The Wedding Breaker [3]

poster-eleven-the-wedding-breaker

The Wedding Breaker

Written by elevenoliu

Casts

Wu Yi Fan // SNSD Yoona // EXO Chanyeol

Genre & Rating

Romance-Drama & Rated for 15+

Length

Chapter

[Poster goes to icaqueart]

Teaser | Introduce Characters | 1 | 2 | 3

Sebuah tepukan ringan mendarat di pundak kiri seorang wanita yang tidak tertutupi oleh gaun pengantinnya itu. Wanita itu menoleh dengan cepat. Sebuah senyuman menyambutnya. Senyuman dari pria dingin as known as si bongkah es yang bisa berjalan itu, Kris. Wanita itu—Yoona membalas senyuman pria itu dengan senyuman terkusut yang ia punya.

“Ada apa?” Sebuah pertanyaan terlontar dari bibir tipis Yoona yang berwarna merah muda itu.

“Pasti terasa berat ‘kan?” Tanya Kris dengan lembut.

Yoona berdeham pelan. Ia menganggap itu sebuah respon yang sempurna untuk menghadapi pria dingin ini. Tapi, si pria dingin itu tidak kunjung menyerah. Misinya kali ini adalah melelehkan hati Yoona itu agar bisa diajak kerja sama kali ini.

“Hei.” Panggil Kris pelan. Yoona hanya melirik sebentar kearah Kris. Tidak mau menunggu lebih lama lagi, Kris langsung ke titik pembicaraan mereka, “Bagaimana jika kita kabur sekarang?” Tanya Kris.

Dahi Yoona mengerut lalu membuang nafasnya pelan. Dia sedikit terkekeh hingga membuat wajah Kris penuh dengan pertanyaan. Kenapa wanita ini? Ada yang salah?

Tidak. Tidak ada yang salah dengan wanita ini. Yang bermasalah adalah otak Kris. Bagaimana bisa dia memikirkan hal seperti itu? Apa dia pikir mereka sedang shooting drama terbaru dan akan disiarkan di SBS, KBS, dan rekannya? Tidak. Bodoh.

“Kau saja sendiri. Aku tidak akan melakukan hal bodoh itu.” Sangkal Yoona.

“Tunggu.” Kris menaikkan alis tebal sebelah kanannya, “Apa kau menyukai perjodohan ini?” Tanya Kris memastikan.

Yoona bergumam pelan, mengoceh di dalam kediamannya. Sedetik kemudian, dia sudah melemparkan tatapan mematikan miliknya kepada Kris yang berdiri di hadapannya itu, “Apa aku terlihat seperti itu? Apa aku terlihat menyukai perjodohan yang sial ini?” Entah itu sebuah pertanyaan atau ocehan yang keluar dari mulut Yoona.

Well, itu lebih seperti pertanyaan yang menyelipkan ocehan bagi Kris. Ia mengedikkan bahunya lalu membuang nafasnya pelan. Beberapa detik kemudian, Yoona mengangkat wajahnya menatap Kris yang sedang menghadap ke sebelah kanan—entah apa yang diperhatikan.

“Lagi pula, sedang apa kau disini? Seharusnya kau berada di ruanganmu, bukan?”

Kris tersenyum pelan lalu melipat kedua tangannya di depan dada bidangnya itu, “Ini hal yang normal bagi pasangan yang ingin menikah jika mereka mengecek keadaan pengantinnya.”

Skak mat bagi Yoona. Dia tidak punya akal apa lagi untuk menyingkirkan pria jangkung berambut blond yang berdiri tegap di hadapannya itu.

“Baiklah. Aku akan keluar.” Kris pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tunggu Yoona.

Lipatan terakhir sudah terlipat. Pria itu menghembuskan nafasnya pelan sambil membenarkan posisi dasi yang melingkar di lehernya. Ia berdeham pelan lalu meneguk segelas air putih yang terletak di atas meja kecil yang berada di hadapannya. Setelah air tersebut habis tanpa sisa, ia meletakannya lagi di atas meja lalu melangkahkan kakinya yang sudah tertutup oleh sepatu pantofel berwarna hitam dan mengilap.

Langkahnya terhenti dihadapan kaca besar. Ia bisa melihat pantulah dirinya di kaca tersebut. Sebuah senyuman merekah di wajahnya yang tampan itu. “Tunggu aku.” Suara berat khas milik Park Chanyeol itu mengisi apartment-nya. Ia langsung meraih kunci mobilnya dan berlalu dari balik pintu apartment-nya.

Semua mata tertuju pada seorang Im Yoona. Ia tengah melangkahkan kakinya di gereja yang sudah dipenuhi oleh para tamu undangan. Tangan kirinya memeluk lengan kanan ayahnya dan tanagn kanannya megenggam buket mawar merah—ini merupakan permintaannya. Im Yoona tidak akan lupa untuk memakai topengnya. Senyumannya.

Yoona langsung mencari seorang wanita berambut blonde yang tak lain adalah Taeyeon. Ketika dia melihat wanita itu, Yoona langsung melambaikan tangannya yang mengenggam buket mawar merah. “Taeyeon-ah!” Kira-kira seperti itu pergerakkan bibirnya.

Setelah tersenyum kepada para tamu undangan, Yoona meluruskan pandangannya ke depan hingga dia bisa mendapati seorang pria yang bertubuh jangkung itu tersenyum manis kepadanya. Ugh! Yoona bergumul dalam hati. Pria ini—Kris menjalankan perannya dengan baik. Langkahnya mulai mengecil ketika dia sadar bahwa jaraknya dengan Kris sudah semakin menipis. Tapi, dia tetap tidak bisa kabur dari altar itu.

“Hai.” Basa-basi yang terlontar dari bibir tebal milik Kris itu hanya dibalas dengan senyuman milik Im Yoona. Yoona menaiki altar dan berdiri tepat disebelah Kris. Tangannya tetap memegang buket mawar merah itu lalu tersenyum kepada pendeta yang kini menatap mereka berdua.

“Saudara Wu Yi Fan, maukah saudara menerima wanita ini sebagai istri yang dijodohkan oleh Tuhan didalam pernikahan yang kudus? ….” Entah apa yang dikatakan oleh pendeta itu. Inti bagi Kris, ini perjodohan dari orang tuanya, bukan Tuhan. Kris tetap menunduk, dia tidak menatap mata sang pendeta yang sampai sekarang masih mengucapkan janji pernikahan itu.

“….serta melupakan orang lain tetapi hanya mengasihi dia saja, selama saudara berdua hidup didunia ini?” Kris membuang nafasnya pelan. Bagaimana bisa dia melupakan Chanyeol? Tapi, dia harus melakukan hal ini. Dia mendongakan kepalanya menatap sang pendeta.

“Ya, saya mau.” Jawabnya tegas lalu disusul dengan senyumannya.

Sang pendeta menatap mempelai wanita—Yoona yang kini sudah menatapnya. Ya, Yoona siap. Pendeta itu tersenyum sekilas pada Yoona lalu memulai janji tersebut, “Saudari Im Yoona, maukah saudari menerima pria ini sebagai suami yang dijodohkan oleh Tuhan didalam pernikahan yang kudus? Maukah saudari mengasihi dia , menghibur dia, menghormati dan memelihara….”

Yoona hanya bisa menggerutu di dalam diamnya. Iya, memeliharanya. As my dog.

“….selama saudari berdua hidup didunia ini?” Pendeta itu berhenti berbicara. Yoona tersenyum sekilas pada pendeta itu.

“Ya, saya—“

BRAK!

Pintu besar itu terbuka dengan kencang hingga seluruh mata tertuju pada pintu tersebut. Seorang pria berdiri disana dengan peluh yang bercucuran di dahinya. Tangannya terkepal nampak seperti menahan amarahnya sendiri.

“Hentikan pernikahan ini!”

Park Chanyeol berdiri disana. Dia marah. Kenapa Kris melanggar janjinya? Bukannya dia sudah mengatakan bahwa Kris akan menunggu dirinya? Tidak mau menunggu lebih lama lagi, Chanyeol langsung berlari ke hadapan mereka berdua, Kris dan Yoona.

Yoona terbelalak. Begitupun Kris. Buket mawar merah yang sedari tadi digenggam oleh Yoona terlepas begitu saja hingga terjatuh diatas lantai yang dingin ini. “Chan…Chanyeol?”
Gumam Yoona pelan.

“Pernikahan ini tidak boleh dilanjutkan!” Teriak Chanyeol dan teriakannya itu berhasil membuat seluruh tamu undangan berdiri tak percaya. Pria tua yang duduk di barisan paling depan langsung berdiri dan menghampiri Chanyeol. Dia menarik lengannya hingga tersungkur ke atas lantai.

“BAWA DIA KELUAR!” Bentak Jinwoo—ayah Yoona kepada petugas keamanan yang berdiri di pintu depan.

Aboji!” Teriak Kris. Dia langsung turun dari altar dan menolong Chanyeol untuk bangkit berdiri. Bulu kuduknya langsung berdiri, dia bisa merasakan puluhan bahkan ratusan pasang mata yang kini menatapnya aneh. Seorang pria yang datang merusak pernikahan tapi sang mempelai pria yang menolong pria yang merusak itu.

“Chanyeol!” Teriak Yoona. Ia langsung menepis tangan Kris yang memegang lengan kanan Chanyeol dan membantunya berdiri. Ia berdiri di hadapan Chanyeol dan menatap ayahnya yang berada di hadapannya.

“Chanyeol…dia kekasihku!” Yoona bisa mendengar desas-desus dari para tamu undangan.

Jinwoo langsung membuang nafasnya kasar, “Apa lagi dengan ini semua?! LANJUTKAN PERNIKAHAN INI!” Teriak Jinwoo. Ayah Kris dan ibunya langsung menghampiri mereka. Ayah Kris—Kevin, seorang Canadian—langsung memegang lengan Jinwoo. Dia membutuhkan penjelasan tentang hal ini.

“Bukankah kau berkata padaku bahwa Yoona tidak mempunyai kekasih? Apa kau ingin menjebak keluargaku? Kau ingin membuat kami malu?” Pertanyaan Kevin tak kunjung berhenti.

Kris langsung memisahkan mereka, “Lebih baik kita bicarakan hal ini di dalam ruangan.” Putusnya.

“KAU MEMBUATKU MAU IM YOONA!” Bentakan dari Jinwoo itu mampu menurunkan air mata Yoona. Kini Yoona berdiri diantara Kris dan Chanyeol. Chanyeol hanya bisa menunduk diam menahan rasa malunya. Sedangkan Kris, dia bisa menatap manik mata orang-orang—orang tuanya dan orang tua Yoona—yang menatap mereka penuh dengan amarah.

Appa, maaf.” Dua kata yang keluar dari mulut Yoona itu semakin memancing marah Jinwoo. Dia hendak melayangkan tangan kanannya ke pipi Yoona tapi Kevin menahannya. Dia menggeleng pelan, “Jangan memukul anakmu, Jinwoo.”

Kevin menatap Kris, Yoona dan Chanyeol bergantian. “Kami butuh penjelasan.”

“Yoona sudah menolak perjodohan ini. Begitupun aku. Jadi, ini bukan kesalahan kami.” Jelas Kris.

“Kalian yang memaksa, bukan?” Tambah Yoona. Dia megenggam tangan kanan Chanyeol, “Aku mencintai dia.”

Chanyeol langsung menoleh kearah Yoona dan tatapannya bergeser pada pria yang tak asing dipandangannya, Kris. Ingin rasanya untuk memeluknya. Karena Chanyeol tahu bahwa Kris tidak sekuat apa yang kita lihat. Chanyeol tahu bahwa Kris sangat rapuh. Dia mudah rapuh.

“Kalau begitu, berikan kami kesempatan.” Kata Kris. “Dad punya rumah di Canada. Biarkan kami menetap disana selama dua minggu. Berikan kami tiga karcis untuk pergi dan dua karcis untuk pulang. Salah satu dari kami akan pulang bersama Yoona dan yang pulang bersama Yoona lah yang akan menikah dengannya.” Lanjut Kris.

“Aku tidak bodoh, Kris.” Balas Kevin. Dia menatap Kris sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya, “Kau sangat ingin pindah ke Canada. Bisa saja kau akan mengalah dan menetap disana.”

“Tidak. Aku tertarik pada Yoona.” Kris melirik Yoona sebentar. Wanita itu masih diam sambil menundukkan kepalanya dalam. “Dan aku akan memperjuangkannya. I will fight for her.” Kali ini Kris benar-benar menolehkan kepalanya kearah Yoona. Namun, pandangannya bergeser pada pria tinggi yang berada di sebelah kiri Yoona, Park Chanyeol.

Chanyeol benar-benar hanya bisa diam. Dia tidak bisa berkata apa-apa selain mengikuti permainan yang akan diciptakan oleh mereka lagi. Sebenarnya, dia datang kesini untuk Kris. Dia ingin menunjukkan bahwa Kris sudah memiliki seseorang yang dia cintai. Tapi, Aku tertarik pada Yoona. Sepertinya kenyataan tidak sesuai dengan ekspetasinya.

“Baiklah.” Kevin mengakhiri diskusi kecil ini. Tapi, Song Qian—ibu Kris—tidak terima dengan akhir yang tidak memuaskan ini.

“Tidak. Hal seperti ini tidak boleh terjadi.” Tolak Song Qian.

“Ini jalan yang terbaik untuk mereka.” Balas Kevin.

“Tapi…” Song Qian menggantungkan perkataannya. Entah mengapa aku merasa Kris akan mengalah, lanjutnya dalam hati.

Jepitan kecil yang menjepit rambut Yoona itu dilepaskan oleh dirinya sendiri. Ia meletakkan jepitan-jepitan itu ke atas meja rias yang berada di hadapannya lalu ia mengangkat kepalanya menghadap ke kaca yang menyatu dengan meja rias ini. Ia melihat pantulan wajahnya yang murung itu dari kaca tersebut.

Tiba-tiba dia bisa melihat sosok yang sangat dia kenal dari kaca tersebut. Sosok itu—Taeyeon baru saja memasuki ruangan tunggu yang ada di gereja ini. Yoona bisa melihat senyuman yang muncul di wajah Taeyeon dan dia tidak bisa membalas senyuman itu. Entah kenapa mood Yoona sedang hancur saat ini.

“Yoona.” Panggil Taeyeon seraya menghampiri Yoona yang masih duduk tanpa memberikan respon lebih pada dirinya. Ketika dia sudah berdiri tepat dibelakang Yoona, dia memegang pundak kanan Yoona.

“Aku tidak mau meminta penjelasan lagi. Tapi, aku tahu kau ingin cerita ‘kan?” Tanya Taeyeon sambil duduk di kursi yang terletak ta jauh dari arah Yoona. Dia tetap memandangi sahabatnya yang menatap lurus ke kaca tersebut. Dia, Yoona terlihat cantik dengan gaun yang menutupi tubuhnya itu.

Hembusan nafas terdengar dari Yoona. Dia sedikit menoleh kearah Taeyeon. Tapi, tidak menatapnya. “Aku tidak tahu harus bagaimana lagi.” Yoona meremas gaun pengantinnya. Sedetik kemudian, dia ingat siapa yang memilih gaun pengantin yang sempurna ini, Kris.

“Apa yang harus kau lakukan saat ini adalah memilih salah satu dari mereka. Kris-ssi dan Chanyeol-ssi.” Balas Taeyeon.

“Aku tidak bisa.” Kini Yoona menatap manik mata Taeyeon dalam. Matanya memerah karena sedari tadi dia sudah menangis. Bahkan maskaranya ikut luntur menuruni pipinya hingga sedikit hitam.

“Kau tertarik dengan Chanyeol bukan?” Tanya Taeyeon.

Yoona memijat keningnya pelan. Semuanya terlalu berat untuk dipikirkan sekarang. “Aku tidak bisa memilih salah satu dari mereka seperti memilih baju yang akan aku pakai untuk satu hari saja.” Yoona kembali menatap Taeyeon, “Aku memilih salah satu dari mereka untuk menemani sisa hidupku, Taeyeon.”

Yoona bangkit dari duduknya lalu berjalan kearah satu bilik untuk mengganti gaunnya. Sebelum dia masuk ke dalam sana, dia menoleh kearah Taeyeon, “Aku pun tidak tahu apabila jodohku bukan salah satu dari mereka.”

Jemari Kris yang panjang itu masuk ke dalam saku celanannya yang berwarna hitam pekat. Dia menghembuskan nafasnya di udara yang dingin ini hingga uap keluar dari tubuhnya yang hangat itu. Dia menoleh keara kanannya—Park Chanyeol berdiri di sebelahnya. Sebuah senyuman terpampang di wajah tampan milik Kris itu.

“Aku pikir kau tidak akan datang, Chanyeol.” Kris memulai pembicaraan mereka.

Chanyeol melirik sekilas kearah Kris lalu memandang lurus ke depan lagi. “Seharusnya aku tidak datang saja.”

Dahi Kris mengerut. Dia tetap meluruskan pandangannya. Dia tidak mau terlihat terkejut di hadapan Chanyeol. “Jangan menyesal, Chanyeol-ah.

“Tidak. Aku tidak menyesal. Aku senang karena kau tertarik dengan Yoona.” Chanyeol menengok kearah Kris lalu menunjukkan senyuman kecilnya, “Kau tidak bisa memungkiri itu, Kris.”

“Aku mengatakan hal itu agar kita bisa selamat dari monster yang mengepung kita.” Balas Kris. Dia menyentuh pundak kiri Chanyeol dan menepuk-nepuknya, “Besok kita akan berangkat. Pulang dan bersiaplah.”

Kris langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Chanyeol yang masih berdiri di luar gereja itu. Chanyeol hanya bisa diam. Dia hanya bisa menahan semuanya sendiri dan kali ini air matanya keluar diluar kesadarannya. Dia masih menyimpan hatinya untuk pria itu, Kris.

“Taeyeon!” Panggil Yoona.

“Taeyeon-ah!” Ulangnya sekali lagi. Kemudian, dia mendengus kesal. Pasti Taeyeon sudah meninggalkan ruangan ini ketika dia masih berada di kamar ganti itu dan kini dia terjebak di dalam kamar ganti itu dengan pakaian dalamnya karena baju gantinya berada di dalam tas yang ada di luar.

Ugh! Bagaimana ini?!” Tanyanya pada diri dia sendiri. Yoona tidak mungkin keluar dari kamar ganti lalu mengambil tas yang berada di ruangan ini. Walaupun dia yakin sekarang tidak ada orang di ruangan ini kecuali diri dia sendiri. Dengan keberanian yang dia punya, dia memegang knop pintu kamar ganti ini lalu menekannya. Jantungnya berdegup kencang ketika dia mendorong pintu itu.

Pertama, dia mengintip dengan mata kanannya dari celah kecil pintu kamar ganti itu. Baru saja dia ingin mendorong pintu itu. Tapi, dia mendengar decian pintu ruangan yang terbuka. Lantas, dia menutup pintu kamar ganti itu dengan kencang.

“YA! SIAPA ITU?!” Pekik Yoona.

“Aku.” Suhu ruangan ini langsung berubah menjadi suhu kutub selatan yang sangat dingin itu. Dia yakin orang yang baru masuk itu pasti si bongkah es itu.

“Ka..kau mau apa disini?” Tanya Yoona dengan gugup. Tentu saja. Dia takut sih bongkah es itu menerkamnya. Well, pikiran Yoona memang sedikit liar.

“Mengambil tasku. Aku pulang—“

“Aku mau minta tolong.” Sela Yoona.

“Hm?” Hanya sebuah dehaman yang keluar dari mulut Kris.

“Tolong ambilkan tas yang ada dilantai sebelah meja rias.” Kata Yoona. Kris langsung mengedarkan padangannya, mencari meja rias yang dimaksud oleh wanita itu. Ketika dia melihat meja rias itu, dia langsung melangkahkan kakinya lalu mengambil tas tersebut.

“Aku akan meletakannya di depan pintu.” Kata Kris. Dia berjalan ke depan pintu kamar ganti dimana Yoona berada. Baru saja dia meletakan tas itu diatas lantai. Tapi, Yoona yang berada di dalam sudah menekan knop pintu lagi. Dengan cepat Kris menarik mendorong pintu itu agar Yoona tidak membukanya.

“Masih ada aku disini.” Kris mengingatkan.

Saat itu juga jantung Yoona berdegup lebih kencang lagi. Dia memang bodoh. Kenapa dia membuka pintu itu lebih cepat? Seharusnya dia menunggu sampai Kris keluar dari ruangan ini.

“Untung saja ini aku. Kalau orang lain, dia bisa menyerangmu begitu saja.” Kata Kris. Bodoh, lanjutnya dalam hati.

Yoona hanya diam. Dia tidak bisa membalas perkataan Kris. Sedetik kemudian, Yoona bisa mendengar hembusan nafas Kris lalu dilanjut dengan langkah kakinya. Tak lama kemudian, suara decitan pintu itu masuk ke dalam pendengaran Yoona hingga suara pintu yang tertutup. Saat itu juga, Yoona membuka pintu kamar gantinya dan mengambil tas itu.

Yoona membuka pintu ruang tunggu itu dengan tas besar yang dia jinjing. Kedua orang tuanya meninggalkannya disini sendirian. Mungkin orang tuanya sudah sangat marah kepadanya. Bukan mungkin lagi. Tapi, pasti.

Tas yang dia jinjing itu terlalu berat hingga terlepas dari tangannya yang licin karena keringat. Yoona menggerutu pelan lalu menendang tas itu hingga meluncur dan berhenti di kaki seseorang. Mata Yoona terbelalak. Masalah lain terjadi lagi pada dirinya. Lantas, dia menatap sang pemilik kaki itu.

“Hai, Yoona.” Sapa orang itu dan akhirnya Yoona bisa bernafas lega. Ternyata dia Chanyeol. Chanyeol mengangkat tas yang baru saja di tendang oleh Yoona dan menghampirinya.

“Pulang sendiri?” Tanya Chanyeol.

Yoona hanya bisa tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Chanyeol, “Iya.”

“Biar kuantar.” Chanyeol memegang lengan kanan Yoona dengan tangan kirinya. Lengan Yoona yang kurus itu begitu kecil di genggamannya.

“Eh? Tidak usah, Chanyeol. Aku bisa pulang sendiri.” Tolak Yoona.

Chanyeol menoleh, “Yang orang-orang tahu adalah aku ini kekasihmu. Aku mau menjadi kekasih yang baik yang mengantarkan kekasihnya ke ruamh dengan selamat.”

“Soal itu…” Yoona mengantungkan perkataannya, “Aku—“

“Santai saja.” Potong Chanyeol.

Yoona mendongakan kepalanya untuk menatap Chanyeol yang lebih tinggi darinya itu, “Maksudmu?”

“Tidak apa. Ayo, pulang!” Ajak Chanyeol dengan senyuman yang menawan di wajahnya.

Dan Chanyeol berhasil membuat wajah Yoona bersemu merah seperti kepiting rebus itu. Tapi, Chanyeol lebih berhasil membuat jantung Yoona berdebar hanya karena sebuah senyuman itu.

TBC


Haaai! AKu sempet males buat lanjutin FF ini tapi……….aku yakin banyak yang nunggui jadi aku lanjutin sekarang deh heheheh btw, tolong follow shop aku ya di instagram! @exostuffs😀 Lagi buka PO loh! Yang suka EXO, ayo diorder❤

62 thoughts on “The Wedding Breaker [3]

  1. aku lebih suka alur ini, lebih nantang.. dan kalau boleh diperjelas, gay itu bisa disembuhkan mereka bisa kembali straight kalau yoona bisa ngebuat mereka jatuh cinta, aku suka pemikiran author yang liar dan diluar box.. liar bukan dalam arti nc ya, aku cuma suka cerita ini unik, aku pengen chanyeol sama kris tuh bisa berubah jadi straight lagi..

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s