(Freelance) Reminiscene

Reminiscence

Remeniscence (Sequel of When You’re Gone)

Story by Nawafil

PG-15+

 Ficlet

Romance, sad, angst

Starring by GG’s Yoona – EXO’s Sehun

Artposter by nanachaa at YoongEXO.wordpress.com

Disclaimer : All cast belong to God , the plot of the story is mine. If you don’t like don’t read. Don’t bash Please. This is just a fiction and forever will be a fiction.

A/N : Holaaaa! Aku baru buka Blog YoongEXO beberapa hari lalu dan ternyata pada minta sequel. Sebelumnya mau minta maaf karna FF yang pasti gak sesuai harapan. Tapi tetep Enjoy Reading Guys.

Gadis itu berjalan santai disebuah taman dengan membawa satu buku sketsa dan segelas kopi hangat ditangannya. Sesekali ia meneguk kopi hangatnya, hal itu sangat membantu menghangatkan tubuhnya.

Beberapa saat kemudian tubuhnya terduduk dibangku panjang taman tersebut. Ia meletakkan buku sketsa yang ia bawa dan tetap memegang kopi hangatnya.

Entahlah, saat ini ia hanya ingin berada disini, ditempat ini. Merasakan ketenangan yang selama ini menghilang dari jiwanya.

Matanya terpejam, deru nafasnya teratur dan pikirannya kosong. Hanya ketenangan yang ada—sejauh ini.

“Boleh aku duduk disini?” suara itu membuyarkan pikirannya.

“Ah, tentu saja. Silahkan.” Yoona—gadis tadi— membenarkan posisi duduknya, membiarkan pria yang tak dikenalnya duduk disamping dirinya.

Hening, tentu saja.

Saat kau bersama orang yang baru pertama kali kau temui pasti akan tercipta keheningan pada awalnya kan? Begitu juga dengan Yoona dan pria yang duduk tepat disampingnya ini.

“Maaf..” Suara pria itu kembali terdengar ditelinga Yoona, membuat Yoona menoleh dan menatap pria yang sepertinya ingin berbicara padanya.

“Siapa namamu?” lanjut pria itu.

Yoona tersenyum kemudian sedikit membungkukkan tubuhnya “Annyeong Hasaeyo, Im Yoona imnida

Annyeong Hasaeyo, naneun Luhan imnida

Dan, begitulah pertemuan singkat itu terjadi..

Tak butuh banyak waktu untuk keduanya mengenal satu sama lain. Dalam waktu singkat Yoona dapat memahami Luhan dengan baik, begitu juga sebaliknya.

“Lu, apa sketsa-ku ini bagus? Aku diminta membuat sketsa gedung apartment didaerah Hongdae. Eotte?” Tanya Yoona pada Luhan yang sedang membaca novel romance-comedy. Itu memang merupakan hobinya.

“Hm..” Jawab Luhan acuh yang mendapat reaksi kesal dari Yoona.

“Ayolah, kau hanya perlu mengatakan ini bagus atau tidak. Aku mengoceh sangat panjang dan hanya kau jawab dengan itu?” gerutu Yoona.

Tak ada respon.

“Luhan, kau tak mau aku marah ‘kan?”

Masih tak ada respon.

Yoona menghembuskan nafasnya kasar sambil menahan amarahnya “Luhan!”

Dan untuk kesekian kalinya, tetap tak ada respon.

Tangan Yoona hendak mengambil novel yang Luhan baca, namun tangan Luhan lebih sigap dan lebih cepat menahan tangan Yoona.

Luhan menoleh “Kau tahu?”

Wajahnya mendekat “Menatapmu sedekat ini..”

Semakin dekat “Membuatku ingin..”

1

1.5

2

2.5

3

3.—

“mencubit pipimu”

Seketika tubuh Yoona melemas. Wajahnya menunjukkan ekspresi tak percaya. Ya tuhan, Hanya itu? Hanya mencubit pipinya? Tak ada lagi? Sungguh? Benar-benar tak dapat dipercaya.

“Kenapa kau melamun seperti itu? Apa yang kau pikirkan?”

Yoona menggeleng kepalanya “Tidak, tidak ada”

Luhan hanya tersenyum dalam diam.

Sebenarnya aku ingin sekali menciummu, Im Yoona. Sangat ingin. Tapi itu bukan hakku, ada seseorang yang lebih berhak untuk itu. Dan sayangnya, itu bukan aku.

Luhan berjalan dengan sangat hati-hati menyusuri sebuah lorong. Ia terlihat sangat waspada, sesekali ia menoleh ke belakang untuk memastikan tak ada orang yang melihat atau mengikutinya.

Beberapa saat kemudian ia sampai di sebuah tempat gelap, sepi, dan sedikit kotor.

“Tuan, aku disini” ucapnya.

Tiba-tiba muncul seorang pria misterius dengan jubah dan kacamata hitam. Dari penampilannya saja sangat terlihat menyeramkan.

“Bagaimana pekerjaanmu?” Tanya pria itu dingin sambil menghembuskan kepulan asap rokok yang dihisapnya.

“Berjalan dengan baik, tuan” Jawab Luhan singkat.

“Bagus” asap rokok itu kembali terlihat ketika pria yang luhan panggil dengan sebutan ‘tuan’ itu berbicara.

“Tetaplah seperti ini. Jangan membuatnya curiga atau..” pria itu memanjangkan kata terakhirnya. Lalu ia menghisap rokoknya lagi.

“Kau akan mati..”

“Lu, bisakan kau membantuku? Tolong bawakan beberapa buku sketsaku, sungguh ini semua sangat berat. Hm?” pinta Yoona dengan wajah memelas.

“Apa imbalannya?” Tanya Luhan dingin.

Yoonaberhenti melangkah dan menunjukkan wajah geramnya. “Kau in—“

“Simpan saja ocehanmu untuk lain kali, aku sedang malas mendengarnya” Luhan mengambil alih semua buku sketsa yang Yoona bawa lalu berjalan santai sambil mendengarkan lagu kesukaannya.

Yoona mengedikkan bahu lalu berlari mengejar Luhan.

“Tumben sekali kau mau membantuku. Biasanya kau akan bersikap sangat menyebalkan yang membuatku ingin menjitakmu habis-habisan” oceh Yoona.

“Jangan banyak bicara. Yang penting aku sudah membantumu” Lagi, Luhan menjawabnya dengan dingin dan tanpa ekspresi.

“Ya, walaupun kau masih saja sangat-sangat-sangat menyebalkan tapi tak apa, aku berterima kas—” kalimat Yoona terhenti saat melihat Luhan sedang melihat beberapa sketsa hebatnya.

Yoona tersenyum sombong “Rupanya kau mengagumiku ya? Baiklah, akan ku jelaskan selagi kau melihat-lihat. Gambar Itu adalah sketsa pertamaku pada saat aku memutuskan untuk jadi arsitek, bagus bukan? Tidak usah kau puji, aku tahu itu. Banyak yang mengatakan bahwa aku sangat berbakat, makanya—“

“Oh Sehun?”

DAMN!

Yoona menelan salivanya, seketika langkahnya berhenti, tubuhnya bergetar dan tatapannya berubah kosong.

Nama itu. Nama pria brengsek itu.

Tangan Yoona mengepal keras. Ia berjalan menuju Luhan dan merebut semua buku sketsanya lalu meninggalkan Luhan sendirian.

Yoona melempar semua buku sketsanya ke sembarang tempat, lalu ia merebahkan tubuh lelahnya diatas kasur. Bahkan untuk menyalakan lampu saja ia tidak mau, yang ingin ia lakukan sekarang hanya berbaring diatas tempat tidurnya.

“Im Yoona, kau lelah kan?” Ucapnya sambil menatap langit-langit kamarnya yang kosong.

“Aku tahu kau sangat lelah, pekerjaanmu itu sangat berat” Guraunya tak jelas. Perlahan ia bangun lalu menyalakan lampu dan berjalan menuju cermin—Melihat refleksi dirinya.

“Kau sangat menyedihkan, Yoong” Yoona menghelas nafasnya.

“Sangat menyedihkan” Tanpa sadar ia menitikkan air matanya.

“Hei tidak. Ayolah, kau tak boleh menangis seperti itu. Dasar cengeng” Yoona menghapus air matanya.

Ia menunduk “Oh Sehun” satu nama itu akhirnya terucap setelah bertahun-tahun tak pernah ia ucapkan.

“Oh Sehun” ulangnya lagi.

“Kau jahat”

“Sudah 10 tahun semenjak saat itu, dan sampai sekarang kau tak pernah menunjukkan sedikit saja tanda-tanda keberadaanmu” ocehnya, lalu terdengar isakan isakan kecil dari bibir mungilnya.

“M-maksudku, aku tak menginginkanmu lagi. Tapi.. tapi setidaknya kau harus menjelaskan alasan kenapa kau pergi meninggalkanku”

Yoona membenamkan wajahnya dalam.

Ia menangis.

Menangis dan terus menangis.

Tanpa henti.

You deserve to be happy. Not in the arms of someone who keeps you waiting, But in the arms of someone who will take you now, love you forever, and leave you never

Yoona mendongakkan kepalanya saat mendengar suara seseorang. Suara yang sangat familiar ditelinganya.

“Luhan?!” Yoona kaget saat melihat bayangan Luhan dicermin.

“Sejak kapan kau disini?” Tanya Yoona.

“Sejak kau masuk rumahmu” jawabnya sambil mendekat dan memegang bahu Yoona.

“Kau sangat kacau hingga tak menyadari keberadaanku yang mengikutimu. Aku khawatir padamu” Yoona tak menjawab ucapan Luhan. Ia masih mencerna setiap perkataan yang Luhan lontarkan.

“Maafkan aku” Akhirnya kalimat itu terucap dari bibir Luhan.

“Karena telah mengingatkanmu pada masa lalumu“

Tak ada lagi jawaban.

Yoona terpaku disitu, tak bergerak sama sekali, dan hanya diam.

1

2

3

4

5

6

7—

“Aku.. Aku merindukannya, Luhan-ah”

“Dan kau masih mencintainya” tambah Luhan.

“Tidak, aku sudah melupakannya sejak dulu” Sangkal Yoona

Benar, aku masih mencintainya. Masih sangat mencintainya.

“Aku bisa menjadi Oh Sehun untukmu, Yoong” Yoona terperangah. Apa? Apa yang baru saja Luhan katakan?

Luhan menghembuskan nafasnya pelan. “Aku tahu ini aneh, tapi.. aku mencintaimu”

It’s you who breaks your own heart.

Ya, rasanya kalimat itu tepat sekali untukku.

Aku yang membuat diriku lelah.

Aku yang membuat diriku sangat menyedihkan.

Aku yang membuat diriku menjadi sangat rapuh.

Aku yang melakukannya.

Bukan Sehun.

“Hei, mau ke Namsan Tower?” Luhan tiba-tiba datang dan mengagetkan Yoona yang sedang membaca sebuah buku dibangku taman.

“Tidak. Aku takkan pernah mau ke tempat itu lagi”

Kening Luhan mengerut. “Lagi? Maksudmu kau pernah ke sana?”

  1. Dengan Sehun.

Setelah sekian lama Yoona tak menjawab, Luhan pun mengerti.

“Kalau begitu bagaimana kalau kita ke tempat lain saja lalu berfoto bersama? Bagaimana? Ayolah, agar ada kenang-kenangan” bujuk Luhan. Dia tidak terlalu dingin akhir-akhir ini. Berubah sikap yang tentunya menjadi lebih baik.

“Aku benci foto” jawab Yoona dingin.

Luhan hanya diam.

Semenjak saat itu, saat nama Oh Sehun itu disebut, Yoona yang dulu sangat ceria jadi berbeda. Sangat jauh berbeda.

PLAK!

Sebuah tamparan kencang mendarat dipipi kanan Luhan hingga jatuh tersungkur.

“Itu untuk sikapmu yang menghibur dia!”

BUGH!

“Itu untuk sikap cerobohmu yang menggagalkan rencanaku!”

Pria itu menendang dada Luhan sampai terpental. Ia menarik baju Luhan lalu memiringkan kepalanya “Tebakanku, kau mencintainya kan?”

Luhan mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Ia menunjukkan smirknya “Kalau iya, apa masalahmu, Kim Min Joon?”

“Dasar Bodoh!”

BUGH!

“Tugasmu adalah membuatnya menjadi milikku!”

BUGH!

“Bukan mencintainya!”

BUGH!

“Cuih! Kalau begini, aku sendiri yang harus turun tangan” Pria itu meninggalkan Luhan yang tak berdaya dengan sekujur luka ditubuhnya.

Luhan membuka matanya perlahan.

“Ah!” Ia mengerang kesakitan saat menggerakkan tubuhnya.

“Dimana aku?” Tanyanya selagi melihat-lihat dimana tempat ia berada sekarang.

Cklek

“Rumah Sakit, tentu saja” Luhan melihat Yoona yang baru saja memasuki ruangannya.

“Apa yang kau lakukan semalam? Berkelahi? Seperti anak kecil saja” Yoona menyimpan tasnya lalu mengambil semangkuk bubur disebelah Luhan.

“Tidak, aku—“

“Sudahlah, kau harus makan sekarang”

“Kau sangat baik Yoong, terima kasih” ucap Luhan malu-malu sembari tersenyum.

Yoona yang mendorong kursi roda Luhan menuju taman hanya tersenyum “Bukan apa-apa” jawabnya.

Just because I’m mad, doesn’t mean I stop caring, Lu.
I care, I will always care.

Dan kau benar, Oh Sehun adalah masa laluku yang harus ku kubur dalam dalam.
Kenangan bersamanya.
Aku juga akan melupakannya

Yoona berhenti mendorong, ia duduk dibangku taman, sedangkan Luhan tetap dikursi rodanya.

“Wooaaah, udara disini sangat segar” Yoona menampakkan deretan giginya yang rapi dan putih.

Luhan mengangguk semangat “Benar! Daripada bau busuk rumah sakit itu. Kau tahu bau obat-obatannya sangat menyengat. Membuatku ingin muntah saja” gerutu Luhan.

Yoona memandangi Luhan dalam—memandangi wajah tampannya.

“Aku yakin anak kita pasti cantik dan tampan” kalimat itu dilontarkan bibir Yoona—tanpa sadar.

“MWO?!” Teriakan Luhan mengagetkan Yoona, menghentikan khayalan yang sempat ada dipikiran Yoona.

“Ah, maksudku bukan itu. Maksudku—“ Luhan tersenyum melihat tingkah Yoona yang sangat menggemaskan.

“Hei ayolah, berhenti tersenyum” Luhan tetap tersenyum.

“Lu, berhenti tersenyum. Aku malu” Dan hasilnya, Luhan tetap tersenyum.

“Aaaahh, aku maluuu” Yoona menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan pergi dari taman itu.

Luhan tertawa terbahak-bahak dan menggelengkan kepalanya “Tenang saja Yoong, anak kita nanti pasti benar-benar cantik dan tampan, seperti yang kau katakan”

Disisi lain, ada seseorang yang memperhatikan mereka.

Tatapannya sinis.

Wajahnya menggambarkan kekesalan.

Tidak suka dengan keakraban keduanya.

Dia benci itu.

Luhan berdiri menghadap hamparan air didepannya. Seharusnya sekarang ia bersama Yoona, tapi kejadian tadi siang membatalkan niatnya untuk mengajak Yoona ke sini.

Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Ia tak mengenakan jaket sehelai pun, membiarkan angin malam merasuk ke dalam tulangnya.

Ada yang berbeda dengan tatapannya, Sangat nanar.

FLASHBACK ON

“Luhan! Luhan-ah!” Luhan menengok saat seorang gadis—tentu saja Yoona—melambaikan tangannya di sisi lapangan.

Luhan yang sedang mengocek bola pun akhirnya keluar lapangan, tentu saja ia lebih memilih Yoona daripada olahraga yang disebut sepak bola itu.

“Ada apa Yoong?” Luhan mendekati Yoona dan mengelap keringatnya.

“Sehun muncul dihadapanku”

Ucapan Yoona membuat pergerakan Luhan berhenti, bahkan mungkin aliran darahnya pun ikut berhenti.

“Dan kau senang?” lidahnya terasa kelu hanya untuk mengucapkan beberapa patah kata saja.

Aku harap tidak.

“Entahlah, aku memang membencinya. Tapi, rasa ini masih tersisa untuknya” Yoona menunduk, dia juga bingung dengan perasaannya sendiri.

DAMN!

Luhan berdiri mematung, Ia menahan nafasnya.

Dadanya sangat sesak, matanya terasa panas. Ya tuhan, cairan ini siap meluncur kapan saja.

Chukkae” Suaranya serak—hampir terdengar seperti bisikan. Ia pun berlalu pergi dari hadapan Yoona.

Aku tak tau kalau rasanya akan sesakit ini.

Sangat sakit.

FLASHBACK OFF

Luhan menghapus air matanya yang baru saja menetes “Aku sangat takut kelihanganmu, Im Yoona

“It’s not losing, because she’s was never been yours, Luhan” Luhan menoleh mendengar suara itu merasuk ke dalam telinganya.

“Apa yang kau lakukan disini, Kim Min Joon?” mendadak sikap Luhan menjadi sangat dingin.

“Tentu saja menyaksikan kekalahanmu” ucap pria itu dengan sombongnya.

“Yoona mencintai Oh Sehun, bukan kau” ucap Luhan dengan penekanan di dua kata terakhir.

Pria itu memiringkan kepalanya dan tersenyum “Dan akulah Oh Sehun itu”

Aku tak bisa mengerti dengan semua ini.

Ia mengacungkan jempolnya lalu membalikkannya “Loser

“Tunggu, kau bukan Kim Min Joon melainkan Oh Sehun?” Sungguh, Luhan masih tidak mengerti atas semua yang pria yang ia kenal dengan nama Kim Min Joon ini.

Sehun melipat tangannya dan berjalan mengitari Luhan “Kau tahu? Bae Suzy? Aku tak pernah mencintainya sama sekali. Bagiku, dia hanya gadis manja yang hidup sebatang kara. Aku hanya memanfaatkan paras cantiknya dan kekayaannya. Setelah—“

Luhan memotong ucapan Sehun “Jadi—“

“Ssst, jangan memotong ucapanku” Sehun meletakkan telunjuknya pada bibir Luhan “Setelah aku menikah dengannya, DOR!” Sehun tertawa “Dia mati begitu saja”

“Dan sekarang, kau ingin kembali padaku?” Luhan dan Sehun tersentak saat mendengar suara itu.

“Aku mendengar semuanya. Semuanya” Sehun segera menghampiri Yoona—sang pemilik suara.

“Tidak, semuanya tidak seperti yang kau pikirkan. Ayolah, percaya padaku” Yoona menatap Sehun tajam.

“Kau bukan Sehun”

Kau bukan Sehun yang dulu ku kenal.

“Kau adalah makhluk menyeramkan yang pernah hadir dalam hidupku” Ia hendak menampar Sehun, namun Sehun menahannya.

“Bukan hanya aku, Luhan juga” Yoona mengerutkan keningnya, apa yang dimaksud Sehun?

“Luhan itu anak buahku” Cukup dengan kalimat itu, Dengan wajah kecewa Yoona pergi meninggalkan Luhan dan Sehun.

Meninggalkan kedua cintanya.

Dua orang yang menempati hatinya.

Aku selalu bodoh. Mencintai orang yang salah.

Selalu saja salah.

Luhan tidak seburuk yang aku pikirkan.

Sejak saat itu, ia selalu berusaha berbicara denganku dan menjelaskan semuanya.

Meski aku selalu menghindar, ia tak pernah menyerah

Dan sekarang, disinilah aku.

Berjalan dialtar menuju cinta sejatiku.

Mulai sekarang, akan ku tinggalkan semua kenangan buruk dalam hidupku.

Aku takkan melupakannya, akan ku simpan baik-baik dalam ruang kecil dalam hatiku.

-Im Yoona-

END

Aaaaaaaaaa, Sehun oppa maaf._. Ceritanya jadi aneh begini-_- Aduh aduh, Sehunstan maaf ya bukan maksudku bikin Sehun jadi gitu._. ini yang ada diotak aku aku tulis aja. Well, walaupun yang ini absurd pake banget, keep waiting buat ff yang lain yaa^^

32 thoughts on “(Freelance) Reminiscene

  1. Kok GJ sama akhirnya? Padahal aku lagi ingin momen luyoon..
    Dan sayangnya, kenapa jadi begini? Yaudah deh.. Keep writing..

    Annyeong^^

  2. Keren! Tp masih rada bingung, maksudnya Kim Min Join itu Oh Sehun tuh orang yang sama tuh apa ya?
    Btw, ini udh Keren
    Keep writing Thor! ^^

  3. Akhirnya ff LuYoon juga..soal x akhir” ini keseringan nemu cast x (yg aq suka) sehun.. Kayak x para author di sini sdh gak sayang sm LuYoon T.T #peace bikin ff LuYoon yang banyak ya eonnie!!! Please!!!!

  4. hehe… qw sukaa ama ni ff buangett malah… cm bingung, kenapa sehun mati? trus knapa ada kim min joo?? trus apa hubungan sehun-yoona dulu??

    ff yg dulu pernah qw baca tp lupa #Plak😀 *deep bow*

    ditunggu next ff😉

  5. Agak bingung sih, kan yang main cast’a sehun dan yoona. Kok disini jdi luhan dan yoona?
    Tapi tetap keren kok,
    Ditunggu ff lain’a

  6. jadi? yoona sama luhan? yeeayy😀 kenapa sehunnya jadi jahat gitu? yah ampuun, but overall nice ff eonni😉 semangat ya buat next ff nya :*

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s