Pain of Summer

yun

.

kr1
.

chiharu’s present:

Pain of Summer

Starring by Im Yoona and Kris Wu

Genre: Marriage life | Angst

Rating: PG

Length: Ficlet

Disclaimer: Pure mine, don’t claim this as yours. Also posted on other blogs with other pairings.

Copyright © 2014 chiharu

.

Aku tahu tidak mudah,

Tapi apa kau tidak pernah melihatku?

.

///

Suasana musim panas begitu melekat di jantung Korea Selatan ini. Semua orang sibuk dengan acara musim panasnya masing-masing. Memang lebih enak jika menghabiskannya sambil berlibur di pantai, tapi jantung kota ini juga tidak kalah ramainya.

Terlihat beberapa toko menjajakan ice cream unggulan mereka. Mereka bak menarik si pelanggan dengan ice cream diskonnya itu.

“Oppa, bagaimana jika kita makan ice cream di restoran saja. Aku sudah lama tidak memakannya disana.”

Seorang gadis berambut panjang terlihat sedang bergelayut manja pada sang kekasih. Lelaki jangkung yang disinyalir adalah kekasihnya itu hanya mengangguk sambil tersenyum kecil. “Baiklah, ayo kita kesana.”

Sementara disisi lain, si penjaga kedai ice cream terlihat mendesah pelan. Kepalanya menunduk kebawah, ia baru mendongkak saat si bos memanggil namanya.

“Yoona! Apa kau bisa antarkan kue-kue ini ke apartemen diujung jalan sana?” teriak seorang wanita setengah baya padanya, Bibi Jang. Gadis itu buru-buru kesana dan mengambil beberapa kantong kue, lalu ia bergegas menuju ke tempat tujuan yang sudah Bibi Jang bilang tadi.

Derap langkahnya begitu cepat, ia bahkan menerobos rentetan manusia yang sedang berjalan disekitarnya. Ah itu sudah biasa, ia memang begitu—sangat cepat jika berjalan, tungkainya sama sekali tidak lelah jika ia paksa untuk berjalan lebih cepat lagi.

Ia membuang nafas lega saat ia sudah ada didalam bangunan apartemen itu. Saat ia sudah berada didepan lift, dengan segera ia memencet tombol disana dan segera masuk kedalamnya.

Tunggu dulu, ia melupakan sesuatu. Ini kan apartemen tempatnya tinggal? Siapa yang memesan kue? Ia mencoba melihat lagi alamat yang Bibi Jang berikan tadi. Ia membuang nafasnya dan mendesah pelan. Wajahnya terlihat pucat. Apartemen nomor 124. Itu adalah apartemennya sendiri. Pasti lelaki itu yang memesan ini.

Kini ia sudah keluar dari lift dan berada tepat didepan pintu apartemen lelaki itu, apartemennya juga.

Perlahan, ia membuka pintunya. Tidak ada orang didalam, mereka pasti akan makan berdua. Ya, mereka. Lelaki itu dan gadisnya.

Ia segera menggeleng dan meletakkan beberapa kantong kue itu diatas meja yang ada didekat pintu. Dengan segera pula ia menutup pintunya dan keluar dari sana.

Entah apa perasaan yang tengah menyelimuti hati seorang Im Yoona. Cemburu, mungkin terlalu tidak pantas. Tapi, ia adalah istri dari lelaki itu, Kris Wu.

Dua minggu lalu, ia memantapkan hatinya untuk menikah dengan lelaki yang ia kenal, lelaki yang sangat baik. Tapi apa daya, lelaki baik itu tidak mencintainya—pernikahan yang terpaksa. Ia juga tidak tahu, kenapa dengan bodohnya ia mengijinkan lelaki itu untuk berpacaran meskipun sudah memiliki istri. Yoona tahu, lelaki itu baik dan teramat baik padanya, sampai ia rela memberikan kesempatan itu.

///

“Ah terima kasih. Silahkan datang lagi.” Yoona membungkuk seraya ia memberikan senyumannya.

“Sama-sama, ngomong-ngomong selamat ya, kudengar kau sudah menikah.”

Yoona tersenyum, tersenyum hambar lebih tepatnya. Si pelanggan yang sedang berhadapan dengannya sampai heran dengan air muka Yoona yang seperti itu. “Hei, kau kenapa?”

“Tidak, aku tidak apa-apa.” balasnya dengan sebuah senyuman tipis.

“Yasudah, kalau begitu, aku pamit dulu ya.”

“Baiklah, hati-hati.” seru Yoona sambil melambaikan tangannya.

Setelah itu, lagi-lagi ia teringat akan bebannya. Hampir semua orang mengucapkan selamat padanya, tapi semua itu seperti ucapan kosong belaka, toh ia tidak bahagia dengan pernikahan ini. Setiap kali ditanya, Yoona selalu bilang bahwa pernikahannya baik-baik saja, maka tidak heran mereka ikut merasa senang dengan status Yoona yang sekarang.

///

Yoona membuka pintu apartemennya. Ia mengerutkan keningnya saat ia masih mendapati bungkusan kue yang tadi ia kirim masih utuh.

Matanya menjelajah setiap isi apartemen, akhirnya ia menemukan sosok itu juga. Lelaki berperawakan jangkung itu sedang menulis dengan wajah yang agak frustasi.

“Aku pulang.” kata Yoona dengan nada yang rendah.

Kepala lelaki itu mendongkak dan tersenyum tipis padanya.

“Kenapa kau tidak makan kuenya?” tanya Yoona seraya ia menuangkan air kedalam gelas. Ia meneguknya dengan tenang, membelakangi Kris yang mungkin tidak menghiraukannya.

“Itu untukmu, anggap saja sebagai hadiah musim panas.” seru lelaki itu datar, masih berkutat dengan kertas dan sebatang penanya.

Yoona mendesah pelan. Tidak, seharusnya ia senang karena Kris masih peduli padanya. Tapi bukankah Kris memang baik padanya? Teramat baik sehingga tidak bisa mencintai Yoona. Tapi bukan kebaikan itu yang Yoona inginkan, melainkan sedikit tempat spesial dihati lelaki itu. Memang aneh jika seorang gadis yang datang dari keluarga bawah mengharapkan itu, bersanding dan satu rumah dengan pewaris kaya saja seharusnya sudah cukup. Tapi mana bisa? Yoona malah semakin sakit hati dan merasa hidupnya lebih buruk.

Dan satu hal lagi, ia menyadari sesuatu. Mungkin Kris tidak akan pernah tahu jika ia mencintainya, tidak pernah tahu.

.

.

FIN

.

.

Hai! First time nih post ff disini, aku tau ini ff geje banget sumpah freak! Hahahaha sori yaaa

btw, salam kenal aku author baru disini, smg bisa kasih karya2 yg lebih baik lagi hehe❤

sori banget juga kalo ff ini suram bangeeet, ga ada seneng2 nya HAHAHA /tawa jahat-,-/

btw, i miss Kris ;_;
udah ah, seeya!

46 thoughts on “Pain of Summer

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s