Sense of Love 3

sense_of_love_2

Sense of Love

by cloverqua | main cast Kim Jongin – Im Yoona

other cast Xi Luhan – Tiffany Hwang

genre Angst – Married Life – Romance | rating PG 17 | length Chaptered

disclaimer This fanfiction is purely my own. Cast belong’s God. I just borrowed the names of characters and places. Don’t plagiat this FF! Please keep RCL!

Happy reading | Hope you like it

2014©cloverqua

.

Synopsis | 1 | 2

.

 

Kai mengatupkan bibirnya. Matanya terlihat marah. Tangan pria itu mengepal dan nafasnya menderu. Aura kemarahan terus terpancar darinya.

“Ka—Kai?” Yoona menatap ngeri ke arah Kai yang terlihat menakutkan di matanya. Tatapan tajam suaminya itu berhasil membuatnya berdiri mematung dan menunduk dalam. Sesekali ia melirik ke arah Luhan, yang lebih bersikap tenang dibanding dirinya.

“Apa yang sedang kalian lakukan?” tanya Kai setelah diam cukup lama. Suara beratnya membuat Yoona bisa merasakan bulu kuduknya yang berdiri.

“Kami hanya kebetulan bertemu,” jawab Luhan seraya bangkit. Luhan menatap iris mata Kai dengan sorot mata seriusnya. Lalu kembali memandangi Yoona yang tak banyak bicara.

“Benarkah?” Kai menaikkan salah satu alisnya dan terus mengawasi gelagat Yoona. Sadar jika diperhatikan, Yoona semakin merasa gugup. Ia menelan saliva­-nya dan mencoba tersenyum pada Kai. Sayang, rupanya Kai sudah terlanjur kecewa sampai tak mau membalas senyumannya.

“Kumohon jangan salah paham, Kai,” pinta Yoona. “Aku bertemu dengan Luhan usai menjalani pemeriksaan. Karena kami sudah lama tidak bertemu, kami sepakat untuk mengobrol di taman.”

“Bahkan sampai harus berpelukan?” tanya Kai lagi dan sukses membungkam mulut Yoona. Entah apa yang membuat pria itu benar-benar terlihat marah saat ini. Sikapnya memperlihatkan betapa ia sangat tidak suka melihat Yoona berpelukan dengan pria lain. Apalagi pria itu adalah sahabat Yoona sendiri.

Luhan tersenyum sinis menanggapi reaksi Kai yang dinilainya berlebihan.

“Aku hanya sedang menghibur sahabatku. Tidak boleh?” tanya Luhan pada Kai.

Kai membalas senyuman Luhan dengan seringaiannya, “Aku sama sekali tidak keberatan jika kau memang ingin menghiburnya. Tapi, kau harus sadar satu hal jika sahabatmu itu sudah menikah. Tidak sepantasnya kau memeluk istri orang, Tuan Xi Luhan.”

DEG!

Yoona bisa merasakan tatapan tajam Kai yang menusuk.

“Kau sudah selesai?” tanya Kai dan dibalas anggukan Yoona. “Kalau begitu, kita pulang sekarang.”

Yoona merintih kesakitan saat tangan Kai menarik kuat tangannya. Luhan menyadari sikap kasar Kai dan langsung menahan langkah mereka. Pria itu tak segan menggenggam lengan Yoona.

“Jangan bersikap kasar. Kau bisa melukainya,” ujar Luhan cemas namun langsung ditepis oleh Kai.

“Kau tidak perlu mencampuri urusan kami,” balas Kai dingin dan kembali melangkah meninggalkan Luhan. Ia tak peduli dengan rasa sakit yang dialami Yoona asalkan bisa secepat mungkin pergi dari rumah sakit.

Yoona berusaha berpamitan dengan Luhan walau hanya dengan melambaikan tangan dari kejauhan. Hal itu membuat Luhan tersenyum miris. Ia sangat mengkhawatirkan Yoona. Bukan hanya karena leukimia yang dideritanya. Sikap Kai yang terkesan kasar pada wanita itu membuat Luhan tersiksa.

“Kuharap kau baik-baik saja, Yoong . . .” gumamnya.

.

.

.

Ji Hyun berjalan menuju tepi kolam renang. Ia memilih duduk di salah satu kursi yang ada. Sesekali wajahnya terlihat berupaya menenangkan diri. Ji Hyun meraih ponselnya dan menekan sebuah nomor. Ia dekatkan ponselnya ke telinga. Perlahan terdengar suara seseorang dari seberang.

Yeoboseyo . . .

“Kau di mana sekarang?” tanya Ji Hyun. Wajahnya berubah serius.

Aku sedang pergi bersama Kai.

Ji Hyun mengernyitkan dahi, “Kai? Bukankah seharusnya dia berada di kantornya?”

Hening. Tak ada tanggapan dari orang yang tengah diajak bicara oleh Ji Hyun.

“Yoona, kau masih mendengarku?”

Ne, eomma. Kebetulan, Kai datang untuk menjemputku dari rumah sakit.

“Dia sudah tahu soal penyakitmu?” tanya Ji Hyun sedikit kaget.

Belum.

Ji Hyun terdiam. Yoona tidak memberikan penjelasan secara menyeluruh. Mungkin karena wanita itu sedang bersama Kai. Sehingga ia tidak leluasa berbicara banyak dengan ibu mertuanya.

“Baiklah, aku meneleponmu karena aku ingin bertemu denganmu. Bisakah kau datang menemuiku besok?” tanya Ji Hyun. “Aku akan memberikan uang untuk bulan kedua.”

Ne, eomma.

Ji Hyun memutus obrolan mereka. Ia menarik nafas dalam sambil memijat keningnya. Sesuai dengan kesepakatan yang mereka lakukan, Ji Hyun akan memberikan uang untuk biaya pengobatan Yoona tiap bulannya. Selama 6 bulan, sampai masa pernikahan Yoona dan Kai berakhir.

.

.

.

Yoona memandangi layar ponselnya. Sang ibu mertua berhasil membuat suasana hatinya kacau. Yoona memberanikan diri untuk melirik Kai. Untung saja pembicaraan mereka tidak didengar oleh Kai.

Saat melihat raut serius suaminya, Yoona segera mengalihkan wajahnya. Sungguh, ia tak berani walau hanya sekedar melirik saja. Ia bisa merasakan aura kemarahan dari sang suami. Terbukti karena sejak meninggalkan rumah sakit, Kai sama sekali tidak mengajaknya berbicara. Pria itu memilih fokus mengemudi.

“Kau masih marah padaku?” tanya Yoona berhati-hati. Ia tahu tak mudah mengajak Kai berbicara dalam situasi seperti ini.

“Kumohon jangan salah paham. Aku dan Luhan hanya—”

“Diamlah,” potong Kai. “Saat ini aku sedang tidak ingin membicarakan apapun. Termasuk mendengar nama pria itu.”

Yoona menelan saliva­-nya. Ia bisa merasakan matanya yang memerah. Kai terlihat jauh lebih menakutkan dibanding sebelumnya. Yoona tak pernah tahu jika Kai bisa semarah ini. Apalagi karena masalah sepele. Melihatnya berpelukan dengan pria lain yang notabene sahabatnya sendiri, kenapa Kai bisa semarah itu?

Tunggu. Kai marah saat melihatnya berpelukan dengan Luhan. Berarti Kai cemburu?

Yoona menepis semua anggapan yang memenuhi kepalanya. Ia tidak mau berharap banyak, jika sang suami memang cemburu terhadap Luhan. Lebih baik, Yoona diam dan membiarkan Kai menenangkan diri sampai suasana hatinya membaik.

Mata Yoona memandangi jalanan kota Seoul. Sesekali ia menghela nafas sambil mengusap matanya. Kondisi tubuh yang melemah akibat penyakit yang dideritanya, membuat Yoona mudah kelelahan. Untuk menyiasatinya, Yoona memilih tidur agar kondisi fisiknya kembali pulih.

Kai tidak menyadari jika istrinya sudah tertidur. Pria itu terus menambah kecepatan laju mobilnya. Ia memilih untuk tidak langsung pulang, melainkan pergi menuju Sungai Han. Tempat itu memang menjadi tempat favoritnya untuk menenangkan diri.

Tidak sampai setengah jam, mobil Kai sudah berhenti di dekat Sungai Han. Kai mematikan mesin mobil, sambil melepaskan seat belt yang dipakainya. Saat hendak turun dari mobil, Kai menoleh ke arah Yoona. Matanya membulat. Ia baru menyadari jika Yoona sudah tertidur. Sebelum keluar, Kai menekan tombol untuk membuka jendela. Ia sengaja membuka jendela sedikit agar Yoona tidak merasa panas atau sesak nafas.

Kai berjalan menuju tepi Sungai Han. Ia pejamkan matanya, sambil menghirup udara segar di sekitar lokasi. Kai merasakan hatinya perlahan mulai tenang. Semua emosi yang sempat menguasai dirinya, telah berhasil ia kendalikan. Bibirnya melengkung. Ia sangat menyukai lokasi itu. Karena selalu berhasil membuat hatinya tenang.

Kai melirik jam tangannya. Jam makan siang sudah lewat. Sudah saatnya ia kembali ke kantor.

Kai segera masuk ke dalam mobilnya. kembali mengenakan seat belt, lalu menyalakan mesin mobil. Matanya memandangi Yoona yang masih tertidur pulas. Ia pandangi satu per satu bagian wajah Yoona. Kai baru menyadari jika Yoona memiliki paras yang sangat cantik. Kulitnya yang putih, matanya yang lentik walau terpejam, bibir mungilnya yang menggoda. Ditambah mimik wajahnya yang terlihat polos saat Yoona tengah tertidur.

Itu secara fisik. Jika diingat kembali, kepribadian Yoona sangat lembut. Ia baik dan perhatian pada Kai. Benar-benar menjalankan kewajibannya sebagai istri. Kalau pria normal yang melihatnya, mereka pasti menilai jika Yoona adalah wanita idaman untuk dijadikan pendamping.

Bukan berarti Kai tidak normal, sampai tidak bisa melihat kelebihan dalam diri Yoona. Kai hanya terlalu keras kepala. Memilih untuk menutup pintu hatinya rapat-rapat.

Tapi, mulai hari ini Kai tidak bisa lagi mengabaikan perasaannya. Kehadiran sosok Luhan di dekat Yoona, berhasil membuat matanya terbuka lebar. Ia meyakini, memang ada perubahan besar dalam dirinya. Rasanya, pintu hati yang tertutup rapat itu, mulai terbuka kembali. Kemungkinan besar, Kai memang mulai tertarik dengan Yoona.

.

.

.

BRAK!

Eunhyuk melonjak kaget saat menyadari pintu ruang kerjanya terbuka lebar. Ia mendapati Tiffany sudah berdiri di depan mejanya dengan wajah memerah.

“Maaf, Nona tidak boleh sembarangan masuk,” tegur sekertaris pribadinya, Sekertaris Choi.

“Biarkan saja,” ucap Eunhyuk seraya bangkit. Lalu menyuruh sang sekertaris untuk meninggalkan ruangannya. Pria itu mendekati Tiffany yang masih menatapnya dengan sorot kemarahan.

“Ada apa?” tanya Eunhyuk pada Tiffany.

“Kenapa kau tidak memberitahuku?” Tiffany justru bertanya balik dan membuat Eunhyuk bingung.

“Soal apa?”

“Apa benar, Kai sudah menikah?”

Eunhyuk terdiam. Ia belum menjawab dan semakin menunduk dalam.

“Jawab pertanyaanku!” teriak Tiffany tidak sabar.

Ne, itu benar,” ujar Eunhyuk akhirnya mengaku. “Kai memang sudah menikah.”

“Tidak. Tidak mungkin,” suara Tiffany bergetar seiring wajahnya yang semakin memerah.

“Kau sudah bertemu dengannya?” tanya Eunhyuk penasaran karena Tiffany sudah tahu status pernikahan Kai. “Maaf, jika kemarin aku tidak memberitahumu. Aku hanya ingin kau mengetahuinya sendiri.”

“Beritahu aku alamat rumahnya,” rupanya Tiffany masih sibuk dengan pikirannya sendiri sampai tak mendengarkan ucapan Eunhyuk.

“Apa?”

“Alamat rumah Kai yang baru,” lanjut Tiffany. “Aku yakin setelah menikah, Kai tidak tinggal lagi bersama ibu dan kakeknya.”

“Aku tidak tahu,” jawab Eunhyuk berbohong.

“Jangan membohongiku!” teriak Tiffany marah. “Kau pasti tahu di mana rumahnya.”

“Berhenti menemuinya, Tiffany!” kesabaran Eunhyuk mulai mencapai batas. “Untuk apa kau menemuinya lagi? Biarkan dia bahagia bersama wanita yang sudah dinikahinya.”

“Tidak mau!” tolak Tiffany keras kepala. “Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah rela melepaskan Kai.”

“Sadarlah, hubungan kalian sudah berakhir. Sekarang Kai sudah menikah dan jangan pernah lagi mengusik kehidupannya,” ucap Eunhyuk mengingatkan. Dalam hal ini, ia memang tidak memihak pada siapapun. Eunhyuk yang merupakan sahabat dari Kai dan Tiffany, hanya menginginkan semua pihak bisa menerima kenyataan. Khususnya Tiffany.

“Aku tanya sekali lagi. Kau mau memberitahu alamat rumahnya atau tidak?” tanya Tiffany mengabaikan peringatan Eunhyuk.

“Tidak,” jawab Eunhyuk ringan.

Tiffany tersenyum sinis dan menatap tajam ke arah Eunhyuk, “Baiklah. Jika kau tidak mau, aku bisa mencarinya sendiri.”

Usai mengatakannya, Tiffany pergi meninggalkan ruang kerja Eunhyuk. Setelah memastikan Tiffany benar-benar pergi, Eunhyuk hanya mengela nafas kasar. Sesekali ia mengusap wajahnya. Ia kesal karena tidak berhasil mengendalikan Tiffany agar mau mendengarkan ucapannya. Tiffany telah dibutakan oleh perasaannya sendiri, hingga tak mampu berpikir dengan jernih.

“Semoga saja dia tidak melakukan hal yang buruk,” gumamnya cemas.

.

.

.

Luhan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi. Ia baru saja keluar dari rumah sakit usai makan siang bersama Jung Woo.

Sesekali Luhan memijat keningnya. Wajahnya terlihat gusar. Ia kembali memikirkan Yoona. bagaimana nasib wanita itu? Apakah Kai akan bersikap kasar hingga melukainya?

Konsentrasi mengemudi Luhan menjadi terganggu karena ia lebih fokus memikirkan Yoona. Luhan tak menyadari ada seorang wanita yang tiba-tiba langsung melintas tak jauh dari mobilnya. Saat Luhan kembali menatap ke depan, matanya terbelalak. Dengan sigap, Luhan segera menginjak pedal rem dalam-dalam. Sambil melepaskan kakinya dari pedal gas.

CKIT!

Suara decitan ban yang bergesek dengan aspal, terdengar cukup keras. Mobil akhirnya berhenti. Luhan mendongakkan kepalanya. Nafasnya terengah-engah. Ia masih kaget dengan apa yang terjadi padanya. Luhan mencari sosok wanita yang menyeberang sembarangan saat mobilnya melaju. Ia khawatir, jika ia gagal mengendalikan mobil dan menabrak wanita tersebut.

Beruntung, wanita itu dalam kondisi selamat. Ia hanya kaget sampai terduduk di depan mobil Luhan.

Luhan bergegas keluar dari mobil dan membantu wanita tersebut.

“Nona, kau baik-baik saja?” tanya Luhan panik. Wanita itu hanya mengangguk dan berupaya membereskan barang-barang yang keluar dari dalam tasnya.

“Aku tidak apa-apa,” jawabnya.

Luhan dengan sigap membantu wanita itu mengumpulkan barang-barangnya. Sebuah dompet menarik perhatiannya. Ia segera meraih dompet tersebut, bermaksud menyerahkannya pada wanita itu. Karena dompet dalam kondisi terbuka, Luhan tidak sengaja melihat isi di dalamnya. Sebuah foto berhasil membuat matanya melebar. Sosok pria dalam foto tersebut tidak asing bagi Luhan.

Luhan segera sadar kembali dan menyerahkan dompet tersebut pada wanita itu.

“Terima kasih, ngg . . .”

“Panggil saja aku Luhan,” jawab Luhan cepat.

Bibir wanita itu melengkung, “Namaku Tiffany. Maaf, aku sudah menyeberang sembarangan. Terima kasih sudah menolongku, Luhan-ssi.”

Luhan hanya mengangguk dan membantu wanita yang diketahuinya bernama Tiffany. Setelah semuanya beres, Tiffany berjalan meninggalkan Luhan yang masih berdiri mematung di dekat mobil.

Mata Luhan terus mengikuti arah yang dilalui Tiffany. Ia menunggu sampai wanita itu naik ke dalam sebuah taksi. Luhan kembali mengingat apa yang baru saja dilihatnya dalam dompet wanita itu.

“Bukankah—pria yang dalam foto tadi, adalah Kai?” gumamnya bingung.

.

.

.

Tiffany menghela nafas pelan. Hampir saja ia tertabrak oleh sebuah mobil. Ia meruntuki kebodohannya sendiri yang tidak memperhatikan jalan saat menyeberang. Tiffany memaklumi sikapnya tersebut. Ia hanya terlalu senang setelah mendapatkan apa yang dicarinya. Sebuah kertas yang dipegangnya, bertuliskan alamat rumah Kai. Tiffany baru saja mendatangi kantor Kai. Ia tahu, Kai tidak ada di kantornya. Karena itulah, ia mengorek informasi alamat rumah Kai dari pihak resepsionis. Kini taksi yang dinaiknya tengah menuju ke rumah Kai. Tiffany sudah tidak sabar ingin melihat reaksi Kai, saat ia muncul di depan rumahnya.

Rupanya alamat rumah Kai tidak terlalu jauh dari lokasi kantor. Dalam waktu relatif singkat, taksi yang dinaiki Tiffany sudah tiba di depan sebuah rumah. Rumah bertingkat dua dengan nuansa minimalis.

“Kita sudah sampai, Nona,” ujar supir taksi mengingatkan Tiffany.

Tiffany mengangguk sambil membayarkan biaya taksi. Ia segera turun dari taksi. Tubuhnya menegang saat memandangi rumah tersebut.

Tiba-tiba, sebuah mobil datang dari arah berlawanan. Tiffany mengalihkan perhatiannya. Matanya membulat. Ia mengenali mobil tersebut. Tanpa pikir panjang, Tiffany segera berlari dan mencoba bersembunyi di suatu tempat. Namun matanya tetap mengawasi mobil tersebut.

Tepat dugaannya, mobil itu memang mobil Kai. Ia melihat pria itu baru saja keluar. Wajah Tiffany sumringah. Ia tak sabar ingin segera mendekati Kai.

Namun, baru saja ia berjalan beberapa langkah, sebuah pemandangan berhasil menghentikan langkahnya. Ia melihat Kai membantu seseorang yang ikut di dalam mobilnya. Sontak mata Tiffany memanas, kala melihat sosok wanita yang tertidur dalam gendongan Kai.

“Apa—wanita itu adalah istrinya?” gumam Tiffany. Tangannya mengepal. Matanya menatap tajam ke arah Kai yang mulai masuk ke dalam rumah. Emosi Tiffany tidak bisa ditahan lagi. Apa yang baru saja dilihatnya telah menyulut api kemarahannya. Tiffany tidak akan mundur lagi dari rencananya. Rencana untuk mendapatkan Kai kembali ke sisinya.

Tiffany masih menunggu di depan rumah Kai. Ia yakin pria itu akan keluar, mengingat jam kerja belum selesai.

Tak sampai 20 menit, Kai terlihat keluar dari rumahnya. Tanpa ragu, Tiffany langsung berlari mendekati pria itu.

“KAI!”

Kai melonjak kaget saat mendengar suara yang memanggilnya. Mata pria itu membulat sempurna. Ia benar-benar dibuat kaget dengan kedatangan sang mantan kekasih.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya. “Dari mana kau mendapatkan alamat rumahku?”

Tiffany tidak menjawab. Ia memilih langsung melingkarkan kedua tangannya di leher Kai.

“Rahasia,” jawab Tiffany cuek. “Aku sangat senang bisa bertemu lagi denganmu.”

Kai menarik tangan Tiffany agar terlepas dari lehernya. Pria itu memperhatikan sekeliling. Ia khawatir jika ada orang lain yang melihat mereka. Kai menghela nafas. Tak ada pilihan lain. Ia harus mengajak Tiffany untuk berbicara tegas dengannya.

“Masuk!” titah Kai dingin. Namun justru ditanggapi Tiffany dengan perasaan senang.

DRRT!

Kai meraih ponselnya yang tiba-tiba berdering. Ia menekan tombol berlambang telepon warna hijau.

“Ada apa, Sekertaris Cho?” wajah Kai terlihat serius. Ia mendengarkan semua yang disampaikan oleh sekertaris pribadinya dengan seksama.

“Berkas? Tinggalkan saja di mejaku. Akan kuperiksa besok pagi,” ujar Kai. “Aku tidak kembali lagi ke kantor. Ada hal yang harus kuselesaikan.”

Kai segera memutus pembicaraannya, lalu menyalakan mesin mobil. Sesekali ia melirik ke arah Tiffany yang masih tersenyum padanya. Kai berusaha mati-matian menahan emosinya.

Kai menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil itu pun melesat, meninggalkan rumahnya.

.

.

.

Luhan menghempaskan tubuhnya di ranjang kamar. Ia baru saja tiba di kamar apartemennya. Luhan memang sengaja tinggal mandiri karena tidak mau menyusahkan kedua orang tuanya. Padahal dari segi materi, Luhan termasuk dari kalangan orang berada. Ia sendiri sudah bekerja sebagai arsitektur di perusahaan ternama.

Luhan meraih ponselnya yang dilempar di dekat bantal. Tangannya mencari sebuah nomor kontak. Siapa lagi jika bukan nomor kontak Yoona. Tanpa ragu, Luhan langsung menekan tombol untuk menghubungi wanita itu.

Luhan dekatkan ponselnya di telinga. Ia menunggu. Wajahnya terlihat gugup. Nada sambung itu masih terdengar dan tidak segera digantikan oleh suara Yoona. Luhan mendesah. Ia mencoba lagi, sampai lebih dari 5 kali. Tapi tak ada jawaban dari Yoona.

Luhan kembali melempar ponselnya. Ia mendegus. Tangannya mengusap wajahnya yang kini berkeringat. Luhan terdiam. Matanya memandangi langit-langit kamar. Ia tersenyum, seolah bayangan Yoona terpantul dari langit kamarnya.

“Kenapa kau tidak mengangkat teleponku?” gumam Luhan lirih. “Tahukah kau, betapa aku sangat mencemaskanmu?”

Luhan memejamkan matanya sejenak. Ia memilih sibuk dengan pikirannya sendiri. Sosok Kai muncul dalam kepalanya. Luhan mendengus lagi. Ia benar-benar iri dengan pria tersebut. Kai jauh lebih beruntung darinya. Bisa mendapatkan sosok wanita yang begitu baik dan perhatian, seperti Yoona.

“Andai saja, aku lebih cepat mengakuinya. Mungkin, kau sekarang sudah menjadi istriku,” sesal Luhan.

Luhan berpikir sejenak. Kali ini yang terlintas adalah sosok Tiffany. Ia masih penasaran kenapa ada foto Kai dalam dompet wanita itu. Ada hubungan apa antara Kai dengan Tiffany?

Luhan juga merasa, Yoona tidak terlihat bahagia. Luhan yakin bukan hanya karena penyakit yang dideritanya. Saat melihat sikap Kai, Luhan menilai jika pria itu kemungkinan selalu bersikap dingin pada Yona. Luhan tahu karena sebelumnya mereka pernah bertemu. Saat ia sedang menghabiskan waktu makan siangnya bersama Yoona.

Luhan menilai, pernikahan Yoona dan Kai terbilang mendadak. Pasalnya, Luhan tidak pernah mendengar jika Yoona dekat dengan seorang pria, bahkan ingin menikah. Yoona tak pernah memberitahunya. Padahal komunikasi mereka terbilang rutin.

“Baiklah. Kurasa tidak ada salahnya aku mengawasi mereka,” ujar Luhan.

“Kalau dia sampai melukai perasaan Yoona,” bibir Luhan tersenyum menyeringai. “Aku tak akan segan merebut Yoona dari sisinya.”

.

.

.

Kai memberhentikan mobilnya di sebuah taman kota. Dengan cepat, Kai keluar dari mobil lalu menarik paksa Tiffany untuk keluar. Tiffany sempat menolak dan bersi keras untuk tetap tinggal. Kai mulai kehabisan kesabaran dengan kembali menarik Tiffany sekeras mungkin. Sampai wanita itu merintih kesakitan.

“Jangan pernah datang menemuiku!” bentak Kai. “Aku tidak mau melihatmu lagi.”

Tiffany hanya tersenyum sinis, “Kalau aku menolak, apa yang akan kau lakukan?”

“Kenapa kau begitu keras kepala?” suara Kai meninggi. Ia geram dengan sikap cuek Tiffany. Wanita itu sama sekali hanya mementingkan diri sendiri. Tanpa pernah memikirkan perasaannya.

“Berapa kali harus kutegaskan,” Kai menatap tajam Tiffany. “Hubungan kita sudah berakhir. Kau sudah tidak ada lagi di dalam hatiku.”

“Benarkah? Aku sama sekali tidak percaya dengan ucapanmu, Kai,” ujar Tiffany keras kepala. Ia kembali memeluk Kai sesuka hatinya. Tangannya mengusap lembut dada Kai.

“Aku yakin, di dalam hatimu masih ada aku,” lanjutnya.

Kai langsung mendorong tubuh Tiffany agar menjauh darinya. Matanya terlihat marah. Ia sudah tidak tahan lagi dengan semua perlakuan Tiffany.

“Kuperingatkan sekali lagi. Jangan ganggu hidupku!” teriak Kai. “Aku sudah hidup bahagia, bersama wanita yang kunikahi.”

“Apa menurumu, aku tidak bisa melakukan sesuatu pada istrimu?” tanya Tiffany terdengar mengancam Kai.

“Kalau sampai kau melakukan sesuatu padanya,” Kai menajamkan tatapannya. “Aku tidak akan pernah mengampunimu.”

Usai mengatakannya, Kai segera masuk ke dalam mobil. Tiffany memilih diam dan membiarkan Kai pergi dengan mobilnya. Setelah mobil Kai terlihat jauh, Tiffany kembali tersenyum menyeringai.

“Kita lihat saja nanti,” ujar Tiffany dengan tatapan sinisnya. “Aku tidak akan pernah membiarkan kalian hidup bahagia.”

.

.

.

Yoona mengerjapkan kedua matanya. Ia terkesiap saat menyadari sudah berada di dalam kamarnya.

“Apa yang terjadi?” tanya Yoona bingung. Ia memandangi selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Yoona mengusap-usap keningnya, mencoba mengingat kejadian yang terjadi sebelumnya.

“Aku ingat. Tadi aku tertidur di dalam mobil,” ucapnya pelan. Ia kembali berpikir. Jika dirinya memang tertidur selama perjalanan, lalu siapa yang membawanya ke dalam kamar? Sudah pasti Kai.

Yoona bergegas bangun dari ranjang, lalu berjalan keluar kamar. Yoona bermaksud mencari Kai. Ia berkeliling rumah mencari keberadaan sang suami. Sampai akhirnya Yoona berhenti di depan rumah. Ia sama sekali tidak melihat mobil Kai.

“Apa dia sedang pergi?” gumamnya. Yoona kembali masuk ke dalam rumah. Dipandanginya sebuah jam dinding yang terpasang di ruang tengah. Sebentar lagi jam makan malam tiba. Menyadari hal tersebut, Yoona bergegas menuju dapur. Ia harus segera menyiapkan makan malam untuk Kai.

Yoona tidak membutuhkan waktu lama untuk menyiapkan makan malam. Dengan keterampilan memasak yang dimilikinya, wanita itu dengan mudah bisa menyajikan makanan lezat untuk sang suami. Kini ia tengah meletakkan beberapa menu makanan yang sudah dimasak ke atas meja. Sesekali Yoona mencium aroma masakannya. Bibir mungilnya melengkung. Ia puas dengan hasil masakannya.

KLEK!

Yoona menoleh saat mendengar sebuah suara. Wanita itu melepas celemek yang masih melekat di tubuhnya. Kemudian berjalan menuju pintu utama rumah mereka. Wajahnya sumringah ketika mendapati Kai sudah pulang.

“Kau sudah pulang?” tanyanya senang.

Kai terkesiap saat mendengar suara Yoona menyambutnya. Matanya terlihat kaget. Bukan karena Yoona yang sudah terbangun dari tidur. Tapi, Kai masih dibayang-bayangi ancaman Tiffany, sang mantan kekasih yang baru saja ditemuinya.

“Makan malam sudah siap,” lanjut Yoona.

Kai kembali memfokuskan diri dan berjalan menuju ruang makan. Ia duduk diam sambil menatap datar meja makan. Yoona tidak mengetahui perubahan raut wajah suaminya. Ya, karena Yoona memang lebih fokus mengambilkan makanan untuk Kai. Ia bahkan tak menyadari jika sedari tadi Kai terus memandanginya.

“Ini,” Yoona menyodorkan makanan untuk Kai. Pria itu terus diam, namun tangannya bergerak menerima mangkuk yang disodorkan Yoona. Perlahan ia mulai menyantap hidangan yang sudah disiapkan oleh Yoona.

Makanan yang dimasak Yoona memang sangat lezat. Kai mengakuinya. Sayang, Kai sedang tidak berselera makan. Sehingga ia memilih menyisakan makanannya.

“Aku sudah kenyang,” jawab Kai seraya bangkit.

Sontak saja sikapnya itu membuat Yoona kaget. Matanya terlihat sedih. Yoona menganggap, Kai masih marah padanya.

“Kai, sungguh aku sama sekali tidak bermaksud membuatmu marah,” ujar Yoona saat Kai berjalan melewatinya. Langkah kaki pria itu terhenti. Ia palingkan pandangannya sejenak ke arah Yoona.

“Aku tahu, pernikahan kita memang tidak dilandasi rasa cinta. Kita bahkan belum mengenal satu sama lain secara dalam. Aku juga tahu, di matamu mungkin aku bukanlah wanita yang pantas untuk menjadi pendampingmu,” lanjut Yoona. Kai semakin mengkerutkan dahi. Matanya terlihat bingung.

“Aku selalu berusaha untuk melayanimu sebaik mungkin. Tapi, sepertinya aku sering melakukan kesalahan hingga membuatmu marah. Maafkan aku,” ujar Yoona sambil menunduk dalam. Air matanya hampir menetes. Wanita itu berusaha menahannya.

Kai tertegun. Ia tak percaya dengan kata-kata yang keluar dari bibir Yoona. Bahkan tak pernah terpikir sedikit pun dalam kepalanya. Benar, selama ini Yoona hanya menjalankan tugasnya sebagai istri. Tapi, apa yang dilakukannya? Kai sama sekali tidak pernah menjalankan kewajibannya sebagai suami.

Kai mengakui, pernikahan mereka memang tidak dilandasi rasa cinta. Tapi, apakah cinta itu tidak akan pernah muncul di antara keduanya? Salah. Setelah mendengar pengakuan Yoona malam ini, Kai yakin jika ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Sesuatu yang membuatnya harus mengakui, jika ia mulai membuka hatinya untuk Yoona.

Yoona berjalan menuju meja makan. Membereskan peralatan makan yang baru saja digunakan Kai. Baru saja Yoona mengambil sumpit milik Kai, ia justru tidak sengaja menjatuhkannya.

Penyebabnya, karena Kai tiba-tiba memeluknya sampai wanita itu terkejut. Lengan kekar Kai melingkar di pinggang Yoona. Tak hanya itu, Kai bahkan membelai kepala Yoona dengan pipinya. Matanya terpejam. Seolah Kai begitu larut dalam suasana romantis yang diciptakannya.

“Kai?” Yoona terlihat bingung dengan sikap Kai. Lebih tepatnya, merasa gugup karena perlakuan pria itu. Apalagi, Kai yang memeluknya dari belakang, membuat wanita itu tak sempat membalikkan tubuhnya. Untuk sekedar menatap wajah Kai.

“Sebentar saja,” ujar Kai seraya mengeratkan pelukannya.

Wajah Yoona memerah. Jantungnya berdebar tidak karuan. Berkali-kali Yoona berusaha menenangkan diri, tapi selalu gagal. Yoona bahkan mulai memejamkan matanya. Ikut larut dalam suasana tersebut.

“Maafkan aku,” suara Kai terdengar berat. Menyiratkan rasa bersalah dalam dirinya.

“Kau memang benar. Pernikahan kita tidak dilandasi rasa cinta,” lanjut Kai. Perlahan ia melepas pelukannya dari tubuh Yoona. Ia meremas bahu Yoona, membuat wanita itu menghadap ke arahnya.

“Tapi, kita sudah hidup bersama selama 1 bulan lebih. Apa menurutmu cinta itu tidak akan tumbuh di antara kita?” tanya Kai lagi.

Yoona menautkan alisnya. Ia menatap Kai dengan bingung. Belum mengerti arah pembicaraan mereka.

“Aku tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi padaku. Rasanya, aku seperti tidak mengenali diriku sendiri. Saat melihatmu bersama Luhan, aku merasa ada hal aneh dalam diriku. Hatiku seperti terbakar api cemburu. Sebelumnya aku masih bisa menahan diri. Saat melihatmu bersama Luhan di restoran waktu itu,” ucap Kai.

“Tapi, saat melihatmu berpelukan dengan Luhan, aku tidak bisa lagi menahannya. Aku benar-benar marah sampai tak sadar melampiaskannya padamu,” lanjut Kai.

Yoona tertegun. Matanya terlihat tidak percaya. Tidak percaya dengan semua yang disampaikan Kai. Pasalnya, selama ini Yoona hanya melihat Kai tak pernah merespon atau memperhatikannya. Tapi, hanya karena ia berinteraksi dengan Luhan, Yoona telah berhasil menarik perhatian Kai. Yoona pun bisa melihat, apa yang dikatakan Kai malam ini, tulus dari hati. Tidak berpura-pura dan apa adanya.

“Malam ini aku sadar, bahwa sebenarnya aku—” Kai mendekatkan wajahnya pada Yoona. “Telah jatuh cinta padamu.”

Yoona bisa merasakan debaran jantungnya yang semakin kuat. Wajahnya yang memerah. Sampai membuatnya berdiri mematung, karena pengakuan yang keluar dari bibir Kai.

Rasanya seperti mimpi. Yoona sama sekali tidak menduga jika pria itu akan jatuh cinta padanya. Selama ini, apa yang ia lakukan hanyalah menjalankan kewajibannya sebagai istri. Yoona tak pernah berharap lebih pada Kai. Ia tahu jika pria itu tidak akan pernah mencintainya. Seperti yang sudah ditegaskan Kai berulang kali pada bulan pertama pernikahan mereka.

Kenyataannya sekarang sangatlah berbeda. Hanya karena sosok Luhan, Kai bisa terpancing emosi. Bahkan mengakui jika hatinya mulai terbuka untuk Yoona.

“Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Kita mulai lagi dari awal,” pinta Kai.

Yoona terdiam. Ia bingung harus menjawab apa dengan pengakuan Kai. Jujur saja, Yoona sangat senang mendengarnya. Tapi, Yoona juga tidak boleh mengabaikan kesepakatannya dengan Ji Hyun. Terutama larangan Ji Hyun yang tidak memperbolehkannya jatuh cinta pada Kai.

Jika Kai sendiri sudah mengatakan demikian, apakah Yoona sanggup menepis perasaan cintanya pada pria itu? Tentu ini akan membuatnya berada dalam posisi sulit.

“Yoona?” suara Kai berhasil membuyarkan lamunan Yoona. Wanita itu menunduk sejenak, sebelum akhirnya berani menatap Kai.

“Kai, aku—” kalimat Yoona mendadak terhenti. Pandangan Yoona kabur. Yoona bisa merasakan tubuhnya yang kembali melemas. Tubuhnya yang berdiri tegap mulai kehilangan keseimbangan.

Kai menyadari perubahan raut wajah Yoona. Ia segera memeluk tubuh Yoona yang terhuyung ke arahnya.

“Yoona, kau kenapa?” tanyanya panik.

Yoona berusaha untuk fokus kembali, tapi gagal. Ia semakin tidak kuat dengan kondisi tubuhnya. Sampai akhirnya, mata wanita itu terpejam.

“YOONA!”

Tak ada jawaban. Yoona tidak sadarkan diri. Lagi-lagi, ia jatuh pingsan.

.

.

.

.

.

­-To Be Continued-

Ada yang nungguin? Hehe, maaf baru bisa publish sekarang (^.^)v

Kayaknya karakter Tiffany jadi nyebelin banget ya? Haha, maaf lho. Semua karakter cast, khususnya Tiffany hanya untuk memenuhi cerita saja. Semoga kalian suka, terima kasih sudah membacanya❤😉

81 thoughts on “Sense of Love 3

  1. Ih Tiffany ngotot banget…(sebel guanya)
    Akhirnya Kai mengakui perasaannya…🙂
    Tp Yoona udah sering kambuh gitu penyakitnya… fighting mb yoona walau kau terikat perjanjian ama ibu kai kau harus kuat ne… (hadeuh apalah apalah) #abaikan
    Lanjut…..

  2. Aiiiihhh knp dg yoona,,smkin parah kaah?? Ayooo dong kai bw k rumahsakit…
    Si tiff bener bener yaaa,,nggak tau diri bgt,,mau ngapain nntinya dy??
    Tapi suka sm sikap kai yg tegas sm tiff, biasanya kan klo mantan kekasih datang pastinya lbh milih mantan kekasih alias masa lalu bukan kehidupan yg baru dg org baru,, suka sm sikap kai…
    Langsung k next chapt,,horreee..

  3. Aaa kenapa tiffany ganggu banget sih?
    Kasian yoonkainya ett

    Sedih lagikan yoonanya penyakitnya kambuh lagi gara gara kai menyatakan cintanya #eh

    Kenapa diwaktu gatepat yoona pingsan tp gak apa apa lah jadi yoona gabisa nolak kai hueheuehe^^

  4. Kasian banget hidup Yoong eonni😦
    Sebell liat Ahjumma Fany :p . Terima kenyataan aja lah kamunya, dasar Ahjumma genit -_____-
    Pokoknya jangan sampe sad ending yah thor. Buat Yoong eon sembuh dari penyakitnya🙂.
    Keep writing. Mian langsung komen di chapter 3🙂

    Let’s Share Happy Virus of Yoona!❤

  5. Kyaaaa. . .kenapa tiffany nyebelin banget. . .jangan” Luhan nanti juga ketularan nyebelin lagi. . .
    Next, ditunggu thor

  6. mian thoooooooor
    senernya uda baca tadi malam…
    tapi paketan abis..jadi baru komen..
    seneng banget tau kai bisa meluk dan jujur sama yoona..
    lanjut thoooooooor
    keepting

  7. memang nyebelin. tiba* dtg ke kehidupan org yg udah dia hianati?
    wah* luhan jg makin agresif nunjukin perasaan nya.
    wah kai udah nyatakan cintanya? tp kan yoona nggak boleh jatuh cinta? jd gimana?😦
    lanjut thor. jangan lama*😀

  8. Aaaaaaa sedih bgt ih jadi yoona
    Semoga yoona kai ga terpisahkan deh

    Mereka jgn pisah ga eon bikin mereka tambah bersatu hehehehe

    Chap selanjutnya yg cepet ya eon🙂

  9. Haaaaa sedih banget sih yoonkai ;( disaat mereka udh mulai saling erbuja soal perasaan masing2 tapi ada aja yang jadi penghalang. Dan yang paling aku takutin malah bukan tiff melainkan ibunya kai. Aku juga takut yooba tambah parah penyakitnya…. aku pengen yoona ttep hidup.. aku selalu menunggi ff mu eonni ;)) #hwaiting

  10. ish tiffany! kenapa ganggu kai terus. relain kek eon * emosi
    yoona pingsan lagi? nanti ketahuan ga ya penyakitnya sma kai?
    oke ditunggu chap selanjutnya ya author🙂

  11. Huwaaaa…. kenapa jga yoong unnie sakit… q gak mau sad ending nantinye… hufttttt non tippany kejam amet… awas sampai ngelakuin yang enggak2 ke yoong unnie… alurnya kayak kecepetan atau gimana gitu.. kkk

  12. makin seru aja FFnya eon, oke YoonKai musti happy end ya eon, apalagi kai tuh udah cinta sama yoona, udah bersatu aja.. terus penyakit yoong juga semoga bisa disembuhin, plus eoma kai juga bisa berubah sikapnya .-. ngarep banget ini FF YoonKai happy end eon..

    omo!! Tiffany nyebelin banget, greget sm sikapnya yang keras kepala, malah kelihatan licik gitu, pasti punya rencana jahat dehh ‘-‘ gpp deh fany jahat aja ke yoong, ada Kai plus Luhan yang jagain yoona kok, hihi🙂

    ditunggu lanjutannya eon, semangat!!
    maaf telat komennya^^

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s