(Freelance) Don’t You Remember

dont-you-remember

Don’t You Remember | De_Pus19 | Ficlet | PG-13

Angst | Romance

Im Yoona | Kris Wu

Disclaimer | This story is mine, cast are belong god

Warning | Garing, typo, bad story, and other

Poster by Pinkeucho @EXOKF

Happy reading | Hope you like it

Yoona mendudukkan dirinya disalah satu sofa yang berada diruang tamu rumahnya. Duduk tepat berhadapan dengan seorang lelaki yang tengah terfokus pada laptop putih didepannya. Untuk beberapa detik Yoona terdiam, menatap kagum karya Tuhan didepannya. Pahatan yang begitu sempurna yang Tuhan ciptakan.

Yoona terlalu kagum hingga wanita itu terjatuh kedalam pesona lelaki didepannya-Kris Wu. Terlalu dalam ia terjatuh hingga ia tak dapat terlepas dari pesona suaminya. Tanpa ia sadari, kedua sudut bibir itu terangkat. Menciptakan sebuah senyuman kecil yang manis.

Tapi seketika, senyumannya lenyap. Hilang tanpa jejak. Saat iris madunya menatap amlop berwarna coklat yang sedang berada didalam genggamannya kini. Ia menghembuskan nafasnya berat. Ia lupa, bahkan terlalu lupa untuk menyadari maksud dan tujuannya menemui Kris.

Yoona melempar amlop coklat itu dia atas meja. Tepat didepan suaminya. Lalu mulai mengatur nafasnya yang sekarang memburu karna gugup. Ia memejamkan matanya saat suara yang terdengar berat itu menyapa gendang telinganya lembut.

“Ini apa?” tanya Kris bingung sambil meraih amplop itu.

Yoona masih memejamkan matanya. Ia begitu takut melihat ekspresi yang akan ditunjukkan suaminya nanti. Ia begitu takut mengetahui ekpresi senang yang akan Kris tunjukkan nanti “Kau buka saja”

Hatinya begitu sakit saat gendang telinganya menangkap nada sinis yang terselip didalam ucapan suaminya “Surat cerai?” Kris tertawa mengejek sambil menggelengkan kepalanya beberap kali “Kau ingin bercerai dariku?”

Perlahan wanita itu mulai membuka kelopak matanya. Iris madunya menangkap sosok lelaki didepannya yang sedang menyeringai sambil melipat tangannya didepan dada. Dan wanita itu rasa tatapan tajam itu untuknya.

“Kau tinggal tanda tangan” ujar Yoona dengan suara yang senormal mungkin. Dari luar wanita itu terlihat baik-baik saja. Tapi sebenarnya, kakinya bergetar dan tangannya basah karna keringat dingin mulai muncul dari kulitnya.

Sesungguhnya ia takut. Sangat takut, menyadari suatu hari nanti ia tak bisa bersama dengan lelaki didepannya kini. Tapi, ia jauh lebih takut. Mengetahu fakta bahwa lelaki didepannya tak pernah mencintainya.

Ia takut. Jadi, ia memilih jalan ini.

“Tanda tangan. Apa katamu? Hanya tanda tangan? Apa kau gila Yoong? Hah?” tubuh Yoona seketika bergetar saat menyadari perubahan nada suara yang Kris lontarkan. Lelaki itu berteriak padanya.

“Aku” Yoona tertunduk. Ia tersenyum miris menatap perutnya yang mulai membuncit “Aku hanya ingin kita berpisah”

Kris menghembuskan nafasnya berat. Ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran isterinya ini. Cerai? Perceraian? Semudah itu ia mengucapkan kata itu? Kris menyusuri jemarinya diantara rambut coklatnya. Benar-benar menyusahkan.

Kris bangkit dari duduknya lalu berjalan mendekati Yoona dan mendudukkan dirinya tepat disamping isterinya. Kris menatap dan mengusap surai coklat milik isterinya lembut lalu mencium dan menghirup aroma apel yang memabukkan itu.

“Kenapa?” tanyanya dengan suara sangat lembut “Kenapa kau ingin bercerai dariku Yoong?”

Yoona menatap iris hazel milik suaminya “Karna kau tidak pernah mencintaiku” guam Yoona. Wanita itu terdiam lalu menghembuskan nafasnya berat “Lagi pula pernikahan ini. Aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini”

Kris terdiam cukup lama hingga otaknya yang berkapasitas kecil itu mencerna satu demi satu kata yang baru saja dilontarkan isternya. Ia tidak menjawab. Lelaki itu lebih memilih membereskan barang-barangnya dan berjalan menuju ruang kerjanya. Dan didetik berikutnya, pintu bercat coklat itu dibanting dengan begitu keras.

Wanita itu tahu. Sekuat apapun ia menahan tangisnya. Isakan itu pun akan keluar dengan sendirinya. Dan yang dapat Yoona lakukan kini adalah menangis.

Yoona terbangun karna sinar matahari yang begitu menyilaukan penglihatannya. Ia tersenyum miris mendapati dirinya berbaring seorang diri diranjang ukurang king size ini. Kris pasti tidur diruang kerjanya. Mungkin sekarang, lelaki itu sudah tidak sudi bertemu dengan Yoona.

Wanita itu bangkit dan berjalan menuju ruang tamu. Kening yang nampak porselen itu berkerut samar. Tidak biasanya ruangan ini begitu sepi. Biasanya jam segini Yoona mendapati Kris yang tengah terduduk sambil membaca koran pagi. Ditemani secangkir kopi hitam dan musik klasik yang indah.

Tapi sekarang. Lihat, ruangan ini begitu sunyi. Tak ada lagi musik klasik yang mengawali hari Yoona atau aroma yang meyengat dari secangkir kopi. Tidak ada. Tidak ada lagi. Apa Kris sudah pergi? Mungkin saja. Dan nampaknya wanita itu harus terbiasa dengan keadaan rumahnya sekarang.

Ia tersenyum miris melihat amplop coklat itu berada disana. Diatas sebuah meja kaca yang tadi malam menjadi saksi bisu pembicaraan sebuah keluarga kecil yang nasibnya sekarang sedang ada diujung tanduk.

Yoona meraih amplop coklat itu lalu membukanya. Lagi. Senyuman miris itu tertempel lagi diwajah cantiknya. Ia merasa langit runtuh menimpanya saat itu juga. Kris melakukannya. Lelaki itu menandatangani surat perceraian mereka. Hanya tinggal satu hal lagi yang harus dilakukan wanita itu. Menandatangani suarat perceraian mereka.

Tapi, ia mengurungkan niatnya karna iris madunya menangkap secarik kertas yang terselip disana. Dengan lihai Yoona mengambilnya lalu membukanya. Nafasnya serasa tercekat saat ia mendapati sebuah kalimat yang terlulis ‘Untuk isteriku, Im Yoona’. Surai ini dari Kris. Ya, wanita itu mengetahui betul tulisan tangan suaminya.

Jujur, aku tidak tahu apa yang akan kutulis disurat ini. Aku terlalu bodoh bukan? Aku sadar, aku pintar. Sangat pintar bahkan jenius. Tapi entah kenapa, setiap aku bersamamu aku menjadi bodoh. Aku merasa sangat bodoh. Aku bingung mau melakukan apa dan ingin mengatakan apa.

Aku selalu bersikap dingin terhadapmu. Bukan karna aku ingin melakukan itu. Tapi, aku tidak tahu harus berekspresi seperti apa. Aku selalu terdiam dan tidak pernah menghiraukan ucapanmu. Sekali lagi, aku tidak ingin melakukan itu. Aku ingin berbicara dan melakukan hal yang membuatmu bahagia. Tapi saat melihat senyuman manis yang terukir dibibirmu, seketika mulutku terkunci dan tidak bisa berbicara apapun.

Kau tahu Im Yoona? Hanya kau yang bisa membuatku merasa bodoh. Hanya kau yang mampu membuatku terlihat konyol. Dan semuanya karna dirimu.

Aku ingin mengatakan beberapa hal padamu, Yoong. Awalnya aku ingin mengatakan langsung kepadamu. Tapi, aku tidak bisa. Saat aku ingin berbicara, tapi tak ada satu pun kalimat yang keluar dari mulutku. Jadi, aku memberikan surat ini. Surat yang akan mewakili semua perasaanku.

Semua berawal dilorong koridor lantai dua. Kau masih ingat saat aku menabrakmu? Saat itu, kudengar Chorong pingsan dikelasnya. Jadi, aku berlari dengan secepat yang aku bisa menuju UKS. Maaf saat itu aku tidak memperhatikan jalan. Tapi, seharusnya aku merasa senang karna Chorong pingsan. Apa aku terdengar jahat?

Keesokkan harinya, ada seorang gadis berambut coklat menyapaku. Ya, dia adalah kau. Maaf aku tidak mengenalimu. Karna waktu itu aku berlari sangat cepat, hingga aku tidak menyadari gadis berambut coklat yang kutabrak. Kau mengembalikan arlojiku. Karna terlalu menghawatirkan Park Chorong. Aku sampai tidak sadar kalau arloji kesayanganku terjatuh.

Awalnya aku bingung, kau mengembalikan arlojiku dengan keadaan yang bisa dibilang menghawatirkan. Arlojiku rusak dan kau yang merusakkannya. Jadi, kau apakan arlojiku? Aku hanya bercanda. Pasti tidak terdengar lucu. Harusnya aku tidak menulis itu. Ok, kita kembali ketopik awal.

Status kita yang dulu teman, berganti menjadi sahabat. Kita laluli hari demi hari bersama. Bahkan banyak yang mengira kita adalah sepasang kekasih. Hingga suatu hari aku mendapatkan fakta bahwa Chorong berselingkuh dengan Minho. Saat itu aku sedih dan juga kecewa. Jadi, aku menelponmu dan mengajakmu bertemu diatap sekolah malam itu.

Kupikir aku akan menangis seperti orang-orang yang putus cinta diluar sana. Tapi nyatanya, setelah bertemu denganmu aku malah menjadi bahagia dan melupakan perselingkuhan Chorong dengan Minho. Aku memanfaatkan situasi itu untuk membuatmu menjadi pacarku. Ya, memang kita hanya berpura-pura berpacaran saat itu.

Waktu berlalu begitu cepat. Kita tumbuh dewasa. Orang tuaku menyuruhku untuk mengambil jurusan bisnis di Harvad. Dan kau tetap tinggal di Korea. 2 tahun kita tidak bertemu. Kupikir perasaan yang awalnya berasal dari kejahilan itu akan hilang dengan sendirinya. Tapi tidak, perasaan itu malah tumbuh subur didalam hatiku.

Dan aku sadar, aku sudah terjatuh terlalu dalam. Kau membuatku bertekuk lutut dihadapanmu.

1 tahun kemudian, aku mendatangimu dengan sebuah surat undangan pernikahan ditanganku. Ya, undangan pernikahan kita. Kupikir kau akan tersenyum bahagia seperti gadis-gadis yang ada didrama. Tapi kau malah meneriakkiku dengan makian pedas.

Aku sadar, aku bodoh. Harusnya aku memberitahumu dulu tentang rencanaku. Bukannya malah mengagetkanmu dengan surat undangan pernikahan itu. Dan saat itu aku terkesan memaksamu. Aku sudah siap dengan kenyataan kau akan menolakku. Aku tak sangka kau menerimaku.

6 bulan setelah kita mengucapkan janji sehidup semati digereja. Cobaan yang tak pernah terlintas diotakku terjadi. Kau melihatku berpelukkan dengan Chorong. Tapi sungguh, aku tidak berselingkuh dengannya. Saat itu dia memberikan undangan pernikahannya padaku. Pernikahannya dengan Choi Minho. Aku sangat senang mendengarnya. Jadi, saat itu aku memeluknya. Tanpa disangka, kau melihatnya dan kau salah paham saat itu.

Kita bertengkar hebat malam itu. Maaf aku tidak langsung menjelaskan semuanya padamu. Keesokkan harinya, kita mendapatkan kabar bahwa kau hamil. Kau tahu? Betapa bahagianya aku saat itu. Tapi dirimu, kau tidak menyukai kabar itu. Bahkah, kau sempat ingin menggugurkan kandungamu.

Kau tahu betapa kecewanya aku saat itu?

Dan kemarin adalah puncaknya. Kau meminta cerai dariku. Bahkan kau sudah mengurus semua surat-suratnya. Aku berusaha sekuat tenaga memikirkan hal ini semalaman dan aku memutuskan untuk menandatangani surat perceraian itu. Aku akan melakukan apapun agar membuatmu bahagia. Termasuk melepasmu.

Setelah ini, jaga dirimu baik-baik. Jangan lupa, kau harus meminum susu hamilmu setiap hari. Makanlah makanan yang ada didaftar makanan sehat yang setiap hari aku catat sebelum berangkat kerja. Kau harus tidur teratur dan hiduplah sehat. Karna aku tidak bisa lagi mengingatkanmu seperti hari kemarin.

Dan satu lagi, kau tahu aku selalu ingin mengucapkan kalimat ini? Kalimat yang setiap pagi kau ucapkan sebelum aku berangkat kerja. Dan aku tahu, kau sangat ingin mendengar kalimat ini :

“Aku mencintaimu, Yoong”

Yoona menoleh keasal suara. Ia tersenyum manis mendapati Kris yang tengah berdiri didepannya dengan sebuah nampan yang berada didalam genggamannya. Nampan itu berisi susu dan sepiring makanan sehat yang setiap hari disediakan lelaki itu untunya.

Apa yang kulakukan?, pikirnya.

Yoona menyeka air matanya lalu beralih menatap Kris yang tengah menatap hangat dirinya. dengan suara bergetar ia berkata “Aku juga mencintaimu Kris. Sangat mencintaimu”

~End~

Note :

Annyeong…

Ff ini pernah dipost diblog pribadiku

http://desypus19.wordpress.com

Jangan lupa komennya

25 thoughts on “(Freelance) Don’t You Remember

  1. Entah aku udah pernah komen atau belum😀
    Yang penting ceritanya sweett bingitts🙂. Sequel boleh nggak thor~
    Fighting!
    And keep writing~

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s