamarku, membiarkan cahaya matahari masuk.

Tahu-tahu, Yoona menarik lenganku menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarku. Yoona menghentikan langkahnya di depan pintu kamar mandi lalu mendorongku memasuki kamar mandi.

“jangan mandi terlalu lama. Arraseo?” ia menyunggingkan senyumnya padaku sembari menyodorkan setelan kemeja dan celana yang biasa aku pakai ke kantor.

ne, chingu-ya.”

MISCONCEPTION

“sini, aku bantu.”

Yoona mengambil dasi yang berada di tanganku lalu membenarkannya. Yoona memasangkan dasi ke kerah kemeja dengan ahli tanpa cacat.

“kenapa simpul dasi yang kau buat selalu rapih, sih?” tanpa sadar aku menggerutu saat melihat bayanganku di cermin. Dasi yang dipakaikan Yoona selalu rapih dan kali ini terlihat pas dengan kemeja berwarna biru dongker yang sedang kupakai.

“salahmu sendiri. Harusnya kau belajar untuk memakai dasimu sendiri dengan rapih.” Yoona memakaikanku jas hitam lalu merapihkannya. Ia memerhatikan bayanganku dan dirinya di cermin lalu tersenyum. Aku ikut tersenyum lalu merangkul bahunya.

kajja, kita berangkat sekarang.”

Kubawa badannya serta badanku keluar dari kamar menuju lantai satu.

“Luhan-ah, nanti kau ada meeting atau tidak?”

Kugelengkan kepala senang karena sudah lama sejak terakhir kali aku tidak meeting di kantor yang membosankan. Aku dan Yoona berjalan menuju ruang makan untuk sarapan pagi ini. Terlihat eomma, appa, dan hyungku sedang menyantap sarapan mereka sambil tertawa. Entah apa yang mereka bicarakan.

“sini, Yoona. Duduk dengan eomma.

Eomma menepuk kursi di sebelahnya. Yoona melepaskan pelukanku di bahunya lalu dengan riang berjalan mendekati eomma. Kulanjutkan perjalananku menuju bangku di samping hyungku lalu duduk disana.

“Minho oppa, hari ini kau akan pergi dengan Yuri unnie?”

Minho hyung menggelengkan kepalanya sedih sambil mempoutkan bibirnya.

“aku banyak pekerjaan. Salahkan appa, Yoona.”

“hey, kau kan nanti cuti dua minggu setelah menikah, jadi kau harus terima konsekuensinya.” Ish, appa jahat sekali. Aku menepuk punggung Minho hyung pelan dan melanjutkan lagi sarapanku.

“bagaimana kalau aku yang menemani Yuri unnie fitting baju pengantin, oppa?”

“oke. Gomawo, Yoona-ya.”

Minho hyung mengacungkan kedua jempolnya pada Yoona lalu menepukkan tangan mereka senang.

“Luhan, kau tidak ada meeting, kan? Temani aku, ya?”

Yoona menatapku dengan puppy eyesnya yang membuat keluargaku tertawa melihat tingkahnya yang seperti anak-anak. Aku hanya menganggukkan kepala dan Yoona menyempatkan dirinya untuk mengusap puncak kepalaku seperti yang biasa ia lakukan jika ia senang. Ia lalu tersenyum senang dan aku membalas senyumannya.

gomawo, Minho-ya.”

 

MISCONCEPTION

 

Aku dan Yoona turun bersamaan dari mobil yang kami tumpangi menuju kantor. Yoona menyodorkan tas ransel cokelatku lalu menyampirkan tas selempang cokelatnya di bahu.

“Im Yoona, kau merasakan sesuatu tidak?”

“sesuatu apa?”

“rasanya kita selalu memakai warna baju yang sama. Benar?”

“itu kau yang selalu mengikutiku!” Yoona memukul pelan bahuku dan setelahnya tertawa. Kubukakan pintu yang ada di depan kami lalu masuk ke dalamnya. Terlihat beberapa orang berlalu-lalang di hadapan kami.

“bukan aku yang mengikutimu. Tapi kau yang selalu menyiapkan baju untukku sehabis mandi, kan?”

ya! Kalau begitu-“

“calon istri yang baik,”

 

-author pov-

 

“calon istri yang baik,”

Luhan dan Yoona kontan saja berbalik ke belakang mereka saat obrolan dengan begitu saja terputus.

annyeong haseoyo, Mr and Ms Luhan.”

Seorang pria lengkap dengan setelan kantor berwarna cokelat berlalu melewati Luhan dan Yoona sambil tersenyum. Lelaki itu lalu berdiri di depan Luhan dan Yoona yang sedang menunggu lift.

oppa!”

Yoona dengan santai mendaratkan pukulan di lengan lelaki yang mempunyai eyesmile itu. Luhan dan lelaki itu hanya tertawa melihat tingkah Yoona. Yoona menghentikan pukulannya dan ikut tertawa bersama mereka sambil menatap lagi pintu lift, berharap agar benda itu cepat terbuka.

“kalian kapan menikah?”

“Kris oppa!”

mwo?”

Saat pintu lift terbuka, dengan cepat Kris masuk ke dalamnya dan diikuti oleh Luhan dan Yoona di belakangnya. Sesampainya didalam, Kris menekan tombol angka 9. Minho menyusul dengan menekan angka 12.

“kau masih bertanya, hyung? kau mau mati disini atau bagaimana?”

“itu pertanyaan biasa. Aku yakin setiap orang akan bertanya seperti itu hanya dengan melihat kalian pertama kali. Jadi, kapan?”

oppa ingin aku menikah dengan rusa gila ini?!”

“apa-apaan? Aku bukan rusa gila!” Luhan menurunkan tangan Yoona yang menunjuknya dengan semangat. “siapa juga yang mau menikah denganmu?” Kris  tersenyum senang melihat kedua orang di depannya beradu argumentasi.

Luhan mendorong pelan tubuh Yoona menuju depan pintu lift saat penunjuknya menunjukkan angka 7. “annyeong, Kris oppa! Annyeong, Luhan-ah! Jangan lupa nanti sore, oke?”

Luhan membentuk lambang ‘oke’ dengan tangannya lalu membalas lambaian tangan kurus Yoona.

“kau benar tidak akan menikah dengan Yoona?”

Luhan terdiam mendengar pertanyaan Kris. Pertanyaan seperti itu sudah sering di dengar keduanya –Luhan dan Yoona- dan jawaban mereka selalu sama.

“tidak,”

 

-author pov end-

MISCONCEPTION

 

Annyeong haseoyo, Mr. Luhan,”

annyeong, Krystal-ah. Kau tidak perlu seformal itu padaku.”

Kuambil berkas-berkas menumpuk yang ada di meja kerja Krystal dan membawanya bersamaku. “tapi, ini kantor, Mr. Luhan.” Baiklah, ini perkataan telak. ne, arra. Aku masuk dulu. Gomawo,

Kulemparkan senyum tipis padanya lalu bersegera memasuki ruang kerjaku. Kudesahkan napas berat saat melihat tumpukan berkas yang harus diselesaikan hari ini. aku harus meminta bantuan Krystal.

Kupencet angka satu di telepon kantor dan terdengar nada sambung.

ada yang bisa saya bantu Mr. Luhan?”

setelah istirahat makan siang, bisa bantu aku menyelesaikan berkas-berkas tadi? Aku harus pulang cepat hari ini. Bagaimana?”

“baiklah, Mr. Luhan. Ada lagi?”

“cold tea seperti biasa. Gomawo,”

ne, Mr. Luhan . Selamat pagi,”

Tanpa menjawab lagi perkataannya, kututup telepon dan bersegera menekuni pekerjaanku.

“Luhan hyung!”

ya! ketuk dulu pintunya!”

“sudah biasa, kan?”

Kelakuan anak ini benar-benar. Tanpa sadar aku mendesahkan napas berat. Kuhampiri ‘dongsaeng’ku itu yang sedang duduk di kursi yang tidak jauh dari meja kerjaku.

“Luhan hyung,”

“apa, Kim Jongin-ssi?”

“menggelikan, hyung. Ini, aku membawakan pekerjaan hyung.” lelaki yang jangkungnya tidak jauh dariku itu menaruh tumpukan map di meja yang ada di depannya. “pekerjaanku lagi?”

“kan, hyung yang menggantikan pekerjaan Minho hyung.

“jadi, dia liburan dan aku harus mengerjakan pekerjaan sebanyak ini? Minho hyung kan hanya cuti dua minggu, Kai.” Lelaki di hadapanku ini malah tertawa terbahak-bahak.

“tenanglah, hyung. Aku akan membantumu.” Oh, lihatlah wajahnya yang penuh kepercayaan diri itu. “tapi, ada syarat.”

“sudah kuduga. Apa?”

hyung harus mentraktirku makan siang sampai masa cuti Minho hyung selesai. Mudah, kan?”

“mudah, gundulmu! Kau itu minta ditraktir atau malak, hah?”

“ayolah, uang hyung kan banyak. Berbagi untuk adikmu yang sedang krisis ini apa tidak bisa?” aku membencinya jika ia menunjukkan mukanya yang memelas ini. “kau bukan pengemis tahu, tapi baiklah.”

jinja? Terima kasih, hyung! ah, iya. Hyung tak mau membalas perasaaan Krystal?”

“hah? Perasaan apa?”

Dahiku berkerut bingung. Lagipula, perasaan apa yang harus dimiliki seorang asisten kepada atasannya?

hyung tak tahu kalau Krystal suka hyung? aku saja menyukainya.

Suka? “oh ayolah, ini bukan waktu yang tepat untuk masalah ini, Kai. Apa? Kau menyukainya?” lagi-lagi, lihatlah senyum di wajahnya itu.

“untuk kau saja kalau begitu.”

hyung kira Krystal itu barang? Lagipula aku takkan menyerahkan Krystal untuk diambil hyung. aku pergi dulu.”

Tanpa pamit lagi, ia keluar dari ruanganku sambil melambaikan tangannya yang panjang itu.

Kau saja yang tidak tahu, Kai.

 

MISCONCEPTION

-author pov-

 

“Yoona, yang ini bagus, kan?”

Yuri berlari kecil ke arah Yoona yang sedang berdiri dengan Luhan di dekat pajangan pakaian pria. Yoona menoleh saat namanya dipanggil oleh calon kakak ipar Luhan itu.

“bagus, unnie coba saja.”

“Tunggu, Yuri,”

Jessica –sang designer baju pengantin- itu menghentikan langkah Yuri yang sedang berjalan menuju fitting room. “aku rasa gaun itu lebih cocok untuk Yoona.”

Yoona mengerutkan dahinya bingung. Matanya itu meneliti wedding dress putih panjang dengan bunga sebagai hiasan di seluruh permukaan gaun itu. Gaun itu indah. Setidaknya itu yang ada di pikiran Yoona sekarang.

“yang mau menikah itu Yuri unnie, bukan aku, Jess.”

“tidak apa. Jadi, kalau suatu hari nanti kau menikah, kau tidak perlu repot lagi mencari gaun.” Perkataan yang keluar dari mulut Jessica tak ayal membuat Luhan tertawa keras. Yoona dengan cepat mendelik tajam pada Luhan.

ya! Luhan, kau jangan tertawa. Kau juga coba tuxedo ini.”

Dengan tiba-tiba, Jessica menghampiri Luhan dengan tuxedo hitam di tangannya. Kali ini, bukan hanya Yoona yang menertawakan Luhan. Jessica dan Yuri ikut  tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi aneh yang Luhan tunjukkan.

“kalian berdua juga akan menikah, kan?”

“siapa?!”

“aku dan Luhan tidak akan menikah. Iya, kan?”

“benar. Biarkan Yuri noona mencoba gaunnya. Dan tuxedo itu akan dipakai Minho hyung, kan?”

Bukannya memakai gaun yang dipilhnya tadi, Yuri malah menarik Yoona menuju fitting room. unnie mau minta bantuanku?”

ani. Kau yang memakainya. Jessica, cepat suruh Luhan pakai tuxedo itu!”

Yuri segera menarik lengan Yoona dan memasukkan diri mereka berdua ke dalam fitting room. Tanpa menunggu lagi, Jessica segera menarik Luhan menuju fitting room yang tersedia di sebelah fitting room yang dipakai Yoona.

“Jessica noona!

“sudah menurut saja. Pakai ini,” Jessica melemparkan tuxedo hitam itu lalu segera menutup tirai penutup. Setelah memastikan Yoona mengganti bajunya, Yuri segera keluar untuk menunggu Yoona dan Luhan selesai bersama Jessica.

“terima kasih, Jessie.”

 

MISCONCEPTION

 

Yuri dan Jessica sudah lima belis menit suntuk menunggu Luhan dan Yoona untuk keluar dari ‘tempat persembunyian’ mereka. Luhan dan Yoona sudah berganti baju –Yuri dan Jessica yakin akan hal ini- dengan gaun dan tuxedo. Daritadi, kedua perempuan itu hanya mendengar hitungan ‘1,2,3’ dari Luhan dan Yoona, namun keduanya tidak keluar.

“ayolah, Luhan. Keluar,”

“aku tidak mau, noona.”

cepat keluar atau aku adukan ke hyungmu kalau kau tidak ikhlas menemaniku fitting untuk pernikahanku!”

Ancaman Yuri berhasil. Lelaki itu menimbang-nimbang lagi apa yang harus dilakukannya. Setelah beberapa saat, ia memutuskan untuk melakukan hal itu dengan Yoona.

“Yoona! 1,2,3!”

“astaga, kalian serasi!”

Luhan dan Yoona baru saja keluar dari fitting room dan mereka sudah dikejutkan oleh suara Yuri yang menggelegar memuji keserasian mereka. Jessica dan Yuri segera berlari menghampiri Luhan dan Yoona dengan semangat yang memuncah. Keduanya –sebagai teman dekat Luhan dan Yoona- sudah lama menantikan hal ini untuk terwujud. Dan kali ini, harapan mereka terkabul.

“Jjong! Luhan dan Yoona sudah siap!”

Tahu-tahu, Jonghyun –kekasih Jessica- sudah muncul dengan kamera di lengannya. Jonghyun segera menarik Luhan dan Yoona ke studio untuk di foto. “hyung, apa maksudnya ini?”

“sudah ikuti saja. Hanya di foto, kok.”

oppa! Foto untuk apa?”

Bukannya menjawab, Jonghyun segera menyiapkan kameranya dan menempatkan Luhan dan Yoona untuk di foto. Yuri dan Jessica berdiri di samping Jonghyun sambil menahan tawa.

“pernikahan kalian,”

mwo?! Pernikahan? Aku dan Yoona tidak akan menikah!”

“belum, bukan tidak. Ini untuk jaga-jaga siapa tahu kalian tiba-tiba ingin menikah, foto dan gaun sudah tersedia.” Ucapan Jonghyun menambah keceriaan dua gadis itu.

Yoona segera memalingkan wajahnya saat ia merasa pipinya panas. Sedangkan Luhan berpura-pura untuk berakting cool agar orang-orang tidak menyadari gelagat aneh yang dialaminya. Bukankah mereka cukup bodoh karena tidak dapat mengartikan perasaan mereka?

“siap.” Mendengar seruan keras dari Jonghyun, Luhan dan Yoona segera mendekatkan diri mereka walaupun jarak setengah meter masih saja terbentang antara mereka.

“Luhan! Mendekatlah pada Yoona!”

Luhan mendelikkan matanya pada Jonghyun. Tapi, ia menurut karena ia tahu kalau Jonghyun tidak akan tahu kalau dirinya mendelik karena Jonghyun masih fokus pada kameranya.

“kurang dekat.”

“mau sedekat apalagi, hyung? badan kami sudah sangat dekat.” Gerutu Luhan. Well, Yoona tidak akan menggerutu lagi karena apa yang akan ia bicarakan sama dengan yang Luhan katakan. Tidakkah mereka sadar kalau itu kecocokkan antara keduanya?

“biasanya juga kalian menempel seperti amplop. Makan berdua, pergi berdua, tidur berdua-“

ya! hyung! sudah hentikan!”

Ah, tentu saja Luhan jengah dengan tatapan orang-orang lain yang menatapnya dengan Yoona dengan pandangan seolah bagaimana-kalian-bisa-melakukan-itu? Maka, Luhan berakhir dengan menempelkan badan depannya pada Yoona. Posisi menyamping sudah bagus, kan?

“bagus.”

Jessica dan Yuri seketika itu tersenyum mendengar pujian Jonghyun saat melihat Luhan dan Yoona sedang berdampingan. Semua orang pasti akan mengira kalau mereka benar-benar pasangan. Setidaknya, itu adalah ekspetasi yang Jessica harapkan.

“1,2,3!”

MISCONCEPTION

HALO!!

Makasih banyak buat readers yg udah ngasih respon positif di teaser!

demi apapun, aku asalnya ngga akan post di tanggal 1 ini. tapi, semua komen positif kalian bikin aku semangat! kamsahamnida❤

so, gimana FF nya? aku bener2 ngga berbakat buat make pov author, tapi ini yang terjadi ^^ aku sempilin (?) juga beberapa pairing fave aku😀 masih ada typo? masih jelek? kasih review yaa🙂 annyeong!

80 thoughts on “Misconception [PART 1]

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s