(Freelance) The Crow

The Crow

The Crow

By Nikkireed

Casts

Luhan and Im YoonA

Genre

Horror-Thriller

Myeong-dong, sebuah kota di bagian Selatan Seoul dengan populasi 3000an orang. Kota yang menjadi trendsetter para turis untuk berberlanja. Tapi tidak malam itu. Malam itu, Myeong-dong menjadi sebuah kota dengan misteri burung gagaknya. Kau mau dengar ceritanya?” Yoona duduk di sofa, di depan perapian. Kakinya terlipat dan selimut coklat yang tebal itu menutupi sebagian tubuh kecilnya. Ia sedang menahan sebuah buku berukuran lumayan besar dengan sampul berwarna merah maroon.

Luhan berjalan dari arah dapur, membawa segelas susu dan menegaknya sedikit, ikut bergabung duduk disamping Yoona. “Apa?”

“Aku menemukan buku ini, di rak buku Halmeoni.” Yoona mendongak pada Luhan yang duduk dengan malas disampingnya. Lalu ia meletakkan gelas ke meja. Dan merebahkan kepalanya pada pundak Yoona. Tangannya sudah melingkar pada tubuh Yoona.

“Asal kau yang bercerita, aku mau mendengarkannya.” Luhan tersenyum pada Yoona. Yoona membalas senyumannya, lalu membalik halaman buku yang sedang terbuka itu pangkuannya.

“Ehhmm – aku mulai.” Yoona mendeham. “Namja itu dengan kostum werewolf – topi bulu bertelinga serigala dan berwarna abu-abu ditambah hoodie bulu berwarna abu – membawa sebuah kantong permen, berjalan menyusuri jalan setapak menuju sebuah rumah diujung jalan di kota Myeong-dong. Namja itu menekan bel dan mendesah pelan, cuaca akhir bulan Oktober tidak mendukung acara ini. Ia sedikit menggigil, hoodie-nya tidak membantu sama sekali. Sesekali ia menggosok lengannya karena dingin.” Yoona mendongak pada Luhan, “Halloween?” Luhan hanya menangkat bahu. “Kenapa Shelby lama sekali sih? Pikir namja itu setelah sudah 2 menit menunggu di depan pintu kayu itu. Shelby membuka pintu dan tersenyum manis, ia memakai jubah hitam panjang dipadu dengan gigi buatan yang ia gambar didekat taringnya. Ia juga membawa sebuah kantong permen. ‘Ayo!’ lalu mereka berjalan bersama. Eric dan Shelby berjalan melalui sebuah gang kecil di ujung jalan setelah beberapa blok dari rumah Shelby. Karena ini malam tanggal 31 Oktober, SMA mereka mengadakan sebuah acara. Halloween.” – Yoona kembali berpaling pada Luhan yang memeluknya disebelah, “Halloween kan?”

“Hmm, iyah. Lanjutkan, Yoong.” Luhan tidak sabar menanti kelanjutannya.

Acara SMA ini tidak seperti acara SMA biasanya. Setiap murid harus mengetuk pintu kelas di lorong lantai 4. Karena yang berminat hanya sedikit, Shelby dan Eric mengajukan diri pertama.” Yoona menghentikan ceritanya. “Seandainya kau diberi kesempatan ini, apa kau berani melakukannya, Lu?” Yoona tersenyum pada Luhan.

Luhan mengangguk dengan serius pada Yoona, “Tentu saja. Apa yang harus ditakutkan. Asal bersama kau.”

Yoona memutar bola matanya dan tertawa sebentar. Luhan memang selalu saja begitu. “Baik, aku lanjutkan…. Shelby dan Eric tidak tau apa misterinya. Mereka hanya dimodalkan sebuah lilin dan korek api. Lalu dengan segala keberanian, mereka mengetuk pintu kelas pertama begitu mereka sampai di lorong lantai 4. Kelas 10 A 1. ‘Kau yang mengetuk, aku yang berbicara.’ Shelby berjalan terlebih dahulu sampai di depan pintu kelas tersebut. Karena semua tempat menjadi gelap. Hanya cahaya lampu dari luar sekolah yang bersinar dan lilin yang mereka bawa. Pintu kelas tersebut terbuka, dengan ekspresi wajah yang datar, Eric mengangkat kantong permen nya dan berkata, “Trick or treat?” Seorang namja memakai kostum mummy dengan kaku bergerak menakut-nakuti mereka. Tapi Eric dan Shellby hanya memasang ekspresi *sudahlah, aku tau kau ini bohongan.*. Lalu mummy yang menakut-nakuti mereka berhenti bergerak dengan kaku. ‘Baiklah, ini untuk kalian.’ Mummy tersebut memberikan mereka dua buah lollipop berukuran sedang. Eric dan Shelby tersenyum setelah menerima permen itu, karena pemenang dari acara ini dihitung dari permen yang didapat atau kartu JACK hati yang bisa mereka temukan. ‘Aku tahu ini kerjaan senior. Kita harus memasang tampang bosan supaya bisa mendapatkan ini lagi,’ Shelby tertawa sehingga suaranya bergema dilorong tersebut. – “Ini bukan horror! Ini comedy. Licik sekali mereka.” Yoona berkomentar sedangkan Luhan masih diam memeluknya.

‘‘…..Mereka berjalan menuju ruangan selanjutnya, kelas 11 A 3. ‘Kali ini, gantian kau yang mengetuk aku yang berbicara.’ Eric menantang Shelby. Yeoja dengan rambut coklat berkepang dua ini sama sekali tidak takut. ‘Baik. Apa susahnya—‘ tapi pintu itu terbuka sendiri. – “AAAAA!” Yoona berteriak panik dan langsung menjatuhkan buku tersebut. Luhan yang disebelahnya langsung bangun dan kaget.

Waeyeo?” Luhan ikutan panik karena Yoona berteriak.

“Aku takut, Lu. Astaga! Aku bahkan bisa merasakan bulu kudukku merinding.” Yoona memeluk badannya sendiri, menggosok-gosok lengannya. Ia tidak kedinginan tapi karena membacakan cerita misteri ini malam-malam, ia bergidik lalu menenggelamkan tubuhnya dalam selimut.

Luhan kembali memeluk Yoona dan menggenggam tangan Yoona, “Tenang, Yoong. Ini hanya cerita. Lihatlah, kau ketakutan seperti nenek-nenek.” Luhan tertawa mengejek.

Yoona memasang wajah kesal, tapi benar ia seperti nenek-nenek. Ia meringkuk kedalam selimut seperti nenek tua yang kedinginan akibat kehujanan. Yoona duduk sepenuhnya. Lalu meraih buku cerita yang terjatuh itu.

“Baik, aku lanjutkan. Lalu mereka mendongakkan kepala kedalam ruangan itu. Gelap. Bahkan lilin yang mereka bawa kurang terang.

‘Halo?’ Suara Shelby bergema di ruang gelap tersebut. Mereka memutuskan untuk masuk. Lalu tiba-tiba Shelby berteriak karena entah seseorang atau sesuatu menginjak jubah panjangnya. ‘Yak, Eric! Jangan menginjak jubahku.’ Omel Shelby pada Eric. Sedangkan kenyataannya Eric masih ditempatnya, tidak bergerak dan tidak berpindah. Dengan wajah bingung, ‘Apa? Aku disini. Mana mungkin aku menginjak jubahmu.’ Eric menunjuk kakinya dan tersenyum. ‘Lalu siapa? Jangan main-mainlah, Eric. Ini tidak lucu.’ Suara Shelby lagi-lagi bergema memenuhi ruangan tersebut. Mereka kembali berjalan. Lalu tiba-tiba sesuatu memegang kaki Shelby, sontak Shelby berteriak AAAAAAA.—“ Yoona menghentikan teriakanya. Luhan yang disebelahnya menenangkan Yoona yang tiba-tiba bergerak aneh.

“Ini hanya cerita, Yoong.” Luhan menertawakan Yoona yang ketakutan seperti ini.

“Kalau begitu kau saja yang melanjutkan.” Yoona menahan kesalnya lalu menutup buku tersebut. Luhan tersenyum pada Yoona yang sedikit ngambek.

Luhan meraih buku itu dari tangan Yoona. “Baik, dengarkan aku bercerita.”

Yoona mengganti posisinya. Sekarang ia sedang bersender pada pundak Luhan, dan memeluk pinggang namja itu. Kepalanya bersandar tepat di dada bidang Luhan. Dan Luhan membuka buku merah maroon itu.

Karena teriakan itu, lilin yang dipegang Shelby padam. Eric dengan panik meraih korek api di saku celananya. Dan dengan sigap menyalakan lilin tersebut. Cahaya lilin tersebut sedikit menerangi ruangan tersebut. Lalu mata Eric menangkap sebuah kartu JACK dilantai. Dengan cepat ia berjalan dan merunduk ke meja guru, karena kartu JACK tersebut terjatuh dilantai dibawah meja guru. Shelby yang mulai ketakutan mengikuti langkah Eric. ‘Aku menemukan JACK. Ayo kita keluar.’ Ajak Eric. Lalu mereka berjalan menyusuri lorong tersebut. Ini merupakan kelas terakhir yang harus mereka lewati. Mereka melangkah menuju ruangan sebrang, yaitu kelas 12 B 4. ‘Ini kelas terakhir ya. Rasanya belum cukup menakutkan.’ Eric berbicara dengan tenang. Ia memang tidak takut. Tidak seperti Shelby yang awalnya berani tapi menjadi takut karena sesuatu menginjak jubahnya dan pintu nya terbuka sendiri. ‘Sudalah, Eric. Aku takut.’ Ujar Shelby yang memegang lengan Eric dengan penuh ketakutan. Karena sekarang Eric yang memimpin jalan dan membawa lilin. ‘Tenang, Sheleb, ini kelas terakhir. Hahahahha.”—Luhan membuat suara tertawa yang menakutkan sehingga Yoona mengomel, “Ya, Luhan. Jangan tertawa seperti itu.”

“HAHAHHAHA. Kau kenapa sih Yoong. Ini hanya bagian dari cerita.” Luhan menertawai Yoona yang ketakutan seperti Shelby di cerita tersebut.

Eric membuka pintu ruang kelas tersebut. Lalu ia melihat sesosok bayangan di depan jendela. ‘Kau lihat apa yang kulihat, Sheleb?’ tanya Eric berbisik pelan pada Shelby. Ia senang memanggil Shelby dengan Sheleb karena itu panggilan akrab mereka sejak kecil. Shelby menangguk sekali, tangan nya masih memegang lengan Eric dengan keras sehingga menimbulkan bercak sedikit di lengan hoodie Eric. ‘Apa itu, Eric?’ suara Shelby berbisik lebih pelan dan bergetar. Lalu sosok bayangan itu berbalik. Menghadap ke arah mereka. Dan……” Luhan menggantungkan ceritanya. Yoona terbangun dari pelukannya dan menoleh pada Luhan, “Apa, Lu? Itu apa?”

Itu adalah bayangan dari patung anatomi tubuh manusia yang didandan seperti vampir. Ia bisa memutar ke arah mereka karena ada tali yang ditarik. Mereka mengikuti arah tali tersebut. Tapi tali tersebut terputus di ujung kelas. Dan terikat mati pada kaki sebuah meja. Eric dan Shelby menghampiri meja tersebut.” Luhan berhenti.

“Kenapa berhenti, Lulu-ah? Lanjutkan.” Yoona penasaran dengan apa yang terjadi selanjutnya.

“Menurutmu, apa itu Yoong?” Luhan bertanya pada Yoona.

Yoona mengangkat bahu, “Mwolla. Kau lanjutkan dan kita bisa mengetahui itu apa.”

….Ternyata itu adalah… sebuah meja yang terdapat tengkorak dari patung anatomi tersebut. Mereka yang mengarahkan lilin ke meja sedikit tersontak kaget. Shelby malah berteriak sedikit melihat tengkorak tersebut tergeletak begitu saja diatas meja. Eric dengan berani mengangkat patung tengkorak tersebut dan di dalamnya terdapat permen dan kartu JACK sekaligus. Mereka saling berpandangan. ‘Benarkah? Ini jebakan atau kita yang hebat?’ Shelby bertanya seolah berbicara sendiri. ‘Sudahlah. Ambil saja semua. Kita tidak disuruh memilih.’ Eric memasukkan 4 kartu JACK tersebut dan beberapa permen ke dalam kantongnya. ‘Baiklah. Misi kita selesai.’ Mereka keluar dari ruangan tersebut.” Luhan menghela nafasnya. Yoona terbangun dari pelukan Luhan.

“Kau sudah mengantuk?” tanya Luhan, mengelus kepala Yoona. Yoona memang sedang menguap dengan menutup mulutnya. “Tapi aku penasaran dengan kelanjutannya, Lu.” Yoona mengeluarkan gelagat manjanya.

“Kau yakin?” tanya Luhan sekali lagi. Yoona mengangguk cepat.

Yoona kembali memeluk Luhan dan bersandar di dada bidang Luhan. “Saat mereka berkumpul kembali di aula yang menjadi pusat acaranya, yang mereka temukan hanya sebuah spanduk besar bertulisan, ERIC & SHELBY BODOH! KALIAN TERTIPU! TRICKED! dan beberapa tulisan menghujat dan menghina mereka.

“Apa? Jadi ini semua jebakan?” komentar Yoona dengan nada tidak suka.

Tapi Shelby dan Eric tidak merasa dibodohi. Mereka memang dua orang yang menggemari acara seperti ini. Jadi mereka tidak merasa rugi. Mungkin Shelby sedikit tapi tidak dengan Eric. ‘Baiklah. Biarkan mereka mengerjai kita. Just have fun!’ Lalu Eric merangkul Shelby, bermaksud untuk mengantar Shelby pulang. Tapi kejadiaan naas menimpa mereka saat pulang. Ternyata mereka berdua merupakan target dari senior mereka. Shelby ditemukan tewas mengenaskan dengan robekan sepanjang lehernya sehingga kepala dan tubuhnya ditemukan terpisah. Sedangkan Eric ditemukan tewas dengan luka tusukan di beberapa bagian di tubuhnya.

Yoona bergidik. “Sebenarnya ini buku cerita macam apa sih?” Yoona bangkit dari pelukan Luhan sedikit mengomel.

“Kau mau aku lanjutkan atau sampai disini, Yoong?” Luhan bertanya pelan, hendak menutup buku tersebut. Tapi tangan Yoona menahannya, “Lanjutkan.”

Orangtua kedua anak ini merasa terpukul karena tersangka dari kasus ini yaitu senior mereka sendiri. Mereka memang anak baru pindahan dari Australia. Dari awal mereka masuk ke SMA ini senior mereka memang mengincar Eric dan Shelby. Maka dengan acara Halloween inilah 4 senior mereka nekat membunuh mereka. Dan yang lebih hebatnya, senior mereka menghilang. Lebih tepatnya bersembunyi karena merasa bersalah.

“Ya, apa alasan seniornya nekat membunuh Eric & Shelby?” Yoona beralih untuk mengambil gelas susu di meja lalu meneguknya sedikit.

“Mungkin dendam?” tanya Luhan berbalik.

“Tidaklah. Mereka anak baru, Lu. Mana mungkin ada dendam.” Yoona menaruh gelas tersebut ke meja, “Lanjutkan, Lu. Aku penasaran.”

Luhan membaca sekilas halaman tersebut sampai terlarut karena asik membaca sendiri, Yoona menoleh ke arah Luhan, “YA! Kau membaca sendiri dalam hati?” omelnya.

Luhan mendongak ke arah Yoona, menyadari bahwa ia terlalu asik tenggelam dalam cerita. “Hmm, Yoong, selanjutnya kurasa lebih baik kau tidak perlu dengar.” Luhan tersenyum mengejek Yoona.

“Karena ini benar-benar menyeramkan. Mereka meninggal mengenaskan. Setahun setelah kematian mereka, seekor burung gagak menghinggapi kuburan Eric. Dan tanpa bisa dijelaskan Eric bangkit dari kubur dan bertekad untuk menuntut balas dendam kematian dirinya dan juga Shelby. Dengan panduan burung gagak yang membangkitkan dirinya, satu persatu Eric berhasil menemukan keempat senior yang membunuhnya sekaligus menghabisi nyawa mereka.

Luhan terdiam dan melihat Yoona yang begitu serius menyimak. “Balas dendam kan?”

Yoona mengangguk cepat, wajahnya serius, “Bagaimana cara Eric membunuh seniornya itu?”

Yang pertama, ia menemukan seniornya bernama Sean. Eric menemukan Sean saat sendirian di apartmentnya tengah malam. Dengan menyala-matikan lampu, Sean yang takut dengan gelap bermaksud untuk keluar dari apartmentnya. Saat ia membuka pintu apartmentnya, Eric memulai aksinya dengan menusuk Sean menggunakan tusukan permen lollipop berkali-kali, di lehernya. Karena yang ia ketahui, Sean ini yang membunuh Shelby sampai lehernya terputus dari tubuhnya. – Bayangkan, Yoong!” Luhan sedikit berkomentar. Lalu ia tertawa lepas melihat Yoona yang terlalu serius.

“Lalu?” Yoona tidak menghiraukan Luhan yang mengejeknya. Ia terlalu serius dalam cerita.

Lalu yang kedua bernama Alec. Ia adalah otak dari pembunuhan Eric dan Shelby. Alec ini produk broken home yang terkenal liarnya. Eric menemukan Alec di klub malam, dalam keadaan setengah sadar dan sedikit dibawah kontrol narkoba. Alec tewas di toilet. Gantung diri. Karena stress melihat sosok Eric berhadapan di kaca saat ia mengaca ditoilet.

“Apa-apaan –“ Yoona memotong lalu terpotong lagi karena Luhan mendekatkan jari telunjuknya di depan bibirnya.

“Alec terkejut. Merasa stress karena Eric muncul dihadapannya tiba-tiba. Lalu ia ketakutan dan bunuh diri. Wajar saja.” Komentar Luhan.

“Tapi kan otak dari pembunuhan ini. Mereka gila!” tembak Yoona acuh tak acuh.

“Aku lanjutkan ya – Yang ketiga bernama Robert. Ia yang membunuh Eric, dengan menggunakan pisau belati menusuk-nusuk perut Eric sehingga menimbulkan bekas luka. Robert ditemukan tewas dengan motif yang sama dengan Eric yaitu luka bekas tusukan di sekujur tubuhnya. Jika Eric ditusuk dengan pisau belati, kali ini Eric menusuk Robert dengan kapak. Sehingga rongga perutnya terbuka menganga.” Luhan melirik Yoona sejenak, “Kau tidak merasa jijik, Yoong?”

Yoona memejamkan matanya, “ISH! Ini menjijikan sekali, Lu.”

Dan yang terakhir, yeoja, Pricillia. Sebenarnya yeoja ini tega tidak tega. Karena ia menyukai ketua kelompok ini, Alec, maka ia menuruti permintaan Alec untuk membantu mereka dalam misi pembunuhan Eric dan Shelby. Pricillia tidak meninggal seperti tiga temannya.” Luhan berhenti dan mengernyitkan keningnya.

Yeoja ini diselamatkan Eric. Malah Pricillia meminta ampun saat melihat sosok bayangan Eric mendatanginya. Karena selama ini hidupnya tidak tenang. – tentu saja! Bagaimana bisa tenang jika kau membunuh seseorang yang tidak bersalah padamu.” Komentar Luhan sedikit.

Sebenarnya Eric merasa iba dengan seniornya yang satu ini. berpenampilan tidak jelek tapi bodoh.

Akhirnya Eric melepaskan Pricillia. Keesokkan harinya, Pricillia ditemukan dalam keadaan tidak normal atau sebut saja menjadi gila. Karena setelah pertemuannya dengan Eric, Pricillia menjadi ketakutan. Ia selalu membayangi sosok Eric mendatanginya.aigoo ckckck. Menjadi gila, Yoong. Yang benar saja.” Luhan mendecak tidak jelas.

“Eric benar-benar balas dendam. Sudah tamat?” Yoona melihat Luhan yang sudah menutup bukunya.

Aniyeo. Aku hanya perlu tahu aksi balas dendamnya saja. Endingnya sudah tertebak.” Jawab Luhan enteng.

“Apa endingnya?” Yoona yang tidak mengerti ending cerita ini malah bertanya.

Endingnya sudah kau baca diawal : Myeong-dong, sebuah kota di bagian Selatan Seoul dengan populasi 3000an orang. Kota yang menjadi trendsetter para turis untuk berberlanja. Tapi tidak malam itu. Malam itu, Myeong-dong menjadi sebuah kota dengan misteri burung gagaknya.

Karena burung gagak itu membangunkan Eric untuk membantai 4 senior yang membunuhnya. Itu endingnya.”

END

Dear my readers, ini ff horor pertamaku. Nyehehe. Aku jarang nonton film horor jd ini aja imajinasiku. Maaf ya kalo rada gajelas.
Tadinya ff ini mau di post tunggu Halloween beneran tapi kelamaan, keburu basi ff nya jd di post skg deh hehehet.
Kalian ga takutkan? Aku juga. *biasa yg ngmg bgn justru takut*
Thanks for reading guys!
XOXO, nikkireed

37 thoughts on “(Freelance) The Crow

  1. bagusss, bacanya serem-_-
    tapi agak bertanya2 sih kenapa seniornya bunuh mereka,
    dan darimana asalnya burung gagak itu/?
    tapi menurutku ga diceritain jg it’s okay, biar misterius
    keep writing ya, semangat!^^~

  2. Keren eon..apa lg ini LuYoon..aq.. Sebener x agak takut” baca ff ini..tp krn berhubung cast x luyoon jadi kubaca..tp tak baca x lompat”..apa lg yg cerita pakek font colour merah..yg tak baca cuman percakapan x luyoon..tp agak ngeri juga sih :s..nice ff eonnie^^

  3. thor aku kok gak takut ya bacanya wkwkwk ekspetasi awal ku tuh yoona atau luhan ternyata keturunan dari empat pembunuh itu. dan entah gimana eric tau2 muncul di hadapan luhan-yoona -____- *imajinasiku yg berlebihan* -___-

  4. hahaa, aku merhatiin moment LuYoon nya terus masa -__-
    ini serem tau >,< udh gitu tuh burung gagak hrs muncul lagi di FF ini..
    FF nya keren😀

    perhatiin lagi tanda bacanya yaa ^^ td ada beberapa tanda baca yg missing, jd bacanya hrs diulang lg😀
    keep writing❤

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s