MACHIGATTA [2nd]

machi

 

 

MACHIGATTA

“I need you by my side”
 
fanfiction by;
 Aldum17

starring;

Xi Yoona - Kwon Yuri
Xi Luhan - Oh Sehun

1st2nd

♦◊♦

Sehun mengalihkan perhatiannya, pandangannya mengikuti pandangan Yoona. Hingga akhirnya ia merasa semua organ tubuhnya berhenti sejenak, Sehun tahu siapa pria yang baru saja dipanggil oleh Yoona. Pria yang menatapnya dengan pandangan membunuh tak jauh dari mobilnya, Saingan-nya.

Xi Luhan berdiri di depan pagar tinggi rumahnya penuh dendam.

Tubuh Sehun menegang, seperti disentrum listrik rastusan volt. Suhu tubuhnya memanas dalam tiga derajat celcius di malam hari. Tidak, waktu mempertemukan dirinya dan Luhan begitu cepat.

“Keluar” Perintah Sehun dingin.

Yoona tersentak dan tidak bisa bergerak. Hanya bola matanya yang bergerak memperhatikan Sehun yang juga sedang menatapnya. Sore tadi, Sehun hampir sama hangatnya dengan matahari, lalu tiba-tiba berubah menjadi dingin seperti udara pada malam hari.

Sehun mendengus lalu tertawa kecil. “Apa kau tak mengerti? Keluar dari mobilku, Yoona-ssi. Lagipula ini sudah di tempat tujuan, bukan?”

Yoona tak membuka mulutnya lagi. Dengan cepat gadis itu keluar dari bangku penumpang lalu berjalan ke sisi mobil yang lain sebelum membungkuk sebagai ucapan terima kasih. Sehun bisa melihat tubuh Luhan yang mendekat sebelum kakinya reflek menginjak pedal gas lebih cepat.

Sehun menghela nafas. Ia terus mengumpat-ngumpat dirinya didalam hati nya. Surat itu. Surat perjanjiannya. Oh Sialan, jika saja dulu ia lebih teliti saat membaca perjanjian sebelum pergi kuliah kemarin pasti hidupnya tak akan serumit ini.

Satu-satunya tujuan perjodohan adalah keegoisan antara dua orang yang telah membuat janji konyol dan melibatkan orang lain untuk mewujudkannya.

Dan titik terburuknya adalah perjanjian itu tak bisa lagi ia elak.

♦♦♦

Yoona tak banyak bicara saat Luhan menyeret tubuhnya ke dalam rumah dengan sedikit kasar. Gadis itu hanya bisa meringis pelan tanpa perlawanan sedikitpun. Luhan terlalu protektif dan Yoona membenarkan ucapan teman-teman sekolahnya dulu yang berkata bahwa dibalik tatapan lembut kakaknya ada monster yang bersembunyi.

Yoona menunduk, sementara Luhan menatapnya dengan tajam di hadapan ibu yang merengek meminta penjelasan.

“Jangan berhubungan lagi dengannya!”

“Kami memang tidak memiliki hubungan” Sergah Yoona cepat.

Bullshit. Yoona mendengus, saat ini ia dan Sehun memang tidak memiliki hubungan. Belum, lebih tepatnya. Tidak ada yang tahu tentang perjodohan itu selain ayah, ibu, dan dirinya. Tidak ada yang tahu, termasuk Luhan.

Luhan mendenguskan nafasnya keras. Suaranya melunak, begitu juga dengan tatapannya.

“Apapun yang terjadi jauhi dia” Gumam Luhan pelan.

Itu sudah cukup jelas. Luhan menginginkannya menjauh dari Sehun, sementara dirinya harus terikat dengan Sehun. Bagaimanapun akhirnya, ini semua hanya akan menjadi bom waktu bagi kakaknya. Kakaknya membenci calon suaminya yang Yoona sendiri tak tahu apa penyebabnya.

Hidupnya benar-benar seperti lelucon.

Jangan sampai Luhan mengetahuinya, Yoona. Ini hanya antara kau dan ayah, jangan ada lagi yang terlibat.

Yoona mengangguk. “Apapun yang terjadi jauhi dia” ulangnya yakin.

♦♦♦

Yuri tersenyum lebar. Tak ada jabat tangan antara dia dan kolega-kolega bisnis sebelumnya, melainkan sebuah sapaan lembut dan pelukan hangat antara dia dan Xi Luhan.

Luhan mempersilahkan Yuri duduk terlebih dahulu, lalu memesan kudapan yang setidaknya bisa mengisi perutnya untuk sementara mengingat jam makan siang sudah lewat tiga jam lalu.

“Kau sudah sukses sekarang, Lu” Yuri menaikan dua jempolnya sebagai pujian.

Luhan menaikan kedua bahunya. “Kau bukan Kwon Yuri hitam yang bergaya seperti laki-laki lagi, kau cantik sekarang” Goda Luhan lalu tersenyum.

Yuri sontak tertawa. Kenangannya saat ia kecil terbuka lagi karena Luhan.

Yuri si hitam. Yuri akan membayar dengan semua harta yang ia kumpulkan jika saja ada orang yang bisa membawanya ke masa lalu.

Yuri sangat senang bisa bertemu Luhan lagi setelah sekian lama. Yuri juga sudah terlalu lama menanti datangnya hari seperti ini. Hari ketika dirinya dipertemukan lagi dengan Luhan. Bagaimanapun, ya, ia masih menyimpan rasa untuk lelaki ini. Dan ternyata takdir berpihak padanya, fakta bahwa Luhan masih mengingatnya membuat hatinya bercampur aduk.

“Aku tak menyangka kita akan bertemu sebagai rekan kerja seperti ini” Yuri melanjutkan percakapan.

“Mungkin itu adalah,” Luhan terdiam sejenak. “Takdir?”

Yuri menoleh dengan cepat, menatap iris mata Luhan yang hangat. Ya, Ia juga berharap bahwa ini semua bukan sebuah kebetulan. “Kau yakin dengan takdir?”

“Tentu saja, nona Kwon”

Yuri tersenyum lebar. “Well, aku juga percaya dengan takdir”

♦♦♦

Sehun meninggalkan rumahnya dengan cepat. Mobil sport-nya melaju ke sebuah tempat―yang menurut Sehun―memuakan. Tak butuh lama bagi Sehun untuk sampai pada gedung tinggi kebanggaan ayah. Sehun berjalan masuk hingga tepat di depan ruangan ayahnya.

Mimpi buruknya akan datang lagi.

“Siang Sehun”

Ayahnya menyambut Sehun dengan hangat, berbanding terbalik dengan raut wajah Sehun yang dingin.

Ada dengusan geli di awal kalimatnya. “Basa-basi yang buruk, ayah”

“Kau benar-benar tumbuh dengan buruk, nak” ayah tersenyum kecut. “Kadang, sesuatu yang buruk akan mendapatkan balasan yang buruk. See?”

Sehun tertawa kecil. Peduli setan dengan sifatnya yang buruk, jika ia menurut seperti anjing kecil pun ia tetap akan dijodohkan.

“Aku benar-benar terkejut mendengar ucapan ayah” Timpal Sehun dingin.

“Baiklah, langsung to the point saja” Ayah tersenyum tipis. “Malam ini, jam 7 malam temui dia di Beale St―Sebuah restaurant di daerah Hongdae. Kau tahu apa maksudku kan?”

Sehun terhenyak sejenak. “Maksudnya?”

“Oh, ayolah. Kau bukan lagi anak berumur 5 tahun yang harus selalu dibimbing, nak” Ayah tertawa remeh. “Temui calon istrimu, kau paham kan?”

“Bukankah sudah ku bilang aku tidak mau!”  Oh Sehun berkata dalam satu tarikan napas singkat. Emosi sudah memuncak sampai ke ubun-ubun kepalanya.

“Kau tahu tanggung jawabmu Sehun”

Sehun tahu apa tanggung jawabnya sebagai anak tunggal dari seorang direktur yang akan segera pensiun. Ia akan meneruskan jabatan ayahnya. Mengisi sebuah bangku kosong yang sengaja ditinggalkan. Kekuasaan dan harta yang tak ada habisnya. Lalu ayahnya meminta ia menikahi Xi Yoona sebagai sebuah imbalan.

Ayahnya cerdik.

Tapi, ada sebuah celah besar yang ditinggalkan ayahnya. Celah yang mungkin saja bisa membebaskannya. Malam ini, ia akan membuat gadis itu melepasnya dari tanggung jawab besarnya.

Sehun berdecak. “Apa dia sudah mengetahui pertemuan ini?”

“Tentu saja, kalian tinggal bertemu” Ayahnya tersenyum puas.

“Baiklah. Dia tidak terlalu merepotkan”

Pertemuannya tidak akan berjalan lama, begitu juga dengan perjanjiannya. Sehun menjamin.

♦♦♦

Yoona menunggu Sehun.

Lelaki yang dalam hitungan minggu akan menjadi pendamping hidupnya. Gadis itu tak ambil pusing mengenai perjodohannya, semuanya sudah ia fikirkan matang matang sebelum menyetujui permintaan ayah. Ia memanfaatkan perjodohan ini.

Gadis itu tersenyum, mengamati penyanyi yang mulai mengalunkan sebuah lagu kesukannya. Bibirnya kadang bergumam ikut menyanyikan sepenggal lirik atau jemari tangannya yang diketuk di meja untuk menghilangkan kejenuhan.

“Terlalu lama menunggu, nona muda?”

Kepala Yoona sontak mendongak. Menatap wajah lelaki yang baru tiba dan duduk dihadapannya.

Yoona tersenyum kecut. “Mungkin”

Jika saja boleh, ia sangat ingin berteriak. Kembali ke rumah dan menolak dengan tegas permintaan ayahnya. Ia mengingkari janji kakaknya, ia mengingkari janji Luhan. Tapi, sebuah kebebasan hasil kerja fikirannya membuat gadis itu hanya terdiam dan menunduk. Ia akan memanfaatkannya dengan baik, Ia tak akan melewatkan kesempatannya.

Sehun menoleh kearahnya, tanpa ekspresi

“Yoona”

“Ya?”

Sehun mengambil nafasnya. “Seperti yang kukatakan tempo hari yang lalu, batalkan perhodohannya”

Egois? Ya, mungkin.

Setidaknya Sehun nanti tak akan menyakiti gadis-nya. Sehun akan menikahi wanita impiannya dan memiliki anak seperti yang ia impikan. Bukan dengan seseorang yang tak tahu asal usulnya seperti Yoona.

Sehun melirik Yoona dari sudut matanya. Tunggu sebentar, apakah perasaan Yoona tersakiti?

Yoona mengiggit bibir bawah nya. Ia bisa saja menolak dan terlepas, hanya saja…..

“Aku tak bisa, Sehun” Gumam Yoona pelan.

“Apa kau gila?!”  Nada suara Sehun meninggi. Raut wajahnya menunjukan kemarahan yang sangat mendalam.

“Semua sudah terlambat, Sehun. Pernikahannya akan tetap berjalan sebagaimana perjanjian itu meminta nya” Lirih Yoona pelan.

“Batalkan Yoona” Suara Sehun lebih rendah dari sebelumnya, namun lebih dingin dan menakutkan.

“Kita mempunyai ego yang sama besarnya, Sehun. Aku harus menja―”

“Aku mencintai orang lain”

Yoona terdiam. Benar-benar sudah final. Sejenak kebebasan yang ia nantikan lenyap dari fikirannya. Dia memang seorang gadis yang egois, dan Yoona membenci seseorang yang egois. Yoona membenci dirinya sendiri.

“Sehun” Gadis itu terdiam sejenak “Bagaimanapun kita tetap akan menikah”

“Jangan harap” Sehun menolak sengit.

“Kita menikah hanya di depan keluarga saja” Sehun melunak, menantikan ucapan Yoona selanjutnya. “Dan kau tetap bebas menjalani kehidupanmu, Sehun. Kau mengerti bukan?”

“Keluarga?” Sehun mengulang.

Yoona memaksakan senyumnya. “Ya, keluarga”

“Apa kakakmu termasuk?”

Yoona kehilangan nafasnya. Organ ditubuhnya serasa terhenti. Ia melupakan sesuatu yang sangat penting dari ide bodohnya.

Yoona menatap Sehun tajam. “Jangan sampai ia mengetahui perjanjian ini, Sehun. Hanya ibu dan ayah”

Sehun tersenyum puas sambil mengangguk. Tidak ada yang perlu dipusingkan, semua ide bodoh Yoona bernar-benar hebat. “Oh, baiklah. Kita sepakat”

♦♦♦

Lelaki berambut pirang itu terpaku, menatap seorang wanita yang tengah tersenyum lebar dengan perasaan tak tertebak.

“Aku menunggumu dari tadi. Bibi Han bilang kau sedang pergi, tumben sekali” Yuri mengerucutkan bibirnya seakan akan marah karena sudah lama menunggu.

Waktu sudah menunjukan jam 9 malam, dan Sehun yakin yang sedari tadi Yuri lakukan hanya tidur di ranjangnya lalu membaca koleksi komik miliknya.

“Aku ingin permintaan maaf, Sehun”

Sehun memandangnya bingung. “Maaf?”

Yuri tersenyum senang. “Ya, permintaan maaf. Besok kita harus berjalan-jalan seharian sebagai permintaan maaf. Kau tahu aku menunggu selama 2 jam disini”

Sehun terkekeh, kemudian tangannya ia gerakan untuk mengacak pucuk kepala Yuri. Tersenyum manis, lelaki itu menjelaskan segalanya.

“Maaf, tadi aku habis bermain dengan seorang teman”

Raut wajahnya berubah pernasaran, dengan sebuah senyuman tercetak di bibirnya. “Lelaki atau perempuan?” Goda Yuri.

Sehun gelagapan, lelaki itu tak pandai berbohong pada Yuri. “Tentu saja laki-laki”

Yuri menatap Sehun dengan aneh. “Sehun, kau bukan gay, kan?”

Sehun mendegus. “Tentu saja tidak, bodoh”

Yuri berjalan mendekat. Hidungnya menghirup aroma kemeja Sehun membuat lelaki itu ketar ketir karena tingkahnya.

“Tidak ada wangi parfum perempuan. Kau gay, Sehun” Simpulnya.

Sehun mendorong punggung Yuri menjauh. “Keluar. Aku ingin mandi, kau mau melihatku bertelanjang?”

Yuri tertawa kencang, lalu dengan suara yang nyaring gadis itu berteriak kepada seluruh penghuni rumah

“Ya! Kalian semua harus mengetahui ini, bahwa Oh Sehun adalah pria pencinta sesama jenis”

♦♦♦

Luhan terdiam saat mendapati Yoona sudah duduk manis di sampingnya. Lelaki itu memijat keningnya saat suara cempreng Yoona lebih keras daripada suara tape yang sengaja ia nyalakan. Lelaki itu mendesah pelan.

“Sebenarnya kita akan kemana?” Luhan melirik Yoona lewat sudut matanya. Ada hening yang cukup panjang sebelum Luhan menjawab pertanyaan Yoona dengan senang.

“berjalan jalan” Jawab Luhan singkat.

Yoona menoleh, kemudian tersenyum senang. “Oh, yang benar? Kemana? aku harap kita wisata kuliner”

Luhan mendengus  “Diam saja dan duduk”

Yoona mengangguk mengerti, kemudian mengalihkan tatapannya pada jalanan padat di luar kaca mobilnya. Yoona senang, sudah lama ia dan Luhan tidak menghabiskan waktu bersama. Luhan terlalu sibuk dengan pekerjaan yang menguras energinya sementara Yoona asik tidur atau bermain dengan si Putih.

Tak selang berapa lama, mereka sampai. Namsan Cable Car, adalah tujuan pertama untuk tour hari ini, Yoona akan melihat luasnya kota Seoul dan Luhan menjamin keindahannya. Walaupun ini masih pagi dan pemandangannya tidak sebagus pada malam hari, itu lebih baik daripada hanya membiarkan Yoona berdiam diri sendirian di kamar.

“Kau takut ketinggian, Lu”  Yoona mengingatkan Luhan yang sudah bersiap masuk ke cable car.

10 tahun lalu saat ia dan Luhan naik bianglala, gadis itu tidak dapat menghentikan tawanya karena Luhan hanya terduduk meringkuk di pojokan dengan muka merah padam. Dan puncaknya, saat bianglala terhenti tepat diatas, lelaki itu menjerit ketakutan memanggil kedua orang tuanya.

“Panggil aku oppa, yoong” Luhan mengingatkan dengan raut malas.

“Tapi kau takut ketinggian” Yoona mengelak.

“Tidak, sungguh. Ayo masuk”

Yoona mendengus. “Baiklah, tapi berjanji agar kau tak berteriak”

“Ya. Tentu” Luhan mengangguk mantap.

Luhan Melangkah masuk lebih dulu dan Yoona mengikutnya dari belakang. Tak ada pengunjung yang akan masuk lagi dan Luhan menyukai itu.

Pintu cable car yang hampir tertutup kembali terbuka saat seorang gadis dengan susah payah menarik tangan lelaki yang enggan masuk ke dalam cable car. Yoona menahan nafasnya, dan memandang ke depan dengan pandangan kosong. Lelaki itu, Yoona mengenalnya dan pasti Luhan juga.

Dengan cepat Yoona menoleh ke arah Luhan, menggenggam jemari kakaknya dengan erat. Rahang Luhan mengeras, raut wajahnya tak tertebak, dan balasan genggaman Luhan yang lebih kencang. Luhan marah.

Gadis itu memasang raut kaget dan tak percaya, begitu juga dengan lelaki yang sedari tadi cukup menguras tenanganya. Dengan cepat gadis itu melepas tangannya dari lengan lelaki itu.

“Oh, Hai Luhan” Yuri tersenyum canggung. “Aku tak menyangka kita bertemu lagi”

♦♦♦

HAH! hembus nafas lega akhirnya chapter 2 keluar juga. Mian nih kalau kurang memuaskan karena emang butuh perjuangan banget bikin ff chaptered yang entah arahnya bakal kemana. sering bingung mau nulis apa buat lanjutin cerita ini, alhamdulillah dapet pencerahan di tengah banyak fikiran yang  menumpuk.

Maaf nih kalau peran Yuri dan Luhan kurang di ff ini. Karena masih bingung merka berdua bakal di campurin dalam situasi yang kaya gimana hehehe

Mohon maaf kalau saya kurang memuaskan dan mengecewakan, tapi saya tetep butuh comment kalian untuk perbaikan. Keep comment and like ya😉

78 thoughts on “MACHIGATTA [2nd]

  1. Kebebasan sprti apa yg yoona inginkan dg perjodohan itu?? Jangan bilang luhan sehun berebut yuri yaa,,yg kayaknya yuri suka sm luhan aduuuh d tunggu next chapternya,, sdh adakah??

  2. Next.. Luhan oppa kenapa sih kalau ketemu sehun oppa langsung marah? Punya masa lalu suram? Ya sudah.. Hwaiting ne..

    Annyeong^^

  3. Kurang panjanggggg~ T^T
    Wah cinta segibanyak(?)😀
    Luhan suka Yoona eonni, Sehun suka Yuri, Yuri suka Luhan dan Yoona eonni suka Sehun? *maybe ><
    Ahh gemes bacanya. Next chapt panjangin dong saeng.
    Keep writing ~

  4. kurang panjanggggg thorrrrr. jadi nanti luhan suka sama yoona? yuri suka luhan? sehun suka yuri? terus yoona suka sama siapa thor? hahahaha

  5. Aku ngerasa kok makin pendek aja yaaa hiks kurang panjang ff nya ni thor…. ohviya pengen tau sebenernya apa alasannya yoona ga mau ngebatalin perjodohannya ama sehun.. keren nih tambah seru ><

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s