(Freelance) You Don’t Know Love

ydnl

You Don’t Know Love

You Don’t Know Love | De_Pus19 | Oneshoot | PG-13

Angst | Romance

Im Yoona | Kris Wu

Disclaimer | This story is mine, cast are belong god

Warning | Garing, typo, bad story, and other

Poster by Mellanieya

Happy reading | Hope you like it

  1. 28 AM

Sinar matahari menembus sela-sela kecil tirai yang berbahan sutra. Sutra. Ya, sutra. Mungkin bagi kalian yang tidak memiliki kantung tebal, tirai sutra itu adalah hal yang mustahil.

Wanita itu-Im Yoona-terbangun dari tidur lelapnya. Im Yoona atau mungkin lebih tepatnya Wu Yoona. Wanita yang menyandang status sebagai isteri dari Kris Wu. Lelaki paling sempurna didunia begitulah menurut para karyawan wanita dikantornya.

Hal yang pertama ditangkap oleh iris madunya adalah wajah tampan suaminya. Yoona tersenyum manis seraya menyusuri wajah Kris dengan jemari lentiknya. Dari kening, mata, hidung hingga tepat berhenti dibibir merah suaminya.

Yoona mencondongkan wajahnya sedikit kedepan lalu mengecup pelan bibir merah itu. Membuat sang empunya membuka mata. Kris tersenyum tipis sambil menghusap lembut rambut coklat Yoona.

“Apakah itu morning kiss untukku?” tanya Kris dengan suara paraunya khas orang yang baru bangun tidur. Yoona menatap Kris dengan tatapan menggoda sambil menghusap-usap pelan bibirnya “Menurutmu?”

Oh tidak, Kris meladeni permainan Yoona “Kurasa bukan” dan sekarang tubuh kekar Kris sudah menindih tubuh mungil Yoona. Apa yang akan mereka lakukan?

“Apa yang ingin kau lakukan? Hem…” jemari lentik Yoona mulai menyusuri surai lembut coklat milik suaminya “Tentu saja mengambil jatahku” oh bahkan sekarang Kris mulai me-rileks-sasikan bibirnya yang sempat kaku tadi.

1

2

3

Dan…

“Kau ada rapat hari ini dengan perusahaan keluarga Park jam 9 nanti”

Oh ya sudah diperkirakan, Kris meloncat dari ranjangnya dan berlari kecil menuju kamar mandi tanpa menghiraukan Yoona yang tertawa geli melihat tingkah suaminya. Yoona berjalan menuju lemari-yang terbuat dari kayu jati yang pastinya sangat kuat-lalu membukanya.

Ia nampak menimang-nimang sebentar sebelum akhirnya ia memilih kemeja putih berlengan panjang, dasi bergradasi hitam putih, jas berwarna abu-abu gelap, dan celana panjang dengan warna yang senada. Lalu meletakkannya diatas ranjang.

“Aku sudah menyiapkan pakaianmu. Aku menunggumu dibawah”

  1. 17 AM

Sebuah kecupan ringan mendarat dipucuk kepala Yoona “Morning” ujar Kris seraya mengitari meja makan lalu mendudukkan dirinya disebuah kursi tepat dihadapan Yoona “Morning. Coklat atau kacang?”

“Kurasa kau mengetahui rasa roti kesukaanku” Yoona mengambil beberapa lembar roti tawar lalu mengoleskan selai kacang dan menaburi coklat diatas roti itu. Selesai. Kris tersenyum saat Yoona memberikan roti isi kesukaannya.

“Bagaimana tidurmu?”

“Tidurku sangat nyenyak, karna kau terus memelukku semalaman” Yoona tak dapat menahan senyumnya saat mengingat kejadian semalam.

Kris hanya terdiam, dia melirik sekilas arloji hitam kesayangannya “Kurasa aku harus berangkat” Kris berjalan kearah pintu diikuti dengan Yoona dibelakangnya “Kurasa aku akan pulang terlambat hari ini”

Bukankah kau selalu pulang terlambat, batin Yoona.

Yoona tidak menjawab ia mengangguk pelan “Aku mencintaimu” selalu kalimat itulah yang Yoona ucapkan dan Kris hanya menjawab “Aku tahu” lalu Kris mengecup pelan kening isterinya dan pergi. Selalu seperti itu.

Yoona berjalan kearah dapur. Ia mengambil beberapa piring dan gelas kotor lalu mencucinya. Keningnya berkerut saat melihat kotak bekal yang berada diatas meja makan. Oh tidak, Kris melupakan bekal makan siangnya.

Kenapa dia selalu melupakan bekal makan siangnya?, pikir Yoona.

“Sepertinya harus aku yang mengantarkan bekal makan siangnya” guam Yoona lalu melanjutkan kembali aktivitasnya yang sempat tertunda.

2007

“Hai” suara yang terdengar gugup itu menarik perhatian namja bertubuh jangkung hingga ia harus membalikkan tubuhnya 180 derajat “Hai”

Kris Wu-namja bertubuh jangkung itu menatap gadis berambut coklat-yang sedang menunduk didepannya-dengan tatapan bingung. Gadis berambut coklat itu mendongakkan kepalanya dan mentap Kris dengan tatapan ehm.. entahlah mungkin takut atau gugup.

“Kau masih mengigatku?” tanya gadis itu. Oh pertannyaan bodoh, terlalu banyak gadis yang sudah ia temui dan mana mungkin dia mengigat setiap gadis yang pernah ia temui, termasuk gadis didepannya kini. Dan yang seperti sudah diperkirakan, Kris malah menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal.

“Aku… aku Im Yoona. Kau tidak mengingatku?” Kris menggeleng sambil tersenyum tipis “Ehm.. dua hari yang lalu kau menabrakku dilorong koridor lantai dua”

Kris menampakkan senyum lebarnya. Sepertinya dia sudah mengingat gadis itu “Maaf atas kejadian yang waktu itu. Aku sedang terburu-buru”

“Ya. Oh ya, ini milikmu bukan?” Yoona-gadis itu menyodorkan sebuah arloji berwarna hitam. Kris nampak memperhatikan arloji itu sebelum akhirnya ia mengambilnya dari tangan Yoona.

Niatnya sih, Yoona ingin berbalik dan meninggalkan Kris seorang diri dilorong koridor. Tapi siapa sangka, Kris Wu-ketua osis yang dinobatkan sebagai namja yang mendekati kata sempurna itu-mencegahnya pergi.

“Tunggu”

Oh, ada apa ini? Jangan bilang Kris menyukai Yoona. Itu tidak mungkin. Kenapa harus Yoona? Masih banyak gadis lain yang jauh lebih cantik dari Yoona. Oh ya, ini sebagai cacatan kecil ‘Kris sudah berpacaran’. Berpacaran dengan Park Chorong-gadis yang bahkan menjadi tipe ideal semua namja didunia ini. Dan Kris tidak mempunyai alasan untuk menyukai Im Yoona, karna dia mempunyai Park Chorong yang 1000x lebih baik dari pada Im Yoona. Jadi tidak mungkin Kris menyukai Yoona. Jadi, untuk apa Kris memanggil gadis itu.

Yoona membalikkan tubuhnya dan menatap Kris “Ya” oh tidak, bahkan gadis itu tidak menyembunyikan rasa gugupnya. Itu sangat jelas terdengar dari suaranya. Hal itu membuat Kris sedikit gugup.

Gugup?

What the? Seorang Kris Wu gugup? Didepan seorang gadis! Bahkan dia barus saja mengenal gadis itu sekitar 5 menit yang lalu. Dan sekarang ia gugup. Oh God.

Kris menatap arloji ditangannya dan beralih mentap Yoona “Arloji ini rusak” demi apapun Yoona menatap tak percaya pada arloji yang sedang berada ditangan Kris sekarang.

“Tidak mungkin. Kemarin arloji itu tidak rusak. Aahh…” pekik Yoona sambil menunjuk-nunjuk arloji Kris. Sedangkan namja itu hanya tertawa kecil melihat ekspresi gadis didepannya “Maaf. Semua barang yang berada ditanganku pasti rusak”

“Maka dari itu, kau harus memperbaiki arloji ini. Dan setelah arloji ini sudah kau perbaiki berikan padaku” ujar Kris sambil menyerahkan arloji kesayangannya kepada gadis didepannya dan dengan santainya dia pergi meninggalkan Yoona-seorang diri dilorong koridor-yang masih-mentap punggu namja itu-tak percaya.

2008

“Aku dan Chorong sudah berpisah”

Hampir. Hampir saja coffe late hangat-yang ia baru saja beli dipersimpangan jalan menuju sekolah-memuncrat dari mulutnya. Kalau saja ia tidak menahan coffe late itu. Entah bagaimana wajah tampan Kris sekarang.

“Kenapa?” kalau mau tahu, itu adalah pertanyaan basa-basi yang Yoona lontarkan. Semenjak kejadian arloji itu, Kris dan Yoona semakin dekat dan sekarang mereka sudah menjadi sahabat. Hanya sekedar sahabat. Tidak lebih.

“Entahlah. Mungkin karna dia terlalu manja. Aku tidak menyukai gadis manja”

Tapi kau berpacaran dengannya sudah satu tahun lebih, teriak Yoona dalam hati.

Catatan ‘Yoona menyukai Kris’.

“Tapi dia gadis yang baik” mungkin terlalu basa-basi atau mungkin terlalu kardaluarsa. Kris memandang langit yang berwarna hitam legam dan sudah dihiasi dengan beberapa cahaya yang berkelap-kelip diatas sana.

“Ya” namja itu menghembuskan nafasnya berat. Hey, apa dia masih sulit melupakan Park Chorong? Apa dia sangat mencintai Park Chorong “Tapi dia berciuman dengan Choi Minho”

Apa? Apa yang kau katakan barusan Kris? Chorong berselingkuh dengan Minho? Dasar gadis genit. Tidak tahu malu. Apa kurangnya Kris? Dasar gadis kurang ajar. Dari dulu aku memang tidak menyukai gadis itu. Park Chorong akan kubunuh kau, teriak Yoona dalam hati.

Tapi… ya Tuhan! Susahnya melontarkan omelan-omelan itu kepada gadis yang dicintai oleh namja disampingnya ini. Bagaimana kalau Kris mendengar omelannya barusan. Pasti Kris akan mencapnya sebagai ‘gadis jahat’.

Yoona menampilkan ekspresi tenangnya. Dia tidak mau Kris mengetahui betapa marahnya dia-pada gadis yang dicintai sahabatnya-kini. Tapi apa yang keluar dari mulut Yoona: “Memangnya kau sudah mengetahui kejadian yang sebenarnya? Mungkin saja itu hanya sebuah kecelakaan”

Oh God! Yoona hampir saja menepuk jidatnya sendiri dengan sekeras-kerasnya. Bodoh dia! Apa yang diucapkannya barusan? Bukannya mendukung Kris berpisah dengan Chorong, dia malah mengatakan hal yang tidak-tidak. Itu sama aja dengan ia mendukung Kris berpacaran lagi dengan Chorong. Sial.

“Aku tidak ingin terjatuh kedalam lubang yang sama untuk kedua kalinya” serasa beban yang Yoona pikul selama ini hancur berkeping-keping. Yoona menghembuskan nafasnya lega. Benar-benar lega. Sedangkan Kris, dia menatap Yoona dengan tatapan misterius.

“Jadilah kekasihku”

2012

Hanya sebuah tiupan yang pelan, tapi membuat api kecil yang diterpannya padam. Yoona menatap nanar kue tart yang sedang ada didalam genggamannya. Entah sudah berapa lama gadis itu menyalakan lilin diatas kue tartnya. Hingga lilin kecil itu sudah benar-benar meleleh.

Yoona menghembuskan nafasnya berat. Ia melirik sekilas arloji yang melingkar dipergelangan tangannya. Tepat pukul 10 malam. Selalu seperti ini selama kurun beberapa tahun terakhir. Untuk apa kue tart itu? Oh ya, hari ini Kris berulang tahun.

Yoona menutup mata dan mulai mengerutuki kebodohannya. 2 tahun ia melakukan hal ini. Bodoh. Sangat. 2 tahun yang lalu Kris pergi meninggalkannya. Saat itu Kris berkata ia akan kembali ke Korea saat hari ulang tahunnya, tanpa memberitahu kapan tepatnya ia akan kembali. Dan kebodohan Yoona adalah ia selalu menunggu Kris di bandara pada hari ulang tahun Kris dari pagi hingga malam.

Yoona membuka kelopak matanya lalu ia berjalan menuju tempat sampah yang tak jauh dari tempat duduknya tadi. Yoona menatap nanar kue tart yang berada digenggamannya kini. Lagi. Ia harus membuang kue tart untuk Kris lagi.

Tingal satu gerakkan lagi. Tapi siapa sangka aksinya terhenti saat suara yang berat menghantam gendang telingannya.

“Yoona”

2013

“Apa kau sudah gila?”

Teriakkan itu serasa bergema didalam telinga Kris. Padahal lelaki itu sudah menutup telingannya dengan kedua tangannya. Tapi, teriakkan itu masih saja bisa menerobos masuk. Yoona-gadis yang berteriak tadi menatap Kris dengan tatapan tajam sambil mencengkram surat uandangan pernikahan.

“Aku tidak gila” disituasi mengcengkram ini, bahkan Kris masih sempat-sempatnya tersenyum manis. Apa dia tidak berpikir? Bisa saja gadis yang sedang menatapnya tajam tiba-tiba menendang wajah tampannya.

“Kau tidak gila. Tapi, kau bodoh. Aaaaaaa…” Yoona berteriak sambil mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia juga menghentakkan kakinya dilantai marmer yang mahal itu. Apa dia tidak berpikir? Suara yang dihasilkan hak sepatu yang beradu dengan lantai marmer sangat memekakkan telinga. Bahkan, lelaki yang berada didepannya harus menutup telinganya untuk kesekian kalinya.

“Bukankah itu ide bagus”

“Apa? Kau tidak berpikir? Kau setuju kalau kita menikah. Kita menikah” geram Yoona. Ia benar-benar marah. Tapi hanya logikanya saja bukan hatinya.

“Hanya menikah” ujar Kris tanpa dosa.

“Kau bahkan tidak mencintaiku” suara Yoona semakin melemah. Ia sedih. Memang hatinya sedang bersorak, ia bisa memiliki Kris seutuhnya hanya dalam kurun waktu 48 jam mulai dari sekarang. Tapi, pernikahan tanpa cinta tak akan bertahan lama.

Ia ingin menangis. Menangisi takdir yang tak adil. Ia ingin, ingin sekali menikah dengan Kris. Tapi, dia tidak bisa. Kris tidak mencintainya. Lihat, bahkan Kris mengangap pernikahan adalah hal yang sepele. Dan sepertinya Kris hanya mempermainkan Yoona.

“Bukankah dulu kita pernah berpacaran? Dulu aku sangat perhatian dengan Chorong karna aku mencintainya. Aku juga perhatian denganmu bahkan sampai sekarang. Jadi, agap saja aku mencintaimu” Kris bahkan kau tak mengerti perasaan Yoona dan dengan mudahnya kau mengatakan hal itu padanya.

“Bukankah dulu kita berpacaran hanya untuk membuat Chorong cemburu” lirih Yoona.

  1. 49 AM

“Aku ingin bertemu Tn. Wu. Apa dia ada diruang kerjanya?” tanya Yoona pada salah satu karyawan di Perusahaan Wu.

“Ya. Tn. Wu ada diruang kerjanya. Apa aku harus memberi tahunya jika kau datang?”

“Tidak perlu” ujar Yoona sambil melenggang pergi menuju salah satu lift yang tersedia diperusahaan suaminya.

Wanita itu menatap arloji yang melingkar dipergelangan tangannya. Ia menghembuskan nafasnya lega. Setidaknya ia tidak akan terlambat membawakan bekal makan siang untuk Kris. Karna masih ada waktu sepuluh menit lagi sebelum jam makan siang.

Ting…

Pintu lift terbuka. Dengan langkah panjang Yoona berjalan menuju ruang kerja suaminya. Namun, apa yang terjadi? Langkahnya terhenti seketika. Dia mulai merasakan matanya memanas. Dan nafasnya tercekat. Oh, ada apa ini?

Kris sedang berpelukkan. Berpelukkan dengan… Park Chorong. Mantan kekasih suaminya.

Yoona berjalan mundur menuju lift. Ia membiarkan tangan kirinya membekap mulutnya sendiri. Mencoba untuk tidak menimbulkan suara apapun. Pintu lift terbuka, ia masuk lalu menyenderkan punggungnya pada dinding.

Sakit. Bahkan terlalu sakit. Hingga ia tidak bisa mengambarkan apa yang ia rasakan saat ini. Matanya terpejam, ia menggeleng pelan. Dengan sekuat tenanga Yoona mencoba menghalau semua, menghapus apa yang ia lihat tadi dan meyakinkan dirinya bahwa apa yang ia lihat hanyalah sebuah kebohongan. Semua sia-sia.

Jadi apa arti pernikahan ini? Hanya sebuah lelucon? Apa arti sikap Kris selama ini kepadanya? Hanya sandiwara? Senyumannya? Tawanya? Pelukannya? Semua sandiwara? Jadi semua hanya sandiwara?

Dan yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah menangis.

  1. 58 PM

Entah untuk kesekian kalianya, Kris melirik arloji hitam yang melingkar dipergelangan tangannya. Ia ‘mondar-mandir’ seperti setrika rusak. Kris menggigit bibir bawahnya keras. Matanya terus memandang kearah jendela. Seperti sedang menunggu seseorang.

Kemana dia?

Kris tidak bisa berbohong saat ini. Lelaki itu tidak bisa menampilkan ekspresi datar seperti biasanya. Dia khawatir. Sangat khawatir. Dan… takut.

Sampai saat ini bahkan Yoona belum pulang. Kemana dia? Dia bahkan tidak mengantarkan bekal makan siangnya. Apa wanita itu tidak tahu betapa laparnya Kris saat itu? Yoona bahkan tidak menelpon atau mengabarinya. Yoona juga tak bisa dihubungi. Kemana dia?

Sebuah taksi berwarna putih berhenti tepat didepan rumah Kris. Seorang wanita yang mengenakan dress mini berwarna hitam keluar dari taksi tersebut. Dengan cepat Kris keluar dari rumahnya dan menghampiri wanita itu.

Tepat dugaan Kris. Wanita itu adalah Yoona.

“Kau dari mana saja? Kenapa kau tidak mengantarkan bekal makan siangku? Kenapa kau tidak menjawab telponku?” cecar Kris. Lelaki itu berekspresi datar seperti biasanya. Menyembunyikan rasa khawatirnya.

Yoona tersenyum kecil sambil melirik Kris sekilas dan berjalan masuk kedalam rumah. Merasa dihiraukan Kris menarik pergelangan tangan Yoona cukup kencang, hingga membuat sang empunya meringis kesakitan. Kedua iris mata yang berbeda warna itu saling menatap satu sama lainnya.

Mereka masih memegang teguh ego mereka diatas segalanya. Mereka masih saling menatap dengan tajam satu sama lain. Tapi Yoona tidak tahan lagi. Akhirnya ia menunduk, menutupi matanya yang sudah memerah.

Kris menghembuskan nafasnya panjang. Ia melepas genggaman tangannya pada pergelangan tangan Yoona. Kedua tangan Kris memegang lembut pundak Yoona “Jawab pertannyaanku Yoong. Aku mengkhawatirkanmu”

Yoona memejamkan matanya. Ia ingin sekali memeluk Kris. Dia ingin sekali melupakan apa yang ia lihat tadi siang. Tapi tidak bisa. Yoona tidak mampu. Ia terlalu sakit. Ia terlalu takut. Takut terjerumus kelubang yang lebih dalam.

Pikiran Yoona kacau balau. Ia tidak bisa memilih antara egonya atau hatinya. Dia bimbang dan bingung. Yoona membuka matanya dan mendongak menatap Kris dengan tatapan sinis. Dan saat itulah, egonya yang menang.

“Haruskah kita bercerai?”

  1. 18 AM

Sudah lima kali Yoona keluar masuk kamar mandi. Kepalanya begitu pusing. Tubuhnya begitu lemas tak bertenaga. Dan perutnya seperti dikocok-kocok. Yoona merasa sangat mual. Ia kembali lagi ke kamar mandi untuk keenam kalinya.

Yoona tidak kuat. Tangan kanannya memegangi kepalanya yang terasa sakit. Sedangkan tangannya yang lain mencoba mengetuk pintu ruang kerja Kris. Sudah 3 kali ia mengetuk pintu ruang kerja Kris. Namun, tidak ada jawaban. Ya, malam ini mereka tidur diruangan yang berbeda. Karna ego Yoona sedang menguasai dirinya.

“Kris… Kris” panggilnya lemah. Ia tidak kuat. Sudah tidak kuat lagi.

Akhirnya pintu itu terbuka. Keluarlah seorang lelaki dengan baju tidurnya dan rambut yang sedikit berantakkan sambil mengucek-kucek matanya beberapa kali. Dia begitu mengantuk. Bahkan mata Kris sangat sulit untuk terbuka.

Oh, lelaki itu bahkan baru bisa memejamkan matanya saat jarum jam tepat berada diangka 2. Berarti ia baru tertidur 18 menit yang lalu. Dan apa sekarang? Ada yang membangunkannya? Hah?!

“Ada apa Yoong?” tanyanya lembut dan yang pastinya matanya masih terpejam. Apa Kris lupa dengan apa yang Yoona katakan beberapa jam yang lalu? Bahkan wanita itu meminta cerai padanya dan Kris masih berbicara dengan suara yang lembut.

“Kris… tolong aku” mohon Yoona.

Kris tersentak karna mendengar suara Yoona. Suara begitu berbeda. Seperti sedang kesakitan. Mata Kris benar-benar lengket, tapi ia berusaha keras untuk membuka kelopak matanya. Dan ia sangat terkejut melihat Yoona.

Yoona begitu pucat saat ini. Pucat pasih. Dan tiba-tiba, tubuh kurus itu kehilangan kekuatannya. Dengan cepat Kris memeluk tubuh lemah itu “Yoong… Yoong… kau dengar aku?” tak ada jawaban. Yoona tak sadarkan diri. Ia pingsan.

  1. 38 AM

Kris muncul dari balik pintu sambil membawa beberapa kantung belanjaan yang bisa dibilang cukup besar. Senyumnya mengembang saat mengetahui Yoona sudah sadar. Kris menutup pintu dengan menendang pelan pintu tersebut lalu berjalan menuju salah satu meja kecil disamping ranjang rumah sakit Yoona.

“Bagaimana keadaanmu?” Kris bertanya tanpa memandang Yoona. Satu-persatu makanan yang ia beli dikeluarkannya dan meletakkannya diatas meja.

Kening Yoona berkerut samar saat menatap beberapa makanan yang baru saja dibeli oleh suaminya. Susu putih tanpa gula, roti gandum, bubur kacang merah dan masih banyak lagi. Ok, Yoona tahu ia sedang sakit. Tapi hey, haruskan lelaki itu membelikan semua makanan itu untuknya?

“Kurasa aku sudah lebih baik” ujarnya pelan.

Wanita itu masih tidak mengerti dengan suaminya. Apakah semua makanan itu untuknya? Tapi itu terlalu banyak. Atau mungkin untuk mereka berdua. Tapi Yoona tahu apa saja makanan yang Kris sukai. Dan tidak ada satu pun dari makanan yang dibeli oleh Kris yang tercantum dalam daftar makanan favorit lelaki itu.

Sekarang apa ini? Apa Yoona lupa? Baru kemarin Yoona melihat Kris berpelukkan dengan mantan kekasihnya-Park Chorong. Dan sekarang? Bahkan Yoona masih saja mengingat seluruh daftar makanan favorit suaminya.

“Untuk siapa semua makanan ini?”

Kris tertawa renyah sambil berjalan menghampiri Yoona. Hampir saja ia mencondongkan tubuhnya untuk mencium bibir pucat milik isterinya. Namun ia mengurungkan niatnya, sepertinya Kris menyadari kalau Yoona masih marah padanya. Ia sudah mengetahui semuanya dari Kim Taeyeon-sekertaris pribadinya. Bagaimana terkejutnya Yoona saat itu.

Jadi lelaki itu hanya berdiri disamping Yoona. Menatap dan tersenyum dengan lembut “Tentu saja untuk isteriku”

“Aku tidak menyukai semua makanan itu. Lebih baik kau membuang semuanya” ujar Yoona dingin.

Kris menyadari. Lelaki itu benar-benar menyadari perubahan raut wajah dan suara dari wanita didepannya saat ia mengatakan ‘isteriku’ dan dengan seketika air muka Yoona berubah 180 derajat. Ia menjadi dingin dan kembali menatap Kris tajam.

Kris tetap tersenyum dan menatap Yoona dengan lembut. Seakan-akan lelaki itu tidak menaydari perubahan sikap dari isterinya “Kau harus menyukai semua makanan itu mulai dari sekarang” Yoona menatap Kris bingung “Karna sekarang didalam tubuhmu tidak hanya ada dirimu sendiri”

Yoona tertawa kecil seperti mengejek. Ia menggelengkan kepalanya dua kali sambil tersenyum sinis. Ia tak habis pikir. Apa maksud dari ucapan Kris barusan?

Kris mengerti. Ia tahu dari ekpresi yang ditunjukkan Yoona. Wanita itu tidak mengerti maksud ucapannya. Apa ucapannya terlalu berbelit-belit? Kris menyentuh lembut kedua pundak Yoona sambil menatap iris madu itu.

“Sebentar lagi kau akan menjadi seorang Ibu”

Yoona terdiam. Otaknya masih mencerna kaliamat yang baru saja Kris lontarkan untuknya. Sebentar lagi kau akan menjadi seorang Ibu? Menjadi seorang Ibu?

Wanita itu menutup matanya. Ia baru menyadari maksud dari ucapan Kris barusan. Tangan wanita itu terkepal kuat. Hingga ia bisa merasakan kuku-kuku panjangnya menusuk kulitnya. Tidak… tidak… ini tidak boleh terjadi. Harusnya hal itu tidak boleh terjadi. Kris bahkan tidak mencintai Yoona. Kumohon… jangan katakan kalau…

“Kau hamil Yoona”

Tidak. Itu tidak mungkin.

~End~

Note :

Annyeong…

Ff ini pernah dipost diblog pribadiku

http://desypus19.wordpress.com

Jangan lupa komennya J

48 thoughts on “(Freelance) You Don’t Know Love

  1. What…END..gantung bgt..sequel JEBAL..baca ff ini brasa kya nntn bola tpi ga ada yg masukin bola ke gawang..buatin Sequelnya dooooong..yah yah yah..JEBAL

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s