Preludium

Background 50

Cicil presented

Yoona with

Genre: Life, Hurt, Suspense

Rating: SU

>1000words

Disclaimer: All cast and my story belong to God.

 

 

 

 

Hidup itu hambar

 

Sepanjang aku meniti, sesering aku bernapas, sejalan aku merajut langkah; aku belum pernah mengenal bahwa Tuhan itu adil. Layaknya roti tanpa goresan selai; aku terbangun, setiap hari bersama senyum palsu.

Dibuang ayah sejak kecil–dalam sarat kebencian, aku tidak apa-apa. Aku tidak merasa terlalu terluka karena ada ibu menimangku. Karena ibu yang selalu mengisi hariku, membawakan bekal sekolah, mengajari matematika, mengantar ke bimbingan belajar, pergi berbelanja. Semuanya hanya bersama ibu.

Namun Tuhan juga merenggutnya ketika aku menginjak kelas dua tingkat akhir—kecelakaan motor pada malam hari. Semuanya aneh, tidak bisa dituliskan karena aku lebih dari sedih, aku lebih dari sekedar gelas kaca yang rapuh. Aku sudah hancur, tepatnya.

Kendati pertanyaan terus menggerayangi jiwa sejak aku menangis. Kenapa tanganNya tak kunjung mengangkatku? Mencabut nyawa yang sejak lama tidak aku inginkan lagi.

“Dia datang lagi kemarin malam.”

Dokter wanita di depanku terkesiap sejemang. Raut mukanya mengeras, pun alisnya bertaut menjadi satu. “Dia?” kemungkinan besar dia tidak tahu siapa yang aku maksud.

“Oh, maaf. Park Chanyeol.”

Seiring tawa garing keluar dari bibir ini, ia ikut terkikik mengetahui topik pertemuan kami kali ini hanya membahas laki-laki supertinggi tersebut. Kedua irisnya melebar, begitu tanda tanya siap ia lontarkan padaku.

“Pasti dia mengenakan setelan jas hitam, rambut tersisir rapih, kerut wajah bertambah, dan senyumnya lenyap.” Okay, dugaanku meleset—dia tidak bertanya.

Namun saat aku membuka mulut, guna membalas kalimatnya, ia lebih dulu menyerobot.

“Yoona, apa kamu memainkan lagu yang sama untuknya?”

Tanpa ada keraguan secuil, aku menganggukan kepala berkali-kali lewat kepercayaan diri. “Tentu,” kendati raut wajahnya melengkung ke bawah dan aku benci awan mendung datang ke perbincangan kami.

“Tidak seharusnya begitu,” kali lagi gantian aku mengernyit tidak paham. Dia tidak suka aku memainkan lagu itu untuk Park Chanyeol? Kenapa?

“Aku tahu dari sekian banyak lagu yang tersimpan di otakmu, pasti ada satu—berisikan nuansa cerah. Kamu pianis hebat, dan bukan semestinya—“

Aku memang pianis, bakat menciptakan lagu pun memainkannya telah bersemayam dalam diri ini sejak aku menuntut ilmu di sekolah. Aku berumur dua puluh tiga, tahun ini. Bekerja sebagai pianis di lounge cukup terkenal setidaknya memberikan aku penghasilan untuk bertahan hidup. Seorang diri.

Tapi apa salahnya aku memainkan lagu yang sama untuk Chanyeol selama tiga tahun belakangan ini?

“Dia hanya datang ke sana setahun sekali, bukan?”

Aku mengangguk lagi, seraya meyakinkan bahwa emosi ini tidak akan meledak di depannya. Untuk apa aku datang berkonsultasi dengannya setiap bulan kalau aku masih tidak bisa menahan amarah?

Park Chanyeol, ditinggal pergi kekasihnya sejak tiga tahun lalu, dahulu mereka sering pergi ke lounge untuk merayakan hari jadi, namun sekarang Chanyeol hanya datang sendiri. Selalu memesan dua mangkuk sup jagung, seakan di seberang kursinya ada sosok perempuan yang begitu ia cinta.

“Kamu hanya membuat dia makin larut dalam kesedihan.”

“Aku hanya tidak ingin dia melupakan Luna!” tidak, amarahku mulai naik ke ubun-ubun. Rasanya hati ini terbakar—diremas tanpa takut, pun sebentar lagi akan berubah menjadi kepingan debu kelam.

“Tapi dia harus belajar move on!” perempuan di depanku ini menggebrak mejanya, mata melotot terpancar menerjang wajahku. “Dokter Kim Taeyeon, aku hanya tidak ingin dia melupakan Luna.” Luna—kekasihnya. Suaraku merendah, seiring pecahan tangis melebar ke seluruh ruangan. Dia juga melorot kembali duduk di kursinya, mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Mungkin menyesal karena tidak bisa mengatur emosi lebih baik.

“Maaf,”

“Tidak masalah,”

Napas ini masih sulit diatur, terdengar satu-satu, lagi tangisku belum kunjung mereda. Sesusah inikah mengatur diri sendiri? Aku bisa gila kalau lama-lama begini. Tidak lama, aku melihatnya mengambil segelas air putih dan menyuruhku untuk minum.

Air putih terasa obat paling baik untuk menenangkan hati.

“Im Yoona, sama seperti dirimu—Chanyeol butuh nuansa baru. Dia tidak akan bisa melihat ke depan kalau kamu terus mengiringi malamnya dengan lagu sedih.” Aku tidak bisa menyatakan ia salah, karena dia tahu apa yang terbaik untuk orang-orang seperti kami. Mungkin benar adanya, mungkin tahun depan aku harus memainkan lagu berbeda untuknya.

Tapi diri ini tidak bisa. Jiwaku lekas menolak untuk bekerjasama, aku hanya ingin kenangan tidak terkubur rapat, aku hanya ingin cintanya abadi. “Bisa kamu tebak masa depannya, kalau dia terus terpuruk, hmm?”

Kesannya menyalahkan aku.

Alis ini mulai berkerut lagi tidak terima, dia ini siapa sih sebenarnya? Dokter untuk menyemangatiku hidup atau mempersalahkanku seperti hakim di meja hijau?

“Oke, oke, aku kesal padamu.”

Katanya, kalau aku tidak nyaman aku harus mengutarakan tanpa ragu padanya. “Yoona, melihat ke belakang adalah untuk mempelajari kesalahan supaya ke depannya lebih baik. Bukan untuk menggali luka lebih dalam.”

“Aku tidak memperburuk perasaannya! Aku hanya ingin sebuah—“

“Park Chanyeol butuh nuansa baru.” Tukasnya lagi, namun aku benci kata-katanya.

“Baik, aku akan melakukannya. Akan kukejar dia dan memainkan lagu ceria untuknya.” Geram, aku menarik tas dan menggebrak pintunya. Tanpa salam sedikitpun, aku akan lakukan sesuai keinginannya.

Biarkan saja, biar aku melihat bagaimana reaksi Chanyeol saat mendengarnya. Biar aku melugaskan apa yang dia mau, benar ‘kan? Puas kalau aku sudah menurutinya?

Untung aku sempat berkenalan, juga mencatat nomor teleponnya.

 

.

 

“Tuan Park Chanyeol?”

“Iya?”

“Bisa datang makan malam di lounge malam ini?” bisa saja dia terkaget bukan main saat aku mengajaknya. Lagian atas dasar apa aku menggerakan mulut ini untuk berbicara padanya? Terasa tidak jelas, layaknya kekurangan garam dalam sayur—aku mengerjakan ini semua hanya untuk Kim Taeyeon.

“Te, tentu, nona.”

Dia benar-benar datang. Dia benar-benar datang! DIA BENAR-BENAR DATANG! astaga, aku harus memainkan lagu apa malam ini? Namun inilah sebab aku masih bertahan hidup, Tuhan masih melihatku, dia mendengar keluhanku.

Tera datang membawa lembaran kertas dalam pelukannya padaku. “Hari ini ada yang berulang tahun. Jadi aku meminta Im Yoona untuk memainkan lagu ini, oke?” temanku yang satu ini seperti malaikat kiriman Tuhan, di saat aku tidak tahu maka jawaban akan datang dengan sendirinya.

Tanpa menunggu, sedetik setelah aku melihatnya duduk dan memesan makanan—aku berharap dia tidak memesan untuk dua orang karena dia hanya datang sendiri. Dia menatapku dengan senyuman, pun baru pertama kalinya aku lihat.

Dia tidak datang dengan pakaian formal. Tapi, dengan kaus oblong warna hijau lumut, celana jins digigit tikus, rambut turun tidak disisir, dan aku pikir dia bukan Park Chanyeol, oke?

Tiba-tiba jantung ini berdetak keras tidak karuan. Jemariku mulai melayang, menekan setiap nada tak asing lagi di telinga. Setelah beberapa menit duduk di atas panggung, di balik piano hitam legam besar—aku meraih langkah menuruni tangga. Mengunjungi Park Chanyeol.

“Bisa mainkan lagu itu lagi, sewaktu aku datang tahun depan untuk merayakan hari jadiku bersama Luna?”

Terlalu cepat, tapi memang begitu. Aku pikir aku tidak akan pernah melihat Chanyeol bersama senyuman itu setiap tahun. Kendati aku telah melihatnya sekarang, detik ini, hari ini, aku membalasnya tersenyum. Begitu tulus dan ringan, apa ini bukan senyum palsu miliku? Senyum ini lebih terasa menyenangkan, tanpa sarat kesedihan di setiap sentinya.

Kim Taeyeon benar. Seratus persen benar, bahwa kita tidak selamanya harus terpuruk melihat ke belakang. Tapi mencari kebahagiaan dari arah depan.

 –

 

 

 

Kkeut!

Halo, di sini ada nggak sih yang mau nemenin aku pergi ke lost planet bareng nonton Baekki main piano? aku pengen banget nonton huweeeee;_; tapi gak ada temen hahahaha. Thankyou for reading and comment are really welcome!

Credit: ide dari novel karya Silvia Arnie dengan judul Scarlet Preludium.

23 thoughts on “Preludium

  1. kok? kok? kok gini?
    ishh masudnya kok gantung gini? apaan, squel dong thor *gebrak piano Yoona :v

    tpi keren, ada maknanya jga😀 kita hidup gak boleh selalu melihat kebelakang dan kembali membuka luka yang sudah tertutup *apaini -_-
    keep writing thor^^

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s