Hurt

 hurt

Joelle Park present

Hurt

starring Im Yoon Ah and Park Chan Yeol length Vignette genre AU! Romance-friendship-hurt/comfort rating PG

.

.

Karena Tuhan tak mengizinkan kita bersatu.”

.

.

Saat kamu mencintai seseorang yang memiliki sosok spesial di hatinya.

Alunan musik klasik terdengar lembut menggetarkan gendang telinga, mengisi kekosongan dalam ruangan bernuasa putih . Aku terduduk seorang diri dengan tangan yang menari di atas tuts piano milik sekolah. Kerap kali senandung lirih kulantunkan guna memperkuat harmoni yang menenangkan. Membuatku larut dan melupakan situasi sekitar. Hingga sebuah suara memanggil namaku; menginterupsi permainan, lantas memaksa sepasang mataku untuk mengalihkan pandangan dan menemukan sosok Chanyeol tengah berdiri tegap dengan gitar akustik menggantung di punggungnya.

“Apa aku mengganggu?” Chanyeol bertanya seraya meniti langkah mendekatiku, kemudian mendudukkan tubuh pada kursi yang berada di sisi piano. “Aku ingin memberitahumu suatu hal, Yoongie,” Ucap lelaki bersurai merah kecokelatan itu dengan nada serius. Aku mengulas senyum tipis dan mengangguk; tanda mempersilakan dirinya untuk berbicara.

Chanyeol tampak menghela napas sejemang, sebelum mengutarakan maksudnya. “Hari ini, aku tidak bisa pulang denganmu. Tapi jangan khawatir, Luhan bersedia mengantarmu, aku sudah memintanya tadi.”

Aku tertawa kecil mendengar perkataan Chanyeol seraya menepuk bahunya pelan. “Kau bercanda? Aku akan pulang sendirian. Lagi pula, tempat Luhan tak searah dengan perumahan kita. Tenangkan pikiranmu, Tuan Park Chan Yeol. Aku ini sudah dewasa, tahu,” Ujarku meyakinkan, sementara Chanyeol mencibir, lalu melontarkan tatapan tidak pasti untukku.

Cih, dewasa? Apa kau lupa kejadian semasa kelas satu? Kamu bahkan menangis dan mendiamiku selama dua pekan karena meninggalkanmu pulang seorang diri. Tidakkah perilakumu sangat kekanakan?” Ejeknya sarkastik sambil memasang seringai aneh di wajahnya. Aku tergelak hambar, menangkap betapa menyebalkan kalimat yang Chanyeol ungkapkan menimbulkan rasa jengkel pada hati.

“Itu sudah berlalu. Kenapa kamu suka sekali mengingat hal bodoh yang tak berguna, huh? Wajar kalau aku marah, toh saat itu aku belum terlalu akrab jalan menuju rumah. Dan karena sekarang aku sudah tahu jalurnya, kau tidak perlu cemas lagi. Mengerti?”

Arraseo, tapi kamu harus ingat! Jangan pulang terlambat. Pastikan tak ada penguntit di belakangmu. Lalu, jika ada hal yang mencurigakan, telpon aku!”

Anggukan mantap kulakukan agar Chanyeol percaya dan ukiran manis terbentuk di bibirnya. “Good girl,” Tuturnya senang sembari mengacak rambut panjangku sampai kusut. Aku meninju lengannya cukup keras dan menghentikan gerakan tangannya.

Stop it! Kau merusak kuciranku.” Chanyeol terkekeh puas, sedangkan aku berusaha menahan geram; ingin sekali kucakar muka sok polos miliknya. Tapi mendapati betapa cerah penampilan Chanyeol kala ini menyebabkan percikan listrik mengalir dalam dada. Sebuah perasaan hangat yang menghanyutkan.

Selama beberapa sekon, kami memilih untuk bergeming. Hanya jemariku yang sibuk kembali menekan tuts piano, sementara Chanyeol memetik senar gitar kesayangannya. Membangun sebuah buaian musik yang selaras. Kami memainkan lagu ciptaan Yiruma dengan tajuk Remember. Hingga akhir bait nada, kami saling memandang dan tersenyum bersama. “Kau semakin ahli saja, Yoongie.”

Jinjja? Baguslah, berarti saat aku masuk di sekolah baru, para siswa tak akan menghinaku.”

Lekukan itu memudar, Chanyeol kini tampak begitu sendu. Aku turut bersedih, namun tetap menampilkan ketegaran. “Kamu yakin akan pindah? Begini–“

Chanyeol menutup rapat bibirnya, dia menimang sejenak; memikirkan kalimat yang tepat. “ –aku tidak berniat menghalangi mimpimu, tetapi bukankah ini terlalu, uhm –kita sudah kelas tiga, kenapa tidak menunggu sampai kelulusan saja? Kau bisa mandaftar di universitas khusus musik. Bersamaku.”

“Lebih cepat lebih baik, Chanyeol! Lagi pula, semua tugasku telah berakhir.”

“Im Yoon Ah, apa kau ingin berpisah dariku?”

Aniya! Kenapa kau mempertanyakan persoalan konyol seperti itu? Aku sangat suka berada di dekatmu, Chanyeol,” Jawabku pelan. Kulihat, tangannya terkepal kuat. “Tapi bukankah semua akan baik-baik saja? Kita masih mampu berkomunikasi lewat telepon dan ada Lee Na Ra di sampingmu, lantas apa yang kau ributkan, Park Chan Yeol?”

Chanyeol mencengkarm kedua pundakku erat, lalu setengah berteriak, “AKU MEMBUTUHKANMU! KITA BERSAHABAT, KAN?” Aku menitikkan setetes air mata tatkala mendengar ucapannya. Kendati begitu, seulas senyum pahit senantiasa menghiasi rupaku; mempertahankan sosok kuat dalam diri.

“Jangan bodoh! Aku tidak mati, Chanyeol. Kau eksesif sekali,” Gurauku mencoba mencairkan suasana yang menjadi tegang. Chanyeol mengusap tengkuknya kasar, kemudian menegapkan tubuh.

Whatever. Aku mau menemui Nara dahulu. Berhati-hatilah saat pulang, arra?”

Sekali lagi, aku mengangguk cepat. “Aku paham, Yeollie. Sudah sana, pergi. Nara pasti menunggumu,” Amanatku yang dibalas kata ‘oke’ darinya. Selepas peninggalan Chanyeol, tanpa kupinta derai cairan bening-asin mengalir melalui sudut mata; membasahi pipi dan perlahan jatuh melewati dagu. Aku terisak, mengingat betapa singkat waktu bagi kami untuk tetap berdua. Membuat dadaku menjadi sesak dan sulit menghirup oksigen; seakan palu besar tengah bertalu di sana. Meski semua merupakan keputusanku, tak ada penyesalan di dalamnya. Karena aku yakin, inilah yang terbaik untuk jiwa lemahku.

.

.

aku hanya bisa tersenyum pedih. Melihatmu bersamanya, seakan kini kamu tidak memerlukan kembali perlindungan yang dulu selalu kau butuhkan.

.

.

“Sudah berapa kali aku bilang. Jangan berkelahi! Lihat sekarang tubuhmu penuh dengan luka. Dasar bodoh!” Gadis berusia delapan tahun tersebut tak henti mengomeli kelakuan sahabatnya seraya mengoleskan obat pada beberapa lebam serta lecet kecil di wajah Chanyeol. Sedangkan bocah lelaki itu merenggut lucu dan memalingkan muka.

“Mereka menghancurkan lukisanmu. Aku tidak suka!” Bela Chanyeol dengan nada ketus. Membuat Yoona mendesah pasrah menghadapi sifat keras kepala milik Park Chan Yeol.

“Tapi paling tidak kau bisa menang melawan mereka. Bukan berlari ke arahku dengan memar sebanyak ini,” Gerutu Yoona jengkel, lalu dengan kasar ia merekatkan plester bergambar di luka Chanyeol dan menekannya kuat-kuat hingga pekikan mengaduh Chanyeol perdengarkan.

“Sakit. Kamu menyebalkan sekali!”

Yoona berdiri cepat, kemudian berkacak pinggang dengan angkuh. “Kau yang mengesalkan. Sampai kapan kamu terus mencari dan meminta pertolonganku?” Tanya Yoona penuh penekanan karena terlalu sebal.

“Sampai kita mati, kurasa,” Ujar Chanyeol asal. “Lagi pula, kita akan terus bersama, ‘kan?”

Gadis itu tertawa rendah, lantas berkata, “Don’t be silly, Chanyeol! Suatu hari nanti kita pasti akan berjauhan. Mungkin saat kita memiliki seseorang yang kita cintai.”

“Tapi aku menyukaimu, maka tak ada alasan logis untuk kita saling menjaga jarak.” Chanyeol berceloteh sarat kepercayaan diri, matanya bersinar-menyilaukan. Yoona tersenyum lebar dan memastikan diri bahwa apa yang Chanyeol ucapkan adalah benar.

.

.

Tapi seluruh peristiwa tersebut sekadar momentum belaka dan hanya dirikulah yang senantiasa mengingatnya.

.

.

Angin bertiup mengikuti alur udara. Membawa hawa dingin dalam dekapannya. Aku merapatkan mantel berwarna tosca yang membalut tubuh. Tungkaiku melangkah pelan –menginjak tumpukan salju putih yang menyelimuti jalanan kota. Menyisakan jejak sepatu bot di sana.

Sesekali beberapa anak kecil melintas melewatiku, tak jarang ada pula yang tengah bermain perang bola salju; menikmati fase kanak-kanak mereka bersama teman tersayang. Mengingatkanku pada Chanyeol yang selalu menggoda dan menyeretku keluar dari rumah, lalu membaringkan tubuh bersama di atas lembutnya es. Menyenangkan.

Sampai ayunan kaki ini terhenti tepat di seberang sebuah taman kota berhiaskan pohon cemara. Iris kelamku menemukan sepasang kekasih yang tengah memadu asmara dengan saling bergenggaman tangan, menyalurkan kehangatan yang selalu ingin kurasakan.

Sekarang kalian dapat memanggilku sebagai gadis tolol sebab dengan bodohnya diriku terpaku menamati Chanyeol yang sedang bermesraan bersama orang pilihannya. Aku seakan tak pernah jera untuk menorah luka di hati, kemudian menyiramnya menggunakan air cuka. Perih, namun membuatku candu hingga tidak bisa lepas dari perasaan itu. Sang kala terus merangkak maju dan kini secara lambat air mata kembali meruak tumpah dari mataku.

.

.

Inilah akhir kisah kita. Bukan untuk meninggalkanmu selamanya; aku hanya merelakanmu. Membiarkan rasaku menipis seiring jam berlalu.

.

.

Lenganku mengusap peluh yang membasahi pelipis setelah menyelesaikan tugas berkemas. Tumpukan kardus beserta koper putih berukuran besar tertata rapi di sudut ruangan. Secara kasar, tubuhku terbaring pada atas ranjang dengan posisi terlentang; menghadap langit-langit kamar. Kerap kali ragaku menggeliat bak cacing kepanasan; berniat guna melemaskan otot yang kaku. Hingga dering ponsel mengalihkan perhatianku, membuat tangan ini terulur, lantas segera meraih benda persegi panjang tersebut di atas nakas. Kulirik sekilas nama sang pengirim pesan dan mendengus kecil tatkala mendapati tulisan Tuan Menyebalkan, Park Chan Yeol tertera nyata di layar ponsel. Maka dengan malas, kutekan tombol open guna membuka short message darinya.

Hei Yoongie! Apa kau sudah membereskan semua keperluanmu? Jika kamu butuh bantuan, aku akan lekas ke sana. Oh iya, seluruh penghuni kelas merindukanmu, terutama si idiot, Byun Baek Hyun. Bocah itu tak berhenti mengomel karena kau pergi mendadak. Kuduga dia menyukaimu, tapi percayalah! Kau bisa gila kalau berkencan dengan lelaki tengil macam dia.

Yoongie, apa kamu sudah makan? Sore ini Nara ingin memasak di rumahku, kamu akan datang, kan? Cepat balas pesanku, arra!

Bibirku melengkung panjang. Aku senang, setidaknya Chanyeol masih peduli pada diriku selepas kejadian di kelas musik tempo lalu. Tetapi saat mataku membaca deretan terakhir, jantungku seperti mati; tak lagi berdetak dan sekujur badanku menjadi beku. Dengan terpaksa, jari-jariku mengetik cepat tiap huruf yang tersedia di sana.

I’m done. Kau tidak perlu mampir, jangan merepotkan dirimu. Bisakah aku titip salam untuk mereka? Katakan juga pada Baekhyun, aku pun merindukannya –sangat. Sudah dua hari aku tidak mendengar cicitan cerewet miliknya hahaha, sepi sekali duniaku saat ini.

Terima kasih atas undanganmu, tapi ada banyak hal yang harus kulakukan, seperti mandi dan mengurus surat kepindahan, mungkin. Kau tahu, lusa aku akan segera berangkat. Chanyeol-a sampaikan salamku untuk Nara juga keluargamu dan selamat menikmati acara dinner kalian.

Lusa? Cepat sekali, apa tak dapat kamu undur? Tetapi terserah padamu saja, jangan lupa mengabariku jika pergi ke stasiun, aku bisa menemanimu menunggu kereta.

Akan kuteruskan semua salammu untuk mereka. Dan apa benar kau sesibuk itu? Setidaknya anggaplah makan malam ini sebagai kegiatan perpisahanmu. Kalau sempat, berkunjunglah. Kami menantimu, Yoong.

Kau bodoh, ya? Bagaimana bisa kutunda kalau tiketnya sudah berada di tanganku! Baiklah, aku akan menelponmu, ingat tidak-boleh-telat, okay?

Akan kucoba meluangkan waktu, namun sepertinya aku benar-benar tidak dapat hadir. Lagi pula aku tak mau menggangu kalian berdua. Sudah dulu, ya. Sampai jumpa, Yeollie

Buram. Pandanganku tertutupi selaput cairan mata. Sekuat asa, kutahan tangisan yang siap meledak. Menimbulkan rasa panas bercampur perih di indera penglihatanku. Telapak tanganku menggenggam ponsel erat-erat, layaknya ingin meremukan barang elektronik tersebut,. Meski kenyataannya aku tak akan mampu sebab tenagaku terkuras habis untuk meredam isakan. Sungguh malang, bukan?

.

.

Kata cinta tidak semestinya muncul di lubuk perasaan. Maka dapat kupastikan, perpisahan ini tak akan pernah terwujudkan.

.

.

Aku meniti langkah menuju pinggir rel dengan koper putih yang kutarik dengan perlahan. Sepasang headset melekat di telinga, mengalunkan suara merdu penyanyi idol yang akhir-akhir ini menyita simpatiku. Kereta telah menanti dan siap melaju dalam waktu beberapa menit lagi. Aku menaiki dua anak tangga; penghubung antara lantai stasiun dengan kerata api. Ibu sudah pulang kembali ke rumah selepas mengantarkanku, lalu melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Kursi kereta yang berwarna merah tua berhiaskan tanda nomor urutan pada sandarannya tertata begitu apik. Aku melirik kertas persegi yang berada dalam genggamanku. Kursi ke-enam, begitulah yang tercetak di tiket. Dengan ayunan santai aku menghampiri kursi tersebut, lantas mendudukkan diri setelah meletakkan koperku di tempat yang sudah tersedia. Cermin kecil yang sengaja kubawa menampilkan wajah lesuku. Tanganku sibuk menata kembali poni rambutku yang kian memanjang sedemikian rupa. Jam sudah menunjuk pada pukul sepuluh lebih dua menit. Kereta akan berangkat sekitar tujuh menit lagi, membuatku segera mempersiapkan diri untuk meninggalkan kota ini. Meninggalkan ibu dan ayahku serta seorang lelaki yang selama tujuhbelas tahun ini menemani hari-hariku.

Ponsel yang kuletakkan di saku celana bergetar dengan sendirinya. Memberi tanda bahwa ada pemberitahuan yang masuk. Di sana-layar ponselku-terdapat satu pesan yang Chanyeol kirimkan. Aku lekas membaca setiap kalimat-nya.

Gadis tolol! Kenapa kamu pergi tanpa kabar? Aku pikir kamu berangkat siang hari, ternyata keretamu akan melaju sebentar lagi. Apa kamu tidak berniat mengucapkan perpisahan pada sahabatmu ini?

Nafasku tercekat tatkala memahami surat singkat tersebut. Tak pernah kubayangkan jika dia akan semarah ini sampai menyebutku dengan panggilan gadis tolol. Aku tidak tahu bahwa Chanyeol dapat berkata kasar kepadaku.

“Im Yoon Ah!” Samar-samar terdengar pekikan nyaring seseorang yang meneriaki namaku. Tampak di luar sana, sesosok lelaki bertubuh jangkung tengah melemparkan tatapan tajam untukku melalui jendela bening kereta. Seseorang yang beberapa menit lalu mengirimkan pesan kepadaku. Seseorang yang kusayangi; kusukai; kucintai.

“Chanyeol?” Gumamku lirih seraya memandangnya dengan mata terbuka lebar. Chanyeol mendekatkan ponsel hitamnya ke telinga dengan tangan yang memberi isyarat bahwa ia ingin berbicara via sambungan telepon. Dan pada detik berikutnya, ponselku berdering kencang.

“Hai Chanyeol,” Sapaku dari speaker ponsel setelah menekan tombol hijau. Mencoba terdengar ramah; menunjukkan senyum tipisku melalui kaca yang memberi jeda di antara kami.

Bodoh! Kenapa kamu pergi dan tidak mengirim short message ataupun meneleponku? Apa kau tahu betapa cemasnya aku? Padahal kemarin kau sudah berjanji untuk membiarkan aku ikut dan menunggu kereta bersamamu, tetapi kau berdusta. Yoongie, kamu sungguh menjengkelkan!”

Aku terkekeh pelan saat mendengar keluhannya. “Maaf,” Ujarku sarat gurauan dan menimbulkan kerutan di dahi milik Chanyeol.

Jangan tertawa! Sial, aku bahkan lupa berkata pada Nara kalau kencan kami batal. Ini semua karenamu, Yoona!”

“Kenapa kau menyalahkan aku? Kau sendiri yang bodoh, akukan tidak memintamu untuk bergegas kemari maupun mengurung acara pentingmu itu,” Ketusku dengan nada tak acuh. Kutamati Chanyeol mengerucutkan bibirnya karena sebal.

Menurutmu aku adalah sahabat yang rela melepasmu pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal? What a stupid girl! Kau lebih berharga dari segala, asal kau tahu itu. Tanpa Im Yoon Ah, aku tidak akan bisa meraih apa yang kuinginkan –termasuk Nara sekalipun.

Aku bergeming dalam dua menit, kemudian menarik napas panjang dan mengembuskannya kasar. Mencoba menstabilkan degup jantungku yang berpacu cepat. Lega sekaligus sakit menyeruak di hatiku hingga perutku terasa mual. Untuk yang kesekian kalinya, kuhirup oksigen dalam-dalam  guna memasok persedian paru-paruku. Lantas berucap penuh keberanian, “Chanyeol, ada satu kebenaran yang pantas kau ketahui-“

Aku mendengarkanmu, Yoong.”

“–aku mencintaimu!”

Chanyeol tampak tercengang, tangannya membekap mulut dengan iris mata bulat sempurna, namun selekas mungkin ia mengeluarkan tawa hambar. “Apa sekarang kamu sedang melakukan April Mop? Kau terus berbohong kepadaku dan yang ini sungguh tak lucu.

“Aku serius! Ini bukan lelucon, lagi pula bulan April telah berlalu. Maaf membuatmu terkejut. Jika semua pengakuanku cukup mengganggumu, lupakanlah!” Suaraku kini begitu parau. Entah sudah berapa kali kujalankan aksi menahan tangis, tetapi semua tetap sama; menyakitkan. Sangat pedih juga menyesakkan organ pernapasanku.

Aku tidak akan melupakannya, tetapi maaf. Aku menyayangimu sebatas sahabat, tak bisa lebih. Oh Yoona, mari kita sisihkan topik barusan. Kupikir keretamu akan segera berangkat, bukankah ini saatnya kita berpisah?”

Aku menengadahkan wajah, membiarkan air mata yang hampir turun menggenang di sana. “Iya, sepertinya kita harus mengucapkan selamat tinggal? Aneh sekali, padahal dulu kita berjanji untuk bersama selamanya.”

“Ini karena keputusan konyolmu, Yoongie! Kau benar-benar menyebalkan.”

Okay, this is my fault. Puas kau?” Tanyaku sarkastik, sedangkan dia hanya tersenyum penuh kemenangan, lalu terkekeh senang mendapati betapa suram ekspresi mukaku kala ini. Kereta secara tiba-tiba bergerak perlahan, menyebabkan rasa kaget mencuat di permukaan. Aku mendelik sambil melihat ke arah Chanyeol. Dia tersenyum, lantas mengangkat tangan yang dulu sempat berkaitan dengan jemariku.

“Chanyeol-ah, annyeong.” Aku melengkungkan bibir selebar mungkin. Menyembunyikan aliran sungai kecil di pipiku yang memerah.

 “Sampai jumpa lagi, Yoong. Aku selalu mendoakanmu, sahabatku.” Sambungan telepon terputus diiringi deru kereta yang kian melesat kilat. Berjalan menjauh meninggalkan stasiun; meninggalkan kota; meninggalkan sanak saudara yang meneteskan liquid mata menatap kepergian orang tercinta; meninggalkan lelaki tinggi yang mengembangkan senyum tipis di pinggir rel kereta sembari melambaikan tangannya. Sementara aku hanya dapat menangis dengan wajah tertutupi kedua tangan; meratapi betapa bodoh diriku yang rela melepaskan kedua orang tua serta para kawan hanya untuk menghindari perasaanku terhadap sosok Park Chan Yeol.

.

.

Jalinan asmara yang kuimpikan tidak akan pernah terjadi. Biarkan aku menenangkan diri hingga suatu hari nanti, saat kita dipertemukan kembali, aku dapat menyapamu tanpa cinta dalam hati.

.

.

|| E N D ||

Hai, author baru berbicara di sini. Perkenalkan namaku Fira, lahir pada garis 99. Joelle Park adalah nama pena yang biasa aku gunakan saat menulis fanfiction. Karena ini pertama kalinya aku unjuk diri, kalian pasti masih asing sama aku. Semoga kita bisa lebih saling mengenal ya, para pembaca😀

Terus, maafkan daku kalau nih fanfict jauh banget dari kata bagus. Secara aku masih dalam tahap belajar, harap dimaklumi saja, ya. Sekian saja dari aku, semoga kalian suka dengan tulisan abal yang merupakan remake-an ini. Sampai jumpa di fanfic-ku selanjutnya.

Tertanda,

Fira – Joelle❤

47 thoughts on “Hurt

  1. Annyeong thor/saeng, aku reader baru😀
    Ohh.. Kenapa ini sangat nyesekk? Buat sequel dong ya? *muka melas*
    FIGHTINGG untuk project ff selanjutnya🙂

  2. ya ampuuuuuun dx……
    kamu kecil kecil uda pinter yaaa
    unni jadi malu …
    uda gede ga bisa bikin ff cobak…
    keepting aja yaaa
    critanya bagus bingt

  3. kasian yoona bertepuk sebelah tangan, tp engga bisa nyalahin chanyeol jga sih. karena cinta emng ga bisa dipaksakan🙂
    keren. ditunggu ff yg berikutnya🙂

  4. Aaaaaaa sedih bgt jadi yoona aku baca ini sampe nangis eon terharu aku

    Sering2 bikin ff angst kayak gini ya eon aku suak ff angst hahahaha

  5. Hiks..hiks…
    Chanyeol babo..babo…babo
    Apa dia gatau, kalo dia bilang rasa sayangnya cuma sekedar sahabat, itu pasti sakit bgt buat yoona..
    Huaaaaa sedih bgt bacanya
    Overall, ff nya keren, feel nha dapet, bikin nyesek…
    Author jjang!!^^

  6. CHANYEOOL BODOH CHANYOL PABBO CHANYEOL GILA HUAAAAAAA hiks hiks /ditabok chanyeol/
    Anjirrrr nyesek banget baca ini fanfic duh astaga kpengen mutilasi chanyeol serius:”
    Udah dia yg bilang suka sm yoona pas kecil eh malah ninggalin shit-_- emosi sendiri bacanya
    Kalo bisa MINTA SEQUEL plissss thorrr
    Kepengen chanyeol putus sm nara nara apalah itu terus nyadar kalo dia CUMA CINTA sm yoona tapi yoona nya udh move on ke sehun/?wkwk biar dia ngerasain sakitnya itu disini/elus dengkul/?eh salah/nunjuk hati/
    Plisssssssssss yayayayaya thor kasihani readersmu ini ;_;

  7. Hiks hiks…
    Chanyeol oppa jahat banget, kan kasihan yoona eonni. Ternyata yoona eonni bertepuk sebelah tangan.
    Hiks…. menjengkelkan.
    Tapi keren cerita’a.
    Ditunggu karya lain’a

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s