Okay? [1]

 poster okay 1

Presented By Cicil

Yoona with EXO

Genre: Romance, Comedy

Rated: SU

Length: Chapter

Disclaimer: I dont own the cast, but the story is actually mine.

Siang yang cerah di pertengahan bulan maret.

 

Chanyeol menjilat es krim-nya begitu nikmat, rasa manis dari ekstrak stroberi dan susu bercampur menelusuri kerongkongannya. Ia tersenyum, seakan di dunia hanya miliknya seorang.

“DOBI!!!” Pekik gadis di sebelahnya setengah mati keras (untung saja kuping Chanyeol tidak rusak).

“Kenapa, baby?” Asal Chanyeol tidak tahu saja kalau dia dari setengah jam yang lalu hanya sibuk mengemut es krim di sendok. Dia beli satu bucked besar, pantas saja tiga puluh menit tidak habis-habis-_-

Tapi bukan itu masalahnya karena masalah sebenarnya adalah Yoona yang duduk di samping pria mirip tiang itu cemburu pada es krim! (Ya ampun, Yoong.)

Gadis itu hanya teronggok seperti tong sampah di sudut taman kota, dan terabaikan. Bermodal duduk di sebelah Chanyeol saja ternyata tidak cukup menarik perhatiannya. maka itu dia berteriak kencang-kencang.

Tapi apa respon yang ia dapat? Pertanyaan basi. Ohyaya, bukan pertanyaan basi lagi tapi bentuk ke-tidak-peka-an Chanyeol padanya! Bagaimana mungkin seorang Im Yoona yang cantik luar biasa, punya senyum menawan, mata setajam rusa, dan lekukan tubuh seindah gitar spanyol itu bisa bertahan sampai maut memisahkan dengan laki-laki super-acak-adul seperti Chanyeol????

“Pikir saja sendiri!” Ketus Yoona lagi. Seraya kedua tangannya bersedekap dan tubuhnya berputar 120 derajat membelakangi Chanyeol. Biasakah laki-laki itu sadar Yoona sedang ngambek padanya?

Okay,okay, jangan marah begitu dong.” (Rayuan tidak cukup mempan untuknya, Chanyeol!)

“Aku ‘kan sedang mencari inspirasi.” Yang kali ini cukup menarik Yoona kembali menghadap kekasihnya. Rasa ingin tahu membumbung begitu pekat ke udara. Kok, Chanyeol tidak pernah bilang kalau makan es krim adalah bagian dari mencari inspirasi? Lagian–

“Inspirasi? Inspirasi untuk apa?” Chanyeol menyeringai atas keberhasilannya mengalihkan kemarahan Yoona.

“Inspirasi membuat lagu. Seokjin memberikan kami semua tantangan. Jadi masing-masing orang harus membuat lagu dan siapa yang terpilih akan mendapatkan headphone-nya! Baeb, kamu tahu itu yang aku incar selama berbulan-bulan.” Oh, batin Yoona datar. Ia tidak sama sekali tertarik dengan model-jenis headphone, baginya semua sama saja. Yang penting bisa dipakai ‘kan?

Tapi itu beda luar biasa jauh dengan Chanyeol, baginya headphone adalah benda terpenting kedua setelah gitarnya. Tidak ada headphone seharian itu rasanya aneh, janggal—Oh, salah, Yoona adalah yang pertama, lalu gitar akustik warna krem itu yang kedua, dan headphone menjadi urutan ketiga! Ya, ini baru benar.

Yoona hanya mengangguk-angguk tanpa ekspresi, lalu pura-pura sibuk dengan buku diktatnya, berharap Chanyeol peka sedikiiiiittt saja. (Ayolah, Chanyeol.)

“Lagipula lagunya tentangmu.” Benarkah?

Yoona baru saja akan berjingkrak-jingkrak seperti melompat di trampolin dengan jantung berdetak sangat cepat lalu pipi merona merah. Ia akan memeluk Chanyeol seeerat mungkin sampai sesak nafas lalu mengecup pipinya penuh cinta—tapi suara panggilan telepon masuk menghancurkan semuanya. Sabar, Yoona.

“Halo?”

Chanyeol tampak dungu dengan wajah-menunggu-Yoona-selesai-berkomunikasi dengan orang entah di seberang mana. Sejauh yang bisa ia tangkap hanya raut wajahYoona berubah agak serius.

“Ada apa?” Tukasnya setelah Yoona menyimpan telepon dalam tas.

“Bibiku yang di Busan harus pergi beberapa hari dan dia akan meninggalkan anak-anak panti asuhan. Aku harus ke sana menggantikannya, Chanyeol.” Jelas Yoona, tampak secuil kesedihan di pelupuk matanya.

Bibi Hong memang sangat baik, dia bahkan masih bisa mendirikan panti asuhan selagi ada pekerjaan kantor menungunya setiap pagi. Walaupun panti asuhan itu hanya menampung beberapa anak kecil, dan hanya punya rumah sederhana, tapi Yoona bangga terhadap bibinya.

Cuma satu masalah yang ia punya; Im Yoona belum pernah mengunjungi panti asuhan itu. Dia tidak tahu letaknya di mana, apakah bentuknya mirip segitiga, atau persegi, atau lingkaran, apa rumahnya terbuat dari kayu atau bersemen dengan dinding tinggi, apa anak-anaknya banyak dan nakal atau baik dan lucu. Ia sama sekali belum tahu.

Membayangkan harus mengantar mereka ke sekolah, mencuci baju mereka, memasak makanan, mengajari buat pr…

Yoona berharap Chanyeol mau menemaninya. Ia takut jadi orang dewasa sendirian di sana. Dan Chanyeol seakan punya kekuatan super bisa membaca pikiran kekasihnya—

“Aku ikut denganmu. Bolos jam pelajaran pak kim dan dosen lainnya adalah hal yang paling aku impikan.”

 

 

.:}o{:.

Sehari setelah kejadian mengharukan di taman (kemarin siang)—Yoona memeluk Chanyeol dan mengecup singkat pipinya, lalu mereka pergi makan malam berdua saja dan pulang ke rumah dengan selamat.

Chanyeol sudah memasukan semua pakaiannya, topinya, sepatunya, kaus kakinya, kacamatanya, gitar, headphone, dan boneka rilakkuma ke dalam koper sejak malam. jadi ia hanya perlu menyalakan mesin mobil dan melaju secepat angin ke dorm kekasihnya pagi itu.

Tapi Yoona ternyata masih bersemayam di meja rias, mengusapkan bedak tipis pada pipinya. Mengambil eyeliner, lalu menyisirkan mascara pada bulu mata, sepukan perona pipi warna pink-pastel di kedua belah sisi, dan terakhir menorehkan lipstick. Dan. Chanyeol. Memperhatikan. Semua. Itu.

“Yoongie,” sekali.

Baeb,” dua kali.

Baby!” tiga kali.

“Ya, Chanyeol?”

“Lama sekali, tahu,” Chanyeol melirik jam tangannya, serasa sudah menunggu lima tahun padahal hanya lima menit. (Sabar Chanyeol, semua wanita melakukan hal seperti itu, wajib.)

“Tapi aku nanti kelihatan jelek, kamu mau?”

“Tidak, maksudku, tanpa riasan sedikitpun kamu tetap cantik.” Ugh, gombal. Gadis itu menendang tulang kering Chanyeol yang sebelah kanan, dan pergi ke garasi.

“Auww!” malangnya si laki-laki tersebut mengikuti dengan langkah lompat-lompat mirip Kangguru di Australia, lantas membuka pintu mobilnya kemudian duduk di balik kemudi. “Kita berangkaattt!” seru Yoona cekikikan seraya mengangkat tangannya, rasakan udara pagi menerpa, berhubung mobil Chanyeol kali ini tidak ada atapnya.

Mereka bernyanyi-nyanyi tidak jelas mengikuti radio sepanjang perjalanan. Chanyeol tampak keren dengan kacamata hitamnya, Yoona terlihat fresh dengan angin mengibaskan surai-surainya.

“Sudah hubungi bibimu lagi?”

“Sudah, dia memperkirakan kita akan sampai dalam satu setengah jam.”

Dan tadaaa! Mereka sampai di tempat dengan selamat sentosa tanpa kekurangan sesuatu apapun kecuali mata Chanyeol sepertinya mau keluar dari cangkangnya. Mulutnya tanpa sadar terbuka kecil, melongo sendiri saat dia dan Yoona—tentunya, keluar lalu melihat panti asuhan tersebut.

Chanyeol berkali-kali mencoba menghitung berapa anak laki-laki setinggi dengkulnya saja yang mondar-mandir mirip gosokan di depan mereka. “Satu…dua…tida…empat…ah! Satu…dua…tiga…aduh, kenapa mereka sering menghilang-hilang begitu. Satu…dua…tiga…empat…lima…enam…tujuh, ya ampun kemana mereka—“

“Sssstt!” berhenti menghitung, matanya jadi perih begini sehingga menguceknya adalah solusi paling pertama yang muncul. “Chanyeol,” Yoona mencubit lengannya ditambah pelototan superbesar, gadis itu berusaha menyadarkan Chanyeol kalau bibi Hong sudah berdiri di depan mereka sambil menggendong salah satu anak.

Annyeong, omoni.”

Lekas-lekas bibi memberikan bayi kecil berumur sekitar satu tahun itu pada Yoona. Dan dia sangaattt lucuuu, ya ampun. “Namanya Baekki,” Tidaak, Chanyeol juga jatuh cinta pada bayi itu! “Hai, tampan.” Sapanya hangat pada Baekki.

Tapi Baekki masih terlalu kecil untuk mengerti ucapan Chanyeol, dia malah memalingkan wajahnya membelakangi laki-laki itu. “Chanyeol dia tidak suka padamu,” canda Yoona, tatkala bibir Chanyeol positif mengerucut cemburu.

“Anak-anak ke sini dulu, sebentar!” teriak bibi seraya mengibas-ibas tangannya, “Ini Minnie(Minseok), Junmyeon, dan Yixing, mereka baru kelas tiga.” Bibi Hong menunjuk tiga anak di barisan paling pojok, ketiganya tampak penurut. Minnie sibuk dengan topinya yang bolong, Junmyeon hanya menatap yang lain dan memberi isyarat pada mereka untuk diam. Sedangkan, Yixing, entahlah…menurut Yoona dia sedang bengong.

“Ini Sehun, Chen-chen, Jongin dan…” dahi bibi Hong pun mengerut tiba-tiba, irisnya sibuk menelusuri satu di antara mereka semua.

“Luhan, ke mana dia? Sehun, kau tidak melihatnya?” anak yang ditanya bibi Hong menggeleng pelan. “Oh, ya ampun, dia hilang lagi?” mengabaikan Yoona dan Chanyeol yang masih kebingungan, bibi Hong melangkah masuk ke dalam rumah.

Tidak lama kemudian dia keluar, membawa seorang anak kecil berambut mirip jamur dan Yoona ingin mencubitnya! “Nah, ini Luhan—kakak kembarnya Sehun. Mereka kelas dua bersama Chen-chen dan Jongin.”

“Terakhir, itu yang paling ujung, namanya Kyungie dan Zitao—kelas satu.

Yoong, bibi pergi dulu, ya. baik-baik di rumah dengan…pacarmu?”

Yoona merasa seperti ada sengatan kecil di jantungnya saat bibi Hong menanyakan keberadaan Chanyeol. Mau tidak mau dia menganggukan kepala malu dan bibi Hong menertawainya lantas wanita itu mengusap lengan Chanyeol singkat dan memberi beberapa pesan lalu masuk ke mobil dan wusshhh! Menghilang.

Setelah semuanya (benar-benar semuanya, termasuk anak-anak panti dan Yoona dan Chanyeol.) menatap kepergian bibi Hong, Yoona berkacak pinggang dan menyiapkan diri untuk memulai suatu hal baru.

“Okee, anak-anak…” mereka semua menatapnya penuh tanya, sedikit aneh.

“Err… namaku Im Yoona, dan jangan lihat aku seperti itu!” pekiknya sedikiiiiittttt saja, tapi tidak lama kemudian sebuah tangisan terdengar. “Huweeee,” ya ampun, itu, itu, yang matanya bulat sekali menangis kencang dan Yoona lupa siapa namanya! Dia segera menoleh ke Chanyeol minta solusi. Tapi yang ia dapat hanya laki-laki itu sedang beradu mulut dengan seseorang di telepon.

Setelah dua menit dirasa berlalu, wajah Chanyeol yang keruh membawa awal mimpi buruk bagi Yoona. “Yoongie, maafkan aku…pak Kim menangkapku bolos hari ini dan kalau aku tidak datang ke ruangannya dua jam lagi dia akan melaporkannya pada ayah.” Dia mengerti betapa takutnya Chanyeol pada ayahnya tapi dia benar-benar butuh pendampingan sekarang. Bagaimana ini?

Yoona tersenyum ragu seraya tangannya menggenggam tangan Chanyeol—suara tangisan anak kecil menjadi backsound mereka—“Tidak apa-apa, Dobi. Pergilah, kamu bisa kembali nanti malam.” ia yakin keputusan untuk membiarkan Chanyeol adalah yang terbaik, ia tidak mau jadi alasan kuat Chanyeol dimarahi.

“Kamu yakin? Aku bisa mengabaikan Pak Kim dan mengunjunginya besok pagi.” Yoona tetap menggeleng dan berdiri pada pendiriannya. “Chanyeol, aku serius, tidak apa-apa. Cepat pergi atau nanti kamu akan terlambat.” Akhirnya Chanyeol mengalah, dalam hati ia bersyukur setengah mati bisa mendapatkan kekasih sebaik Yoona.

“Aku akan segera kembali ke sini, oke.”

Lalu Yoona melihat Chanyeol menaiki mobilnya dan lenyap di ujung belokan seperti bibi Hong. It’s okay, dia hanya perlu menanyakan nama anak itu dan menggendongnya sebentar lalu berhenti menangis. Selesai. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

 

 

.:}o{:.

 

Oh, tidak, tidak, tidak, semuanya perlu dikhawatirkan! Aku akan membanting kepalaku ke tembok kalau terus begini. Ya ampun, namanya Kyungsoo dan dia tidak berhenti menangis selama satu jam walaupun aku menggendongnya!

“Jongin, bisa bantu nuna sebentar? Tolong temani Kyungie di sini, ya. Nuna mau menidurkan Baekki dulu.” Aku meraih Baekki dari baby-walker-nya, pergi ke dapur sebentar untuk membuat susu dan menidurkannya di box.

Anak itu penurut dan aku bersyukur sekali baby Baekki tidak cerewet.

Lalu segera kembali ke Jongin terburu-buru, karena merasa ada yang janggal. Tunggu, kenapa tidak ada suara tangisan lagi? Apa Kyungie sudah berhenti merengek? Aku melihat Jongin mengusap-usap punggungnya dan dia berhenti menangis walaupun masih cemberut.

Sedikit senang, walaupun aku iri. Kenapa Jongin bisa membuat Kyungie tidak menangis lagi dan aku tidak bisa??? Itu perlu dipertanyakan, oke. Tapi aku masih cukup rasional untuk tidak sedramatis itu di depan Jongin. Maka—

Thankyou Jongin, kamu mau bermain bersama Kyungie?” dia mengangguk semangat dan aku meninggalkannya di ruang teve. aku harus mencari Minnie, dan Junmyeon, dan Yixing untuk membantuku mengumpulkan anak yang lain.

Uh, mereka semua pergi ke mana, sih? Kenapa panti-asuhannya besar sekali, bisa saja mereka sedang main hide and seek dan………err………itu benar. Aku mendengar suara Yixing yang khas sedang menghitung, “Seratus tiga puluh dua, seratur tiga puluh tiga, seratus tiga puluh empat—“ ya ampun, anak itu disuruh menghitung sampai berapa? Terpaksa aku menepuk pundaknya, “Yixing,” memanggilnya seraya berjongkok sedikit supaya tinggiku bisa menyamai, lantas tersenyum selembut mungkin padanya dan dia juga balas tersenyum. Anak yang baik.

“Ada apa nuna? Apa kita sudah bisa makan siang?” terbelalak sedikit karena aku lupa tentang makan siang dan dapur dan menyiapkannya dan segalanya apapun itu, aku berusaha menyembunyikan hal tersebut tatkala berucap lagi, “Sudah mau siap, ayo nuna bantu mencari teman-temanmu dan setelah itu kita bisa makan!”

“Yeay! Tapi aku belum selesai menghitung.” aku melongo sedikit, polos sekali. Belum selesai? “Memangnya Yixing harus menghitung sampai berapa?”

“Dua ratus,”

Permainan apa yang tega menyuruh anak kecil melakukan hal seperti ini?!! Bahkan waktu aku kelas tiga, aku belum bisa menghitung sampai seratus. Ada-ada saja mereka semua. “Tidak usah lagi, sekarang cepat cari dan kita bisa makan!” seruku semangat dan dia melompat senang lantas berlari memanggil Chen-chen. “Junmyeon!” aku pikir Junmyeon juga ikut permainan ini sehingga aku meneriakan namanya sebagai target pertama, tapi dia datang dengan penggaris dan pensil di kedua tangan dan menatapku bingung.

“Ya, nuna?”

“Sedang apa?”

Dia melihat penggaris warna biru muda sepanjang lima belas senti dan ada gambar spiderman jelas sekali di sana. Sejenak menatapku kembali. “Oh, ini, aku sedang membuat pr.” Alisku sontak menurun, tiba-tiba hati ini serasa dibelai dan lunak begitu saja seperti jelly. Junmyeon serajin itukah kamu? Dia memang anak teladan, wajahnya juga seakan menuliskan besar-besar—memberitahu padaku—bahwa dia pandai.

“Bisa nuna pinjam dulu Junmyeon-nya?” anak itu mengernyit tidak tahu maksudku, membuat segelak tawa keluar. “Ayo bantu nuna mencari yang lain dan tunda dulu pekerjaanmu, ya? boleh ‘kan?”

Dia tampak berpikir sejenak, matanya berputar-putar—ugh, seperti orang tua saja—lantas ia mengangguk dan tinggalkan penggaris juga pensilnya di karpet. Aku menggandeng tangannya dan kami pergi ke halaman rumah untuk mulai mencari.

“Jongiinnnn!”

“Jongin sedang di ruang teve bersama Kyungie,”

“Ooh, Minnie! Dimana kamu, kalau tidak keluar nanti aku—“ bahkan Junmyeon belum selesai mengancam tapi dari balik semak-semak keluar seorang anak berambut cokelat, dengan kedua tangan terangkat tinggi, dan wajahnya pasrah—seperti ditangkap polisi saja.

Aku dan Junmyeon cekikikan karena kami berhasil menangkap satu ‘buronan’ lalu Minnie menunjuk sebuah mobil-mobilan besar yang bisa dinaiki. “Ada Sehun disitu,” apa anak-anak kecil semudah ini membocorkan rahasia temannya? Lucu sekali, mereka bahkan saling memberitahu keberadaan masing-masing.

Aku menatap keduanya bergantian, langkah kakiku mulai berjalan ke utara tempat mobil itu berada dan sayup-sayup terdengar suara hembusan nafas. Pasti benar ada Sehun di sana. “Baaa!! Sehunnie!” teriaku mengaggetkan seraya langsung memegang tangannya supaya tidak kabur.

“Astaga, nuna! bukannya Minnie yang harusnya menangkapku?” dia melengos hebat sambil mengusap-usap dadanya.

“Nuna membantu Minnie.” Aku tersenyum bangga seakan sedang mendapat penghargaan besar. Oh, ini tidak bisa dibiarkan. Sehun melayu dan menyerahkan tangan yang satunya lagi padaku. Aku bingung, namun sebelum pertanyaan dari bibir ini keluar, dia keburu menjawab. “Ini, aku menyerahkan diri.”

“Eiyyyy, kamu lucu sekaliii…” aku mencubit pipinya, dan dia makin cemberut. Dasar anak-anak. Tidak ingin berlama-lama, aku kembali pada Junmyeon dan Minnie. “Nah, kita tinggal mencari—“

Semua mata tertuju pada dua orang bocah yang berlari ke arah kami. “Yixing, Chen-chen..”

“Hhhh…hhh..hhh”

Kini banyak kurcaci-kurcaci kecil di depanku buat aku merasa seperti putri salju saja. Untung mereka tidak memakai topi-topi berwarna atau aku akan segera mengambil apel lalu memakannya dan pura-pura mati. Kita akan bermain drama snow white, kkk~

Tanpa menunggu, mataku menelusuri tiap-tiap kepala kecil tersebut dan mulai menghitung. “Junmyeon, Minnie, Yixing, Chen-chen, Sehun… tunggu-tunggu, Jongin dan Kyungie ada di dalam, lalu Baekki sedang tidur.” Aku memainkan kesepuluh jari untuk menghitung, dan hanya delapan yang berdiri.

Bukannya jumlah mereka semua ada sepuluh?? “Nuna rasa ada yang tertinggal. Yixing, kamu menyadarinya, tidak?” aku bertanya padanya karena dia yang dari awal mencari.

“Oh, oh, tadi aku melihat Zitao di dapur.” Ucap Chen-chen seraya telunjuknya naik ke atas untuk bantu menarik perhatianku. Eh, tapi untuk apa Zitao di dapur? Aku tidak melihatnya tadi saat membuat susu, dan apa yang dilakukan anak kelas satu tingkat dasar di sana?!!!!

Tanpa mempedulikan ke-delapan anak lainnya, aku segera berlari kalut ke dapur. Jangan. Sampai. Dia. Bermain. Kompor. Atau tamatlah riwayatku. “Zitao? Kau di mana, sayang?” aku melongok sampai ke bawah meja dapur.

“Iya?” huffttt…. Ternyata dia ada di sudut sedang makan oreo, dan remah-remah warna kehitaman menghiasi pipinya.  “Kita ‘kan belum makan siang, kenapa sudah makan snack?” aku bernada selembut mungkin, tanpa sedikit saja memasukan kemarahan atau kesal.

“Aku lapar,” matanya yang mirip panda, dan bibirnya yang mengerucut buat aku makin gemas. “Ya sudah, sebentar lagi nuna akan buat makan siang. Bersihkan bibirmu dan taruh kembali oreo-nya, ya.”

Aku melihatnya berdiri dari tempat duduk, sebentar mulai melangkah ke sebuah lemari penyimpanan. Satu anak sudah ditemukan, dan tinggal satu lagi. Namun tiba-tiba aku dikagetkan dengan–

aku melupakan ke-delapan anak itu! Bodoh sekali, ke mana mereka sekarang? apa mereka berpencar lagi? Lalu aku harus mencarinya lagi? Satu-persatu? Ya ampun, kapan makan siang akan jadi kalau begini caranya.

 

 

 

 

To Be Continue

a/n: baru kali ini kaaannnn aku nulis chaptered hehehe. Dengan genre komedi again-_- maaf tapi aku gak pinter sama sekali buat sad huhuhuhu;_; sebenernya ini udah jadi dari tanggal 12 bulan 7 tahun 2014 tapi karena takut ngespam mulu di yoongexo, aku skejulin menjadi pembuka bulan delapan yeayyy!

Im really proud of exo, maaf aku gak mengikut-sertakan ‘salah stau member’ di sini karena kita semua exofans pun masih bingung dengan kejelasan statusnya. Aku bener-bener minta maaf yaL last, thanks for reading and comment are really welcome!

Advertisements

58 thoughts on “Okay? [1]

  1. kkkk… ngebayanginnya ngakak sendirii.. harusnya yg jadi baby itu sehun tauu:D tapi gapapa sihh.. baekhyun juga imuuttt..
    pantes aku merasa ada yg kurang.. ternyata gak ada abang aku:( kangen bangettt…
    next jangan lama thooorr:D

  2. kkkk~ bingung kalo jadi yoona yg harus ngurus anak yg kelakuannya super ajaib 😀
    baby baekki unyu bgt.. aku jga ngakak pas baca bagian laki-laki super acak adul 😀
    ffnya bagus, keren..

  3. Keren. Daebak. Bagus bgt…
    Baru kali ini personil exo jd anak2 lucu bgt dah sukaaa. Baekki msh baby ya. Haha
    Itu luhan hobi bgt hilang…
    Ditggu lanjutannya… suka suka suka
    Bgs nih ff…

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s